Hidup berjasa…, Mati mulia …,

Hidup mulia, mati berjasa…

Oleh: H.Mas’oed Abidin. 

Sayangilah umat binaan. Keberhasilan pemimpin ditentukan oleh indahnya hubungan sesama di dalam pergaulan sehari‑hari, karena itu pemimpin di tengah medannya tidak boleh menyendiri. Dia wajib menyayangi masyarakatnya. Satu keberhasilan gerakan ditentukan oleh kesediaan menerima dan menghormati umat di kelilingnya dalam rangkaian dakwah ila‑Allah.

Pemimpin adalah pengayom, dan panutan. Dia akan menjadi tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat diselesaikan oleh umat banyak secara sendiri‑sendiri. Sikap memuliakan rakyatnya, selalu akan dijadikan ukuran akhlak para pemimpin itu. Seorang pemimpin semestinya merasa senang menerima masukan membangun di arena tugasnya. Dia tidak boleh menolak siapapun yang berharap kepada bantuannya. Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain. Seorang pemimpin umat semestinya memiliki dorongan kuat untuk berbuat lebih banyak untuk menyejahterakan umat bi­naannya, dalam batas‑batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati, tentu saja sebatas kemampuan yang dimilikinya. Akan sulit dibantah, bahwa uluran bantuan sekecil apapun, akan besar maknanya di dalam menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi umat yang dibina.

Karena itu, senyum dengan penuh perhatian saja sudah dapat menjadi satu pemberian yang mempunyai nilai besar, Demikian, sebuah panduan akhlak yang telah disebutkan jelas sebagai  akhlaq al‑Qurani, di dalam adat bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah.

Dermawan dan pemurah, adalah satu akhlaq yang amat dipuji dalam Al Quranul Karim. Dermawan adalah perangai mulia yang perlu dipunyai juru dakwah untuk menempati posisi pelanjut tugas‑tugas risalah dinul haq, sebagai dicontohkan oleh Ibrahim AS, ketika di kunjungi tujuh pemuda untuk menguji kedermawanannya. Ketujuh pemuda ini sama sekali belum di kenal oleh Ibrahim AS. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim AS menerima tamunya dengan segala senanghati. Tidak ada kecurigaan, yang ada hanya keikhlasan yang tulus, sebagai satu anjuran ibadah dalam memuliakan tamunya.

Nabi Ibrahim Khalilullah, memiliki kebiasaan yang sangat istimewa, bahwa  setiap tamu yang datang, tidak akan pernah dilepas meninggalkan tempat diamnya, sebelum mereka disuguhi hidangan menurut kemampuannya, walau hanya seteguk air, sebagai penghormatan dari “tuan rumah”. Sesungguhnya para pemuda‑pemuda yang menjadi tamu Nabi Ibrahim AS ini, senyatanya bukan tamu sembarangan.

Ketika diajak untuk meneguk air yang dihidangkan, serta merta mereka menolak jamuan tuan rumah dengan halus, karena sesungguhnya mereka bukanlah manusia biasa yang perlu makan dan minum. Sebenarnya, ketujuh pemuda ini adalah malaikat-malaikat terhor­mat, yang sengaja diutus oleh Allah SWT, untuk menguji kedermawanan Ibrahim seba­gai juru dakwah dijalan Allah. 

Rangkaian kisah indah ini diu­langkan berbentuk wahyu kepada Nabi Muhamad SAW dalam Al‑Quranul Majid, “Sungguh Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebe­naran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali‑kali bukanlah dia termasuk orang‑orang yang mempersekutukan (Tuhan).(Dia terma­suk) yang mensyukuri nikmat‑nikmat Allah. Allah telah memilih dan menunjukinya kepada jalan yang lurus(QS.16,An Nahl,ayat 120‑121).

Di antara perangai mulia (millah) Nabi Ibrahim AS, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama ‑‑keluarga dan masyarakat‑‑, pandai memilih  tindakan yang tidak merugikan orang lain, dan senantiasa memimipin ummat ke jalan yang benar.  Memupuk sikap mulia ini hanya dengan selalu  “berpe­gang teguh kepada Hidayah Agama Allah”, dalam menerapkan akhlaq al Qur’ani.

Mendahulukan kepentingan umat, adalah satu sikap terpuji. Berbuat baik kepada kaum kerabat, adalah termasuk perangai yang mulia. Kehormatan pemimpin bangsa akan diuji dalam sikap ini. Perhatian terhadap umat banyak, atau rakyat yang dipimpin, memiliki nilai yang amat tinggi. Mementingkan urusan pribadi bukan sikap terpuji seorang pemimpin di tengah umat yang dipimpinnya. Bila manusia banyak telah terpuruk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keperluan orang lain dan lingkungannya, akan terbukalah pintu bencana, yang akan datang timpa bertimpa. Ruang kehidupan akan menjadi sempit. Melupakan kepentingan orang  banyak amat tercela dan dinilai aniaya (zalim) dalam ajaran Islam. 

“Dzurriyat” atau generasi yang akan menyandang darjah pimpinan dan panutan tidak boleh tampil dari sikap zalim atau aniaya. Panduan ibadah dalam agama sesungguhnya berperan menghapuskan kezaliman yang bersemi dalam diri seseorang. Ibadah selalu melahirkan sikap senang melaksanakan perintah Allah dan membuat perangai “menyayangi orang lain sebagai mengasihi diri sendiri”.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan tugas risalahnaya supaya berperilaku dengan akhlaq Al Qur’ani. “innama bu’ist‑tu li utammi makarimul akhlaaq” artinya, “aku diutus menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Mudah‑mudahan kita semua senantiasa berada  dalam lindungan Rahmat dan Inayah‑Nya. Amin. 

Padang, 27 Januari 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s