Menjauhkan Diri dari Kemurkaan Allah, Melalui Tazkiyah Nafs serta Penguatan Akidah dan Ibadah

 

Oleh : Buya H. Masoed Abidin

 

Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Masalah besar hari ini adalah gaya hidup tersebut mengarah kepada ; a. Budaya pengagungan materi  (materialistik),  b. Menghindari supremasi agama (sekularistik), c. Mengejar kesenangan indera, ittiba’ hawahu,  kenikmatan badani (hedonistik),  d. Penyimpangan dari budaya luhur (ABS-SBK), e. Interaksi kebudayaan melalui media informasi yang vulgar, f. Meluasnya Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral.

Dunia pendidikan kita juga digoncangkan oleh fenomena vandalistik marak terjadi ; a. Tawuran  pelajar, b. Kebiasaan a-susila dikalangan remaja, c. Kecabulan, pornografi, pornoaksi meluas. d. Minat yang menguat ke kehidupan non-science, Asyik mencari kekuatan gaib, Belajar sihir, paranormal, kekuatan jin,  Bertapa ketempat angker, Menyelami black-magic, percaya mistik, hipnotisme  dan sebagainya.

Mengatasi semuanya dengan mengambil Keutamaan Ajaran Agama Islam  membangun masyarakat kuat saling bekerjasama, mempunyai sikap kasih mengasihi dengan a. ukhuwwah, yakni kesaudaraan, b. mahabbah, yakni kasih sayang sesama makhluk karena mencintai Allah Maha Kuasa. c. ta’awun, yakni saling bantu membantu dalam kebaikan dan kemashlahatan ummah.

Pelecehan Nilai nilai luhur kehidupan selalu terjadi, ketika agama kurang di amalkan sehingga kekuatan ummat menjadi lemah.  Peran dan eksistensi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi dengan berbuat kebajikan kebajikan. Keberadaan manusia di permukaan bumi adalah untuk mengabdi kepada keutamaan perintah Allah saja.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأنْسَ إِلآ لِيَعْبُدُون

Ibadah adalah mematuhi Allah dengan cara ; a. tazkiyah nafs ; ilmu dan zikrullah, b. tazkiyah maliyah ; shadaqah, infaq dan zakat , c. tazkiyah amaliah ; niyat lillahi ta’ala. Menyiasati meruyaknya kemaksiatan yang akan merusak anak generasi dan kampung halaman, hanyalah dengan meningkatkan kepedulian sesama, sesuai ajaran agama Islam.

الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ ِفيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّه و أَنْفَقَهُ فِى حَقِّهِ أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ و أَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ وَ مَنْ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ وَ أَنْفَقَهُ فِى غَيْرِ حَقِّهِ أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ الهَوَانِ وَ رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِى مَالِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ لَهُ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Dunia itu manis dan hijau. Siapa yang berusaha memperoleh harta di dunia di jalan yang halal dan membelanjakannya menurut patutnya, niscaya orang itu diberi pahala oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Siapa yang mengusahakan harta di dunia tidak di jalan yang halal dan dinafkahkannya tiada menurut patutnya, niscaya Allah akan menempatkan orang itu di kampung kehinaan. Tidak sedikit orang yang menyelewengkan harta Allah dan Rasul-Nya memperoleh neraka di hari kiamat.”  (HR. Baihaqy dari Ibn Umar).

Memahami dan membangun kehidupan dunia yang penuh arti mesti dilakukan dengan kesadaran tinggi, secara perorangan, lembaga masyarakat serta badan pemerintahan, dalam upaya mengendalikan dorongan nafsul lawwamah yang tidak baik.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“ Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.”   Menjadi budak nafsu sama dengan menjadi musyrik.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa menjadi kewajiban semua pihak membentuk Generasi berbudi  luhur – akhlakul karimah – dalam berperilaku. Memiliki Iman taqwa kepada Allah. Menjaga silaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat yang madani (mudun = maju serta beradab). Tugas utama adalah mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak, melaksanakan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, yakni generasi yang memiliki keperibadian ; Salimul Aqidah (Aqidahnya bersih), Shahihul Ibadah (Ibadahnya benar), Matinul Khuluq (akhlaqnya kokoh), Qowiyyul Jismi (fisiknya kuat), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berfikir), Mujahadatul Linafsihi (punya semangat juang dalam melawan hawa nafsu). Untuk meraih itu semua maka pembentukan akhlak umat tak boleh diabaikan.

  مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبَ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ    

“ sesuatu perkara yang menyebabkan sesuatu kewajiban tidak akan dapat disempurnakan kecuali dengannya maka perkara tersebut adalah wajib juga hukumnya.” 

Rintangan sangat berat, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan. Bekali diri dengan iman yang cukup. Perbanyak amal shaleh. Paksa diri mentaati Allah. Sabarlah menghadapi kesulitan. Niscaya akan mendapatkan sorga abadi.

Pencemaran jiwa ( النَّفْسُ الحَيَوَانِيَّةُ ) terjadi disebabkan oleh dorongan keinginan memenuhi kehendak nafsu semata. Menjaga kesuburan Nafs  dengan  a. Ibadah shalat teratur, b. Amalan baik sepanjang masa, c. Zikrullah setiap waktu,  d. Membaca al-Qur’an, shalatul-lail, e. Senang berpuasa sunat.  Sabda Rasulullah ;

إِنَّ فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدِ كُلُّهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدِ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ —   

“ Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati .. “ 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  — adalah Jiwa yang memerintah manusia yang disebut الرُّوْحُ الاَمْرِي . Firman Allah mengingatkan peran kalbu itu amat berpengaruh.

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang  buta itu, adalah  hati yang  ada di dalam dada. (Al-Hajj:22:46). 

Beberapa upaya antara lain ; a). Menyucikan jiwa dengan zikrullah, b). Melaksanakan Wirid yang tertib (وَارِدُ الاِ نْتِبَاهِ ) hapus ghaflah, c). Menjaga Hati senantiasa bersih (yaqazah) menjauhi maksiat, d). Selalu bertaubat menghapus kesalahan dari perilaku maksiat, e). Memelihara kethaatan membentuk jiwa jauhari (النفس الجَوْهَرِي), bijak berhikmah, sadar berkesaudaraan.

Kehidupan di Dunia sebagai tempat beramal mesti diisi dengan kebaikan kebaikan mengerjakan yang diperintahkan, serta menghindari apapun yang dilarang. Kekayaan sesungguhnya ada pada kepatuhan.

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَ اجْتَنِبِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَوْرَعَ النَّاسِ وَ ارْضَ ِبمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ مِنْ أَغْنَى النَّاس  )    رواه ابن عدى عن ابن مسعود(

“ Tunaikanlah apa yang diwajibkan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling banyak ibadat. Jauhilah apa yang dilarang Allah kepada kamu mengerjakannya, niscaya kamu menjadi orang yang paling cermat. Relalah menerima apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR.Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas’ud).

Peringatan Nabi menganjurkan untuk selalu Ikhlas dan setia dalam pembimbingan zikrullah.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ)

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hamba-Ku, selama dia menyebut (mengingat) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut nama-Ku.  (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

 

Menanamkan Nilai Nilai Asmaul Husna dalam Kehidupan Remaja Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan berkarakter di Kota Padang.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

      I.  Membangun Karakter Generasi Unggul dengan Akhlak Mulia.

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) , adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani untuk Kota Padang, semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  (cognitive component) yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan ASMAUL HUSNA akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, mengimarahkan masjid/mushalla dengan shalat berjamaah serta menghidupkan majelis ta’lim .  Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah menulis : “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”  Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti  Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain. 

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang akan diperoleh, modalpun hilang.  Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

 نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)

    II. « Besar Perut, Banyak Tidur, Malas dan Lemah Keyakinan », Bahaya menimpa Ummat.

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Dan jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu, hidupnya tidak nyaman dan mereka tidak merasakan ketenangan karena ulahnya, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Insan yang baik tidak boleh lalai dalam hidupnya, tidak boleh bermalas-malasan, tidak boleh hanya hidup sekedar mengenyangkan perut, suka tidur dan lemah keyakinan. Apabila sikap itu yang tumbuh, maka bencana akan menimpa.

 

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau ,

….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim)

Ada sebuah prinsip yang baik untuk dipegang: “Jika ada tetangga yang mencela-ku, aku tidak akan membalas untuk mencelanya. Jika ada tetangga yang menyakiti hatiku. Aku tidak akan membalas untuk menyakitinya. Segala urusan dan segala sesuatunya akan kukembalikan kepada Allah SWT sebagai penjaga dan pemelihara diri, jiwa dan kehormatanku”. 

Prinsip dasar perilaku ini lahir karena berbuah nyata dari pengenalan dan pengamalan terhadap Asmaul Husna.  Apabila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terealisir (terwujud) dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas manusia atau masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang satu, yang selalu komitmen dalam memegang dan melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian amar ma’ruf dan nahi munkar akan terwujud, sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa lagi penuh dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Inilah yang akan membri kontribusi penguatan keyakinan di dalam menata kehidupan masyarakat yang yang dicita-citakan, “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad dari Sayyidah Aisyah r.a, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ

“Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia”.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Ajakan dakwah Islamiyah, tidak lain adalah seruan kepada Islam, yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul. Penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah. Di masa kini perlu digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  diantaranya dengan pengenalan Asmaul Husna, yang tujuannya untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur ……Upaya menyiapkan Masyarakat berprestasi, melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.  Di akhir zaman, manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina sebagaimana telah diprediksi oleh Rasul Allâh SAW berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

  III.  Membangun Qalbin Salim.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis (Qauliyah), sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam (Kauniyah) yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.” Membaca adalah proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di zaman modern dan era globalisasi, kondisi masyarakat pun mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

 

PENDIDIKAN dan BELAJAR yang dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK itu, menjadi rencana pengembangan SDM Berkualitas di masa mendatang tidak dapat dielakkan.

Kecanggihan Budaya ada dalam Pendidikan Anak Dini Usia (PADU). Tugas utama kini, mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak,  adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh. Di sini peran krusial dari pembelajaran aqidah tauhid, ibadah dan pengenalan Asmaul Husna.

Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Tatanan yang baik dapat saja berubah karena pengaruh zaman, dan karena longgar menjaga tata adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak  generasi, merusak bangunan  kehidupan.  Pembinaan akhlak generasi sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah, diantaranya  dapat dilakukan dengan  intensif melalui pengenalan dan pembelajaran Asmaul Husna.

Kalau kita bertanya, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Maka salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia telah berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.”

 IV.  Hidup Sarat Tantangan

Tantangan Pendidikan Generasi Muda di Kota Padang, ke depan sangat berat, sementara uluran tangan yang di dapat hanya sedikit. Hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat dijadikan  modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di Kota Padang. Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaum/kelompoknya. Selalu terjaganya kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan itu terlihat pada,

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Ada kiat untuk meraih keberhasilan ; Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, dek padi  mangko jadi. 

Artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan Dewan Pendidikan dapat berkembang menjadi pengawal pusat kebudayaan dengan karakter (marwah) yang bagaimanapun kelak dapat menjadi center of excelences (pusat musyawarah).

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak. Disini pentingnya pengenalan Asmaul Husna.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis. Reungkanlah petuah ini:

لا تسب إبليس فى العلانية و أنت صد يقه السر

Jangan sampai engkau mencaci maki Iblis terang-terangan tapi engkau menjadi temannya di kesunyian !. Berteman dengan iblis akan melahirkan kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak-anak sejak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, mengenali asmaul husna dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

   V.              Karakteristik Masyarakat Beradat dan Beragama di Kota Padang

Masyarakat  Padang ( dan umumnya Sumatera Barat dengan ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK) adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”).

 

Yang paling mendasar dari tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya  akan membentuk  Pandangan  Hidup dan Panduan  Dunia – PDPH – (perspektif), yang akan

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota Padang  berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. akan menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.
  4. d.      memberikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi pelajar (remaja) Kota Padang  dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan kota Padang Kota Tercinta di segala bidang.

Kekuatan Agama Islam  yang diyakini warga kota Padang sebenarnya dapat menjadi penggerak pembangunan.  Namun ada fenomena menyedihkan, diantaranya,

ü  minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah,

  • dayatarik dakwah agama mulai kurang,
  • banyak bangunan agama yang kurang terawat,
  • guru-guru agama yang ada banyak tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan.

ü  banyak kalangan (pemuda, penganggur) tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  domino di lapau, acara TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau).

Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).

Pergeseran budaya yang terjadi adalah ketika mengabaikan nilai-nilai agamaPengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti menjauh dari aqidah tauhid , perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, suka melalaikan ibadah.

Pendidikan yang diawali dengan pengenalan Asmaul Husna akan membawa anak didik meyakini kekuasaan Allah Azza Wajalla, serta mampu mengamalkan dalam akhlak mulia.

Cobalah dipikirkan bagaimana pesan Rasulullah SAW yang mengajak untuk, “takhallaquu bi akhlaqil-Llah .. Berperangailah anda dengan meniru sifat (akhlaq) Allah”.  Seiring dengan itu ada perintah Allah, agar kita semua  “ahsin kama ahsanal-Llahu ilaika “ .. artinya, berbuat ihsan (kebaikan) kamu sebagaimana Allah telah ihsan kepadamu (lihat QS. Qashash ayat 77). Di sini kita melihat prinsip pembelajaran melalui pengenalan Asmaul Husna itu.

 VI.  Empat Membawa Celaka, « Beku Mata, Kasat Hati, Loba dan Panjang Angan-angan »

Agama Islam membuka pintu kerja bagi setiap diri agar ia dapat memilih amal atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak akan menutup peluang kerja seseorang kecuali jika pekerjaan itu akan merusak fisik ataupun mental. Setiap pekerjaan yang merusak diharamkan oleh Islam.

Mencari nafkah dengan bekerja secara halal adalah suatu kewajiban setiap muslim. Beberapa faktor yang menjadi seseorang berhasil dan memperoleh keberkahan di dalam usaha atau kerjanya.  Selain faktor fisik material, serta modal atau kapital dan alat-alat pendukungnya, maka faktor mental spritual amat menentukan.  Kecerdasan mental spiritual ini akan dikuat kokohkan oleh pengenalan dan pengamalan Asmaul Husna, sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah-sekolah.

 

Untuk menghindari agar ke empat pokok celaka ini tidak menimpa, maka perlu dimiliki ;

  • Skill, keahlian, kepandaian dan keterampilan adalah faktor yang cukup menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang usaha dan pekerjaan. Dalam usaha dagang misalnya, diperlukan pengetahuan khusus seperti ekonomi umum, marketing, management, accounting (pembukuan), ditunjang oleh ketekukan..
  • Iman dan Taqwa,  – menjadi jaminan keberhasilan dan keberkahan setiap usaha dan pekerjaan.
  • Kejujuran, adalah modal setiap orang dalam bekerja yang terkadang terlupakan. Karena kejujuran seseorang dipercaya oleh orang lain. Jika seseorang menelantarkan kejujuran dengan berlaku khianat, curang atau culas, maka punahlah kepercayaan, sehingga sempitlah ruang geraknya dan sempit pula peluang rezekinya. Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya, adalah bersama para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Tirmidzi dan Hakim).
  • Azam yakni kemauan keras  dan Istiqamah (tekun, fokus dan konsisten). Kemauan keras untuk terus maju (azam), tekun (istiqamah) dan sabar memegang peranan penting dalam dunia usaha. Pekerja yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah lesu, loyo, apalagi putus asa. Mereka selalu memiliki azam dan istiqamah dalam bekerja dan membina usaha, dengan melahirkan inisiatif, daya cipta, gagasan dan kreasi-kreasi baru dalam rangka meningkatkan karya dan pengembangan usahanya. Sikap mental (qalbu) berupa azam dan istiqamah perlu diterapkan oleh para pelaku usaha, setiap pekerja, pemimpin dan bawahan di semua profesi yang ia tekuni.

Khulasahnya,            

Pendidikan berkarakter di Kota Padang dapat dilakukan dengan ;

  1. Mendidik masyarakat formal (sekolah, ruang  ruang pendidikan) ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim),  dengan memulai menanamkan akhlaqul karima (akhlak mulia), mengenalkan asmaul husna, mengimarahkan masjid-masjid, menguatkan pengendalian adat istiadat anak nagari dengan mengimplementasikan ABSSBK secara bersungguh-sungguh. 
  2. Menghidupkan dakwah membangun negeri.


Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan agama Islam, menuju pemerintahan yang amanah

 

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1]

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2]

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi – pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3]

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

 

 

Catatan Kaki


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

 

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

 

Itiqamah di Jalan Allah

Istiqamah Di Jalan Allah

Khuthbah Idul Adh-ha

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Di hari ini seluruh umat Islam Indonesia, yang jumlahnya lebih kurang 80 prosen dari hampir 225 juta penduduk Indonesia, yang hidup di tengah hampir satu setengah miliyar muslim di dunia, membahanakan tahmid dan syukur atas nikmat Allah yang besar, dengan mengumandangkan kalimat tauhid, Allahu Akbar, Mahabesar Allah, Maha Agung Allah, tidak ada syarikat bagi Nya, Maha Suci Allah dari sifat tercela. Setiap Muslim hari ini mengumandangkan kalimat takbir dan tahmid di manapun di tadah bumi, di bawah cungkup langit biru, sambil merenungkan peristiwa sejarah yang telah di nukil indah oleh Nabi Ibrahim Khalilullah beserta istrinya Hajar dan anaknya Ismail, sebagai bukti kebenaran ucapan takbir, Allah Akbar.

Inilah jihad besar mencari redha Allah, yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan kurban itu semata-mata karena hendak menjalankan perintah Allah SWT,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS.Alkautsar., 108 : 2)

Realita Kalimat Tahmid adalah Jihad Akbar.

Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkorban, artinya setiap saat taqarrub ila Allah – menghampirkan diri kepada Allah Yang Maha Besar –, Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.

Semua pengakuan perlu pembuktian, dengan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail A’laihimas-salam.

IBADAH KURBAN, mengikut millah Nabi Ibrahim AS secara lengkap disebutkan dalam QS.37, Shaffat, ayat 100-113, simbol taqarrub (mendekatkan), tafakkur (memikirkan) serta tadzakkur (mengingat) nikmat Allah, yang telah ditetapkan sebagai manasik bagi setiap umat beriman.[1] Ibadah adalah “persembahan hamba kepada Allah Yang Maha Kuasa” sebagai bukti ketaatan ‘abid (hamba) dalam menunaikan perintah, dan penerjemahan secara hakiki arti ibadah qurban itu. Beberapa ahli fiqh Islam meletakkan ibadah qurban tidak semata sunnat muakkad, bahkan menetapkannya pada taraf wajib bagi yang mampu. Refleksi ibadah ini adalah lahirnya sikap pengorbanan yang tulus, rela, sadar, menjadi bukti tanggung jawab yang tinggi dari makhluk terhadap khaliknya.[2] Allah SWT menyediakan pahala besar dari ibadah ini, “hasanah pada setiap helai bulu ternak yang di korbankan”, dan menjadikan ibadah qurban satu amal paling disenangi Allah di yaumun-nahar (hari qurban), puncak kegembiraan muttaqin.[3] Rasakan betapa redhanya Ibrahim AS mengorbankan anaknya, dan bagaimana ikhlasnya Ismail AS dalam melaksanakan perintah Allah, menjadi ruh dari ibadah qurban ini.

َقَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS.Ash-Shaffat : 102).

Pernyataan dari lubuk hati yang dalam,

Sekarang ini, saat kita merayakan Idul Adh-ha 1428 H/2007 M, lebih dari 200.000 jamaah haji Indonesia, berhimpun di Masy’aril Haram, mengumandangkan kalimat talbiyah bersama hamper 4 juta umat muslimin sedunia. Labbaika Allahumma Labbaika, Laa syarika laka labbaika, Panggilan Mu ku ta’ati, Ya Allah, panggilan Mu ku ta’ati, Pangilan Mu ku patuhi, Tak ada sekutu bagi Mu, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka, Laa Syarika laka, Sungguh kepunyaan Mu semata segala puja dan puji, Nikmat dan Kekuasaan milik Mu, Tiada sekutu bagi Mu !!

Di antara Jamaah Haji itu, mungkin terdapat saudara, ibu dan bapak kita, sanak keluarga, adik, kakak, teman sebaya, sekantor, atasan dan karyawan kita. Bahkan mungkin istri atau suami dan anak-anak kita. Mereka berbaurberpakaian ihram putih seperti layaknya kain kafan. Rambut dan pakaian kusut masai, berdebu, seperti musafir berjalan jauh — A t t a f a l u –, bau badan menusuk hidung, tanpa pengharum, sibuk bekerja keras, menguras tenaga, bermandi peluh, menyahuti panggilan Allah, Labbaika Allahumma Labbaika, bergulat melupakan kemewahan duniawi, semata untuk mencapai mabrur dan makbul.

Menjelang malam 10 Dzulhijjah, semua Prajurit Allah (Jundullah) yang masih berpakaian ihram, mulai meninggalkan Arafah menuju Mudzdalifah. Berbondong menuju Mina, menyempurnakan manasik mencapai Jamarat dan thawaf ifadhah. Satu perjuangan berat mendapatkan haji maqbul yang mabrur, dengan suci hati dari kecabulan (rafast), berperilaku taqwa, tidak tercemar kemilau dunia, menghindari kesia-siaan (fusuq), sanggup hidup dan memberi hidup kepada khalayak ramai dengan ukhuwah (integrasi) yang kuat kokoh, menjauhi pertengkaran (jidal) diikat persatuan hati (ikhlas) mencari redha Allah.

MAKNA IBADAH adalah lahirnya watak positif sebagai hasil jalinan hubungan komunikatif dengan ma’bud (hablum minallah), membentuk sisi kejiwaan (psychological side-effect) yang tampak pada sikap ikhlas (bersih), redha (siap sedia), shabar (tahan uji), istiqamah (disiplin), qanaah (hemat), jihad (rajin dan berani), taat (setia), syukur nikmat (pandai berterima kasih), yang merupakan dasar-dasar akhlaq mulia yang menjadi tugas pokok risalah keutusan Muhammad SAW.[4]

IBADAH mengokohkan hubungan mu’amalah, atau hubungan sosial kemasyarakatan, yang terlihat nyata pada jalinan tugas-tugas kebersamaan (hablum minan-naas), kesediaan meringankan beban orang lain, peduli dengan kaum fuqarak wal masakin, sedia memikul beban secara bersama, hidup dengan prinsip ta’awun (saling menolong, bekerja sama dan sama-sama bekerja).

Maka hikmah ibadah pembuktian yang nyata dari tauhidiyah (shalat, nusuk, hidup-mati), ditujukan kepada Allah, dengan sikap prilaku hubbullah, menghidupkan sunnah al muwahhidin, dan membudayakan mawaddah wa rahmah[5] (hubungan kasih sayang sesama manusia), syukur[6] atas nikmat Allah, berarti tunduk, cinta, pengakuan, memuji, redha, mawas diri dengan tafakkur (berfikir) dan tadzakkur (berzikir) atas hidayah-Nya, dan ihsan[7], bersikap peduli sesama.

Semangat terpuji ini, amat berguna di dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta, dengan keikhlasan, rela berkorban, semangat persatuan yang kuat, yang diraih dengan mabrur itu. Sejarah bangsa Indonesia banyak terkait dengan perjalanan Haji sampai kini. Sejak mula pertama kali sang Merah Putih berkibar di Padang Arafah (1946), jauh sebelum Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan para mujahid sesudahnya, di antaranya, Syeikh DR. H. Abdullah Ahmad, DR. H. Abdul Karim Amarullah, dan kawan-kawan, diikuti oleh Ilyas Yakub, Muchtar Luthfie, Hamka, dan lain-lainnya. Bahkan sejak abad 11 hingga abad 21 ini –, sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun sepuluh abad lamanya.

Berbahagialah satu bangsa yang memiliki para Hujjaj yang mabrur, ketika kembali kekampung halaman, mampu memberi contoh hajjan mabruran, sa’yan masykuran, dzanban maghfuran, dan tijaratan lan-taburan, dengan pengabdian membangun negeri, melawan kemelaratan, peduli terhadap mustadh’afin yang jumlahnya bertambah setiap hari[8], walau tanah air kita adalah negeri yang kaya., menggapai kebahagiaan tertinggi, maghfirah dan jannah, sesuai sabda Rasulullah SAW menyebutkan ;

الحَجُّ مَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءً إِلاَّ الَجنَّة artinya “Haji yang mabrur, tidak ada baginya pembalasan selain surga”. قِيْلَ وَ مَا بِرُّه Lalu ditanya orang, “apa yang dimaksud dengan birruhu ?” Rasulullah SAW menjawab, إِطْعَمُ الطَّعَامِ yaitu “memberi makan kepada Si Lapar”, dan و إِفْسَاءُ السَّلاَمِ artinya “menyebarkan keselamatan”, memelopori tegaknya keadilan dengan berbagai kebajikan yang pasti melahirkan keselamatan dan kedamaian bagi segenap manusia–.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Baihaqie).

Tonggak Sejarah

Peristiwa di hari ini, membawa kita larut kembali ke tonggak sejarah seribu empat ratus delapan belas tahun silam, 9 Zulhijjah 10 H bertepatan Maret 632 M. Di kala Nabi Muhammad SAW berdiri di tengah hampir 120.000 sabiquunal-awwaluun di kaki Jabal Rahmah, di Padang Arafah, menyampaikan wasiat timbang terima dakwah Risalah dengan wahyu terakhir,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلامَ دِينًا

“Dihari ini, Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan KU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Peristiwa yang disebut Haji Tamam atau Haji Kamal, sesuai wahyu terakhir itu, dikenal juga dengan Haji Wada’. Dalam khutbah Rasulullah SAW menetapkan prinsip-prinsip Islam dengan lengkap,Wahai manusia, Dengarkanlah perkataanku ! Sesungguhnya saya tidak datu, barangkali saya tak akan menemui kamu lagi sesudah tahun ini, di tempat ini selama-lamanya.”

Kalimat ini mengingatkan kita akan wasiat terakhir utusan Allah yang mulia, Muhammad SAW, yang menjadi suri tauladan,

1. Wahai manusia ! Sesungguhnya darah kamu dan harta benda kamu, adalah suci bagi kamu, sampai kelak kamu menghadap tuhanmu, pada suatu hari dan bulan yang sama sucinya dengan hari dan bulan ini. Sesungguhnya kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Tuhanmu akan menanyakan tentang segala amal-amalmu. Sesungguhnya saya telah sampaikan hal itu kepadamu”.

2. “Barang siapa yang menerima amanah hendaklah ditunaikannya amanah tersebut kepada orang yang mempertaruhkan amanah tersebut kepadanya”.

3. “Sesungguhnya setiap riba sudah dihapuskan. Tetapi kamu akan tetap memperoleh modal harta benda kamu“. Jangan kamu berlaku zalim dan jangan pula bersedia dizalimi oleh orang lain. “Allah telah menetapkan supaya Riba itu tidak ada. Dan sesungguhnya Riba dari (paman saya) Abbas bin Abdul Muthalib telah saya hapuskan sama sekali.

4. Dan sesungguhnya kebiasaan balas membalas, menumpahkan darah sebagai adat kebiasaan zaman jahiliyah telah dihapuskan. Dendam darah yang pertama saya hapuskan ialah dendam darah dari Rabi’ah bin al Harits yang dibesarkan di tengah-tengah Bani Laits dan telah dibunuh oleh Huzail.

5. Sungguh kamu mempunyai hak-hak atas istrimu. Hak kamu atas mereka ialah bahwa mereka tidak dibenarkan mendudukkan orang lain di atas tempat tidurmu. Mereka tidak boleh mengerjakan perbuatan-perbuatan nista. Jika mereka lakukan perbuatan itu, maka Allah mengizinkan kamu untuk memukul tanpa mencederai mereka. Tetapi jika mereka telah menghentikan perbuatan tersebut maka mereka berhak menerima nafkah dengan cara baik..

6. Terimalah wasiat untuk berbuat baik terhadap kaum wanita, mereka adalah orang yang harus dilindungi di sisimu. Telah halal bagimu faraj isterimu hanya dengan kalimat Allah. Pikirkanlah perkataanku ini wahai manusia ! Sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada kamu.

7. Saya tinggalkan kepada kamu dua pegangan. Jika kamu berpegang kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Ingatlah keduanya selalu, yakni Kitabullah (al Quran) dan Sunnahku (Sunah Rasulullah SAW).

8. Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan pikirkan, bahwa setiap muslim adalah saudara. Seluruh orang-orang Islam bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim dari saudaranya kecuali sesuatu yang diberikan kepadanya dengan hati yang suci. Janganlah kamu menganiaya dirimu. Perhatikanlah. Bukankah aku telah sampaikan kepada kamu ?

Menjawab orang banyak yang hadir ketika itu, “Sudah Yaa Rasulullah”. Lantas Rasul SAW berkata, “Yaa Allah, saksikanlah !!!”.

Walau dalam waktu dekat sesudah Haji Wada’ ini Rasulullah SAW. sudah wafat, namun jihad Islam tidak pernah mundur … إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْح ُ Apabila telah datang pertolongan Allah dan hari kemenangan”…,

Di tangan para sahabat, berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, Agama Islam menyebar sangat cepat … وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا “dan engkau lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah”. Hanya dalam kurun 50 tahun, telah tumbuh masyarakat Muslim mulai dari tepian sungai Indus di India hingga samudera Atlantik di barat, meliputi Asia Barat, jazirah Arab, Afrika Utara, Mideterianian atau lautan Putih Tengah …, semata karena pertolongan Allah dengan kemenangan beruntun dan kearifan diplomasi sampai kepada berlututnya Toledo dan Cordova ..,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا maka bertasbihlah engkau dengan pujaan-pujaanmu terhadap Allah Tuhan engkau dan beristiqfarlah akan dia. Sesunggunya Dia Allah maha memberi taubat” (QS. 110, an-Nashru 1-3).

Menjaga fathullah (anugerah kemenangan dari Allah), hanya semata-mata dengan kesungguhan jihad disertai istighfar, bersih iman tauhid dan akidah Islamiyah dengan tahmid dan tadzkir kepada Allah semata.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka (istiqamah) menegakkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadanya”.(QS. Fussilat; 30)

I s t i g h f a r bersumber dari kesadaran instrospeksi dengan jujur, mengevaluasi perjalanan yang di lalui. Tasbih, tahmid dan istigfar memperkuat sifat istiqamah, konsisten dalam garis Allah di medan juang manapun berada supaya tidak hanyut di bawah arus.

Memisahkan nilai‑normatif dalam aktifitas hidup manusia, dengan mengabaikan dominasi moral agama yang sebelumnya telah di jadikan ukuran kualitas manusiawi, pasti akan mengundang bencana berupa krisis citra kemanusiaan, karena hajat hidup tidak semata pemenuhan kebutuhan materiil, malah lebih oleh kepuasan spiritual yang melahirkan rasa aman, rasa bahagia dan hidup yang tenteram.

Merebut materi semata dengan menghalalkan serba cara, dapat menghapuskan kecintaan terhadap sesama manusia, dengan hilangnya kerukunan dan kesantu­nan. Nilai‑nilai halus kemanusiaan akan terusik dan terabaikan, manakala aktifitas kehidupan semata bersandar kepada penataan indivi­dualistic, menganggap bahwa kehidupan ukhrawi tidak kena mengena dengan kegiatan duniawi, akan berakibat jauh kepada manusia akan leluasa merampas hak orang lain, dan akhirnya berkembang kehidupan hedonistik, kriminalitas, sadisma, pergaulan tak bermoral, hilangnya kepercayaan di tengah pergaulan hidup, kemudian menjelma menjadi krisis (dharra’) yang sulit diatasi.

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia, indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, mesti berperan membentuk umat masa depan yang gemilang. Membangun umat yang baik, di awali dengan memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. ) رواه أحمد(

Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Alim Ulama mesti menjadi pengawal umat, menjaga jangan ada perpecahan di dalam masyarakat. Berpisahnya ulama dengan umat akan berakibat sangat pahit bagi umat Islam, yakni umat akan sesat dan bodoh, sabda Rasulullah SAW;

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ اِنتْزَِاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ وَلكَِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَافْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا أَوِ أَضَلُّوا )رواه البخارى و مسلم عن ابن عمر (

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hambanya, melainkan Allah mencabut ilmu dengan mengambil nyawa para ahli ilmu (ulama), sehingga setelah tiada lagi orang berilmu, orang banyak akan mengambil orang bodoh-bodoh menjadi pemimpinnya, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, karena itu, mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar). Artinya, apabila ulama yang menuntun umat tidak ada, maka umat akan menjadi liar kembali.

Fenomena sekarang generasi muda Islam – terutama di kota-kota besar – mulai asyik kembali mempelajari ajaran agama Islam yang murni. Selama ini, tanpa disadari agama telah diabaikan sampai kepada akibat yang membawa mereka jatuh kelembah kehinaan. Dunia mulai ingat kembali kepada misi Islam di tengah pergaulan Internasional, sebagai pernah di raih 14 abad silam, seperti dikatakan olehRub’ie bin Amir ketika berhadapan dengan seorang jendral Persi,

إِنَّ اللهَ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ النَّاسَ مِنْ عِبَادِةَ العِبَاد إِلى عِبَادَةِ الله وَ من ضَيِّقِ الدُّنْيَا عَلَى سِعَتِهَا و مِنْ جُور الأَدْيَان إِلىَ عَدَلِ الإِسْلاَم.

“Tuhan telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kep[ada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam”.

Sebenarnya, di dalam lubuk hati umat Islam masih berkumandang pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab yang menegaskan ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ ) رواه الحكم (

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam, kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaanlah yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di sinilah tanggung jawab besar para Ulama dan cendekiawan muslim untuk membimbing dan memberikan pedoman kepada umat. Seiring dengan tanggung jawab umarak, di antaranya melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Perpaduan hati antara Umarak dengan rakyatnya direkat oleh keadilan yang menjadi landasan kecintaan, diperkuat oleh pemurahnya hartawan dan cermatnya ulama. Inilah langkah awal dari persatuan. Bersihnya para pemuda dan sikap malu yang tertanam pada setiap perempuan akan menjadikan dunia bersih tak bernoda, sebagaimana di ingatkan oleh hadits Rasulullah SAW,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ. }رواه الديلمى عن عمر{

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak(pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, namun akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan di tengah alam dan masyarakat. Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih di mata rakyatnya. Perpaduan hati antara Umarak dengan rakyat menjadi landasan kecintaan, dan langkah awal menumbuhkan kekuatan sesuai sabda Rasulullah SAW,

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Aghniyak atau kalangan hartawan yang menguasai bidang-bidang ekonomi merajut kemakmuran masyarakat, sama memikul amanah menentukan corak masyarakat. Mereka adalah tonggak utama amat menentukan bagi tegak rubuhnya masyarakat itu. Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan hartawan itu sebagai:

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah,selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Terpilihnya Umarak dari orang-orang baik dan bijak, di sampingnya ada para pengusaha (aghniyak) dermawan, inilah yang menjadi jaminan terlaksana demokrasi dan menjadi syarat mutlak untuk menciptakan kemesraan hidup bermasyarakat yang ahsan (baik) itu. Demokrasi yang murni sangat sesuai dengan fitrah manusia, karena ditujukan untuk semua rakyat, tidak hanya untuk satu golongan dan kelompok. Selama berpuluh-puluh tahun, demokrasi dikaburkan oleh kekuasaan, dengan akibat yang sangat merugikan umat. Namun, kepincangan yang sudah lama dirasai tersebut, akhirnya disadari, kemudian telah membersitkan harapan akan adanya suasana perubahan zaman.

Betapapun kecilnya perubahan itu mestilah disyukuri dan dipelihara. Demokrasi mesti di kawal dan di jaga dengan baik, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Apabila tidak mampu memelihara nikmat, demokrasi akan menjadi laknat bertabur tindakan anarkis. Keadaan akan berubah dari terbaik bertukar menjadi terbalik, bertolak belakang 180 derajat. Ujungnya, masyarakat banyak akan dihimpit derita dan nestapa. Ketika itu, penguasa dan pengusaha akan berubah menjadi penindas dan penghisap. Di sampingnya akan tegak berhimpun para cendekiawan yang menjadi penghasut. Mau tidak mau, rakyat jelata terpaksa memikul beban berat, karena posisi rakyat hanya akan menjadi sekedar alat tunggangan untuk mencapai kedudukan semata. Maka, demokrasi tanpa akhlak akan membuka kesempatan kepada pemaksaan kehendak. Padahal ajaran demokrasi menetapkan satu pilihan demi kemashlahatan umat banyak dan terjaminnya kesejahteraan. Maka disini, peran umarak amat menentukan.

إِذَا كَانَ أُمَرَائُكُمْ خَيَارُكُمْ وَ أَغْنِيَائُكُمْ سَمَحَائُكُمْ وَ أَمْرُكُمْ شُوْرَى بَيْنَكُمْ فَظَهَرَ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ بَطْنِهَا

Manakala para pemimpin kamu diambil dari dari orang-orang baik di antara kamu dan para orang kaya kamu adalah orang-orang penyantun di antara kamu serta semua urusan kamu di musyawarahkan di antara sesamamu maka punggung bumi akan lebih baik sebagai tempat tinggalmu daripada — mati berkalang tanah, dalam perut bumi.

Karena itu perjuangan demokrasi yang adil tujuan utamanya agar kemiskinan tidak merajalela. Sunnah Rasulullah mewajibkan untuk selalu hati-hati dan mawas diri di dalam memilih pemimpin agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya satu-satunya hanyalah dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlak agama.

Apabila akhlak agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Pejuang demokrasi yang beriman memahami bahwa demokrasi tidak akan pernah tampil jika tidak ada penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama.

Artinya, demokrasi lahir dari rasa tanggung jawab dengan akhlak mulia. Demokrasi tampil lebih baik dengan terpeliharanya keteguhan prinsip (konsisten, taat asas) dalam kehidupan beradat yang luhur. Hati-hati dalam memilih dan mengangkat pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik.

إِذَا كَانَ أُمَرَائكُِمْ شِرَرُكُمْ وَ أَغْنِيَائِكُمْ بُخَلاَئِكُمْ وَ أَمْرُكُمْ فِى يَدِ نِسَائِكُمْ فَبَطْنِ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا.

“ Jika Umarak kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu adalah manusia-manusia bakhil budak harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, akan tetapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, perut bumi yakni mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Na’izubillahi min zaalik.

Generasi Depan mesti menjadi Pahlawan Pejuang.

Pembangunan masyarakat memerlukan unsur kepahlawanan. Pahlawan ialah manusia yang dapat menjangkau apa yang tidak dapat diraih manusia biasa. Pahlawan selalu mampu berkurban apa saja untuk kepentingan orang banyak. Kepahlawanan seperti ini, mestinya lebih banyak tampil dari kalangan angkatan muda. Nabi Muhammad SAW sangat sering mengingatkan umat tentang pemuda angkatan datang:

أٌوْصِيْكُمْ بِالشَّبَابِ فَإِنَّهُمْ أُرِقَ أَفْئِدِهِ، فَلَمَّا بَعَثَنِي اللهُ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا حَالَفَنِي الشَّبَابِ وَ خالَفَنِي الشُّيُوْخِ.

“Saya wasiatkan kepada kamu akan angkatan muda supaya dipelihara sebaik-baiknya. Pemuda-pemuda itu jiwanya sangat peka sekali, mudah digetarkan oleh situasi sekelilingnya. Dahulu waktu saya sendirian mula dibangkitkan sebagai Rasul berbondong pemuda mengelilingiku, bersumpah setia mendukung jihad fi sabilillah, pada hal di waktu yang sama masa itu, golongan-golongan tua malah jadi penantangku.”

Sukses Rasulullah Saw. tidak tertandingi dalam sejarah pembangunan Umat. Tampak nyata dari terjelmanya satu masyarakat yang komplit dengan tatanan dan peraturannya, dalam masa bakti selama 23 tahun, hanya karena banyak dukungan dansaham jihad angkatan muda. Sederetan nama-nama sahabat penting Rasulullah yang terkemuka, umurnya rata-rata di bawah umur Beliau, — berusia diantara umur belasan tahun dan tiga puluhan — sebagai contoh,Abu Bakar as Shiddiq berusia 37 tahun tatkala menjadi tiang penyangga dakwah Islamiyah. Usman bin Affan, berumur sekitar 20 tahun, tatkala memberikan pernyataan menerima Islam di hadapan Rasulullah. Umar bin Khattab yang menjadi pagar dakwah berusia 26 tahun, ketika tampil membela Islam. Ali bin Abi Thalib, berusia 8 ½ tahun. Abdul Rahman bin ‘Auf baru berumur sekitar 30 tahun. Demikian juga dari kalangan kaum perempuan, seperti Asma binti Abubakar dan Ummil Mukminin ‘Aisyah RA dan lainnya, rata-rata masih muda belia. Mereka semua adalah, إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan dan Kami telah tambahkan hidayah kami untuk mereka.”

Al Qur’an banyak sekali menampilkan tokoh-tokoh angkatan muda. Umpamanya Nabi Yusuf, Nabi Musa, Pemuda Ashabul Kahfi. Dan yang paling menyentuh adalah Ismail AS, yang sangat menyayangi Allah melebihi kecintaannya kepada nyawa dan kehidupannya. Kisah pahlawan Generasi Muda selalu tampil indah dalam membela kebenaran dan menegakkan prinsip keikhlasan serta keadilan.

Umat Islam Indonesia tidak terkecuali, apabila ingin meneruskan pembangunan, maka persoalan angkatan muda, mesti menjadi prioritas utama. Generasi muda harus melatih diri menjadi pahlawan di masa datang. Umat Islam Indonesia mesti prihatin manakala generasi muda tidak tersentuh ajaran agama. Karena yang akan tampil adalah generasi lepas kendali. Mereka akan tumbuh di pacu derasnya infiltrasi budaya, beriringan dengan kelalaian melatihkan peran kepada generasi pengganti, jalan akan di alih orang lalu.

Apabila pengawasan dan pendidikan terlupakan, orang tua atau ibu bapak akan menjadi layaknya ayam beranak itik. Setelah memiliki tenaga, mereka akan terbang ke dunia lain, tanpa hirau dengan budaya dan tamaddun bangsa sendiri.

Kelalaian dalam pembinaan akan melahirkan generasi lemah, seperti diperingatkan oleh Allah SWT dalam surat Maryam ,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, keturunan pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”(QS. Maryam, 19 : 59)

Sebagai penutup, marilah kita simak sebuah sabda Rasulullah untuk melempangkan jalan bagi kita dalam menghadapi segala tantangan yang menghadang kita dari berbagai penjuru, sebagai berikut:

قَالَ رَسُوْلُ الله صلعم: يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِيْنَ شَمِّرُوا فَإِنَّ الأَمْر جَدُّ، وَ تَاهَبُّوْا فَإِنَّ الرَّحِيْلَ قَرِيْبٌ: وَ تَزَوَّدُوا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ وَ خَفَّفُوا أَثْقَالَكُمْ وَ إِنّ َوَرَائِكُمْ عَقَبَةً كَؤُوْدًا لاَ يَقْطَعَهَا إِلاَّ المُخَفَّفُونَ.

“Wahai kaum muslimin, bersiap-siaplah karena perkara ini sangat serius. Siap sedialah karena saat kepergian sudah dekat. Persiapkanlah perbekalan karena perjalanan ini sangat jauh. Kurangilah bebab-bebanmu, karena di depanmu sudah menantang rintangan yang sangat menyulitkan, kecuali bagi orang-orang yang ringan bebannya.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةَ أُمُوْرًا شَدِيْدًا وَ أَهْوَالاً عِظَامًا وَ زَمَانًا صَعْبًا يَتَمَلَّكَ فِيْهِ الظُّلْمَةُ يَتَهَدَّرُ فِيْهِ الفُسُقُ فَيُضْطَهَدُ فِيْهِ الآمِرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يُضَاَح النَّاهُوْنَ عَنْ المُنْكَرِ،

Wahai manusia, sesungguhnya menjelang hari kiamat akan terjadi berbagai peristiwa yang sangat gawat. Dan berbagai bencana yang besar. Dan akan terjadi pula saat-saat yang kritis di mana kelompok orang-orang zalim berkuasa, dan orang-orang fasik memegang kedudukan penting. Sementara itu orang-orang yang menyeru kebaikan akan di tindas, selanjutnya orang-orang yang mencegah kemungkaran di tekan.

فَأَعِدُّوا لِذَالِكَ الإِيْمَانَ عَضُّوْا عَلَيْهِ بِالنَّوَاجِذِ وَ الجَوْءُ إِلَى العَمَلِ الصَّاِلحِ وَ أَكْرِهُوْا عَلَيْهِ النُّفُوْسَ وَ اصْبِرُوا عَلَى الضَّرَّاءِ تَفَضَّلُوْا إِلَى النَّعِيْمِ الدَّائِمِ.

Karena itu bersiaplah untuk menghadapi semua itu dengan bekal iman yang sangat cukup. Perbanyaklah amal shaleh dan paksalah dirimu untuk mentaatinya. Serta bersabarlah dalam menghadapi kesulitan ini, niscaya kalian akan mendapatkan ganjaran sorga yang abadi.”

Penutup

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama, selama ini hidup rukun dan damai karena kebetulan mayoritas mutlaknya adalah umat berakhlak Islam.

Umat Muslimin pada hari ini berkumpul di mana-mana melakukan shalat Idul Adha dengan segala amaliahnya bertujuan mempertebal iman dan taqwa kepada Allah. Sikap ikhlas dalam setiap ibadah Islam akan melahirkan rasa kesetiakawanan sosial. Suatu contoh konkrit, sebentar lagi kita akan melakukan penyembelihan hewan kurban dan membagikan daging kepadabaisal faqir (fakir yang melarat).

Selama empat hari ini berkumandang dengan lantang kalimat takbir, tahmid dan tasbih, walau ada sebahagian saudara muslim kita merasa cemas dan takut. Maka tugas kita bersama mengulurkan bantuan semampu kita.

Ketika canang kebebasan mulai diguguh, membangun suasana baru dengan perubahan, tidak jarang korban manusia berguguran karena hilangnya kendali yang melahirkan balas dendam dan disintegrasi. Bahaya yang mengancam generasi. Setiap kita berkewajiban mencegah, agar kondisi rusuh runyam itu tidak terjadi. Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 10 Zulhijjah



[1] Disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Prov.Sumbar. Ketua Umum BAZ Prov Sumbar, di Lapangan Imam Bonjol Padang, pada Hari Raya Idul Qurban, 10 Zulhijjah 1428 H/20 Desember 2007 M.



Catatan Akhir

[1] Dalam sebuah hadist disebutkan, tatkala para shahabat bertanya “Maa haa dzihi al-adhaa-hiy? (apa artinya udh-hiyah (memotong hewan kurban) itu?) maka Rasulullah SAW menjawab “Sunnatu abii-kum Ibrahim”(Sunnah atau ketentuan dari Bapakmu Ibrahim AS), (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). Lihat juga peristiwa kurban Ibrahim dalam QS.37,As-Shaffat, ayat 100-113.

Dan Al Quran Surat Hajj (22) ayat 34 menyebutkan dengan terang; “wa likulli ummatin ja’alnaa mansikan, liyadzkurusmallahi ‘alaa maa razaqakum min bahiimatil-an’aami, fa ilaahukum ilaahun waahidun, falahuu aslimuu, wa bassyiril mukhbitiina”, artinya “dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rezekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Satu (Allah SWT), karena itu berserah dirilah kepada Nya. Dan beri kabar gembiralah kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah)”.

[2] Sabda Rasulullah SAW; “ man wajada sa’ata li-an yudhah-hiya falam yudha-hiy fala yaqrubanna mushalla-na” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah), artinya “ siapa yang telah memiliki kesanggupan untuk berkurban dan tidak mau melaksanakan kurban, maka janganlah di hampiri tempat shalat kami”, untuk bahan penilitian lihat juga Nailul Authar V; 197-200, dan Al Majmu’ syarah Al Muhadzdzab VII; 382-386, dan Al Fath-hul Rabbani XIII; 57-60, dan Takmilul Fath-hul Qadir IX; 504-509, atau Subulus Salam 89-91.

Menurut istilah kurban, bermakna “persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa” (KUBI,1996 hal 744), berkurban artinya mempersembahkan kurban kepada Yang maha Kuasa, sebagai suatu tuntutan ajaran agama terhadap seseorang yang mampu (lihat KBIK,1995, hal 802). Sedangkan kata korban adalah kata kurban yang telah berobah makna, maka berkorban berarti menantang derita bahkan kematian untuk sesuatu tujuan yang sangat mulia atau ditujukan kepada sesuatu yang sangat di cintai, dan “pengorbanan” adalah hal, cara, hasil dari pekerjaan mengorbankan sesuatu itu (KUBI,hal: 718). Lihat Cyril Glasse,”Ensiklopedia Islam”, Ed.Indonesia, Jakarta 1996, hal 331-332

[3] Firman Allah menyatakan;

“dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya, dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta), dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS.22,Al.Hajj: 36).

Sabda Rasul; “maa lanaa minha?”, tanya sahabat, Rasulullah menjawab :”bi kulli sya’ratin hasanatun”, artinya “pada setiap helai bulu ternak yang di kurbankan itu, untukmu ada kebaikan”(HR.Ahmad dan Ibnu Majah).

Demikian pula sabda Rasul; “maa ‘amal ibnu Adama yauman-nahri ‘amalan ahabba ila^llahi min hiraaqati damin, wa innahu lata’tii yaumal qiyamati bi qurunihaa wa adzlaafihaa wa asy’arihaa; wa inna^ddama layaqa’u minal^lahi bi makaanin qabla an yaqa’a ‘alaal-ardhi, fa thibuu bihi nafsan”, artinya “tidak ada satu amalan anak cucu Adam yang paling disenangi Allah di hari nahar (hari raya kurban) adalah menumpahkan darah menyembelih hewan kurban. Kurban itu akan mendatanginya di hari kiamat lengkap dengan tanduk, kuku dan kulit (bulunya). Darah dari hewan yang di kurbankan itu telah diletakkan Allah pada satu tempat (terpilih) sebelum tertumpah ke bumi, maka bahagiakanlah diri-diri (orang yang berkurban) itu” (HR.At Turmudzi dan Ibnu Majah).

[4] Sabda Rasulullah SAW “Innama buits-tu li utammi makarimul akhlaq” artinya “ aku di utus untuk membentuk akhlaq mulia (bagi setiap manusia)” (Al Hadist).

[5] QS.Al An’am, ayat 162. Dan lihat, QS.(3) Ali Imran ayat 14 tentang “hubbusy-syahawat”, atau pada QS(9), At-Taubah, 24, tentang orang fasik (sangat mencintai dunia) yang tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan akhirnya menuju kehancuran.

Hadist Rasul “laa yu’minu aahadukum hatta yakuuna^llahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwaa humaa”, artinya “belum beriman seseorang diantara kamu hingga Allah dan Rasul lebih dia cintai dari apapun selain keduanya” (HR.Bukhari Muslim).

Sunnah al Muwahhidin, adalah contoh keikhlasan para pendahulu, lihat juga kisah Ibrahim QS.(37) Ash-Shaffat 100-111.

[6] Al Ghazali, dalam Ihya’ VI:79, menyebutkan syukur itu memiliki tiga rukun, (1). ilmu (tauhidullah), (2). sikap jiwa (hal gembira menerima pemberian Allah, tanpa mengomel), (3). amal (kemampuan meningkatkan nikmat kearah yang lebih positif)

[7] Ihsan, merasa di awasi oleh Allah, setiap gerak menjadi sangat terkendali. Dalam sebuah hadist, disebutkan “al ihsaan an ta’buda Allaha ka annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fainnahu yaraaka”, (HR.Bukhari,Muslim).

Ihsan (perbuatan baik), untuk semua makhluk, disebutkan dalam sabda Rasul Allah SAW Inna^llaha katabal-ihsan ‘alaa kulli syay-in, fa in qataltum fa ahsinul-qithlata, wa idza dzabahtum fa ahsinu^dzabha, wal-yuhidda ahadukum bisyafratuhu wal-yurih dzabihatahu” (HR.Muslim), yakni ada kewajiban jika membunuh secara ihsan (baik), menyembelih dengan baik (ihsan), dan tajamkan pisau, sempurnakan sembelihan.

Lihat juga QS.Qashash ayat 77, kewajiban ihsan di seluruh segi kehidupan duniawi; dan QS.(3) Ali Imran 134-135, tentang ciri-ciri muhsinin; juga QS.Al Baqarah (2) ayat 195, pada dasarnya menyuruh berinfaq dijalan Allah, peduli terhadap dhu’afak (orang lemah).

[8] Hari ini, jumlah masyarakat miskin itu sudah mencapai 38, 5 juta di tengah 215 juta bangsa ini.

Wali Kota Padang Buka Plang JAI

Walikota Padang Buka Plang JAI

HEADLINE NEWS
Sabtu, 14 Juni 2008
Plang JAI Padang Diturunkan
Wako Ikut Shalat Jumat Bersama Jemaat Ahmadiyah

Sample Image BUKA PLANG : Wali Kota Padang Fauzi Bahar disaksikan Ketua MUI Kota Padang Syamsul dan jemaat Ahmadiyah membuka plang organisasi JAI Padang, kemarin. Pembukaan dan penurunan plang tersebut berlangsung aman dengan pengawalan polisi.
 
Padang, Padek– Setelah melewati dialog yang cukup panjang, akhirnya Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kota Padang memberikan izin kepada Wali Kota Padang Fauzi Bahar untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang, kemarin.

 

 Penurunan plang ini berlangsung damai serta disaksikan jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya, Wako Padang bersama Ketua MUI dan Kepala Departemen Agama (Depag) Kota Padang turut shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah di Masjid Mubarak. 

Penurunan plang nama organisasi JAI Padang ini berawal sejumlah pengurus JAI Padang melakukan pertemuan dengan Wali Kota Padang Fauzi Bahar beserta Kepala Kesbangpol Surya Budhi, MUI Kota Padang Syamsul Bahri Khatib dan Kepala Depag Kota Padang, Syamsul Bahri di Palanta Kota Padang, sekitar pukul 09.30 WIB. Pengurus JAI yang hadir, Ketua JAI Sumbar J S Nurdin, Ketua JAI Padang  Syaiful Anwar dan Mubaligh JAI Mudatsir. Selama hampir dua jam dialog tertutup itu berlangsung.

Sekitar pukul 12.30 WIB, Wako Padang Fauzi Bahar bersama pengurus JAI menuju Kantor Cabang Ahmadiyah Kota Padang Jalan Agussalim Padang dengan pengawalan polisi. Begitu sampai, Wako bersama rombongan menuju Masjid Mubarak berada dalam kompleks JAI Padang untuk shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah.

Shalat Jumat diimami Ketua JAI Padang Syaiful Anwar setelah sebelumnya menyampaikan khutbah jumat. Usai shalat Jumat, Wako kembali berdialog dengan JAI di lantai 2 Masjid Mubarak berlangsung sepuluh menit sekitar pukul 13.30 WIB. Wali Kota Padang Fauzi Bahar pun mendapatkan izin dari jemaat Ahmadiyah untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang.

“Sebagai pemimpin di Kota Padang saya berharap tidak ada kericuhan yang terjadi usai keluarnya SKB tiga menteri tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah yang menyimpang. Makanya saya meminta kesediaan JAI untuk menurunkan plang JAI, sedangkan untuk peribadatan saya tidak turut campur,” ujar Wali Kota Padang, Fauzi Bahar kepada wartawan.

Ketua JAI Padang, Syaiful Anwar mengatakan pihaknya sangat taat kepada pemerintah. Jika pemerintah mengganggap hal tersebut merupakan jalan kedamaian mereka menerima. “Kami orang yang taat pada aturan pemerintah, jika pemerintah yang menurunkan kami terima. Namun pemerintah tidak berhak melarang kami untuk melaksanakan ibadah. Sebab ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya,” ujarnya.

Penurunan Plang Aman

Fauzi Bahar beserta rombongan dan disaksikan jemaat Ahmadiyah membuka plang nama organisasi JAI Padang terletak di depan kantor cabang Ahmadiyah. Saat plang dibuka sejumlah jemaat tampak tidak sanggup menahan haru, meskipun demikian mereka tidak melakukan perlawanan. Hanya saja seorang perempuan tua dipanggil “Anduang” berteriak-teriak, mengatakan pemerintah tidak adil terhadap Ahmadiyah.

“Pemerintah tidak adil, mengatasnamakan hukum bertindak semena-mena,” teriaknya. Aksi Anduang berusaha diredam sejumlah anggota Ahmadiyah perempuan, namun ia tetap berteriak-teriak menghujat pemerintah. Meskipun demikian aksi tersebut tidak menganggu berjalannya penurunan plang nama organisasi JAI Padang.

Plang nama organisasi JAI yang diturunkan diletakan di mobil Kesbangpol dan dibawa ke kantor Kesbangpol untuk diamankan. Aksi Wako tersebut menarik perhatian sejumlah warga yang lewat di jalan tersebut. Bahkan sempat terjadi kemacetan sebab antrean warga yang melihat langsung dengan memarkir mobil dan kendaraan di jalan raya. (zikriniati zn)