Berhisab Sebelum Membuat Perhitungan

Berhisab sebelum membuat Perhitungan

Oleh :H. Mas’oed Abidin

 Dan Kami telah jadikan malam dan siang dua tanda”.  Detik demi detik, berlanjut menjadi hari demi hari, siang dan malam menjadi bukti kekuasaan Allah, bagi manusia yang senantiasa mau berpikir, bahwa sejarah selalu berjalan meniti waktu. “Maka Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang”, sebagai pertanda bahwa pergantian sesuatu telah menjadi sunnatullah. Di samping itu, ada masa gelap ada pula masa terang, dan akan datang pula masanya pergantian waktu itu, hanya “untuk mencari karunia dari Tuhanmu”. Semua peredaran waktu menjadi saksi bagi sejarah perjalanan manusia, “Dan supaya kamu ketahui bilangan tahun dan hisab (perhitungan)”. Semua manusia wajib menghitung, tentang waktu yang telah dilalui dan dimanfaatkan untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa, untuk kepentingan dunia usaha, serta keperluan hidup di dunia, dan terakhir untuk persiapan akhiratnya., “Dan tiap-tiap sesuatu kami jelaskan sejelas-jelasnya”. (QS.17:12).

Allah mengatur kehidupan tidak semata dalam soal-soal besar, tetapi sampai kepada persoalan sekecil-kecilnya. Untuk itu, manusia selalu diperintah untuk melakukan perhitungan, dalam istilah agama, “Hasibuu anfusakum qabla an tuhasabuu”, artinya berhitunglah sebelum dihitung. Di dalam Alquran disebutkan, “Dan tiap-tiap manusia kami gantungkan catatan ‘amalannya dikuduknya”, berarti setiap gerak gerik manusia,  tidaklah terlepas dari tanggung jawab yang senantiasa menjadi pikulan beban di kuduknya, tidak dapat dilepas dari pertanggungan jawabnya, sebagai ditegaskan, Dan Kami keluarkan baginya di hari kiamat sesuatu kitab catatan yang akan didapatinya dalam keadaan terbuka(QS.17:13).

Terbuka, boleh dibaca, tidak ada yang tersembunyi, Bacalah olehmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini menjadi penghitung atas dirimu(QS.17:14).

Kepada sesama makhluk, mungkin seseorang dapat menyembunyikan diri, namun kepada kedua malaikat yang mencatat setiap perbuatan, perkataan, kelakuan, yang selalu berada dikiri kanan kita, kita tidak bisa berahasia. Ketika semua itu diingat akan berdebar jantung, berdenyut darah, bahwa “kitab terbuka” di hari kiamat. Masya Allah. Jalan menghindar hanya satu. Kerjakan yang baik, jangan dustai diri dan bangsa. “Barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya itu, lain tidak adalah petunjuk untuk dirinya sendiri”. Mengikut petunjuk Allah berarti membahagiakan diri sendiri. Menjauhi perintah Allah berakibat menyiksa diri sendiri pula. “Dan barang siapa yang sesat, sesungguhnya lain tidak adalah sesat untuk dirinya pula”. Ajaran Agama menunjukkan manusia jalan yang lurus, dengan selalu dibimbing hidayah petunjuk itu. “Dan tidaklah menanggung seseorang penanggung atas tanggungan, orang lain”.

Rasulullah SAW telah mengingatkan Fathimah binti Muhammad, anak kandung beliau sendiri, agar berusahalah menebus dirinya dari bahaya api neraka “Dan tidaklah Kami akan mengazab sehingga Kami utus seorang Rasul”. (QS.17:15).

Lantaran itu tidak ada Sunnah Allah yang berlaku dengan aniaya. Allah tidak menghukum seorang atau segolongan orang, karena dendam, namun hanyalah karena manusia telah melampaui batas perbuatan mereka. “Dan jika Kami hendak membinasakan sebuah negeri, Kami perintahkan orang-orangnya yang mewah (para elit), tetapi mereka berbuat fasiq padanya (berbuat kebodohan)”. Keangkuhan dan kemewahan, dapat m,eruntuh sebuah negeri, ketika yang kaya dan yang mewah berbuat fasik, bersilantas angan.

Seseorang yang memikul tanggung jawab terhadap orang banyak, bangsa dan negara, diperintah untuk selalu menjaga amanah itu. Ketika amanah telah dilalaikan, seketika terjadi perbuatan aniaya yang membawa rakyat banyak kepada kehancuran,  dan sudahlah pasti, hancur pula negeri itu. Di saat jiwa tidak lagi terkendali oleh Iman, maka perlakuan makshiyat akan menjadi-jadi, dan membuka lebar pintu kedurhakaan. Di awali dari perbuatan fasiq, di mana lidah mengakui, tetapi membantah dalam hati, dan tidak lagi sesuai kata dengan amalan. Kata lidah berbuat ishlah, tetapi yang lahir dalam tindakan adalah bencana.  Lantaran itu patutlah diturunkan keatas mereka azab, maka Kami hancurkanlah mereka sehancur hancurnya”  (QS.17:16).           

Bila kita mau belajar kepada sejarah, Allah mengingatkan kita semua “Dan berapa banyak negeri yang telah kami hancurkan dari sesudah Nuh. Dan cukuplah Tuhanmu terhadap hamba-hambanya, Mengetahui dan Melihat(QS.17:17).

Marilah berhitung masak-masak sebelum melakukan tindak perbuatan. 

Padang, 25 Januari 2008    

Iklan

Sabar dengan Cobaan

SABAR Menerima Ujian dari Allah SWT

Oleh:H.Mas’oed Abidin.  

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya : “Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Namun gembirakanlah orang‑orang yang shabar. Yaitu orang‑orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk” (QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam  kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah di samping nikmat,  siang sesudah malam,  juga rugi di samping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati, adalah satu sunnatullah yang pasti dilalui secara bergantian, oleh setiap makhluk hidup.Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, supaya senantiasa berhati‑hati sewaktu kaya karena miskin bias datang mendera, supaya selalu pula berhati‑hati di kala hidup masih ditempuh sebelum mati datang menjelang, dan juga agar selalu berhati‑hati di masa muda sebelum tua datang menghadang. Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu “kehati‑hatian“, atau dalam istilah di Minangkabau ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak di nan ka tingga.

Setiap insan Muslim diajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi, selalu menjaga diri, senantiasa berbuat baik, karena sesudah hari ini, akan ada hari esok. Inilah ajaran agama yang haq.

Musibah adalah ujian dan iktibar. Di dalam pandangan agama Islam, hidup ini selalu ada padanannya, kembar atau bergandengan. Di dalam musibah terkandung makna yang dalam. Di antaranya mengingatkan manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid. Musibah, tidak selamanya bernilai azab. Adakalanya hanya ujian belaka. Di balik ujian, mungkin tersedia yang lebih baik dari sebelumnya.

Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata, karena berada di dalam ‘wilayah’ keyakinan, sebagaimana diperingatkan wahyu Allah SWT, ‘Asaa an takrahu  syai‑an wa huwa khairun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai‑an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun. Artinya, boleh jadi, engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu (di balik sesuatu yang dibenci), dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (mungkin di balik yang disenangi, terdapat sesuatu yang sangat dibenci). Dan Allah semata yang Maha Tahu, sedang engkau tidak mengetahui (mengenai rahasia di balik semua peristiwa). Begitulah bimbingan wahyu Al Quran pada Surah Al Baqarah. (QS. 2 : 216).

Musibah atau cobaan  dalam kehidupan mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi). Bila masa sebelumnya terdapat suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Dan bila pada masa‑masa sebelumnya yang tersua adalah kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan menjadi lebih sempurna. Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat tarafnya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi.

Cobaan-cobaan tidak semestinya menjadikan manusia berputus asa. Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan lenyap di kala manusia melupakan Tuhan dan membelakangi ajaran agamanya.

Benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap manusia di dalam menghadapi musibah adalah sabar, tegar dan tabah mengiringi ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo’a. Kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran‑Nya, dan menjauhi setiap larangan‑Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya.

Semoga semua yang ditimpa musibah saat ini, (kematian pemimpin, wafatnya pak Harto, kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan pesawat terbang, kelaparan, kebakaran, banjir dan musnahnya ikan di karamba), dapat mengambil iktibar, supaya kita bersegera kembali kepada Allah SWT, dengan istighfar memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan, baik diketahui ataupun tidak, dan melazimkan saling memaafkan.

Kembalilah beribadah kepada Allah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha kita. Jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH. Begitulah hendaknya, Amin. 

Padang, 27 Januari 2008.  13.10 Selamat Jalan Pak Harto

Sabar dengan Cobaan

SABAR Menerima Ujian dari Allah SWTOleh:H.Mas’oed Abidin.  Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya : “Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Namun gembirakanlah orang‑orang yang shabar. Yaitu orang‑orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk” (QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157). Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam  kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah di samping nikmat,  siang sesudah malam,  juga rugi di samping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati, adalah satu sunnatullah yang pasti dilalui secara bergantian, oleh setiap makhluk hidup.Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, supaya senantiasa berhati‑hati sewaktu kaya karena miskin bias datang mendera, supaya selalu pula berhati‑hati di kala hidup masih ditempuh sebelum mati datang menjelang, dan juga agar selalu berhati‑hati di masa muda sebelum tua datang menghadang. Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu “kehati‑hatian“, atau dalam istilah di Minangkabau ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak di nan ka tingga. Maka, setiap insan Muslim diajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi, selalu menjaga diri, senantiasa berbuat baik, karena sesudah hari ini, akan ada hari esok. Inilah ajaran agama yang haq.Musibah adalah ujian dan iktibar. Di dalam pandangan agama Islam, hidup ini selalu ada padanannya, kembar atau bergandengan. Di dalam musibah terkandung makna yang dalam. Di antaranya mengingatkan manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid. Musibah, tidak selamanya bernilai azab. Adakalanya hanya ujian belaka. Di balik ujian, mungkin tersedia yang lebih baik dari sebelumnya. Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata, karena berada di dalam ‘wilayah’ keyakinan, sebagaimana diperingatkan wahyu Allah SWT, ‘Asaa an takrahu  syai‑an wa huwa khairun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai‑an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun. Artinya, boleh jadi, engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu (di balik sesuatu yang dibenci), dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (mungkin di balik yang disenangi, terdapat sesuatu yang sangat dibenci). Dan Allah semata yang Maha Tahu, sedang engkau tidak mengetahui (mengenai rahasia di balik semua peristiwa). Begitulah bimbingan wahyu Al Quran pada Surah Al Baqarah. (QS. 2 : 216).Musibah atau cobaan  dalam kehidupan mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi). Bila masa sebelumnya terdapat suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Dan bila pada masa‑masa sebelumnya yang tersua adalah kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan menjadi lebih sempurna. Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat tarafnya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi. Cobaan-cobaan tidak semestinya menjadikan manusia berputus asa. Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan lenyap di kala manusia melupakan Tuhan dan membelakangi ajaran agamanya. Benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap manusia di dalam menghadapi musibah adalah sabar, tegar dan tabah mengiringi ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo’a. Kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran‑Nya, dan menjauhi setiap larangan‑Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya. Semoga semua yang ditimpa musibah saat ini, (kematian pemimpin, wafatnya pak Harto, kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan pesawat terbang, kelaparan, kebakaran, banjir dan musnahnya ikan di karamba), dapat mengambil iktibar, supaya kita bersegera kembali kepada Allah SWT, dengan istighfar memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan, baik diketahui ataupun tidak, dan melazimkan saling memaafkan. Kembalilah beribadah kepada Allah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha kita. Jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH. Begitulah hendaknya, Amin. Padang, 27 Januari 2008. 

Kebersamaan Membuhul Masyarakat

Kebersamaan Membuhul Masyarakat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai wujud nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Tataran budaya ini, dalam jangka waktu tertentu, telah terbukti mampu memberikan dorongan-dorongan atau motivasi bagi gerak perubahan, reformasi, dan pembangunan dari satu generasi ke generasi berikut, di Ranah Bundo, Minangkabau ini, serta terbukti pula telah menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang di nagari, dusun dan taratak. Nilai-nilai budaya Minangkabau itu, telah pula memberikan sumbangan yang tidak kecil, dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Kehidupan masyarakat di Sumatera Barat dalam era globalisasi kini, mesti di pacu untuk selalu berlomba menanam kebaikan-kebaikan, dengan keunggulan yang makruf, sehingga dapat menumbuhkan kembali harga diri, dengan sikap mental yang rajin berusaha sendiri, giat bekerja (enterprising), dan menjaga buhul (sinerjitas) yang kuat di tengah masyarakat. Kita sedang menuju satu bentuk masyarakat baru di Sumatera Barat, yang tampak pada sikap dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisi masyarakatnya dalam mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang, seperti social politik, pendidikan, perekonomian, serta menjaga hak asasinya sebagai masyarakat adat yang beragama Islam. Masyarakat Sumatera Barat akan mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikan. Dalam hal ini bimbingan akidah Islam yang bersendi kepada Kitabullah, telah  mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang maju itu hanya selalu menuntut hak tanpa ada keharusan menunaikan kewajiban. Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Maka, hak asasi manusia tidak akan pernah dapat diujudkan tanpa lebih dahulu melaksanakan kewajiban asasi sesame manusia manusia. Mengedepankan kewajiban asasi ini, sangatlah penting dikembalikan terlebih dahulu dalam upaya mambangkik batang tarandam.Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang baik dan akrab dengan karib baid (qarib ba’id) dan daerah tetangga, sebagai kewajiban taqwa kepada Allah Yang Maha Esa, sesuai Firman-Nya, “ Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36). Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib di berbagai bidang akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, serta akhlak sabar tanpa keangkuhan, dan mampu melawan sikap malas, mudah menyerah, dan tidak mudah berputus asa, dalam membangun Sumatera Barat di abad ini. ***

 

Menyayangi Orang Keliling

Menyayangi orang keliling

oleh: H.Mas’oed Abidin           

Belum sempurna iman seorang muslim sebelum dia mampu menyayangi orang lain (saudaranya), sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri, demikian di antara bimbingan agama yang sudah lama kita ketahui. Makna lebih dalam adalah kebaikan atau kemuliaan seseorang diukur dengan berapa besar kepeduliannya terhadap umat di sekelilingnya. Apakah itu dalam lingkaran RT, lingkungan RW, atau lebih luas lagi sebagai warga kota, provinsi dan Negara sekalipun.

Kemulian seseorang dapat juga diukur dari kepekaan hati dalam berbuat baik secara ikhlas terhadap orang-orang lain, yang belum bernasib baik (fuqarak wal masakin), dibandingkan dengan dirinya. Bukti dari semua ini dapat juga terlihat dari bertumbuhnya ruhul infaq (kerelaan berinfaq, bersedekah, membantu, atau menyumbang) bagi kemashalahatan orang banyak, lillahi ta’ala atau semata mencari redha Allah. Karena itu, membayarkan zakat, infaq, dan shadaqah, bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya (dhu’afak) sesuai bimbingan Rasulullah SAW, senyatanya adalah satu kewajiban asasi setiap peribadi berpunya, dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

Pada setiap hari raya umpamanya, katakanlah pada hari raya idul fithri atau berlebaran hajji (idul qurban), selalu diwarnai dengan menyantuni orang-orang yang tak berpunya dengan ikhlas, seperti zakat fitrah ataupun dengan daging sembelihan hewan qurban. Semuanya dimaksudkan sebagai pengikat tali rasa (mawaddah fil-qurba) yang di masa kita sekarang terlihat mulai tidak dihiraukan lagi oleh banyak orang.

Sebagai umat yang beradat dengan bimbingan agama Islam, khususnya di Sumatera Barat, dengan adaik basandi syarak, dan syarak basandi Kitabullah sangat dianjurkan memperhatikan keadaan karib kerabat (qarib ba’id), sesuku, sekampung, senagari, bahkan lebih makro adalah kepentingan nasional lebih diutamakan dari kepentingan-kepentingan lainnya, suatu sikap  yang mendasari kepedulian dalam berbangsa dan bernegara.

Hubbul wathan minal iman  artinya mencintai nagari dan negara adalah bahagian dari iman. Nilai-nilai ini telah melahirkan sikap rela berkorban di masa lalu, sejak 63 tahun Indonesia diproklamasikan, dan atau bahkan sejak ratusan tahun ketika mulai tumbuh cita-cita merintis kemerdekaan Indonesia, mempertahankan karakter bangsa yang bertuhan, dan berbudaya dalam membangun bangsa dan Negara.

Karakter bangsa dipelihara dengan kiat-kiat ibadah, dan dengan mendalamnya rasa peduli, serta sikap rela memberi sebagai suatu sikap perangai terpuji. Masyarakat yang berkualitas adalah masyarakat yang suka memberi, dan tidak hanya pandai menengadahkan tangan dengan semboyan “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” sesuai hadist Rasulullah SAW. 

Mewujudkan masyarakat yang bertangan di atas tidaklah mudah, dan ini satu pekerjaan berat dan besar, karena terlebih dahulu harus ditumbuhkan keberpunyaan dalam arti seluasnya adalah punya harta, punya keinginan, punya kerelaan, punya sikap untuk memberi itu.  Memberi adalah suatu izzah (kemuliaan) yang dimiliki oleh aghniya’, yakni orang atau bangsa, yang berpunya.

Padang, 25 Januari 2008

Refleksi HU Haluan, 26 Januari 2008

Hidup berjasa…, Mati mulia …,

Hidup mulia, mati berjasa…

Oleh: H.Mas’oed Abidin. 

Sayangilah umat binaan. Keberhasilan pemimpin ditentukan oleh indahnya hubungan sesama di dalam pergaulan sehari‑hari, karena itu pemimpin di tengah medannya tidak boleh menyendiri. Dia wajib menyayangi masyarakatnya. Satu keberhasilan gerakan ditentukan oleh kesediaan menerima dan menghormati umat di kelilingnya dalam rangkaian dakwah ila‑Allah.

Pemimpin adalah pengayom, dan panutan. Dia akan menjadi tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat diselesaikan oleh umat banyak secara sendiri‑sendiri. Sikap memuliakan rakyatnya, selalu akan dijadikan ukuran akhlak para pemimpin itu. Seorang pemimpin semestinya merasa senang menerima masukan membangun di arena tugasnya. Dia tidak boleh menolak siapapun yang berharap kepada bantuannya. Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain. Seorang pemimpin umat semestinya memiliki dorongan kuat untuk berbuat lebih banyak untuk menyejahterakan umat bi­naannya, dalam batas‑batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati, tentu saja sebatas kemampuan yang dimilikinya. Akan sulit dibantah, bahwa uluran bantuan sekecil apapun, akan besar maknanya di dalam menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi umat yang dibina.

Karena itu, senyum dengan penuh perhatian saja sudah dapat menjadi satu pemberian yang mempunyai nilai besar, Demikian, sebuah panduan akhlak yang telah disebutkan jelas sebagai  akhlaq al‑Qurani, di dalam adat bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah.

Dermawan dan pemurah, adalah satu akhlaq yang amat dipuji dalam Al Quranul Karim. Dermawan adalah perangai mulia yang perlu dipunyai juru dakwah untuk menempati posisi pelanjut tugas‑tugas risalah dinul haq, sebagai dicontohkan oleh Ibrahim AS, ketika di kunjungi tujuh pemuda untuk menguji kedermawanannya. Ketujuh pemuda ini sama sekali belum di kenal oleh Ibrahim AS. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim AS menerima tamunya dengan segala senanghati. Tidak ada kecurigaan, yang ada hanya keikhlasan yang tulus, sebagai satu anjuran ibadah dalam memuliakan tamunya.

Nabi Ibrahim Khalilullah, memiliki kebiasaan yang sangat istimewa, bahwa  setiap tamu yang datang, tidak akan pernah dilepas meninggalkan tempat diamnya, sebelum mereka disuguhi hidangan menurut kemampuannya, walau hanya seteguk air, sebagai penghormatan dari “tuan rumah”. Sesungguhnya para pemuda‑pemuda yang menjadi tamu Nabi Ibrahim AS ini, senyatanya bukan tamu sembarangan.

Ketika diajak untuk meneguk air yang dihidangkan, serta merta mereka menolak jamuan tuan rumah dengan halus, karena sesungguhnya mereka bukanlah manusia biasa yang perlu makan dan minum. Sebenarnya, ketujuh pemuda ini adalah malaikat-malaikat terhor­mat, yang sengaja diutus oleh Allah SWT, untuk menguji kedermawanan Ibrahim seba­gai juru dakwah dijalan Allah. 

Rangkaian kisah indah ini diu­langkan berbentuk wahyu kepada Nabi Muhamad SAW dalam Al‑Quranul Majid, “Sungguh Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebe­naran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali‑kali bukanlah dia termasuk orang‑orang yang mempersekutukan (Tuhan).(Dia terma­suk) yang mensyukuri nikmat‑nikmat Allah. Allah telah memilih dan menunjukinya kepada jalan yang lurus(QS.16,An Nahl,ayat 120‑121).

Di antara perangai mulia (millah) Nabi Ibrahim AS, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama ‑‑keluarga dan masyarakat‑‑, pandai memilih  tindakan yang tidak merugikan orang lain, dan senantiasa memimipin ummat ke jalan yang benar.  Memupuk sikap mulia ini hanya dengan selalu  “berpe­gang teguh kepada Hidayah Agama Allah”, dalam menerapkan akhlaq al Qur’ani.

Mendahulukan kepentingan umat, adalah satu sikap terpuji. Berbuat baik kepada kaum kerabat, adalah termasuk perangai yang mulia. Kehormatan pemimpin bangsa akan diuji dalam sikap ini. Perhatian terhadap umat banyak, atau rakyat yang dipimpin, memiliki nilai yang amat tinggi. Mementingkan urusan pribadi bukan sikap terpuji seorang pemimpin di tengah umat yang dipimpinnya. Bila manusia banyak telah terpuruk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keperluan orang lain dan lingkungannya, akan terbukalah pintu bencana, yang akan datang timpa bertimpa. Ruang kehidupan akan menjadi sempit. Melupakan kepentingan orang  banyak amat tercela dan dinilai aniaya (zalim) dalam ajaran Islam. 

“Dzurriyat” atau generasi yang akan menyandang darjah pimpinan dan panutan tidak boleh tampil dari sikap zalim atau aniaya. Panduan ibadah dalam agama sesungguhnya berperan menghapuskan kezaliman yang bersemi dalam diri seseorang. Ibadah selalu melahirkan sikap senang melaksanakan perintah Allah dan membuat perangai “menyayangi orang lain sebagai mengasihi diri sendiri”.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan tugas risalahnaya supaya berperilaku dengan akhlaq Al Qur’ani. “innama bu’ist‑tu li utammi makarimul akhlaaq” artinya, “aku diutus menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Mudah‑mudahan kita semua senantiasa berada  dalam lindungan Rahmat dan Inayah‑Nya. Amin. 

Padang, 27 Januari 2008.

Teguhkan Pegangan Tauhid

Orang hidup memang senang kepada kesenangan. Namun, dalam kenyataan ditemui nilai atau ukuran kesenangan ditentukan oleh paradigma atau keyakinan dan kepercayaan seorang yang akan meraih kesenangan itu. Paradigma materialitik dan sekuralistik selalu melahirkan anak-kandungnya pula. Yaitu, budaya pemujaan terhadap kesenangan indera, dan mengejar kenikmatan badani.

Inilah yang disebut orang dengan istilah hedonistik itu. Berpikir lurus ke akar-akar permasalahan, maka jelaslah bahwa paradigma materialistik, sekularistik, dan hedonistik itu berlawanan — dalam pengertian maupun tataran apapun — dengan paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah. Melihat kenyataan dalam kehidupan kita, maka dapat diperkirakan bahwa akan semakin menjadi-jadi berbagai penyimpangan. Ini mesti dilawan.

Tidak cukup dengan kepalan tinju. Mesti dengan cara cerdas, tangkas, dan arif sekaligus bernas. Jika tidak dilakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak bangsa, maka nenek moyang kita yang telah ikhlas menerima  paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah itu tidak akan ikhlas menyaksikan “adegan kehilangan” ini. Nantinya, anak-cucu-cicit kita akan meratapi kelalaian kita. Ketika, mereka seperti tiba-tiba saja sudah tersesat di “rimba kehilangan”. Yaitu, “kehilangan” tauhid Laa ilaaha illa Allah!  

Bersamaan dengan itu saksikan pula betapa gejala penyimpangan-penyimpangan lainnya pun telah merajalela. Seperti kriminalitas; sadisme; lalu krisis moral antara lain hilang rasa malu dan hilang rasa bersalah, sehingga merasa tak malu dan tak bersalah melakukan korupsi dan berbagai kejahatan lainnya –, dan juga vandalistik sebagaimana tampak dalam berbagai  tawuran massal alias cakak-banyak — tawuran pelajar, tawuran antar kampung, tawuran antar pendukung partai, tawuran antar preman, tawuran antar pendukung berbagai aliran dan semacamnya –. Tindakan di tengah pergaulan marak pula perbuatan a-susila – mulai menjangkit kalangan remaja dan mahasiswa – dan kecabulan pornografi sulit pula membendungnya.

Berbagai upaya telah dilakukan, namun selalu terbentur dengan kajian-kajian hak asasi manusia. Ihwal ini mulai tak tersentuh para cendikiawan sekuler. Sebagian dari mereka mulai condong mendalami kehidupan non-science. Asyik mencari kekuatan gaib, belajar sihir. Bahkkan mencari paranormal untuk menutup kesalahan teknologi. Berupaya menguasai kekuatan jin, bertapa ke tempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik dan sejenisnya untuk mengelola alam materi.

Situasi ini makin diperparah oleh limbah budaya kebarat-baratan yang sering dianggap ukuran modern. Gaya hidup mulai terjebak kepada perilaku konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat, yakni menurutkan hobi nafsu syahwat, terlepas dari kawalan agama dan adat luhur. Kesudahannya tentu menampilkan gaya permissiveness alias serba boleh, tindakan anarkis, tanpa mengindahkan rambu-rambu lama.

Kawalan agama, adat istiadat, moral luhur dan akhlak mulia mulai tercecerkan. Tuntunan ilmu dan filsafat mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni pun mulai dicemari hal-hal yang sensual, erotik, horor, ganas. Itulah sebagian dari peta permasalahan kita. Masih diperpanjang lagi dengan daftar masalah-masalah mendasar lainnya meliputi sosial-politik-ekonomi-budaya. Bagaimana mungkin kita bergerak dari satu ekstrimitas ke eksterimitas lainnya.

Bertahun-tahun kita memiliki kesadaran mesti mendahulukan kewajiban. Kewajiban asasi tidak semata hak asasi. Kedua hal itu ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tak layak dipisah-pisahkan.Umat Islam yang sungguh-sungguh adalah “umat tengah” yang berjalan lurus di tengah jalan kebenaran. Pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa sungguh tak aman sekedar Kewajiban Asasi Manusia yang meniadakan hak asasi. Tidak nyaman sekedar Hak Asasi Manusia tanpa peduli dengan kewajiban sesama.

Selayaknya adalah utuh-lengkap antara hak dan kewajiban itu berjalin berkulindan. Tidak siapa pun akan menuai hak, kalau tak ada yang menunaikan kewajiban. Maka sorga tak akan di raih tanpa melaksanakan kewajiban taat dalam amar ma’ruf nahi munkar. Kewajiban ini diajarkan dalam amaliyah Ramadhan. Hak keampunan akan diberikan  Allah SWT kepada orang yang melaksanakan kewajiban dengan benar. Semoga kita termasuk kedalamnya. Amin.(dimuat di harian Haluan, edisi 25 Oktober 2007)