Teguhkan Pegangan Tauhid

Orang hidup memang senang kepada kesenangan. Namun, dalam kenyataan ditemui nilai atau ukuran kesenangan ditentukan oleh paradigma atau keyakinan dan kepercayaan seorang yang akan meraih kesenangan itu. Paradigma materialitik dan sekuralistik selalu melahirkan anak-kandungnya pula. Yaitu, budaya pemujaan terhadap kesenangan indera, dan mengejar kenikmatan badani.

Inilah yang disebut orang dengan istilah hedonistik itu. Berpikir lurus ke akar-akar permasalahan, maka jelaslah bahwa paradigma materialistik, sekularistik, dan hedonistik itu berlawanan — dalam pengertian maupun tataran apapun — dengan paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah. Melihat kenyataan dalam kehidupan kita, maka dapat diperkirakan bahwa akan semakin menjadi-jadi berbagai penyimpangan. Ini mesti dilawan.

Tidak cukup dengan kepalan tinju. Mesti dengan cara cerdas, tangkas, dan arif sekaligus bernas. Jika tidak dilakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak bangsa, maka nenek moyang kita yang telah ikhlas menerima  paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah itu tidak akan ikhlas menyaksikan “adegan kehilangan” ini. Nantinya, anak-cucu-cicit kita akan meratapi kelalaian kita. Ketika, mereka seperti tiba-tiba saja sudah tersesat di “rimba kehilangan”. Yaitu, “kehilangan” tauhid Laa ilaaha illa Allah!  

Bersamaan dengan itu saksikan pula betapa gejala penyimpangan-penyimpangan lainnya pun telah merajalela. Seperti kriminalitas; sadisme; lalu krisis moral antara lain hilang rasa malu dan hilang rasa bersalah, sehingga merasa tak malu dan tak bersalah melakukan korupsi dan berbagai kejahatan lainnya –, dan juga vandalistik sebagaimana tampak dalam berbagai  tawuran massal alias cakak-banyak — tawuran pelajar, tawuran antar kampung, tawuran antar pendukung partai, tawuran antar preman, tawuran antar pendukung berbagai aliran dan semacamnya –. Tindakan di tengah pergaulan marak pula perbuatan a-susila – mulai menjangkit kalangan remaja dan mahasiswa – dan kecabulan pornografi sulit pula membendungnya.

Berbagai upaya telah dilakukan, namun selalu terbentur dengan kajian-kajian hak asasi manusia. Ihwal ini mulai tak tersentuh para cendikiawan sekuler. Sebagian dari mereka mulai condong mendalami kehidupan non-science. Asyik mencari kekuatan gaib, belajar sihir. Bahkkan mencari paranormal untuk menutup kesalahan teknologi. Berupaya menguasai kekuatan jin, bertapa ke tempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik dan sejenisnya untuk mengelola alam materi.

Situasi ini makin diperparah oleh limbah budaya kebarat-baratan yang sering dianggap ukuran modern. Gaya hidup mulai terjebak kepada perilaku konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat, yakni menurutkan hobi nafsu syahwat, terlepas dari kawalan agama dan adat luhur. Kesudahannya tentu menampilkan gaya permissiveness alias serba boleh, tindakan anarkis, tanpa mengindahkan rambu-rambu lama.

Kawalan agama, adat istiadat, moral luhur dan akhlak mulia mulai tercecerkan. Tuntunan ilmu dan filsafat mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni pun mulai dicemari hal-hal yang sensual, erotik, horor, ganas. Itulah sebagian dari peta permasalahan kita. Masih diperpanjang lagi dengan daftar masalah-masalah mendasar lainnya meliputi sosial-politik-ekonomi-budaya. Bagaimana mungkin kita bergerak dari satu ekstrimitas ke eksterimitas lainnya.

Bertahun-tahun kita memiliki kesadaran mesti mendahulukan kewajiban. Kewajiban asasi tidak semata hak asasi. Kedua hal itu ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tak layak dipisah-pisahkan.Umat Islam yang sungguh-sungguh adalah “umat tengah” yang berjalan lurus di tengah jalan kebenaran. Pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa sungguh tak aman sekedar Kewajiban Asasi Manusia yang meniadakan hak asasi. Tidak nyaman sekedar Hak Asasi Manusia tanpa peduli dengan kewajiban sesama.

Selayaknya adalah utuh-lengkap antara hak dan kewajiban itu berjalin berkulindan. Tidak siapa pun akan menuai hak, kalau tak ada yang menunaikan kewajiban. Maka sorga tak akan di raih tanpa melaksanakan kewajiban taat dalam amar ma’ruf nahi munkar. Kewajiban ini diajarkan dalam amaliyah Ramadhan. Hak keampunan akan diberikan  Allah SWT kepada orang yang melaksanakan kewajiban dengan benar. Semoga kita termasuk kedalamnya. Amin.(dimuat di harian Haluan, edisi 25 Oktober 2007)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s