Peran dan Fungsi pemerintahan terdepan dalam implementasi dan pelestarian ABSSBK

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mari kita syukuri nikmat Allah terhadap daerah kita Sumatera Barat yang hidup dalam satu tatanan langgo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Minangkabau. Karena dengan keterpaduan hati mensyukurinya di ikuti langkah berkesinambungan akan banyak memberi kontribusi membangun daerah kita khususnya Sumatera Barat dengan kekuatan adat budaya masyarakatnya dalam filosofi Adat Bersendi Syarak (Syariat Islam) dan Syarak Bersendi Kitabullah. Filosofi kehidupan MHA Minangkabau dengan Langgo Langgi perkerabatan nagari, kampuang, suku, kaum, jurai yang bermula dari rumah tangga. Pada semua tingkatan perkerabatan ada pengawalan pada posisi dan peran yang jelas karajo ba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng. Artinya ada pembagian pekerjaan. Filosofi ABSSBK dalam perkerabatan MHA Minangkabau menyatu dengan keyakinan dan syariat Agama Islam bersendikan Kitabullah. Darisini pembentukan watak generasi (pendidikan berkarakter) itu sebenarnya di awali.Gambar

Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagi mengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang. Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni. Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya. Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur. Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan. Gaya hedonis materialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjing yang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.

Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama. Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai. 

Perpaduan Adat dan Syarak berpedoman Firman Allah ; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Perbedaan suku dan jurai adalah kekuatan besar adat di Minangkabau “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”. Masyarakat Minangkabau dengan filosofi ABSSBK memiliki ciri khas Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK menjadi  konsep dasar Adat Nan Sabana Adat yang diungkap lewat Bahasa sebagai Kato Pusako, yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) dan berbagai tataran (structural levels). Paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk perspektif atau Pandangan  Dunia dan Panduan  Hidup masyarakatnya.

Diantaranya ;

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. menjadi  petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
  4. memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang. 

 

Gambar

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.

  1. Mengutamakan prinsip hidup “keseimbangan” karena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).
  2. Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya.” (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusir tenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung. 

Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. “Kefakiran  membawa kepada kekufuran ”  (Hadist).

Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggang tempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung. Tata-ruang adalah asset sangat berharga dalam Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanami tabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Tata ruang yang jelas memberikan posisi strategis kepada peran pengatur dan pendukung sistim banagari yang telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, urang mudo, dan bundo kanduang).  Nagari tidak hanya sebatas ulayat hukum adat. Paling utama wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat yang menjadi pendukung kegiatan masyarakat di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros. Hasilnya tergantung dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakatnya.
Strategi Membangun Nagari dalam pengamalan ABSSBK dititik beratkan kepada menghormati kesepakatan bersama dalam adaik sa lingka nagari. Perubahan deras arus kesejagatan tidak boleh mencerabutkan masyarakat dari akar budayanya. Perilaku yang mengedepankan perebutan prestise materialistis dan individualis adalah karena penyimpangan implementasi dari nilai nilai budaya ABSSBK. Kepentingan bersama masyarakat mesti menjadi tugas utama pelestarian ABSSBK. Idealisme kebudayaan Minangkabau yang menjadi sasaran cercaan “usang” mestinya dihadapi dengan penampakan kehidupan beradat dan beragama yang kuat di Sumatera Barat. Upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif, gotong royong) mesti digiatkan. Disini letak kekuatan Nagari di Minangkabau yang seakan sebuah republik kecil itu. Mini Republik ini punya sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri. Bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri  dalam “adaik sa lingka nagari” dikawal Suku, Sako dan Pusako yang menjadi kekuatan menetapkan Peraturan Nagari.

Membangun nagari muara pertama pada supra struktur pemerintahan nagari. Wali Nagari mestinya berperan sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat adat di nagarinya. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki dengan pemerintahan dikecamatan atau kabupaten. Sebagai pimpinan dalam adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari.

Strategi pemerintahan nagari  bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara). 

Disamping itu muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan). Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya. Mestilah dipahami bahwa masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja. Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen.

Maka langkah strategis yang penting adalah,

1. Menguasai informasi substansial.

2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.

3. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari.

4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

Strategi pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. Sebab Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya  diperhalus.

Daya kemauan masyarakat dikembangkan untuk percaya kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tanpa mengharapkan balas jasa atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat dan tatanan kehidupan bersama. Optimisme banagari  mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

P

embentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan hati (qalbin Salim) menghiasi nurani manusia dengan nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan dan kecerdasan budaya diperhalus oleh kecerdasan emosional dan dipertajam kemampuan periksa atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Kelemahan mendasar pada dasarnya karena melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama karena tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu.

Kelemahan internal akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran tanpa kawalan atau karena dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula. Peran tidak boleh dilalaikan mempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial ekonomi,  tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari diantaranya;

  1. Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong).
  2. Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah.
  3. Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).
  4. Menggali potensi SDA yang ada di nagari selaras dengan perkembangan dan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat.
  5. 5)       Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak nilai budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam.

Gambar

Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam dengan “memperindah nagari” dengan indikator  utama adalah ;

a)      Pencapaian moral adat.  Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building.

b)      Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali  komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. Pemeranan fungsi fungsi elemen masyarakat.

c)       Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Maka kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.  

Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi). Tercerabutnya agama dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakat adatnya. Penerapan filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah semestinya tampak jelas pada  syarak (agama Islam) mangato (memerintahkan) maka adat mamakai (melaksanakan). Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya di dalam tatanan kehidupan mesti menjadi landasan dasar pengkaderan regenerasi. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Akibatnya akan terlahir bencana.  Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalannya terekam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial  masyarakatnya serta tutur kata yang baik.

 

Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan. Maka peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan adalah menghidupkan lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu yang telah berhasil membawa umat dengan informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik dalam Implementasi dan Pelestarian ABSSBK.  Strateginya dengan menanamkan kearifan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Ada kewajiban menularkan warisan luhur budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah. Kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Provinsi Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau yaitu ABSSBK mestinya tumbuh dengan komitmen fungsional bermutu tinggi seiring kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana. Perencanaan kerja secara komprehensif akan mendorong terbinanya center of excelences.  

KHULASAH

Akan sulitlah dibantah jika masyarakatnya sudah mati jiwa pastilah akan sulit diajak berpartisipasi karena telah kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin. Jangan dibiarkan umat digenggam oleh pemimpin otoriter yang meninggalkan prinsip musyawarah. Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikan. Perankan kembali organisasi formal dan fungsikan peran ninik mamak, alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari”  dengan sistem komunikasi koor­dinasi antar organisasi pada pola pembinaan kaderisasi pimpinan formal nagari dan suku. Dalam gerak “membangun nagari”  setiap fungsionaris nagari menjadi pengikat umat membentuk masyarakat yang lebih kuat.

Semua fungsionaris formal suku dan kaum senyatanya adalah kekuatan sosial yang efektif. Terbukti bahwa Nagari lebih banyak dibangun dengan kekuatan anak nagari sendiri. Bahkan sedikit sekali yang bergantung kepada APBNasional atau APBDaerah. Maka Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan dalam mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam terhadap masyarakat anak nagari.

Gambar

Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Spiritnya adalah

(a). Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi).

(b). Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).

(c). Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.

(d). Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.

(e). Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

(f). Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.

(g). Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.  

Begitu semestinya peranan dan fungsi strategis Pemerintahan Terdepan di Nagari bersama sama dengan Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di nagari nagari dalam membangun serta menjaga nagari-nagari yang tertata rapi menapak alaf baru di Sumatera Barat (Minangkabau) dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK. Insya Allah. v

 Padang, April 2012  M

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

 
Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

 

Sikap skeptis dan dingin

Tatkala orang orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin.  Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”. Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis.

Dalam era perubahan di sepanjang kurun ini dengan tetap memelihara nafas pembaruan (ishlah) warga kampus mestinya selalu siap menjadi generasi pelopor yang selalu merujuk kepada Misi Rasulullah SAW, dengan memantapkan perannya sebagai generasi Rabbani.

Generasi Penyumbang

Masa depan sangat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Pembentukan generasi penyumbang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan. Generasi inovator sangat di perlukan pada era reformasi  supaya tidak terlahir generasi pengguna (konsumptif) yang akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara. Lihat QS.28:83. Generasi mendatang mesti siap memerankan pemeliharaan destiny sendiri, menanamkan kebebasan terarah dengan tanggung jawab bersama, meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.

Satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap harmonis dengan menghindari tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting. Research dan pengembangan serta kualita diri generasi akan membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Disini kita dapat merasakan spirit reformasi. Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan  kurangnya penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), lemahnya minat menuntut ilmu, akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.[1]

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Konsekwensinya, generasi kini memikul beban berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna.

Generasi yang lahir dari satu rumpun bangsa mestilah tumbuh menjadi kekuatan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

X Generation.

Kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya (X Generation). Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional  dan non-science.

Problematika ini hanya akan teratasi dengan memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan agama yang campur aduk, agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya intensif ini berkemampuan untuk menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

Tantangan Millenium baru Kearifan Menangkap Perubahan Zaman

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu, kenya­taannya terjadilonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[2] Di era globalisasi terjadi perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[3]

          Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[4] Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan. Setiap Muslim mesti ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini.

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[5] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, adalah titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. Aqidah dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan, membentuk manusia berwatak patuh dengan ketaatan, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah. Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[6]

          Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[7] Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[8]

          Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (aqidah) secara benar. Hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.   Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).        

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi, tidak semata pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksana- kan perintah-perintah Allah tanpa reserve. 

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, biarpun melawan kesenangan selera nafsu permisif. Penegakan konsistensi terhadap suruhan dan larangan terwujud dengan sikap ketaatan penuh dengan disiplin diri (istiqamah) karena dorongan mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring. Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Secara aktual paradigma Laa ilaah illa Allah menetapkan manusia pada hakikat sebagai pejuang pelaksana menjadi penggerak gagasan dalam kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Dipastikan hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis yang menyerahkan diri kepada nasib, atau bersikap apatis dan pesimis. Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

   

Pusat pembinaan umat

“Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [9] Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[10] Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya.    

Masjid warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.

          Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[11] Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.

Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.

Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.

Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[12] Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.

Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah.. Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :

“ orang-orang yang beriman kepada Allah,

“ dan kepada hari kemudian,

“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,

“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,

          “ maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).

          Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.

Padang, Maret 2012.


[1]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[2]   Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, dan “perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena per­saingan yang tinggi dan tajam

[3]  Dari kehidupan sosial berasaskan kebersa­maan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas‑asas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepe­mimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional). Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing negara. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism”, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).     Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,”  artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.”      Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past) Allah berfirman: “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)

[4]  The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.

[5]    Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[6]   Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[7]   Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[8]   Lihat QS.14:24-25.

[9]  Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.

[10] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).

[11] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat-hebat menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.

[12] “Coba hitung beberapa puluh ribu jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.

Menjauhkan Diri dari Kemurkaan Allah, Melalui Tazkiyah Nafs serta Penguatan Akidah dan Ibadah

 

Oleh : Buya H. Masoed Abidin

 

Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Masalah besar hari ini adalah gaya hidup tersebut mengarah kepada ; a. Budaya pengagungan materi  (materialistik),  b. Menghindari supremasi agama (sekularistik), c. Mengejar kesenangan indera, ittiba’ hawahu,  kenikmatan badani (hedonistik),  d. Penyimpangan dari budaya luhur (ABS-SBK), e. Interaksi kebudayaan melalui media informasi yang vulgar, f. Meluasnya Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral.

Dunia pendidikan kita juga digoncangkan oleh fenomena vandalistik marak terjadi ; a. Tawuran  pelajar, b. Kebiasaan a-susila dikalangan remaja, c. Kecabulan, pornografi, pornoaksi meluas. d. Minat yang menguat ke kehidupan non-science, Asyik mencari kekuatan gaib, Belajar sihir, paranormal, kekuatan jin,  Bertapa ketempat angker, Menyelami black-magic, percaya mistik, hipnotisme  dan sebagainya.

Mengatasi semuanya dengan mengambil Keutamaan Ajaran Agama Islam  membangun masyarakat kuat saling bekerjasama, mempunyai sikap kasih mengasihi dengan a. ukhuwwah, yakni kesaudaraan, b. mahabbah, yakni kasih sayang sesama makhluk karena mencintai Allah Maha Kuasa. c. ta’awun, yakni saling bantu membantu dalam kebaikan dan kemashlahatan ummah.

Pelecehan Nilai nilai luhur kehidupan selalu terjadi, ketika agama kurang di amalkan sehingga kekuatan ummat menjadi lemah.  Peran dan eksistensi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi dengan berbuat kebajikan kebajikan. Keberadaan manusia di permukaan bumi adalah untuk mengabdi kepada keutamaan perintah Allah saja.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأنْسَ إِلآ لِيَعْبُدُون

Ibadah adalah mematuhi Allah dengan cara ; a. tazkiyah nafs ; ilmu dan zikrullah, b. tazkiyah maliyah ; shadaqah, infaq dan zakat , c. tazkiyah amaliah ; niyat lillahi ta’ala. Menyiasati meruyaknya kemaksiatan yang akan merusak anak generasi dan kampung halaman, hanyalah dengan meningkatkan kepedulian sesama, sesuai ajaran agama Islam.

الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ ِفيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّه و أَنْفَقَهُ فِى حَقِّهِ أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ و أَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ وَ مَنْ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ وَ أَنْفَقَهُ فِى غَيْرِ حَقِّهِ أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ الهَوَانِ وَ رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِى مَالِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ لَهُ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Dunia itu manis dan hijau. Siapa yang berusaha memperoleh harta di dunia di jalan yang halal dan membelanjakannya menurut patutnya, niscaya orang itu diberi pahala oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Siapa yang mengusahakan harta di dunia tidak di jalan yang halal dan dinafkahkannya tiada menurut patutnya, niscaya Allah akan menempatkan orang itu di kampung kehinaan. Tidak sedikit orang yang menyelewengkan harta Allah dan Rasul-Nya memperoleh neraka di hari kiamat.”  (HR. Baihaqy dari Ibn Umar).

Memahami dan membangun kehidupan dunia yang penuh arti mesti dilakukan dengan kesadaran tinggi, secara perorangan, lembaga masyarakat serta badan pemerintahan, dalam upaya mengendalikan dorongan nafsul lawwamah yang tidak baik.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“ Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.”   Menjadi budak nafsu sama dengan menjadi musyrik.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa menjadi kewajiban semua pihak membentuk Generasi berbudi  luhur – akhlakul karimah – dalam berperilaku. Memiliki Iman taqwa kepada Allah. Menjaga silaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat yang madani (mudun = maju serta beradab). Tugas utama adalah mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak, melaksanakan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, yakni generasi yang memiliki keperibadian ; Salimul Aqidah (Aqidahnya bersih), Shahihul Ibadah (Ibadahnya benar), Matinul Khuluq (akhlaqnya kokoh), Qowiyyul Jismi (fisiknya kuat), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berfikir), Mujahadatul Linafsihi (punya semangat juang dalam melawan hawa nafsu). Untuk meraih itu semua maka pembentukan akhlak umat tak boleh diabaikan.

  مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبَ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ    

“ sesuatu perkara yang menyebabkan sesuatu kewajiban tidak akan dapat disempurnakan kecuali dengannya maka perkara tersebut adalah wajib juga hukumnya.” 

Rintangan sangat berat, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan. Bekali diri dengan iman yang cukup. Perbanyak amal shaleh. Paksa diri mentaati Allah. Sabarlah menghadapi kesulitan. Niscaya akan mendapatkan sorga abadi.

Pencemaran jiwa ( النَّفْسُ الحَيَوَانِيَّةُ ) terjadi disebabkan oleh dorongan keinginan memenuhi kehendak nafsu semata. Menjaga kesuburan Nafs  dengan  a. Ibadah shalat teratur, b. Amalan baik sepanjang masa, c. Zikrullah setiap waktu,  d. Membaca al-Qur’an, shalatul-lail, e. Senang berpuasa sunat.  Sabda Rasulullah ;

إِنَّ فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدِ كُلُّهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدِ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ —   

“ Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati .. “ 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  — adalah Jiwa yang memerintah manusia yang disebut الرُّوْحُ الاَمْرِي . Firman Allah mengingatkan peran kalbu itu amat berpengaruh.

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang  buta itu, adalah  hati yang  ada di dalam dada. (Al-Hajj:22:46). 

Beberapa upaya antara lain ; a). Menyucikan jiwa dengan zikrullah, b). Melaksanakan Wirid yang tertib (وَارِدُ الاِ نْتِبَاهِ ) hapus ghaflah, c). Menjaga Hati senantiasa bersih (yaqazah) menjauhi maksiat, d). Selalu bertaubat menghapus kesalahan dari perilaku maksiat, e). Memelihara kethaatan membentuk jiwa jauhari (النفس الجَوْهَرِي), bijak berhikmah, sadar berkesaudaraan.

Kehidupan di Dunia sebagai tempat beramal mesti diisi dengan kebaikan kebaikan mengerjakan yang diperintahkan, serta menghindari apapun yang dilarang. Kekayaan sesungguhnya ada pada kepatuhan.

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَ اجْتَنِبِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَوْرَعَ النَّاسِ وَ ارْضَ ِبمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ مِنْ أَغْنَى النَّاس  )    رواه ابن عدى عن ابن مسعود(

“ Tunaikanlah apa yang diwajibkan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling banyak ibadat. Jauhilah apa yang dilarang Allah kepada kamu mengerjakannya, niscaya kamu menjadi orang yang paling cermat. Relalah menerima apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR.Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas’ud).

Peringatan Nabi menganjurkan untuk selalu Ikhlas dan setia dalam pembimbingan zikrullah.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ)

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hamba-Ku, selama dia menyebut (mengingat) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut nama-Ku.  (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

 

Menanamkan Nilai Nilai Asmaul Husna dalam Kehidupan Remaja Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan berkarakter di Kota Padang.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

      I.  Membangun Karakter Generasi Unggul dengan Akhlak Mulia.

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) , adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani untuk Kota Padang, semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  (cognitive component) yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan ASMAUL HUSNA akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, mengimarahkan masjid/mushalla dengan shalat berjamaah serta menghidupkan majelis ta’lim .  Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah menulis : “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”  Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti  Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain. 

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang akan diperoleh, modalpun hilang.  Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

 نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)

    II. « Besar Perut, Banyak Tidur, Malas dan Lemah Keyakinan », Bahaya menimpa Ummat.

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Dan jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu, hidupnya tidak nyaman dan mereka tidak merasakan ketenangan karena ulahnya, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Insan yang baik tidak boleh lalai dalam hidupnya, tidak boleh bermalas-malasan, tidak boleh hanya hidup sekedar mengenyangkan perut, suka tidur dan lemah keyakinan. Apabila sikap itu yang tumbuh, maka bencana akan menimpa.

 

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau ,

….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim)

Ada sebuah prinsip yang baik untuk dipegang: “Jika ada tetangga yang mencela-ku, aku tidak akan membalas untuk mencelanya. Jika ada tetangga yang menyakiti hatiku. Aku tidak akan membalas untuk menyakitinya. Segala urusan dan segala sesuatunya akan kukembalikan kepada Allah SWT sebagai penjaga dan pemelihara diri, jiwa dan kehormatanku”. 

Prinsip dasar perilaku ini lahir karena berbuah nyata dari pengenalan dan pengamalan terhadap Asmaul Husna.  Apabila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terealisir (terwujud) dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas manusia atau masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang satu, yang selalu komitmen dalam memegang dan melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian amar ma’ruf dan nahi munkar akan terwujud, sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa lagi penuh dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Inilah yang akan membri kontribusi penguatan keyakinan di dalam menata kehidupan masyarakat yang yang dicita-citakan, “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad dari Sayyidah Aisyah r.a, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ

“Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia”.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Ajakan dakwah Islamiyah, tidak lain adalah seruan kepada Islam, yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul. Penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah. Di masa kini perlu digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  diantaranya dengan pengenalan Asmaul Husna, yang tujuannya untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur ……Upaya menyiapkan Masyarakat berprestasi, melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.  Di akhir zaman, manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina sebagaimana telah diprediksi oleh Rasul Allâh SAW berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

  III.  Membangun Qalbin Salim.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis (Qauliyah), sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam (Kauniyah) yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.” Membaca adalah proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di zaman modern dan era globalisasi, kondisi masyarakat pun mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

 

PENDIDIKAN dan BELAJAR yang dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK itu, menjadi rencana pengembangan SDM Berkualitas di masa mendatang tidak dapat dielakkan.

Kecanggihan Budaya ada dalam Pendidikan Anak Dini Usia (PADU). Tugas utama kini, mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak,  adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh. Di sini peran krusial dari pembelajaran aqidah tauhid, ibadah dan pengenalan Asmaul Husna.

Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Tatanan yang baik dapat saja berubah karena pengaruh zaman, dan karena longgar menjaga tata adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak  generasi, merusak bangunan  kehidupan.  Pembinaan akhlak generasi sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah, diantaranya  dapat dilakukan dengan  intensif melalui pengenalan dan pembelajaran Asmaul Husna.

Kalau kita bertanya, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Maka salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia telah berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.”

 IV.  Hidup Sarat Tantangan

Tantangan Pendidikan Generasi Muda di Kota Padang, ke depan sangat berat, sementara uluran tangan yang di dapat hanya sedikit. Hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat dijadikan  modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di Kota Padang. Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaum/kelompoknya. Selalu terjaganya kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan itu terlihat pada,

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Ada kiat untuk meraih keberhasilan ; Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, dek padi  mangko jadi. 

Artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan Dewan Pendidikan dapat berkembang menjadi pengawal pusat kebudayaan dengan karakter (marwah) yang bagaimanapun kelak dapat menjadi center of excelences (pusat musyawarah).

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak. Disini pentingnya pengenalan Asmaul Husna.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis. Reungkanlah petuah ini:

لا تسب إبليس فى العلانية و أنت صد يقه السر

Jangan sampai engkau mencaci maki Iblis terang-terangan tapi engkau menjadi temannya di kesunyian !. Berteman dengan iblis akan melahirkan kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak-anak sejak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, mengenali asmaul husna dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

   V.              Karakteristik Masyarakat Beradat dan Beragama di Kota Padang

Masyarakat  Padang ( dan umumnya Sumatera Barat dengan ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK) adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”).

 

Yang paling mendasar dari tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya  akan membentuk  Pandangan  Hidup dan Panduan  Dunia – PDPH – (perspektif), yang akan

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota Padang  berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. akan menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.
  4. d.      memberikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi pelajar (remaja) Kota Padang  dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan kota Padang Kota Tercinta di segala bidang.

Kekuatan Agama Islam  yang diyakini warga kota Padang sebenarnya dapat menjadi penggerak pembangunan.  Namun ada fenomena menyedihkan, diantaranya,

ü  minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah,

  • dayatarik dakwah agama mulai kurang,
  • banyak bangunan agama yang kurang terawat,
  • guru-guru agama yang ada banyak tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan.

ü  banyak kalangan (pemuda, penganggur) tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  domino di lapau, acara TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau).

Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).

Pergeseran budaya yang terjadi adalah ketika mengabaikan nilai-nilai agamaPengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti menjauh dari aqidah tauhid , perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, suka melalaikan ibadah.

Pendidikan yang diawali dengan pengenalan Asmaul Husna akan membawa anak didik meyakini kekuasaan Allah Azza Wajalla, serta mampu mengamalkan dalam akhlak mulia.

Cobalah dipikirkan bagaimana pesan Rasulullah SAW yang mengajak untuk, “takhallaquu bi akhlaqil-Llah .. Berperangailah anda dengan meniru sifat (akhlaq) Allah”.  Seiring dengan itu ada perintah Allah, agar kita semua  “ahsin kama ahsanal-Llahu ilaika “ .. artinya, berbuat ihsan (kebaikan) kamu sebagaimana Allah telah ihsan kepadamu (lihat QS. Qashash ayat 77). Di sini kita melihat prinsip pembelajaran melalui pengenalan Asmaul Husna itu.

 VI.  Empat Membawa Celaka, « Beku Mata, Kasat Hati, Loba dan Panjang Angan-angan »

Agama Islam membuka pintu kerja bagi setiap diri agar ia dapat memilih amal atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak akan menutup peluang kerja seseorang kecuali jika pekerjaan itu akan merusak fisik ataupun mental. Setiap pekerjaan yang merusak diharamkan oleh Islam.

Mencari nafkah dengan bekerja secara halal adalah suatu kewajiban setiap muslim. Beberapa faktor yang menjadi seseorang berhasil dan memperoleh keberkahan di dalam usaha atau kerjanya.  Selain faktor fisik material, serta modal atau kapital dan alat-alat pendukungnya, maka faktor mental spritual amat menentukan.  Kecerdasan mental spiritual ini akan dikuat kokohkan oleh pengenalan dan pengamalan Asmaul Husna, sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah-sekolah.

 

Untuk menghindari agar ke empat pokok celaka ini tidak menimpa, maka perlu dimiliki ;

  • Skill, keahlian, kepandaian dan keterampilan adalah faktor yang cukup menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang usaha dan pekerjaan. Dalam usaha dagang misalnya, diperlukan pengetahuan khusus seperti ekonomi umum, marketing, management, accounting (pembukuan), ditunjang oleh ketekukan..
  • Iman dan Taqwa,  – menjadi jaminan keberhasilan dan keberkahan setiap usaha dan pekerjaan.
  • Kejujuran, adalah modal setiap orang dalam bekerja yang terkadang terlupakan. Karena kejujuran seseorang dipercaya oleh orang lain. Jika seseorang menelantarkan kejujuran dengan berlaku khianat, curang atau culas, maka punahlah kepercayaan, sehingga sempitlah ruang geraknya dan sempit pula peluang rezekinya. Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya, adalah bersama para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Tirmidzi dan Hakim).
  • Azam yakni kemauan keras  dan Istiqamah (tekun, fokus dan konsisten). Kemauan keras untuk terus maju (azam), tekun (istiqamah) dan sabar memegang peranan penting dalam dunia usaha. Pekerja yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah lesu, loyo, apalagi putus asa. Mereka selalu memiliki azam dan istiqamah dalam bekerja dan membina usaha, dengan melahirkan inisiatif, daya cipta, gagasan dan kreasi-kreasi baru dalam rangka meningkatkan karya dan pengembangan usahanya. Sikap mental (qalbu) berupa azam dan istiqamah perlu diterapkan oleh para pelaku usaha, setiap pekerja, pemimpin dan bawahan di semua profesi yang ia tekuni.

Khulasahnya,            

Pendidikan berkarakter di Kota Padang dapat dilakukan dengan ;

  1. Mendidik masyarakat formal (sekolah, ruang  ruang pendidikan) ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim),  dengan memulai menanamkan akhlaqul karima (akhlak mulia), mengenalkan asmaul husna, mengimarahkan masjid-masjid, menguatkan pengendalian adat istiadat anak nagari dengan mengimplementasikan ABSSBK secara bersungguh-sungguh. 
  2. Menghidupkan dakwah membangun negeri.


Membangun Generasi Unggul

A.    Membangun Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

“  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi). Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

  1. B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu.  Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur . Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.  Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi. Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman : وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim). Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada, (1). adanya rasa memiliki bersama, (2). kesadaran terhadap hak milik, (3). kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, (4). kesediaan untuk pengabdian, (3). terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri. Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;  a. Tanggungjawab Kepada Allah. b. Tanggungjawab Kepada Diri, c. Tanggungjawab Kepada Ilmu, d. Tanggungjawab Kepada Profesi, e. Tanggungjawab Kepada Masyarakat, f. Tanggungjawab Kepada Sejawat, g. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

Wassalam.

 

Pesan Terakhir Rasulullah SAW

Wasiat Rasulullah SAW

Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya.

Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.”

“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.

Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri.
Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih.
Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini.
Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”

“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT,  kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail  dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya.

Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :

“Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami.
Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat.
Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja.
Yang pandai bicara itu adalah Alquran,  dan yang diam itu ialah maut.
Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian,  Beliau kemudian mulai merasakan sakit.

Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari  dan sering diziarahi para sahabat.
Saat Saat Terakhir Sakitnya Rasulullah SAW

Dalam sebuah kitab diterangkan,  bahwa Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.

Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat.
Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW.  Sampai di sana, Bilal memberi salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”

Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”

Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah,
Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu.

Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW
dan memberi salam seperti tadi.  Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW.

Baginda berkata :
“Masuklah wahai Bilal,  sesungguhnya penyakitku ini semakin berat,
oleh karena itu,  kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.”

Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”

Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.

Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong.
Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan.
Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”

Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas,  lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka  dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid,  Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah.

Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum muslimin,
kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah.
Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT  dan mengerjakan segala perintah-Nya.
Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian.
Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”

Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

— di Masjid Al Nabawi, Madinah Haram.

Izrail Menjemput Rasulullah

Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :

“Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah,  dan jika engkau hendak mencabut rohnya,  hendaklah engkau melakukan  dengan cara yang paling lembut sekali.
Jika engkau pergi ke rumahnya,  minta izinlah terlebih dahulu.
Kalau ia izinkan engkau masuk,  maka masuklah engkau ke rumahnya
dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk,  hendaklah engkau kembali padaku.”

Setelah Malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah SWT,
Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi.

Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah,
ia pun memberi salam :
“Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?”
(mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah,  bolehkah saya masuk?)

Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata :
“Wahai hamba Allah,  Rasulullah SAW sedang sibuk,
sebab sakitnya yang semakin berat.”

Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula,  dan kali ini seruan malaikat itu  telah didengar oleh Rasulullah SAW,  lantas beliau bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.”

Fatimah menjawab :
“Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu,  aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit,  sebaliknya dia memandang saya dengan tajam  sehingga badan saya terasa menggigil.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?”

Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”

Rasulullah menjawab ;
“Dia adalah Malaikat Izrail,  malaikat yang akan memutuskan  segala macam nafsu syahwat  yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan
dan  yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi  setelah mengetahui,
bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya  semakin dekat,  ia pun menangis sejadi-jadinya.

Ketika Rasulullah mendengar tangisan Fatimah,  Beliau pun berkata :
“Janganlah engkau menangis wahai Fatimah,  engkaulah orang pertama dalam keluargaku  yang akan bertemu denganku.”

Rasulullah SAW mempersilahkan Malaikat Izrail masuk.

Kemudian Rasulullah SAW pun menjemput (mengundang dan memperslahkan)  Malaikat Izrail masuk.  Malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah.”

Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Waalaikassaalam, wahai Izrail,  engkau datang menziarahi aku
atau untuk mencabut rohku?”

Berkata malaikat Izrail :
“Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu,  itupun kalau engkau izinkan.
Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.”

Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?”

Berkata Izrail :
“Saya tinggalkan Jibril di langit dunia,  semua para malaikat sedang memuliakan dia.”

Tidak berapa lama,
Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW.

JIBRIL MENDAMPINGI RASULULLAH
DALAM MENEMPUH SAKARATUL MAUT

Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril,
Beliau pun berkata :
“Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.”

Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”

Rasulullah bertanya lagi :
“Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.”

Berkata Jibril :
“Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit.
Semua pintu surga telah dibuka,  dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah SAW :
“Alhamdulillah.
Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”

Berkata Jibril :
” Allah SWT telah berfirman :  “Sesungguhnya aku telah melarang
semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu,  dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum
umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW:
“Sekarang aku telah lega  dan telah hilang rasa susahku.
Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”

Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya.

Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat),
Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”

Jibril nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau.
Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”

Jibril berkata :
“Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu
di kala engkau dalam sakaratul maut ?”

ALLAHUAKBAR

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun …

PESAN DIAKHIR HAYAT RASULULLAH SAW

Anas bin Malik RA bercerita,  ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada,
Beliau bersabda :
“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”

Ali bin Abi Thalib berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali,  dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah,  seraya Beliau berkata :
“Umatku, umatku.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;
” Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,
kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi  lagi kokoh.
Dan jika mereka memperoleh kebaikan [Kemenangan dalam peperangan atau rezki],  mereka mengatakan : “Ini adalah dari sisi Allah”.
Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana  mereka mengatakan:
“Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.

Katakanlah:  “Semuanya (datang) dari sisi Allah”.
Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik)  hampir-hampir tidak memahami pembicaraan  [Pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan] sedikitpun ??”  (Q.S An-Nisa’:78) …

Dalam sepotong hadist Rasulullah SAW mengingatkan kita ;
” Memadailah bagi kalian,  kematian itu menjadi pelajaran ..”
(kafa bil mauti mau’idzah …!!!) …

Wallahu a’lamu bis-shawaab …

 إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ.

Wassalam

“BALIMAU” nan SABANA BALIMAU .. adalah “Saling Memaafkan sesama”

Persiapkan diri untuk Beribadah dalam Ramadhan …

Masukilah Ramadhan dengan kebersihan hati, niat yang ikhlas mencari redha Allah semata ..  Semoga Ramadhan kini membawa berkah…  Amin.

Hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah,  meramaikan masjid dimanapun kita berada.

Rasulullah SAW telah bersabda bahwa ..  “Sesiapa saja sholat (berjamaah) bersama imam  (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar  (beringsut dari tempat duduknya),  niscaya akan ditulis baginya  ganjaran beribadat satu malam”.

Biasakanlah lidah untuk berzikir  secara terus menerus, dan janganlah tergolong ke dalam  kategori orang-orang yang tidak mau berzikir  atau hanya berdzikir sedikit saja. Firman Allah mengingatkan kita semua yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzaab :41) · Juga Sabda Rasulullah  dari  Abu Hurairoh, beliau Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berkata : “ Al Mufarridun telah mendahului ” mereka bertanya:  ‘Siapakah Al Mufarridun wahai Rasululloh?’   Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “ Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir ”   [Hadits riwayat Muslim dalam shohihnya, kitab Ad Du'a wa Dzikir wa Taubah wal Istighfar, bab Al Hats Ala Dzikr, no. 2676].

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat  dan bulan beramal,  bukan bulan untuk tidur  dan bermalas-malasan. Ramadhan adalah bulan keampunan. Maka upaya mendapatkan keampunan Allah itu antara lain telah diberikan panduannya di dalam Al Quranul Karim yang artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar (shiddiq), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah (mutashaddiqiin), laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah (berdzikir kepada Allah dengan banyak), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzaab. :35)

Satu kali, semasa Rasulullah sedang berkhutbah,  Jibril datang kepada beliau sambil berdoa .. Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan tersebut  yang di aminkan oleh Rasulullah  Shallalahu’alaihi wa sallam  berisikan ; “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad,  apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan  dia tidak melakukan (tidak memohon) maaf  terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya  (jika masih ada) ..  Amin kata Rasulullah …

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan  dia tidak berma’afan terlebih dahulu  antara suami istri “ ..  Amin .. jawab Nabi Muhammad SAW,

 “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad,  apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan  dia tidak bermaafan terlebih dahulu  dengan orang-orang di sekitarnya” ..  Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin ..

Para sahabat bertanya,  Ya Rasulullah kenapa engkau menyebut Amin  dalam khotbah engkau tadi ???

Rasul menjawab,  bahwa Jibril berdoa dan aku mengaminkan  yang di doakannya seperti tadi itu ” …

Maka bermaafanlah satu sama lain  sebelum memasuki Ramadhan, dan inilah arti “balimau” yang sebenarnya,  bukan hanya pergi mandi mandi ke tepi laut,  ke tepi danau, ke tepi tasik,  ke dalam Lubuk dan tepi Sungai,  sehingga kadang kala bukannya balimau yang di dapat  tetapi malah “balunau” jadinya ..

Moga terhindar kita semua  dari do’a Jibril tersebut ..  Amin Ya Mujib as Sailina ..

Selain dari itu,  semasa kita merasakan “lapar”  karena “menahan” atau  i m s a k   dalam melaksanakan ibadah puasa,  maka ingatlah selalu  bahwa kita adalah makhluk yang lemah.

Kita tidak akan mendapatkan  berbagai makanan dan minuman serta nikmat yang ada di tangan kita sekarang ini,  apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang memberikannya.

Bergiatlah selalu agar kita tetap dapat memberi makanan untuk orang  yang berbuka puasa,  karena keuntungannya amat besar dari sisi Allah Azza wa Jalla.

Maka bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Keluarkan infaq dan zakat dengan teratur.

Ramadhan mestinya kita jadikan  bulan latihan rohani dan jasmani melaksanakan kehidupan beradat  sesuai tuntunan Kitabullah  dan Sunnah Rasulullah …  Jauhilah sifat “mubazir”  dalam perbelanjaan, dalam makan-minum,  dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini.

Perbuatan mubazir adalah  satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah karena mubazir itu perbuatan syaithan.   Perilaku mubazir akan mengurangkan amalan sedekah.  Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh  pintu kebaikan dan rezeki.

Jangan berlebih-lebihan  dalam hal menyediakan  berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur),  hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk,  lantas mereka akan kehilangan peluang di siang  (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran,  agar masa keemasan dalam Ramadhan tersebut  tidak hilang lenyap sedemikian rupa  tanpa bekas dalam jiwa  dan pembinaan karakter shaum Ramadhan ini.

Pelunturan kadar ummat Islam  lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah “kemelaratan” karena boros  dan “kebodohan” karena mubadzir dalam semua sisi kehidupan  pada sebahagian besar ummat ini.  Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran telah menyebutkan bahwa posisi ummat itu  berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ;  “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhawna ‘anil munkari,  wa tu’minuuna billahi”,  artinya sebenarnya kamu adalah ummat terbaik  yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia,  karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf  dan menegah dari yang munkar,  serta beriman kepada Allah.

 Moga Ramadhan kita kali ini  lebih berkualitas  dari Ramadhan sebelumnya ..  Amin .. 

Mohon Maaf lahir bathin ..  Wassalam dari kami semua ..

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar (shiddiq), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah (mutashaddiqiin), laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah (berdzikir kepada Allah dengan banyak), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzaab. :35)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Artinya: “Dari Abu Hurairoh, beliau Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berkata : “ Al Mufarridun telah mendahului ” mereka bertanya:  ‘Siapakah Al Mufarridun wahai Rasululloh?’

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “ Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir ”

[Hadits riwayat Muslim dalam shohihnya, kitab Ad Du'a wa Dzikir wa Taubah wal Istighfar, bab Al Hats Ala Dzikr, no. 2676].

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzaab :41) · ·

    • Remialis JimyTks atas nasehatnya Buya

      about an hour ago · Like
    • Anggun Gunawantarimo kasi atas kirimannyo artikelnyo buya…..:)

      33 minutes ago · Like
    • Idris TaluMasukan yang amat bermakna dalam menempuh Ramadhan al Mubarak.

      17 minutes ago · Like

Kewaspadaan dan Antisipasi Menghadapi Bencana Alam

Kewaspadaan dan Antisipasi

Menghadapi Bencana Alam

Kembalilah kepada Allah

 

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

G

 

empa bumi adalah fenomena alam, yang tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Maha Pencipta Alam. Alam telah diciptakan sempurna dengan hukum-hukum yang jelas atau sunnatullah (nature wet) hukum alam =     لا تبديل لخلق الله

Fenomena alam itu berlaku sepanjang masa, menurut kehendak Khalik, pada jangka-jangka waktu tertentu, ada kalanya ketika bumi diratakan dan lempengan samudera bergerak kebawah, pulau-pulau melekat dan terseret, memuntahkan apa yang ada di bawah hingga di dalamnya menjadi kosong (QS.al Insyiqaq:3-5), dan ketika pulau-pulau terangkat dan air laut menyusut menjauhi pantai kemudian disusul lautan dijadikan meluap (QS.al-Infithaar:3-5),

Di sini kita memetik hikmah dari satu musibah (bencana alam) bertalian dengan “keimanan” kepada Yang Maha Rahim, bahwa cobaan demi cobaan akan menjadikan umat tambah waspada dan kuat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ  ( عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ)  سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah. (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

 

Bencana alam (tsunami, gempa, gunung meletus) senyatanya harus dianggap sebuah pembelajaran/latihan dari Allah untuk “manusia yang percaya” agar bersiap menghadapi kiamat. Dengan bencana itu sesungguhnya tumbuh keyakinan kuat bahwa kiamat – besar ataupun kecil – pasti dan mesti akan datang. Namun tak seorangpun tahu dengan pasti kapan akan datangnya, karena ada 5 (lima) ketidakberdayaan manusia (Lukman: 34)

1.   Hanya Allah yang tahu kapan saat terjadinya sesuatu (kiamat/gempa),

2.    Tidak seorangpun yang diberi tahu apa yang akan terjadi besok,

3.    Tidak seorangpun tahu dengan pasti kapan titik hujan pertama jatuh,

4.     Tidak seorangpun tahu selengkapnya yang ada pada rahim (kehamilan dan saat/kepastian kelahiran),

5.      Tidak seorangpun tahu bila dan dimana tempat dia akan mati.

Memang tidak dapat dibantah bahwa antara cobaan dengan kelakuan manusia erat kaitannya, sering kali kelalaian manusia menjaga kaedah alam dan dorongan keserakahan telah menjadikan manusia mendustakan hukum2 Allah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bias menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077], berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

Kebencanaan yang terjadi di bumi banyak diakibatkan oleh peran makhluk manusia yang lalai dan serakah. “Terjadinya bencana di darat atau di laut karena ulah tangan manusia”.

Keserakahan akan mengundang bahaya dan bencana. Keserakahan terjadi karena menolak bimbingan Khalik, ( فَكَذَّبُوهُ ) karena mereka mendustakan (petunjuk Nabi),  فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ lalu mereka digoncang oleh gempa yang dahsyat, akhirnya menuai bencana فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ  dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka, (Al Ankabut : 37).  Ayat ini mengingatkan betapa eratnya hubungan gempa dengan pendustaan terhadap kekuasaan Allah atau menolak tauhidullah.

Kita memang mengerti bahwa tidak semua manusia dapat menjaga dan menerima keimanan kepada Tuhan dengan sepenuh hati sebagaimana telah pernah terjadi pada umat-umat dahulu yang mendustakan kekuasaan Allah, bahkan ini akan berlaku sampai akhir zaman.

Tidak semua manusia mampu mempunyai iman yang benar, seperti pernah terungkap dalam peristiwa bencana taufan besar pertama di zaman Nabi Nuh dimana keluarganya sendiri tidak dapat diselamatkan, karena mengandalkan kekuatan alam semata,  قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ  Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Melalui pandangan agama dan wahyu Ilahi dapat dipelajari dengan sungguh bahwa ketika bala bencana datang tidak ada satu kekuasaan pun yang mampu menahan dan menolaknya, kecuali hanya dengan pertolongan serta rahmat Allah, قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِم   Inilah yang diingatkan oleh Nuh dengan berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang“. (QS.Huud:43).

Al-Qur’an memberi jelas diantara tanda-tanda kiamat itu ketika bumi digoncang  dan air meluap, biasanya ketika itulah manusia tahu mana yang telah mereka perbuat mana yang mereka dahulukan (prioritas) manapula yang mereka lalaikan. Dan bencana kalau sudah datang dari Tuhan tiada satupun kekuasaan yang dapat menolak kecuali segera kembali kepada Allah SWT, sebab datangnya bencana gempa seringkali menyebabkan derita yang berkepanjangan.

Dengan berbagai cobaan itu manusia yang beriman atau yang masih mempunyai sedikit keyakinan dapat kembali kepada Tuhan, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meraih rahmat dan keampunan dari Allah SWT.

فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ

قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا

إِنْ هِيَ إِلاَّ فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

“Maka ketika mereka digoncang gempa bumi,

Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?

Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya“.(QS.Al A’raf:155)

Ketika seseorang hamba mendapat ujian (bala’ dan musibah) dibalik itu ada tangan kekuasaan Allah SWT yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik sesudah itu. (inna ma’al ‘ushry yusraa). Seorang hamba mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin yang Maha Kuasa.

Maka sikap terbaik dalam menghadapi musibah adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha, seperti bunyi do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

Kesimpulan

Di antara antisipasi dan kewaspadaan menghadapi berbagai bencana alam adalah dengan teguh bersandar kepada kekuasaan Allah melalui upaya-upaya:

  1.     hindari perbuatan maksiat yang dapat mengundang bencana,
  2.        perbaiki ibadah dan selalu berdoa kepada Allah mengantisipasi kepanikan,
  3.          patuhi bimbingan para ahli bertalian dengan semua aspek bencana yang terjadi, sehingga tercipta kewaspadaan,
  4.          hindari isu dan jauhi mempercayai nujum agar tidak lahir fitnah,
  5.           perbanyak dzikrullah, sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, SAW.

 

لا إله إلا الله العظيم الحليم

لا إله إلا الله رب العرش العظيم

لا إله إلا الله رب السماوات و الأرض و رب العرش الكريم

ياحي يا قيوم برحمتك استغيث

إنالله و إنا إليه راجعون، اللهم أجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها

 

 

Penjabaran dan Operasional ABS-SBK, Mengembalikan Nilai-Nilai Keminangkabauan ke akar “Syarak Mangato adat memakaikan”.

DRAFT BUYA H.MAS’OEDABIDIN

MENGEMBALIKAN NILAI-NILAI KEMINANGKABAUAN KE AKARNYA

MEMULANGKAN SIRIH KE GAGANG DAN PINANG KE TAMPUKNYA

CIRI PERTANDA JATI DIRI GENERASI MINANGKABAU

RUMUSAN PENJABARAN DAN OPERASIONAL  KOMPILASI HUKUM ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT MINANGKABAU, ALAS PIJAK PENYUSUNAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH

DI PROPINSI SUMATERA BARAT

 

 

 Hukum Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah sesungguhnya yang menjalin hubungan dengan Allah Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara sesama manusia manusia, serta hubungan antar lingkungan dengan alam semesta sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.

Inilah yang jadi ciri pertanda jati diri masyarakat adat Minangkabau, sebagai pandangan dunia dan pandangan hidup, yang dapat member arah dan pegangan perilaku serta perbuatan masyarakatnya.

Secara strategis hubungan itu sangat berperan sebagai pengembangan jati diri kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi ketika berhadapan dengan pengaruh budaya asing yang tidak selaras dengan falsafah hidup bernegara bangsa Indonesia, Pancasila.

Hubungan antar masyarakat adat Minangkabau sebagai bangsa Indonesia telah merajut jalinan kebudayaan bangsa Indonesia yang bhinneka bentuknya, sangat berperan guna pengembangan dan pembinaan identitas dan menjadi perekat kekuatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Adat bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah (ABS-SBK) di Minangkabau telah menjadi rujukan dari etika bagi seluruh sistim masyarakat adat Minangkabau, seperti sistim social, sistim ekonomi, sistim politik, sistim hokum, sistim pendidikan, dan lain-lainnya guna meningkatkan kemampuan generasi bangsa dalam menyerap ilmu dan teknologi, dan memperkuat ketahanan nasional berasakan Pancasila, dan di dalam menyikapi kehidupan ekonomi, social dan politik Internasional.

Menghadapi hubungan dengan kebudayaan asing yang tidak terelakan itu, masyarakat adat Minangkabau dalam Provinsi Sumatera Barat, berupaya menyumbangkan nilai-nilai ajaran adatnya yang berfilosfi “Alam Takambang Jadikan Guru”, suatu konsep kemanusiaan yang egaliter sebagai pencerminan dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mereka anut.

 

 

Penjabarannya

Masyarakat Sumatera Barat sebagai masyarakat yang beradat dan beragama, meyakini bahwa Kebenaran Yang Benar, berada di Jalan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan itu pula, masyarakat adat Minangkabau melihat dirinya dan kiat melihat alam dan perubahan yang terjadi dengan penjiwaan egaliter, bahwa “jika bermain dengan alam, patah tumbuh hilang berganti, pusaka lama tidak berubah”, yang artinya setiap yang bersifat instrumental dapat berubah, namun yang fundamental tak terganti.

Filosofi “Alam Takambang Jadikan Guru”, adalah satu konsep pandangan dunia dan pandangan hidup yang dikotomis menurut alurnya yang harmonis, yang diterjemahkan berupa dinamika dalam sistem musyawarah dan mufakat berdasarkan alur dan patut, yaitu etika hukum yang layak dan benar.

Adat Bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah (ABS-SBK) Masyarakat Adat Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat, mendorong terjaganya kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang dapat berperan aktif dalam perkembangan kebudayaan dunia yang maju. Selalu mengikut sertakan seluruh warga masyarakat sebagai satu mekanisme yang telah ditetapkan dan disepakati. Dalam hubungan kekuasaan pemerintahan, maka pemimpin dilihat sebagai “orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting”, karena dalam hubungan kepemimpinan alurnya adalah “kemenakan beraja kepada mamak, mamak beraja kepada penghulu, penghulu beraja kepada muifakat, mufakat beraja kepada Yang Benar, Yang Benar berdiri sendirinya”.

Dalam mengayuh kehidupan social ekonomi, Masyarakat Adat Minangkabau dengan Adat Bersendi Syarak, dan Syarak Bersendi Kitabullah (ABS-SBK), mendorong pertumbuhan dan perkembangan semangat percaya diri yang egaliter untuk menghapus sikap feodalisme lama ataupun baru, dengan memacu peningkatan usaha dan pemilikan modal atas asas kebersamaan. Harapan ini akan diraih dengan upaya terus menerus meningkatkan kualitas generasi bangsa yang aktif, kreatif, mempunyai kemampuan adaptasi dalam perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi, serta sikap beridispiln bagi peningkatan etos kerja, memiliki keimanan yang kuat dan ibadah yang terjaga sebagai insan Indonesia yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Masyarakat di Provinsi Sumatera Barat, yang hidup dalam lingkungan Masyarakat Adat Minangkabau, menyadari bahwa nilai-nilai budaya daerahnya selalu akan berorientasi ke masa depan dengan nilai-nilai yang lebih baik.

Masyarakat Sumatera Barat, mesti mengarifi semua benturan budaya luar yang tidak jelas arahnya yang menyebabkan bangsa Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Sumatera Barat yang beradat dan beragama pada khususnya, mengalami erosi nilai dan etika budaya bangsa, yang sangat berakibat kepada pencapaian masa depan yang lebih baik akan menempuh jalan yang lebih sulit dan rumit. Oleh karena itu diperlukan satu sikap dan keberanian moral dalam menetapkan garis kebijakan dan kebijaksanaan social politik dan kebudayaan dalam mengangkal terjadinya erosi nilai-nilai, etika berbangsa dan erosi kepercayaan dan keimanan itu.

Operasionalnya

Masyarakat Sumatera Barat dengan ABSSBK sangat potensial membentuk generasi Minangkabau yang maju di tengah kehidupan budaya modern.

Falsafah Masyarakat Adat Minangkabau dengan ABS-SBK mengandung etika hokum yang rasional, seperti diungkapkan dalam kaedah adat Minangkabau “hukum adat bersendi syarak, adalah hukum bersendi kepada alur dan patut, serta patut yang mungkin, sesuai dengan yang ditetapkan oleh syarak mangato adat memakaikan”.

Terpateri nilai budaya yang egaliter, mengandung prinsip mengahargai orang lain dan lingkungannya, serta membangkitkan daya juang kompetitif tanpa merusak eksistensi diri dan lingkungannya. Sikap masyarakat yang kosmopolit selain mendorong tingkat mobilitasnya, dapat menerima perubahan tanpa kehilangan nilai budayanya yang esensial.

Dialektika alam telah mengajarkan untuk menerima perbedaan pendapat dan tingkat hidup manusia sesuai dengan kemampuan berfikir dan berusaha. Sikap hidup berdemokrasi dengan prinsip musyawarah di dalam bimbingan ABS-SBK di Minangkabau telah mengajarkan bahwa setiap manusia adalah substansi yang fungsional (‘ibadullah) menurut kodrat masing-masing.

Setiap orang mempunyai hak-hak sesuai dengan harkatnya masing sebagai manusia yang sangat dihormati dan dilindungi.