Peran dan Fungsi pemerintahan terdepan dalam implementasi dan pelestarian ABSSBK

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mari kita syukuri nikmat Allah terhadap daerah kita Sumatera Barat yang hidup dalam satu tatanan langgo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Minangkabau. Karena dengan keterpaduan hati mensyukurinya di ikuti langkah berkesinambungan akan banyak memberi kontribusi membangun daerah kita khususnya Sumatera Barat dengan kekuatan adat budaya masyarakatnya dalam filosofi Adat Bersendi Syarak (Syariat Islam) dan Syarak Bersendi Kitabullah. Filosofi kehidupan MHA Minangkabau dengan Langgo Langgi perkerabatan nagari, kampuang, suku, kaum, jurai yang bermula dari rumah tangga. Pada semua tingkatan perkerabatan ada pengawalan pada posisi dan peran yang jelas karajo ba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng. Artinya ada pembagian pekerjaan. Filosofi ABSSBK dalam perkerabatan MHA Minangkabau menyatu dengan keyakinan dan syariat Agama Islam bersendikan Kitabullah. Darisini pembentukan watak generasi (pendidikan berkarakter) itu sebenarnya di awali.Gambar

Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagi mengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang. Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni. Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya. Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur. Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan. Gaya hedonis materialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjing yang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.

Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama. Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai. 

Perpaduan Adat dan Syarak berpedoman Firman Allah ; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Perbedaan suku dan jurai adalah kekuatan besar adat di Minangkabau “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”. Masyarakat Minangkabau dengan filosofi ABSSBK memiliki ciri khas Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK menjadi  konsep dasar Adat Nan Sabana Adat yang diungkap lewat Bahasa sebagai Kato Pusako, yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) dan berbagai tataran (structural levels). Paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk perspektif atau Pandangan  Dunia dan Panduan  Hidup masyarakatnya.

Diantaranya ;

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. menjadi  petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
  4. memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang. 

 

Gambar

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.

  1. Mengutamakan prinsip hidup “keseimbangan” karena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).
  2. Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya.” (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusir tenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung. 

Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. “Kefakiran  membawa kepada kekufuran ”  (Hadist).

Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggang tempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung. Tata-ruang adalah asset sangat berharga dalam Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanami tabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Tata ruang yang jelas memberikan posisi strategis kepada peran pengatur dan pendukung sistim banagari yang telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, urang mudo, dan bundo kanduang).  Nagari tidak hanya sebatas ulayat hukum adat. Paling utama wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat yang menjadi pendukung kegiatan masyarakat di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros. Hasilnya tergantung dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakatnya.
Strategi Membangun Nagari dalam pengamalan ABSSBK dititik beratkan kepada menghormati kesepakatan bersama dalam adaik sa lingka nagari. Perubahan deras arus kesejagatan tidak boleh mencerabutkan masyarakat dari akar budayanya. Perilaku yang mengedepankan perebutan prestise materialistis dan individualis adalah karena penyimpangan implementasi dari nilai nilai budaya ABSSBK. Kepentingan bersama masyarakat mesti menjadi tugas utama pelestarian ABSSBK. Idealisme kebudayaan Minangkabau yang menjadi sasaran cercaan “usang” mestinya dihadapi dengan penampakan kehidupan beradat dan beragama yang kuat di Sumatera Barat. Upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif, gotong royong) mesti digiatkan. Disini letak kekuatan Nagari di Minangkabau yang seakan sebuah republik kecil itu. Mini Republik ini punya sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri. Bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri  dalam “adaik sa lingka nagari” dikawal Suku, Sako dan Pusako yang menjadi kekuatan menetapkan Peraturan Nagari.

Membangun nagari muara pertama pada supra struktur pemerintahan nagari. Wali Nagari mestinya berperan sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat adat di nagarinya. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki dengan pemerintahan dikecamatan atau kabupaten. Sebagai pimpinan dalam adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari.

Strategi pemerintahan nagari  bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara). 

Disamping itu muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan). Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya. Mestilah dipahami bahwa masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja. Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen.

Maka langkah strategis yang penting adalah,

1. Menguasai informasi substansial.

2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.

3. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari.

4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

Strategi pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. Sebab Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya  diperhalus.

Daya kemauan masyarakat dikembangkan untuk percaya kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tanpa mengharapkan balas jasa atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat dan tatanan kehidupan bersama. Optimisme banagari  mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

P

embentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan hati (qalbin Salim) menghiasi nurani manusia dengan nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan dan kecerdasan budaya diperhalus oleh kecerdasan emosional dan dipertajam kemampuan periksa atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Kelemahan mendasar pada dasarnya karena melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama karena tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu.

Kelemahan internal akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran tanpa kawalan atau karena dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula. Peran tidak boleh dilalaikan mempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial ekonomi,  tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari diantaranya;

  1. Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong).
  2. Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah.
  3. Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).
  4. Menggali potensi SDA yang ada di nagari selaras dengan perkembangan dan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat.
  5. 5)       Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak nilai budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam.

Gambar

Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam dengan “memperindah nagari” dengan indikator  utama adalah ;

a)      Pencapaian moral adat.  Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building.

b)      Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali  komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. Pemeranan fungsi fungsi elemen masyarakat.

c)       Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Maka kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.  

Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi). Tercerabutnya agama dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakat adatnya. Penerapan filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah semestinya tampak jelas pada  syarak (agama Islam) mangato (memerintahkan) maka adat mamakai (melaksanakan). Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya di dalam tatanan kehidupan mesti menjadi landasan dasar pengkaderan regenerasi. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Akibatnya akan terlahir bencana.  Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalannya terekam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial  masyarakatnya serta tutur kata yang baik.

 

Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan. Maka peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan adalah menghidupkan lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu yang telah berhasil membawa umat dengan informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik dalam Implementasi dan Pelestarian ABSSBK.  Strateginya dengan menanamkan kearifan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Ada kewajiban menularkan warisan luhur budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah. Kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Provinsi Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau yaitu ABSSBK mestinya tumbuh dengan komitmen fungsional bermutu tinggi seiring kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana. Perencanaan kerja secara komprehensif akan mendorong terbinanya center of excelences.  

KHULASAH

Akan sulitlah dibantah jika masyarakatnya sudah mati jiwa pastilah akan sulit diajak berpartisipasi karena telah kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin. Jangan dibiarkan umat digenggam oleh pemimpin otoriter yang meninggalkan prinsip musyawarah. Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikan. Perankan kembali organisasi formal dan fungsikan peran ninik mamak, alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari”  dengan sistem komunikasi koor­dinasi antar organisasi pada pola pembinaan kaderisasi pimpinan formal nagari dan suku. Dalam gerak “membangun nagari”  setiap fungsionaris nagari menjadi pengikat umat membentuk masyarakat yang lebih kuat.

Semua fungsionaris formal suku dan kaum senyatanya adalah kekuatan sosial yang efektif. Terbukti bahwa Nagari lebih banyak dibangun dengan kekuatan anak nagari sendiri. Bahkan sedikit sekali yang bergantung kepada APBNasional atau APBDaerah. Maka Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan dalam mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam terhadap masyarakat anak nagari.

Gambar

Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Spiritnya adalah

(a). Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi).

(b). Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).

(c). Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.

(d). Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.

(e). Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

(f). Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.

(g). Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.  

Begitu semestinya peranan dan fungsi strategis Pemerintahan Terdepan di Nagari bersama sama dengan Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di nagari nagari dalam membangun serta menjaga nagari-nagari yang tertata rapi menapak alaf baru di Sumatera Barat (Minangkabau) dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK. Insya Allah. v

 Padang, April 2012  M

BERDEMOKRASI DENGAN AKHLAK MULIA

Berdemokrasi dengan akhlak mulia

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi di negeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama, dan atau menghargai ajaran Agama yang berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan berakhlaq mulia. Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu anarkis dan pemaksaan kehendak, dan ujung-ujungnya melahirkan tindakan-tindakan anarkis, dan bencana akan dituai sesudahnya. Idaman masyarakat banyak untuk merasakan ketenteraman dan kesejahteraan hanyalah menjadi mimpi belaka. Ketika umat terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa, karena dua kelompok pengayom yang menduduki posisi penguasa dan pengusaha berubah menjadi penindas dan penghisap, dan para cerdik cendekia yang alim telah menjadi penghasut.

 

Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain : “Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat  umat seluruhnya jadi binasa. Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”. Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula “Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”.

 

Ketika substansi musyawarah telah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat di pundaknya, dan rakyat kecil di bawah akan dijadikan tunggangan untuk meraih kedudukan semata. Kondisi buruk ini akan dialami dalam dasawarsa panjang, di bawah pengekangan-pengekangan dan kepentingan-kepentingan. Maka ujungnya keluhan akan banyak. Lebih berbahaya kalau semua sudah diam dan berpangku tangan dan partisipasi sebagai modal kebersamaan lenyap. Berbahaya.

 

Konsep demokrasi sebenarnya adalah musyawarah menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak, dan terciptanya kesejahteraan orang banyak. Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian banyak orang, karena senyatanya masyarakat yang larat melarat akan sangat mudah untuk di tunggangi. Maka, amatlah ditekankan, terutama oleh Sunnah Rasulullah dan ajaran agama, agar selalu berhati-hati dan mawas diri, agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Umat Islam diingatkan misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional, bahwa  “Tuhan telah menampilkan umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia sesame manusia kepada menyembah Allah semata, dan mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia jahilinyah kepada keluasaan ilmu pengetahuan, dan berpindah dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam”. Untuk itu, upaya mengujudkannya dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama, dan memelihara keteguhan dalam kehidupan beradat yang luhur.

 

Kehati-hatian dalam memilih pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik, karena,“… apabila Umara’ kamu terambil dari mereka yang jahat, hartawan kamu menjadi manusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan tidak lagi dimusyawarahkan, dan kehidupan terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Begitulah Sabda Rasulullah SAW mengingatkan umat semua, agar selalu menjaga musyawarah dan menghindari perebutan karena hawa nafsu.

 

Padang, Maret 2012

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

 
Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

 

Sikap skeptis dan dingin

Tatkala orang orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin.  Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”. Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis.

Dalam era perubahan di sepanjang kurun ini dengan tetap memelihara nafas pembaruan (ishlah) warga kampus mestinya selalu siap menjadi generasi pelopor yang selalu merujuk kepada Misi Rasulullah SAW, dengan memantapkan perannya sebagai generasi Rabbani.

Generasi Penyumbang

Masa depan sangat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Pembentukan generasi penyumbang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan. Generasi inovator sangat di perlukan pada era reformasi  supaya tidak terlahir generasi pengguna (konsumptif) yang akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara. Lihat QS.28:83. Generasi mendatang mesti siap memerankan pemeliharaan destiny sendiri, menanamkan kebebasan terarah dengan tanggung jawab bersama, meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.

Satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap harmonis dengan menghindari tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting. Research dan pengembangan serta kualita diri generasi akan membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Disini kita dapat merasakan spirit reformasi. Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan  kurangnya penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), lemahnya minat menuntut ilmu, akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.[1]

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Konsekwensinya, generasi kini memikul beban berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna.

Generasi yang lahir dari satu rumpun bangsa mestilah tumbuh menjadi kekuatan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

X Generation.

Kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya (X Generation). Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional  dan non-science.

Problematika ini hanya akan teratasi dengan memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan agama yang campur aduk, agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya intensif ini berkemampuan untuk menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

Tantangan Millenium baru Kearifan Menangkap Perubahan Zaman

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu, kenya­taannya terjadilonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[2] Di era globalisasi terjadi perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[3]

          Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[4] Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan. Setiap Muslim mesti ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini.

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[5] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, adalah titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. Aqidah dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan, membentuk manusia berwatak patuh dengan ketaatan, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah. Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[6]

          Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[7] Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[8]

          Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (aqidah) secara benar. Hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.   Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).        

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi, tidak semata pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksana- kan perintah-perintah Allah tanpa reserve. 

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, biarpun melawan kesenangan selera nafsu permisif. Penegakan konsistensi terhadap suruhan dan larangan terwujud dengan sikap ketaatan penuh dengan disiplin diri (istiqamah) karena dorongan mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring. Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Secara aktual paradigma Laa ilaah illa Allah menetapkan manusia pada hakikat sebagai pejuang pelaksana menjadi penggerak gagasan dalam kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Dipastikan hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis yang menyerahkan diri kepada nasib, atau bersikap apatis dan pesimis. Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

   

Pusat pembinaan umat

“Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [9] Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[10] Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya.    

Masjid warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.

          Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[11] Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.

Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.

Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.

Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[12] Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.

Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah.. Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :

“ orang-orang yang beriman kepada Allah,

“ dan kepada hari kemudian,

“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,

“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,

          “ maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).

          Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.

Padang, Maret 2012.


[1]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[2]   Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, dan “perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena per­saingan yang tinggi dan tajam

[3]  Dari kehidupan sosial berasaskan kebersa­maan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas‑asas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepe­mimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional). Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing negara. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism”, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).     Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,”  artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.”      Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past) Allah berfirman: “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)

[4]  The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.

[5]    Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[6]   Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[7]   Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[8]   Lihat QS.14:24-25.

[9]  Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.

[10] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).

[11] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat-hebat menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.

[12] “Coba hitung beberapa puluh ribu jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.

Menjauhkan Diri dari Kemurkaan Allah, Melalui Tazkiyah Nafs serta Penguatan Akidah dan Ibadah

 

Oleh : Buya H. Masoed Abidin

 

Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Masalah besar hari ini adalah gaya hidup tersebut mengarah kepada ; a. Budaya pengagungan materi  (materialistik),  b. Menghindari supremasi agama (sekularistik), c. Mengejar kesenangan indera, ittiba’ hawahu,  kenikmatan badani (hedonistik),  d. Penyimpangan dari budaya luhur (ABS-SBK), e. Interaksi kebudayaan melalui media informasi yang vulgar, f. Meluasnya Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral.

Dunia pendidikan kita juga digoncangkan oleh fenomena vandalistik marak terjadi ; a. Tawuran  pelajar, b. Kebiasaan a-susila dikalangan remaja, c. Kecabulan, pornografi, pornoaksi meluas. d. Minat yang menguat ke kehidupan non-science, Asyik mencari kekuatan gaib, Belajar sihir, paranormal, kekuatan jin,  Bertapa ketempat angker, Menyelami black-magic, percaya mistik, hipnotisme  dan sebagainya.

Mengatasi semuanya dengan mengambil Keutamaan Ajaran Agama Islam  membangun masyarakat kuat saling bekerjasama, mempunyai sikap kasih mengasihi dengan a. ukhuwwah, yakni kesaudaraan, b. mahabbah, yakni kasih sayang sesama makhluk karena mencintai Allah Maha Kuasa. c. ta’awun, yakni saling bantu membantu dalam kebaikan dan kemashlahatan ummah.

Pelecehan Nilai nilai luhur kehidupan selalu terjadi, ketika agama kurang di amalkan sehingga kekuatan ummat menjadi lemah.  Peran dan eksistensi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi dengan berbuat kebajikan kebajikan. Keberadaan manusia di permukaan bumi adalah untuk mengabdi kepada keutamaan perintah Allah saja.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأنْسَ إِلآ لِيَعْبُدُون

Ibadah adalah mematuhi Allah dengan cara ; a. tazkiyah nafs ; ilmu dan zikrullah, b. tazkiyah maliyah ; shadaqah, infaq dan zakat , c. tazkiyah amaliah ; niyat lillahi ta’ala. Menyiasati meruyaknya kemaksiatan yang akan merusak anak generasi dan kampung halaman, hanyalah dengan meningkatkan kepedulian sesama, sesuai ajaran agama Islam.

الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ ِفيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّه و أَنْفَقَهُ فِى حَقِّهِ أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ و أَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ وَ مَنْ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ وَ أَنْفَقَهُ فِى غَيْرِ حَقِّهِ أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ الهَوَانِ وَ رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِى مَالِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ لَهُ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Dunia itu manis dan hijau. Siapa yang berusaha memperoleh harta di dunia di jalan yang halal dan membelanjakannya menurut patutnya, niscaya orang itu diberi pahala oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Siapa yang mengusahakan harta di dunia tidak di jalan yang halal dan dinafkahkannya tiada menurut patutnya, niscaya Allah akan menempatkan orang itu di kampung kehinaan. Tidak sedikit orang yang menyelewengkan harta Allah dan Rasul-Nya memperoleh neraka di hari kiamat.”  (HR. Baihaqy dari Ibn Umar).

Memahami dan membangun kehidupan dunia yang penuh arti mesti dilakukan dengan kesadaran tinggi, secara perorangan, lembaga masyarakat serta badan pemerintahan, dalam upaya mengendalikan dorongan nafsul lawwamah yang tidak baik.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“ Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.”   Menjadi budak nafsu sama dengan menjadi musyrik.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa menjadi kewajiban semua pihak membentuk Generasi berbudi  luhur – akhlakul karimah – dalam berperilaku. Memiliki Iman taqwa kepada Allah. Menjaga silaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat yang madani (mudun = maju serta beradab). Tugas utama adalah mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak, melaksanakan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, yakni generasi yang memiliki keperibadian ; Salimul Aqidah (Aqidahnya bersih), Shahihul Ibadah (Ibadahnya benar), Matinul Khuluq (akhlaqnya kokoh), Qowiyyul Jismi (fisiknya kuat), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berfikir), Mujahadatul Linafsihi (punya semangat juang dalam melawan hawa nafsu). Untuk meraih itu semua maka pembentukan akhlak umat tak boleh diabaikan.

  مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبَ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ    

“ sesuatu perkara yang menyebabkan sesuatu kewajiban tidak akan dapat disempurnakan kecuali dengannya maka perkara tersebut adalah wajib juga hukumnya.” 

Rintangan sangat berat, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan. Bekali diri dengan iman yang cukup. Perbanyak amal shaleh. Paksa diri mentaati Allah. Sabarlah menghadapi kesulitan. Niscaya akan mendapatkan sorga abadi.

Pencemaran jiwa ( النَّفْسُ الحَيَوَانِيَّةُ ) terjadi disebabkan oleh dorongan keinginan memenuhi kehendak nafsu semata. Menjaga kesuburan Nafs  dengan  a. Ibadah shalat teratur, b. Amalan baik sepanjang masa, c. Zikrullah setiap waktu,  d. Membaca al-Qur’an, shalatul-lail, e. Senang berpuasa sunat.  Sabda Rasulullah ;

إِنَّ فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدِ كُلُّهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدِ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ —   

“ Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati .. “ 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  — adalah Jiwa yang memerintah manusia yang disebut الرُّوْحُ الاَمْرِي . Firman Allah mengingatkan peran kalbu itu amat berpengaruh.

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang  buta itu, adalah  hati yang  ada di dalam dada. (Al-Hajj:22:46). 

Beberapa upaya antara lain ; a). Menyucikan jiwa dengan zikrullah, b). Melaksanakan Wirid yang tertib (وَارِدُ الاِ نْتِبَاهِ ) hapus ghaflah, c). Menjaga Hati senantiasa bersih (yaqazah) menjauhi maksiat, d). Selalu bertaubat menghapus kesalahan dari perilaku maksiat, e). Memelihara kethaatan membentuk jiwa jauhari (النفس الجَوْهَرِي), bijak berhikmah, sadar berkesaudaraan.

Kehidupan di Dunia sebagai tempat beramal mesti diisi dengan kebaikan kebaikan mengerjakan yang diperintahkan, serta menghindari apapun yang dilarang. Kekayaan sesungguhnya ada pada kepatuhan.

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَ اجْتَنِبِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَوْرَعَ النَّاسِ وَ ارْضَ ِبمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ مِنْ أَغْنَى النَّاس  )    رواه ابن عدى عن ابن مسعود(

“ Tunaikanlah apa yang diwajibkan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling banyak ibadat. Jauhilah apa yang dilarang Allah kepada kamu mengerjakannya, niscaya kamu menjadi orang yang paling cermat. Relalah menerima apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR.Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas’ud).

Peringatan Nabi menganjurkan untuk selalu Ikhlas dan setia dalam pembimbingan zikrullah.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ)

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hamba-Ku, selama dia menyebut (mengingat) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut nama-Ku.  (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

 

Menanamkan Nilai Nilai Asmaul Husna dalam Kehidupan Remaja Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan berkarakter di Kota Padang.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

      I.  Membangun Karakter Generasi Unggul dengan Akhlak Mulia.

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) , adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani untuk Kota Padang, semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  (cognitive component) yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan ASMAUL HUSNA akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, mengimarahkan masjid/mushalla dengan shalat berjamaah serta menghidupkan majelis ta’lim .  Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah menulis : “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”  Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti  Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain. 

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang akan diperoleh, modalpun hilang.  Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

 نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)

    II. « Besar Perut, Banyak Tidur, Malas dan Lemah Keyakinan », Bahaya menimpa Ummat.

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Dan jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu, hidupnya tidak nyaman dan mereka tidak merasakan ketenangan karena ulahnya, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Insan yang baik tidak boleh lalai dalam hidupnya, tidak boleh bermalas-malasan, tidak boleh hanya hidup sekedar mengenyangkan perut, suka tidur dan lemah keyakinan. Apabila sikap itu yang tumbuh, maka bencana akan menimpa.

 

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau ,

….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim)

Ada sebuah prinsip yang baik untuk dipegang: “Jika ada tetangga yang mencela-ku, aku tidak akan membalas untuk mencelanya. Jika ada tetangga yang menyakiti hatiku. Aku tidak akan membalas untuk menyakitinya. Segala urusan dan segala sesuatunya akan kukembalikan kepada Allah SWT sebagai penjaga dan pemelihara diri, jiwa dan kehormatanku”. 

Prinsip dasar perilaku ini lahir karena berbuah nyata dari pengenalan dan pengamalan terhadap Asmaul Husna.  Apabila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terealisir (terwujud) dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas manusia atau masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang satu, yang selalu komitmen dalam memegang dan melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian amar ma’ruf dan nahi munkar akan terwujud, sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa lagi penuh dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Inilah yang akan membri kontribusi penguatan keyakinan di dalam menata kehidupan masyarakat yang yang dicita-citakan, “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad dari Sayyidah Aisyah r.a, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ

“Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia”.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Ajakan dakwah Islamiyah, tidak lain adalah seruan kepada Islam, yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul. Penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah. Di masa kini perlu digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  diantaranya dengan pengenalan Asmaul Husna, yang tujuannya untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur ……Upaya menyiapkan Masyarakat berprestasi, melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.  Di akhir zaman, manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina sebagaimana telah diprediksi oleh Rasul Allâh SAW berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

  III.  Membangun Qalbin Salim.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis (Qauliyah), sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam (Kauniyah) yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.” Membaca adalah proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di zaman modern dan era globalisasi, kondisi masyarakat pun mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

 

PENDIDIKAN dan BELAJAR yang dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK itu, menjadi rencana pengembangan SDM Berkualitas di masa mendatang tidak dapat dielakkan.

Kecanggihan Budaya ada dalam Pendidikan Anak Dini Usia (PADU). Tugas utama kini, mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak,  adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh. Di sini peran krusial dari pembelajaran aqidah tauhid, ibadah dan pengenalan Asmaul Husna.

Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Tatanan yang baik dapat saja berubah karena pengaruh zaman, dan karena longgar menjaga tata adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak  generasi, merusak bangunan  kehidupan.  Pembinaan akhlak generasi sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah, diantaranya  dapat dilakukan dengan  intensif melalui pengenalan dan pembelajaran Asmaul Husna.

Kalau kita bertanya, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Maka salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia telah berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.”

 IV.  Hidup Sarat Tantangan

Tantangan Pendidikan Generasi Muda di Kota Padang, ke depan sangat berat, sementara uluran tangan yang di dapat hanya sedikit. Hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat dijadikan  modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di Kota Padang. Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaum/kelompoknya. Selalu terjaganya kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan itu terlihat pada,

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Ada kiat untuk meraih keberhasilan ; Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, dek padi  mangko jadi. 

Artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan Dewan Pendidikan dapat berkembang menjadi pengawal pusat kebudayaan dengan karakter (marwah) yang bagaimanapun kelak dapat menjadi center of excelences (pusat musyawarah).

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak. Disini pentingnya pengenalan Asmaul Husna.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis. Reungkanlah petuah ini:

لا تسب إبليس فى العلانية و أنت صد يقه السر

Jangan sampai engkau mencaci maki Iblis terang-terangan tapi engkau menjadi temannya di kesunyian !. Berteman dengan iblis akan melahirkan kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak-anak sejak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, mengenali asmaul husna dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

   V.              Karakteristik Masyarakat Beradat dan Beragama di Kota Padang

Masyarakat  Padang ( dan umumnya Sumatera Barat dengan ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK) adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”).

 

Yang paling mendasar dari tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya  akan membentuk  Pandangan  Hidup dan Panduan  Dunia – PDPH – (perspektif), yang akan

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota Padang  berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. akan menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.
  4. d.      memberikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi pelajar (remaja) Kota Padang  dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan kota Padang Kota Tercinta di segala bidang.

Kekuatan Agama Islam  yang diyakini warga kota Padang sebenarnya dapat menjadi penggerak pembangunan.  Namun ada fenomena menyedihkan, diantaranya,

ü  minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah,

  • dayatarik dakwah agama mulai kurang,
  • banyak bangunan agama yang kurang terawat,
  • guru-guru agama yang ada banyak tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan.

ü  banyak kalangan (pemuda, penganggur) tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  domino di lapau, acara TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau).

Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).

Pergeseran budaya yang terjadi adalah ketika mengabaikan nilai-nilai agamaPengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti menjauh dari aqidah tauhid , perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, suka melalaikan ibadah.

Pendidikan yang diawali dengan pengenalan Asmaul Husna akan membawa anak didik meyakini kekuasaan Allah Azza Wajalla, serta mampu mengamalkan dalam akhlak mulia.

Cobalah dipikirkan bagaimana pesan Rasulullah SAW yang mengajak untuk, “takhallaquu bi akhlaqil-Llah .. Berperangailah anda dengan meniru sifat (akhlaq) Allah”.  Seiring dengan itu ada perintah Allah, agar kita semua  “ahsin kama ahsanal-Llahu ilaika “ .. artinya, berbuat ihsan (kebaikan) kamu sebagaimana Allah telah ihsan kepadamu (lihat QS. Qashash ayat 77). Di sini kita melihat prinsip pembelajaran melalui pengenalan Asmaul Husna itu.

 VI.  Empat Membawa Celaka, « Beku Mata, Kasat Hati, Loba dan Panjang Angan-angan »

Agama Islam membuka pintu kerja bagi setiap diri agar ia dapat memilih amal atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak akan menutup peluang kerja seseorang kecuali jika pekerjaan itu akan merusak fisik ataupun mental. Setiap pekerjaan yang merusak diharamkan oleh Islam.

Mencari nafkah dengan bekerja secara halal adalah suatu kewajiban setiap muslim. Beberapa faktor yang menjadi seseorang berhasil dan memperoleh keberkahan di dalam usaha atau kerjanya.  Selain faktor fisik material, serta modal atau kapital dan alat-alat pendukungnya, maka faktor mental spritual amat menentukan.  Kecerdasan mental spiritual ini akan dikuat kokohkan oleh pengenalan dan pengamalan Asmaul Husna, sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah-sekolah.

 

Untuk menghindari agar ke empat pokok celaka ini tidak menimpa, maka perlu dimiliki ;

  • Skill, keahlian, kepandaian dan keterampilan adalah faktor yang cukup menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang usaha dan pekerjaan. Dalam usaha dagang misalnya, diperlukan pengetahuan khusus seperti ekonomi umum, marketing, management, accounting (pembukuan), ditunjang oleh ketekukan..
  • Iman dan Taqwa,  – menjadi jaminan keberhasilan dan keberkahan setiap usaha dan pekerjaan.
  • Kejujuran, adalah modal setiap orang dalam bekerja yang terkadang terlupakan. Karena kejujuran seseorang dipercaya oleh orang lain. Jika seseorang menelantarkan kejujuran dengan berlaku khianat, curang atau culas, maka punahlah kepercayaan, sehingga sempitlah ruang geraknya dan sempit pula peluang rezekinya. Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya, adalah bersama para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Tirmidzi dan Hakim).
  • Azam yakni kemauan keras  dan Istiqamah (tekun, fokus dan konsisten). Kemauan keras untuk terus maju (azam), tekun (istiqamah) dan sabar memegang peranan penting dalam dunia usaha. Pekerja yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah lesu, loyo, apalagi putus asa. Mereka selalu memiliki azam dan istiqamah dalam bekerja dan membina usaha, dengan melahirkan inisiatif, daya cipta, gagasan dan kreasi-kreasi baru dalam rangka meningkatkan karya dan pengembangan usahanya. Sikap mental (qalbu) berupa azam dan istiqamah perlu diterapkan oleh para pelaku usaha, setiap pekerja, pemimpin dan bawahan di semua profesi yang ia tekuni.

Khulasahnya,            

Pendidikan berkarakter di Kota Padang dapat dilakukan dengan ;

  1. Mendidik masyarakat formal (sekolah, ruang  ruang pendidikan) ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim),  dengan memulai menanamkan akhlaqul karima (akhlak mulia), mengenalkan asmaul husna, mengimarahkan masjid-masjid, menguatkan pengendalian adat istiadat anak nagari dengan mengimplementasikan ABSSBK secara bersungguh-sungguh. 
  2. Menghidupkan dakwah membangun negeri.


Membangun Generasi Unggul

A.    Membangun Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

“  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi). Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

  1. B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu.  Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur . Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.  Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi. Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman : وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim). Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada, (1). adanya rasa memiliki bersama, (2). kesadaran terhadap hak milik, (3). kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, (4). kesediaan untuk pengabdian, (3). terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri. Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;  a. Tanggungjawab Kepada Allah. b. Tanggungjawab Kepada Diri, c. Tanggungjawab Kepada Ilmu, d. Tanggungjawab Kepada Profesi, e. Tanggungjawab Kepada Masyarakat, f. Tanggungjawab Kepada Sejawat, g. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

Wassalam.

 

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan agama Islam, menuju pemerintahan yang amanah

 

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1]

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2]

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi – pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3]

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

 

 

Catatan Kaki


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

 

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

 

KEADILAN ADALAH RAJA

oleh Mas’oed Abidin

Firman Allah mengingatkan ; ” Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap orang untuk berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan membantu karib kerabat. Dan, Allah juga memerintahkan untuk melakukan pencegahan terhadap perilaku keji dan tercela (fahsya’, anarkis). Allah SWT juga memerintahkan untuk menghindar dari kemungkaran (perbuatan terlarang) dan aniaya (anarkis), juga dari perlakuan permusuhan yang melampaui batas (bagh-ya). Semua peringatan Allah ini harus selalu di ingat oleh manusia. Allah memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS.16, An Nahl : 90).

Adil, adalah pakaian setiap pemimpin, tidak semata ucapan. Adil, adalah suatu perbuatan, yang di dambakan setiap orang. Karenanya, menjadi kewajiban setiap pribadi untuk menegakkan dan mempertahankannya. Agama mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Agama menegaskan bahwa, penguasa adalah pemimpin dari rakyatnya. Sebagai layaknya seorang suami menjadi pemimpin atas istri, keluarga dan rumah tangganya. Seorang pekerja (khadam) adalah pemimpin atas harta yang di amanahkan oleh majikannya.

Konsekwensinya adalah, setiap pemimpin memikul tanggung jawab berlaku adil dan amanah menjaga rakyat yang di pemimpinannya. Karena, setiap pemimpin akan ditanya pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.(Hadist di riwayatkan Al-Bukhari dari ‘Abdullah ibn ‘Umar RA).

Pemimpin yang adil, semestinyalah bersikap merendah (tawadhu’) terhadap rakyat yang dipimpinnya (HR.Bukhari, dalam Riyadhus-Shalihin, Imam Nawawy).

Kepentingan (aspirasi) rakyat wajib di utamakan. Hanya ada satu kepentingan, demi kemashlahatan rakyat banyak. Pemimpin dalam pandangan Islam tidak untuk kepentingan kelompok atau golongan. Tetapi untuk kemashlahatan orang banyak. Walaupun barangkali seorang pemimpin memiliki kekurangan fisik, tetapi adil dan berpedoman kepada Kitabullah, maka Muslimin disuruh mengikutnya.   “Jika sekalipun kamu dipimpin oleh seorang hamba yang cacat (‘abdun mujadda’), tetapi memimpinmu dengan berpedoman kepada Kitabullah (al Quran), maka hendaklah kamu mendengarkan dan menta’atinya” (Shahih Muslim).

Dalam konsep Agama pemimpin adalah amanah Allah untuk melaksanakan pemerintahan sebagai amanah umat (rakyat). Karena itu, sangatlah tidak pantas bila seorang meminta-minta untuk diangkat menjadi seorang pemimpin.

Disampaikan oleh Shahabat Abu Musa RA, tatkala dua orang Bani ‘Ammi minta diangkat menjadi gubernur disuatu daerah.  Rasulullah SAW berpesan  artinya, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seorang penguasa atas pekerjaan ini apabila ia memintanya atau ambisius kepadanya” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Kepemimpinan sesungguhnya adalah amanat dari Allah SWT. Wajib di tunaikan sebagai ibadah di tengah kehidupan masyarakat (rakyat)-nya, atau hablum min an-naas.
Adil adalah pakaian setiap pemimpin..

Adil, adalah ciri taqwa.

Konsep ini bukan semata teologis, melainkan sangat humanis universal.

Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin pemegang tampuk kekuasaan yang melalaikan kepentingan rakyatnya adalah pemimpin yang sangat dicela. Rasulullah SAW memperingatkan, “maa min waa-lin yaliy ra’iyyah minal-Muslimin, fa yamuutu wa huwa gaasy-syun lahum, illa harrama-Allahu ‘alaihil-jannah”, artinya, “Tidak seorangpun yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (kaum Muslimin), lalu ia mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan baginya sorga (tidak akan masuk sorga)” (HR.Muttafaqun ‘alaihi dari Abi Ya’la (Ma’qal) bin Yasar RA).

Dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW berkata,  artinya, “Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai. Dibelakang perisai itulah rakyat berjuang. Maka apabila ia (pemimpin) menyuruh kepada ketaqwaan terhadap Allah dan berlaku adil, maka ia akan mendapat pahala dari perintah dan sikap adilnya itu. Tetapi bila ia menyuruh selain dari itu (taqwa), maka ia akan mendapat siksa karenanya” (HR.Muttafaq ‘alaihi, dari Abi Hurairah RA).

Dengan sikap tawadhu’ (merendah demi kepentingan umat karena taqwa kepada Allah) akan terlihat keadilan seorang pemimpin. Arogansi pemaksaan kehendak. akan membawa kepada kehancuran.

Konsekwensinya adalah, “Seorang Muslim harus mendengarkan dan menta’ati segala perintah (pemimpinnya) dalam hal yang ia sukai ataupun yang tidak disukainya, selama ia tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat. Dan apabila ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka ia (rakyat) tidak dibolehkan untuk mendengarkan atau menta’ati perintahnya” (HR.Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar RA).

Sungguh celakalah para pemimpin yang melupakan dan menganggap enteng aspirasi rakyat banyak. Maka, untuk terhindar dari kecelakaan, wajiblah di ingat selalu firman Allah;  “Berlaku adillah, karena Allah kasih terhadap orang-orang yang adil” (QS.Al-Hujurat ,9).

Lemahnya bekalan agama dilapisan umat dan tipisnya pemahaman Islam akan berpengaruh didalam kehidupan. Paham ‘Ashabiyah (kedaerahan), menghilangkan arti maknawi dari ukhuwwah. Persatuan lahiriyah tidak mampu menumbuhkan kebahagiaan mahabbah, cinta sesama. Di sinilah bermula sumber kehancuran.

Rasulullah SAW selalu berdo’a sebagaimana disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah R ’anha, “allahumma man waliya min amri ummatiy syay-an fa syaqqa ‘alaihim fasy-quq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummatiy syay-an far-faqa bihim, far-fuq bihi”, artinya, “Ya Allah, barangsiapa yang menjadi pemimpin atas umatku, lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia, dan barangsiapa yang memimpin umatku, lalu mengasihi mereka, maka kasihanilah ia” (HR.Shahih Muslim).

Dengan do’a ini pula kita tutup pembahasan kita tentang pentingnya keadilan ditegakkan..

Billahit taufiq wal hidayah.

Paham Mohamad Natsir tentang ‘ideologi negara’… dari khazanah pemikiran Mohamad Natsir … manuscript tulisan Buya Masoed Abidin

PAHAM  MOHAMMAD NATSIR.

TENTANG IDEOLOGI NEGARA

 

 

Mohammad Natsir menjelaskan pemahamannya tentang kaedah agama Islam, dalam hubungannya dengan fatsoen politik dan pemerintahan di Indonesia, antara lain bahwa ;

“ISLAM bukan semata-mata religi, yaitu agama dalam pengertian rohani saja. Islam mengatur hubungan antar manusia dan Allah, dan antara sesama manusia.

Islam merupakan pedoman dan filsafat hidup yang tidak mengenal pemisahan agama dan politik.

Menegakkan Islam tidak dapat  dengan membiarkan pembinaan masyarakat dan negara dengan paham yang lain.

Oleh sebab itu, dalam masa revolusi umat Islam di Indonesia bukan saja dijiwai oleh aspirasi nasional melainkan juga dengan aspirasi Islam”.

 

Berdasarkan pemahaman ayat Qu’ran, yang merupakan keharusan bagi setiap Muslim untuk mengamalkannya, maka Mohammad Natsir berkesimpulan; Seorang muslim menjadi hamba Allah yang harus mengejar kebahagiaan di dunia dan kebahagian di ahkirat.

 

Karenanya, ada perintah Allah yang harus di laksanakan tanpa ragu.

 

Dalam hubungan ibadah dan dien,” Segala sesuatu yang tidak di perintahkan tidak boleh di lakukan”.

 

Jenis perintah yang lain,  yang muamalah sifatnya, pada umum nya menyangkut hubungan antara sesama manusia , atau umumnya soal-soal dunia, disimpulkan mencakup dua segi :

 

1. Berhubungan dengan perintah Allah yang Ma’qul ( dapat  dipahami ), tapi didalam penerapan pelaksanaannya amat bergantung pada perkembangan pemikiran dan penilaian manusia.

2. Tidak secara jelas ada ketentuanya dari Allah, yang dalam hal ini segala yang di izinkan kecuali yang di larang. Dalam hubungan ini si muslim hanya perlu memperhatikan batas-batas atau Hudud yang ditetapkan oleh Allah SWT.

 

Mengenai negara, Mohammad Natsir menjelaskan, diantaranya,   “ Ia mengakui bahwa nabi tidak memerintahkan membuat negara. Dan, memang katanya, “Nabi sudah mengajarkan pedoman tertentu untuk menjalankan pemerintahan agar negara menjadi kuat, sejahtera, sehingga rakyatnya mudah memperoleh tujuan hidupnya”.

 

Sehubungan dengan ini, Mohammad Natsir mengemungkakan juga referensinya tentang kepala negara. Ia katakan bahwa, “Kawan mu hanya Allah dan Rasulnya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, membayar zakat dan sujud”.

 

Mengenai pemberinamaan dan gelar kepala negara tidak jadi  soal utama, yang penting sifat dan perbuatannya, hak serta kewajibannya.

Maka kepala negara harus bermusyawarah dengan rakyat tentang hal-hal mengenai masalah bersama.

Cara musyawarah bergantung pula pada rakyat bersangkutan, apakah menurut cara yang dilakukan masa  Abu Bakar Kahlifah petama, atau masa kini dalam bentuk parlementer.

 

”YANG DITUJU OLEH ISLAM IALAH AGAR AGAMA HIDUP DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SERTA DI NYATAKAN DALAM KETATANEGARAAN, PEMERINTAHAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN”.

 

Rujukan ini sesuai dengan Firman Allah SWT, : DAN HENDAKLAH URUSAN MEREKA  DENGAN MUSYAWARAH.

 

Selanjutnya, baik disimak jalan pikiran Mohammad Natsir tentang hal-hal yang perlu di musyawaratkan dan tidak, terutama dalam penentuan kebijakan hukum yang menyangkut kepentingan orang banyak atau bertalian dengan kemashalahatan kehidupan orang yang bermasyarakat itu.

Kata beliau, “Dalam perlemen suatu negara Islam yang merdeka tidaklah perlu di permusyawaratkan terlebih dahulu, apakah yang harus menjadi dasar pemerintahan, dan tidaklah mestinya ditunggu keridhoan parlemen terlebih dahulu, apakah perlu ditunggu pembasmian arak atau tidak, apakah perlu diadakan pemberantasan khurafat dan kemusyrikan atau tidak”.

 

Maka dalam hubungan ini, terlihat terang kerangka pikiran Mohammad Natsir, yaitu kembali kepada persoalan hudud.

 

 

Islam mempunyai ketentuan-ketentuan yang tetap, umpamanya tentang pemberantasan kemiskinan, tentang nikah dan faraid (pembahagian harta warisan). Ketentuan-ketentuan ini tidak boleh berubah, karena persoalan manusia dalam hubungan ini terus berkelanjutan.

Seorang muslim juga tidak dilarang mengunakan sistim yang dipergunakan oleh bukan muslim (barat ? pen.), selama sistim itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Suatu sistim yang baik bukan monopoli suatu bangsa atau negara.

 

Mohammad Natsir menekankan sekali perlunya ijtihad ini serta kebebasan dalam bermusyawarah :

Agama baru mencampuri soal-soal bila permusyawaratan menjurus kepada moral keadilan dan kemanusiaan.

 

Pada hakikatnya, tidaklah ada suatupun dalam ajaran agama (samawy) dan Agama Islam yang menentang hukum susila dan ini merupakan inti dari suatu ajaran agama manapun.

Menurut sejarah agama Islam, selalu penganut agama minoritas mendapat perlakuan yang memuaskan dalam negara-negara ber pemerintahan Islam.

 

Sungguhpun dalam tatanan masyarakat negara-negara di dunia, “kemerdekaan beragama“ itu masih bersifat relatif, terutama di dalam tatanan kehidupan dunia barat.

 

Padahal kemerdekaan beragama sudah ada di negara-negara berpemerintahan Islam atau mengamalkan secara konsekwen ajaran Islam, sejak masa Muhammad Saw

 

Negara itu sendiri bukan tujuan melainkan sebagai alat. Oleh sebab itu perjuangan tidak berhenti dengan terciptanya suatu negara, walaupun sudah mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

 

Yang teramat penting isinya ; yaitu kemakmuran dan keadilan bagi rakyat.

Dan kalaupun itu sudah tercapai, masih terus ada kewajiban untuk memeliharanya berupa terujudnya ” baldatun thayyibatun warabbun ghafur”, yakni negara yang aman, sejahtera, bersih dari setiap perlakuan yang tidak beradab, dan mendapatkan keampunan atau keredhaan Allah SWT.

 

 

 

Natsir dan Pancasila

 

 

Menurut Mohammad Natsir, “Pancasila di anut sebagai dasar rohani, akhlak, dan susila oleh bangsa Indonesia”.

 

Masalah pokok adalah masalah tafsiran tentang Pancasila.

Tidak seorang pun, termasuk perumus Pancasila sendiri, yang berhak memonopoli tentang tafsirannya.

 

Oleh sebab itu, Mohammad Natsir berhak memberikan tafsiran nya pula.

 

Mohammad Natsir yakin tidak suatu perumus pun yang akan setuju dengan suatu perumusan tentang Pancasila yang berlawanan dengan ajaran agama Islam.

 

Menguraikan masalah ini lebih lanjut Mohammad Natsir mengatakan ;

 

Pancasila adalah peryataan dari niat dan cita-cita kebajikan yang harus kita laksanakan, terlaksananya di dalam negara dan bangsa kita.

Maka, apabila di tinjau dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu, adalah menegaskan kepada segala warga negara dan penduduk negara, dan dunia luar, bahwa sesunguhnya seorang manusia tidak akan dapat memulai kehidupannya menuju kebajikan dan keutamaan, kalau ia belum dapat meyadarkan dan mempersembahkan dirinya kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka, bagaimana AL QUR’AN akan bertentangan dengan sila pertama itu, Dalam pengakuan AL QUR’AN, Pancasila itu akan hidup subur.

Satu dengan yang lain tidak apriori bertentangan tapi tidak pula indentik (sama).

 

 

Berlainan soalnya, apabila sila itu hanya sebagai buah bibir, bagi orang-orang yang jiwanya skeptis dan penuh ironi terhadap agama.

Bagi orang ini dalam ayunan langkahnya yang pertama ini saja sudah lumpuh ….yang tinggal adalah kerangka Pancasila…..

 

Dan, ia (Mohammad Natsir) pun menyerukan kepada umat agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam.

 

Mohammad Natsir berkata ;

“di mata seorang muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan suatu barang asing yang berlawanan dengan ajaran Qur’an, dan ia (Mohammad Natsir) melihat dalamnya satu pencerminan dari sebagian yang ada pada sisinya. tapi ini tidak berarti bahwa Pancasila itu sudah identik atau meliputi semua ajaran Islam.

Selanjutnya Mohammad Natsir mengingatkan bahaya sekularisma seperti tercermin juga pada Marxisma.

 

Faham sekularisma tidak sejalan dengan pikiran bangsa kita yang beragama.

 

Mohammad Natsir juga tidak setuju dengan pendapat Soekarno yang menyatakan bahwa Pancasila adalah merupakan pemersatu bangsa, padahal kaum komunis tidak akan bisa menyetujui sila Ketuhanan Yang Maha Esa sunguhpun mereka meyokong Pancasila dalam konstituante.

Pancasila itu sendiri hanya akan berarti bila di kaitkan dengan isi suatu ideologi.

Tetapi karena Soekarno menempatkan Pancasila itu sendiri pada kedudukan netral terhadap semua ideologi, maka Pancasila itu kosong dari isi.

 

 

Pandangan kedua dari Mohammad Natsir, adalah pandangannya terhadap forum konstituante.

 

Mohammad Natsir mengatakan bahwa konstituante merupakan tempat mengeluarkan pendapat dan pikiran anggota secara lurus dan jujur, cerminan pemikiran yang hidup dalam masyarakat.

 

Mohammad Natsir berkata,

Kita mengarapkan agar gedung konstituante (sekarang adalah gedung DPR/MPR) ini dapatlah hendaknya merupakan satu “Sanctuary” yakni tempat aman dimana dapat di adakan konfrontasi antara ide dan ide, pendirian dan pendirian, yang walaupun berlaku secara tajam dan bebas sebagai pembawa tugas kita itu, tetapi tetap didalam suasana ibarat sebuah pulau yang aman tentram di tengah-tengah gelombang.

………hanya selama dalam ruangan konstituante (DPR/MPR) ini tetap hidup dan terjamin rasa bebas mengeluarkan pendapat, tanpa tekan-tekanan dalam bentuk apapun……selama itulah baiknya konstituante (DPR/MPR) ini ada bagi negara dan bangsa (Indonesia, pen)”.

Tentang konstituante (DPR/MPR), Mohammad Natsir berpendapat bahwa lembaga ini hendaknya dapat “menciptakan suatu UUD yang akan tahan uji oleh generasi anak cucu mendatang”.

 

Dalam hal ini Mohammad Natsir tampaknya terdorong oleh tanggung jawabnya pada generasi berikut serta keyakinannya pada Islam.

 

Mohammad Natsir berkata;

”…….Agama Islam yang juga mengatur mengenai ketatanegaraan dan masyarakat hidup ini…….. mempunyai sifat-sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dan masyarakat dan dapat menjamin hidup keaneka ragaman atas saling menghargai antara pelbagai golongan dalam negara.”

 

Mohammad Natsir juga memperkuat pendapat Sjafrudin Prawiranegara dengan menunjuk pada sifat negatif dari komunisme dan kapitalisme, katanya :

“Komunisme dalam mencapai kemakmuran , menekan dan mem- perkosa tabiat hak-hak asasi manusia.

Sedangkan kapitalisme, dalam memberikan kebebasan tiap-tiap orang, tidak mengindahkan peri kemanusiaan dan hidup dari pemerasan keringat orang lain dan membukakan jalan untuk kehancuran kekayaan alam”

Dan bagaimana dengan Ajaran Islam ?

 

Mohammad Natsir menjelaskan :

“ Islam mengakui hak dan kepribadian , memberikan kebebasan, bahkan mewajibkan kepada tiap-tiap orang supaya mencari rezeki sekuat tenaga, dan, — berlainan pula dengan kapitalisme, dimana ajaran Islam menekankan bahwa —  kekayaan yang di- dapat itu tidaklah boleh digunakan untuk kepentingan diri sendiri saja, tetapi harus juga di keluarkan untuk menolong sesama manusia, guna menciptakan kemakmuran bersama.

 

 

Catatan ;

Dalam hubungan dengan komunisme memang majelis Syuro Masjumi mengutuk komunisme itu sebagai kufur dan mereka yang secara sadar dengan yakin menyokong ideologi ini sebagai kafir. Pendapat ini merupakan salah satu keputusan Musyawarah (Kongres) Ulama Islam di Palembang 1955.***

 

 

 

 

 

Demokrasi Terpimpin,

Pandangan Natsir Tentang Demokrasi

Dan Pengalaman Masyumi.

 

Masa tahun 1957-1965, demokrasi Indonesia hampir saja berganti menjadi diktator. Masa ini mencatat bangkit dan berkembangnya suatu pemerintahan otokratis yang menumpas tanpa segan tiap oposisi atau pandangan yang tidak menyetujuinya. Demokrasi Terpimpin, nama yang diberikan Presiden Soekarno sendiri. PKI juga berhasil dalam meningkatkan peranannya dalam pemerintahan dan masyarakat.[1]

 

Setelah sistim ini tegak secara penuh, dan Soekarno menjadi Presiden eksekutif mulai tahun 1962 ia menjadi Presiden Seumur Hidup. Ia disebut “Pemimpin Besar Revolusi”.  Ketidak setujuan atau perbedaan dengan pemerintah ketika itu disebut “kontra-revolusioner”. Masyumi telah dilarangnya sejak tahun 1960.[2]

 

Menaggapi penguburan partai yang sebelumnya telah disarankan Soekarno, yaitu bulan Oktober 1956, Mohammad Natsir berkata bahwa selama demokrasi masih ada, selama itu pula partai-partai terus ada. Sealama masih ada kebebasan partai, selama itu demokrasi ditegakkan. Kalau partai-partai dikubur, demokrasipun otomatis akan terkubur, dan diatas kuburan ini hanya diktatur yang akan memerintah.(lihat Abadi, 30 Oktober 1956, Merdeka, 31 Oktober 1956) [3]

 

 

Menurut Pak Natsir (yang waktu itu Ketua Umum Masyumi), “demokrasi bukan semata-mata cara yang dapat diubah setiap waktu menurut keadaan”. Pak Natsir melihat, demokrasi sebagai way of life, jalan atau pandangan hidup. Ia mengakui bahwa, “implementasi demokrasi sebagai suatu sistim memang sukar, oleh sebab itu menurut pengalaman  dan harus pula melalui berbagai cobaan yang kadang-kadang pahit”. Pak Natsir pun mengatakan bahwa, “demokrasi tidak dapat terhidang di atas talam emas, sebaliknya, seringkali meminta korban. Karena itu, salah satu syarat demokrasi ialah bahwa pendukungnya harus memakai partai sebagai alat menurut peraturan yang wajar dan bahwa para pendukung demokrasi ini harus dengan jujur menegakkan nilai-nuilai yang berharga dalam hidup. Jangan alat itu (yakni partai-partai) yang di jadikan tujuan dengan menginjak nilai-nilai hidup”. Karena itu, Pak Natsir menghimbau semua pihak, termasuk politisi dan tentara, untuk menghindarkan diri dari tindakan yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi.[4]

 

 

Demokrasi merupakan satu-satunya sistim yang mungkin menyelamatkan Republik Indonesia, dan diktatur bukan merupakan alternatif. Pak Natsir bertanya, apakah para penegak demokrasi akan dapat mengembalikan kepercayaan yang ketika itu (masa demokrasi terpimpin) sedang guncang.

Pak Syafruddin Prawiranewgara berkata; “inilah bahaya yang sebesar-besarnya yang mengancam negara kita; yakni bahwa demokrasi tenggelam dalam koalisi, dan koalisi kemudia dimakan oleh anarki, dan anarki diatasi oleh golongan-golongan yang bersenjata atau golongan yang menguasai golongan-golongan yang bersenjata itu” (Syafruddin Prawira negara, Indonesia Di persimpangan Jalan, Jakarta/Bandung, Al Ma’arif,1951, hal.9).[5]

 

Menurut Pak Natsir, “demokrasi yang harus ditegakkan ialah yang tidak mengambang, yang tidak menghasilkan kekacauan dan anarki, tetapi yang yang terpimpin damn terbimgbing oleh nilai-nilai moral dan nilai-nilai hidup yang tinggi” ( Abadi 9 dan 10 Nopember 1956).[6]

 

Selama masa demokrasi terpimpin, terlihat dua gejala, “rejimentasi” dan “indoktrinasi”. Kebebasan berpendapat, tertulis dan lisan, kebebasan berapat dan berkumpul di kurangi, dan penjagaan terhadap ini di ketatkan. Kebebasan akademis dianggap Barat, liberal, yang tidak sesuai dengan pribadi Indonesia. Beberapa harian dan majalah, yang dianggap sepaham dengan Masyumi dan PSI (waktu itu) ataupun yang ingin bebas, dilarang terbit. Beberapa orang dosen di Jawa dan Sumatera dilarang mengajar. (Mereka yang terkena larangan mengajar ialah Dr.Bagowi di Yogyakarta, Dr.Mochtar Kusumaatmaja di Bandung, Dr.Deliar Noer di Medan).[7]

 

Selama masa demokrasi terpimpin, masaalah apakah Muhammadiyah akan mengubah statusnya masih terus kedengaran, teruitama setelah Masyumi bubar tahun 1960. Muhammadiyah akan merubah status menjadi partai politik bisa dilihat sebagai perkembangan yang wajar saja. Melalui berbagai kongres organisasi ini tetap mempertegas kedudukannya sebagai organisasi sosial (Antara lain keputusan Kongres Muhammadiyah di Palembang tahun 1956 (Duta Masyarakat 1 Agustus 1956). September 1958, Majlis Tanwir Muhammadiyah berpegang terus kepada keputusan Kongres Palembang, bahkan Hamka yang duduk dalam pimpinan pusat Muhammadiyah merupakan pendudkung fanatik Masyumi, dan bahkan memperlihatkan simpatinya terhadap perjuangan PRRI (Duta Masyarakat 19 September 1959).[8]

 

Pak Natsir serta rekan-rekan (partai Masyumi) yang ikut dengan PRRI tidak setuju dengan saran untuk melepaskan diri dari bagian lain Indonesia. Mereka menganjurkan agar tetap berjuang dalam keutuhan Republik Indonesia (George Mc.T.Kahin, “Mohammad Natsir” dalam Yusuf Abdullah Puar, Muhammad Natsir 70 tahun, Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan (Jakarta, Pustaka Antara, 1978, hal.322-329).[9]

 

Pada pukul 5.20 pagi tanggal 17 Agustus 1960 pimpinan pusat Masyumi menerima surat dari Direktur Kabinet Presiden yang mengemukakan bahwa Masyumi harus di bubarkan. Dalam waktu 30 hari sesudah tanggal keputusan ini, yaitu 17 Agustus 1960, pimpinan partai Masyumi harus menyatakan partainya bubar. Pembubaran ini harus diberitahukan kepada Presiden secepatnya. Kalau tidak partai Masyumi akan di umumkan sebagai ” partai telarang”. (Surat direktur kabinet Presiden, M,Tamzil, bertanggal 17 Agustus 1960 no: 2730/TU/60. Keputusan Presiden juga bertanggal 17 Agustus 1960 no: 200/60. Lihat juga duta masyarakat 19 Agustus 1960;

Bajasut, Alam fikiran hlm.159-160)[10]

Kurang dari sebulan kemudian, yaitu tanggal 13 September 1960, pimpinan pusat Masyumi menyatakan partainya bubar. Ini tidak berarti bahwa Masyumi menyetujui instruksi Presiden, pada tanggal 9 September ketua umum Masyumi, Prawoto Mangkusasmito, meminta kepada rekannya Mohammad Roem sebagai pengacara mewakili partai dalam pengadilan, mengadukan Presiden kerena telah melangar UUD 1945, dan oleh karenaituPenpres tidak sah; tiap tindakan pemerintah yangdidasarkan atas Penpres merupakan suatu tindakan melanggar hukum yangjuga bisa di golongkan sebagai penyalahgunaan kekuasaan.(Abadi 10 Septembar 1960. Ini kedua kali sesudah presiden Soekarno diadukan kepengadilan. Pengaduan pertama pada tahun 1960 juga ketika Sutomo, bekas mentri dan ketua PRI, mengadu ke Mahkamah Agung karena Presiden membubarkan parlemen. Pengaduan ini tidak pernah diproses dengan semistinya. Lihat cat. 45).

 

Tetepi pengadilan khusus Jakarta, tanggal 11 Oktober bahwa ia tidak berwenang mendengar pengaduan kerena bersangkutan dengan kebijaksanaan politik pemerintah dalam soal konstitusi. (Keputusan pengadilan itu berdasar Staatsblad 1347-23 dan staatsblad 184-57, keduanya dari zaman kolonial. Lihat bajasut, Alam Fikiran, hlm. 164-177).[11]

 

Mengenai Masyumi, Hatta mencelahnya lebih lagi karena bunuh diri dilarang dalam agama. (Juga surat Hatta kepada penulis tanggal 16 Oktober 1975).

Mereka ahkirnya mengambil keputusan bahwa partai yang dilarang akan lebih banyak kesulitan dan bahaya bagi angota-angotanya dibanding dinyatakan bubar oleh pimpinanya.[12]

 

Prawoto Mangkusasmito dan Mohammad Roem melanjutkan peranya sebagai pimpinan politik informal bagi para simpatisan Masyumi, termasuk bekas anggota istimewa. Sekurang-kurangnya mereka sebagai tempat tempuan bila diperlukan apalagi pada saat-saat orang kebingungan melihat perkembangan keadaan; sekurang-kurangnya sebagai tempat melepas perasaan yang sesak tertekan, dan kalau bisa tempat meminta nasehat dan saran. Setelah mereka ditahan mulai Januari 1962, tempat tumpuan itu berpindah kepada Fakih Usman sampai para pemimpin lain bebas tahun 1967. (Setelah Mohammad Natsir dibebaskan dari

tahanan tahun 1967 ia kembali menjadi tumpuan bagi para pengikut Masyumi).[13]

 

Hal yang sangat memberi pengaruh bagi

perkembangan dan peranan kalangan Islam dalam politik selama priode Demokrasi Terpimpin adalah bnyaknya di antara pimpinan mereka yang titahan atau di penjarakan.

Mohammad Natsir,Syafruddin PrawiranegaraBoerhanoedin Harahap, berada dalam tahanan dari tahun 1961 hinga 1967.

Pada tahun 1962 Mangkususanto, Mohammad Roem, M. Yunan Nasution, E.Z. Mutaqien, dan K.H.M. Isa Anshary

(di Madiun); ada yang sendiri-sendiri, seperti Hamka

(di Sukabumi), Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono dan Kasman Singodirmedjo, Kiai A. Mukti serta S. Soemarsono juga Djanamar Adjam(pegawai tinggi Deplu), dan H.M. Sjaaf

(ek pimpinan redaksi Abadi),ditahanan  meliter.

Dalam kalangan NU, Imron Rosjadi ditahan bersama-sama dengan Prawoto, Roem, Yunan, Muttaqien dan Isa Anshary di Madiun. Mentri Sutan Sjahril, Anak Agung Gede Agung dan Sultan Hamid, pemenjaraan atau penahanan seperti ini memberi dampak yang positif dan negatif. Di satu pihak penahanan itu mennumbuhkan banyak kesadaran pada kalangan masyarakat bahwa pemerintah Soekarno dalam zaman Demokkrasi Terpimpin merupakan pemerintah yang zalim, dan oleh sebab itu perlu di tumbuhkan yang pertama dapat menghimpunkan mereka yang sepaham yang mendambakan kehidupan yang bebas, dan oleh sebabitu mempersiapkan diri untuk masa berikutnya yang pasti akan tiba.

Para anggota Masyumi mencaba menjaga diri mereka itu dengan mengadakan saling hubungan sesamanya yang berpusat di Jakarta pada diri K.H. Fakih Usman.[14]

 

Pengalaman Hamka, Ghazali, Sjahlan, Jusuf Wibisono,

Kasman Singodimejo, Yunan Nasution, serta Soemarsono akan menambah pembendaharaan kita tentang masa Demokrasi Terpimpin itu.

Hamka ditangkap oleh alat-alat negara di rimahnya di Jakarta tanggal 24 Januari 1964. Letnan Kolonel Nasuhi

yang juga ditahan di sekolah kepolisian lebih menyedihkan lagi adalah pengalaman Ghazali Sjahlan. Kasman Singodimedjo karena ia turut membela kawan-kawannya tang ikut bergabung dalam PRRI tahun 1958, Tanggal 9 November Kasman ditahan lagi.

Jusuf Wibisono juga dituduh turut serta dalam rapat gelap di Tangerang. Ia diambil di rumahnya di Pengangsaan Timur, Jakarta, 26 Desember 1963 dan langsung ditahan di kantor kepolisian.

M. Yunan Nasution Sekretaris umum Masyumi ditahan mulai tanggal 16 Januari 1962 dan dibebaskan tanggal

17 Mai 1966.

Soemarso Soemarsono, bekas tokoh GPII pada tahun 1963 ia ditahan dipenjara Kalisosok, Surabaya.

Malah Mohammd Natsir, bekas pedana mentri dan telah mendapat amnesti sehubungannya keterlibatanya dalam PRRI, ketika ditahan di RTM Jakarta pernah ditempatkan di bagian kriminal.(ibid hal 118-121). Pak Natsir memmang tidak sebebas yang disangka ketika ia turun dari perdalaman Sumadtra memenuhi pangilan pemerintah; malah anaknya yang sulung dinikahkannya di penjara, kerena ia tidak dibolehkan menghadiri perkawinan anaknya dirumah. Ia di bebaskan tanggal 14 Juli1966.

Cerita-cerita tantang penjara di masa Demokrasi Terpimpin berakibat positif dan negatif. Ia menakutkan sebagian masyarakat, tetapi ia juga menguatkan hati sebagian lain.

Yang akhir ini melihat masa yang dihadapi sebagian lanjutan pengorbanan dan perjuangan yang lama dan yang akan diteruskan lama pula pada masa berikutnya. Sebab, hidup memmang perjuangan.[15]

Bagi partai Masyumi yang bubar pada tahun 1960, kaderisasi yang lemah sebelumnya diperlemah dengan pembaharuan partai ini. Praktis tidak dapat dipupuk kemampuan kalangan mudanya secara sengaja; mekanisme untuk itu pun tidak terwujud.

Angkatan muda Islam yang lain, yang bekumterikat pada salah satu partai pada tahun 1950-an sampai tahun 1965, umumnya tidak memperoleh kesempatan tampil. Partai yang ada, apalagi setelah masa Demokrasi Terpimpin tegak, tidak menimbulkan kegairahan untuk bergabung dengannya

Oleh sebab itu, mereka pada umumnya menanti, kalau-kalau perubahan itu tiba— yang memmang diperkirakan pasti tiba.[16]

Perkembangan keadaan memang turut juga mengikat solidaritas sesama mereka walau tidak secara lahir.

Suasana Demokrasi Terpimpin memang tidak mendorong konsolidasi, melainkan menuntut usaha untuk bertahan hidup atau saling menghancurkan. Tetapi umat Islam pada akhir masa yang kita bicarakan ini masih kuat. Tercermin dalam usaha-usaha penumpasan Gestapu/PKI selama akhir tahun965,tahun 1966, pemikiran-pemikiran banyak dilontarkan yang sejalan dengan tuntutan keadaan, tokoh-tokoh Masyumi Kegairahan menghadapi masa berikutnya juga meningkat, rasa optimisme muncul kembali.

Orang bagai merasa bahwa pengorbanan sebelumnya tidak percuma diberikan.[17]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSES KRISTALISASI

ISLAM DAN POLITIK

 

Gagasan Soekarno dalam bentik Demokrasi Terpimpin. Demokrasi gaya baru ini telah membawa Soekarno kepuncak kekuasaan yang memmang sedah lama ia dambakan, karena fondasi tidak kokoh,sistim itupulalah yang akhirnya membawanya ke jurang kehancuran politik untuk selamanya, dia terkubur bersama sistim yang diciptakanya.

Sekitar enam setengah bulan sistim ini beroperasi dalam sejarah kontemporer Indonesia, Secara politik umat Islam tidak saja berbeda pandangan, bahkan berpecah-belah berhadapan sistem yang diciptakan Soekarno.Budaya politik Indonesia yang sedang dikembangkan pada waktu itu adalah budaya politik otoriter dengan Soekarno, PKI, dan pimpinan tertiggi angkatan darat sebagai pemain utamanya.[18]

 

Demokrasi Terpimpin dalam prakteknya adalah sistem politik dengan baju Demokrasi tapi minus demokrasi.[19]

 

Pembentukan Dewan Nasional yang dapat ditafsirkan orang sebagai kekuatan Ekstraparlemen, Soekarno hendak merubah sistem ketatanegaraan Indonesia sampai kedasarnya. Cara-cara berfikir dan bertindak yang tidak Konstitusional ini seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Presiden yang telah disumpah secara konstitusional.

Pembentukan Dewan Nasional memang tidak jelas dasar hukumnya. Oleh sebab itu, negarawan-negarawan seperti,Hatta, Pak Natsir dan Syahrir telah mengecam pembentukan Dewan yang tidak punya dasar konstitusi ini.[20]

 

Roeslan Abdoelgani mengusulkan agar pidato kenegaraan Presiden 17 Agustus 1959 dijadikan Monifento politik (Manipol) yang kemudian berkembang menjadi Manipol-USDEK (UUD1945,sosialisme Indonesia, Demokrasi ala Indonesia, Ekonomi Terpimpin dan Keadilan Sosial) yang kesemuanya menjadi landasan dasar bagi pelaksanaan Demokrasi Terpimpin.(ibid hlm. 454)

Kemudian dijadikan mata kuliah wajib di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pada bulan-bulan pertama perlaksanaan Demokrasi Terpimpin terlihat proses kristalisasi yang cepat antara pendukung dan penentang terhadap demokrasi gaya baru ini. Siapa yang mendukung  dibiarkan hidup, sedangkan yang menentang harus disingkirkan.[21]

 

Masyumi memilih jalan martir ketimbang menyerah, sekalipun jalan ini ternyata di kemudian hari mempunyai akibat-akibat yang jauh bagi pembangunan demokrasi politik di Indonesia. Sekiranya Masyumi dapat lebih sabar dan tidak “Tenggelam”dalam arus idealisme martir, barang kali sistem demokrasi tidak akan tersingkir begini parah dalam sejarah modren Indonesia.[22]

 

Secara garis besar,ada dua kelompok partai Islam pada masa itu. Kelompok pertama, Masyumi yang memandang keikutsertaan dalam sistem politik otoriter sebagai penyimpangan dari ajaran Islam.Kelompok kedua, Liga Muslim (NU,PSII dan Perti), berpandangan bahwa turut serta dalam sistem Demokrasi Terpimpin adalah sikap realistis dan pragmatis.[23]

 

Di mata Masyumi sistem Demokrasi Terpimpin akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Karena itu move

Soekarno harus dilawan, apapun akibatnya.

Semangat inilah yang saya istilahkan sebagai “Idealisme Martir” Masyumi yang mempunyai resiko politik yang sangat besar bagi golongan modernis muslim Indonesia.

Masyumi sebagai cagar Demokrasi tampaknya tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Soekarno dan sistemnya, sekalipun denga sisa-sisa tenaga yang tak seimbang.

Harapan Masyumi bahwa rakyat akan berpihak kepada Demokrasi, tidak kepada sistem otoriter, ternyata sia-sia.

Sementara itu, PKI yang sangat lihai dalam manipulasi politik, berpihak sepenuhnya pada sistem Soekarno. Semua orang pun tahu salah satu tujuan tahtik PKI itu adalah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya, dan yang terbesar adalah Masyumi. (Untuk mengikuti pandangan politik PKI terhadap Revolusi Indonesia, baca apendiks III. Di situjelas sekali bahwa tujuan PKI berkoloborasi dengan Soekarno antara lain untuk melumpuhkan kekuatan”kepala batu”. Masyumi di mata PKI merupakan salah satu yang dimaksud).[24]

 

Golongan modernis, khususnya Masyumi, tidak patut lagi hidup pada Era Demokrasi Terpimpin. Masyumi harus dikorbankan “demi Revolusi”. Sikap penguasa seperti inilah yang sudah lama di rindukan PKI. Sebagai kekuatan politik yang terlatih, PKI tentu berucap: “Mengapa kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan?” Adapun Liga Muslimin di mata PKI, sekalipun juga musuh, tidak sesukar menghadapi kekuatan “kepala Batu”.[25]

 

Memang, bila di lihat dari sudut paham keagamaan di Indonesia, PSII termasuk kelompok modernis. Tapi dalam kenyataan, tdak ada jaminan bahwa sesama penganut modernisme Islam akan sesalu bersatu dalam satu perahu dalam berpolitik. Apakah fenomena ini adalah bayangan ketidak dewasaan umat Islam dalam berpolitik.[26]

 

Saya menelusuri kembali logika Revolisi Soekarno dalam kaitanya dengan pertai-partai Islam. Menurud Mohammad Roem, Logika Revolusi” ialah….. harus ditarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh Revolusi.” Masyumi dan pimpinan-pimpinannya dimasukan dalam katagori musuh Revolusi dan kare itulah harus di singkirkan. (Mohammad Roem, pelajaran dari sejarah, Surabaya: Documenta, 1970, hlm. 9.)

Dengan gaya santai dan lucu, Roem menulis:

Sebelum kami dibawa ke Madiun selam dua bulan St.Syahrir

Prawoto, dan saya ditahan di sebuah rumah di Kemayoran Baru. Di situ “logika Revolusi” menganggu pikiran kami masing-masing.Tidak bagi kami sendiri dan keluarga kami umumnya. Bagi kami sendiri Lgika Revolusi sama dengan “sewenang-wenang”, dari yang “berkuasa”: yang meskipun tidak disangka-sangka, tidak jarang terjadi diriwayat manusia.

Tapi ada salah seorang dari keluarga St. Syahrir yang belumdapat mendudukan Logika Revolusi itu yaitu Buyung, anaknya yang paling muda berumur 5 tahun. Untuk Prawoto

anaknya yang paling muda berumur 7 tahun. Bagi saya sendiri, Bu Karto, ibu mertua, umur 79 tahun. Begitulah dalam dua bulan pertama itu, Kami ber tiga menderita bingung memikirkan seorang keluarga Buyung, Bas dan Ibu Karto, yang kalau mencari Logika Revolusi tidak akan mampu menemukan jawabannya.(bid. Ejaan disesuaikan dengan EYD).

 

Tidaklah sewenang-wenang penguasa terhadap

lawan-lawan politik, menurut Roem, adalah bagian yang menyatu dengan logika Revolusi Soekarno. “Soekarno tidak orisinil”, tulis Roem seterusnya.[27]

 

Tidak mampu menarik pelajaran dari sejarah merupakan sisi lemah dari kesadaran moral manusia, tidak terkecuali—bahkan mungkin terutama—penguasa yang haus kekuasaan. Kekuasaan tampa wawasan moral yang tajam akan bermuara pada kesewenang-wenangan. Tindakan sewenang- wenang itulah yang diderita sebagaian besar lawan politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.[28]

 

Bukankah Pak Natsir sebagai perdana mentri juga restu Soekarno, John Coast, warga Inggris seorang yang bemoral tinggi. (John Coast, “Ada saat genting dan saat piknik di zaman Revolusi”, Tempo,no. 45, th. XVII (9 Januari 1988), hlm. 107, berdasarkan tuturan A. Dahanan dan Mohammad Cholid).[29]

 

Setelah Pak Natsir mengantikan Soekitman sebagai Ketua umum Masyumi pada tahun 1949, Pengaruhnya dalam partai memang terasa sangat besar. Hal ini tidak meherankan karena ia berkulifikasi sebagai intelektual dan kia sekaligus.

Bahwa Pak Natsir adalah seorang tokoh modernis yang tidak selalu dapat diterima budaya pesantren tradisional, juga merupakan fenomena lain yang harus di pertimbangkan bila orang berbicara tentang pemisahan NU dari Masyumi pada tahun 1952. Setelah pucuk pimpinan Masyumi tergengam di tangan Pak Natsir dan kelompoknya, tampaknya di mata Soekarno rumusanya menjadi: Natsir = Masyumi dan Masyumi = Pak Natsir.

Maka bila Pak Natsir turut dalam pemberontakan daerah, berarti Masyumi terlibat pula. Suatu rumusan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dari sudut pandangan yuridis frmal, tapi itulah yang menjadi kenyataan sejarah. Dan terhadap kenyataan ini. Seorang sejarawan tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengakuinya sebagai suatu kenyataan.

Masyumi di mata Soekarno adalah rival politik yang sangat menggangu. Sampai akhir 1950-an, Pak Natsir tetap tak terkalahkan oleh kelompok Soekiman untuk menduduki jabatan ketua umum partai itu. Pak Natsir dan kelompoknya memang sangat kritis terhadap move-move politik Soekarno sebelum dan selama priode Demokrasi Terpimpin.[30]

 

Pak Natsir pernah menilai sistem itu dengan mengatakan:

….bahwa segala-galanya akan ada didalam Demokrasi Terpimpin itu kecuali Demokrasi. Segala-galanya mungkin ada, kecuali kebebasan jiwa. Segala-galanya mungkin ada kecuali kehormatan dan martabat pribadi manusia. Dalam istilah biasa semacam itu kita namakan satu diktatur swenang-wenang. (Dikutip dari Yusuf Abdullah Puar,”Trias Politika RI Sering digugat”, Panji Masyarakat, no.250, th. XX

(juli 1978), hlm. 23. Garis miring dengan aslinya).

 

Sebagai orang yang merasakan benar betapa “panasnya” sistem Demokrasi Terpimpin, Pak Natsir tentu mempunyai hak sepenuhnya untuk menilai sistem itu. Apabila sejak peristiwa

“patah arang” antara Soekarno dan Pak Natsir pada awal tahun 1951, lontaran kritik semacam itu adalah wajar belaka, sekalipun berakibat buruk bagi Masyumi.

Keputusan Presiden No. 200/1960 yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1960, maka pada tanggal 13 September 1960, Pimpinan partai Masyumi menyatakan partainya bubar untuk memenuhi ketentuan-ketentuan dalam keputusan Presiden. Hilangnya Masyumi dan PSI dari pelataran sejarah modren Indonesia, dapat diartikan sebagai robohnya pilar-pilar demokrasi dan merapuhnya Indonesia sebagai negara hukum yang dengan gigih di perjuangkan.[31]

 

Oleh mendiang kedua partai tersebut. Mehilangnya Masyumi dari peredaran sejarah, bagi umat berarti sempurnanya proses kritastalisasi di kalangan partai-partai Islam dalam menghadapi dominasi politik Soekarno. Sampai berakhirnya sistem Demokrasi Terpimpin pada tahun1965, sebagai umat di bawah pengaruh yang sangat kuat dari sayap pesantren telah menjalankan politik akomodasi dengan sistem yang baru itu, yang juga di dasarkan atas justifikasi-justifikasi agama.

Sebagaimana yang tidak jarang terjadi sepanjang sejarah Islam di permungkaan bumi. Karena manusia mudah sekali melupakan masa lampau, maka fenomena serupa tidak tertutup kemungkinan akan terulang kembali. Mungkin karena bercermin pada kenyataan ini, orang sering mengatakan bahwa sejarah itu berulang,sekalipun tidak ada corak yang benar-benar sama.

Sikap Masyumi melawan Soekarno dapat ditafsirkan seperti seorang yang membunturkan kepalanya ke tembok tebal. Tapi, itulah yang dipilihnya demi Demokrasi dan negara hukum.[32]

 

 

 

 

Kepada Fi‑atin Qalilatin

Cukup Allah Tempat Berlindung

 

Telah bertingkah guruh dan petir

Seakan kilat akan menyambarmu

Telah menghitam awan di hulu

Seakan gelamat hendak melandamu

 

Telah berdendang lagu dan siul

Seakan rayuan membawamu hanyut

Tegakkan kepalamu dini hari…!

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar waLillahil hamd

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada‑Nya pulang puji dan syukur

Kembalilah kamu ke dalam hidayat dan taufiq‑Nya

 

Pancangkan Petunjuk Ilahi dalam kalbumu

 

Cukuplan Allah bagimu tempat berlindung

Dialah yang akan menegakkan pendirianmu

dengan perolongan langsung daripada‑Nya

dan kekuatan Mukminin sama seiman

 

Innahu la yakhliful mie’aad

 

Mohammad Natsir, 30 Maret 1961

(Judul asli: Minal Aidin wal Faizien)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAI’ATUL QURBA[33]

 

Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,

 

1). Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”[34]

2). Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.

Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.

Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.

Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

 

3). Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian  mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.

Ini seringkali “dilupakan” pula.

 

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform”.

Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.

 

4). Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”.

Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah  secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.

Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini.

Nanti orang kampung  sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu.

Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat.

“Penasehat” dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

5). Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.

Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.    Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a.  hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c.  keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d.  ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e.  keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini shibgah yang hendak di pancangkan ;

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

 

6). Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.

Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak..

Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !

Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan pada angka (4) tadi itu, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali, agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ;

“kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”

 

7). Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari  ribuan dapur yang berasap karenanya.

Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar. Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini.

 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam  menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa  berpantang putus asa,

bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati,

dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai,

yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

 

 

 

 

 

 

 

 

TAFSIR AT-TAUSHIATUL KHAMSAH

 

Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :

 

Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada

Maksud konservasi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.

Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.

Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.

Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

 

1). Konservasi

Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans

Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.

Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.

Bisa timbul pertanyaan ;

“apakah “utuh” itu ?

 

Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?

Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.

Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.

Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa di kalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.

Ada yang “uzlah”pasif

Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%.

Ada yang hanya mengeluh;

Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.

Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.

Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.

Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.

Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.

Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.

Ini tentulah akan bergantung kepada :

– apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.

Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.

Re-integrasi dalam tiga bidang :

(1) bidang umat,

(2) bidang pemimpin,

(3) bidang kader.

 

2). Bidang Umat

A. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.

Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka  pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.

Jangan kita lupakan bahwa yang paling  menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.

Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.

Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu,  kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?

 

B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.

Yang diperlukan bagi mereka ialah ;

(1).  perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.

(2).  hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.

(3).    menduduk-kan “nawaitu”nya,

Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.

Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas,   dengan seseorang yang  melaksanakan kegiatannya, walaupun  sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa,  dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.

Yang kedua merasa, masih merasa  dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat, memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan  idea di bidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada  keimanan.

Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.

Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar  dalam kalbu masing-masing anggota  keluarganya.

Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup  suburkan rasa dan  kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.

 

C. Sesungguhnya kita masih banyak  mempunyai saluran tenaga.

Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…

Dan bisa pula ditambah dengan yang paling baru lagi.

Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.

Di samping itu dimana  pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

 

 

 

3). Re-integrasi keluarga

Untuk itu re-integrasi di kalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.

Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.

Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentang, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.[35]

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi di bidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.

Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.

Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.

Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita  paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun  kesal.

Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.

Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;

 

“ Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,

Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya,

kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,

 

Re-integrasi pada niveau (lingkungan/tingkatan) kepala keluarga adalah integrasi selektif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.

Bukan untuk satu neveau golongan saja,               bukanla keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik,

Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjadi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.

Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.

Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu  daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.

 

Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad;

“yang sulit kita kerjakan sekarang,

“yang tak mungkin, kita kerjakan beresok .….    Insya Allah,

“yang mudah sudah banyak orang lain menger jakannya

Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.

Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.

Dan di coba lagi maju selangkah,

dan begitu seterusnya ……

Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.

Tak  perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.

Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.

Re-integrasi aktif menghendaki aktifitas.

Aktifitas menghendaki bimbingan.

Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.

Bimbingan harus berdasarkan rencana,

Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data  yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi  lokal,

interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

 

 

4). Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.

Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.

Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan  lebih panjang  umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu “conditio sine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.

Satu-satunya jalan itu, ialah ;

Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.

Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.

Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.

Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.

Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

 

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh limaan) dulu, syukur.

Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.

Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h  dalam arti yang luas.

 

Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin umat.

Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran  dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.

Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

 

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.

Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.

Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat.

Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.

Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.

Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang.

Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu.

Makin pagi makin baik ……,

 

Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.

Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

 

5). Konsolidasi & Polarisasi

Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang telah digiatkan lagi, kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu, hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.

Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah  sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.

Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.

Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.

Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.

Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.

Kalau  belum bisa dalam bentuk  organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah  serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu”  umat.

Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.

Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu  disesuaikan dengan tujuan untuk  membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.

Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.

Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai  orang bershalat jamaah  saja.

Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.

Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis  ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.

Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.

Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;

Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.

Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.

Akhirul kalam

Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.

Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.

Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.

Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.

Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).

Ini sudah menjasdi sunnatullah,

laa tabdila likhalqillah …..,

Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;

“  kejayaan jua yang kau  idamkan,

jalan mencapainya kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.

Bismillah …..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekelumit perjalanan

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

 

MERASAKAN LEZAT

HUBUNGAN ROHANI

Hubungan jiwa antara pemimpin dan yang dipimpin tidak dijalin dengan suatu pidato jawaban yang panjang‑panjang, supaya sesuai gayung dengan sambut, seperti yang sering di dengar dalam acara‑acara resepsi. Akan tetapi melalui satu perhubungan rohani yang teguh dan ikhlas, yang terbit dari cita‑cita hendak bersama‑sama dalam kegembiraan dan kedukaan, hendak sesakit dan sesenang, hendak sehidup dan semati.

Berbahagialah seorang pemimpin yang mempunyai hubungan bathin seperti itu, dengan ummat yang dicintainya dan mencintainya. Beruntunglah pula satu umaat yang ditengah‑tengahnya ada pemimpin tempat mengarahkan perasaan suka di waktu senang, menunjukkan perasaan duka di zaman susah. Alangkah  lezatnya hubungan rohani semacam itu, hubungan rohani yang terbit dari se‑cita‑cita dan se‑aqidah.

Hubungan rohani yang seperti itu bertambah  dalam artinya dan tidak kurang kekuatannya bila datang marabahaya yang menimpa satu ummat. Sebab dalam  kenang‑kenangan ummat itu kesusahan yang sama diderita lebih dalam bekasnya daripada kesenangan yang sama‑sama dirasai.

Pertalian rohani yang seperti itu terbit dari satu hubungan yang rapat berdasar kepada sama harga menghargai. Timbul dari nasib yang satu, dari kebudayaan yang satu,  yang telah terjalin dan berlapis dalam sejarah ummat sampai menjadi satu pusaka lama harta bersama, aqidah yang sama  ‑  sama hendak diperlindungi dan dipertahankan.

Apabila cita‑cita dan pertalian rohani itu sudah menjadi ikatan yang dipertalikan oleh perjalanan  sejarah, maka waktu malapetaka datang menimpa tidak ada beban berat yang tak mungkin terpikul, tak ada korban besar yang tak mungkin direlakan oleh semua yang ada dalam ikatan, untuk memelihara keselamatan bersama untuk mencapai kejayaan bersama. Sungguh lezat  hubungan rohani yang seperti itu.

 

Luruskan Niat

Akan tetapi kelezatannya tidak mungkin dikecap selama belum lengkap syarat dan rukunnya, yaitu aqidah dan ukhuwwah. Suatu bentuk dan susunan hidup  berjamaah yang diredhai Allah yang dituntut oleh syari’at Islam, mengikuti jejak Risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan tuntutan Kitabullah.

Kita sekarang merintis merambah jalan guna menjelmakan hidup berjamaah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khutbah alim ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Kita rintiskan dengan cara dan alat‑alat sederhana tetapi dengan api cita‑cita  yang berkobar‑kobar dalam dada kita masing‑masing.

Ini nawaitu kita dari  semula. Ia murah, tapi tak dapat dibeli. Ia dekat, tapi tak mungkin dicapai, sebelum terpenuhi bahan dan ramuannya. Tak mempan disorongkan dengan perintah halus atau yang semacamnya itu. Kita jagalah agar api nawaitu itu jangan padam atau berobah di tengah jalan. Kita ikatkan ukhuwwah yang ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa. Maka, tidak seorang pun yang berpikirkan sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap  penjelmaan masyarakat yang semacam itu.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah dan kita kerjakan tetapi tujuan nawaitu nya kita anjak. Semoga dijauhkan Allah jualah kita semua dan  keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan. Amin.

 

Bulatkan Persaudaraan

Telah beberapa masa zaman berganti. Empat dasawarsa telah ditempuh. Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh pengalaman‑pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian tumbuhlah semangat dalam hati;

“rasa berpantang putus asa, bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak berhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

Dalam perjalanan di “rimbo masang”, sesudah semua orang turun meninggalkan tempat ijok, dalam keadaan sulit dan jumlah jamaah kecil hanya tujuh orang dalam perjalanan perjuangan menentang resiko untuk menghidupkan perjuangan, kebulatan tekad itu tumbuh dengan hasil musyawarah juga. Hanya dengan memelihara bulat persaudaraan dalam ikatan jamaah, baik sebagai perseorangan maupun untuk kesejahteraan masyarakat kita bersama seluruhnya.

Tidak aa tempat dalam hidup jamaah itu ber‑belakang‑belakangan, hidup dengan tidak indah meng‑indahkan antara satu dengan yang lain, apalagi hidup bertentangan, hidup berebutan, yang seorang mengharapkan untung atau merasa bangga atas kerugian orang yang lain. Tolong menolong adalah adat dunia yang hendak selamat! Bukan perebutan hidup yang harus menjadi pokok pangkal dari pada hidup berjamaah itu, melainkan berlomba‑lomba berbuat baik, membanyakkan manfaat bagi sesama manusia seperti tersebut dalam Hadist;

Sebaik‑baik manusia ialah orang yang paling banyak bermanfaat bagi sesama manusia“.

Adalah satu rahasia yang akan menyampaikan manusia kepada suatu kemenangan. Kemenangan itu adalah kelanjutan dan buah dari pada jihad, seperti beras menjadi buahnya batang padi. Mustahillah orang tiada menanam padi akan menemukan beras. Maka demikian pulalah mustahillah manusia yang tiada berjijad akan mendapatkan kemenangan.

Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan sebenar‑benarnya jihad! Dia telah memilih kamu. Tuhan tiada menjadikan sesuatu kesukaran dan kesempitan dalam agama! Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Allah telah menamai kamu sekalian orang‑orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al‑Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu. Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (bahwa kamu adalah Muslim). Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. DIA adalah pelindungmu! Maka DIA lah sebaik‑baik Pelindung dan sebaik‑baik Penolong“. (QS. Al Hajj:78).

Kini telah datang waktunya bagi ummat menyingsingkan lengan bajunya bekerja sungguh‑sungguh, merampungkan  sekian banyak bengkalai yang belum jadi. Permulaan jadi adalah meninggalkan enggan dan nilai, menyalakan giat dan shabar memikul tugas kewajiban.

Maka ada baiknya bila seorang mengambil pelajaran dari kesulitan‑kesulitan dan kepayahan  yng telah diderita oleh kaum‑kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap‑tiap kesulitan itu, baik berhasil atau tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan bermacam‑macam arus dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang yang mungkin datang menjelma pula pada tiap‑tiap zaman yang mendapat giliran dari Ilahi.

 

MULAI  DARI APA YANG BISA

Tokoh‑tokoh masyumi sudah dibebaskan dari penjara, tetapi tetap diawasi ketat. Media massa diminta supaya tidak menyiarkan pendapat tokoh‑tokoh Masyumi. Bagaimana menerobos blokade ini. Memanfaatkan forum‑forum khutbah, kuliah subuh, ceramah umumm, mengantisipasi perkembangan‑perkembangan aktual di dalam maupun di luar negeri.  Disiarkan melalui Brosur Da’wah yang diterbitkan oleh Sekretariat Dewan Dakwah.[36]

Dengan cara kerja seperti itu, tidak mengherankan kalau kadang‑kadang informasi Dewan Dakwah ke daerah,  lebih cepat ketimbang informasi pemerintah pusat. Orang banyak bertanya‑tanya, dari mana Dewan Dakwah punya dana. Kalau boleh terus  terang, kita tidak punya dana. Tetapi, itulah. Kalau kita mulai kita mulai mengerjakan sesuatu, ada saja orang yang membantu. Untuk memutar stensil kita numpang. Kemudian Persatuan Dagang Tanah Abang (Perpeta) menyumbang sebuah mesin stensil, Syamsuddin seorang dermawan mewakafkan sebuah mesin tik dan tape recorder, ada yang menyumbang kertas, menyumbang stensil, menyumbang tinta untuk mengoreksi, dan lain‑lain. Banyak modal terkumpul, semuanya betul‑betul dari ummat. Bapak Natsir selalu mengatakan, “Tiap‑tiap kita adalah dai pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang muslim, mempunyai tugas dakwah. Ialah menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara merbot masjid mungkin buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Merbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, merbot menjadi dai. Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan  dakwa dapat berjalan lancar. Yang kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah swt, mungkin tidak bisa naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai”. MPRS akan bersidang. Kepada para anggota MPRS itu hendak disampaikan pengertian bahwa demokrasi itu hanya bisa hidup kalau dijalankan di bawah hukum. Pak Natsir berpidato tentang “Demokrasi di Bawah Hukum”. Naskah pidato tersebut kepada para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta (MPRS). Bagaimana cara membagikannya? Anak‑anak Pelajar Islam Indonesia  (PII). Biar kami yang mengantarkan ke penginapan para anggota MPRS.[37] antara lain dengan mobil salah seorang Wakil Ketua MPRS, Subchan Z.E.

Pidato Pak Natsir tersebut perlu rasanya disampaikan sebagai sumbangan pikiran dari Dewan Dakwah. Kepada seorang pengusaha ditawarkan. “Tolonglah Saudara menjadi dai. Dai untuk masalah politik yang tinggi”.

“Tolonglah cetak ini, 2000 eksemplar. Kepada para anggota MPRS. “Kalau begitu, saya biayai, selesai dicetak, berdatanglah para pemuda siap mengantarkan ke alamat‑alamat di tempat mereka menginap. Maka sampailah brosur kita ke tangan para anggota MPRS. Si kaya telah memberikan uangnya. Si pemuda pelajar memberi tenaganya.

 

Diwaktu itu, orang masih takut terlibat politik. Dewan Dakwah memperingatkan, terutama kepada para dai, “Kalau memang Saudara‑saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara‑saudara jangan buta politik. Kalau Saudara‑saudara buta politik, Saudara‑saudara akan dimakan oleh politik. “Inilah juga di antara yang disampaikan oleh Dewan Dakwah. Dewan Dakwah selalu ikut memberikan sumbangan pemikiran. Rancangan Undang‑undang (RUU) Perkawinan, Pendidikan Moral  Pancasila (PMP), RUU Sistem Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama. Dengan cara 24 jam, kita mengembangkan Dewan Dakwah. Otak Dewan Dakwah ini Pak Natsir, Buchari Tamam kepala dapurnya dan para pemuda sebaga tenaga lapangan. Dewan Dakwah juga melakukan pengaderan. Pembinaannya diserahkan kepada Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Kita sangat terkesan cara kerja Pak Natsir. “Yang mudah kita kerjakan sekarang. Yang sulit kita kerjakan besok. Yang mustahil kita kerjakan kemudian. “Jadi, Pak Natsir tidak pernah mengenal putus asa dalam me‑laksanakan program. Pak Natsir tak pernah memulainya degan berpikir tentang dana. Dia memulainya dengan membuat rencana. Mulai dulu, dari yang kecil. Kalau sudah dimulai, nanti akan bertemua dengan berbagai masalah.

Yang mula‑mula dikerjakan Dewan Dakwah hanyalah memperbanyak khutbah. Dengan itu Pak Natsir memulai kontak dengan teman‑teman di segala penjuru. Dana kegiatan ada dikantong pendukung, mereka akan ikhlas mengeluarkan kebulatan tekad untuk melaksanakan rencana. Faidzaa ‘azamta fatwakhal ‘ala Allah. Masalah‑masalah nasional yang semula kurang mendapat perhatian kita  angkat ke permukaan dengan cara positif. Dewan Dakwah datang dengan model alternatif seragam yang Islami.[38] Dewan Dakwah bukan organisasi politik, tetapi dari segi dakwah kita tidak dapat berpangku tangan. Selepas dari tahanan rezim Orde Lama, Pak Natsir mengunjungi berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dan sambutan yang diterima Pak Natsir, selalu meriah. Kenyataan‑kenyataan tersebut segera saja melenyapkan isu bahwa Pak Natsir telah kehilangan tempat di hati umat akibat peristiwa PRRI. Yang terjadi justru kebalikannya. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sampai sekarang dan insya Allah sampai kapanpun, tetap membangun umat, sesuai kemampuan maksimal yang kita miliki.

 

Beberapa Kegiatan

Usaha‑usaha yang telah digarap. Yang Pertama, mem‑perluas pengertian dakwah bahwa dakwah luas artinya. Mencakup selurus aspek kehidupan Q.S Al‑Anfal ayat 24.

Bapak Natsir sebagai ketua Dewan Dakwah mengungkapkan sejarah, bahwa dakwah pada hakikatnya ialah kelanjutan dari risalah Nabi Besar Muhammad SAW. Rasulullah diutus oleh Allah SWT kepada masyarakat manusia di dunia, tujuannya ialah untuk menggarap selurus aspek kehidupan. Yang kedua, mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Dewan Dakwah datang mengingatkan kembali, masjid merupakan pusat pembinaan umat, sesuai fungsi masjid yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. Dewan Dakwah memberi contoh dengan berkantor di masjid Al‑Munawarah. Dari sudut kecil itulah digarap semua kegiatan Dewan Dakwah.

Yang Ketiga, Dewan Dakwah memberi pengertian kepada jamaah bahwa tugas dakwah adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Yang keempat, menggiatkan dan meningkatkan mutu dakwah. Dewan Dakwah berusaha meningkatkan mutu dan kegiatan dakwah. Ulama‑ulama dan dai dari daerah‑daerah diadakan diskusi untuk memperluas pengertian mereka tentang dakwah. Untuk membuka cakrawala pemikiran yang selama ini terbelenggu oleh ketakutan, tekanan komunis dan Orde Lama yang diktator. Untuk menggarap dakwah di daerah‑daerah rawan, seperti daerah transmigrasi dan daerah‑daerah ter‑belakang, disedikan para dai yang dilatih khusus antara sebulan sampai dua bulan di Pesantren Pertanian “Daarul Fallah”, Ciampea, Bogor, untuk meningkatkan pelajaran dan pendidikan agama bagi mahasiswa di perguruan‑perguruan tinggi, Dewan Dakwah menatar dosen‑dosen mata kuliah umum dengan maka kuliah agama Islam. Kita juga mencari kontak ke luar negeri untuk mendapatkan buku‑buku standar di bidang agama. Sesungguhnya upaya pengadaan perpustakaan Islam telah dirintis oleh Dewan Dakwah sejak 24 tahun yang lalu. Dewan Dakwah juga berpikir untuk menggerakkan dakwah bil hal. Dengan cara membangun masjid‑masjid sebagai markas perjuangan umat. Membangun madrasah‑madrasah, membangun rumah sakit di Sumatera Barat, di Jawa Tengah, di Riau, di Lampung. Lembaga‑lembaa pendidikan keterampilan Pesantren Pertanian “Darul Fallah” di Bogor. Lembaga Keterampilan di Batu Marta Sumatera Selatan. Yang kelima, meningkatkan usaha pembentengan/pembelaan akidah umat. Berkeliaran hama‑hama yang akan merusak dan mencuri tanaman kita. Hama yang kita maksud ialah berupa para penyebar agama selain Islam. Sekularisme, orientalisme, komunisme, marksisme, serta pemikiran‑pemikiran yang menyempal yang pada Islam Jamaah, Inkarussunah, Isa Bugis, Syi’ah, dan lain‑lain. Masalah al ghazwul fikr (perang pemikiran). Dewan Dakwah mengambil peranan khusus. Dijawab oleh Pak Rasjidi dengan tulisan, tampil pula Pak Natsir, Pak Zainal Abidin Ahmad, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Pak Bahder Djohan, Pak Deliar Noer dan Pak Daud Ali. Dilanjutkan lagi oleh generasi yang lebih muda para alumni Timur Tengah. Buah tangan mereka yang memperkaya khazanah perpustakaan Islam, melalui Dewan Dakwah. Walau secara berkecil‑kecil di markas Dewan Dakwah Pusat sudah ada beberapa penerbitan yaitu Media Dakwah, Suara Masjid, Sahabat, Bulletin Dakwah, Serial Khutbah Jum’at, lengkap dengan toko bukunya. Menghadapi perang pemikiran, Dewan Dakwah bahkan telah membentuk tim “Ghazwul Fikri”. Dalam soal difa’ (pembelaan) ini diawal Dewan  Dakwah mencanangkan jihad difa’, malah banyak yang menantang. Pada akhirnya banyak juga yang terbuka hatinya, dan mendukung apa yang dicanangkan Dewan Dakwah. Walaupun telah banyak korban jatuh, tetapi kesadaran tidak pernah terlambat, asal mau memburu ketinggalan.

Yang keenam, membangkitkan ukhuwah Islamiyah al’Alamiyah. Membangkitkan ukhuwah Islamiyah internasional. Di seluruh dunia ada umat Islam. Di lima benua ini ada umat Islam. Jumlahnya hampir seperempat penduduk bumi. Lebih kurang satu milyar. Membangkitkan kesadaran inipun dilakukan oleh Dewan  Dakwah dengan mengadakan perjalanan muhibbah ke negara‑negara Islam di seluruh dunia. Terutama ke Timur Tengah, ke Saudi Arabia, ke Kuwait, ke Libya, ke Irak, ke Palestina melihat langsung keadaan umat Islam di sana. Dewan Dakwah menggerakkan umat Islam Indonesia, mengumpulkan bantuan apa saja. Tumbuhlah rasa ukhuwah Islamiyah internasional, bagaimana nasib umat Islam di Indonesia?

Dewan Dakwah mengungkapkan kepada saudara‑saudara kita di belahan dunia lain, bagaimana ghazwul fikr yang tengah melanda umat Islam di Indonesia dewasa ini. Umat Islam yang masih terikat kebodohan. Disamping miskin sarana‑sarana dakwah, langkanya dai yang terampil, rumah sakit tempat penampungan pasien yang lemah yang sering jadi sasaran empuh missi dan zending. Dakwah paling sedikit telah mengirim 500 pelajar ke berbagai negeri di Timur Tengah. Beberapa ratusan masjid yang dibangun oleh Dewan Dakwah dengan bantuan saudara‑saudara kita di Timur Tengah, terutama dari Kuwait, dan Saudi Arabia. Inilah hasil ukhuwah Islamiyah internasional.

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah. Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.

 

 

 

 

Tidak Hanya Timur Tengah

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah.

Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.

 

 

 

 

 

 

Pemimpin Pulang

 

Bapak DR.Mohammad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”, pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Wakil Presiden  Muktamar Alam Islami,  Ketua Umum Partai Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960, selalu memesankan setiap pribadi pemimpin selalu teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya menghidupkan jiwa umat, agar selalu terjaga ruhnya tetap hidup, Bapak Mohammad Natsir, mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis tentang kriteria pemimpin yang pulang itu. “Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.” Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya. Dia tidak boleh berhenti.

Ada pula yang, “Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran), atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”. Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya. Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.

Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin, terpaksa harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya. Karena itu, ada pemimpin,  “Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”. Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah. Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, berlindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati. Pemimpin yang sedemikian, kata Pak Natsir , serupa dengan ”Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang. Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti. Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya. Mereka itu “Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.” Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus. Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tetapi menyerong.  Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar. Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya, walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang.. Pesan ini disampaikan beliau dalam satu ungkapan indah di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid    1381. Setahun setelah Masyumi membubarkan diri. Demikianlah suatu sunnatuillah di bebankan kepundak pejuang untuk selalu di ingat oleh  pemimpin pejuang.

Padang, Juni 1999.

 

 

 

 

DALAM PELAYARAN YANG PANJANG,

ADAKALANYA,

NAHKODA HARUS BERPIRAU[39]

 

Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat pampan  (depan), tetapi menyerong.

Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar.

 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

(1). Angin dan gulungan ombak tidak di songsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak. Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.

Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan berhenti ditempat sebentar, menunggu badai reda. Tidak ada badai yang tak pernah reda. Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu yang termasuk angin dan arus itu.

Bagi seorang Muslim ikhtiar dan do’a memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan. Ini lebih baik dari pada melepaskan kendali dari tangan, dibiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

 

(2). Kemudi tidak boleh lepas dari tangan. Mata juru mudi dan nahkoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengaasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh dilangit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi. Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayug. Berhenti mendayung, sauh tidak boleh dipasanng berarti hanyut. Sebab angin dan arus tidak timbul suasana lesu, dan suasana masa bodoh, atau paniek, akan sukar pula membangkitkan mereka mendayung kembali. Mereka selalu asyik dan diasyikkan.

Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tangga mereka waktu itu. Namun berdayung terus berdayung. Agar jiwa mereka tetap besar harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nahkoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu. Diwaktu badai tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri. Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa mennjadi juru bantu, turut  mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.

Nahkoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu. Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana paniek. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air. Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nahkoda yang lalai.

 

(3). Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung. Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung; kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatiri akan membelokkan arah.

 

(4). Berlayar bukan asal sekedar berlayar. Harus tentu-tentu tempat yang dituju. Harus tentu sifat muatan yang dibawa. Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa. Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang dimusim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan. Dalam keadan yang semacam itu ijtihad Nakhodalah yang menentukan, disuatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang ditiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah : (a). Jangan lakukan “tasyabbuh”. Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya mem bingungkan anak  perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka. (b). Jangan ada “talbisul haq bil bathil” mencampur adukkan muatan yang baik  dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

(c}. Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih dan para Nakhoda melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang dilaut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

 

(5). Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi. Tidak ada pelayaran tanpa resiko. Soalnya bukanlah ada resiko. Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan denga nilai yang hendak dicapai.

Bagaimana orang  bermain di pantai kalau ikut kepercikan air. Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti. Harinya terus menuju ke “laruik sanjo”. Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” (pemimpim masa lalu) sedangkan berkembang menjadi “rijalul yaum” (pemimpin masa kini). Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

 

(6). Beberapa rangkuman ayat dan hadist, yang dikemukakan dibawah ini, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meeruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya. “Beramallah kamu pada tempat kamu masing-masing. Akupun  adalah orang-orang yang juga beramal” Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;  Jangan gugup,  Bismillah :  Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

 

Medan Jihad, Agustus 1961

 

 

 

MEMBANGUNKAN

POTENSI UMAT

 

Masjid Almunawarah Kampung Bali I No.56 Tanah Abang  Jakarta, adalah tempat pertemuaan anatara umat dan pemimpinnya. Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 1967, telah berdiri  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  Lembaga ini didirikan oleh para ulama dan tokoh-tokoh Islam  dalam bentuk Yayasan dan Mohammad Natsir dipercayakan sebagai Ketua Umum.

 

DDII didirikan dengan semangat jihad dalam bentuk moderat (bapirau), selepas kebangkrutan politik Nasakom  orde lama.. DDII diharaapkan sebagai penampung aspirasi keluarga besar Bulan Bintang,  sesuai dengan  apa ayang pernah diucapakan  oleh  Ketua Umumnya : Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.  Bubarnya partai Masyumi  adalah salah satu korban politik orde lama, karena menurut Persahi waktu itu secara yuridis formil dan yuridis materil ,Masyumi tidak beralasan untuk dibubarkan. Dalam rangka menumbuhkan kembali potensi umat yang sudah terkoyak-koyak pada masa peralihan dari orde baru ke orde lama, barisan harus dirapatkan kembali sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa berjuang di jalan Allah itu harus bersatu dalam organisasi yang kokoh kuat, sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Maka untuk menhimpun kembali potensi keluarga besar yang sudah bercerai berai itu,  haruslah dengan kerja keras melalui tahap-tahap kegiatan  sebagai berikut :

 

 

 

 

TASYAKUR NIKMAT [40]

 

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat. Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini, apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

 

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

 

Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri, yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah dari luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selam 31/2 tahun lamanya, banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak keruntuhan yang harus dibangun.

Langkah-langkah yang digariskan itu, adalah tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

* penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

* perumahan rakyat yang hangus terbakar

* sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

* luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

* kehancuran pendidikan agama.

Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohammad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor; dan dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan dan sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan, kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba yang sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat dengan segala akibat yang harus dilalui, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang, bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat, terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak Mohammad Natsir.

Dengan pedoman yang telah digariskan secara terperinci oleh Bapak Mohammad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan, maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut, menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan, karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut dan alasan untuk menjaga keamanan yang bersangkutan. Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil. Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung).

Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakkan, PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halamannya (negerinya) itu.

Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat, menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan. Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohammad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk yang digoreskan walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”, bersama pemimpin-pemimpin lainnya seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohammad Natsir disambut baik, tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”, memulai dengan program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan, waktu itu tahun 1962.

Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, dengan dibekali amanat supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat kala itu Bapak Mohammad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid dan membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni sutera alam dan tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat melalui kursus dan latihan. Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI telah merayap dari sudut ke sudut hati setiap peserta, walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

Semboyan kita ialah :

* Yang  m u d a h  sudah dikerjakan orang

* Yang     s u k a r   kita kerjakan sekarang

* Yang   tak mungkin      kita kerjakan besok

* Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

 

“Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

 

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohammad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria, akan tetapi merasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura, dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang, umpamanya pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor terutama dikalangan “bundo kandung” kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak Mohammad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta, disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang”, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima, sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu. Dan seorang, keluarga Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkapkan dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..”, merupakan buhul yang kian sarat makin erat untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEDOMAN PEMULIHAN

TENAGA TERPELANTING [41]

 

Ada ratusan ribu, kalau tidak milyunan, tenaga-tenaga yang terpelanting sekarang ini. Ada puluhan ribu yang sudah gugur. Banyak tenaga-tenaga yang invalid. Ada pula yang masih dalam tahanan. Puluhan ribu rumah yang terbakar hangus.

Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang sedang direncanakan oleh “yang berwajib” untuk menyalurkan  tenaga-tenaga yang terpelanting itu, dan lain-lainnya, timbul pertanyaan, apakah kita boleh pasif saja sambil menunggu-nunggu apa yang akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” ?

Jawabnya ; tidak !

Tidak boleh kita pasif. Pertanggung jawab moral kita tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, baik dibidang sipil atau dibidang militer tadinya.

Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani  kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedang teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat kita lakukan dibidang ini? Sedangkan kita tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa.

Memang.  Tetapi ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpim dari orang ‘awam.

Makanya kita dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki;

a. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

b. Daya-pikir dan daya-cipta

c. Cara hidup yang bersih

d. Akhlak dan budi pekerti yang baik.

e. Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa umumnya

f. Ras setia kawan yang telah pernah  terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uap atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri mereka yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi mereka selama ini.

Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.  Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

Kalau ini sudah kita sadari, maka kita dapat membagi-bagi tenaga-tenaga masyarakat yang sedang terpelanting menderita itu dalam berbagai golongan yang kita harus dengan berbagai cara pula.

Apa macam golongan itu ? Ada ;

A. Pelajar dan Mahasiswa

B. Bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil dan Militer.

C. Bekas pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah).

D. Tani, pedagang kecil dan buruh kecil

E. Mereka yang invalid

F. Keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.

G. Mereka yang masih dalam tahanan

H. Mereka yang kehilangan rumah

Bagaimana menghadapi masing-masing golongan tersebut ?

 

 

 

 

Tata – cara ;

Penyelenggaraan usaha-usaha tersebut diatas memerlukan beberpa hal, baik yang bersifat psychologis  ataupun technis;

1. Buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril kita harus berikan.

Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega.

Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar’iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali.

2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran itu, mengenai namany, alamatnya, kecakapannya dan lain-lainnya. Catatan-catatan semacam itu diperlukan untuk memudahkan hubungan menghubungkan mereka dengan bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana  ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenaga-tenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah.

4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ;

a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benar-benar membuktikan kesungguhannya dan senantiasa mempertinggi mutu pekerrjaannya dibidang yang akan ditempuhnya itu.  Dia harus membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik.

b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia berusaha sedapat mungkin, merintiska jalan bagi teman-teman yang masih bertebaran.

5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan mempunyai inisiatif.

Gembirakan semangat bekerja mereka dan berilah  dorongan kepada perusahaan kecil yang diselenggarakan dengan tenaga sendiri atau bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula.

6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansi-instansi resmi. Tidak usah ragu-ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansi-insntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi.

Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani.

 

Penutup,

1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau begitu macamnya usaha-usaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalu bagaimana kita sendiri ?

Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan  agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan dan mengikhtiarkan kesejahteraan bagi umat yang dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun.

Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang kewajiban ini senantiasa  sejalan dan berjalin. Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga.

Malah justeru di sa’at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka  dapat dirasakan berada ditengah-tengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersama-sama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak bisa, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

“KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU”[42],

Ini adalah Sunnatullah.

 

“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANG GUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA”[43].

Bukanlah begitu peringatan Rasul ?

 

2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yakni

tidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Kita percaya kepada pengalaman-pengalaman daya pikir daya cipta masing-masing kita yang sama-sama menghadapi kesempurnaan lagi dalam praktiknya, sambil berjalan.

Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru.

Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah hal-hal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau.

Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan.

Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;

– Yang mudah  sudah dikerjakan orang

– Yang sukar kita kerjakan sekarang

– Yang “tak mungkin” kita kerjakan besok

– Dengan mengharapkan hidayat Ilahi.

 

“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

 

 

TANYA DAN DO’A[44]

 

Tentang hidup di desa ini

Dari dahulu sampai kini

Banyak, cerita ku dengar

Dan pengalaman dan penderitaan dirasa

Hidup dilingkungan bahan bertimbun

Terlena dibuai nyanyian alam

Alpa menggali aneka guna

Meranalah hidup hampir tak punya,

 

 

Dini hari …………….

Dalam upacara ini …………

Berdegup jantungku merangkum tanya

Munajat jiwaku memohon do’a.

Adakah ini mula masanya

— Desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini

Bertukar derum mesin diruang pabrik

— Lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini

Berganti cerobong tinggi mengepulkan asap,

— Gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat

Bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur,

— Punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita

Menjelma manusia manusia baru

Makmur bahagia …….

 

 

 

MEMBINA UMMAT DARI BAWAH

JANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG …,[45]

 

Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha. Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin. Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas. Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

 

1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) umum melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis dengan tujuan mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.

Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Ia mempunyai bermacam kepercayaan menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata.

Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie social being yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order, di mana dia terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.

Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[46]; “… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri”.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris, masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMMAD HATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi”, antara lain sebagai berikut ;

“ ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya. Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya. Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah.

Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman. Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyebarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan perasaan. Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti. Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.

Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dan tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah.

Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.

Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan.

Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”

Demikian DR. MOHAMMAD HATTA. Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu.

Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.

Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu.

Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada, pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach”nya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara. Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC. Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.

Caranya; “ modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

(Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

(Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.

(Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.

Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya. Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seimbang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah dibidang apapun.

 

“Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

 

2. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.

Antara lain ;

Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.

Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.

Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

 

Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang. Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini, juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang. Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

a.  memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering persoalan yang tumbuh ialah, bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”, dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).

 

Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsur-unsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besar-besaran.

Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih. Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci. Dibeberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugian-kerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan. Sungguhpun demkian  monyet tersebut tidak boleh dibunuh.

Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua. Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya. Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya. Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.

Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.

Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.

Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada.

Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”. Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

 

GALI DARI AJARAN ISLA M

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, antara lain:

 

1. Keseimbangan

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;

a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”.  (Hadist).

 

2. Self help

Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”,  dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :

c) “Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).

Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah :

d). “Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)”  (Hadist).

3.       Tawakkal

Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;

e) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.

f) “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat).

Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang, tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.

4.       Kekayaan Alam

g) “Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.[47]

Kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna [48]

menghasilkan buah bermacam rasa.[49]

Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.[50]

Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.[51]

Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah), dan supaya kamu pandai bersyukur”.[52]

Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.[53]

 

5.       Time – Space – Consciousness

h.  “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.[54]

i.  “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. [55]

j.  “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini” dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit”[56] dan Dia lah yang menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan.

Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.[57]

Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. [58]

 

6.       Jangan Boros [59]

k.  “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri,agar jangan melewati batas, dan berlebihan ;[60]

“Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.[61]

 

Kalau disimpulkan ;

Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia, dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada ilahi, serta menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.

Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).

“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

 

1).     Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh

Ka karang rancam ma-aruih

Ka pantai ombak mamacah

Jiko mangauik kameh-kameh

Jiko mencancang, putuih – putuih

Lah salasai mangko-nyo sudah

 

2).     Caranya:

Senteng ba-bilai,

Singkek ba-uleh

 

Ba-tuka ba-anjak

Barubah ba-sapo

 

Anggang jo kekek cari makan,

Tabang ka pantai kaduo nyo,

Panjang jo singkek pa uleh kan,

mako nyo sampai nan di cito,

 

Adat hiduik tolong manolong,

Adat mati janguak man janguak,

Adat isi bari mam-bari,

Adat tidak salang ma-nyalang,

(basalang tenggang.)

 

Karajo baiak ba-imbau-an,

Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau sirauik,

Patungkek batang lintabuang,

Satitiak jadikan lauik,

Sakapa jadikan gunuang,

Alam takambang jadikan guru.

 

Jiko mangaji dari alif,

Jiko babilang dari aso,

Jiko naiak dari janjang,

Jiko turun dari tanggo.

 

Pawang biduak nan rang Tiku,

Tandai mandayuang manalungkuik,

Basilang kayu dalam tungku,

Disinan api mangko hiduik.

Handak kayo badikik-dikik,

Handak tuah batabua urai,

Handak mulia tapek-i janji,

Handak luruih rantangkan tali,

Handak buliah kuat mancari,

Handak namo tinggakan jaso,

Handak pandai rajin balaja.

Dek sakato mangkonyo ado,

Dek sakutu mangkonyo maju,

Dek ameh mangkonyo kameh,

Dek padi mangkonyo manjadi.

Nan lorong tanami tabu,

Nan tunggang tanami bambu,

Nan gurun buek kaparak

Nan bancah jadikan sawah,

Nan munggu pandan pakuburan,

Nan gauang katabek ikan,

Nan padang kubangan kabau,

Nan rawang ranangan itiak.

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo Majopahik,

Tuah basabab bakarano,

Pandai batenggang di nan rumik.

 

 

Latiak-latiak tabang ka Pinang

Hinggok di Pinang duo-duo,

Satitiak aie dalam piriang,

Sinan bamain ikan rayo.

 

 

3).     Kemakmuran :

 

Rumah gadang gajah maharam,

Lumbuang baririk di halaman,

Rangkiang tujuah sajaja,

Sabuah si bayau-bayau,

Panenggang anak dagang lalu,

Sabuah si Tinjau lauik,

Birawati lumbuang nan banyak,

Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,

Mardeso di paruik kanyang.

 

4).     Perhatian :

Ingek sabalun kanai,

Kulimek balun abih,

Ingek-ingek nan ka-pai

Agak-agak nan ka-tingga

 

 

Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.

 

N U C L E A R :

 

Lah masak padi ‘rang singkarak,

masaknyo batangkai-tangkai,

satangkai jarang nan mudo,

 

Kabek sabalik buhus sontak,

Jaranglah urang nan ma-ungkai,

Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang sedang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak.

Sebab dia dimulai dengan apa yang ada.

Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.

Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu. Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing.

 

Yakni :daya observasinya yang bisa dipertajam

daya pikirnya yang bisa ditingkatkan

daya gerak nya yang bisa didinamiskan,

daya ciptanya yang bisa diperhalus,

daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.

 

Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang  sesuai dengan peringatan Ilahi.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”

Cukupkan dari yang ada …

Telapak tangan….

Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.

Dalam hubungan peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang, Pak Natsir mengatakan:

 

“Tadi pagi, kita sudah melihat Pameran Yayasan Kesejahteraan dari hasil usaha masyarakat pedesaan. Amat sederhana. Tidak dapat dibandingkan dengan Pameran Jakarta Fair yang sekarang juga di Jakarta itu. Bila kita melihat barang-barang yang sederhana itu, marilah kita coba melihat dibelakang barang-barang itu, pula perkembangan potensi pribadi, dari manusia-manusia yang telah melalui process, harap cemas kegagalan, dinamika-dinamika daya cipta yang berkembang penuh dengan, suka-duka, dengan cucuran keringat, seringkali tetesan air mata, dalam menghadapi kesulitan yang serasa tak dapat diatasi, menghadapi kegagalan-kegagalan yang hampir membawa hanyut kedalam putus asa silih berganti dengan gertaman gigi, didorong oleh cita-cita dan kemauan untuk berjalan terus sampai berhasil…

“Jangan berhenti tangan mendayung,

nanti arus membawa hanyut” …..

Begitu bunyi suara hati mereka. Itu yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipameran itu. Mereka masih mengaji alif-baa-taa. Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam

 

Memang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka kereka berangsur-angsur. Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong, bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :

“Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.

Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.

Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.

Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan).

 

Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:

“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai.

Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.

“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. [62]

Itu tujuan yang hendak kita capai

Begitu khittah yang hendak kita tempuh.

Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.

Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”. Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.

 

Pak Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki.

Saudara telah menanamkan “nawaitu” dalam diri Saudara masing-masing untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui kekuatan, baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya.

Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.”

Pernah ditahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (kata Pak Natsir), disambut di Bukittinggi dengan pantun :

“Mandaki ka gunung Marapi,

Manurun ka Tabek  Patah,

Nampak nan dari Koto Tuo,

Lah barapo kali musim baganti,

Lah urang awak bana nan mamarintah,

Nasib kami baitu juo”. [63]

Maka jawablah pantun itu dengan “amal”, dengan Syi’ir posisie kucuran keringat dan perasan otak. Kalau kadang-kadang hendak berpantun juga, pelepaskan lelah, jawabkan saja ;

Ba-ririk bendi di Indarung

Mandaki taruih ke Tinjau Lauik

Jan baranti tangan mandayuang,

Nanti aruih mambao hanyuik”.[64]4)

Bismillah …..

Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan. Kami do’akan bersama-sama ;

 

Tukang nan tidak mambuang kayu,

Nan bungkuak kasingka bajak,

Nan luruih katangkai sapu,

Satangkok kapapan tuai,

Nan ketek pa pasak suntiang [65]

 

Anak urang Padang Mangateh,

Nak lalu ka Payokumbuah,

Namun nan singgah iko ka ateh,

Bijo barandang nan ka tumbuah. [66]

Mamutiah cando riak danau,

Tampak nan dari muko-muko,

Batahun-tahun dalam lunau,

Namun nan intan bakilek juo.[67]

 

Bekerjalah ….. ,

Bismillah …… –

 

 

 

TIDAK BOLEH KITA PASIF [68]

 

Pertanggungan jawab moral kita, tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin. Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedangkan teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Memang …..,

“Ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpin dari orang awam.”

Makanya kita yang dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal.

Kita memiliki dan seharusnya memiliki ;

(      Ke-Iman-an kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(      Daya pikir dan daya cipta

(      Cara hidup yang bersih

(      Akhlaq dan budi pekerti yang baik,

(      Rasa cinta kepada Agama, nusa dan bangsa umumnya,

(      Rasa setia kawan dan rasa tanggung jawab moril terhadap saudara mereka itu, yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejaran dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uang atau kekuatan lahir.

Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong…..

 

 

 

“HIDUPKAN KEMBALI

UKHUWWAH ISLAMIYAH” [69]

 

Sudah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kaji ini. Kaji yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan modern dengan alat-alat penghubungnya yang serba lengkap, automobil, kereta api, kapal terbang, tilpon, pers, radio, televisi, semua itu ternyata gagal dalam menghubungkan jiwa dan jiwa, dalam ikatan persaudaraan yang ikhlas dan hakiki.

Rupanya soalnya bukan soal alat. Soalnya terletak pada jiwa yang akan mempergunakan alat penghubung itu sendiri. Sebaik-baik alat pemotret tidak bisa memprodusir gambar seseorang yang tidak ada. Alat-alat komunikasi yang ultra modern yang dapat menyampaikan pesan kepada satu satelit di luar bumi dengan tekanan suatu knop saja, alat-alat semacam itu tidak mampu menghubungkan rasa muhibbah itu sendiri yang tidak ada.

Alat-alat komunikasi sebagai hasil dari teknik modern ini telah dapat memperpendek jarak sampai sependek-pendeknya. Akan tetapi jarak jiwa dan rasa manusia tidak bertambah pendek lantarannya. Malah sebaliknya yang seringkali kita jumpai. Hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua, semakin merajalela.

Inilah problematik dunia umumnya sekarang ini, ditengah-tengah kemajuan material dan teknik yang sudah dapat dicapai manusia diabad XX ini.

Ini juga problematik yang dihadapi manusia Umat Islam khususnya.

 

Persoalan uchuwwah Islamiyah ini wajib kita memecahkannya dengan sungguh-sungguh, kalau benar-benar kita hendak menegakkan Islam dengan segala kejumbangannya kembali dinegara ini.

 

Bagi Umat Islam soal ini hanya dapat dipecahkan oleh Umat Islam sendiri, tidak boleh oran lain.

Dan jika tidak dipecahkan, maka yang salah ialah Umat Islam sendiri, terutama para pemimpinnya, bukan orang lain.

 

Menegakkan dan menyuburkan Ukhuwwah Islamiyagh tidaklah sangat bergantung kepada alat-alat modern, tidak pula kepada harta bertimbun-timbun.

Malah dikalangan kaum yang hidup sederhana itulah kita banyak berjumpa “suasana ukhuwwah” lebih dari kalangan yang serba cukup dan mewah.

Dan ….,

Sekiranya ukhuwwah itu dapat ditumbuhkan hanya dengan mendirikan bermacam-macam organisasi, dengan anggaran dasar dan kartu anggotanya, dengan semboyan-semboyan dan poster-posternya, semestinya ukhuwwah sudah lama tegak merata diseluruh negeri ini.

 

Sekiranya ukhuwwah Islamiyah dapat diciptakan dengan sekedar anjuran-anjuran lisan dan tulisan, semestinya sudah lama ukhuwwah Islamiyah itu hidup subur dikalangan Umat Islam, dan umat itu sudah lama kuat dan tegak.

Sebab sudah cukup banyak anjuran lisan dan tulisan yang dituangkan kepada masyarakat selama ini.

Ayat dan hadist mengenai ukhuwwah, sudah berkodi-kodi kertas, dilemparkan kedalam masyarakat dengan majalah-majalah, buku-buku dan surat-surat kabar, sudah hafal, dikunyah-kunyah dan dimamah orang banyak.

 

Kalau ukhuwwah Islamiyah belum kunjung tercipta juga, itu tandanya pekerjaan kita belum selesai.

Dan kalau usaha-usaha selama ini belum berhasil dengan memuaskan, itu tandanya masih ada yang ketinggalan, belum dikerjakan.

 

Rupanya soal ukhuwwah ini soal hati yang hanya dapat dipanggil dengan hati pula.

Sedangkan yang sudah terpanggil sampai saat sekarang  barulah telinga dan dengan kata. Oleh karena pihak pemanggil yang bisa berbicara barulah lidah dan pena-nya belum hati dan jiwanya.

 

Rupanya dan memang terbukti rahasianya menegakkan ukhuwwah Islamiyag terletak dalam sikap langkah dan perbuatan yang kecil-kecil dalam pergaulan sehari-hari, seperti yang ditekankan benar oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dalam membina jamaah dan umat Islam yang pertama-tama, tegur sapa, memberi salam, dan menjawab salam, mengunjungi orang sakit yang sedang menderita, mengantarkan jenazah ke kubur, memperhatikan kehidupan sejawat, membujuk hati yang masygul, membukakan pintu rezeki bagi mereka yang terpelanting, membukakan pintu rumah dan pintu hati kepada para dhu’afa, dan amal-amal kecil yang semacam itu, kecil-kecil tapi keluar dari hati yang ikhlas dan penuh rasa persaudaraan.

Sedangkan kita selama ini lebih tertarik oleh cara-cara borongan, demonstratif, dengan berteras keluar, asal kelihatan oleh orang banyak.

 

Wal hasil, membangun kembali ukhuwwah Islamiyah memerlukan peninjauan dan penilaian kembali akan cara-cara yang sudah ditempuh sekarang.

  • dia memerlukan daya cipta dari pada pemimpin yang dapat berijtihad,
  • dan memerlukan para pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai,
  • bersedia meniadakan diri.

 

Memakmurkan masjid kembali, menyusun jamaah, melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alf-baa-taa.

Bukan barang baru lagi ahli qiraat, tapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokok-pokokonya “tajwid alif-baa-taa”.

Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.

 

Sekarang ;

Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apa-apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain.

Tak usah kita terombang-ambing, oleh pertanyaan-pertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita akan turut berjual beli …?

Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.

Adapun orang yang kantongya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yag akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar …., Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………,     Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;

 

“ Maka berserulah situkang seru ;

“ Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,

“ Yang diseru,

“ tak kunjung menyahut juga …..”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASJID – JAMAAH – UKHUWWAH

 

Makmurkan Masjid kembali,

Tegakkan Jamaah dari sana ![70]

 

Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang “Memakmurkan Masjid”, mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan “perjuangan”.

Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis.

Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya.

Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.

Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat.

 

Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah.

Islam tidak  dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah.

Yang satu “muamalah maal khalqi”.

 

Ini kaji “ alif – baa – taa”.

Yang sudah terang perintah.

Bahwa perintah :

 

 

Adalah perintah wajib

 

Masyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya.

Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup.

Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat.

Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah …, Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.

 

Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat  pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara “Izzah” kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.

 

Itu fungsi Masjid,

Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun.

Bina Jamaah melalui Masjid …..,

Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan hidup kepada umat.

Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadion-stadion dengan lapangannya, dinegeri ini.

Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini.

Tinggal; mengisi dan menghidupkannya.

Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.

Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya yang menjadi sumber kekuatannya.

Bukankah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.[71]

 

Sudah lupakah kita bahwa ;

“ Hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah,

“ orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari

“ kemudian, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan

“ zakat, dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah;

“maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang terpimpin”,[72]

Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.

 

 

 

 

KABINET SEMENJAK PROKLAMASI

SAMPAI SEKARANG

 

  1. 1. PRESIDENTEEL KABINET                      (Kab. RI Ke-1) 2 Sep 1945 – 14 Nov 1945
  2. 2. KABINET SYAHRIR Ke-I                         (Kab. RI Ke-2) 4 Nov 1945 – 12 Mar 1946
  3. 3. KABINET SYAHRIR Ke-II                        (Kab. RI Ke-3 12 Mar 1946 – 2 Okt 1946
  4. 4. KABINET SYAHRIR Ke-III                      (Kab. RI Ke-4) 2 Okt 1945 – 3 Juli 1946
  5. 5. KABINET AMIR SJARIFUDDIN Ke-I (Kab. RI Ke-5)  3 Juli 1946 – 11 Nov 1947
  6. 6. KABINET AMIR SJARIFUDDIN Ke-II      (Kab. RI Ke-6) 11 Nov 1947 – 29 Jan 1948
  7. 7. PRESIDENTEEL KABINET HATTA I (Kab. RI  Ke-7) 29 Jan 1948 – 4 Agust 1949
  8. 8. KABINET DARURAT SJARIFUDDIN (Kab. RI Ke-7a) 19  Des 1948 – 13 Juli 1949
  9. 9. PRESIDENTEEL KABINET HATTA II      (Kab. RI Ke-8)  4 Agust 1949 – 4 Agust 1949
  10. 10. KABINET SUSANTO                                 (Kab. Peralihan RI Ke-9) 21Des 1949 – 21 Jan 1950
  11. 11. KABINET HALIM                                        (Kab. RI Yogyakarta – Kab. RI Ke-10a) 21Jan 1950 – 6 Sep 1950
  12. 12. KABINET HATTA     (Kab. RIS pertama / terakhir, merupakan kab. RI ke-10a) 20 Des 49 – 6 Sep 50
  13. 13. KABINET NATSIR          (Kabinet NKRI 1 dan kab. RI Ke-11) 6 Sep 1950 – 27 Aprl 1951
  14. 14. KABINET SUKIMAN     (Kab.RI Ke-12)  27 Aprl 1952 – 3 Aprl 1953
  15. 15. KABINET WILOPO        (Kab. RI Ke-13) 3 Aprl 1952 – 1 Agust 1953
  16. 16. KABINET ALISASTROAMIDJOJO Ke-I         (Kab. RI Ke-14)       1Agust 1953 – 12 Agust 1955
  17. 17. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP        (Kab. RI Ke-15)       12 Agust 1955 – 24 Aprl 1956
  18. 18. KABINET ALISASTROAMIDJOJO Ke-II       (Kab. RI Ke-16)       24Aprl 1956 – 9 Aprl 1957
  19. 19. KABINET JUANDA atau KABINET KARYA       (Kab. RI Ke-17)    9Aprl 1957 – 22 Juli 1959
  20. 20. KABINET KERJA I                    (Kab. RI Ke-18)           10 Juni 1959 – 18 Febr 1960
  21. 21. KABINET KERJA II                  (Kab. RI Ke-19)           18 Febr 1960 – 6 Mar 1962
  22. 22. KABINET KERJA III                (Kab. RI Ke-20)           6 Mar 1962 – 13 Nov 1963
  23. 23. KABINET KERJA IV                (Kab. RI Ke-21)           13 Nov 1963 – 27 Agust 1964
  24. 24. KABINET DWIKORA I           (Kab. RI Ke-22)           27 Agust 1964 – 22 Febr 1966
  25. 25. KABINET DWIKORA yang disempurnakan (Kab. RI Ke-23)  24 Febr 1966 – 28 Mar 1966
  26. 26. KABINET DWIKORA yang disempurnakan lagi (Kab. RI Ke-24) 28 Mar 1966 – 25 Juli 1966
  27. 27. KABINET AMPERA (Kab. RI Ke-25) 25 Juli 1966 – 17 Okt 1967
  28. 28. KABINET AMPERA yang disempurnakan (Kab. RI Ke-26) 17 Okt 1967 – 6 Juni 1968
  29. 29. KABINET PEMBANGUNAN I      (Kab. RI Ke-27) 6 Juni 1968 – 28 Mar 1973
  30. 30. KABINET PEMBANGUNAN II    (Kab. RI Ke-28) 29 Mar 1973 – 29 Mar 1978
  31. 31. KABINET PEMBANGUNAN III (Kab. RI Ke-29) 29 Mar 1978 – 19 Mar 1983
  32. 32. KABINET PEMBANGUNAN IV (Kab. RI Ke-30) 29 Mar 1983 – 19 Mar 1988
  33. 33. KABINET PEMBANGUNAN V    (Kab. RI Ke-31) 23 Mar 1988 – 19 Mar 1993
  34. 34. KABINET PEMBANGUNAN VI (Kab. RI Ke-32)  19 Mar 1993 – 14 Mar 1998
  35. 35. KABINET PEMBANGUNAN VII (Kab. RI Ke-33) 14 Mar 1998 – 23 Mei 1998
  36. 36. KABINET REFORMASI PEMBANGUNAN (Kab. RI Ke-34) 23 Mei 1998 – Sekarang

 

 

 

 

 

Risalah Memulai,

Dakwah Melanjutkan

 

 

Dakwah adalah satu kata yang hanya bertemu dalam Al‑Quran, artin­ya mengajak. Ajakan dakwah adalah kepada Allah melalui ajaranb Islam.

Al‑Quran menjelaskan secara tuntas kata‑kata dakwah ini sebagai suatu  ahsan qaulan yang bermakna ucapan yang baik (ihsan). Bila lebih jauh kita mengartikan, ihsan itu adalah bahwa: “Kamu men­yembah Allah seakan kamu lihat Allah di depanmu. Tetapi, kamu tidak akan mungkin bisa melihat Allah itu di depanmu, namun kamu harus yakin bahwa Allah senantiasa melihatmu.”  Begitulah rumusan ihsan menurut Rasulullah.

Seorang anak gembala berdialog dengan Umar ibn Khattab ra, di tengah‑tengah kambing gembalaannya yang diajuk khalifah untuk menjual atau memberikan sekor saja dari ribuan gembalaannya, dengan imbalan yang sangat memadai. Si anak gembala menampik ajakan khalifah ini dengan alasan sederhana, bahwa tugasnya hanya menggembala yang tidak punya wewenang sebagai pemilik.

Umar mendesak, karena pemiliknya jauh dan tak terlihat, rasa tidaklah salah kalau dia mengambil manfaat dari kesempatan yang tengah terbuka itu.

Anak gembala itu menjawab tangkas, “Benar pemiliknya tak berada di sini. Pemiliknya juga tak mungkin menghitung berapa jumlah gembalaan yang ada. Pemiliknya bisa saja aku tipu. Tetapi fa aina Allah? (bagaimana dengan Allah?). Apakah Dia juga tidak melihat?”

Anak gembala ini terlepas dari sikap korupsi dan kolusi, hanya dengan sifat ihsan (lihat Athar Shahabi).

Seorang dai, dalam setiap qaulan‑nya ataupun fi’lan‑nya, yakni perkataan dan perbuatannya, senantiasa akan berbekas, manakala diwarnai oleh sifat‑sifat ihsan tersebut.

Inilah kiat dakwah Rasulullah saw.

Dakwah kepada Islam bermakna dakwah kepada mengamalkan syariat Islam. Setiap umat Islam tidak dapat tidak mempunyai kewajiban asasi, yakni melaksanakan syariat Islam sebagai tuntutan Allah dan tuntunan dienul Islam.

Al‑Quran menegaskan, hendaklah kamu menjadi satu umat yang ber­dakwah, mengajak kepada Islam (al‑khairi) serta menyuruh dengan yang ma’ruf (yakni yang haq dari Allah), kemudian tegas melarang dari yang mungkar (yang jelas diharamkan oleh syariat).

Dakwah bukanlah kepandaian semata, dengan ukuran intelektualita ataupun kepintaran retorika (berpidato). Dakwah adalah contoh, perbuatan nyata yang diikut oleh umat dakwah dalam membentuk suatu tatanan yang disebut khaira ummah, yakni ummat yang berkua­litas sepanjang zaman.

Itulah umat pilihan, yang menjadi beban dan tugas dai membentukn­ya bila belum terbentuk, dan tugas dai pula membinanya dan meme­liharanya, bila umat itu sudah terbentuk.

Tiada pilihan lain, kuncinya terletak kepada kesadarn dan kere­laan setiap dai mengikut uswah yang telah ditinggalkan Rasulullah saw. Inilah maknanya Risalah memulai, risalah memulai, dakwah melanjutkan.

Semoga Allah senantiasa meredhai kita.

 

 

 

MEMBANGUNKAN POTENSI UMAT

 

 

 

Masjid Almunawarah Kampung Bali I No.56 Tanah Abang  Jakarta, adalah tempat pertemuaan anatara umat dan pemimpinnya. Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 1967, telah berdiri  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  Lembaga ini didirikan oleh para ulama dan tokoh-tokoh Islam  dalam bentuk Yayasan dan Mohammad Natsir dipercayakan sebagai Ketua Umum.

 

DDII didirikan dengan semangat jihad dalam bentuk moderat (bapirau), selepas kebangkrutan politik Nasakom  orde lama.. DDII diharaapkan sebagai penampung aspirasi keluarga besar Bulan Bintang,  sesuai dengan  apa ayang pernah diucapakan  oleh  Ketua Umumnya : Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.  Bubarnya partai Masyumi  adalah salah satu korban politik orde lama, karena menurut Persahi waktu itu secara yuridis formil dan yuridis materil ,Masyumi tidak beralasan untuk dibubarkan. Dalam rangka menumbuhkan kembali potensi umat yang sudah terkoyak-koyak pada masa peralihan dari orde baru ke orde lama, barisan harus dirapatkan kembali sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa berjuang di jalan Allah itu harus bersatu dalam organisasi yang kokoh kuat, sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Maka untuk menhimpun kembali potensi keluarga besar yang sudah bercerai berai itu,  haruslah dengan kerja keras melalui tahap-tahap kegiatan  sebagai berikut :

 

I. KEGIATAN KONSERVASI

 

Mencari dan mengajak kembali semua tokokh-tokoh dan           pemimpin umat (stok lama) dserta keluarga besar dari seluruh tingkat. Usaha konversi  tidak boleh terhenti  sampai selesai, agar tidak terjadi proses “pembusukan”. Proses ini terlihat menggejala pada sebahagian anggota keluarga yang sempat uzlah atau hanyut bersama arus zaman.

 

 

II. KEGIATAN RE-INTEGRASI

 

Dari kegiatan konservasi yang pasif, supaya segera dilanjutkan  dengan usaha  re-integrasi  yang aktif., yaitu kegiatan menghimpun kembali  anggota keluarga yang sudah berserakan. Pada preode ini akan ada yang mengeluh : Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sepertinya mereka sedang menunggu gong perobahan yang belum tentu kapan akan berbunyi, dan siapa yang akan memukul gong tersebut.  Usaha re-integrasi meliputi tiga bidang :

 

1.   Bidang re-integrasi umat ;

2.   Bidang re-integrasi pemimpin ;

3.   Bidang re-integrasi kader.

 

A. Re-integrasi umat :

 

Akibat korban politik orde lama, yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani, disamping penderitaan kehidupan materi. Walaupun pada hari ini penderitaan kehidupan  materi sudah mulai agak sembuh, namun penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah, sehingga usaha untuk membangunkan potensi umat semakin berat. Kemana obatnya mau dicari?  Tidak usah

dicari kemana-mana,  karena salah satu obat penderitaan rohani  adalah dengan meluruskan niat. Namun perlu diingat bahwa nawaitu orang yang berpindah perahu dengan anggapan bahwa perahu yanag dahulu sudah kandas, berbeda dengan nawaitu orang yang berpindah perahu, akan tetapi masih  mau memikirkan nasib umat. Biarlah bertukar lambangnya asal tidak bertukar jiwanya., insya Allah ia tidak akan bernafas keluar badan (tidak bergayut).

 

B. Re-integrasi pemimpin :

 

Pemimpin umat masih banyak, tapi yang langka itu adalah pemimpin panutan. Ulama tidak langka, yang langka adalah ulama kharismatik. Kharisma seorang ulama atau pemimpin antara lain ditentukan oleh : Satu kata dengan perbuatan, punya prinsip/pendirian hidup, selalu berorientasi kepada kebenaran, dan selalu memikirkan nasib umat. Pemimpin  yang dibutuhkan di zaman ini ialah yang mampu melakukan re-integrasi umat dan berkemampuan tampil  sebagai : Konseptor, Organisator, Administrator, Penyandang/Pengumpul dana. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah pimpinan kolektif, bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.

 

C. Re-integrasi kader :

 

Pada setiap zaman ada rijalnya. Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih, pemain bisa berganti, bahan cerita selalu bertukar,  namun khittah tidak boleh berobah. Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah, antara lain perlu dilakukan :

 

1. Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini) ;

2. Melengkapkan pengalaman mereka ;

3. Mencetuskan cita-cita

4. Menggerakkan dinamika ;

5. Menghidupkan self disiplin berlandaskan iman dan taqwa.

 

Menggarap lima poin tersebut bukanlah pekerjaan sambilan, akan tetapi dihadapi secara serius dengan meneyediakan waktu yang cukup memadai.. Untuk mengujudkannya perelu diperhatikan dua hal :

 

1.  Perlu diakui bahwa para kader sekarang sudah mengecap berbagai lapangan ilmu   pengetahuan  dengan berbagai disiplin ilmu. Namun sekali-kali tidak  boleh ditolerir setiap sikap yang melecehkan iman dan taqwa. Jangan menghalalkan segala cara. Serahkan kepada mereka penji-panji perjuangan, akan tetapi jangan sampai panji-panji itu terinjak oleh kaki orang yang membawanya.

 

2. Para kader sudah mampu mengurai berbagai teori sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka kuasai. Kita butuh kepada teori namun yang lebih dibutuhkan lagi adalah kemampuan berkecimpung ditengah-tengah umat, sehingga umat mengaggap bahwa yang berkecimpung itu adalah anak kandungnya. Memang para sarjana itu melek buku, akan tetapi sebahagian mereka buta kepada buku masyarakat. Membaca kitab masyarakat tidak dijumpai di bangku kuliah. Mereka harus memahami denyut jantung masyarakat yang pada gilirannya, mereka akan berurat di hati masyarakat itu. Jangan salah memilih kader, karena yang akan dapat mencetuskan api adalah batu api, bukan batu apung. Maka ditengah-tengah dinamika masyarakat tersebut lakukanlah serah terima antara generasi yang akan pergi dengan generasi pelanjut. Patah tumbuh hilang barganti.

 

III. KEGIATAN KONSOLIDASI DAN POLARISASI

 

Terhadap kepada kelompok-kelompok masyarakat (umat, pemimpin dan kader) yang sudah terintegrasi tersebut  segera di lanjutkan dengan usaha konsolidasi (menyatukan yang sudah terkumpul). Selanjutnya ditingkatkan dengan usaha polarisasi (saling mengkutub bagaikan magnet). Terakhir lakukanlah usaha koordinasi bagi kegiatan yang sejenis. Satukan pahan dan langkah,  diatur pembagian pekerjaan, dengan wajah, khitthah dan strategi yang satu, sehingga accu umat tidak pernah kosong. Selama accu umat selalu terisi, itulah yang dinamakan umat yang berpotensi.

 

Dalam menggarap semua kegiatan tersebut diatas jangan lupa bahwa :

 

1.   Re-integrasi merupakan aktivitas awal yang harus dipersiapkan secara matang.

2.   Setiap aktivitas perlu bimbingan.

3.   Bimbingan selalu berpedoman kepada rencana yang sudah dipersiapkan.

4.   Rencana atau program mengandung fakta dan data yang akurat.

 

Setiap akan memulai suatu pekerjaan apalagi kerja besar, Bapak Mohammad Natsir pernah berpesan :

 

– Yang sulit kerjakan sekarang;

– Yang tidak mungkin kerjakan besok, Insya Allah;

– Yang mudah serahkan kepada orang lain.

 

Kejayaan juga yang kau idamkan,

Jalan mencapai kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar di tanah kering.

 

 


[1]Deliar Noer, “Partai Islam di Pentas Nasional, 1945-1965”, Penerbit PT.Pustaka Utama Grafitti, Jakarta Cetakan Pertama, 1987, hal.349.

[2] ibid.hal.350.

[3] ibid.hal.354.

[4] ibid.hal.354.

[5] ibid.hal.355.

[6] ibid. hal. 356.

[7] Ibid. hal.368.

[8] ibid. hal 372.

[9] Ibid. hal. 375.

[10] Ibid. hal 386

[11] ibid hal 387

[12] ibid hal 388

[13] ibid hal 411

[14] ibid hal 414-416

[15] ibid hal 417-424

[16] ibid hal 455

[17] ibid hal 457

[18] ibid hal 45-46

[19] ibid hal 47

[20] ibid hal  49

[21] ibid hal 50

[22] ibid hal 51

[23] ibid hal 52

[24] ibid hal 54

[25] ibid hal 54-55

[26] ibid hal 55

[27] ibid hal 56

[28] ibid hal 57

[29] ibid hal 72

[30] ibid hal 73

[31] ibid hal 75

[32] ibid hal 76-77

[33] Pesan Pak Natsir dari Batu Malang, 1963.

[34] QS. Al-Ankabut, ayat 69.

[35] (Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai  “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).

[36]. Juru bicara kita waktu itu, selain Pak Natsir sendiri, ialah Pak H.M. Rasjidi, Pak Abdullah Salim, Pak Muchtar Lintang, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Buya Malik Ahmad, Kiai Taufiq, dan lain‑lain

 

[37].  M.Natsir, Demokrasi di Bawah Hukum, Media Da’wah, Jakarta, Cetakan Pertama, 1407/1987, 29 halaman.

[38]. Uraian Mohammad Natsir tentang Q.S. Al‑Ankabut: 69, lihat antara lain Serial Media Dakwah No. 190 Ramadhan 1410/April 1990, halaman 36‑37.

[39] Pesan Bapak Mohammad Natsir  1961, Padang Sidempuan.

[40] Mengingat langkah yang di lalui, untuk keluarga pejuang.

[41] Pesan Pak Natsir, kepada pemimpin di tengah umat, setelah keluar dari masa sulit, ditulis di Padang Sidempuan pada Pertengahan November 1961,

[42]Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi dhu’afaaikum” (Al Hadist).

[43] Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar.

[44] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam, di Balingka.

[45] Disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang

[46] Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present”…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it”.

[62] (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

[63]Ada keluhan sebahagian masyarakat yang putus asa, melihat kondisi yang kurang enak, dilihat dari sudah sering kalinya pergantian zaman (penjajahan) bahkan sudah bangsa kita sendiri yang memegang pemerintahan, akan ttapi perubahan yang dinanti belum juga terlihat. Pesimismee keadaaan ini tidaklah sejalan dengan tuntutan aqidah agama (tauhid) dan kaedah-kaedah adat.

[64] Jawaban yang tepat adalah “jangan berhenti tangan mendayung agar arus tidak membawa hanyut”.

[65] Artinya, tukang yang ahli tidak pernah membuang-buang kayu, kalau bertemu yang bengkok bisa dimanfaatkan untuk bajak peluku tanah, kalau ada yang lurus tapi kecil dimanfaatkan untuk tangkai sapu, lebih kecil lagi bisa untuk alat penuai padi atau anai-anai, yang lebih kecil lagi bisa untuk pasak sunting yang bermanfaat sekali dikala perhelatan “anak daro”. Jadi, seorang yang arif lebih menitik beratkan kepada manfaat sesuai dengan kondisi yang ada.

[66] Artinya, masa depan itu akan ada perubahan yang cepat, begitu cepat sehingga kadang-kadang yang terjadi di luar dugaan sama sekali, sehingga tidak mustahil terjadi apa yang musykil terlihat hari ini. Antara lain sebagai diungkapkan dalam kemajuan teknologi “tampang” yang sudah direndang itulah yang akan tumbuh”. Dalam bentuk negatif saja bisa bertemu yang selama ini ditolak karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak maka yang salah sudah dianggap betul.

[67] Artinya, dalam situasi sedemikian perlu adanya benteng-benteng jiwa berbentuk sikap istiqamah sebagai suatu ciri-ciri khusus (mumay yizaat) dari orang-orang yang beriman, yakni Akhlaqul kharimah sebagai buah dari keyakinan agama yang hak. Dimana, betapun yang bernuansa intan walau tersimpan di dalam lumpur, cahayanya tetap cahaya intan juga.

[68] Kunjungan Bapak M.Natsir ke Balai Kesehatan A’isyyiyah Padang tanggal 15/6/1968 hanya 10 menit dan dari peringatan itu dikutip Taushiyah.

[69] Kuliah Umum, dihadapan Mahasiswa IKIP Padang, 15 Juni 1968.

[70] Kayutaman di Padang Panjang tanggal 18/6/1968

[71] (Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader).

[72] QS. At- Taubah, ayat 18.

Menumbuhkan Ketauladanan Pemuda dalam Nagari

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه،  ومن سار على ربهم إلى يوم الدين.  أما بعد.

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.

Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu,  yang  mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan.

Mukaddimah

Para pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa. Maka sepatutnya diberi amanah berbagai peran pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Mereka harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

Pemuda-pemudi yang ingin menjernihkan akal budi dari tantangan kontemporer, mesti dibekali jati diri sesuai fitrah anugerah Allah.

Tantangan kontemporer antara lain penetrasi budaya dan sekularisme yang menjajah mentalitas manusia utamanya generasi muda bangsa di abad ini.

Di samping itu the globalization life style didominasi sikap yahudis serta suburnya budaya lucah (sensate culture) yang memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat (ditonton), didengar, dirasa, disentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani).dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba.

Gaya hidup globalisasi

Masalah besar hari ini, terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media informasi dan makin berkembang budaya pengagungan materi berlebihan (materialistik), dengan memisah dunia dari supremasi agama (sekularistik). Memuja kesenangan indera, mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Satu gejala penyimpangan budaya luhur turun temurun, yang serta merta memunculkan Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

Dunia pendidikan digoncangkan fenomena vandalistik, tampak pada tawuran pelajar, kebiasaan a-susila dikalangan remaja dengan kecabulan pornografis yang sulit dibendung. Sebagian cendekiawan pula mulai meminati kehidupan non-science, asyik maksyuk mencari kekuatan gaib, dan tidak jarang terjadi, belajar sihir, mencari paranormal,kekuatan jin, bertapa ketempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik. Ilmuan pun mulai rajin menguasai magic.


Tidak hanya itu, limbah budaya kebarat-baratan ikut membalut  remaja dengan sensate-culture.[1] Pola hidup hedonistic atau premanisme dengan hiburan selera rendah berorientasi 3-S (sun-sea-sex) dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat (menurutkan hobi dan syahawat), sikap individualistik berkembang karena terlepas dari kawalan agama dan adat luhur. Maka, tampillah gaya permissiveness dan anarkis yaitu berbudaya nan lamak di salero (sensete culture).

Orientasi budaya seringkali tampak hanya terfokus kepada hiburan melulu, akibatnya grand norms dan grand ideas di tengah masyarakat mulai terlepas. Kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s.[2] Ukurannya sensual, erotik, horor, ganas, lahir di klub-klub siang malam atau night club, kasino dan panti pijat.

Di antara Bentuk  Ghazwul Fikry adalah Sekularisasi dan gerakan yahudi

Faham sekularisme telah menanamkan rasa benci kepada Islam (Islamophobia) yang disebut Takhawwuf La Mubarrira-lahu tijaha al-Islam, yakni rasa takut yang tidak beralasan terhadap segala yang bersifat Islam. Rasa takut ini adalah perangai golongan yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.

Anehnya, di zaman ini ketakutan terhadap Islam itu, kadang-kadang tumbuh pula didalam hati muslim yang tidak senang melihat nama dan simbol Islam diperjuangkan dalam konteks politik atau budaya, karena beranggapan bahwa perjuangan berasas Islam adalah suatu kesesatan.

Pemahaman ini menunjukkan adanga perubahan dalam misdaqiah iman orang Islam yang dapat disebut golongan keliru atau ragu, bahkan tidak percaya kepada kemampuan Islam untuk menyumbangkan kebaikan kepada rakyat dan negara. Mereka  adalah kalangan yang putus asa terhadap Allah.

قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

…. mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS.al-Mumtahanah:13)

Semestinya mukmin yang menerima ajaran Islam  wajib menaruh penghormatan kepada keutamaan Islam dan peka terhadap ajaran Islam. Disamping itu, umat Islam mesti menguasai ilmu yang membawa kepada penghargaan agama.

Masyarakat Minangkabau wajib mengikuti ajakan Allah sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah agar umat selamat.

Dalam Fatwa adat disebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga keteraturan hukum dan undang sebagai satu ciri-ciri utama bermasyarakat itu.

“Nan babarih babalabeh, nan baukua nan ba jangko, mamahek manuju barih, tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah karareh. Kok manggayuang iyo bana putuih, Kok maumbak iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai. Ada aturan sesuai garis sunnatullah, agar terlaksana dengan baik.

Mendalami ilmu, melahirkan rasa khasyyah (takut) dan takwatakabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain. Ilmu seperti itu tidak menampilkan keberkahan, kasih-sayang dan rahmat Allah, sebaliknya akan mengundang kebencian makhluk dan Khaliq. kepada Allah. Karena itu, generasi muda berilmu wajib menjauhi rasa


Epistemologi yang menolak tuhan dan relevansi agama (Islam) dalam kehidupan adalah epistemologi sekular yang cinta kejahatan dan kebatilan, membenci kebenaran dan kebaikan.

Ilmu pengetahuan perlu diganding dengan keimanan sejak dini.

JAUHI SIFAT-SIFAT YAHUDI

Umat Islam terutama generasi muda Minangkabau yang Islami, mesti menjauhkan diri dari sifat  Yahudi yang akan mengundang bala musibah ditengahb kehidupan masyarakat, di antaranya,

  1. Menyimpang dari Kebenaran Agama setelah   tahu

وَءَامِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Alquran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS.al-Baqarah : 41)

Allah menegaskan sikap penolakan yahudi terhadap kebenaran agama Allah.

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين

Dan setelah datang kepada mereka Alquran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. al-Baqarah : 89)

Penolakan hudud Allah dengan enggan melaksanakan sunnah Rasulullah.

Menghalalkan arak, judi. Menghalangi pendakwah ajaran Allah. Menolak pemakaian simbol Islam dalam perjuangan sosial politik. Telah mengaburkan jatidiri dan pemikiran  Islam. Satu bentuk penafian keimanan (akidah Islam).

  1. Menghalangi  Mengikuti ajaran Agama

Golongan yahudi merancang agar generasi Islam tidak menjadi pejuang Islam yang baik.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Kebanyakan pengikut kitab (samawi) terdahulu suka memalingkan kamu menjadi kafir kembali setelah beriman karena sifat hasad dengki dan sifat kufur dalam hati mereka,  pada hal telah jelas kepada mereka hakikat kebenaran (agama Allah). (QS. al-Baqarah : 109)

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maksudnya: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mu’min) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (QS.al Baqarah, 76).


  • Menolak Konsep Tauhid

Tidak memahami agama  secara benar.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (QS. al-Baqarah  : 79)

Mereka mencoba menafsirkan agama jauh dari tuntutan disiplin yang sangat diharamkan oleh Islam.

فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ


Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.


Mereka menuduh agamawan Islam membujuk orang dengan sorga.

Padahal, yahudi menolak hari berbangkit, karena tidak masuk akal mereka.

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS.al Baqarah : 80).


  • Tidak Sopan Terhadap Allah  dan RasulNya.

Sifat yahudi tidak beradab kepada Allah dan Rasul.

Mudah mempermainkan tuhan, agama dan Rasulullah.


  • Kufur Terhadap Nikmat Allah.

Tidak menghargai nikmat Allah.

Pongah menagih terima kasih manusia.

Kufur dengan nikmat.

Firman Allah,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?

Allah berfirman lagi,

اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ

Pergilah kalian ke Mesir. Di sana kalian akan menemui apa yang kalian inginkan.   (QS. al-Baqarah ayat : 61)

  • Memungkiri Janji Setia Dengan  Allah.

Sifat Yahudi yang suka mungkir janji,

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Tiap kali mereka bersumpah setia ada saja segolongan mereka merobeknya. Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman. ( QS. Al-Baqarah 100)

Sikap yahudi mudah menjanjikan dan mudah pula mungkir. Apa yang dikatakannya berlawanan dengan yang dilakukan.


  • Suka Berpolemik, Emosional dan Tidak Objektif.

Suka menegakkan benang basah,  emosional, seringkali tidak objektif, memutar balik agama untuk muslihat politik, keras kepala, tidak tunduk kepada kebenaran, mencari-cari alasan tidak melaksanakan perintah Allah, seperti diceritakan dalam peristiwa sapi betina,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينْ

Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih  seekor sapi betina”. Mereka berkata, “Apakah kamu, wahai Musa, akan menjadikan kami, orang-orang pintar dan intelek ini, hendak menjadi buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang yang jahil (bodoh)”. (QS. Al Baqarah : 67).

Dan Jika mereka disuruh berjuang mereka berkata,

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Pergilah  anda (Nabi Musa) dan Tuhanmu saja yang pergi berjuang. Kami biarlah tetap menunggu saja di sini (sambil menunggu kemenangan engkau berjuang bersama-sama tuhanmu). (QS.al Maidah : 24).

  • Suka Menyembunyikan Kebenaran.

Naifnya sifat yahudi sekuler, mau mengambil cikarau dengan tangan tidak berluluk (berlumpur), mau senang dan tidak yakin adanya hari akhirat, takut dengan suara kebenaran dengan menyembunyikan hakikat kebenaran agama.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan hidayah Kami setelah Kami menyatakannya dalam al-Kitab itulah golongan yang dikutuk Allah dan para pengutuk yang lain. (QS.al Baqarah : 159).


Kemudian, Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang  yang suka menyembunyikan ayat-ayat yang Allah turunkan dalam al-Kitab (Alquran)  karena hendak menukarnya dengan kepingan ringgit yang sedikit  sebenarnya mereka menelan dalam perut mereka api neraka. Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat, Allah tidak akan membersihkan mereka. Untuk mereka disiapkan siksa yang amat pedih. (QS.al Baqarah : 174).

  • Anggap Diri Paling Betul, Paling Baik dan Lurus.

Meskipun kejahatan telah menusuk mata orang ramai, namun tidak pernah merasa bersalah.

Kesesatan yang bercelaru (tindih bertindih).

Tetapi, tetap menganggap orang lain yang sesat.

  • Cinta Dunia dan Serakah

Yahudi bersifat tamak, cinta dunia (hubbud dunya) dan serakah kepada harta yang fana,  menindas dhu’afak tanpa belas kasihan.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Engkau akan dapati mereka – wahai Muhammad – sebagai orang yang paling tamak untuk hidup, demikian juga halnya dengan orang yang musyrikin. Ada di antara mereka yang mengharapkan – kalau boleh – untuk hidup seribu tahun, namun kalaupun ia hidup seribu tahun ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari siksa Allah. Allah maha melihat apa yang mereka lakukan. (QS.al Baqarah : 96).

Maka, setiap Muslim mesti menjauhkan diri dari sifat mazmumah Yahudi ini. Umat Islam mesti menguasai ilmu-ilmu yang tidak diserapi oleh faham  sekularisme ini.

BERUPAYA MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER

Umat Islam khususnya kalangan el-fataa (remaja dan pemuda terdidik) wajib mengukuhkan ukhuwwah dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik untuk menjadi senjata ampuh menghadapi  tantangan  kontemporer.

Persaudaraan tidak dapat diraih dengan kekejaman dan penafian hak-hak individu orang banyak.[3]

Tamak dan loba dalam tatanan ekonomi mempertajam permusuhan antara dhu’afak dengan kapitalis konglomerasi. Loba dan bakhil dapat meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan umat.

Setiap Muslim wajib menghargai dan mengagungkan Allah yang menjadi sumber rezeki, sumber kekuatan, sumber kedamaian dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. [4]

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah, hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, sensual, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), yang disebut dalam Alquran menjadi bukti mendarah dagingnya Islam  didalam diri.

Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan di dalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.

Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.[5]

TANAMKAN MAHABBAH

Sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان

من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما

ومن احب عبدا لا يحبه الا الله

ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.[6]

TEGUHKAN TEKAD BERJALAN MENUJU REDHA ALLAH

Berjalan menuju Allah artinya berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor) kepada jiwa yang bersih.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari akal yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i) kepada akal yang tunduk kepada syarak.

Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq, sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.

Berjalan  menuju Allah adalah berpindah dari ruh  yang menyimpang dari pintu Allah dan tidak mengingat tugas pengabdian kepada ruh  yang mengenal Allah.

Perjalanan kepada Allah dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya. Berjalan dari jasad yang tidak terkendali  syara’ kepada jasad yang terkendali syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari zat yang kurang sempurna kepada zat yang lebih sempurna. Dari kelengahan kepada kesalihan mengikut Rasulullah SAW, dalam ucapan, perbuatan atau  amalannya. [7]

Berjalan menuju Allah dengan ilmu dan zikir.

Dengan keduanya menyampaikan kepada tujuan (wusul).

Dimaksud dengan ilmu ialah Alquran dan As-Sunnah yang diperlukan menuju Allah.

Dzikir ialah yang diwariskan dan  dianjurkan dalam perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Jalan paling tepat adalah memperbanyak zikir, dengan kemestian  disertai ilmu.

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan ”al-qalb al-salim” yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

KEBAIKAN HATI MENJADI TITIK TOLAK KEHIDUPAN ISLAMI.

Bersih hati, peluang besar menerima perintah Allah dengan sempurna.

Pemuda pelopor Tarbiyah Islamiyah, perlu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik.

Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik).

Sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

– Allah berfirman :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan). [8]

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [9]

Jiwa atau النفس inilah yang perlu dijaga pertumbuhannya agar manusia beroleh kebahagian sesungguhnya di dunia maupun di akhirat nanti.

Seseorang yang di dalam hati dan jiwanya telah bertakhta keimanan kepada Allah (tauhid) mesti menjauhi sikap menjadi pengikut buta tuli.

Menjauhi menjadi tukang angguk tanpa menggunakan akal waras.

Karena, dapat menghapus martabat kemanusiaan dan menggugat kejernihan akal-budi.

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.

Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah.

Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.

Nafs al-Natiqah atau ruh  manusia dalam jasad mudah dikotori oleh berbagai kotoran.

Yang paling besar bahayanya ialah syirik atau menyekutukan Allah. Karena itu orang musyrikin itu dikatakan ruhaninya najis.

Allah berfirman,    إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ   Bahwasanya orang-orang musyrikin itu najis. [10]

Selain daripada syirik, maksiat dan dosa, jiwa dirusak oleh ghaflah dan lalai.

Langkah pertama menghidupkan jiwa (hati) yang mati itu dengan tazkiyah nafs dengan zikrullah,  muraqabah dan tafakkur.

Nabi SAW bersabda :

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت 

Umpama orang yang mengingati Tuhannya dan orang yang tidak ingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati. [11]

MURAQABAH

Muraqabah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan tauhid rububiyah, melalui ibadah, melatih nafs an-natiqah = النفس الناطقة  menjadi jiwa yang jinak nafs al muthmainnah = النفس المطمئنة     yang bersih dan terkendali, atau

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ 

Gementar karenanya (karena mendengar bacaan ayat al-Qur’an) kulit (anggota) orang yang takutkan (kebesaran) Tuhannya, Allah; kemudian menjadi tenang kulit (anggota) dan hati mereka ketika mereka mengingati (kesempurnaan) Allah.” [12]

Bila sesorang mendapat kurnia Allah, maka dia akan memiliki kearifan atau dhawq dan kesempurnaan sifat-sifat anugerah Allah.

Insya Allah dia akan tumbuh menjadi insan yang memiliki visi duniawi dan ukhrawi serta memiliki kearifan alun bakilek alah bakalam, di dalam istilah Minangkabau.

Benarlah kata setengah ulama tasawwuf siapa dapat al-warid maka ia dapat dhawq.

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

(Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya).

Hikmah ini mesti di pelihara dengan ilmu dan zikrullah untuk merintis jalan menuju Allah (rihlah dakwah ilaa Allah).

Perjalanan menuju Allah mustahil tanpa ilmu dan zikir.

Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.

Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.

Ilmu adalah yang menerangi jalan.

Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.

Rasulullah SAW bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما

(رواه ابن ماجه وهو صحيح)

“ Dunia dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya, – Artinya orang yang senantiasa ingat dan mengerti bahwa semua yang ada ini adalah ciptaan Allah SWT yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja, dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian –,  atau orang yang berilmu dan yang menpelajari ilmu”  (Hadith sahih, riwayat Ibnu Majah). [13]

Maka inti perjalanan menuju Allah adalah perjalanan dengan hati menuju kebaikan.

Diperkuat oleh upaya selalu mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus, dengan  melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah sampai kematian datang menjelang.[14]

PERTARUNGAN HATI NURANI

Pergulatan  antara hati atau ruh  atau النفس الناطقة   = an nafs an-Natiqah dan   النفس الحيوانية = an nafs al hayawaniyah atau nafsu syahwat itu terus berlaku. Ada kalanya hati menang melawan kehendak nafsu.

Ada kalanya hati kalah dan nafsu menjadi pemenang.

Celaka orang yang hatinya dikalahkan oleh nafsunya.

Berbahagia orang yang nafsunya dikawal oleh hati yang bertauhid.

Senjata yang dipakai oleh hati melawan godaan nafsu syaithaniyah adalah nur hidayah Allah.

Nafsu yang ditunggangi syaithaniyah bersenjatakan syahwati dalam kegelapan = ظلمات   dosa maksiat.

Pengaruh berbagai kehendak syahwat  hanya dapat dikalahkan apabila hati benar-benar telah dikurniakan oleh Allah warid iqbal = وارد الا قبا ل  yang akan mendorong hilangnya keinginan-keinginan kepada apa saja selain yang diredhai Allah.

Maka, jadilah ia hamba Allah yang bertauhid dan bertakwa.

Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah dan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.


TAUHID ULUHIYAH DASAR DARI SYARAK MENGATA (MENGHUKUMKAN) DAN ADAT MEMAKAIKAN (MELAKSANAKAN)

Menurut asal usul kata Allah secara harfiyah berasal dari Ilah – yakni Al Ma’bud, sesuatu yang dianggap berkuasa dan besar, mempunyai nilai yang pantas disembah dan ditaati sepenuh hati. Kata al Ma’bud, sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah seorang hamba minta pertolongan.[15]

1.      Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”.

Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah suatu sikap yang munafik dan syirik (musyrik). Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain.[16]

2.      Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid.

Maka, “paradigma tauhid” – Laa ilaaha illa Allah – sebagai satu misi risalah.[17].

Konsepsi Tauhid adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.[18]

Karenanya apabila syarak telah mengata, maka adat memakai.       

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban. [19]

3.      Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

4.      Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid tersebut.

Dalam tatanan masyarakat Minangkabau dirakitkan dalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

5.      Konsepsi Tauhid Uluhiyah harus istiqamah terhadap hukum wahyu dalam gagasan keyakinan dan gerak pelaksanaan.

Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  syirik (musyrik).[20]

6.      Realisasi tauhid uluhiyah adalah pengabdian (ibadah) hanya kepada Allah, semata-mata dapat terwujud kepada di akuinya lembaga kedaulatan Allah di bumi (Mulkiyah Allah)[21].

Kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, baik itu madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) diringi dengan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran dan berharap supaya dihindarkan dari azab neraka, akan berperan didalam hidup berakhlak karimah, dengan mengutamakan kesopanan pergaulan dan memakaikan rasa malu.


Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek [22]

Apabila malu sudah hilang, tidak ada lagi yang mengikat seseorang untuk berbuat seenak hatinya. 


Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso. [23]

Maka orang‑orang yang akan memperoleh tempat kembali yang baik disisi Allah harus memiliki sifat dan sikap jiwa yang konsisten (istiqomah), yakni sabar (tabah, tahan uji, intens), benar (jujur, amanah, shiddiq), patuh kepada Allah, menafkahkan hartanya dijalan kebaikan (Al Munfiqiina), dan selalu memohon ampun kepada Allah (selalu melakukan koreksi di akhir malam pada setiap tahapan pekerjaan hariannya). [24]

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِيْنَ اِتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارِ خَالِدِيْنَ  فِيْهَا وَ أَزْوَاجٌ  مَطَهَّرَةٌ  وَ رِضْوَانٌ مِنَ اللهِ.  وَ اللهُ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ.

Artinya, Kakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.


الَّذِيْنَ  يَقُوْلُوْنَ   رَبَّنَا إ ِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ قَيْنَا عَذََابَ النَّارِ.  الصَّابِرِيْنَ  وَ الصَّادِقِيْنَ  وَ الْقَانِتِيْنَ وَ الْمُنَافَقِيْنَ وَالْمُسِتَغْفِرِيْنَ  بَالأَسْحَارِ.

(Yaitu) orang-orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam perjalanan menuju kepada redhaNya.

Keseimbangan antara ilmu dan zikir muthlak ada dalam perjalan hidup manusia, karena hakikatnya tidak akan ada perjalanan melainkan dengan keduanya.

Zikrullah dilakukan dengan peningkatan amalan untuk membersihkan jiwa dan hati dari berbagai maksiat dengan berbagai amalan, antara lain :

  • Bertaubat terus-menerus.
  • Sembahyang fardhu berjemaah

Ø  Selalu memelihara wuduk

Ø  Makan minum yang halal..

Ø  Dikurangkan tidur

Ø  Jangan berkata percuma,  kecuali diperlukan.

Ø  Selalu muraqabah kepada Allah

Ø  Selalu menjaga niat untuk menghampirkan diri kepada Allah dan mendapatkan redha-Nya.

Ø  Membanyakkan bersedekah agar tidak mementingkan diri sendiri.

Ø  Melakukan muhasabah diri,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari akhirat.[25]

Ø  Bertaqwa kepada Allah  dengan melaksanakan suruhan dan menjauhi laranganNya.

Ø  Merenungkan amalan yang telah dilakukan agar jiwa menjadi insaf.

Ø  Memikirkan kewajiban yang dilaksanakan atau yang sudah dilalaikan.

Ø  Mujahadah al-nafs terutama melakukan berbagai adab yang mesti dipatuhi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Mujahadah al-Nafs bermaksud menghalang al-nafs dari yang bukan haknya dan memberikan hak orang lain.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرً

Dan mereka (orang abrar) memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. [26]

Ø  Membersihkan diri dari berbagai amalan dan aqidah yang salah atau yang berlawanan dengan kebersihan tauhid.

Merawat hati di dalam rangka tazkiyah nafs dilakukan dengan membersihkan niat, akidah dan ibadah.

PERAN GENERASI MUDA MENGHADASI ARUS KESEJAGATAN

Remaja masa depan di era globalisasi, wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik.

Fatwa adat di Minangkabau menyebutkan,

Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur .

Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan payung wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis muda Islam di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak menyatakan visi dan misi di dalam menegakkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau.

Generasi Minangkabau sewajarnya menjadi generasi dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur.

Umat Islam di Minangkabau yang ingin bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiya di nagari-nagari.

Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Ranah Bundo dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilalaikan.

Apabila anak nagari  di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat Islam ini akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur para leluhur (cultural base).

Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base).

Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base).

Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi Minangkabau,

Basilek di ujuang muluik, Malangkah di pangka karih, Bamain di ujuang padang. Tahan di keih kato putuih, Tahu di kilek dengan bayang, Tahu di gelek kato habih. Tahu di rantiang kamalantiang, Tahu di dahan nan ka mahimpok.”

Artinya, mendidik dan melatih kader pimpinan.

Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan.

Para pejuang muda Islam, terutama generasi muda perlu iltizam harakahsaciok bak ayam sa danciang bak basi. atau gerakan

Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik.

Mengamalkan budaya amal  jama’i yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Zaman menjadi lone ranger dan one man show tidak lagi masanya sekarang, dan sewajarnya sudah berakhir.

Pendekatan haraki (social movement) menangani isu perubahan global, sakali aie gadang, sakali tapian barubah, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab nan elok dipakai, nan buruak dibuang.

Kepimpinan bukan ghanimah mengaut keuntungan diri sendiri.

Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Sesungguhnya adalah satu gerakan masyarakat bersama atau harakah Islamiyah mengangkat umat di nagari mencapai kejayaan hidup sesuai syarak (Islam).

Kreativiti dan inovasi sebagaimana dimaklumi bersama berkait rapat dengan berbagai bidang dakwah. Antaranya pengurusan sumber manusia, komunikasi, percetakan elektronik, e-book, e-newspaper, video conferencing, virtual school, universiti maya dan sebagainya.[27]

Para ilmuan muda, cendikiawan atau suluah bendang di nagari perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah.

Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing.

Memelihara kesinambungan proses  mengajar dan belajar di tengah anak nagari. Generasi muda yang terdidik dengan paksi Islam – Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah –, mampu menilai teknologi maklumat, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Generasi muda masa kini mesti memiliki utilitarian ilmu.  berasaskan epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan,

Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view).

Kalau tak tasuo di jalannyo, namuah ba pua-pua dagiang, namuah bakacau-kacau darah, tando sabana laki-laki.”

Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi Minangkabau selalu awas dan berhati-hati,

Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi tantangan kontemporer, perubahan tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti bertumpu kepada istiqamah (konsistensi).

Fatwa adat menyebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.


Khulasah

Harus Segera Menampilkan Program Keumatan

Menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat khusus  di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat dilakukan dengan berapa agenda kerja, seperti ;

1.  Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

2. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

  • Memperbanyak program meningkatkan hubungan umat dengan Alquran.
  • Melipatgandakan pengaruh sunnah Rasulullah  dalam masyarakat.
  • Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW.
  • Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif dan proaktif membangun masyarakat dengan  bekalan tauhid ibadah.

3.  Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.

4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah.

  • Menggali sejarah kejayaan masa silam.
  • Menanam semangat kepahlawanan menghadapi musuh-musuh Islam.
  • Menyebarluaskan agenda musuh yang  melemahkan umat Islam di seluruh dunia.
  • Menyebarluaskan bahaya sekularis, materialisme, kapitalisme dan westernisasi.
  • Mengkritik rasialis dan assabiah jahiliyyah  dengan hujjah Islam yang benar.
  • Menentang aliran pemurtadan terhadap intelektual, pakar budaya, sasterawan dan wartawan yang merugikan Islam.

5. Meningkatkan program menguatkan peran muslimat dalam membentuk sejarah gemilang di zaman silam.

6. Menampilkan sistem pendidikan Islam melawan aliran pendidikan  sekular.

  • Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru dan remaja Islam agar tidak dapat dimusnahkan oleh sekularisme dan budaya porno kebaratan.
  • Menggandakan usaha melahirkan wartawan dan penulis Islam dalam berbagai lapangan media.
  • Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari.
  • Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari.
  • Penting sekali dilakukan usaha pembentukan da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
  • Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
  • Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.
  • Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan haraki Islami.

7. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

  • Mengukuhkan pergerakan umat dalam memerangi semangat anti agama, anti keadilan, dan demokrasi.
  • Meningkatkan budaya syura dalam masyarakat, untuk mengelak dari cara-cara imperialisme masuk kedalam masyarakat di era kebebasan.
  • Meningkatkan kesadaran dan keinsafan tentang hak asasi manusia, hak-hak sipil (madani) dan politik untuk seluruh rakyat.
  • Meningkatkan keinsafan mempunyai undang-undang yang adil sesuai syarak.
  • Memastikan kehadiran media massa yang bebas, sadar, amanah, beretika dan profesional agar umat tidak mudah dimangsa oleh penjajah baru, baik  dari kalangan bangsa sendiri atau orang luar.
  • Memastikan pemimpin umat dan negara terdiri dari kalangan orang yang bertaqwa, berakhlak dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga  dan kelompoknya.

8.   Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat tentang perlunya penghakiman yang adil. Kehakiman yang adil adalah tuntutan Islam.

9.   Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Generasi muda Islam, mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

H. Mas’oed Abidin

bin H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo


[1] Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.

[2] Budaya sensate ini dipertajam oleh kehidupan remaja kota dengan  budaya populer (urban popular culture) dan hedonistik (mulai berkembang 1960). …. Sensate culture menurut Pitirim, “…based upon the ultimate principle that true reality and value are sensory and that the beyond the reality and values wich we can see, hear, smell, touch and taste there is no other reality and no real values……….Despite its lipservice to the values of the Kingdom of God, it cares mainly about sensory values of wealth, health, bodily confort, sensual pleasures and last for power and fame. It’s dominant ethic is invariably utilitarian and hedonistic….. Its politics and economics are also decisively utilitarian and hedonistic……..” The globalization of lifestyle atau gaya hidup global, world wide sing sejak 1990 di awal globalisasi, banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah dengan  “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dan tipisnya keyakinan agama, tumbuhnya paham nihilisme budaya senang lelang (culture contenment).

[3] Pepatah Arab menyebutkan, اخاك اخاك ان من لا اخا له-  كساع الى الهيجا بغير سلاح

[4] Al-Baqarah, 257

[5] Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.

[6] Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan nasa^i.

[7] Sa’id Hawa, di dalam Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,

ومن جسد غير منضبط بضوابط الشرع الى جسم منضبط انضباطا كاملا بشريعة الله عزوجل, وبالجملة من ذات أقل كمالا الى ذات أكثر كمالا فى صلاحها وفى اقتدائها برسول الله صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا وحالا.

[8] As-Syams, 7-8

[9] Ibid, 9-10, Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس ialah nafsu jauhari النفس الجوهري  yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi.

[10] Al-Tawbah, 28

[11] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat

[12] Al-Zumar, 23

[13] Disebutkan di dalam bimbingan tasawuf sebagai berikut :

فلا سير الى الله بدون علم ولا سير الى الله بدون ذكر , فالعلم هو الذى يوضح الطريق والذكر هوزاد الطريق وأداة الترقى. قال عليه الصلاة والسلم:   “الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما”    (رواه ابن ماجه وهو صحيح).

[14] Said Hawwa, Tarbiyatuna al-Ruhiyah, hal. 64-72.

[15] Lihat QS.1:5

[16] Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5.

[17] Lihat QS.7:59, 7:72, 16:36.

[18] The Highest conception of Godhead.

[19] Pariangan menjadi tampuk tangkai. Pagaruyung pusat Tanah Datar. Tigo Luhak orang menyebutkan. Adat dan Syarak jika bercerai. Tempat bergantung yang telah putus (serkah). Tempat berpijak yang telah runtuh (terban). Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang anak nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Karena itu, kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.

[20] Lihat QS.6:106, 41:6,7

[21] Lihat QS.4:64, 4:80, 9:71, 120, 47:2,19, 47:33.

[22] Rarak (berjatuhan) kalikih (buah pepaya) karena mindalu (parasit). Tumbuh serumpun dengan sikasek. Kalau hilang rasa dan malu. Bagaikan kayu longgar pengikat. (Artinya, seperti seikat kayu  berserakan kesana kemari).

[23] Anak orang Koto Hilalang, Hendak lalu ke Pekan Baso. Malu dan kesopanan kalau sudah hilang. Habislah rasa dan periksa. Artinya seorang yang tidak bermalu akan berbuat sekehendaknya, tanpa memikirkan akibat perbuatannya itu.

[24] QS. Ali Imran, 3 : 15‑17,

[25] Al-Hasyr, 18

[26] Al-Insan, 8

[27] Para aktivis Islam perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan maklumat alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.