Warisan Ulama Zuama, (bagian kedua Buku Mohamad Natsir)

Warisan Ulama Zuama

Oleh : H Mas’oed Abidin
(Bagian kedua dari Buku Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natisr, dibawah judul Dakwah Komprehensif, oleh H Mas’oed Abidin)

Sebagai titik tolak awal, kita perlu kembali mengingat pemikiran para ulama dan zuama yang berkumpul dan bermusyawarah di masjid al Muna¬warah, Tanah Abang, Jakarta 26 Februari 1967.

Musyawarah itu berawal dari pemikiran :
1. Menyatakan syukur atas hasil dan kemajuan kemajuan yang telah dicapai hingga kini dalam usaha usaha dakwah yang secara terus menerus dilakukan oleh berbagai kalangan umat, yakni oleh para alim ulama dan oleh para mubal¬lighin secara pribadi, serta atas usaha usaha yang telah tercapai dalam rangka organisasi dakwah.

2. Memandang perlu (urgen) lebih ditingkatkan hasil dakwah itu sampai pada taraf yang lebih tinggi, sehingga terciptanya suatu keselarasan antara banyaknya tenaga lahir yang dikerahkan dan besarnya tenaga batin yang dicurahkan dalam usaha bidang dakwah tersebut.
Para ulama dan cendekia yang bermusyawarah di Masjid Al Munawarah, memutuskan “mendirikan gerakan dakwah yang dinamakan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.” Berbentuk yayasan, berdasarkan “taqwa dan keridhaan Allah”, serta bertujuan “menggiatkan dan mening¬katkan mutu Dakwah Islamiah di Indonesia.”

Maka, Dewan Da’wah dalam melakukan kegiatan kegiatannya menempatkan diri sebagai pelanjut dan penerus kegiatan dakwah Risalah Rasulullah saw. Yakni memanggil umat manusia kepada jalan Tuhan, dengan hikmah dan mau’izh- hasanah.

Apabila sasaran dakwah berhadapan dengan bantahan-bantahan, harus diatasi dengan kaifiyah yang lebih baik, karena tugas risalah Islamiah adalah mendatangkan rahmat bagi segenap alam. Namun sudah menjadi tabiat pembawaan, setiap risalah pasti menghadapi tantangan. Karena itu, tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi : binaan wa difaa’an. Membina mereka yang sudah muslim, baik sejak lahir, maupun yang baru masuk Islam karena keberhasilan dakwah. Mem¬pertahankan Islam serta umat Islam, dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam bahkan melihat Islam sebagai lawan yang harus dihabisi.

Kehadiran Dewan Da’wah membawa terobosan baru di nusantara. ” Setelah sekian lama terkungkung penjajahan memasuki abad dua puluh, dunia Islam menampakkan geliat kesadarannya.

Fenomena tumbuhnya gerakan-gerakan Islam di dunia Islam merupakan refleksi dari usaha untuk menyelesaikan problem umat yang tengah mengalami keterpurukan peradaban selama sekian abad. Kelahiran gerakan-gerakan dakwah ini diikuti kesadaran kembali kepada pemahaman Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif (syumul).

Dewan Da’wah dilahirkan oleh para pemimpin Masyumi masa lalu di Indonesia memiliki visi pemahaman Islam secara totalitas yang memiliki keberakaran yang begitu mendalam dalam sejarah umat Islam di seluruh dunia, setelah terpahami secara langsung dari sumber-sumber ajaran Islam. Logika perjuangan umat Islam tidak dapat dilepas dari tataran politik kenegaraan, sejak kemerdekaan negeri-negeri Islam dari penjajahan.

Mensosialisasikan visi, misi, kebijaksanaan dan pola kerja Dewan Da’wah dalam setiap perlibatan kegiatan dakwah, dirangkum dalam AD/ART dengan memadukan pola kerja dan pengalaman operasional selama bertahun-tahun. Sejalan dengan gagasan para pendiri yayasan, seperti Bapak Mohamad Natsir, H. Buchari Tamam, Bapak Dr. Anwar Haryono, SH., dan lainnya.

Dok.HMA
PAK NATSIR DIJULUKI KHADIMUL UMMAH, SAMPAI AKHIR HAYAT TERKENAL TEGUH PENDIRIAN DAN BERURAT KEHATI UMAT.

Diperlukan petunjuk tertulis bagi setiap kader Dewan Da’wah, yang secara jelas berisi landasan-landasan kebijaksanaan, visi operasional, sasaran yang akan dituju. Dalam hal ini, Biro Organisasi dan Administrasi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia memegang peranan penting dalam menetapkan hal itu.

LANDASAN KEBIJAKSANAAN

Gerakan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia berdasar taqwa dan keridhaan Allah. Dalam mencapai tujuannya mestilah berupaya mengadakan kerjasama yang erat dengan semua badan-badan dakwah yang telah ada di seluruh Indonesia.

Menghadapi situasi yang bersifat kontroversial dan saling bertentangan, maka risalah Dakwah Islamiah mestinya mengambil sikap menghindari dan mengurangi pertikaian paham sesama pendukung dakwah dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah.

Kemudian, menghidupkan dakwah bil hal, bila kondisi dan peluang terbuka, menjadi tugas utama pula.

Dewan Da’wah tampil mengisi kekosongan sejak awal berdirinya dengan menciptakan usaha bersifat dakwah, walau sebelumnya belum banyak diadakan, seperti memunculkan pilot proyek bidang dakwah.

”Memahami dinamika pergulatan intelektual maupun politik saat ini, kita belajar dari sejarah kehidupan para pendahulu kita di masa lalu. Terlebih dalam alam demokrasi yang kembali sedang kita rintis. Para ulama dan politikus Muslim telah mewariskan pengalaman sejarahnya dalam berdemokrasi, juga sikap-sikap yang mereka perjuangkan untuk menegakkan Islam secara kaffah dalam kehidupan bangsa ini. Salah satu dari mereka yang telah mewariskan itu semua adalah Mohamad Natsir.”

LANDASAN OPERASIONAL (VISI OPERASIONAL)

Memahami visi operasional Dakwah Islamiah di Indonesia, seharusnya ada perpaduan landasan ide dan kebijaksanaan tertulis yang direalisasikan berbentuk statement atau kebijaksanaan harian pimpinan organisasi. Penjabaran-nya, antara lain mesti menjaga independenitas dakwah.

Dewan Da’wah sejak awal diterima sebagai Organisasi Dakwah yang independen, dengan tujuan mencapai ridha Allah Subahanahu wa ta’ala, didasari iman dan taqwa kepada-NYA. Hal itu juga ditegaskan dalam anggaran dasar dan angaran rumah tangga Dewan Da’wah, bahwa pelaksanaan aktifitas dakwah Islamiah muthlak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.

Dakwah adalah sebuah usaha sadar untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali, dalam rangka mengubah dan membawa umat ke arah yang lebih baik sesuai dengan syari’at Islam. Oleh karena itu, peningkatan mutu dakwah di berbagai bidang, menjadi prioritas kegiatan dakwah.

Sementara itu persoalan umat yang paling menonjol dan harus dipecahkan segera adalah masalah perpecahan atau disintegrasi umat (firqah). Sehubungan dengan hal tersebut, pengintegrasian umat menjadi paling utama dan urgen harus dilaksanakan.

Mengingat dinamika persoalan umat, maka struktur kepengurusan yayasan Dewan Da’wah sudah dari awal berdiri membuktikan adanya kebersamaan semua unsur dan latar belakang organisasi dakwah maupun pendidikan Islam, guna saling melengkapi dan memperkuat pencapaian tujuan organisasi.

Hal itu terbukti dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Dewan Da’wah semata-mata hanyalah bertujuan untuk pembelaan seluruh umat Islam dimanapun berada.

Begitu pula tentang kebijaksanaan berpartai.
Dewan Da’wah mendukung dan dapat bekerja sama dengan semua partai yang memperjuangkan aspirasi Islam dan umatnya.

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada era reformasi, ikut memprakarsai berdirinya partai-partai Islam. Hal itu, tidak terlepas dari aktifitas dakwah juga.

Adapun penggarisan kebijakan Dewan Da’wah yang dipimpin oleh Bapak Mohamad Natsir, memberikan kebebasan kepada masing-masing umat, untuk memasuki partai-partai yang diminati, dengan pertimbangan tidak bertentangan dengan dakwah Islam. Setiap orang semestinya berdiri dengan istiqamah serta menjauhi sikap taqlid buta.

Pandangan dakwah Mohamad Natsir mengenai ajaran Islam dapat dihampiri dari konsepi Islam yang beliau rumuskan ;
”…bahwa Islam menghormati akal manusia dan menundukkannya pada tempat yang terhormat, Islam mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu, Islam melarang ber-taqlid buta. Kritik beliau mengenai taqlid juga tidak semata ditujukan pada umat Islam awam tetapi juga pada mereka yang menamakan dirinya sebagai orang yang berpikir modern yang kadangkala juga bertaqlid secara buta kepada pemikiran Barat.”

Lebih penting lagi adalah, ajakan dan harapan kepada semua yang memasuki partai-partai yang ada, agar dapat menjalin kerjasama dan kebersamaan dalam pembelaan bangsa dan negara dengan panduan ajaran Islam yang haq.

Selanjutnya, mampu memperjuangkan dan menyalurkan aspirasi umat Islam kepada pemerintah untuk kemashlahatan masyarakat luas. Visi-visi inilah yang memperlihatkan dengan jelas adanya independenitas dari organisasi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

A. LEMBAGA PEMERSATU

Sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh umat Islam Indonesia, seperti Bapak Mohamad Natsir dan kawan-kawan, pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, adalah tokoh pemersatu dalam integrasi bangsa. Memiliki pola pikir kebangsaan yang Islami. Berjuang untuk keutuhan bangsa dan umat.

Sejak awal Indonesia memasuki masa-masa menuju kemerdekaan, pejuang-pejuang bangsa telah dihadapkan pada pilihan-pilihan sejarah untuk membangun masa depan bangsa dan negara yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika itu, sesungguhnya pikiran-pikiran anak-anak bangsa tidak terlepas dari bentukan pola pendidikan kolonial yang berlaku masa itu. Disatu sisi pendidikan telah memberi kesadaran baru bagi generasi bangsa Indonesia membaca kehidupan bangsa dan menegaskan kemerdekaan sebagai hak kemanusiaannya.

Disisi lain pusat putaran pertumbuhan pikiran-pikiran tersebut tetap pada orbit peradaban Barat. Analisa yang dipakai menjamah masalah keumatan bertumbuh dalam badan bangsa lengket pada analisa sejarah dinamika peradaban Barat. Kemunculan ide-ide sekuler telah menggejala di dalam tubuh bangsa terjajah beratus-ratus tahun lebih sebagai fenomena umum yang dijumpai dibanyak negara-negara terjajah dan mengalami kekalahan persaingan dengan peradaban Barat.

Perjuangan intelektual menampilkan Islam sebagai satu-satunya pilihan aksiomatis bagi umat Islam khususnya di nusantara Indonesia adalah satu keperluan mendesak. Ketika gelombang generasi mempertanya kerasionalitasan ajaran Islam inilah Bapak Mohamad Natsir tampil sebagai pengibar bendera Islam.

Tulisan-tulisan beliau beredar luas menanggap kritis terhadap skeptisme generasi buah politik etis penjajahan Barat.

Posisi Islam dalam politik dan kenegaraan, menjadi bagian fenomenal dari isu penting ditampilkan Mohamad Natsir mengenai ajaran Islam. Bahwa Islam menghormati akal manusia dan menundukkan pada tempat terhormat.
Agama Islam mewajibkan pemeluk-nya menuntut ilmu dan Islam melarang ber-taqlid buta.

Kritik Mohamad Natsir mengenai taqlid tidak semata diarahkan pada umat Islam awam tetapi juga pada pemikir modern yang tanpa disadarinya telah tunduk secara buta kepada pemikiran Barat. Pemikiran dan konsepsi berpikir Islami ditengah perubahan zaman ini jelas menjadi kita dakwah yang tetap dijaga. Masa pembangunan bangsa yang dikawal dominan stabilitas ikut menyita pikiran tokoh-tokoh memperjuangkan nilai-nilai Islam menjadi pilihan tepat bagi bangsa yang direfleksikan dalam gerak Dakwah Islam.

Situasi telah berubah dengan cepat. Reformasi lahir. Perhatian dan tenaga komponen bangsa tersedot mempertahankan reformasi dan pengokohan sendi-sendi negara kesatuan Republik Indonesia. Mohamad Natsir, bekas ketua Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), sejak tahun 1967 ikut memberikan kontribusinya mendirikan Dewan Da’wah bersama-sama pemimpin Islam lainnya, telah menyatukan umat dalam gerak dakwah Islam dan komitmen menjujung tinggi etos profesionalisme.

Mohamad Natsir selalu memperlihatkan kegigihan membela Islam dengan menegaskan argumentatif dakwah Islam yang integral mulai dari pasca-pemilu 1955 di medan konstituante hingga kemasa dekrit Presiden Juli 1959 yang menandai lahirnya era kediktatoran. Usaha menyatukan umat, telah tampak sejak tokoh umat ini berada di Parlemen. Bahkan, terbukti ketika memimpin pemerintahan, sebagai Perdana Menteri atau menteri Kabinet. Mosi “integral” Mohamad Natsir satu bukti menunjukkan hal demikian.

Begitu pula dengan Dewan Da’wah, perjalanannya selama 3 dasawarsa telah membuktikan, sebagai lembaga pemersatu umat. Tidak berpihak pada golongan ulama tertentu, tetapi merangkul para ul;ama dari berbagai lapisan untuk masuk dalam kepengurusan.

Membentuk Korps Muballigh yang independen. Membentuk Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam se Indonesia (BKSPTIS). Mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren se Indonesia. Membentuk Komite Solidaritas Umat Islam (KISDI). Berperan aktif dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan aktif dalam membentuk Organisasi Wanita Islam. Membentuk Forum Ukhuwah Islamiah (FUI) sebagai forum pertemuan para pimpinan ormas dalam lembaga dakwah, terdiri dari organisasi Islam di pusat.

Kemudian, dalam perjalanannya FUI berkembang menjadi BKUI (Badan Kerjasama Umat Islam) yang juga melibatkan lebih luas berbagai organisasi pemuda dan profesi. Menjaga persatuan dan kesatuan umat agar tetap terbina, maka seluruh pendukung dakwah sangat di- anjurkan menghindari meruncingnya perbedaan dan pertikaian faham sesama pendukung dakwah, lebih-lebih dalam melaksanakan tugas dakwah.

Bahkan Dewan Da’wah juga berperan aktif dalam menghadapi dampak dari gerakan reformasi yang disusupi anasir-anasir anarkis, seperti pada Mei 1998. Tindakan anarkis yang menyebabkan terjadinya berbagai pengrusakan dan pembakaran mengakibatkan penderitaan fisik dan psikologis kepara para dhu’afak atau rakyat kecil.

Kondisi kaum dhu’afak yang sebelumnya sudah tidak berdaya akibat resesi krisis moneter, ditambah lagi oleh perbuatan sebagian kalangan masyarakat yang telah kehilangan aqidah dan moral berbangsa, membuat umat semakin terpuruk kelembah penderitaan yang menyedihkan.

Menghadapi kondisi seperti ini, Dewan Da’wah kembali mengambil peran dengan membentuk Komite Penanggulangan Akibat-akibat Krisis, yang disingkat dengan KOMPAK Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Kompak berkantor pusat di Markas Dewan Da’wah Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta Pusat.

Dalam kiprahnya, KOMPAK tidak semata me-nanggulangi korban kerusuhan Mei 1998. Ternyata juga kemudian, ketika juga mengatasi masalah kekurangan Gizi pada Balita, dan membantu akibat bencana tsunami dan lainnya. Beberapa daerah dijangkau mengulurkan bantuan sebagai bukti kepedulian Dakwah Islamiah, seperti daerah Sumatera Barat Kecamatan Bayang dan Lunang di Pesisir Selatan serta Kecamatan Panti di Kabupaten Pasaman. Bencana disadari tumbuh karena dampak krisis ekonomi, sungguhpun juga disebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang Gizi Balita.

Pada daerah-daerah yang ditimpa bencana gempa bumi dan tsunami di pulau Sumatera, seperti Aceh, Nias, Sumatera Barat dan daerah Indonesia bagian Timur sampai ke Papua, rakyat memerlukan uluran tangan segera di saat-saat musibah datang melanda. Gerakan ini adalah implementasi dari misi Dakwah Islamiah.

Bantuan-bantuan yang diberikan kepada umat dikumpul dari masyarakat yang berbeda strata kehidupan dan latar belakang pendidikan mereka. Hal ini tidak pernah menjadi halangan untuk suatu gerakan dakwah untuk kemanusiaan. Perbedaan adalah rahmat Allah yang memberikan beberapa alternatif untuk umat dengan jiwa besar bila dapat melihat perbedaan daerah dan adat istiadat penduduk ditengah masyarakat kita menjadi satu kekayaan bangsa tak ternilai besarnya. Perbedaan adalah kekuatan jika pandai menggunakan. Disinilah peran gerakan dakwah.

Keyakinan dan kepercayaan umat mesti dijaga kepada tauhid secara haq. Dakwah Islamiah tidak boleh mentolerir praktek-praktek bid’ah, khurafat dan tahayul yang berakibat membawa umat kepada cara hidup terbelakang dan ketertinggalan dalam segala bidang.

B. LEMBAGA KEJUANGAN

Visi kejuangan dakwah ila-Allah adalah ikhlas karena Allah, tanpa pamrih sebagai ciri utama kegiatan perjuangan. Berjuang itu, dalam artian mempertahankan dan membela. Pembelaan terhadap diri, harta, keluarga dan agama. Pembelaan adalah suatu kewajiban hakiki sesuai dengan titik tolak perjuangan dakwah, yang menetapkan terlaksananya kewajiban individual atau pribadi dalam masyarakat.
Karena itu, setiap muslim wajib menyampaikan seruan kebaikan atau dakwah, dimana dan kapan saja waktunya, sesuai kemampuan, profesi dan posisi masing-masing. Dakwah tidak dilakukan hanya di mimbar-mimbar tabligh atau pengajian ta’lim.

Ruang lingkup dakwah melingkupi aspek dan ruang sangat luas. Dakwah bil hal dengan keteladanan, tercermin dalam sikap membantu kelancaran dakwah dengan fikiran atau tenaga, harta benda dan kebersamaan dalam setiap kegiatan dakwah yang berdampak lebih positif.

Dakwah Islamiah mencakup dua aspek, satu dan lainnya sangat berkaitan;

A. Aspek “pembinaan”.
Dari aspek “pembinaan dakwah” berbentuk penerangan dan pemberian mauidzah hasanah, menyampaikan pesan syar’iy ’kepada segenap manusia, agar dapat mengubah karakter manusia dari yang tidak baik menuju sifat-sifat mulia.

B. Aspek “pembelaan”
Dari aspek “pembelaan dakwah” berupaya pengamanan jalannya dakwah, dengan mengatasi hambatan dakwah dari dalam dan dari pihak luar dakwah Islam, seperti munculnya kelompok-kelompok harakah sempalan atau tantangan yang datang dari luar Islam atau kelompok palangis wa lan tardha.

Aspek pertama lebih terfokus kepada pembentukan kader dikalangan intelektual atau kampus maupun masyarakat.
Dakwah Islamiah meletakkan kepedulian besar kepada lembaga pengkaderan dan pembinaan umat secara umum.

Di samping itu, pembinaan kepada suku masyarakat terasing dan terisolir seharusnya menjadi jangkauan dakwah Islamiah itu.
Aspek kedua, lebih tertuju kepada kegiatan sangat intensif yang dilaksanakan menghadapi tantangan dari kelompok harakah-haddamah dan non-Islam, yang sering berkeinginan merusak aqidah serta pemurtadan umat Islam dari agamanya.

Dalam tataran organisasi lazimnya pendukung dakwah disebut sebagai “pejuang”. Segenap aktifis dakwah yang ikut berkhidmat, kepada sesamanya sering disebut sebagai “kawan berjuang”.

Karena itu, lembaga dakwah seharusnya tidak mengenal kata “karyawan” atau pekerja dakwah. Kesejajaran adalah kunci utama dalam pelaksanaan tugas dakwah.

Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas Dakwah Islamiah semestinya tidak mengenal tugas sebagai instruksi atasan.

Dari sisi ini kita menyimak etika dakwah yang diajarkan oleh pimpinan Dewan Da’wah sejak awal berdirinya selalu menggugah hati nurani pendukung dakwah, dimanapun berada.

Bapak Mohamad Natsir sering mendifinisikan kata “berjuang” itu dengan :
a. Bekerja dan beramal tanpa pamrih.
b. Lebih suka memberi daripada menerima.
c. Tidak putus asa bila menemui kegagalan.
d. Menjadikan jihad sebagai jalan hidup.
e. Syahid di medan juang sebagai cita-cita.
f. Istiqamah sebagai sikap pribadinya.

LEMBAGA PERINTIS, PEMRAKARSA, PENCETUS IDEA

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dita’sis-kan pada tahun 1967. Pada masa itu terjadi kevakuman di bidang dakwah, akibat dari dominasi pihak komunis dan nasionalis sekular terhadap politik di tanah air. Umat hilang kepercayaan diri sebagai muslim, akibat ketakutan dan tekanan yang berat.

Secara berangsur, para Pemimpin Umat wajib mulai membangkitkan semangat yang sudah runtuh dengan berbagai macam media. Dimulai dengan menerbitkan bulletin Jum’at, sebagai rekaman dan salinan dari khutbah-khutbah beliau-beliau di ibu-kota Jakarta, yang masih hidup sampai saat ini.

Buletin Dakwah berisi pidato dan pandangan politik para pemimpin umat disertai oleh wawasan ke-Islaman yang tinggi dan menyebar ke seluruh penjuru tanah air melalui jamaah masjid dan dapat menjadi perekat antara teman-teman seperjuangan dahulu.

Kemudian, secara berangsur-angsur dilaksanakan konsolidasi antar berbagai aktifis dakwah di lapangan untuk menumbuhbangkitkan gairah Islam serta menggerakkan umat membuat aktifitas-aktifitas Dakwah Islamiah, sambil menumbuhkan kebersamaan dan persatuan dalam persaudaraan Islami.

Di masa Orde Baru (1967 – 1997) pemimpin umat yang istiqamah itu kembali mengalami hambatan yang sangat berat dalam berdakwah, bahkan disebut sebagai kelompok anti Pancasila.

Sebelum tahun 1986 Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dalam pimpinan Bapak Mohamad Natsir selalu menjadi pedoman dan ukuran. Dewan Da’wah boleh dianggap sebagai satu-satunya lembaga yang dipercaya untuk diminta pertimbangan dan menyalurkan bantuan kepada kaum Muslimin atau kepada lembaga lembaga dakwah yang pada saat itu mulai menggeliat dalam kiprahnya.

Adanya konsistensi yang tinggi serta dengan pertolongan Allah Swt, berangsur-angsur dampak positif kegiatan dakwah mulai tampak.
Cuacapun selalu pula berubah-ubah.

Prakarsa dakwah terlihat pada kegiatan dasar menyebarkan aqidah yang shahih dan sistim berfikir yang Islami. Membina persaudaraan ukhuwah Islamiah dengan segenap kaum muslimin. Mengirim du’at dan meningkatkan kwalitas para da’i.

Membuat kerjasama berbagai lembaga Islam dalam dan luar negeri. Mengamankan jalannya dakwah dalam berbagai pendekatan. Dengan itu kegiatan dakwah dijabarkan dalam bentuk operasional di lapangan dengan pelatihan dan peningkatan wawasan ilmu pada berbagai tingkat untuk kemudian mengirim da’i ke seluruh penjuru tanah air. Membuat penelitian lapangan bidang dakwah.

Memperingatkan umat akan bahaya harakah sempalan, yang tampil ditengah masyarakat muslim dengan berbagai kegiatannya. Pembelaan terhadap umat Islam dari upaya pemurtadan oleh kelompok salibiyah.

Pembinaan kepada mahasiswa dan cendekiawan, melalui pembinaan masjid kampus dan Islamic Centre. Jemaah kampus lebih homogen kalau dilihat dari ciri kemudaan dan keintelektualannya. Sifatnya lebih mandiri dan loyalitasnya lebih pada ide. Dan ikatannya lebih kokoh dan mobilitasnya lebih tinggi. Melalui gerak ini dibangun kerjasama dakwah dan pendidikan dengan berbagai lembaga Islam.

Menghidupkan majlis ta’lim yang jamaahnya lebih bervariasi dan ikatannya lebih longgar. Mobilitasnya lebih rendah. Melalui ini dapat ditumbuhkembangkan proyek-proyek investasi umat dan home industri untuk mendukung dakwah. Bahkan dapat berlanjut menjadi Islamic Centre dan rumah sakit, sekolah dan madrasah.

Pembangunan rumah rumah ibadah terutama masjid kampus dan Islamic Centre tetap menjadi perhatian utama dari Dewan Da’wah sejak awal berdiri. Walau¬pun ada satu dua kampus memerlukan pembangunan sarana ibadah berupa masjid itu, namun masih tersimpan keengganan serta tekanan halus dan ketakutan berlebihan kepada Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang dianggap keluarga besar bulan bintang atau bekas partai politik Masyumi.

Ajaran Islam mengakui dan menghormati hak kepribadian. Memberikan kebebasan dan mewajibkan tiap-tiap orang supaya mencari rezeki sekuat tenaga .
Kemudian, kekayaan yang didapat itu tidak boleh digunakan untuk kepentingan diri sendiri saja. Harus di keluarkan pula untuk menolong sesama manusia. Dengan harta itu, dapat diciptakan kemakmuran bersama. Mendorong lahirnya ruhul-infaq membangun umat.

Inilah ciri demokrasi sebenarnya.

Demokrasi adalah hasil perjuangan manusia seluruh dunia sepanjang tarikh.
Demokrasi dipakai rancang-cipta kesejahteraan melalui perangkat musyawarah. Negara akan dapat diperintah dan diatur sebaik-baiknya apabila politik demokrasi dilakukan dengan seikhlas-ikhlasnya.

Perkembangan demokrasi akan berkembang sempurna dengan roh dan jiwa akhlaq Islam. Lagi pula kebijaksanaan politik akan kuat bila masyarakat sadar akan hak dan kewajibannya, serta satu dan lainnya saling menghormati.

Sebelum tahun 1945, memasuki masa-masa menuju kemerdekaan Republik Indonesia, putra-putra bangsa dihadapkan pada pilihan-pilihan sejarah untuk membangun masa depan bangsa. Gelombang ide-ide baru bermunculan yang dilontarkan untuk meretas jalan kehidupan baru.

Pada saat itu pula sesungguhnya pikiran-pikiran yang dihasilkan merupakan bentukan dari pola pendidikan kolonial yang dilakukan selama ini. Pada satu sisi pendidikan itu memberi kesadaran baru bagi generasi muda Indonesia untuk membaca kehidupan bangsanya dan menegaskan terhadap hak kemanusiaannya.

Tapi pada sisi lain, orbit yang menjadi pusat putaran kelahiran pikiran-pikiran itu tetap merupakan orbit peradaban Barat. Analisa yang digunakan untuk menjamah problem yang berkembang dalam tubuh bangsa ini dicangkokkan dari analisa terhadap sejarah dinamika peradaban Barat. Maka kemunculan ide-ide sekuler menggejala dalam tubuh bangsa ini. Tetapi sesungguhnya, kemunculan ide-ide sekuler pada saat menjelang hilangnya kolonialisme dan pasca kolonialisme ini merupakan fenomena umum yang dapat kita jumpai pada negara-negara yang pernah terjajah atau mengalami kekalahan persaingan dengan peradaban barat.

Dalam situasi seperti ini perjuangan intelektual untuk menampilkan Islam sebagai satu-satunya pilihan aksiomatis bagi umat Islam merupakan keperluan mendesak. Pada saat gelombang generasi baru mempertanyakan kerasionalitasan ajaran Islam, ketika itulah Mohamad Natsir tampil sebagai pengibar bendera Islam.

Ketika kemerdekaan Indonesia telah diambang pintu dan persiapan kelahiran sebuah negara memerlukan dasar-dasar yang kokoh maka terjadilah diskusi diantara tokoh-tokoh bangsa ini merumuskan dasar-dasar itu. Tentu saja tokoh-tokoh Islam memperjuangkan Islam sebagai pilihan yang tepat bagi bangsa ini.

Memperhatikan latar belakang sejarah tumbuhnya Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, senyatanya badan dakwah yang sekarang sudah berusia empat puluh tahun sejak mulai Pebruari 1967 sampai melangkah ke alaf baru sekarang.

Sebetulnya idea dakwah sudah terjalin sejak lama. Ketika para pemimpin umat, diantaranya Mohamad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, masih mendekam dipenjara-penjara masa Orde La¬ma sejak tahun 1961 sudah mulai. Walaupun ketika itu, intrik yang merusak Negara dan masyarakat, yang dilancarkan oleh kaum komunis sangat kentara, sampai sebelum tahun 1965 itu.

Di tahun 1966, lembaran baru di Indonesia mulai terbuka. Orde Baru mulai terbentuk. Gerakannya dimulai dengan membubarkan PKI sejak 1966 itu. Tetapi, ekses dari gerakan destruktif kaum komunis dimasa Orde Lama, masih membekas dihati umat. Terutama kebebasan dan kemerdekaan berpikir masih terhalang. Sisa kemerosotan jiwa dan semangat umat mesti segera dipulihkan dengan gerakan amaliah dan kegiatan keumatan yang nyata.

Terbentuknya lembaga Dewan Da’wah sebuah jawaban keumatan bersama lembaga Dakwah yang ada.

Gerakannya dinantikan umat yang sedang melorot di berbagai sisi. Gagasan dan Gerak Dakwah Komprehensif di dalam Menapak ke Alaf Baru, yakni merakit kembali gagasan-gagasan Membangunkan Potensi Umat, dimulai dari Masjid dengan Menampilkan Dewan Da’wah sebagai mata rantai Melanjutkan Dakwah Risalah dengan Berurat Dihati Umat.

Dalam menjaga kelangsungan operasional, tampil kesadaran mengawal potensi umat dengan membina kader. Konsolidasi dan polarisasi dalam upaya membentuk opsir lapangan. Kiprah dakwah tidak boleh berhenti.

Gagasan dan gerak dakwah tersebut adalah bahagian dari sejarah bangsa, teguh prinsip menegakkan amar makruf nahi munkar dengan memulai dari apa yang bisa. Potensi yang terbina, dapat dilanjutkan untuk menghidupkan sinerji umat dengan meluruskan niat dan mengokohkan iman dan taqwa sebagai sumber kekuatan.
Kemampuan melakukan jalinan aqidah, ibadah, akhlaq, karena cita-cita dari awal adalah menuju umat teladan, yang bertitik tumpu kepada kebenaran ajaran Allah.

Akhirnya, tentu kesediaan melakukan reformasi sebagai bagian dari gerak dan langkah kiprah dakwah terlihat pada menghidupkan dakwah membangun negeri. Terlebih dahulu dengan sikap menjaga Ibu Pertiwi agar jangan jatuh kepangkuan komunis.

Langkah pertama dengan Menumbuhkan Perwakilan Dewan Da’wah di daerah-daerah di Indonesia. Pertama sekali dihidupkan perwakilan Dewan Da’wah di Sumatera Barat pada bulan Juli 1967, agar program-program dakwah yang digulirkan dapat membentengi aqidah umat.

Semua itu, terwujud bila dirangkaikan dengan program terpadu dalam Meningkatkan Mutu Dakwah, melalui Kiprah Dakwah sebagai Gerak Langkah Dakwah.

Pengetahuan mendasar tentang da’i dan problematika-nya menjadi program utama dalam mengembangkan diklat dakwah, seperti dalam menghadapi Ghazwul Fikri. Sehubungan dengan itu perlu merakit hubungan-hubungan dengan mengaktifkan dakwah dengan menampilkan proyek keumatan, di antaranya membangun Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, Pembinaan Aitam, Muhtadin, Batu Marta dan LBH Pasaman, Masjid Kampus dan Islamic Center.

Namun, Tantangan Dakwah Di Arena Sulit tidak bisa diabaikan. Diantaranya Mentawai di provinsi Sumatera Barat dengan profil dakwah komprehensif dalam upaya selalu menanamkan aqidah, memelihara ibadah, dan memupuk intelektualaitas serta kehati-hatian menjaga umat dari bahaya pemurtadan.

Sebagai Penutup, tidak diabaikan pedoman kegiatan dakwah islamiah di Indonesia untuk kesinambungan patah tumbuh hilang berganti.

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا و أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم و أحمد و الترمذي و النسائي و ابن ماجة)
Barangsiapa yang menyunnahkan suatu sunnah yang baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.

Pesan Rasulullah SAW amatlah jelas mendorong kepada kegiatan dakwah.
“Barangsiapa yang menyeru kepada hidayah, mereka memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya. Tidak berkurang sedikitpun.” (HR. Muslim dan Ash-habus-Sunan).

Insya Allah, dengan kesungguhan hati juga, tentu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melimpahkan bimbingan dan petunjukNya.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الدَّيْنِ ظَاهِرِيْنَ، لِعَدُوَّهُمْ قَاهِرِيْنَ، لاَ يَضُرُّهُم مَنْ خَالَفَهُمْ، إَلاَّ مَا أَصاَبَهُمْ مِنْ اْلأَوَاءِ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ، وَ هُمْ كَذَلِكَ
Sekelompok umatku akan terus menang atas agama yang lain, mengalahkan musuh mereka, mereka tidak merasakan kesulitan oleh orang yang berlainan dengan mereka, kecuali sedikit cobaan yang menimpa mereka hingga datang perkara Allah, dan mereka terus seperti itu. (al Musnad (5/269), Al Haitsami menulis dan menyebut sumber dari Musnad Ahmad, dan Thabarani berkata rijalnya tsiqat (7/288).

YANG KURIK KUNDI, YANG MERAH SAGA,
YANG BAIK BUDI, YANG INDAH BASA.

TEGAK RUMAH KARENA SENDI,
SENDI RUNTUH RUMAH BINASA,
TEGAK BANGSA KARENA BUDI,
BUDI HANCUR HILANGLAH BANGSA.

(Tulisan ini bagian kedua dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir, yang ditulis oleh H. Mas’oed Abidin di bawah judul Dakwah Komprehensif, dan belum sempat dicetak atau diterbitkan)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s