Piagam Bukik Marapalam

Draft untuk Bahan Kompilasi dari Buya H.Mas’oed Abidin

PIAGAM SUMPAH SATIE BUKIK MARAPALAM

Belum ada bukti tertulis sehingga tidak pula ada kepastian waktu, tempat, dan pelaku peristiwa pencetusan piagam sumpah satie Bukik Marapalam yang pasti. Namun masyarakat meyakini bahwa piagam sumpah satie Bukik Marapalam atau lebih populer disebut sumpah satie Bukik Marapalam disepakati oleh para pemuka adat dan ulama di puncak bukit itu masa perkembangan Islam di Minangkabau (selanjutnya ditulis Minang). Konsensus itu didasari oleh sifat egaliter masyarakatnya. Piagam sumpah satie tersebut diyakini berbunyi adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah disingkat dengan ABS-SBK (adat bersendi agama Islam, Islam bersendikan Al Quran.). Namun karena berbagai versi juga ada yang menyatakan konsensus pertama antara kaum adat dan ulama berbunyi “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik” (adat bersendi agama Islam, Islam bersendi adat).

Ketiadapastian peristiwa itu dan hampir tidak adanya tulisan Belanda mengundang munculnya beragam versi sejumlah peneliti, pemerhati agama dan adat di Minang. Bahkan perhatian mereka tentang hubungan antara variabel adat dan agama dewasa ini juga berkembang untuk kasus-kasus di luar dan dalam masyarakat Minang. Misalnya karya Hamka (terbit pada pertengahan 1946) “Islam dan Adat Minangkabau”; karya Ratno Lukito (1998) tentang Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia; sejumlah karya C. Snouck Hurgronje; Taufik Abdullah; penelitian dan seminar yang didanai oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat I Sumatera Barat bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang tahun 1991.

Konsensus tersebut muncul sebagai sintesa dari proses dialogis antara kedua kaum itu. Namun sintesa tersebut bukan untuk menyatukan ajaran Islam dengan adat Minang, tetapi untuk saling melengkapi dan menyesuaikan. Periode kemunculan ABSSBK itu ialah antara permulaan masuknya Islam sampai waktu masyarakat Minang menghadapi kolonial Belanda hingga pasca perang Paderi, dan Belanda memanfaatkan kesempatan itu dengan menggunakan pendekatan konflik.

Piagam sumpah satie tersebut adalah sebuah konsep dalam tataran ideologis dan dijadikan sebagai falsafah atau pedoman dalam kehidupan sosial, budaya, agama dan politik masyarakat Minang. Konsep tersebut relevan dengan Minang dalam konteks sosial-budaya, sehingga falsafah itu berlaku untuk masyarakat Islam etnis Minang. Falsafah itu hampir sama dengan falsafah di daerah lain seperti di Aceh yang diekspresikan dengan “hukum ngon adat hantom cre, lagee zat ngon sifeut” (hukum adat dan Islam tidak dapat dipisahkan, seperti zat dan sifat suatu benda), atau di Ambon dikenal “adat dibikin di mesjid” (adat dibuat di dalam mesjid).

Sebagian besar masyarakat Minang meyakini perjanjian itu terjadi di puncak Bukit Marapalam. Nama bukit itu awalnya sebuah istilah, berdasarkan foklor berasal dari kata “Merapatkan Alam” yaitu merapat atau terhubung dengan alam Luhak nan Tigo.. Asumsi lain tentang nama itu ialah rapat untuk mencari penyelesaian konflik kaum adat dengan ulama atau antar ulama yang berbeda mazhab dan tariqat.

Puncak bukit tertinggi di Kabupaten Tanah Datar berada di puncak Bukit Marapalam, dinamakan Puncak Pato. Nama itu berasal dari istilah fakto atau pakta (puncak untuk membuat perjanjian). Asumsi lain ialah berasal dari kata patongahan (pertengahan) antara kedudukan Tuanku Lintau di Lintau dengan Yang Dipertuan Agung Raja Pagarruyung di Pagarruyung.

Daerah tersebut strategis karena terletak di daerah perbukitan yaitu antara Kecamatan Lintau dengan Kecamatan Sungayang. Kaum Paderi maupun pasukan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) menggunakan wilayah itu sebagai pertahanan gerilya. Daerah tersebut relatif dekat dengan Luhak nan Tigo sehingga mudah memantau musuh jika bergerak dari Nagari Sungayang, Tanjung, Andalas, dan Marabukit untuk menuju Bukit Marapalam. Belanda sendiri pada masa perang Paderi sulit membobol pertahanan kaum Paderi, sehingga Belanda harus mengerahkan sekitar 150 tentara untuk menaklukannya dan merebut daerah tersebut. Daerah itu juga strategis untuk persediaan logistik, karena Lintau dikenal sebagai penghasil beras di Minang. Selain itu daerah tersebut termasuk kekuasaan Tuanku Lintau yang berkedudukan di Tepi Selo Lintau.

Beberapa versi di sini berdasarkan laporan penelitian dan seminar tentang Sumpah Satie Bukik Marapalam (1991). Versi pertama tentang peristiwa kemunculan piagam sumpah satie itu terjadi pada masa Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di tengah-tengah kuatnya pengaruh adat di alam Minang. Hamka (1984) bahwa evolusi perkembangan Islam (secara tersirat ia memperkirakan masa Syekh Burhanuddin) masih berlaku konsensus pertama yaitu “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik”.

Fakta sosial pun membuktikan bahwa ia berhasil mengembangkan aliran Sattariyah di Nagari Andaleh ke pedalaman Minang yaitu ke Marabukit yang berada di kaki Bukit Marapalam.
Azwar Datuk Mangiang pernah mewawancarai Inyiak Canduang (penulis buku “Perdamaian Adat dan Syarak”) pada akhir tahun 1966 di Pekan Kamis Candung. Dalam makalah “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”, Azwar menyatakan peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum revolusi perkembangan Islam di alam Minang oleh Paderi.

Alam Minang terdiri dari rantau dan luhak nan tigo. Rantau Minang mencakup wilayah di luar Luhak nan tigo itu, yaitu rantau timur (Kampar, Siak, Rokan, Asahan, Indragiri, Jambi dan Batang Hari) dan rantau barat di Pantai Barat Sumatera (Natal, Sibolga, Barus, Singkel, Trumon, Tapak Tuan, Meulaboh, Tiku, Pariaman, Indrapura, Muko Muko, Majuto dan Bangkahulu). Luhak nan tigo yaitu Luhak Agam (sekeliling Bukittinggi), Luhak Tanah Datar (selingkar Batu Sangkar) dan Luhak Lima Puluh Kota (sekitar Payakumbuh). Secara geografis ketiga luhak itu relatif berdekatan, terutama antara Luhak Tanah Datar dengan Luhak Lima Puluh Kota.

Sejarah perkembangan Islam di Minang adalah sejarah perkembangan kota-kota dagang di rantau Minang. Awal abad ke-7 M atau abad I Hijriah rantau timur Minangkabau telah menerima dakwah Islam. Bahkan J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan bahwa pada permulaan tahun 674 AD Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab.
Ketika itu Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah menyebarkan agama Hindu ke Nusantara dari abad ke-7 hingga ke-13 M. Masuknya Islam pada masa itu menimbulkan persaingan perdagangan sekaligus pengaruh untuk mengembangkan agama masing-masing. Sebagaimana pernah terjadi persaingan sengit antara angkatan Laut Sriwijaya dengan pedagang Islam di Malaka. Pedagang muslim Arab dan Parsi akhirnya menuju pesisir timur dan barat Sumatera. Kemudian akibat ‘perkawinan politik’ antara saudagar Islam dengan putri kerajaan setempat, maka terbentuklah kerajaan Islam Perlak dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah yang menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni.

Sriwijaya kembali menyerang Perlak namun kemudian dimenangkan oleh Perlak. Setelah itu Perlak dipimpin oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M). Sriwijaya kemudian berhadapan dengan Kerajaan Darma Wangsa di Pulau Jawa, setelah itu dengan Majapahit, dan Majapahit menang sejak tahun 1477 M. Seluruh Pantai Timur Minang jatuh ke tangan Majapahit sampai akhirnya Majapahit lemah setelah raja Hayam Wuruk meninggal. Semenjak itu pula kerajaan Pagarruyung diperintah oleh putera mahkota pertama Majapahit keturunan Kertanegara dan Dara Petak dari Minang, yaitu Adityawarman.
Sementara itu tahun 1400 Malaka dan Samudera Pasai, masing-masingnya menjadi kota dagang dan kerajaan Islam. Pengaruh Islam berkembang sampai ke Pantai Barat Minang. Akan tetapi, dinamika perkembangan dakwah Islamiyah agak lamban di sana, sebab sering terjadi pertentangan mazhab Syiah dengan Sunni di Aceh dan masalah perebutan Selat Malaka.

Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk Islam. Sementara Yang Dipertuan Adityawarman masih memeluk Budha dan Dinastinya berlanjut sampai tahun 1581 M. Kekuasaannya hanya terbatas di sekitar kerajaannya. Bahkan Mochtar Naim dalam karyanya Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984) mengatakan bahwa raja hampir tidak memiliki kekuasaan apa-apa di Minang. Ia hanya sebatas simbol kekuasaan dan lambang persatuan. Terutama setelah Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang meninggal, raja melimpahkan kekuasaannya kepada raja-raja muda yang disebut rajo kaciak (raja kecil) dan (atau) penghulu di rantau. Raja (kingship) berbentuk kuasa tiga serangkai (trium virate), disebut juga Rajo Tigo Selo yang bersemayam di Pagarruyung di Luhak Tanah Datar. Mereka adalah Rajo Alam (sebagai primus inter pares dari ketiga kuasa itu), namun yang lainnya yaitu Rajo Adat dan Rajo Ibadat sesungguhnya berkedudukan dan mempunyai daerah masing-masing di Buo dan di Sumpur Kudus.

Kekuasaan tiga serangkai itu diperkuat oleh dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai. Sistem tersebut dicontoh dari Kerajaan Majapahit yang pernah dipimpin hanya oleh Patih Gdjah Mada sendiri. Mereka adalah Bandaharo dari Sungai Tarab, Tuan Kadi dari Padang Ganting, Mangkudum dari Suruaso dan Indomo dari Sumanik. Kuasa mereka diperkuat pula oleh Tuan Gadang dari Batipuh untuk urusan pertahanan. Sebelum kerajaan Pagaruyung diruntuhkan Belanda, dalam tahun 1821 Sultan Begagar Alamsyah telah mempermaklumkan kepada seluruh rakyat di Minangkabau untuk angkat senjata, perang melawan penjajah Sejak itu perang Paderi telah berubah bentuk menjadi perang Minangkabau. Sesungguhnya kesepakatan antara kaum adat dan kaum agama sudah terlaksana, sebagai realisasi dari piagam Bukik Marapalam dan Kesepakatan Tandikat.

Jauh sebelum perang Paderi, pernah tercatat tahun 1411 M raja Pagarruyung keempat Dewang Pandan Sutowono (Raja-raja Pagarruyung yaitu Adityawarman, Anggawarman_anaknya, Dewang Duato Doewano_keponakan pertama, Dewang Pandan Sutowono_keponakan kedua) dan permaisurinya sudah memeluk Islam dan mereka berguru kepada Tuanku Syekh Magribi atau dikenal juga Syekh Ibrahi (Maulana Malik Ibrahim).

Pada masa itu telah terjadi penyesuaian antara Islam dengan adat setempat. Sebagaimana yang disebutkan L.C. Westenenk dalam karangannya Opstellen over Minangkabau bahwa masa adaik mananti, syarak mandaki telah ada upacara ritual pada dua buah batu di Pincuran Tujuh di Batang Sinamar, Kumanih. “Batu Palimauan” tempat Rajo Ibadat disucikan dengan limau (jeruk) sebelum mengucapkan kalimat Syahadat dan “Batu Pa-Islaman” tempat Syekh Ibrahi melakukan khitanan kepada mereka. Namun kegiatan yang erat dengan budaya Hindu-Budha masih akrab dalam masyarakat Minang kala itu.

Kemudian datanglah Syekh Burhanuddin yang bernama asli Pono. Ia berguru kepada Syekh Abdurrauf di Aceh. Ia berdakwah ke Minang dengan membuka sekolah agama seperti di Ulakan Pariaman dan di Kapeh Kapeh Pandai Sikek Padangpanjang yang ramai dikunjungi oleh murid dari Luhak nan Tigo. Ia juga berusaha memurnikan ajaran Islam dari pengaruh budaya Hindu-Budha seperti minum tuak, menyabung ayam atau berkaul ke tempat keramat. Istana Pagarruyung juga menjadi sasarannya dan ia berhasil. Keberhasilan itu membuat dia dikenal sebagai ulama besar di Minang.

Masa itu sempat terjadi perbedaan pendapat antara penghulu sendiri, dan di antara yang tidak setuju itu kemudian menentang ulama. Namun kesepakatan damai tercipta antara para Penghulu, Tuanku dan Alim Ulama Minang. Kesepakatan itu bertujuan untuk saling mengakui eksistensi ulama dengan penghulu, sehingga ulama bukan bawahan Penghulu seperti panungkek, manti dan dubalang,

Para kaum adat dan ulama yaitu Syekh Burhanuddin sebagai penggagas piagam sumpah satie tersebut dengan dua muridnya (salah satu muridnya Idris Majolelo) bersama penghulu Ulakan menemui Yang Dipertan Agung Pagarruyung. Seterusnya mereka bersama Rajo nan Tigo Selo dan Basa Ampek Balai melakukan upacara pemotongan kerbau. Mereka memakan dagingnya, dikacau (menebarkan) darahnya, ditanam tanduknya, dilacak pinang dan ditapung batu, ‘diikat’ dengan Al Fatihah, dikarang sumpah jo satie, siapa yang melanggar akan dimakan biso kawi di atas dunia, dimakan kutuk Kalammu`llah pada akhirat dan disudahi dengan doa selamat.

Semenjak itu muncul beberapa pepatah petitih, yaitu syarak mandaki, adaik manurun; syarak lazim, adaik kawi; syarak babuhue mati, adaik babuhue sintak; syarak balindueng, adaik bapaneh; syarak mangato, adaik mamakai; syarak batilanjang, adaik basisampieng (___).
Semenjak Aceh di bawah Sultanat Tajul Alam Shafiathuddin Syah menguasai Pantai Barat Sumatera dari tahun 1641-1675 M, Sultan nan Salapan dari Pagarruyung diperintahkan turun ke Aceh, Bantam, Palembang, Jambi, Indragiri, Siak, Rokan, Sungai Pagu, Indrapura, dan Pariaman untuk menjadi raja dan berdakwah. Mereka juga yang menyampaikan buek parbuatan (piagam sumpah satie Bukik Marapalam) kepada masyarakat di alam Minang. Kepergian Sultan nan Salapan dilepas oleh rajo-rajo (raja-raja), manti-manti, Basa Ampek Balai, penghulu-penghulu, tuanku-tuanku dan para hulubalang yang diundang dari Luhak nan Tigo. Mereka yang diundang sekaligus ditugaskan menyebarkan piagam sumpah satie itu. Ketika itu Pagarruyung telah diperintah oleh Sultan Ahmadsyah gelar Tuanku Rajo nan Sati yang dilewakan dengan gelar tambahan yaitu Raja Alif. Dialah raja Pagarruyung yang pertama bertugas menyebarluaskan piagam sumpah satie tersebut.

Versi kedua yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa awal gerakan/perang Paderi. Gerakan Paderi yang diilhami oleh kebangkitan Islam oleh kaum Wahabi di Tanah Suci, Arab Timur. Paham Wahabi berkembang sampai ke Minang secara radikal dan pendukungnya hendak mengembalikan kemurnian Islam secara revolusi. Mereka disebut kaum Paderi yaitu orang dari kota pelabuhan di Pidie, Aceh.

Daerah pertahanan yang strategis bagi kaum Paderi adalah puncak Bukit Marapalam. Namun mereka khawatir korban bertambah di kalangan masyarakat. Kaum Paderi menggagas perjanjian dengan kaum adat. Datuk Bandaro berinisiatif menemui Datuk Samik untuk menyetujuinya. Kesepakatan mereka dilaporkan kepada Datuk Surirajo Maharajo di Pariangan. Mereka berhasil mengeluarkan Piagam sumpah satie Bukik Marapalam yaitu ABSSBK.

Versi ketiga yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa awal perang Paderi sekitar tahun 1803-1819. Kedua pihak yang berperang sama-sama kuat. Namun kaum Paderi sering melakukan serangan mendadak ke nagari-nagari. Benteng pertahanan mereka sekitar jalan bukit Marapalam ke Lintau diparit tinggi dan melingkar. Kaum adat melirik bangsa Eropa (Belanda) untuk mendapatkan dukungan sehingga terjadi perang Paderi. Korban berjatuhan diketiga pihak yang berkepentingan. Melihat kejadian itu yang lebih menguntungkan Belanda, maka muncul kesadaran beberapa kaum adat untuk berdamai dengan ulama Paderi dan bersatu melawan Belanda. Tersebutlah Datuk Bandaro wakil golongan adat dan Tuanku Lintau sebagai tokoh yang memprakarsai perjanjian itu di Bukit Marapalam. Fakta sosial membuktikan bahwa Tuanku Lintau yang mengkonsep, mengatur, dan menjalankan ABSSBK.

Versi keempat yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa vacum perang Paderi. Kaum Paderi menganggap kaum adat dan Belanda sebagai kafir yang harus diperangi. Strategi Belanda yaitu mengalihkan pasukannya menghadapi Perang Diponegoro di Jawa, sementara Belanda pura-pura berdamai dengan kaum Paderi, namun antara ulama dengan kaum adat belum juga berdamai. Melihat strategi Belanda maka kaum Paderi juga melakukan rekonsiliasi dengan kaum adat untuk menambah kekuatan dengan sebuah perjanjian. Pelopor dari kaum adat yaitu Datuk Bandaro dan dari Paderi (sekaligus yang mampu menanamkan ajaran Islam kepada mereka) adalah Tuanku Lintau. Pertentangan mulai reja semenjak perjanjian itu, namun pertentangan masih terasa antara para datuk dari Nagari Saruaso dan Batipuh.

Versi kelima yaitu Piagam sumpah satie Bukik Marapalam masa Perang Paderi II. Strategi perang Belanda berhasil, terbukti dengan kekalahan Diponegoro dan kemudian jatuhnya benteng pertahanan Paderi Lintau di puncak Bukit Marapalam bulan Agustus 1831. Berturut-turut jatuhlah ke tangan Belanda benteng di Talawi, Bukit Kamang dan kekuatan Tuanku Nan Renceh. Semua Paderi di Agam jatuh ke tangan Belanda akhir Juni 1832. Mereka telah terlanjur diadu domba oleh Belanda dengan adanya konflik agama dan adat. Namun sebelum Bukik Marapalam jatuh ke tangan Belanda, antara kaum adat dan agama telah berunding yang menghasilkan piagam sumpah satie tersebut. Kembali disebut-sebut Tuanku Lintau sebagai pemerakarsanya.

Versi keenam yaitu Piagam sumpah satie Bukik Marapalam pada akhir perang Paderi. Setelah kekalahan Paderi Belanda bisa menguasai Minang. Belanda mulai merubah tatanan sosial masyarakat. Mereka mengangkat Penghulu Bersurat untuk kepentingan administrasi dan untuk urusan pemungutan pajak. Nagari-nagari yang otonom di Minang mereka jadikan bagian wilayah Administratif Pemerintahan Hindia Belanda. Namun kekhawatiran masyarakat Minang terhadap Belanda yang utama adalah pandangan bahwa mereka orang kafir, sehingga ada kecemasan terjadinya perubahan struktur sosial dan nilai-nilai agama dalam masyarakat. Upaya mengantisipasi hal itu adalah memperkuat persatuan kaum adat dan ulama dengan mencetuskan piagam sumpah satie tersebut.

Keenam versi tersebut terdapat kelemahan dan memperkuat keyakinan tentang peristiwa di Bukit Marapalam itu. Ketidakjelasan informasi tentang peristiwa Piagam sumpah satie Bukit Marapalam telah menggagalkan rencana Pemerintah Daerah Sumatera Barat membangun tugu Sumpah Satie Marapalam di daerah tersebut.

ADAT BASANDI SYARAK
Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minang memanfaatkan alam sebagai sumber ajarannya. Mereka menggali nilai-nilai yang diberikan alam. Ini diungkapkan dalam filsafat orang Minangkabau alam takambang jadi guru.

Ketika agama Islam masuk, adat di Minangkabau secara hakikinya tidak bertentangan dengan ajaran syarak dalam agama Islam, karena alam yang telah dijadikan pedoman hidup masyarakat Minangkabau adalah ciptaan Allah semata. Itulah sebabnya ketika Islam masuk langsung diterima oleh orang Minangkabau. Maka, kalaupun dalam sejarah, timbulnya Perang Paderi tidak semata karena disebabkan pertentangan kaum adat dan kaum agama (Islam), akan tetapi karena pemurnian ajaran syarak di dalam pelaksanaan adat semata, sebagai akibat dari amar makruf nahi munkar. Akan tetapi pemerintahan kolonial Belanda, memakai peristiwa ini sebagai alat politik adu domba.

Namun pada tahun 1811 penguasa adat di Minangkabau, yakni Sultan Begagarsyah mempermaklumkan perang bahu membahu antara seluruh masyarakat anak nagari di Minangkabau, melawan pemerintahan kolonial Belanda. Kaum adat dan kaum agama menyatukan pendapat dalam pertemuan pangulu tigo luhak beserta para ulamanya. Pertemuan ini melahirkan Piagam Bukik Marapalam yang menegaskan bahwa antara adat dan Islam tidak bertentangan.

Adat bapaneh, syarak balinduang.
Syarak mangato, adat mamakai.

Adat bapaneh, syarak balinduang maksudnya adat bagaikan tubuh, agama sebagai jiwa. Antara tubuh dan jiwa tidak bisa dipisahkan. Syarak mangato, adat mamakai maksudnya syarak memberikan hukum dan syariat, adat mengamalkan apa yang difatwakan agama. Kesimpulan piagam ini lazim disebut adat jo syarak sanda-manyanda, kemudian lebih dikenal lagi dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dewasa ini wilayah Minangkabau secara administratif mencakup Sumatera Barat, kecuali Kepulauan Mentawai, dan pemerintah telah memberlakukan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2000 di Sumatera Barat tentang anti maksiat untuk menggalakkan program ABSSBK. Akan tetapi, slogan dan Perda tersebut medapat tanggapan dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan non muslim di Sumatera Barat.

SUMPAH SATIE (= JANJI SETIA) BUKIK MARAPALAM

Sulit mencari bukti tertulis, kepastian waktu, tempat, siapa pelaku utama peristiwa, dan pencetus ide piagam sumpah satie (sumpah sakti) Bukik Marapalam, yang diyakini oleh masyarakat Minang telah disepakati oleh para pemuka adat dan ulama, di puncak bukit Marapalam, semasa perkembangan Islam di Minangkabau. Konsensus itu di dasari sifat egaliter masyarakat Minang, yang yakin piagam itu berisi sumpah satie (janji setia) antara kaum adat dan ulama, yang menyatakan “adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (adat bersendi syari’at Islam, Islam bersendi Kitabullah, yakni Al Quran).

Ada beberapa pendapat, tentang waktu terjadinya Sumpah Satie Bukik Marapalam, di antaranya menyebutkan di masa awal gerakan Paderi (1803-1809), terkait tempat strategis, di puncak Bukit Marapalam. Gagasan maksud piagam diadakan, menghindari banyak korban yang akan jatuh antara kelompok yang bertikai. Dari kalangan ulama zuama disebut penggagasnta Tuanku Lintau, dan kaum adat atas inisiatif Datuk Bandaro, yang mendatangi Datuk Samik, dan di sampaikan kepada Datuk Surirajo Maharajo di Pariangan. Akhirnya antara kaum adat dan ulama zuama menyepakarti satu piagam, Sumpah Satie Bukik Marapalam yaitu “adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.

Kesepakatan ini, tidak didapat kepastian tahun terjadinya. Yang terlihat hanya peranan Tuanku Lintau dan Datuk Bandaro, keduanya pengikut gerakan Paderi. Ketika keduanya dianggap sebagai penggagas, mengatur pertemuan, dan mengeluarkan piagam sumpah satie “adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, namun masih juga tidak diketahui pasti kapan tanggal, bulan, dan tahun terjadinya. Akan tetapi, sejak piagam itu ada, ketegangan antara kaum adat dan para ulama zuama mulai mereda, walau masih terasa ada pertentangan para datuk dari Nagari Saruaso dan Batipuh.

Di samping itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam ada di masa Perang Paderi II, ketika Belanda kembali memerangi kaum Paderi setelah Belanda dapat memadamkan Perang Diponegoro.

Gerakan Paderi dilanjutkan oleh Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Ladang Laweh dan Tuanku Imam Bonjol yang berujung dengan perlawaanan terhadap penjajahan Belanda, atau Perang Paderi (1821-1837).

Dalam Perang Paderi ini, pihak Belanda berhasil memecah kekuatan bangsa di Minangkabau. Pihak kolonial memakai politik adu domba, antara kaum adat dan agama, yang saling curiga, sehingga kekuatan melemah. Akhirnya, Belanda dapat merebut benteng pertahanan Paderi di puncak Bukit Marapalam, di Lintau, Agustus 1831, dan kemudian berturut-turut menguasai banteng Paderi di Talawi, Bukit Kamang, dan kekuatan Tuanku Nan Renceh di obrak-abrik, sehingga membawa kekalahan bagi kaum Paderi di Agam, akhir Juni 1832..

Perang Paderi (1821-1837) menyadarkan masyarakat Minang dan sekitarnya, bahwa pihak Belanda berhasil menampilkan konflik antara kalangan ulama zuama, dengan kaum adat, yang berakibat melemahnya kekuatan bangsa di Minangkabau. Namun sebelum Bukik Marapalam jatuh ke tangan Belanda, antara kaum adat dan agama telah berunding membuat sumpah satie, melahirkan piagam Marapalam yang menyepakati adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di ranah Minang. Dalam peristiwa ini, nama Tuanku Lintau kembali disebut sebagai pemerakarsa.
Ada pula pendapat, bahwa sumpah satie Bukik Marapalam terjadi di akhir perang Paderi. Setelah Paderi kalah dari tentara Belanda. Pihak colonial Belanda merubah tatanan sosial masyarakat adat Minang dengan mengangkat Penghulu Bersurat (besluit), guna lebih mudah urusan memungut pajak untuk kepentingan kolonial. Nagari-nagari yang tadi otonomi di Minangkabau, tunduk ke wilayah Administratif Pemerintahan Hindia Belanda.

Kekhawatiran masyarakat Minang terhadap bangsa Belanda penjajah yang kafir, dengan berubahnya struktur pemangku adat diberi besluit, akan berakibat menjauhkan masyarakat Minangkabau dari nilai-nilai adat dan agama Islam yang dianut mereka. Sebagai upaya menguatkan kembali jalinan persatuan kaum adat dan ulama zuama di dalam kesatuan masyarakat adat Minangkabau, menyebabkan lahir piagam sumpah satie Bukik Marapalam ini. Namun, tanggal kejadian belum juga pasti.

Ketiadapastian tanggal peristiwa ini, memberi peluang besar melakukan penelitian sejarah, serta nilai-nilai yang dikandung dalam setiap peristiwa di dalam gerakan Paderi, juga tentang hubungan antara variabel adat dan agama (syarak), yang serta merta berkembang untuk kasus-kasus di luar dan dalam masyarakat Minang sepanjang waktu. Di samping itu, ada pula pendapat yang menyatakan tentang peristiwa munculnya sumpah satie ini, semasa Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di tengah kuatnya pengaruh adat di alam Minangkabau. Pengembangan Islam secara bersahabat (evolusi) menyiratkan gerakan dakwah Syekh Burhanuddin, telah ada kesepakatan (consensus) di tengah masyarakat, yaitu “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik”. Kenyataan social di tengah kehidupan masyarakat Minang di nagari, membuktikan bahwa aliran Syattariyah, yang berkaitan erat dengan Syekh Burhanuddin, telah berkembang sampai ke pedalaman Minang, di Nagari Andaleh, yaitu Marabukit, yang ada di kaki Bukit Marapalam.
Sungguhpun begitu, Azwar Datuk Mangiang pernah mewawancarai Inyiak Canduang, penulis buku “Perdamaian Adat dan Syarak”, di akhir tahun 1966, di Pekan Kamis, Candung, dan menuliskan dalam makalahnya “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”, bahwa peristiwa sumpah satie itu telah terjadi sekitar tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum gerakan Paderi berkembang di alam Minangkabau.

SARI PATI SUMPAH SATIE BUKIT MARAPALAM
(MENURUT CATATAN INYIAK CANDUANG)

Agama Islam mula-mula datang ke Minangkabau dengan melalui daerah Pesisir (rantau), disambut dengan tangan terbuka oleh Penghulu-Penghulu dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo.
Sesudah Islam berkembang di Alam Minangkabau terjadilah perselisihan antara Kaum Adat dengan Alim Ulama, disebabkan ada sebagian dari pamaianan kaum adat yang tidak disetujui oleh Alim Ulama seperti basalung barabab, manyabung, bajudi, badusun bagalanggang, basorak basorai dan lain-lain. Dan sebagian apa yang diharuskan oleh agama tidak dapat dibenarkan menurut adat seperti perkawinan sepasukuan.

Untuk memelihara persatuan dalam nagari, diusahakan oleh orang pandai-pandai dan terkemuka mencari air nan janih sayak nan landai guna terwujudnya perdamaian antara Penghulu dan Alim Ulama. Nan di atas ke bawah-bawah nan di bawah ke atas-atas, masing-masing surut salangkah. Kaum adat meninggalkan pamainan yang bertentangan dengan agama seperti manyabung, berjudi dan sebagainya.

Dan Alim Ulama membenarkan pula ketentuan adat yang tidak berlawanan dengan agama seperti melarang perkawinan sepasukuan dan lain-lain, sehingga dapatlah kata sepakat: “Bulat boleh digolongkan picak boleh dilayangkan”.

Buat mengikrarkan dan ma-ambalaui kebulatan itu, diadakanlah pertemuan besar di atas Bukit Marapalam (antara Lintau dan Tanjung Sungayang) yang dihadiri oleh Penghulu-Penghulu dan Alim Ulama serta orang-orang terkemuka dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo. Dibantai kerbau, dagingnya dilapah darahnya dikacau, tanduk ditanamkan, ditapung batu dilicak pinang, diikat dengan Alfatihah dan dibacakan doa selamat. Dalam pertemuan besar itulah diikrarkan bersama-sama dan menjunjung tinggi kebulatan yang telah dibuat oleh orang-orang pandai dan para terkemuka, yaitu:
1. Penghulu rajo dalam nagari, kato badanga, pangaja baturuik, manjua jauh manggantung tinggi.
2. Alim Ulama suluh bendang dalam nagari, air nan janih sayak nan lancar tempat batanyo di Panghulu.

Dalam pelaksanaannya, Alim Ulama memfatwakan dan Panghulu mamarintahkan.

Di sinan ditanamlah Rajo Adat di Buo dan Rajo ibadat di Sumpur Kudus.
Dikarang sumpah jo satie, yaitu: “Siapa yang melanggar kebulatan ini dimakan biso kewi di atas dunia , ke atas indak bapucuk, ke bawah indak baurat, di tangah dilarik kumbang, di akhirat dimakan kutuk kalam Allah.”

Di sinan ditetapkan pepatah adat nan berbunyi: “Adat bapaneh syarak balindung”, artinya: “Adat adalah tubuh dan syarak adalah jiwa di Alam Minangkabau”. Dan pepatah adat nan berbunyi: “Syarak mangato adat mamakai”.

Itulah sari pati sumpah satie (Piagam) Bukit Marapalam nan kita terima turun temurun sampai kini. Dan hambo terima dahulunya dari tiga orang tuo, yaitu:
1. Tuangku Lareh Kapau nan Tuo (sebelum Tuangku Lareh yang terakhir).
2. Ninik dari mintuo hambo di Ampang Gadang.
3. Angku Candung nan Tuo.

Bukti-bukti yang bersua dalam pelaksanaan, yang bahasa Penghulu memerintahkan menjalankan fatwa Ulama seperti berzakat, berpuasa, bersunat rasul dan sebagainya, yang sulit dapat dikerjakan kalau tidak diiringi fatwa Ulama itu dengan perintah Penghulu sebagai rajo dalam nagari.

Pada akhir abad ke-sembilan belas dan lai hambo dapati bahwa sesuatu perkara yang terjadi dalam nagari dihukum oleh Penghulu. Sebelum Penghulu menjatuhkan hukuman malamnya mendatangi Ulama yang dinamakan waktu itu dengan “Bamuti” (mungkin asalnya bermufti) untuk minta nasihat dan bermusyawarah tentang hukum yang akan dijatuhkan (waktu itu tempat “bamuti” adalah Angku Candung nan basurau di Baruhbalai). Dan begitu juga ditiap nagari di Minangkabau sampai ada peraturan baru oleh Belanda yang perkara diadili oleh Tuangku Lareh, kemudian Magistraad dan kemudian sekali Landraad.

Kaum penjajah (Belanda) sangat kuatir kepada persatuan adat dan agama. Maka diusahakannya memecahkan dengan mendekati Penghulu dan menjauhi Alim Ulama.

Tambo-tambo adat yang dipinjam, katanya untuk dipelajari, tetapi sebenarnya untuk dihabiskan, guna mengaburkan sejarah yang sebenarnya, termasuk sejarah Bukit Marapalam ini.
Demikianlah hambo wasiatkan untuk dipedomani oleh anak cucu hambo kemudian hari di Candung khususnya dan di Minangkabau umumnya, karena sudah terdengar orang-orang yang hendak mencoba memisahkan antara adat dan agama di Minangkabau.
Wabilahitaufieq.

Candung, 7 Juni 1964 / 26 Muharram 1384
Dto
Syekh Suleiman Ar Rasuly

DAFTAR BACAAN DAN SUMBER INFORMASI
1. AA. Navis. “Bukit Marapalam”. Padang: Universitas Andalas, 1991.
2. Andi Asoka. “Sumpah Satie Bukit Marapalam, Antara Mitos dan Realitas” (merupakan bab IV dari laporan Penelitian “Sejarah Perpaduan Antara Adat dan Syarak di Sumatera Barat, kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Pemda Tingkat I Sumatera Barat, 1991).
3. Andi Asoka, Zulqaiyim, Sabar. “Stratifikasi Sosial Minangkabau Pra Kolonial”. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas, 1991/1992.
4. Azwar Datuk Mangiang. “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”. Makalah Seminar. Arsip pribadi tertanggal 16 Juli 1991.
5. Christine Dobbin. Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847. Jakarta: INIS, 1992.
6. Damsar. “Implementasi Kritis Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah di Tengah Masyarakat Majemuk di Sumatera Barat: Suatu Tinjauan Sosiologis”.
7. Hamka. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
8. H.B.M. Letter. “Proses Bersenyawanya Adat dan Syarak di Minangkabau”. Padang, Universitas Andalas, 1991.
9. Mochtar Naim. Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1984.
10. Muhammad Radjab. Sistem Kekerabatan di Minangkabau. Padang: Center for Minangkabau Studies Press, 1969.
11. Ratno Lukito. Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia. Jakarta: INIS, 1998.
12. Syafnir Abunain. ”Sumpah Satie di Bukit Marapalam, Perpaduan Antara Adat dengan Syarak”. Padang: Universitas Andalas, 1991.
13. Syaifullah SA.”Implementasi Kritis Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah di Tengah Masyarakat Majemuk di Sumatera Barat (Tinjauan Sosial Budaya)”.
14. Makalah Seminar dan Lokakarya Agama dan Civil Society oleh PUSAKA Padang tanggal 21 Juni 2003.
15. Zaiyardam Zubir. “Sumpah Satie Bukit Marapalam: Tinjauan Terhadap Pengetahuan Sejarah Masyarakat”, Makalah pada Seminar Sehari Sumpah Satie Bukit Marapalam dan Perpaduan Adat dengan Agama di Minangkabau. Padang: Universitas Andalas, 31 Juli 1991.

Iklan

Memahami Hukum Adat Bersendi Syari’at

MEMAHAMI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH
DALAM RENTANGAN SEJARAH MASA DOELOE DAN SEKARANG
DINAMIKA PERILAKU GENERASI MUDA MINANGKABAU

Oleh :
H. Mas’oed Abidin

MUKADDIMAH

Membina perilaku beradat di dunia Melayu, khususnya Minangkabau sudah menjadi kerja utama sepanjang masa. Dalam rentang sejarah yang panjang sudah tampak penyiapan sarana surau dan lembaga pendidikan anak negeri di dalam kaum, dusun, taratak dan nagari. Masyarakat Melayu dan Minang hidup dalam syariat agama Islam. Membangun tatanan kekerabatan adapt resam, dengan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Pepatah adat menyebutkan,

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek,
Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek,

Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,
Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

Alangkah indahnya satu masyarakat yang memiliki adapt resam yang kokoh dan agama (syarak) yang kuat. Tidak bertentangan satu dan lainnya. Malahan yang satu bersendikan yang lainnya.

Dalam hidup mengamalkan “kokgadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik baimbauan, tibo di kaba buruak ba hambauan”.

Alangkah indahnya masyarakat yang hidup dalam rahmat kekeluargaan dan kekerabatan, dengan benteng aqidah yang kuat. Berusaha baik di dunia fana dan membawa amal shaleh kealam baqa.

Lebuh nan ramai terbentang panjang. Tepian mandi terberai (terserak dan terdapat) di mana-mana.
Gelanggang muda-mudi tempat sang juara yang punya keahlian berlomba prestasi, menguji ketangkasan secara sportif, berdasar pada adat main “kalah menang” (rules of game).
Masyarakatnya hidup aman dan makmur, dengan anugerah alam dan minat seni yang indah. Begitu salah satu bentuk masyarakat beradat masa doeloe.

“Rumah gadang basandi batu, atok ijuak dindiang ba ukie, cando bintangnyo bakilatan, tunggak gaharu lantai candano, taralinyo gadiang balariak, bubungan burak katabang, paran gambaran ula ngiang, bagaluik rupo ukie Cino, batatah dengan aie ameh, salo manyalo aie perak, tuturan kuro bajuntai, anjuang batingkek ba alun-alun, paranginan puti di sinan. ….
Artinya,Rumah gedang bersandi batu, atap ijuk dinding berukir, bagai bintang berkilauan. Tunggak gaharu lantai Cendana, teralinya gading berlarik, bubungan atap burak kan terbang, paran gambaran ular Ngiang, bergelut rupa ukiran Cina, bertatah dengan air emas, sela menyela air perak, tuturan atap kura berjuntai, anjungan bertingkat alun beralun, peranginan puan putrid di sanan….. Seni rancang yang elok.

Lumbuang baririk di halaman, rangkiang tujuah sa jaja, sabuah si Bayau-bayau, panenggang anak dagang lalu, sabuah si Tinjau Lauik, panengggang anak korong kampuang, birawari lumbuang nan banyak, makanan anak kamanakan”.
~ Lumbung berleret di halaman,Rangkiang tujuh sejajar, sebuah si Bayau-bayau, penenggang anak dagang lalu, sebauh lagi Si Tinjau laut, penenggang anak korong kampong, birawati lumbung nan banyak, makanan anak kemenakan”…. Tanda kemakmuran tumbuh menjadi.

Artinya, ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, kemakmuran dan keyakinan agama. Menjadi dasar rancang bangun berkualitas. Punya asas social, cita-cita keperibadian. Masyarakat tumbuh dengan idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi, tapi memperhatikan pula musafir, anak dagang lalu.

Dan perilaku anak kemenakan di korong kampung, “nan elok di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”, maknanya sangat selektif dan moderat. Yang baik di pakai, yang buruk di buang jauh, yang usang diperbaharui.

Nilai-nilai budaya ini mesti ditanamkan kembali dalam satu gerakan besar re-planting values yang menjadikan jiwa maju dengan akal fakir sehat dan ruh hidup dengan hati dan emosi terkendali pada raso jo pareso.

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)

Nilai budaya luhur ini mesti di turunkan (transformasi) kedalam kehidupan nyata jadi pengamalan keseharian generasi dunia Melayu dan Minangkabau. Kitabullah yakni Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)” dengan aqidah tauhid.

Di dalam masyarakat Melayu dan Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit KEBERSAMAAN (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito” ….,

Diperkuat dengan KETERPADUAN (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang), dan “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang” …,

Menjaga tangga MUSYAWARAH (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”….,

Menjadi pengikat spirit adalah SIKAP CINTA AKAN NEGERI, di rekat oleh pengalaman sejarah , melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan syarak (agama Islam), yakni mandiri dengan self help, membantu dengan ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan saling bekerjasama membantu satu sama lain (mutual help)….,

Menjadi alas dasar membentuk masyarakat MADANI YANG MANDIRI dalam bimbingan AGAMA ISLAM (syarak).

Tanggung jawab masyarakat adat menjaga ketaatan memelihara keteraturan sebagai ciri utama masyarakat bersyukur, menurut aturan dan undang-undang.

“Nan babarih babalabeh, nan ba-ukua nan ba jangko,
Mamahek manuju barih, Tantang bana lubang katabuak.
Tantang rasuak manjariau, Tantang lahe latak atok,
Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai,
Tantang bana buah ka rareh. Kok manggayuang iyo bana putuih,
Kok ma-umban iyo bana rareh.”

Artinya, sudah menurut baris dan belebas, menurut aturan yang berlaku, yang berukur berjangka, memahat menuju baris, setentang rasuak menjeriau, setentang lahe letak atap, menebang menuju pangkal, melanting menuju tangkai, bila mencencang benar-benar putus, bila mengumban benar jatuh. Setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai.

Dengan mendalami ilmu, lahirlah rasa takwa kepada Allah dan menjauhi rasa takabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain. Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.

MENYIKAPI PERUBAHAN ZAMAN
Perubahan zaman hanya satu keniscayaan belaka. “inna al-zamaan qad istadara“. Zaman senantiasa berubah, musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan, tidak dapat dibendung membawa riak infiltrasi kebudayaan luar yang dapat mengguyahkan pagar-pagar budaya anak nagari, yang kurang kuat tertanam pada akar nilai-nilai adat leluhurnya.
Ada gejala memisah hidup serba kebendaan dengan hari esok – kehidupan akhirat –.

Padahal, keyakinan pada hari akhir menjadi penguat pagar norma adat di dunia Melayu dan Minangkabau. Seperti tertera dalam fatwa adat,

“ingek-ingek nan ka pai, agak-agak nan ka tingga, ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, dari awa akie mambayang”.

Akibat nyata dari hilangnya kepercayaan kepada hari esok itu, berkecambah pula paham sekularistik yang menjadikan rapuhnya olah rasa anak nagari. Pergeseran ini berdampak kepada perkembangan norma dan adat istiadat di nagari. Perilaku berebut prestise berbalut materi lebih diminati daripada menampilkan prestasi yang dinikmati orang banyak.

Akibat lebih jauh idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan. Nilai-nilai kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Kekerabatan dalam budaya dan adat Minangkabau dirasakan mulai terancam.

إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ النَّدَامَةُ رواه الديلمى عن أنس
Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu. Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)

Generasi muda mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat resam tidak mungkin lenyap. Manakala orang Melayu dan Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.

“Kayu pulai di Koto alam, batangnyo sandi ba sandi,
Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”

Secara alamiah (natuurwet) adat akan selalu ada. Patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis) mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong, sesuai alam takambang jadi guru. Menangkap perubahan yang terjadi lebih komprehensif dengan kaedah, “sakali aie gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa”.

Perubahan tidak mesti mengganti sifat adat resam. Penampilan di alam nyata mengikut zaman dan waktu. Alam dipakai usang sedangkan adat dipakai tetap baru. Perilaku beradat di tuntun kearifan lokal menggambarkan bahwa “kalau di balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.

Keistimewaan adat resam ada pada falsafah mencakup isi yang luas. Ibarat bijo tampang manakala di tanam, di pelihara tumbuh dengan baik. Bagian-bagiannya (urat, batang, kulit, ranting, dahan, pucuk, buah) akan melahirkan bijo-bijo baru (regenerasi) sesuai bibit yang menjadi satu kesatuan ketika terletak pada tempat dan waktu yang tepat.

Perputaran harmonis dalam “patah tumbuh hilang berganti”, menjadi sempurna dalam “adat di pakai baru, kain dipakai usang”. Maknanya adat resam tidak mesti mengalah kepada yang tidak sejalan. Adat resam yang kuat, dapat menyaring apa yang tengah berlalu. Umumnya yang datang akan menyesuaikan pada adat resam yang ada.

Adat resam adalah aturan satu suku bangsa. Jadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai. Setiap anak bangsa dalam satu rumpun budaya punya tanggungjawab kuat menjaga adat resamnya. Secara turun temurun, sambung bersambung, setiap diri dan kelompok masyarakat adat akan menjadi pengawal bagi lahirnya generasi mendatang dalam tata adat istiadatnya.

Generasi Melayu mesti mengamalkan saling menghormati adanya perbedaan, dan saling menghargai. Mengutamakan hidup seimbang. Sadar luasnya bumi Allah. Rajin mencari dengan modal tulang lapan karek, artinya berusaha mandiri. Selalu bertawakkal kepada Allah SWT. Tidak boros serta sadar akan ruang dan waktu, dima bumi di pijak, di situ langik di jujuang, di sinan adaik ba pakai.

Generasi Minang/Melayu mesti berbudi luhur – ber-akhlaq al karimah – dalam bertindak dan berbuat. Meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, dengan beriman dan bersilaturahim (interaksi). Kaedah syarak Islami memberi motivasi dan mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah).

Di Minangkabau dalam rentang sejarah masa lalu mendorong kepada beramal inovatif sarat dinamika dan kreativitas. Adalah satu kenyataan belaka, bila anak nagari yang di rantau tersebar diseluruh belahan dunia. Jumlahnya lebih banyak dari yang di kampong halaman. Di wilayah Jadebotabek saja lebih kurang mencapai 4,3 juta jiwa. Dan para perantau Minang tersebar dimana-mana. Budaya merantau adalah kekuatan budaya yang potensial, bila dapat digali menjadi kekuatan riil. Kaedah hidup di Ranah Minang mengisyaratkan;

”Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.”

Artinya, Hendak kaya berdikit-dikit (berhemat), hendak tuah bertabur urai, hendak mulia tepati janji, hendak lurus rentangkan tali, hendak beroleh (mempunyai sesuatu kekayaan) kuat mencari, hendak nama tinggalkan jasa, hendak pandai rajin belajar).

Dari nilai adat basandi syarak tampak perlu ada cermat dan teguh hati pada sebarang langkah dan perbuatan, Di hawai sa habih raso, Di karuak sa habih gauang, artinya diperiksa sehabis rasa, di jangkau sehabis gaung, untuk menghindari adanya penyesalan. Berpikir sebelum bertindak. Disana terletak kedewasaan memimpin satu keluarga, ataupun negeri. Mancancang ba landasan, Ma lompek ba situmpu ( = mencencang berlandasan, melompat bersitumpu). Artinya setiap langkah mesti mempunyai alasan yang tepat, jelas dan dapat di pertanggung jawabkan. Seorang tidak boleh bertindak semena-mena. Setiap keputusan yang diambil, untuk kepentingan semua.

Asas falsafah adat Minangkabau adalah sehina semalu. Dasar adat itu bersama. Cara berusaha adalah bersama. Tujuan di raih adalah bersama.
Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi muda Melayu dan Minangkabau di Sumatra Barat selalu awas dan hati-hati. Berkata dan berbuat sangat hati2, sesuai fatwa ciri menyebutkan,

“Bakato sapatah dipikiri,
Bajalan salangkah maliek suruik,
Mulik tadorong ameh timbangannyo,
Kaki tataruang inai padahannya,
Urang pandorong gadang kanai,
Urang pandareh ilang aka.”

Menghadapi cabaran kesejagatan dalam tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti memiliki sikap istiqamah (konsistensi) yang dalam fatwa adat disebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat,
Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari.
Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai,
Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai.
Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki,
Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

Peran utama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) tampak dalam membentuk karakter (character building) anak nagari. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Generasi Muda yang terdidik (el-fataa) wajib menjaga semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang kuat. Persaudaraan tidak dapat di raih dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Generasi muda Melayu mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KONSEP TATA RUANG YANG JELAS
Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas. Basasok bajarami, Balabuah batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik, Bapandam bapakuburan.
Surau adalah pusat pembinaan kecerdasan anak nagari perlu dipelihara.

Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Umat Islam Dunia Melayu yang hendak bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiyah. Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Dunia Melayu hanyalah dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya ini tidak boleh dilalaikan.

Alangkah indahnya masyarakat adat, jika padi manjadi, jaguang maupiah, menara masjid menjulang keangkasa, “musajik tampek ba ibadah, tampek ba lapa ba makna, tampek baraja Alquran 30 juz, tampek mangaji salah jo batal”, balai permusyawaratan terpancang kokoh di bumi, (balairung atau balai adat) tempat musyawarat dan menetapkan hukum dan aturan “balairuang tampek manghukum, ba aie janiah ba sayak landai, aie janieh ikannyo jinak, hukum adil katonyo bana, dandam agieh kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo sudah”, jenjang musyawarat terpelihara dengan baik.

Ketepatan bertindak adalah warisan masyarakat berbudaya, maju, mengutamakan ilmu pengetahuan, dan toleran dalam pergaulan.
“Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Apabila anak nagari di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat akan di jadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan kesejagatan.

Fatwa Adat menyebutkan,
“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo Luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua sarana adat dan syara’ ini berperan sempurna, maka dunia keliling akan hidup masyarakat berakhlaq perangai terpuji dan mulia.
“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.

Kekuatan tamaddun dan tadhamun Islami menjadi rujukan pemikiran. Pola tindakan masyarakat berbudaya terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh). Kesabaran (teguh sikap jiwa) yang konsisten. Keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah. Menjadi ciri utama (sibghah, identitas) iman dan takwa secara nyata, yang memiliki relevansi diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan kini dan masa depan. Suatu individu atau kelompok masyarakat yang kehilangan pegangan hidup (aqidah dan adat istiadat), walau secara lahiriyah kaya materi, akan menjadi miskin mental spiritual, dan ujungnya terperosok kedalam tingkah laku yang menghancurkan nilai fithrah itu.

Konsep tata-ruang adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya Melayu dan Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayat.
“Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur. Pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yang terdiri dari ninikmamak, alim ulama, cerdik pandai, urang mudo (yakni para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo). Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.

Hakekatnya, anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsep ini mesti tumbuh dari akar nagari itu sendiri.
“Lah masak padi ‘rang Singkarak,
masaknyo batangkai-tangkai,
satangkai jarang nan mudo,
Kabek sabalik buhul sintak,
Jaranglah urang nan ma-ungkai,
Tibo nan punyo rarak sajo”,
Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya. Hal ini perlu dipahami, supaya jangan tersua “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

Tantangan Generasi Melayu dan Minangkabau
Seiring perkembangan zaman, masyarakat memerlukan pendidikan berkualitas (quality education) guna memproduk SDM handal melalui olah pikir (intellectual quotient tinggi sebagai basis knowledge), olah raga (tangguh, kuat, sehat fisik dan mental), olah hati (dengan iman yang benar sebagai basis dari emosional dan spiritual quotient), serta olah rasa yakni kearifan dan keseimbangan dari raso dibao naik dan pareso di bao turun salah satu akar budaya Minangkabau atau cultural based.

Hal ini penting guna menciptakan duduak samo randah tagak samo tinggi dalam tata pergaulan masyarakat majemuk dan maju. Antara rumah tangga (rumah gadang kaum) dengan lingkungan surau, balai adat, pagar kampung dan nagari semestinya memiliki jalinan kuat dalam satu ikatan saling menguntungkan (symbiotic relationship) membina anak nagari. Senyatanya inilah kekuatan lain untuk menyusun masyarakat Melayu yang Islami itu.

Generasi Muda Melayu sebenarnya adalah generasi pelanjut. Teguh prinsip dalam paradigma akhlaqul karimah untuk meraih selamat. Kehidupan terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa), konsisten, ikhlas (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat kepada kekuasaan Allah).

Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan berbudaya dalam satu mata rantai tadhamun al Islami ketengah peradaban manusia. Adat bersendi syarak merancang perilaku bersendi Kitabullah (wahyu Alqurani), bila mampu di implementasikan dalam kehidupan nyata anak nagari, akan menjadi antitesis terhadap degradasi moral westernisasi.

Etika religi dimulai dari mengucap salam, menyebar senyum, jenguk menjenguk, bertakziyah kala kemalangan, memberi dan mengagih pertolongan, melapangi jika kondisi memungkinkan, walau hanya memberi sepotong doa dengan ikhlas sesama tetangga. Menolak bencana dengan melakukan amal baik karena Allah semata.

Dzikrullah melahirkan pemikiran bersih, jernih dan diterima oleh semua pihak. Setiap pemikiran jernih selalu disimak, di ikuti dan di telaah oleh yang setuju maupun yang berseber¬angan. Di dalamnya ada hikmah. Inilah keuntungan utama melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

صَنَائِعُ المَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَ الصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ العُمْرَ، وَ كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ
Perbuatan baik itu menjaga dari serangan bahaya, sedekah dengan sembunyi memadami marah Tuhan, memperhubungkan silaturahmi menambah umur dan setiap perbuatan baik itu sedekah. Orang yang mengerjakan perbuatan baik di dunia, mereka juga orang yang mengerjakan perbuatan baik di akhirat, sedang orang yang memperbuat kesalahan di dunia, mereka juga orang yang memperbuat kesalahan di akhirat. Orang yang dahulu masuk surga ialah orang yang berbuat baik. (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ummu Salamah)

Perlu di yakinkan bahwa di tengah pergumulan hidup ada sunnatullah. Alam takambang jadi guru. Dalam prilaku social masyarakat Melayu dan Minang yang hidup di dalam tuntunan ABSSBK akan menjadi lebih kuat, berkecerdasan tinggi, menjadi umat utama (khaira ummah) dengan moralitas hidup berbangsa. Cinta persaudaraan dan persatuan (ukhuwah), tidak merendahkan satu golongan. Tidak hendak mencari kesalahan merusak diri dan kehormatan. Teguh menciptakan ishlah perbaikan. Menegakkan keadilan taat hukum. Semuanya itu kekuatan besar merebut kejayaan.

Akhlaq mulia modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus dari etnis Melayu dan Minang, pasti bangsa ini akan jadi manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, akan bertukar nilai kehidupan dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis Melayu dan Minangkabau yang terkenal adatnya basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang disebut muslim pula.

Sekarang, diakui daya saing generasi muda Minang Melayu makin melemah, mutu pendidikan kurang memadai, bekal keterampilan sangat sedikit, pengamalan agama dan syari’at kurang kompetitif.
Sikap entrepreneurship tidak berkembang. Hubungan emosional-kultural generasi muda rantau dan ranah makin tipis. Hal itu disebabkan nilai-nilai positif adat resam kurang di sosialisasikan.
Daya tarik kampung halaman kurang diperkenalkan kepada generasi muda. Pendidikan adat resam dan budaya Melayu dan Minang tidak intensif.

Arif akan adanya perubahan-perubahan dengan pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas. “Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih–putuih, Lah salasai mangko sudah”.

Pemahaman syarak menekankan kehidupan dinamis. Mempunyai martabat (izzah diri). Bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi, tidak lalai tidak enggan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum sudah.

Nilai dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan sebagai suatu realitas. Pengamalan syari’at Islam mendorong umatnya melakukan perbaikan kearah peningkatan mutu dengan basis ilmu pengetahuan (knowledge base society), basis budaya (culture base sociaty) dan agama (religious base society).

Dalam kehidupan masyarakat Melayu/Minang sangat diminati hidup maju beradat. Mengamalkan agama (syarak) dengan landasan Kitabullah. Luas pemahaman (tashawwur) mengenal alam keliling. “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru” , sehingga masyarakatnya mandiri menjaga rakyat (suku), ulayat (pusako) dan pemerintahan (sako).

Mengimplementasikan adat dan syarak dalam kehidupan nyata mesti digerakkan sungguh-sungguh. Dimulai dari menggali potensi dan asset nagari yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan anutan anak nagari.
Dimulai memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari. Menyadarkan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing, yakni budaya taqwa dengan perbuatan yang benar.
Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan.
Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

Manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia. Tatanan adab pergaulan selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah. Tuntunan akhlaq dan ibadah mewarnai perilaku pada seluruh tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu, berasaskan ajaran Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan,
“Iman nan tak buliah ratak,
kamudi nan tak buliah patah,
padoman indak buliah tagelek,
haluan nan tak buliah barubah”.

KHULASAH
Generasi Muda yang sedang bergelut dengan cabaran kontemporer dapat melakukan berapa agenda kerja secara bersama-sama ;

1.Mengokohkan pegangan Generasi Muda dengan keyakinan dasar Agama (syara’), suatu cara hidup yang komprehensif. Memperbanyak program memahami ajaran agama di dalam meningkatkan hubungan antar umat. Menggali sejarah kejayaan masa silam. Menanam semangat kepahlawanan membangun diri dan kampong halaman. Menyebarluaskan bahaya sekularis, materialisme, individualisme jahiliyah yang sangat merugikan budaya bangsa.

2.Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru agar tidak dapat dimusnahkan oleh budaya lucah dan porno. Menggandakan usaha melahirkan penulis muda dalam berbagai lapangan media dengan basis etika religi..

3.Meningkatkan keselarasan dan kematangan dengan upaya bersama sesuai tuntutan syarak mangato adaik mamakai. Menjalin kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang merusak adat resam Melayu dan Minangkabau. Memastikan generasi muda terarah menjadi pemimpin umat dan negara dengan sikap bertaqwa, berakhlak dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompok.

4.Meningkatkan program melahirkan generasi muda yang penyayang satu sama lain dan menata kehidupan yang beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

Daftar Pustaka
1.Al Quranul Karim,
2.Al-Ghazali, Majmu’ Al-Rasail, Beirut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1986,
3.Al-Falimbangi, ‘Abd al-Samad, Siyarus-Salikin,
4.Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam,
5.Lu’Lu’wa al-Marjan, hadist-hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i.
6.Sa’id Hawa, Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,
7.Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat,
8.Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.