Membangun Potensi Umat

Bagian – I
Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

MEMBANGUNKAN POTENSI UMAT

Oleh : H Mas’oed Abidin

Masjid Al Munawwarah
Selama empat puluh tahun (1967-2007), Masjid Al Munawarah di Kampung Bali I Tanah Abang di Jakarta Pusat telah menjadi salah satu tempat ibadah bagi kaum Muslimin dari kalangan pedagang di sekitar pasar Tanah Abang. Jamaahnya selain para pedagang, juga terdiri dari para buruh, tukang beca, rakyat awam, para pekerja. Pendeknya lapisan masyarakat Muslim yang bermukim di sekitarnya.

Ketika waktu shalat telah tiba, masjid ini ramai didatangi, untuk menunaikan ibadah. Bermunajat kepada Allah SWT. Shalat lima waktu, setiap hari. Suatu kelaziman bagi setiap muslim, sejak berabad-abad sebelumnya, mulai dari agama Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejak masjid dibangun oleh umat Islam, telah diberi nama rumah ibadah. Masjid adalah suatu institusi penting dalam kehidupan muslim.
Masjid pusat kegiatan umat muslim.

Sebagai tempat ibadah dalam perjalanan hidup muslim, hakekatnya berperan menjadi pusat kegiatan dalam mememenuhi keperluan hidup.
Bagi komunitas umat muslim, masjid tidak sekedar tempat bersujud. Masjid menjadi suatu tempat seorang muslim membuktikan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dari sini diajarkan hidup berdisiplin. Mengenal waktu dan memanfaatkan untuk kehidupan.

Sesuai bimbingan Rasulullah SAW masjid dibangun dengan fondasi taqwa. Kemudian dari masjid pula, umat membangun diri dan jamaah untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sambung bersambung dan terus menerus.

Firman Allah SWT menegaskan, ” hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Qs.9 – At-Taubah : 18 )

Pada tanggal 26 Pebruari 1967 di Masjid Al Munawwarah ini berlangsung suatu peristiwa penting. Peristiwa penting tersebut, menjadi sangat penting justeru dikala itu, ibu kota Republik Indonesia – Jakarta –, sedang mengalami satu perubahan besar.

Pemerintahan negara ketika itu, baru sama sekali. Dibawah Jenderal Soeharto. Umur pemerintahan baru sebelas bulan. Jenderal Soeharto menggantikan Soekarno yang baru diturunkan dari jabatan Presiden oleh kekuatan demonstrasi mahasiswa dan rakyat yang anti komunis. Ini terjadi karena peristiwa yang disebut Gerakan 30 September tahun 1965. Peristiwa itu juga disebut GESTAPU/PKI. Suatu makar berdarah gerakan komunis di bumi Indonesia, selain dari peristiwa Madiun.

Gerakan 30 September 1965 berakibat gugurnya beberapa orang jenderal TNI, yang disebut Pahlawan Revolusi. Berapa petinggi tentara itu gugur oleh pembantaian pengikut fanatik komunisme pimpinan DN. Aidit dengan Gerwani, dengan bantuan kekuatan Kolonel Untung.

Tindakan biadab ini mengundang demonstrasi mahasiswa dan rakyat dari seluruh kesatuan-kesatuan aksi. Mahasiswa, kesatuan aksi dan penduduk Indonesia sudah lama merasakan tekanan. Mereka bangkit bersama menuntut suatu amanat dari penderitaan rakyat dan dikenal dengan Tritura, yakni tiga tuntutan hati nurani rakyat.

Tuntutan hati nurani rakyat itu sesunguhnya amanat penderitaan rakyat Indonesia selama ini.

Antara lain berisi tuntutan Bubarkan Partai Komunis Indonesia, turunkan harga, adili Soekarno dan Soebandrio.

Masjid Al Munawwarah, Kampung Bali, Tanah Abang dimasa itu ikut menjadi saksi sejarah atas peristiwa besar dikalangan umat Islam Indonesia.
Dapat dikatakan menjadi satu pilar dari perkembangan dakwah komprehensif ke depan. Menjadi salah satu mata rantai perjuangan umat Islam di Indonesia sejak lama.

Masjid Al Munawwarah ikut mencatat sejarah dakwah dan perjuangan Islam di Indonesia. Ketika itu, masjid ini menjadi tempat berlangsungnya pertemuan besar. Antara umat dan para pemimpinnya.

Dari sinilah lahir gagasan-gagasan menopang gerak dakwah ilaa-Allah. Menatap dan melangkah ke zaman baru.

Memasuki alaf baru.
Selama masa pemerintahan orde Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), Masjid Al Munawwarah ini sudah berdiri juga. Di samping perannya sebagai sebuah masjid, tempat beribadah sehari-hari bagi para pedagang, pula menjadi tumpuan para pendatang.

Masjid Al Munawwarah mempunyai keunikan sendiri. Selain masjid berfungsi sebagai tempat kegiatan masyarakat dan pengajian majlis ta’lim, istimewanya menjadi pangkalan pembinaan umat. Tempat berkumpul para muballigh. Dimasa orde lama itu, para muballigh dan juru dakwah selalu dihalangi gerak langkahnya.
Para da’i dan muballigh pada masa itu dianggap komunitas yang selalu dicurigai.

Sungguhpun, sebenarnya kondisi itu dimasa ini tidak terlalu mengejutkan. Para muballigh Islam sudah lama terkenal sangat anti komunis. Karena, aqidah tauhid dari ajaran Islam, tidak bisa menerima paham atheis, anti Tuhan.

Orang-orang komunis di masa Orde Lama, menduduki posisi istimewa dalam pemerintahan. Sering pula pada kedudukan amat menentukan. Dalam pemerintah Nasakom itu, pihak komunis selalu berupaya melakukan intimidasi, tekanan dan fitnahan secara sistematik yang dihadapkan kepada para muballigh Islam. Tekanan melalui kekuasaan pemerintah, dirasakan para pendakwah Islam di seluruh Indonesia.

Keadaan ini diperparah oleh paham komunisme yang sudah terbiasa mengintimidasi bahkan sampai membunuh para ulama Islam, dipenjuru bumi. Kalangan komunis seringkali mencari-cari kesempatan dan peluang disetiap saat. Melampiaskan dendam politik yang ditujukan kepada para pemimpin umat Islam. Partai-partai lawan sering dijadikan sasaran utamanya. Terutama partai dan umat Islam di Indonesia serta simpatisan Masyumi, sejak lama.

Kekuatan umat Islam dari keluarga bulan bintang, sudah lama terbentuk. Dirakit perjalanan panjang sejarah, perjuangan umat Islam di Indonesia. Keteguhan hati tak mudah untuk dipecahpisah. Karena dihati telah lama terikat kepercayaan dan kesetiaan, ta-alluf qulub. Umat tetap menyatu dalam masjid.

Letak lokasi Masjid Al Munawwarah yang berdekatan sekali dengan lokasi pasar sangat strategis.

Menjadi tujuan para pedagang dan pendatang berbagai daerah dari seluruh Indonesia, ke pasar Tanah Abang. Juga bermacam keperluan, masjid ini telah menjadi tempat pertemuan para pendatang. Lokasi masjid yang strategis mendukung dijadikan pangkalan kegiatan.

Pengunjung dan jamaahnya ramai. Untuk berbagai keperluan dan tempat singgah sementara atau untuk keperluan sejenak. Masjid juga menjadi tempat berkumpul bagi yang telah lama menetap di sekitarnya. Umumnya pula kebanyakan jamaah terdiri dari keluarga umat Islam.

Jamaah masjid Al Munawwarah, mulai dari pengelola dan pengurusnya, umumnya terdiri dari pedagang dermawan dan keluarga Muslimin yang tinggal di sekitarnya. Lapangan usaha terdapat di sekeliling masjid. Pengurus dan jamaah harian adalah keluarga Muslim, berdatangan dari berbagai daerah.

Pada masa-masa tertentu, mereka sengaja berkumpul untuk mengikuti wirid-wirid pengajian. Diberikan oleh para muballigh yang sudah lama mereka kenal. Melepas rindu bertatap wajah. Para muballigh terkenal itu adalah para pemimpin umat. Diantaranya KH.Taufiqurrahman, Prawoto Mangkusasmito, KH. Agus Tjik, Duski Samad, Nawawi Duski, Buchari Tamam, KH. Malik Ahmad, KH.M. Yunan Nasution, KH.Ahmad Buchari dan lain-lain.

Sesudah para pemimpin Masyumi keluar dari tahanan Orde lama seperti Mohamad Natsir, Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Mr. Boerhanoeddin Harahap, Mr.Mohamad Roem, Mr.Assaat, Dr.H.Ali Akbar, Prof.Dr.Bahder Djohan,

Prof. DR. Rasyidi, Mr. Kasman Singodimedjo membahas situasi, mengetengahkan dakwah Islam kontemporer, di masa-masa sulit dan penuh fitnah ketika Orde Lama berkuasa, para pemimpin umat tersebut selalu dicurigai.

Setelah tahun 1966 suasana mulai berubah. Masjid Al Munawwarah menampung jamaah yang datang dari luar DKI, bahkan dari Bogor, Bekasi, Serang dan Banten. Mulai kembali terjalin hubungan erat antara umat dengan pemimpinnya. Dari hari ke sehari hubungan hati dengan hati antara pemimpin dan umat ini semakin kuat.

Hubungan ini diikat tali ukhuwah, dengan amaliyah khairiyah nyata dan terpadu.
Umat adalah sasaran dakwah. Tujuan dakwah tidak boleh menyimpang. Membina umat menjadi kokoh aqidah dan kuat kepribadian. Dan, memiliki akhlaq al-karimah. Maka dakwah tidak boleh terhenti.

Dalam kondisi apapun, upaya untuk memelihara suatu masyarakat bermoral dengan akhlaq al-karimah sesuai ajaran agama Islam, wajib dilaksanakan.
Umat yang menjadi sasaran dakwah ini memikul pula beban sebagai pendukung dakwah. Umat menjadi tulang punggung (back bounds) dari harakah dakwah.

Gerakan dakwah Islam sepanjang masa dibuktikan dalam amalan nyata mengangkat bersama beban umat. Apabila gerakan dakwah seperti ini dipelihara secara terencana, lambat laun umat berdiri kokoh diatas amalnya.
Masjid mesti dikembangkan menjadi center of action. Peran masjid harus berjalan dengan sungguh-sungguh.

Program dakwah sesuai fiqhud dakwah yang diajarkan Risalah Rasulullah SAW, diantaranya adalah “Membangun umat dari Masjid”.

MEMAKMURKAN MASJID KEMBALI,
Menyusun jamaah melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alif-baa-taa. Bukan barang baru lagi ahli qiraat.

Tetapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokok-pokoknya “tajwid alif-baa-taa”.

Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.

Sekarang;
Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apa-apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain.

Tak usah kita terombang-ambing, oleh pertanyaan-pertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita akan turut berjual beli …?
Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.

Adapun orang yang kantongnya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yang akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar ….,
Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………, Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;
” Maka berserulah situkang seru ;
” Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,
” Yang diseru,
” tak kunjung menyahut juga …..”.

Jamaah Masjid mesti dipelihara, agar setiap hari makin ramai. Kegiatan dakwah dengan acara pengajian mulai padat.

Para jamaah sekitar ramai mendatangi. Mereka berkunjung tidak lagi sekedar mengikuti wirid pengajian dan majlis ta’lim. Bukan pula untuk semata-mata mendengar uraian muballigh pemimpin umat. Lebih jauh terkandung niat untuk mendapatkan informasi. Seakan-akan menjemput roh perjuangan. Meniupkan ke tengah umat, agar umat hidup ketika kembali ke tengah kampung halamannya.

Dengan itu, dakwah mulai berkembang secara terarah. Masjid menjadi pusat informasi terbaru tentang perjuangan Islam — di tanah air, di dunia luar atau internasional –.

Tumbuh semangat jihad yang hidup terus menerus.

Gerak dakwah berkembang ke arah pola “menjadikan masjid tempat komunikasi”.
Menjalin ukhuwah dan solidaritas antar jamaah dan antar daerah. Mulai dari menyerap informasi. Mengenal perkembangan situasi bangsa dan negara.

Mengingatkan bahaya apa yang kiranya mengintai umat.
Dari sini gerakan dakwah mulai berjalan.

Pergerakan dakwah di daerah-daerah di keliling masjid bergerak dengan cepat. Masjid berfungsi sebagai pusat berita center of information yang akurat.
Perkembangan dakwah Islam dari daerah yang terpencil, tidak mungkin diperdapat dari mass-media. Karena terbatasnya sumber berita.

Hal ini menumbuhkan minat tersendiri bagi para jamaah yang datang dari luar kota. Kebijakan-kebijakan politik yang mestinya di ikuti umat ditunggu dari bahasan dan panduan pemimpin panutan.

Pergerakan dakwah seperti ini telah memberikan kiat baru dalam usaha pembinaan umat.

Pembinaan yang terus menerus terhadap umat seakan terpaksa harus dilupakan. Terbatasnya ruang gerak tidak boleh menjadi halangan bagi dakwah. Suasana baru, membuka kesempatan kepada mengkaji ulang kelemahan dan potensi yang dipunyai.

Kajian ini dilakukan oleh para pemimpin terpercaya. Dari sini, masjid akan menjadi center of excelence.

Dakwah dari Masjid Al Munawwarah mulai diminati berbagai kalangan. Umat dari berbagai kalangan sangat menghajatkan benar jawaban persoalan-persoalan semasa.

Perkembangan pengajian di alam kontemporer yang diterapkan secara jelas dan populer sering ditunggu-tunggu. Dakwah yang terperangkap kepada pemahaman taqlid akan menjadi penghalang untuk maju. Dakwah akan terjepit gaya tradisional atau memilih gaya maju. Suasana kontemporer memerlukan gaya baru.

Persoalan yang menyentuh nuansa fikrah dalam ruang lingkupan fikih sosial politik mulai berkembang pesat.

Umat mengharapkan adanya kajian politik dakwah yang bisa dijadikan panduan. Dakwah politik dilaksanakan seiring dengan perubahan zaman.

Kehidupan sosial politik dan tamaddun ekonomi dalam kehidupan umat Muslim, sudah lama dibudayakan oleh Islam sejak masa hijrah dalam Risalah Rasulullah SAW, mulai dari zaman Madinah.

Secara historis dipahami, Dakwah Risalah berperan memacu umat memasuki kehidupan baru.

Perubahan gerak dakwah sesuai keperluan mendesak, beriringan perkembangan zaman dan pergeseran politik bangsa. Maka gerakan masjid tidak hanya pada kapling tempat pelaksanaan ibadah mahdhah secara nafsiah semata. Masjid harus menjadi wadah penampung seluruh kegiatan yang umatik. Menjadi pusat-pusat kegiatan dakwah Islam.

Dalam kaitan ini, Masjid Al Munawwarah melangkah kesana. Perjalanan dakwah komprehensif di Indonesia mulai bergerak dari Masjid Al Munawwarah dengan pasti mulai memasuki sudut baru. Pembentengan umat dari bahaya pemurtadan salibiyah.

Upaya membentengi aqidah umat dari bahaya salibiyah dan upaya tanshiriyah di tanah air, disampaikan secara terbuka. Diberikan solusi mengatasinya. Semua gerak ditindak-lanjuti dengan upaya pembentengan aqidah umat.

Pembentengan aqidah umat menjadi model.
Selanjutnya berkembang menjadi metodologi dakwah sistematik. Mencakup multi aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara universal dakwah Islam dilaksanakan dengan terencana dan terpadu.

Kepentingan seluruh umat mesti digerakkan oleh umat itu sendiri. Gerakan dakwah masjid dengan pola program umatik mesti dihidupkan. Diikuti menanamkan lebih dini pemahaman yang menjangkau jauh kedepan secara futuristik. Dari sini sebenarnya bermula kerja besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Kesediaan secara terus menerus menjawab problematika umat dengan program-program dakwah nyata.

Penyajian informasi-informasi dakwah bi-lisaanil-hal secara komunikatif dengan dasar yang jelas amat diperlukan. Tujuan dakwah adalah mencari redha Allah atas landasan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Doc. HMA.
ABDUR RAHMAN AZZAM PRESIDEN ABIM MALAYSIA KETIKA PERESMIAN MUSEUM RUMAH KEDIAMAN BUYA HAMKA DI SUNGAI BATANG MANINJAU

(Tulisan ini bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir oleh H. Mas’oed Abidin, dibawah judul Dakwah Komprehensif) copyright@masoedabidin.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s