“PENDIDIKAN dan KEJUJURAN”

Hikmah Jum’at ;
PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN

 

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ
وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ
أَمَّا بَعْدُ

Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga dilaksanakan dengan agama.

Syahshiah (شخصية) bermakna pribadi, sifat individu, gaya hidup, kepercayaan,
harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,
budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.

Watak kepribadian semestinya dilatih sedari kecil.
Peribadi yang baik dan penampilan menarik,
mesti dipertahankan oleh seorang sejak masa kanak-kanak.
Sifat-sifat baik akan memberikan hasil dan kesan mendalam di tengah kehidupan.
Kejujuran adalah akhlak utama para Nabi dan Rasul.

Rasulullah SAW mengajarkan
untuk mendidik diri dengan menanamkan sifat jujur dengan dasar Iman.

(رواه مسلم و أحمد)

“ Iman itu adalah,
engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan qadar “.
(HR.Muslim dan Ahmad).

Agama Islam memperhatikan serius moral terpuji, benar, damai, jujur dan adil.

« Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri,
atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
jika ia — orang yang tergugat atau yang terdakwa — kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi,
Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. »
(Q.S.An Nisaa’: 135)

Kejujuran menghidangkan pesona kehidupan dan ketenangan bagi pelakunya.
Kebohongan membuat jiwa bimbang dan goncang.

Hidup tidak berarti jika tidak dihiasi kejujuran.
Limpahan harta yang banyak akan menjadi siksa, bila tidak ada kejujuran.
Kejujuran adalah pondasi utama membangun bangsa.
Betapapun besarnya sebuah bangsa,
ketika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.

Agama Islam memerintahkan agar menjauhi dusta dan ketidakjujuran.
Bohong menjadikan hukum rusak.
Bohong menjadikan kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela.
Bohong menjadikan putus hubungan persaudaraan dan timbul konflik hubungan manusia.

SIKAP LALAI AKAN MENGHAPUS KEJUJURAN

Penyakit hati yang berbahaya ialah futuur atau lalai,
yang melahirkan malas dan lamban berkarya dan beramal.

Allah SWT membagi waktu dengan teratur,
« dan Kami jadikan malam sebagai pakaian
— Malam itu disebut sebagai pakaian karena malam itu gelap
menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia. –,
dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, »
(QS.78,An-Naba’ :10-11).

Rasul SAW pesankan berbuat tanpa kebosanan.

“Lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu.
Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan,
dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah
amal yang di kerjakan terus menerus sekalipun sedikit.”
(HR.Muttafaqun ‘Alaih)

FAKTOR PENYEBAB HILANG KEJUJURAN ;

1. MELAMPAUI BATAS (ekstrim, ghuluw),
berlebihan dan melampaui batas dalam aturan agama.
Sabda Rasul SAW :
“Jauhilah sikap ghuluw (belebih-lebihan) dalam beragama,
karena sesungguhnya orang sebelum kamu
telah binasa akibat sikap itu.”
(HR. Ahmad).

2. MENGANGGAP ENTENG YANG MUBAH (boleh),
seperti makan minum,
“Barangsiapa yang (terlalu) kenyang,
maka ia akan mudah ditimpa enam penyakit, yakni :
(1). hilangnya rasa nikmat,
(2). tidak mampu memetik hikmah,
(3). lenyap rasa kasih sayang,
(4). kikir, – karena mengira bahwa semua makhluk kenyang seperti dirinya,
(5). malas dalam beribadah, dan
(6). menguat dorongan nafsu syahwat.”
(lihat Ihyaa’ ‘Ulumuddin Abu Sulaiman).

3. SUKA MELAKUKAN YANG HARAM DAN SYUBHAT.
Sabda Rasulullah :
“ Tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram,
maka ia lebih banyak tempatnya di neraka. ”
(H.R At Tirmidzi).

4. TIDAK INGAT KEMATIAN DAN KEHIDUPAN AKHIRAT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur,
namun sekarang berziarahlah,
karena hal itu akan menjadikan sikap zuhud di dunia
dan akan mengingatkan pada akhirat. ”
(H.R. Ahmad).

5. SUKA BERMAKSIAT DAN REMEHKAN DOSA KECIL.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang mukmin melakukan dosa,
berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya.
Jika ia bertaubat, tidak meneruskan dosanya,
dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau.
Akan tetapi jika ia berulang-ulang melakukan hal itu,
maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya,
dan itulah ‘Ar Raan’ sebagaimana yang difirmankan ‘Azza wa Jalla,
‘Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka.”
(H.R. Ahmad dan Ashhaabus Sunan)

6. MEMISAHKAN DIRI DARI JAMAAH DAN ’UZLAH
« dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
Maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;… »
(QS.3,Ali Imran : 103)

Rasulullah SAW bersabda:
“Berjamaah (bersama-samalah) kalian,
karena sesungguhnya syetan menyertai orang yang sendiri,
dan dia akan menjauhi orang yang berdua.
Barangsiapa yang ingin masuk ke taman surga,
hendaklah ia komitmen dengan jamaah.”
(H.R. Tirmidzi).

MENGATASI PENYAKIT HATI ;
a). Jauhi berbuat dosa dan maksiat kecil dan besar.
b). Teguh (istiqamah) lakukan ‘amal-yaumiyah (harian), perbanyak zikir, dirikan shalat nawafil, dan membaca Al Qur’an.
c). Menghadiri majelis ilmu, pengajian.
d). Suka bergaul dengan orang-orang shaleh, ahli ibadah.
e). Pelajari sejarah (sirah nabawi) dan para shahabat atau orang-orang shaleh lainnya.
f). Ingati kematian, kejar surga dan menghindar dari azab neraka.
g). Jalankan ajaran agama dengan ketaatan sepenuh hati.
« dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. » (QS.8, Al Anfal : 46)
h). Koreksi diri dan hitung betapa amal dilakukan.
i). Atur waktu dengan cermat.
j). Hindarkan diri dari sikap berlebihan.
k). Jauhi perbuatan bid’ah
l). Terapkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad,
wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ اْلمُنْكَرِ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ عَلَيْكُمْ بمَِا تَطِيْقُوْنَ فَوَاللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حتىَّ تَمَلُّوا وَ كَانَ أَحَبُ الدِّينَ مَا دَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ الإِيْــماَنُ أَنْ تُؤمِنَ بِاللهِ و مَلاَئِكَتِهِ و كُتُبِهِ و رُسُلِهِ و بِالْيَوْمِ الآخِر و الْقَدرِ .

Masjid Kotogadang yang sed(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haramang dibangun kembali, setelah runtuh disebabkan gempa tahun 2007. Sekarang dalam penyelesaiannya…
Zulfendra Tasar
dulu ktika mhs swaktu tinggal di YAS sering dengar ceramah2 buya…
terkenang kembali kepada buya…
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Alhamdulillah,
Moga ananda sehat selalu dalam lindungan inayah dan redha Allah SWT.
Amin.
Salam buat semua.
Wassalam BuyaHMA
Irmayani Suherman
Betul buya…
tetapi mengapa kalau saya perhatikan semakin orang dewasa
maka semakin senang untuk berlaku, berbicara tidak jujur?
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Iblis Syaithan telah bersumpah di hadapan Allah SWT,
ketika dia diusir Allah lantaran tidak mau mematuhi perintah Allah
“usjuduu li Adama”..
“menghormat ke Adam” ..
di mana semua malaikat bersujud kecuali Iblis laknatullah …

Ketika itu mereka bersumpah akan mengganggu anak cucu Adam ini dengan mencampakkan kejujuran di hati manusia

Sebab itulah,
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa
“bohong atau dusta” adalah induk dari dosa,
karena sesuadah bohong atau ketidak jkujuran hilang,
maka kemudian akan di ikuti oleh dosa-dosa yang lainnya berturut-turut,

hingga manusia terperangkap dalam gelimangan dosa,
hingga mereka bertaubat kembali …

Moga kita semua terhindar dari punca segala dosa ini
yakni hilangnya jujur dan berubah menjadi bohong…
Wassalam
BuyaHMA

 

Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Jangan engkau jauhkan kami darimu ya ALLAH ,
Semoga ALLAH selalu mau mengampuni umatnya,Amin.
terima kasih Buya utk selalu mengingatkan kami,
kepada hal2 yg benar.
Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, semoga kita semua dirahmati dan selalu diingatkan oleh Allah. Buya, bagaimana caranya saya ingin mengingatkan lingkungan teman2 yang ingin menjaga silaturahmi dengan pura2, dusta dan munafik ? Padahal yang didustai terkadang tahu mereka didustai..tapi bagi mereka itu lebih baik daripada diberitahu tentang yg benar?
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Rangkayo Irmayani Suherman …
Pesan Islam di dalam wahyu Allah
(QS.Fush-shilat ayat 30 dan seterusnya),
ada kiat yang diajarkan Allah SWT,
yaitu “IDFA’ BILLATIY HIYA AHSAN …” dst-nya …
Baca Selengkapnya
artinya,
“TOLAKLAH DENGAN CARA BAIK ….”
Moga kita sabar untuk itu…

@ Rangkayo Dewi,
Amin ya Allah,
kita berharap semoga Allah
selalu membimbing kita dengan hidayah NYA
Wassalam
Buya HMA

 

Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, terimakasih banyak Buya..semoga kita semua selalu berada di jalanMu ya Allah!!
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Dewi,
Jujur itu nilai martabat kemanusiaan paling tinggi,
memeliharanya tentu saja dengan kenal kepada Allah,
atau Iman dan taqwa,
ibadah adalah salah satu implementasi iman itu,
Baca Selengkapnya
namun iman yang benar sesungguhnya
tampak dalam perilaku yang benar,
selamat dan sukses selalu Dewi,
Salam buat semua,
Wassalam,
BuyaHMA
Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Alhamdulillah, benar sekali Buya,
semoga nilai2 kejujuran ini dpt terus saya terapkan kepada anak2 saya
dan tentunya terhadap diri saya sendiri .
Amin
Wassalam

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

NILAI TERKANDUNG DALAM PERINGATAN MAULID NABI SAW

Oleh : H. Mas’oed Abidin

jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram1Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad Rasulullah SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung dari seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, serta penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21). Karena, dia diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107). Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa. Dia adalah Rasul Allah, pilihan di antara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144). Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40). Karena itu pula, siapapun yang meyakini wahyu Allah (al-haq) yang telah diturunkan kepadanya, sembari mengikuti dengan amalan shaleh, niscaya kekurangan masa lampaunya di ampuni, dan akan memiliki masa depan lebih cerah (QS.47,Muhammad:2-3).

Ciri utama pengikutnya adalah ruhama (berkasih sayang di antara sesamanya), rukka’an sujjadan (tunduk, patuh, dan setia) yang tampak nyata pada wijhah (pandangan hidup) yang senantiasa mencari redha Allah (QS.48,al Fath:29).

Wahyu Allah yang dibawanya (al Quran) berperan dalam melakukan perubahan mendasar (social reform) yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Telah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradab, melalui proses civilisasi, dari gelap kepada terang (QS.14,Ibrahim:1).

Perubahan itu tampak nyata pada tiga tahapan. Pertama, memulai dari ajaran tauhid, dengan paradigma La ilaha illa Allah, yakni komitmen tentang keesaan Allah. Konsekwensi dari paradigma ini adalah penyerahan total kepada kedaulatan Allah. Tiada satupun yang berhak di sembah dan tempat meminta pertolongan, kecuali semata hanya kepada Allah zat Yang Esa (QS.1,al-Fatihah: 5, juga QS.112, al-Ikhlas:1-5). Setiap permintaan perlindungan kepada selain Allah, adalah terlarang. Berpijak pada paradigma ini, manusia dibimbing kepada merebut keberhasilan di dunia maupun di akhirat, melalui sikap tauhid (aqidah) yang kokoh, kesabaran (keteguhan sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal dan ikhtiar) semata karena Allah, tawakkal (penyerahan diri secara bulat kepada Allah) yang sangat dalam.

Kedua, membentuk tata-masyarakat kesatuan (universal), dengan prinsip persaudaraan, menentang anasir perpecahan, menjauhi hasut-fitnah, toleransi dan saling menghargai, dengan menggerakkan upaya ta’awunitas (QS.49,al-Hujurat : 6-13). Salah satu missi kerasulan Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki tatanan laku perangai (moral) manusia, dengan mengedepankan akhlak mulia (al-Hadist). Akhlak karimah (mulia) mencakupi hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah), penataan sikap dan kepribadian manusia (ihsanisasi), dan pemeliharaan hubungan antar makhluk manusia maupun alam lingkungan (mu’amalah ma’an-naas).

Ketiga, peduli perempuan yang di masa jahiliyah berlaku pelecehan gender yang terbukti dengan kelahirannya di sambut (QS.QS.16,an-Nahl :57-60). Kondisi ini sama dengan masa fir’aun, terhadap anak lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran) harus dibunuh, yang pada masa sekarang mirip rasilalisme, atau ethnic cleansing.

Wahyu al-Quran yang dibawa Muhammad SAW, menempatkan perempuan pada posisi azwajan (pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara (QS.16:72), berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat), salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family, bundo kanduang di Minangkabau). Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist). Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).

Ada tiga tipe perempuan perlu dicontoh, (a). Selalu menghindar dari kelaliman dan kemusyrikan, senantiasa mengharapkan rumah di sorga, seperti Asiyah isteri Fr’aun (QS.66 at-Tahrim : 11). (b). Perempuan yang berupaya agar generasi mendatang yang di lahirkan dari kandungannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah membela agama Allah, seperti isteri ‘Imran ibu dari Maryam (QS.3, Ali Imran : 35-36), dan (c). Perempuan yang selalu memelihara faraj, yakni Maryam sendiri (QS.66:12).

Di depan Rumah (bangunan) tempat lahirnya Muhammad Rasulullah SAW.

Bermacam cara umat Memperingati

Kotogadang, satu negeri kecil di kaki gunung Singgalang, tempat lahirnya banyak tokoh Nasional seperti Agus Salim, Sutan Syahrir, Mr. Mohamad Nazif dan juga disebut sebagai nagari yang menghasilkan ratusan dokter dan ribuan sarjana hingga kini, pada masa dulu pernah punya seorang ulama yang disebut di dalam catatan-catatan Belanda bernama Tuanku Malin Kaciek. Sejak masa itu konon peringatan-peringatan tentang maulid telah hidup di negeri ini.

Koto Gadang—nagarinya “the saint Tuanku Malim Kecil”, meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008:118)—adalah contoh mikro sebuah masyarakat timur yang lebih awal memperoleh pencerahan (enlightenment) Barat. Akan tetapi, sungguh ajaib, mengapa pencerahan itu mampir di Koto Gadang pada abad ke-19, sebuah desa kecil dalam ‘belantara’ keterbelakangan dunia timur pada zaman itu? (Catatan dari Suryadi, dosen & peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda).

Uniknya, di Kotogadang masa lalu, peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan di rumah-rumah penduduk dalam suku dan kaumnya. Dilaksanakan malam hari dengan dihadiri oleh seluruh anak kemenakan, dengan memanggil seorang muallim (engku pakieh = faqih, yang faham tentang syariat Islam), guna menyurahkan (surah=kitab) atau membacakan dari kitab yang shahih tentang sejarah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW Pengajian ini menekankan kepada perilaku yang mesti ditiru dan perangai yang mesti dijauhi.

Dari pengajian ini lahirlah sikap anak nagari melalui suku dan kaumnya, menjadi kelompok yang bermoral tinggi melaksanakan ajaran agama dengan baik serta berinteraksi yang sempurna sesuai bimbingan agama Islam. Kotogadang sebagai nagari yang sudah maju dan umumnya mengerti dan berdialog dengan bahasa Belanda itu, tidak seorangpun keturunan mereka ketika itu yang tidak memakai nama dengan nama Islam. Inilah hasil dari peringatan Maulid Nabi SAW.

Tidak jarang Maulid Nabi SAW diperingati sampai jauh malam, hingga jam 2 malam atau menjelang subuh datang, dan bahkan ditutup dengan shalat Sunat Tasbih berjamaah di rumah itu. Setiap pengajian peringatan Maulid ini umumnya ibu-ibu membawa penganan, dan lazimnya “lepat batu = baharu”, satu penganan khas yang disediakan waktu Maulid Nabi. Masih adakah itu sekarang. Sudah punah dimakan waktu. Maulid hanya sekali-sekali diperingati di surau atau di masjid dengan cara tabligh Akbar.

Beberapa daerah di Sumatera Barat dan Riau, yang dulunya menjadi bagian dari adat budaya Melayu dan Minangkabau, bulan Maulid masih disebut sebagai bulan “melamang” atau membuat penganan lemang sebagai menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan kalau di Yogyakarta dengan acara grebegan.

Semoga salam dan salawat kita sampai kepada beliau, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

Padang, 25 Shafar 1430 H / 21 Februari 2009 M.

Wali Kota Padang Buka Plang JAI

Walikota Padang Buka Plang JAI

HEADLINE NEWS
Sabtu, 14 Juni 2008
Plang JAI Padang Diturunkan
Wako Ikut Shalat Jumat Bersama Jemaat Ahmadiyah

Sample Image BUKA PLANG : Wali Kota Padang Fauzi Bahar disaksikan Ketua MUI Kota Padang Syamsul dan jemaat Ahmadiyah membuka plang organisasi JAI Padang, kemarin. Pembukaan dan penurunan plang tersebut berlangsung aman dengan pengawalan polisi.
 
Padang, Padek– Setelah melewati dialog yang cukup panjang, akhirnya Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kota Padang memberikan izin kepada Wali Kota Padang Fauzi Bahar untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang, kemarin.

 

 Penurunan plang ini berlangsung damai serta disaksikan jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya, Wako Padang bersama Ketua MUI dan Kepala Departemen Agama (Depag) Kota Padang turut shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah di Masjid Mubarak. 

Penurunan plang nama organisasi JAI Padang ini berawal sejumlah pengurus JAI Padang melakukan pertemuan dengan Wali Kota Padang Fauzi Bahar beserta Kepala Kesbangpol Surya Budhi, MUI Kota Padang Syamsul Bahri Khatib dan Kepala Depag Kota Padang, Syamsul Bahri di Palanta Kota Padang, sekitar pukul 09.30 WIB. Pengurus JAI yang hadir, Ketua JAI Sumbar J S Nurdin, Ketua JAI Padang  Syaiful Anwar dan Mubaligh JAI Mudatsir. Selama hampir dua jam dialog tertutup itu berlangsung.

Sekitar pukul 12.30 WIB, Wako Padang Fauzi Bahar bersama pengurus JAI menuju Kantor Cabang Ahmadiyah Kota Padang Jalan Agussalim Padang dengan pengawalan polisi. Begitu sampai, Wako bersama rombongan menuju Masjid Mubarak berada dalam kompleks JAI Padang untuk shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah.

Shalat Jumat diimami Ketua JAI Padang Syaiful Anwar setelah sebelumnya menyampaikan khutbah jumat. Usai shalat Jumat, Wako kembali berdialog dengan JAI di lantai 2 Masjid Mubarak berlangsung sepuluh menit sekitar pukul 13.30 WIB. Wali Kota Padang Fauzi Bahar pun mendapatkan izin dari jemaat Ahmadiyah untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang.

“Sebagai pemimpin di Kota Padang saya berharap tidak ada kericuhan yang terjadi usai keluarnya SKB tiga menteri tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah yang menyimpang. Makanya saya meminta kesediaan JAI untuk menurunkan plang JAI, sedangkan untuk peribadatan saya tidak turut campur,” ujar Wali Kota Padang, Fauzi Bahar kepada wartawan.

Ketua JAI Padang, Syaiful Anwar mengatakan pihaknya sangat taat kepada pemerintah. Jika pemerintah mengganggap hal tersebut merupakan jalan kedamaian mereka menerima. “Kami orang yang taat pada aturan pemerintah, jika pemerintah yang menurunkan kami terima. Namun pemerintah tidak berhak melarang kami untuk melaksanakan ibadah. Sebab ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya,” ujarnya.

Penurunan Plang Aman

Fauzi Bahar beserta rombongan dan disaksikan jemaat Ahmadiyah membuka plang nama organisasi JAI Padang terletak di depan kantor cabang Ahmadiyah. Saat plang dibuka sejumlah jemaat tampak tidak sanggup menahan haru, meskipun demikian mereka tidak melakukan perlawanan. Hanya saja seorang perempuan tua dipanggil “Anduang” berteriak-teriak, mengatakan pemerintah tidak adil terhadap Ahmadiyah.

“Pemerintah tidak adil, mengatasnamakan hukum bertindak semena-mena,” teriaknya. Aksi Anduang berusaha diredam sejumlah anggota Ahmadiyah perempuan, namun ia tetap berteriak-teriak menghujat pemerintah. Meskipun demikian aksi tersebut tidak menganggu berjalannya penurunan plang nama organisasi JAI Padang.

Plang nama organisasi JAI yang diturunkan diletakan di mobil Kesbangpol dan dibawa ke kantor Kesbangpol untuk diamankan. Aksi Wako tersebut menarik perhatian sejumlah warga yang lewat di jalan tersebut. Bahkan sempat terjadi kemacetan sebab antrean warga yang melihat langsung dengan memarkir mobil dan kendaraan di jalan raya. (zikriniati zn)

Bahay Kehidupan Konsumeristis

Kehidupan konsumerisme.

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga, terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root dan menjadi akar serabut masyarakat  kepada pemborosan yang pada gilirannya terlihat pada terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar), rusak kerukunan bermasyarakat, hilangnya ketenteraman, timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan, pembunuhan, dan, berbagai tindakan kriminal. pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang. Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali datang karena kefakiran”.

Krisis yang menjangkiti masyarakat desa, tersebab mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama, melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.

Proyek modernisasi barat   Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di belahan dunia barat, telah menggeser pandangan masyarakat yang semula akrab dengan  perpegangan agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa manusia.

Keperluan manusia kepada Tuhan menyebabkan mereka mencari-cari Tuhan kemana saja, padahal “Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya Tuhan tidak dapat diterima” (Lihat Richard Swanburn, Oxford ,Wujud Allah, 1979).

Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman ajaran Islam yang selama ini dianut, maka ungkapan bahwa “Islam telah meninggalkan dunia Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam, tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari’at) Islam“, mungkin akan menjadi kenyataan.

Kecaman terhadap Islam tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Barat dan permusuhan yang lama terhadap Islam dengan menyia-nyiakan dan masa bodoh terhadap peradaban manusia yang telah dilahirkan oleh Islam.

Sungguhpun telah terpampang bukti jelas di bidang kedokteran terkenal Ibnu Sina (Avisienna), Ar-Razi (Razes),dan Ibn Nafis. Di bidang filsafat Ibnu Rusyd (Averroes). Di bidang apoteker dikenal pula Ibnu Baitar dan Abu Dawud. Di bidang teknik, Nabag ibnu Farnas dan astronomi Al Bairuni.

Namun dalam arus westernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan selalu dianggap dominasi negeri Barat. Yang lebih parah adalah penerapan double standard dua ukuran dengan pengaruh besar pada  media massa yang selalu menyuarakan bahwa kekerasan, fundamentalis, teroris dan tuduhan-tuduhan brutal lainnya dialamatkan kepada Islam. Permusuhan atheisme – rasialisme dalam menganalisa tindakan umat Islam tidak semata bermuatan politik tetapi lebih banyak karena agama Islam itu dinilai sebagai ajaran yang buruk.

Gerak dakwah Islam di zaman modern membuktikan perkembangan umat Islam yang pesat. Menurut statistika Barat, tahun 1991, jumlah umat Islam didunia mencapai 990.547.000 jiwa. Berapa tahun lagi diperkirakan melebihi 1,5 milyar, karena pertumbuhan penduduk dunia dan penyebaran dakwah, serta kejenuhan dunia barat terhadap paham yang dianut selama ini, Perkembangan Islam cukup pesat. Umat Islam Spanyol (1994) membangun kembali Universitas Islam Internasional “Averroes”. Di Cordove, kembali terdengar suara adzan, setelah lebih 500 tahun  terusir dari Andalusia.

Perkiraan Barat tetap dalam anggitan bahwa Islam adalah musuh utama. Karena itu, pertentangan kedepan tidak hanya terbatas antara Kristen (saliby) atau Yahudi (zionis), tetapi antara minoritas berakidah tauhid yang mengamalkan ajaran agama dipertentangkan dengan mayoritas yang tidak beriman kepada agama Allah.  Persepsi Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama peperangan, keras, extrim, fundamentalis, teroris, dan penuh keterbelakangan.      

Sebenarnya peradaban manusia mengakui bahwa agama Islam sangat concern terhadap keadilan dan menentang setiap pertentang-an rasialisme. Keadilan adalah pilar langit dan bumi, menjamin dan memelihara harkat kemanusiaan (Lihat QS.an-Nahl:90, al-An’am:152, ath-Thalaq: 2, al-Hujurat: 9, an-Nisa’:58, al-Maidah:8).***

 

 

Kembali Ke Surau Membina Umat

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari. Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim). Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sanggup  menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)

Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah. Identitas surau  sesuai  personifikasi pemimpinnya.

Surau adalah pusat pembinaan umat. Menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas). Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah). Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum[1] dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”.

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

 



[1]  Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat basandi syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).

Menghadapi Bencana Alam, Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah.

Menghadapi Bencana Alam,
Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah,
Intisari dari ajaran agama yang benar

.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

PENGANTAR ;

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.3,Ali Imran:110).

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan, khaira ummah, dengan menerima dinul Islam, sesuai diwahyukan kepada Rasul SAW. Ketika manusia menjadi kufur (menolak), dan sebahagian lagi berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), maka seketika pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.

Khaira ummah menjadi identitas umat, yang selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten) dengan sikap mulia akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah, selalu berdakwah, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, (amar makruf), dan melarang yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), kepadanya diberi beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.
Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan dan memiliki pengertian dan pemahaman tentang suruhan berbuat baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).

Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia. Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagar oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Amar makruf nahi munkar, tidak ditetapkan oleh like or dislike (suka atau tidak). Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali mengali kerancuan, karena disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong, tentang yang disuruh dan yang dilarang. Selain juga disebabkan karena ada kebiasaan mudah meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong tersebut.

Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”, dengannya manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah member sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN;
Keistimewaan ilmu, dapat meneliti dan mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sesungguhnya menjadi pengetahuan Allah SWT. Dan orang yang dalam ilmunya.

Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan alam yang luas ini milik Allah, karena itu mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati;
“ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.” (QS.3, Ali Imran:16-17).

Di atas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu,
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).

“ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,” (QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).

“ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).

Karena itu, memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114). Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43). Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28). Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

PADUKAN ANTARA IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA
Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. Teknologi tidak berarti bila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati. Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir (cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social) yang dipunyai manusia, untuk dapat menggunakan perangkat teknologi, yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia. Karena teknologi tanpa dhamir yang cerdas akan merusak kehidupan itu sendiri.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam.
Iptek akan menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan harkat (derajat) manusia. Namun, iptek sangat penting, dan teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia, jika manusia yang mempergukanak iptek itu, memiliki keyakinan (iman) dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.

Tidak dapat tidak, perlu ada saringan bagi pengguna iptek itu. Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI SEBENTAR LAGI !!!
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).

Ayat ini bermakna, bahwa manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau apa-apa yang akan diperolehnya, Karena itu, manusia mempunyai satu kewajiban yang hakiki, yakni berusaha dan berharap.

Begitu juga, tidaklah seorang manusia juga yang mengetahui termasuk tentang kematian. Namun manusia disuruh bersiap2 selalu.
“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS.17, Isra’:85).

“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).

SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH ;
Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq. Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.

Kekalahan (musibah) selalu disebabkan kesalahan sendiri. Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang.
” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata, sebagai suatu konsekwensi logis bahwa alam ini adalah milik-Nya .
“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).

Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua.
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).

Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.

Walau sebagian manusia, ada yang memungkiri akan kekuasaan Allah, tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.
“.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).

Marilah segera kita laksanakan berserah diri kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan jangan hanya sebatas semboyan belaka.

Kewaspadaan dan Antisipasi Menghadapi Bencana Alam

Kewaspadaan dan Antisipasi

Menghadapi Bencana Alam

Kembalilah kepada Allah

 

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

G

 

empa bumi adalah fenomena alam, yang tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Maha Pencipta Alam. Alam telah diciptakan sempurna dengan hukum-hukum yang jelas atau sunnatullah (nature wet) hukum alam =     لا تبديل لخلق الله

Fenomena alam itu berlaku sepanjang masa, menurut kehendak Khalik, pada jangka-jangka waktu tertentu, ada kalanya ketika bumi diratakan dan lempengan samudera bergerak kebawah, pulau-pulau melekat dan terseret, memuntahkan apa yang ada di bawah hingga di dalamnya menjadi kosong (QS.al Insyiqaq:3-5), dan ketika pulau-pulau terangkat dan air laut menyusut menjauhi pantai kemudian disusul lautan dijadikan meluap (QS.al-Infithaar:3-5),

Di sini kita memetik hikmah dari satu musibah (bencana alam) bertalian dengan “keimanan” kepada Yang Maha Rahim, bahwa cobaan demi cobaan akan menjadikan umat tambah waspada dan kuat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ  ( عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ)  سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah. (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

 

Bencana alam (tsunami, gempa, gunung meletus) senyatanya harus dianggap sebuah pembelajaran/latihan dari Allah untuk “manusia yang percaya” agar bersiap menghadapi kiamat. Dengan bencana itu sesungguhnya tumbuh keyakinan kuat bahwa kiamat – besar ataupun kecil – pasti dan mesti akan datang. Namun tak seorangpun tahu dengan pasti kapan akan datangnya, karena ada 5 (lima) ketidakberdayaan manusia (Lukman: 34)

1.   Hanya Allah yang tahu kapan saat terjadinya sesuatu (kiamat/gempa),

2.    Tidak seorangpun yang diberi tahu apa yang akan terjadi besok,

3.    Tidak seorangpun tahu dengan pasti kapan titik hujan pertama jatuh,

4.     Tidak seorangpun tahu selengkapnya yang ada pada rahim (kehamilan dan saat/kepastian kelahiran),

5.      Tidak seorangpun tahu bila dan dimana tempat dia akan mati.

Memang tidak dapat dibantah bahwa antara cobaan dengan kelakuan manusia erat kaitannya, sering kali kelalaian manusia menjaga kaedah alam dan dorongan keserakahan telah menjadikan manusia mendustakan hukum2 Allah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bias menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077], berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

Kebencanaan yang terjadi di bumi banyak diakibatkan oleh peran makhluk manusia yang lalai dan serakah. “Terjadinya bencana di darat atau di laut karena ulah tangan manusia”.

Keserakahan akan mengundang bahaya dan bencana. Keserakahan terjadi karena menolak bimbingan Khalik, ( فَكَذَّبُوهُ ) karena mereka mendustakan (petunjuk Nabi),  فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ lalu mereka digoncang oleh gempa yang dahsyat, akhirnya menuai bencana فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ  dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka, (Al Ankabut : 37).  Ayat ini mengingatkan betapa eratnya hubungan gempa dengan pendustaan terhadap kekuasaan Allah atau menolak tauhidullah.

Kita memang mengerti bahwa tidak semua manusia dapat menjaga dan menerima keimanan kepada Tuhan dengan sepenuh hati sebagaimana telah pernah terjadi pada umat-umat dahulu yang mendustakan kekuasaan Allah, bahkan ini akan berlaku sampai akhir zaman.

Tidak semua manusia mampu mempunyai iman yang benar, seperti pernah terungkap dalam peristiwa bencana taufan besar pertama di zaman Nabi Nuh dimana keluarganya sendiri tidak dapat diselamatkan, karena mengandalkan kekuatan alam semata,  قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ  Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Melalui pandangan agama dan wahyu Ilahi dapat dipelajari dengan sungguh bahwa ketika bala bencana datang tidak ada satu kekuasaan pun yang mampu menahan dan menolaknya, kecuali hanya dengan pertolongan serta rahmat Allah, قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِم   Inilah yang diingatkan oleh Nuh dengan berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang“. (QS.Huud:43).

Al-Qur’an memberi jelas diantara tanda-tanda kiamat itu ketika bumi digoncang  dan air meluap, biasanya ketika itulah manusia tahu mana yang telah mereka perbuat mana yang mereka dahulukan (prioritas) manapula yang mereka lalaikan. Dan bencana kalau sudah datang dari Tuhan tiada satupun kekuasaan yang dapat menolak kecuali segera kembali kepada Allah SWT, sebab datangnya bencana gempa seringkali menyebabkan derita yang berkepanjangan.

Dengan berbagai cobaan itu manusia yang beriman atau yang masih mempunyai sedikit keyakinan dapat kembali kepada Tuhan, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meraih rahmat dan keampunan dari Allah SWT.

فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ

قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا

إِنْ هِيَ إِلاَّ فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

“Maka ketika mereka digoncang gempa bumi,

Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?

Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya“.(QS.Al A’raf:155)

Ketika seseorang hamba mendapat ujian (bala’ dan musibah) dibalik itu ada tangan kekuasaan Allah SWT yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik sesudah itu. (inna ma’al ‘ushry yusraa). Seorang hamba mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin yang Maha Kuasa.

Maka sikap terbaik dalam menghadapi musibah adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha, seperti bunyi do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

Kesimpulan

Di antara antisipasi dan kewaspadaan menghadapi berbagai bencana alam adalah dengan teguh bersandar kepada kekuasaan Allah melalui upaya-upaya:

  1.     hindari perbuatan maksiat yang dapat mengundang bencana,
  2.        perbaiki ibadah dan selalu berdoa kepada Allah mengantisipasi kepanikan,
  3.          patuhi bimbingan para ahli bertalian dengan semua aspek bencana yang terjadi, sehingga tercipta kewaspadaan,
  4.          hindari isu dan jauhi mempercayai nujum agar tidak lahir fitnah,
  5.           perbanyak dzikrullah, sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, SAW.

 

لا إله إلا الله العظيم الحليم

لا إله إلا الله رب العرش العظيم

لا إله إلا الله رب السماوات و الأرض و رب العرش الكريم

ياحي يا قيوم برحمتك استغيث

إنالله و إنا إليه راجعون، اللهم أجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها