Membina Umat dari Bawah, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

MEMBINA UMAT DARI BAWAH
JANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG …,

Sudah sama-sama kita sadari, bahwa memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha, yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin, perumusannya sederhana kedengarannya, tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana.

Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin.
Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas.

Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) secara umumnya melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis. Dengan tujuan pastinya adalah mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.

Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus.

Ia mempunyai bermacam kepercayaan. Menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata.

Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie. Manusia sebagai kelompok social being, yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order. Di mana manusia selalu terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.

Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain ;
“… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri”.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris.
Masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa, seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMAD HATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi”, antara lain sebagai berikut ;
” ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya.

Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya.
Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah.
Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman.
Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian, bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan memantapkan perasaan.
Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti.
Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.
Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu.
Dari tahun ke tahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah.
Memang ada yang mengganggu ketetapan itu.
Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa.
Tetapi, selainnya menunggu segala marabahaya itu, menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali.
Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.
Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir”, yang tak dapat dihindarkan.
Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah.
Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun.
Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”
Demikian DR. MOHAMAD HATTA.

Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu.
Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.

Maka apabila sekarang kita hendak membangun peri kehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu. Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada.

Perlu membekali diri dengan pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu. Dengan demikian, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan approachnya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisional” itu dengan bermacam-macam cara.

Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi, yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC (Republik Rakyat Cina).

Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit.

Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”. Caranya; ” modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :
• Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh
• Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.
• Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.

Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

Membina daya pikir dan daya ciptanya.
Membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya.
Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’anya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan unsur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah di bidang apapun.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Allah) “. (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

2. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.
Antara lain,
Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel, kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi.
Bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya.
Entah di bidang sandang ataupun pangan.
Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production).
Misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang, yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.

Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.
Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan, tetapi disimpan. Lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

Dengan lain perkataan; modal akan terpupuk-tumpuk apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang.

Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

Bagaimana pentingnya penumpukan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan.

Ini akan mengakibatkan sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali dapat memupuk modal ini.
Juga, akibat dari hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup akan merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang.

Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

a. memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.
b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering sekali persoalan yang tumbuh ialah;
Bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”.

Bagaimana pula, supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste). Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsur-unsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besar-besaran.

Tidak ada umpamanya masalah sacred cow (sapi suci) dan sacred monkey (monyet suci) seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih.

Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan, yang tidak boleh disembelih, tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci.

Di beberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya cepat sekali, sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugian-kerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan.

Sungguhpun demikian, monyet tersebut tidak boleh dibunuh.
Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua.
Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya.
Dan Nehru, semasa hidupnya, pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya, sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal.

Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya.
Malah memberi perlindungan atas sacred cow dan ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.

Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Product (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini, pemimpin India yang bertanggung jawab, berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India.

Menghindari agar tidak lahir konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif, yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus.

Bahkan lebih jauh akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.
Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas.
Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey.

Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.

Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan besar-besaran boleh dikatakan tidak ada.

Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran.
Yang sering terjadi, bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian kali, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Namun kemungkinan akan terdapat pemborosan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya.

Penyakit yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam.

Di samping, tertuntun dan terbimbing pula, oleh “Adat basandi Syara’, Syara’ mamutuih, Adat memakai !”
Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisir satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”.

Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh ke depan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Tulisan ini bagian dari Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir, di dalam Dakwah Komprehensif, dihimpun H. Mas’oed Abidin, belum sempat dicetak. Copyright, bukubuya@masoedabidin.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s