Bahay Kehidupan Konsumeristis

Kehidupan konsumerisme.

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga, terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root dan menjadi akar serabut masyarakat  kepada pemborosan yang pada gilirannya terlihat pada terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar), rusak kerukunan bermasyarakat, hilangnya ketenteraman, timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan, pembunuhan, dan, berbagai tindakan kriminal. pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang. Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali datang karena kefakiran”.

Krisis yang menjangkiti masyarakat desa, tersebab mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama, melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.

Proyek modernisasi barat   Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di belahan dunia barat, telah menggeser pandangan masyarakat yang semula akrab dengan  perpegangan agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa manusia.

Keperluan manusia kepada Tuhan menyebabkan mereka mencari-cari Tuhan kemana saja, padahal “Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya Tuhan tidak dapat diterima” (Lihat Richard Swanburn, Oxford ,Wujud Allah, 1979).

Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman ajaran Islam yang selama ini dianut, maka ungkapan bahwa “Islam telah meninggalkan dunia Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam, tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari’at) Islam“, mungkin akan menjadi kenyataan.

Kecaman terhadap Islam tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Barat dan permusuhan yang lama terhadap Islam dengan menyia-nyiakan dan masa bodoh terhadap peradaban manusia yang telah dilahirkan oleh Islam.

Sungguhpun telah terpampang bukti jelas di bidang kedokteran terkenal Ibnu Sina (Avisienna), Ar-Razi (Razes),dan Ibn Nafis. Di bidang filsafat Ibnu Rusyd (Averroes). Di bidang apoteker dikenal pula Ibnu Baitar dan Abu Dawud. Di bidang teknik, Nabag ibnu Farnas dan astronomi Al Bairuni.

Namun dalam arus westernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan selalu dianggap dominasi negeri Barat. Yang lebih parah adalah penerapan double standard dua ukuran dengan pengaruh besar pada  media massa yang selalu menyuarakan bahwa kekerasan, fundamentalis, teroris dan tuduhan-tuduhan brutal lainnya dialamatkan kepada Islam. Permusuhan atheisme – rasialisme dalam menganalisa tindakan umat Islam tidak semata bermuatan politik tetapi lebih banyak karena agama Islam itu dinilai sebagai ajaran yang buruk.

Gerak dakwah Islam di zaman modern membuktikan perkembangan umat Islam yang pesat. Menurut statistika Barat, tahun 1991, jumlah umat Islam didunia mencapai 990.547.000 jiwa. Berapa tahun lagi diperkirakan melebihi 1,5 milyar, karena pertumbuhan penduduk dunia dan penyebaran dakwah, serta kejenuhan dunia barat terhadap paham yang dianut selama ini, Perkembangan Islam cukup pesat. Umat Islam Spanyol (1994) membangun kembali Universitas Islam Internasional “Averroes”. Di Cordove, kembali terdengar suara adzan, setelah lebih 500 tahun  terusir dari Andalusia.

Perkiraan Barat tetap dalam anggitan bahwa Islam adalah musuh utama. Karena itu, pertentangan kedepan tidak hanya terbatas antara Kristen (saliby) atau Yahudi (zionis), tetapi antara minoritas berakidah tauhid yang mengamalkan ajaran agama dipertentangkan dengan mayoritas yang tidak beriman kepada agama Allah.  Persepsi Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama peperangan, keras, extrim, fundamentalis, teroris, dan penuh keterbelakangan.      

Sebenarnya peradaban manusia mengakui bahwa agama Islam sangat concern terhadap keadilan dan menentang setiap pertentang-an rasialisme. Keadilan adalah pilar langit dan bumi, menjamin dan memelihara harkat kemanusiaan (Lihat QS.an-Nahl:90, al-An’am:152, ath-Thalaq: 2, al-Hujurat: 9, an-Nisa’:58, al-Maidah:8).***

 

 

Kembali Ke Surau Membina Umat

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari. Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim). Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sanggup  menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)

Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah. Identitas surau  sesuai  personifikasi pemimpinnya.

Surau adalah pusat pembinaan umat. Menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas). Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah). Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum[1] dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”.

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

 



[1]  Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat basandi syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).

Menghadapi Bencana Alam, Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah.

Menghadapi Bencana Alam,
Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah,
Intisari dari ajaran agama yang benar

.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

PENGANTAR ;

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.3,Ali Imran:110).

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan, khaira ummah, dengan menerima dinul Islam, sesuai diwahyukan kepada Rasul SAW. Ketika manusia menjadi kufur (menolak), dan sebahagian lagi berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), maka seketika pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.

Khaira ummah menjadi identitas umat, yang selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten) dengan sikap mulia akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah, selalu berdakwah, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, (amar makruf), dan melarang yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), kepadanya diberi beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.
Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan dan memiliki pengertian dan pemahaman tentang suruhan berbuat baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).

Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia. Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagar oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Amar makruf nahi munkar, tidak ditetapkan oleh like or dislike (suka atau tidak). Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali mengali kerancuan, karena disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong, tentang yang disuruh dan yang dilarang. Selain juga disebabkan karena ada kebiasaan mudah meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong tersebut.

Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”, dengannya manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah member sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN;
Keistimewaan ilmu, dapat meneliti dan mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sesungguhnya menjadi pengetahuan Allah SWT. Dan orang yang dalam ilmunya.

Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan alam yang luas ini milik Allah, karena itu mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati;
“ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.” (QS.3, Ali Imran:16-17).

Di atas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu,
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).

“ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,” (QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).

“ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).

Karena itu, memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114). Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43). Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28). Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

PADUKAN ANTARA IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA
Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. Teknologi tidak berarti bila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati. Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir (cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social) yang dipunyai manusia, untuk dapat menggunakan perangkat teknologi, yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia. Karena teknologi tanpa dhamir yang cerdas akan merusak kehidupan itu sendiri.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam.
Iptek akan menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan harkat (derajat) manusia. Namun, iptek sangat penting, dan teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia, jika manusia yang mempergukanak iptek itu, memiliki keyakinan (iman) dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.

Tidak dapat tidak, perlu ada saringan bagi pengguna iptek itu. Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI SEBENTAR LAGI !!!
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).

Ayat ini bermakna, bahwa manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau apa-apa yang akan diperolehnya, Karena itu, manusia mempunyai satu kewajiban yang hakiki, yakni berusaha dan berharap.

Begitu juga, tidaklah seorang manusia juga yang mengetahui termasuk tentang kematian. Namun manusia disuruh bersiap2 selalu.
“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS.17, Isra’:85).

“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).

SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH ;
Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq. Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.

Kekalahan (musibah) selalu disebabkan kesalahan sendiri. Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang.
” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata, sebagai suatu konsekwensi logis bahwa alam ini adalah milik-Nya .
“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).

Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua.
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).

Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.

Walau sebagian manusia, ada yang memungkiri akan kekuasaan Allah, tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.
“.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).

Marilah segera kita laksanakan berserah diri kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan jangan hanya sebatas semboyan belaka.

Kewaspadaan dan Antisipasi Menghadapi Bencana Alam

Kewaspadaan dan Antisipasi

Menghadapi Bencana Alam

Kembalilah kepada Allah

 

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

G

 

empa bumi adalah fenomena alam, yang tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Maha Pencipta Alam. Alam telah diciptakan sempurna dengan hukum-hukum yang jelas atau sunnatullah (nature wet) hukum alam =     لا تبديل لخلق الله

Fenomena alam itu berlaku sepanjang masa, menurut kehendak Khalik, pada jangka-jangka waktu tertentu, ada kalanya ketika bumi diratakan dan lempengan samudera bergerak kebawah, pulau-pulau melekat dan terseret, memuntahkan apa yang ada di bawah hingga di dalamnya menjadi kosong (QS.al Insyiqaq:3-5), dan ketika pulau-pulau terangkat dan air laut menyusut menjauhi pantai kemudian disusul lautan dijadikan meluap (QS.al-Infithaar:3-5),

Di sini kita memetik hikmah dari satu musibah (bencana alam) bertalian dengan “keimanan” kepada Yang Maha Rahim, bahwa cobaan demi cobaan akan menjadikan umat tambah waspada dan kuat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ  ( عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ)  سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah. (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

 

Bencana alam (tsunami, gempa, gunung meletus) senyatanya harus dianggap sebuah pembelajaran/latihan dari Allah untuk “manusia yang percaya” agar bersiap menghadapi kiamat. Dengan bencana itu sesungguhnya tumbuh keyakinan kuat bahwa kiamat – besar ataupun kecil – pasti dan mesti akan datang. Namun tak seorangpun tahu dengan pasti kapan akan datangnya, karena ada 5 (lima) ketidakberdayaan manusia (Lukman: 34)

1.   Hanya Allah yang tahu kapan saat terjadinya sesuatu (kiamat/gempa),

2.    Tidak seorangpun yang diberi tahu apa yang akan terjadi besok,

3.    Tidak seorangpun tahu dengan pasti kapan titik hujan pertama jatuh,

4.     Tidak seorangpun tahu selengkapnya yang ada pada rahim (kehamilan dan saat/kepastian kelahiran),

5.      Tidak seorangpun tahu bila dan dimana tempat dia akan mati.

Memang tidak dapat dibantah bahwa antara cobaan dengan kelakuan manusia erat kaitannya, sering kali kelalaian manusia menjaga kaedah alam dan dorongan keserakahan telah menjadikan manusia mendustakan hukum2 Allah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bias menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077], berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

Kebencanaan yang terjadi di bumi banyak diakibatkan oleh peran makhluk manusia yang lalai dan serakah. “Terjadinya bencana di darat atau di laut karena ulah tangan manusia”.

Keserakahan akan mengundang bahaya dan bencana. Keserakahan terjadi karena menolak bimbingan Khalik, ( فَكَذَّبُوهُ ) karena mereka mendustakan (petunjuk Nabi),  فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ lalu mereka digoncang oleh gempa yang dahsyat, akhirnya menuai bencana فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ  dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka, (Al Ankabut : 37).  Ayat ini mengingatkan betapa eratnya hubungan gempa dengan pendustaan terhadap kekuasaan Allah atau menolak tauhidullah.

Kita memang mengerti bahwa tidak semua manusia dapat menjaga dan menerima keimanan kepada Tuhan dengan sepenuh hati sebagaimana telah pernah terjadi pada umat-umat dahulu yang mendustakan kekuasaan Allah, bahkan ini akan berlaku sampai akhir zaman.

Tidak semua manusia mampu mempunyai iman yang benar, seperti pernah terungkap dalam peristiwa bencana taufan besar pertama di zaman Nabi Nuh dimana keluarganya sendiri tidak dapat diselamatkan, karena mengandalkan kekuatan alam semata,  قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ  Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Melalui pandangan agama dan wahyu Ilahi dapat dipelajari dengan sungguh bahwa ketika bala bencana datang tidak ada satu kekuasaan pun yang mampu menahan dan menolaknya, kecuali hanya dengan pertolongan serta rahmat Allah, قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِم   Inilah yang diingatkan oleh Nuh dengan berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang“. (QS.Huud:43).

Al-Qur’an memberi jelas diantara tanda-tanda kiamat itu ketika bumi digoncang  dan air meluap, biasanya ketika itulah manusia tahu mana yang telah mereka perbuat mana yang mereka dahulukan (prioritas) manapula yang mereka lalaikan. Dan bencana kalau sudah datang dari Tuhan tiada satupun kekuasaan yang dapat menolak kecuali segera kembali kepada Allah SWT, sebab datangnya bencana gempa seringkali menyebabkan derita yang berkepanjangan.

Dengan berbagai cobaan itu manusia yang beriman atau yang masih mempunyai sedikit keyakinan dapat kembali kepada Tuhan, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meraih rahmat dan keampunan dari Allah SWT.

فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ

قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا

إِنْ هِيَ إِلاَّ فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

“Maka ketika mereka digoncang gempa bumi,

Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?

Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya“.(QS.Al A’raf:155)

Ketika seseorang hamba mendapat ujian (bala’ dan musibah) dibalik itu ada tangan kekuasaan Allah SWT yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik sesudah itu. (inna ma’al ‘ushry yusraa). Seorang hamba mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin yang Maha Kuasa.

Maka sikap terbaik dalam menghadapi musibah adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha, seperti bunyi do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

Kesimpulan

Di antara antisipasi dan kewaspadaan menghadapi berbagai bencana alam adalah dengan teguh bersandar kepada kekuasaan Allah melalui upaya-upaya:

  1.     hindari perbuatan maksiat yang dapat mengundang bencana,
  2.        perbaiki ibadah dan selalu berdoa kepada Allah mengantisipasi kepanikan,
  3.          patuhi bimbingan para ahli bertalian dengan semua aspek bencana yang terjadi, sehingga tercipta kewaspadaan,
  4.          hindari isu dan jauhi mempercayai nujum agar tidak lahir fitnah,
  5.           perbanyak dzikrullah, sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, SAW.

 

لا إله إلا الله العظيم الحليم

لا إله إلا الله رب العرش العظيم

لا إله إلا الله رب السماوات و الأرض و رب العرش الكريم

ياحي يا قيوم برحمتك استغيث

إنالله و إنا إليه راجعون، اللهم أجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها

 

 

REALITA KALIMAT TAHMID ADALAH JIHAD AKBAR

REALITA KALIMAT TAHMID ADALAH JIHAD AKBAR

.
Oleh : H. Mas’oed Abidin

Di masa ini, setiap saat kita memasuki bulan Zulhijjah di setiap akhir tahun Hijrah, kita akan memasuki satu masa ibadah yang besar, yakni Hajji dan Idul Adh-ha.
Setiap tahun, Umat Islam Indonesia yang beruntung dapat menunaikan ibadah haji, yang jumlahnya tiap tahun meningkat, tidak kurang dari 200 – 250 ribu jamaah dari Indonesia, di tengah 3 sampai 5 juta umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Semua mereka, di masa-masa itu sedang berada dalam perjalanan jihad.
Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkurban.
Rela dan siap setiap saat untuk bertaqarrub ila Allah.
Senantiasa mendekatkan diri selalu kepada Allah Yang Maha Besar.
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.

Semua ucapan dan pengakuan perlu pembuktian.
Bukti tampak dalam bentuk amal perbuatan.
Ketika semua para Mujahidin berhimpun di sekitar Masy’aril Haram, mengumandangkan kalimat talbiyah.

Satu pernyataan dari lubuk hati yang dalam.
Labbaika Allahumma Labbaika, Panggilan Mu ku ta’ati, Ya Allah, panggilan Mu ku ta’ati, Pangilan Mu ku patuhi, Tak ada sekutu bagi Mu, Panggilan Mu kusahuti, Sungguh kepunyaan Mu semata segala puja dan puji, Nikmat dan Kekuasaan milik Mu, Tiada sekutu bagi Mu !!

Di antaranya mungkin terdapat saudara, ibu dan bapak, sanak keluarga, adik dan kakak, teman sebaya dan sekantor, atasan dan karyawan, bahkan mungkin kita sendiri.
Semuanya di waktu yang sama itu, berbaur dengan berpakaian ihram putih tanpa beda seperti layaknya kain kafan.

Rambut dan pakaian kusut masai.
Berdebu, seperti musafir dalam menempuh perjalanan jauh.
A t t a f a l u dengan bau badan menusuk hidung.
Tanpa pembersih dan pengharum.
Selalu sibuk kerja keras.

Menguras tenaga, bermandikan peluh.
Semata hanya menyahuti panggilan Allah,
Labbaika Allahumma Labbaika.

Sepertinya, tengah melakukan pembinaan pribadi di tengah pergulatan hidup. Pengendalian diri, hanya sangat mungkin dimenangkan dengan melupakan kemewahan.
Untuk mencapai mabrur dan makbul.

MABRUR YANG DICITAKAN MESTI DIAWALI OLEH MAKBUL.
SEORANG YANG MENDAPATKAN MABRUR MESTI BERSEDIA MENJADI JUNDULLAH.

Prajurit-prajurit Allah yang akan berperang melawan kemiskinan.
Membasmi kemelaratan dan kelaparan melalui upaya bersungguh-sungguh. Menabur benih keselamatan ditengah kesetaraan hidup.
Penyandang gelaran mabrur adalah pribadi-pribadi berhati bersih.
Berprilaku taqwa, berjiwa kokoh tahan uji.
Pantang terpengaruh oleh kemilauan hidup duniawi.

Sikap-sikap terpuji ini mendorong pribadi untuk sanggup hidup dan memberi hidup. Hidup ditengah keluarga dalam hubungan integrasi yang kuat kokoh.

Di ikat tali persatuan bangsa dan kesatuan wilayah.
Menghidupkan kemandirian local dalam wacana nusantara dan wawasan global. Dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta ini.

Sejarah bangsa Indonesia ini sangat banyak kaitannya dengan perjalanan para Hujjaj.
Sejak dahulu sampai kini.
Sejak pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar di Padang Arafah di tahun 1946.
Bahkan jauh dari sebelum pulangnya Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik dan para mujahid lainnya.
Sedari pertengahan abad keduabelas hingga penghujung abad ke tujuhbelas.
Sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun tujuh ratus tahun yang silam.

Amatlah berbahagia satu masyarakat bangsa yang memiliki sederetan para Hujjaj yang mabrur.
Ketika kembali kekampung halaman masing-masing di tanah air tercinta berkemampuan menerapkan sikap hajjan mabruran disertai pengabdian besar.
Kehadiran mereka, Insya Allah, ditengah keluarga dan masyarakat pasti akan menambah panjangnya barisan penegak kebenaran.
Menggerakkan pembangunan negeri yang tangguh kokoh dan tahan uji.

Kebahagiaan para hujjaj yang berhasil merebut makbul dan mabrur semakin besar dikala teringat janji Allah, maghfirah dan jannah.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW,“al Hajjul-mabruuru laisa lahu jazaa-an illa-al Jannah”, artinya “Haji yang mabrur, tidak ada baginya pembalasan selain surga”.
”Qiila wa maa birruhuu ?” Lalu ditanya orang, “apa yang dimaksud dengan birruhu ?”
Jawaban Rasulullah SAW, Ith-’amu at Tha-’aami, yaitu “memberi makan kepada Si Lapar”. Yakni memiliki kepedulian mendalam terhadap simiskin mustadh’afin. Bilangan mereka semakin bertambah setiap hari (35 juta orang), walau senyatanya hidup ditengah negeri yang kaya dan raya.
Wa ifsya’ us-Salami artinya “menyebarkan keselamatan”. Memelopori tegaknya keadilan. Menanam berbagai kebajikan yang pasti berbuah keselamatan. Menabur kedamaian bagi segenap manusia”.
(HR. Imam Ahmad dan Imam Baihaqie).

TONGGAK SEJARAH.
Setiap dilaksanakan Ibadah Hajji dari tahun ketahun, bersambut dengan Muharram tahun Baru Hijrah seperti sekarang, mau tidak mau akan membawa larut kenangan setiap Muslim.

Menuju kepada satu titik sejarah 9 Zulhijjah 10 H bertepatan Maret 632 M, seribu empatratus sepuluh tahun silam.

Di masa itu, Nabi Muhammad SAW berdiri ditengah hampir 120.000 sabiquunal-awwaluun umat Islam pertama. Mereka juga berdatangan min kulli fajjin ‘amiiq dari segenap penjuru Jazirah.
Merupakan umat pertama yang berkumpul dikaki Jabal Rahmah di tengah Padang Arafah bersama-sama Rasulullah SAW untuk meneriwa wasiat.
Seakan peristiwa timbang terima dakwah ketangan umat pelanjut Risalah berikutnya sepanjang masa.
Di saat itu pula Allah telah menurunkan wahyu terakhir, yang isinya;
Dihari ini (firman Ilahi), Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan KU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Peristiwa sejarah ini disebut juga Haji Tamam atau Haji Kamal, sesuai makna wahyu terakhir tersebut.
Lebih terkenal dengan Wasiat Haji Wada’.

Dalam khuthbah Wada’ Rasulullah SAW menetapkan prinsip-prinsip Islam secara lengkap.

Sehubungan Haji Wada’ ini, firman Allah kemudian menyebutkan,
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan hari kemenangan dan engkau lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah; maka bertasbihlah engkau dengan pujaan-pujaanmu terhadap Allah Tuhan engkau dan beristiqfarlah akan dia. Sesunggunya Dia Allah maha memberi taubat” (QS. 110, an-Nashru 1-5),

Dari rentetan sejarah ini, marilah kita masuki kehidupan baru dengan semangat merebut “nashrum minal-lah” dengan senantiasa melakukan tasbih dan tahmid dalam makna hakiki istighfar dan introspeksi. ***

Pejuang Demokrasi

PEJUANG DEMOKRASI

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi dinegeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama.

Memberikan penghargaan terhadap ajaran Agama berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan bungkus akhlaq mulia.

Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik.
Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu pemaksaan kehendak.

Ujungnya yang tampak adalah tindakan-tindakan anarkis.
Akhirnya akan tampil perubahan keadaan dari terbaik bertukar menjadi terbalik. Bertolak belakang 180 derajat.

Idaman masyarakat banyak akan selalu menjadi mimpi.
Di kala terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa.
Hal demikian muncul lebih banyak disebabkan oleh penguasa dan pengusaha yang berubah menjadi penindas dan penghisap.
Atau karena para cendekia bertukar menjadi penghasut.

Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain :
“Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat umat seluruhnya jadi binasa.
Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”.

Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula,
“Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”.

Bila esensi musyawarah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat beban dipundaknya.
Peran masyarakat bawah hanya sekedar jadi tunggangan untuk mencapai kedudukan semata.

Kondisi buruk ini pernah kita alami dalam dasawarsa yang panjang.
Di bawah pengekangan-pengekangan, dalam semboyan demi kepentingan-kepentingan.
Padahal ajaran demokrasi sebenarnya menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak.
Demi terjaminnya kesejahteraan.

Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian orang banyak.
Dan akan sulit dibantah, bahwa masyarakat yang melarat menjadi sangat mudah untuk dikuasai.

Karena itu, sangatlah ditekankan sekali oleh Sunnah Rasulullah untuk selalu hati-hati dan mawas diri.
Supaya diwaspadai betul agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.
Umat Islam di seluruh dunia sekarang ini sudah ingat kembali kepada misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional sebagai pernah di sampaikan 14 abad.

“Tuhan telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kep[ada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam” (ucapan Amir bin Rabi’ kepada Jenderal Parsi).

Upaya satu-satunya hanyalah dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama. Memelihara keteguhan (konsisten) dalam kehidupan beradat yang luhur.

Karena itu, kehati-hatian dalam memilih dan mengikut pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik.

“Dan apabila Umara’ kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu merupakan manusia-manusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, tapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”.

Na’izubillahi min zaalik.

Berpirau di tengah Badai, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

BERPIRAU DI TENGAH BADAI
DALAM PELAYARAN YANG PANJANG,
ADA KALANYA, NAHKODA HARUS BERPIRAU

Bapak Mohamad Natsir mengibaratkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik sebagai sebuah pelayaran melintasi samudra.

Sudah tentu pelayaran ini tidak mudah.
Dalam keadaan demikian peranan pemimpin yang di-ibaratkannya dengan seorang nakoda tidak mungkin ditawar-tawar lagi.

Namun seorang nakoda hanya akan berhasil bila terjalin kerjasama yang erat dengan para awak kapal, sang rakyat.

Bapirau, suatu kearifan membawa umat yang tengah menghadapi tiupan angin dan tekanan.
Terutama di saat baru terlepas dari cengkeraman badai.
Kearifan bapirau ini perlu dipunyai ketika umat sedang berada di tengah intimidasi Islamofobia.

Dalam bapirau, nakhoda, pemimpin pelayaran, tidak boleh meninggalkan kemudi.
Nakhoda harus mampu menyelamatkan bahtera didalam pelayaran.

I. Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

II. Waktu berpirau, perahu dikemudikan sedemikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat di bagian depan, tapi menyerong.

III. Adapun haluan pelayaran tetap ke arah tujuan yang telah ditentukan, tidak bergeser.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

1. Angin dan gulungan ombak tidak disongsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak.

Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.
Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan, berhenti di tempat sebentar, menunggu badai reda.
Tidak ada badai yang tak pernah reda.

Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu, yang termasuk angin dan arus itu.
Bagi seorang Muslim ikhtiar dan doa memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan.
Ini lebih baik daripada melepaskan kendali dari tangan, membiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

2. Kemudi tidak boleh lepas dari tangan.
Mata juru mudi dan nakoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengawasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh di langit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi.
Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar, sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayung.
Berhenti mendayung, sauh tidak dipasang, berarti hanyut.
Sebab angin dan arus tidak menimbulkan suasana lesu.

Suasana masa bodoh, atau panik, akan sukar membangkitkan semangat mereka mendayung kembali.

Mereka harus selalu asyik dan diasyikkan.
Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat, tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tenaga mereka waktu itu.
Namun berdayung, terus berdayung.

Agar jiwa mereka tetap besar, harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nakoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu.

Di waktu badai, tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri.
Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa menjadi juru bantu, turut mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.

Nakoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu.
Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana panik.

Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air.

Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nakoda yang lalai.

3. Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung.

Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung.

Kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatirkan akan membelokkan arah.

4. Berlayar bukan asal sekedar berlayar.
Harus tentu-tentu tempat yang dituju.
Harus tentu sifat muatan yang dibawa.
Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa.
Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang di musim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan.
Dalam keadaan yang semacam itu ijtihad Nakodalah yang menentukan, di suatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang di tiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah :
a) Jangan lakukan “tasyabbuh”.
Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya membingungkan anak perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka.

b) Jangan ada “talbisul haq bil bathil”, mencampur-adukkan muatan yang baik dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

c) Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih.
Nakhoda pun tetap melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang di laut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

5. Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi.
Tidak ada pelayaran tanpa resiko.
Soalnya bukanlah ada resiko.
Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung-jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan dengan nilai yang hendak dicapai.
Bagaimana orang bermain di pantai kalau tidak ikut kepercikan air.

Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti.
Harinya terus menuju ke “laruik sanjo” (larut senja).

Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” (pemuda kemarin) sedang berkembang menjadi “rijalul yaum” (pemimpin hari ini).

Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

6. Beberapa rangkuman ayat dan hadist, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meneruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya.

Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;
Jangan gugup,

Bismillah :
Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

Begitu pula semestinya, halnya para Da’i, mereka tidak boleh meninggalkan umat yang sedang dibinanya.

Kehadiran Dewan Da’wah diharapkan umat jadi wadah tempat penampung dan penyalur aspirasi umat.
Terutama di kalangan keluarga besar Bulan Bintang.

Dewan Da’wah dianggap sebagai motor penggerak dakwah dalam menghidupkan Dakwah Islamiyah secara nyata.
Apalagi, sesudah melewati masa cukup panjang menghadapi segala gerakan sistematis dari kalangan tidak menyenangi dakwah Islam, yang mematikan ruh dakwah itu.

Dalam rentang waktu satu dasawarsa (1957-1967), gerak dan jiwa Dakwah Islamiyah telah sengaja dimatikan.
Setidaknya dipersempit jalannya.

Kehadiran Dewan Da’wah ditunggu pembuka jalan agar dakwah bergairah kembali. Walaupun lembaga dakwah ini hanya berbentuk sebuah Yayasan dan nyatanya bukan pula suatu organisasi politik.

Di tengah perkembangan politik bangsa yang masih jauh dari keterbukaan dan transparansi, keberadaan Dewan Da’wah disambut umat dengan gembira.

Ada keyakinan berdasarkan amatan realita objektif.
Umat mengerti tengah berlangsung satu perkembangan politik baru.
Berubah dan reformasi.
Dewan Da’wah diharap berperan antisipasi.
Inilah harapan umat.

Persoalan menyangkut problematika kehidupan sosial politik yang tampil pesat berkembang dalam gelombang pergumulan pemikiran ghazwul fikry, memerlukan jawaban segera.
Saat itu peran Dewan Da’wah amat diperlukan. 

Perkembangan politik setahun sesudah peristiwa 30 September 1965, melahirkan pengharaman seluruh aktifitas Komunis di Indonesia, berlanjut dengan pembubaran PKI di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut produk hukum sesuai ketetapan MPRS ini, melahirkan maraknya kegiatan dakwah Islam sebagai satu konsekwensi logis semata.

Ramainya tabligh-tabligh di masjid-masjid di seluruh tanah air menjadi fenomena awal kebangkitan dakwah Islamiyah ketika itu.

Gejala ini sebenarnya akibat pengekangan terhadap Dakwah Islamiyah selama bertahun-tahun di masa Orde Lama yang sulit, di mana banyak putra terbaik bangsa yang telah menjadi korban dan sebahagian besar pemimpin umat terpaksa mesti berada di dalam bilik-bilik tahanan politik.
Karena dianggap berlawanan arah dengan penguasa yang memerintah masa itu.

Ketika pemerintahan baru tampil yang diawali dengan kejatuhan Bung Karno, maka satu demi satu pemimpin umat mulai menghirup udara bebas.

Umat mulai mengamati dengan terang bahwa sedang berlaku satu kekuasaan baru secara pelan.

Kekuasaan yang tumbuh dari teriakan demonstrasi kesatuan-kesatuan aksi, KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAMSI (Kesatuan Aksi Muslimat Seluruh Indonesia) dan lain-lain, dengan dukungan ABRI dalam satu ikatan idea anti komunis dan Tritura (Tri = tiga Tuntutan Rakyat).

Serta merta Umat Islam kembali menjadi kekuatan pelopor.
Umat Islam kembali tampil di garis depan.

Umat Islam kembali berperan menjadi penggerak secara aktif membawa bangsa ke arah perubahan.
Orde Baru tampil dengan beban harapan-harapan.
Satu pemerintahan yang diharapkan jauh berbeda dari penguasa sebelumnya.

Walau ternyata kemudian harapan-harapan itu masih jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Perkembangan politik cepat berubah.
Perlu telaah dan kajian.
Umat mengharap sungguh memperoleh penafsiran secara benar dan jernih.

Penafsir akan memberi arah dan garis perjuangan umat Islam masa itu secara lurus, sangat diharapkan datang dari pemimpin yang telah teruji kecakapan dan kejujurannya.
Mohamad Natsir adalah satu sosok yang diterima umat sebagai “khadimul ummah”.

Dalam menjelaskan langkah dakwah yang ditempuh, Mohamad Natsir sering berucap: “Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.

Adalah sebuah keniscayaan sejarah bahwa para pemimpin umat yang terkenal teguh istiqamah, dalam idiil dan moril-spirituil, yang sertamerta perilakunya dibuktikan dengan kesetiaan mengawal umat dalam kiprah dan kejujuran politik yang teruji pula, maka dengan sendirinya umat akan mengikuti ajakannya.

Sebagai figur peribadi dengan watak pemimpin yang dipercaya, dan terpuji inilah, Mohamad Natsir diberi beban mengawal Dewan Da’wah sejak mulai langkah pertamanya.

Kondisi dan situasi sulit ini, sulit pula menyangkal, bila umat beranggapan, Dewan Da’wah adalah pelanjut partai politik Islam.

Umat langsung melihat dan merasakan sendiri kehadiran pimpinan Mohamad Natsir di dalam Dewan Da’wah, seketika itu sebagai pelanjut harakah politik Islam yang sudah dirintis sejak lama oleh para pemimpin umat ini.

Kenyataan pula para pemimpin umat itu, di masa lalu, sebelum masa rejim orde lama, memang pemimpin partai politik Islam.
Tegasnya para pemimpin Masyumi.

Masa kini, pemimpin umat itu memimpin Dewan Da’wah.
Tentu, tidak salah bila Dewan Da’wah oleh umat disamakan dengan Masyumi, pelanjut keluarga besar Bulan Bintang.

Formalnya, umat muslimin Indonesia secara historis memang pendukung dan pencinta etika politik yang telah dilakukan oleh para pemimpin Masyumi sejak dulu, dengan mengedepankan prinsip musyawarah, rasa kebangsaan, ikatan tali persatuan dan anti penindasan.

Etika politik yang berkesinambungan diwarisi sejak Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), Jong Islamiten Bond, Majlis Islam Tinggi, Syarikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Perti dan Nahdliyyin.
Semangat dan etika politik pemimpin Masyumi semasa itu, dipandang sebagai mewakili semangat keluarga besar partai berlambang Bulan Bintang itu.

Dalam sejarah perpolitikan nasional di arena berdemokrasi secara egaliter, program perjuangan keluarga besar Bulan Bintang dalam kapasitas intelektual para pemimpinnya telah teruji.
Para pemimpin teras Masyumi masa lalu itu, dikenal sebagai ulama intelektual.

Secara politik, umat muslimin di Indonesia memang masih mewarisi semangat pemimpin Masyumi masa lampau itu.
Dalam perkembangan perpolitikan partai-partai politik Islam hari ini, kurang tampak mewarisi aspek-aspek sosial, budaya dan pendidikan politik masyarakat yang diwariskan oleh pemimpin politik masa lalu, yang mempunyai sikap kenegarawanan dengan ketegaran teruji dibalut integritas pribadi terpuji.

Para pemimpin senior umat seperti Mohamad Natsir, Mohammad Roem, H. Zainal Abidin Ahmad, Prawoto Mangkusasmito, HAMKA, Syafruddin Prawiranegara, KH Abdul Ghafar Ismail, KH Isa Ansyari, dan KH Fakih Usman dikenal ulama intelektual yang disegani dalam lingkup nasional dan internasional.

Di level regional, di Jawa Timur ada tokoh-tokoh seperti H. Soleh Umar Bayasut, KH Turchan Badrie dan jauh sebelumnya tampil KH. Hasyim Asy’ary.
Di Jambi dikenal MO. Bafadhol.
Di Sumatera barat dikenal pula Buya A.R. Soetan Mansoer, HMD Datuk Palimo Kayo.
Di Riau dikenal H. Bakri Sulaiman, H. Zaini Kunin, Soeman Hs.
Di Sumatera Utara, ada Bahrum Djamil SH dan kawan-kawan.

Di seluruh Nusantara, bertaburan pemimpin pejuang umat Islam tersebut.
Mereka kebanyakannya adalah para ulama yang cukup disegani.
Dan pada saat keluar dari genggaman orde lama, mereka berkiprah di bidang dakwah.

Kapasitas semacam itu, kurang dimiliki oleh jajaran ormas atau partai politik Islam di Indonesia di era reformasi 1999, di tingkat pusat maupun di daerah.
Seakan umat muslimin Indonesia hanya mewarisi sisa-sisa simpati politik yang pernah muncul di kalangan partai Masyumi, keluarga besar Bulan Bintang.

Memprihatinkan sekali ketika ada keinginan mewarisi kelompok besar yang dibuat oleh para intelektual Masyumi, tetapi mulai terjauh dari lingkaran partai-partai umat Islam Indonesia.
Hal itu terjadi karena keterpasungan demokrasi masa lalu yang terpimpin dan monoloyalitas. 

Diterimanya pemimpin Dewan Da’wah menjadi ikutan oleh banyak umat, adalah satu keniscayaan sejarah.
Jika Dewan Da’wah selalu pula dicurigai oleh kalangan yang phobi terhadap Islam, adalah suatu keniscayaan yang logis pula.

Ungkapan Dr. Tarmizi Taher mantan Menteri Agama R.I. Kabinet Pembangunan VI menyebutkan,
Natsir telah mencoba melakukan pendekatan politik untuk memperjuangkan Islam atau memajukan umat dan bangsa.
Sejak bermulanya pemerintahan Orde Baru, Natsir dengan secara sadar melakukan pendekatan lain yang kita sebut sebagai “pendekatan kultural”.
Di sini yang menjadi titik tekan perhatian dan kegiatan beliau adalah dakwah dan pendidikan
” .

Gagasan dan gerak Dewan Da’wah oleh Tarmizi Taher disebutkan, “Dewan Da’wah merupakan salah satu organisasi perintis yang mengkader dan mengirim para da’i sampai ke tempat-tempat terpencil sekalipun, di berbagai pelosok Nusantara untuk memperkuat aqidah dan ibadah umat muslimin” .

Memang gagasan musyawarah 26 Pebruari 1967, sejak awal bertitik tolak dari pemikiran penguatan dakwah.
Pemikiran para ulama dan zu’ama menyimpulkan ;

Pertama, kegiatan dakwah adalah kontinyu.
Sejak masuknya Islam ke Indonesia, sampai waktu ini, dakwah adalah kegiatan sambung bersambung, dari generasi ke generasi.
Baik secara individual maupun organisasi, baik formal maupun non-formal.

Kedua, sesuai perkembangan zaman.
Maka teknik dan materi dakwah senantiasa perlu ditingkatkan.
Dari segi sarana, maupun mutunya.
Kalau dari segi sarana dan teknik, dakwah sangat erat hubungannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
Materi dakwah bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah mesti selalu dijaga dan dipakai menjadi pedoman dan petunjuk agar tetap berlaku sepanjang zaman.

Pemahaman mendalam dan lebih meluas sangatlah diperlukan sebagai bekal da’i. Sehingga dakwah dapat secara efektif memangil setiap insan segala lapisan dan lapangan.

Dakwah Islam adalah perombakan total.
Mengubah sikap mental umat manusia dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat.

Sebenarnya sasaran dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini.

Dakwah tidak akan pernah berhenti.
Dakwah Islam tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim, dimana pun mereka berada.

Para pendiri Dewan Da’wah dan para tokoh-tokoh politisi Islam yang istiqamah, dengan sadar telah memilih organisasi Dewan Da’wah berbentuk yayasan dan tidak perlu ada kartu anggota, serta secara tegas pula menyatakan dasarnya adalah taqwa dan keredhaan Allah.

Tujuan gerakan ini untuk menggiatkan dan meningkatkan mutu Dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatannya, Dewan Da’wah selalu menempatkan diri sebagai pelanjut dan penerus kegiatan kegiatan dakwah sebe¬lumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW, memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatul hasanah berkewajiban menerjemahkan setiap geraknya dengan menampilkan kegiatan nyata.

Semua kegiatan dakwah yang digulir, terlebih dahulu harus dirancang sesuai dengan problematika kehidupan, yang erat terkait dengan keperluan umat, baik penanganan dalam waktu pendek, untuk keperluan cepat dan mendesak.

Gerakan dakwah di daerah terisolir serta pembinaan para muallaf dan muhtadin, baru mulai dengan gerakan dakwah tabligh yang ditunjang penyediaan bahan dakwah dan tenaga mubalig.

Penerbitan media dakwah diikuti pengiriman tenaga da’i terampil sampai ke pelosok pedalaman sulit dan rawan, menjadi program pokok.

Mencontoh Rasulullah SAW mengirim Shahabat Mu’az bin Jabal ke Yaman, diterjemahkan Dewan Da’wah dengan mengirim para du’aat sebagai tenaga trainers ke daerah sulit.

Melayani informasi dakwah di daerah dan menghadapi upaya tanshiriyah dan gerakan salibiyah, peran da’i sangat penting.

Tidak hanya sekedar mengirim tenaga dai, tapi perlu sekali mempersiapkan kelengkapan dakwah berupa perangkat dakwah dan peralatan dakwah.
Perangkat dakwah, di antaranya du’aat, nizham, jamaah, yang tersusun secara terpadu, ijtima’iyah.

Peralatan dakwah dalam operasional memerlukan ;
a) pedoman manhaj, program mabda’, peta dakwah,

b) alat-alat dakwah di lapangan, seperti alat transportasi yang perlu disiapkan sedari awal dan pemeliharaannya,

c) pertimbangan situasi, waktu, dan medan dakwah, dimana dakwah itu akan dijalankan.

Sangatlah berbahaya bila perangkat dan perlatan dakwah dilalaikan.
Sasaran dakwah menjadi sulit untuk dicapai.
Kelangsungan gerak dakwah akan mengalami kendala fatal dan berbahaya, bila tidak ditopang oleh peralatan dan perangkat dakwah tersebut.

Akibatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk hilangnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

DAURAH PARA DU’AT DI DAERAH SIBERUT SELATAN MENTAWAI

Prinsip dakwah jelas, dakwah melanjutkan Risalah.
Prinsip ini melahirkan sikap konsisten menghadapi pihak yang membantah, maupun yang merasa tidak senang, bahkan menolak kehadiran Dewan Da’wah.

Setiap penggerak dakwah harus senantiasa berupaya menghadapi semua cabaran yang tampil, dengan dalil dan kaifiyah yang lebih baik, diiringi dengan bukti amal nyata.

Konsistensi memperkokoh keberadaan dakwah di tengah pergulatan politik di era sulit.

Akhirnya dakwah akan hadir sebagai suatu badan dakwah yang tidak mudah disusupi.

Dewan Da’wah berkembang menjadi lembaga dakwah yang memiliki keteguhan-keteguhan dalam prinsip amar makruf, social support dan nahi munkar, social control.
Dua peran kembar ini dilaksanakan tidak terpisah.
Terutama ketika umat dihadapkan dengan gerakan pemurtadan oleh pihak zending-zending di daerah terpencil, daerah transmigrasi maupun daerah terisolir, maka umat diajak menghadapinya dengan sangat arif. Keteguhan hati dan kokoh iman membimbing kepada prinsip dakwah yang tegas.

Perpaduan sikap-sikap lembut dalam berkaifiyat serta prinsip tegas dalam juang keyakinan, telah menjadikan Dewan Da’wah dijadikan rujukan perjuangan umat.

Bertalian dengan hal-hal yang prinsipil, umat selalu menempatkan Dewan Da’wah sebagai lembaga untuk umat menempatkan pilihan.

Sikap dan pandangan Mohamad Natsir sangat jelas, menyebut program dakwah dari Dewan Da’wah sederhana dan padat artinya, “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan” .

Realisasi peran ini selalu dijalankan sejak empat dasawarsa berlalu.

Demikian pesan-pesan DR. Mohamad Natsir, agar tidak cemas menghadapi arus yang terjadi.

Copyrigt tulisan ini bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Mohamad Natsir dan Gerakan Dakwah Komprehensif

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

MENAMPILKAN GERAKAN DAKWAH KOMPREHENSIF

Tepatnya tanggal 26 Pebruari 1967 di Jakarta telah berlangsung pertemuan dan musyawarah para zu’ama dan ulama Islam, dengan keputusannya, melahirkan satu badan dakwah yang diberi nama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah). Sebagai organisasi disingkat dengan Dewan Da’wah..

Lembaga yang lahir dari kesepakatan ulama, zu’ama pemikir Islam yang teruji piawai dan jujur dalam jangka lama.

Pemimpin Islam itu adalah pejuang Islam yang telah berkecimpung menghabiskan waktu dan tenaga untuk “meninggikan kalimat Allah” atau li-I’laa-I Kalimatillah dalam arena kehidupan sosial, politik, ekonomi maupun dalam bidang Dakwah Islam, sejak lama.

Dewan Da’wah ditumbuhkan pada mula menggerakkan Dakwah Islamiyah di Indonesia. Badan Dakwah ini, mengambil bentuk Yayasan dengan Akta Notaris Syahrim Abdulmanan, No.4 tanggal 9 Mei 1967.

Untuk memimpin pertama kalinya dipercaya Bapak Mohamad Natsir, akrab dipanggil “Pak Natsir” atau “Abah”. Ada juga memanggil beliau dengan “Engku”, atau “Pak Imam” oleh umat. Beliau menjabat sebagai Ketua.

Pak Natsir memimpin Dewan Da’wah dengan sendirinya menghimpun politisi pejuang Islam, yang telah terkenal sejak masa kemerdekaan Republik Indonesia. Ini, bukan suatu urusan kecil.

Bila dilihat, penggerak saat pendirian Dewan Da’wah ini adalah pemimpin umat yang dikenal kaya fikiran dan pemahamannya.
Kepengurusan Dewan Da’wah pertama itu diperkuat oleh DR. KH. M. Rasjidi, sebagai Wakil Ketua serta Buchari Tamam dan Nawawi Duski menjadi Sekretaris.

Jajaran pengurus diperkuat oleh KH. Hasan Basri selaku Bendahara. Sederetan anggota pengurus yang berperan sebagai pleno adalah KH. Taufiqurrahman, Mochtar Lintang, Zainal Abidin Ahmad, Prawoto Mangkusasmito, KH. Mansur Daud Datuk Palimo Kajo, Osman Raliby, dan Abdul Hamid.
Susunan pengurus ini bertahan selama 20 tahun (hingga tahun 1987).

Sejarah telah mencatat, jabatan puncak Dewan Da’wah tetap ditangan Bapak Mohamad Natsir sampai akhir hayat beliau (1993). Berarti selama 26 tahun kepercayaan umat tidak bergeser dari beliau.

Selama lebih seperempat abad Dewan Da’wah di bawah kepemimpinan Bapak Mohamad Natsir. Sangat pantas jika Dewan Da’wah diidentikkan dengan pemikiran Mohamad Natsir.
Pemahaman seperti itu tidak salah sama sekali.

Pemikiran Mohamad Natsir banyak memberi warna kepada gerakan dakwah ini. Sosok dan kiprah Mohamad Natsir diungkapkan beberapa penilai secara jujur, sebagai pemimpin umat.
Mohamad Natsir pula disebut pejuang bangsa serta mujahid Islam, politikus dan pemandu dakwah di zaman maju dan penuh cobaan.

Perjuangan Beliau dapat disimak sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia, hingga perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.
Terus. Tidak berhenti sampai kepada mempertahankan proklamasi dengan kewajiban mengisi perangkat aparat negara kesatuan Republik Indonesia.

Dinamika perjuangannya menjadi rujukan sampai akhir hayat beliau. Bahkan masih relevan hingga sekarang. Keperibadian dan kejuangan Mohamad Natsir yang teguh terlihat murni dan jelas.

Mulai dari masa muda, ketika mengikuti masa pendidikan beliau tampak teguh, sampai ke zaman gelombang pergerakan kemerdekaan.
Perjuangan Mohamad Natsir selalu berwarna Islam.

Mohamad Natsir merupakan manifestasi keyakinan yang sangat mendalam terhadap ajaran Islam. Ketika masa kemerdekaan sudah di ambang pintu terjadi pergeseran problem yang dihadapi bangsa dalam merumuskan dasar negara.

Ketika Bung Karno tampil dengan ide kebangsaan yang kental sekuler, saat itu pula Mohamad Natsir hadir memberikan pemikirannya didalam menampilkan cita kebangsaan yang luhur dengan kelayakan sangat tepat mengambil Islam itu dijadikan dasar negara.

Dalam politik kepartaian dari pergerakan politik Mohamad Natsir sejak Permi (Persatuan Muslimin Indinesia) hingga Persis (Persatuan Islam) hingga partai politik Islam Masyumi, keteguhan dan istiqamah kejuangan Mohamad Natsir dalam memelihara garis politik Islam di Indonesia selama hayatnya telah dijadikan barometer.

Keikhlasan menjadi perekat dalam mengeratkan hubungan emosional di antara sesama pemimpin umat.
Gagasan-gagasan dalam menetapkan jalur politik dakwah secara terpadu, juga dijadikan acuan.

Kejujuran yang dimiliki telah menjadi pendorong laju gerak dakwah selanjutnya.
Termasuk di dalam menetapkan dakwah politik yang akan dilalui bersama-sama pemimpin umat Islam Indonesia.

Di antara barisan pemimpin dan pejuang umat Islam di Indonesia antara lain, Prawoto Mangkusasmito, Mr. Syafroeddin Prawiranegara, Mr. Boerhanoeddin Harahap, Mr. Mohamad Roem, Mr. Kasman Singodimedjo, KH. Taufiqurrahman, KH. Mohamad Yunan Nasution, DR. H. Anwar Harjono SH, Prof. DR. H. Mohamad Rasyidi.

Ungkapan Yusril Ihza Mahendra, pakar hukum Tata Negara Universitas Indonesia yang kemudian menjadi Ketua Umum pertama Partai Islam Bulan Bintang dalam Pemilihan Umum 1999, pernah menjabat Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia serta Menteri Sektretaris Negara pada Kabinet Indonesia Bersatu masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan terkena reshufle Kabinet di bulan Mei 2007, pernah menyebutkan Pak Natsir berperan besar sebagai pemandu umat.

Pernyataan Yusril tahun 1994 – 13 tahun lalu itu –, sebagai berikut ;
“Kiprah Natsir sebagai seorang tokoh intelektual, politikus, pemimpin negara maupun tokoh dunia Islam yang terkemuka di abad ini tak pernah selesai menjadi buah pembicaraan.
Padahal dari segi asal usul dan fisiknya, Natsir hanyalah orang biasa, dengan temperamen yang lemah lembut, bicara penuh dengan sopan santun, dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Namun di balik temperamennya yang lemah lembut dan mudah tersenyum itu.
Sosok peribadi Natsir adalah ibarat batu karang yang kokoh. Ia termasuk seorang yang teguh memegang prinsip, walau dalam berhubungan dengan orang-orang lain, ia terkesan terbuka dan malahan cenderung kompromistik.
Sejauh kemungkinan kompromi-kompromi itu memang dapat di capai tanpa mengorbankan prinsip-prinsip yang di yakininya”.
Yusril memang dikenal akrab dengan Pak Natsir. Banyak menulis alam pikiran Natsir.

Kekokohan sikap pendirian serta keteguhan prinsip perjuangan politik dan dakwah Mohamad Natsir tidak dapat diragukan.
Mohamad Natsir adalah seorang pemimpin.
Kepemimpinan beliau tidak hanya dalam lingkungan kecil sangat terbatas, seperti Dewan Da’wah.

Mohamad Natsir adalah pemimpin yang senantiasa memimpin lahirnya generasi-generasi yang siap tampil jadi pemimpin pula.
Beliau adalah “seorang pemimpin sejati” dan “pengawal umat”, “dzuu wujuh, dalam arti positif”.

Banyak nian ungkapan terpuji yang melekat pada dirinya.
Sebagai seorang negarawan dengan watak “seorang demokrat sejati”, kata Pak Natsir suatu ketika ”haruslah senantiasa sadar untuk mempersiapkan pengganti-penggantinya yakni generasi penerus yang akan meneruskan estafeta perjuangan“.

Namun kemunculan pemimpin, menurutnya, tidak dapat dikondisikan apalagi di katrol dan di dongkrak”.
Selanjutnya ”pemimpin” itu menurut Mohamad Natsir, harus lahir dari bawah. ”

Keputusan-keputusan yang menjadi kebijakan dakwah yang lahir dari pemikiran Pak Natsir ketika menggerakkan Dewan Da’wah, selalu mengingatkan bahwa seorang pemimpin belum berhak mendapatkan julukan pemimpin manakala belum mampu menelurkan pemimpin-pemimpin baru yang jumlahnya lebih banyak.

Seorang pemimpin umat, terlihat dalam amal nyata.
Mempunyai keteguhan komitmen.
Kuat memegang amanah umat.
Harus dijaga agar jangan lahir pemimpin-pemimpin pengkhianat.

Pengkhianat terbesar ialah seorang yang mengkhianati prinsip perjuangan yang telah diamanahkan kepadanya.
Pemimpin yang amanah selalu diharapkan oleh umat yang tengah dipimpinnya.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” ( QS.Al-Anfal:27).

Mewujudkan “generasi pemimpin” selalu ada tantangan dan hambatan dalam melangsungkan pengalihan estafetta kepemimpinan.
Tenaga yang lebih muda dalam usia, umumnya hadir dengan perasaan belum siap menerima.
Kadangkala merasa tidak mampu melanjutkan estafet kepemimpinan dari generasi tua sebelumnya. Karena menganggap diri belum berpengalaman untuk itu.

Ketidaksiapan ini bisa disebabkan karena alasan internal, merasa belum berkemampuan dalam leadership.
Atau merasa belum mempunyai keahlian untuk itu.
Padahal, kemampuan yang memadai dalam ilmu atau pemahaman agama, memerlukan proses dan pembiasaan.

Pematangan diri dan sikap, harus disertai keinginan teguh melengkapinya dengan ilmu. Dalam operasional serah terima tongkat kepemimpinan sering terjadi hambatan, karena melemahnya komitmen prinsip perjuangan.

Atau karena kurangnya kesempatan yang memadai, untuk menjelaskan prinsip perjuangan itu.
Hal ini bisa terjadi sebagai akibat sangat terbatasnya waktu atau melemahnya frekuensi perjuangan umat karena berlangsung intimidasi berbagai pihak yang berkuasa, yang lazim mengarah pada para pemimpin umat yang istiqamah dan tidak pernah dapat dibeli.

Tuduhan ekstrim terhadap kelompok pemimpin umat masa lalu itu bisa berdampak besar bagi menyempitkan jalan dakwah.
Peluang melakukan estafet kepemimpinan akan menjadi sempit pula ruangnya. Terutama ketika diadakan upaya menjelaskan prinsip perjuangan kepada generasi yang akan menyambut regenerasi.

Disamping itu, hadir pula hambatan eksternal.
Menyangkut sosial politik yang tidak kondusif.
Semua kondisi tersebut telah lama sebagai hambatan. Sudah menjadi pembawaan sejarah yang bakal diterima oleh seorang pelanjut risalah dakwah.

Seseorang penggerak dakwah adalah “pemimpin” umat yang selalu berupaya di sepanjang masa hidupnya, melaksanakan tugas kewajiban dakwah, mengikhtiarkan kesejahteraan, bagi umat yang dipimpinnya.

Disamping mesti pula menunaikan kewajiban yang tak boleh dilalaikan sekejappun, memenuhi tanggung jawab diri peribadi dan rumah tangganya sendiri.

Sesaatpun tidak pernah memutuskan harapan atas ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam situasi dan keadaan negeri dan lingkungan bagaimanapun. Amal dan ikhtiar merupakan dua bidang kewajiban, yang dilaksanakan memimpin umat dan keluarga, harus “sejalan” dan “sejalin”.

Walaupun terkadang titik berat berkisar kisar di antara dua bidang itu saja. Namun kedua duanya tetap berjalin, dalam keadaan bagaimanapun juga. Idealisme tentang kewajiban ini mesti diterapkan oleh pendakwah dimana saja. Lembaga dakwah berperan mendorong bergulirnya satu proses kondusif.

Melalui pengkaderan, refreshing, up-grading para du’at, dilakukan untuk meningkatkan mutu pendakwah. Keterampilan teknis dan pendalaman pengetahuan agama, sangat penting digulirkan.
Keahlian keterampilan berguna untuk dipakai sebagai alat pemenuhan kewajiban dimaksud.

Gerak dakwah bergulir, didukung gagasan sederhana.
Mendorong percepatan penyebaran informasi komunikasi dakwah.

Bertalian pesatnya perkembangan pengetahuan di dunia, pertumbuhan teknologi dasar, seperti pertukangan, pertanian, home industry yang sangat sederhana, masih perlu disimak.

Perkembangan tersebut mesti diperkenalkan kepada para pendakwah.
Pekerjaan seperti itu, lahiriyahnya kelihatan sangat sederhana mengasas pada menggerakkan tangan terampil.
Namun sangat berperan menopang gerak di medan dakwah di perkampungan.

Gerakan keterampilan sangat berkesan, bila dimulai dengan pembinaan jamaah dari masjid.
Dari masjid membangun umat dengan kemampuan lebih besar.
Sanggup mandiri.
Memiliki cita-cita luhur.
Mampu membangun hidup dan tidak berebut hidup.

Idea gerakan dakwah adalah menghidupkan usaha ekonomi sederhana pada lapangan perdagangan kecil dan kerajinan rumah tangga.

Re-freshing dilakukan, memberi pembekalan du’aat dari daerah-daerah terpencil. Di awal berdiri Dewan Da’wah tahun 1967, pendalaman ilmu dakwah dan pengetahuan agama disejalankan dengan pengetahuan praktis yang perlu dipunyai para da’i, bila kembali ke medan dakwah.
Sekalian ilmu yang dibekalkan berguna untuk menggerakkan usaha kecil semisal peternakan, pembibitan tanaman hortikultura, gagasannya telah dirintis sejak dari balik penjara Orde Lama.

Dakwah selalu wujud dalam aktifitas nyata.
Memanfaatkan sarana media dakwah, dalam suatu gerakan dakwah lisan bil-hal. Aktifitas dakwah menembus semua lapisan umat Islam.
Sasaran utama adalah lapisan umat bawah (grass-root), yang kebanyakannya adalah para dhu’afak.
Umumnya, mereka banyak tersebar di desa sulit dan terpencil.

Prinsip berdakwah dalam Dewan Da’wah adalah makin banyak da’i di daerah-daerah akan makin banyak umat Islam terbina.
Pembentukan da’i melalui program pelatihan, diikuti kemudian dengan penyebarannya.

Mengirim da’i sampai ke pelosok-pelosok desa terjauh, menjadi urusan besar. Tidak boleh dianggap urusan kecil.
Selama cita-cita dakwah akan dilanjutkan.

Untuk keperluan ini, Dewan Da’wah didirikan dengan semangat jihad, dalam bentuk moderat.
Mohamad Natsir menyebutnya dengan istilah “bapirau ditengah badai”.

Bapirau, adalah suatu kiat yang perlu dimengerti oleh setiap du’at.
Terutama sekali dalam mengharungi dan memelihara kondisi umat yang tengah sulit.
Mungkin umat tengah dalam suasana kehilangan pegangan dan pedoman disebabkan perkisaran musim atau pertukaran zaman dalam perkisaran politik yang penuh tekanan banyak resiko.

Para pendakwah harus berani memakai kiat bapirau ini.
Kiat dakwah ini melahirkan hikmah dalam hidup dan perjuangan.
Layaknya seorang nakhoda di dalam pelayaran berperahu menentang ombak gelombang.

Copyright tulisan ini bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif oleh H. Mas’oed Abidin.

Pembinaan Agama di Nagari Nagari di Minangkabau, Syarak Managato Adat Mamakai

Nagari

PROBLEMATIKA PEMBINAAN AGAMA DI NAGARI-NAGARI DI MINANGKABAU DEWASA INI

Oleh H. Mas’oed Abidin

Secara umum perkembangan masyarakat nagari di abad ini mengalami pergeseran pula, “masyarakat di datangi dakwah dan tidak lagi mendatangi dakwah.”.

Pada beberapa daerah tampak dengan kurangnya minat orang tua menyerahkan anak-anaknya ke Pendidikan-pendidikan Islam (Surau, majelis ta’lim, TPA, MDA, bahkan pengajian-pengajian Al-Qur’an).

Kebiasaan meminum minuman keras (Miras) di kalangan muda/remaja, berkembangnya pergaulan bebas (di luar batas-batas adat dan agama) mulai tumbuh merajalela.

Peranan ulama Minangkabau sejak dulu adalah membawa umat, melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik,

Kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah.

Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.
Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional.

Research-oriented dengan berteraskan iman dan bertelekankan tongkat ilmu pengetahuan.

Peran dan perjuangan para ulama dalam membina nagari hari ini seringkali tidak terikuti oleh pembinaan yang intensif, disebabkan :

a. Kurangnya tenaga da’i, tuangku, ulama yang berpengalaman, berkurangnya jumlah mereka di daerah-daerah (karena perpindahan ke kota dan kurangnya minat menjadi da’i .

b. Terabaikannya kesejahteraan da’i secara materil yang tidak seimbang dengan tuntutan yang diharapkan oleh masyarakat dari seorang da’i .

c. Jauhnya daerah-daerah yang harus didatangi oleh juru dakwah sementara tidak tersedianya alat transportasi.

d. Sering ditemui transport umum sewaktu-waktu ke daerah-daerah binaan dakwah jarang pula tersedia.

e. Umumnya juru dakwah bukanlah pegawai negeri yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap, akan tetapi senantiasa dituntut oleh tugasnya untuk selalu berada di tengah umat yang dibinanya.

Mengembalikan Minangkabau ke akarnya ya’ni Islam tidak boleh dibiar terlalai. Karena akibatnya akan terlahir bencana.

Acap kali kita diabaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.

Amatlah penting untuk mempersiapkan generasi umat yang mempunyai bekalan mengenali keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,, sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi, tamadun, budaya,dan adat-istiadat berbudi bahasa yang baik.

MENINGKATKAN KINERJA DA’I

Dalam upaya meningkatkan kinerja da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif dalam melakukan perubahan.

Selalu memelihara tindakan yang benar. Setiap tindakan akan disaksikann oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman (QS.53:39-41).

Tidak boleh hidup dalam kekosongan (kevakuman).
Menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.

Syarat utama menjadi muslim yang baik adalah bermanfaat terhadap orang lain. Perlu diingat, bahwa “yang paling banyak diperhatikan oleh umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.

Golongan bukanlah tujuan.
Kelompok yang ada hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.

Kepentingan kelompok harus tunduk kepada (kemashalahatan) umat.

Da’i tidak boleh mengurung diri, akibatnya akan menjauhkan dari objektifitas, dan selalu menjadikan seseorang akan lebih mementingkan golongan (kelompok).

Mementingkan kelompok semata akan sama halnya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Masyarakat lingkungan adalah media
Satu-satunya lapangan tempat beroperasinya para da’i adalah lingkungan, dan tempat berdakwah sepanjang hidup adalah umat.

Konsekwensinya harus siap menerima segala cobaan dan godaan dari Allah (QS.12,Yusuf:109).

Da’i seharusnya memiliki tingkat kesadaran tentang Alam ghaib, sesuai rukun Iman, akan menyelamatkan manusia dari ke sia-siaan berpikir terhadap sesuatu yang di luar wilayah kemampuan rasio.

Rujukannya adalah Al Quran dan Hadist.

Alam semesta, memiliki dimensi ruang, waktu, volume, sebagai milik Allah.
Alam semesta dapat digunakan bagi sebesar manfaat untuk manusia.

Konsekwensinya, da’i harus memiliki ilmu pengetahuan.
Da’i tidak boleh menjadikan dirinya tertutup, bahkan mesti selalu aktif. (QS.31- Luqman:20).

Pengetahuan Internasional, penting untuk menunjang gerak dakwah.
Harakah Islamiah adalah suatu yang global.
Umat Muslim ada di mana-mana.

Pengetahuan ini mendorong kepada amar makruf (social support) dengan menegakkan kebenaran.
Juga komitment yang tegas terhadap nahi munkar (social control) dengan melawan setiap kemungkaran.

Setiap da’i semestinya mengetahui bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.

Kesadaran lokal, minimal pengetahuan tentang

(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) budaya, adat-istiadat, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.

Pengetahuan lokal ini berguna untuk memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan, membuat analisis, menyediakan alternatif-alternatif.

Teori yang khayal hanyalah angan-angan.

Masyarakat memerlukan kenyataan-kenyataan yang menyentuh kehidupan pribadi maupun kelompok secara langsung.

Tujuan akhir menghapuskan ketidak seimbangan serius, melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

Bagi lingkup masyarakat Islam boleh saja disajikan berbagai hidangan tetapi semuanya mesti halal.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.

Maka tidak dapat tidak, seorang da’i mesti menempatkan diri di tengah masyarakatnya.
Seorang da’i mesti memiliki orientasi pengabdian yang luhur.
Seorang da’i sanggup menawarkan alternatif dalam persoalan keumatan.
Seorang da’i akan menjawab masaalah umat, pemecahan permasalahan umat.
Seorang da’i akan berperan sebagai seorang pemimpin dalam membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
Keberadaan seorang da’i di tengah umat binaan menjadi perhatian dan lanjutannya mendapatkan dukungan masyarakat di kelilingnya.

Tindakan awal yang menopang keberhasilan dakwah para da’i.

Secara individu berusaha mendapatkan pengetahuan minimal tentang kejadian sekitar, karenanya perlu mendapatkan supply informasi yang memadai.

Secara Lokal, selalu berpartisipasi pada setiap pertemuan dan memelihara kesinambungan halaqah dan usrah.
Peningkatan akhlak karimah dalam setiap pelaksanaan dakwah praktis yang menyangkut keseharian umat seperti kelahiran, perkawinan, dikala sakit dan kematian).

Perlu ada pemahaman mendalam tentang tantangan dimedan dakwah yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Mengatasi situasi ini hanya dengan modal kesadaran dengan memanfaatkan jalinan hubungan yang sudah terbina lama.

Suatu gerakan dakwah akan lemah jika tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut dengan penuh vitalitas, energik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional, perlu ditanamkan komitment fungsional mutu tinggi, memperkuat komitmen konsultasi mengarah penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif adanya center of excelence.

Jika da’i jumlahnya banyak, maka akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin.

Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia (QS,96-al ‘Alaq:1-5).

Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat akan berkesempatan banyak mengatur masyarakat.

Para da’i perlu memiliki sikap jujur dan objektifitas mengambil pelajaran berguna.
Mampu melihat diri dari dalam, kritik konstruktif, identifikasi kekurangan.
Tidak jujur kepada diri tidak akan dapat melatih diri kepada yang benar.

Mampu melihat tambah kurang, kompensasi dan ekualitas, identifikasi kelemahan.
Perlu diingat bahwa kelemahan timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Da’i adalah bagian dari gerakan dakwah, juga adalah produk dari dakwah itu pula.
Mampu menghadapi aksi reaksi, di lingkungan politik bernuansa konfrontatif dan reformatif, dari segi budaya dan sosial ekonomi.

Mampu mengantisipasi keterbelakangan dengan konsep fikrah, aktifitas dan tindakan terencana dengan kemampuan analisis.

Dalam pengalaman dakwah untuk merebut kemajuan selalu terhalangi oleh kelemahan yang dimiliki, dan apa yang disebut keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.

Berbuat lebih baik, artinya para da’i mesti meyakini bahwa sukses hanya dari Allah,

Konsekwensinya, tetap berusaha di jalan Allah.
Mau mengakui kesalahan, dan bersedia memperbaiki kekeliruan.

Suprioritas tergantung kepada wahyu dan nawaitu ideologi, bukan kepada superioritas manusianya.

Dari pengalaman dakwah, rusaknya da’i dalam dakwahnya karena keharusan melaksanakan pesan sponsor di luar ketentuan wahyu agama.

Perjuangan berhadapan dengan kemunduran dakwah ini, selalu ada dalam bentuk kelemahan klasik, kekurangan dana, kurang tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.

Maka koreksian segera dilakukan melalui kaji ulang oleh pemeranan Bakor Dakwah, saling berkonsultasi, musyawarah, partisipasi aktif mengambil dan melaksanakan keputusan- keputusan.

Di samping itu, menghidupkan jamaah dan memelihara semangat tim nidzam berkelompok.

Karena kerjasama lebih baik dari sendiri (individu).

Kenyataannya, pemain terbaik tanpa semangat tim yang utuh selalu akan dikalahkan oleh pemain yang kurang bermutu tetapi memiliki semangat tim yang teratur.

Pemeranan perempuan, anak-anak dan kalangan dhu’afak sangat perlu pula diperhatikan.

Perang tidak akan dapat di menangkan manakala lebih dari 5o % kekuatan tidak di ikut sertakan.

Menghindari kepemimpinan otoriter berarti menjaga jiwa umat agar tidak mati.
Masyarakat yang mati jiwanya tidak ingin berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas.

Merupakan bahaya dalam pembinaan masyarakat adalah membiarkan umat mati di tangan pemimpin.

Tugas pemimpin menghidupkan umatnya.

Umat yang berada ditangan pemimpin otoriter akan sama halnya dengan mayat di tangan orang yang memandikannya.

Hidupkan lembaga dakwah, dan fungsikan institusi masyarakat.

Fungsi yang selamanya tergantung kepada orang seorang akan berakibat hilangnya kestabilan.

Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.

Tujuan institusi adalah menghidupkan dakwah, melaksanakan geraknya, bukan sekedar mengumpulkan materi dan dana.

Hidupkan ketahanan nasional dan regional melalui pelaksanaan kewajiban kewajiban.

Melaksanakan kewajiban sepenuhnya akan jalan dengan sosialisasi pertemuan pemikiran-pemikiran, informasi dan konsultasi, formulasi strategi dan koordinasi.

Pada era globalisasi memasuki millenium ketiga selalu mengarah kepada perubahan amat cepat dan drastis, dimana setiap hari dunia dirasakan semakin mengecil.

Membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis, sehingga pekerjaan rutin menjadi darurat.
Akhirnya tujuan menjadi kabur.

Salah menempatkan sumber daya yang ada baik SDM, SDA, SDU, mengakibatkan timbulnya kesalahan prioritas.

Dengan perencanaan matang gerakan dakwah akan berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), dan sasarannya akan dapat diterima oleh semua pihak.

Dakwah bukan kerja part-time, sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Dakwah harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis di tengah masyarakat.

Dakwah harus juga menjadi beban para sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan suatu social action yang terpadu.

Untuk ini diperlukan generalitas murni dengan meyakinkan secara rasionil terhadap keindahan Islam.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi yang membuka peluang bagi perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan dan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman menerima kembali peradaban Islam sebagai alternatif untuk meujudkan keselamatan dunia.

Dalam gerakan dakwah global, tujuan akan dicapai adalah Islamisasi masyarakat Islam.

Secara lebih umum, tujuan dakwah Islam adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.

Tugas yang tak boleh diabaikan dalam mencapai tujuan itu adalah merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan hanya ada pada hubungan yang terang, transparan, sederhana dan tidak saling curiga.

Masyarakat akan pecah dan rugi hanya karena hidup saling mencurigai.
Gila kekuasaan akan berakibat berebut kekuasaan dan ujungnya masyarakat jadi terkotak-kotak.

Nawaitu bekerja bukan untuk mencari sukses, harus diubah dengan wujud amal yang bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).

Sebab semakin kecil kesalahan semakin besar keberhasilan menyampaikan risalah dakwah.

Maka tidak dapat ditolak keharusan menggunakan semua adab-adab Islam (al Quran) dalam menghadapi semua persoalan hidup manusia akan menjamin sukses dalam segala hal.

KHULASAH

Memerankan kembali organisasi informal, refungsionisasi peran alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari” yang andal sebagai alat perjuangan.

Pemeranan ini dapat dilakukan dengan sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi di nagari pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non-formal secara jelas.

Dalam gerak “membangun nagari” maka setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat umat untuk membentuk jamaah (masyarakat) yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif.

Nagari semestinya berperan pula menjadi media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui efektifitas media pendidikan dalam pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

Di nagari mestilah dilahirkan media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Terakhir tentulah merupakan keharusan untuk dikembangkan dakwah yang sejuk, dakwah Rasulullah SAW dengan bil ihsan.

a. Prinsipnya jelas, tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil).

b. Integrated , menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat, keduanya tidak boleh dipisah-pisah.

c. Belajar kepada sejarah, dan amatlah perlunya gerak dakwah yang terjalin dengan net work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali (re-awakening) generasi Islam tentang peran Islam membentuk tatanan dunia yang baik..

Insya Allah.

Spiritnya adalah;

1. Kebersamaan.
sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi.

2. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

3. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.

4. Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.

5. Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

6. Kecintaan kenagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah .

7. Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.

Begitulah semestinya peranan alim ulama dan lembaga-lembaga dakwah di nagari-nagari yang ditata secara rapi dalam menapak alaf baru.

Insya Allah. ***

Bukakan Pintu Hati, Perangi Kebodohan dan Kemelaratan

Bukakan Pintu Hati
Oleh : H.Mas’oed Abidin

Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari umat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil.

Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya.
Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan.

Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda pembangunan (development) itu.

Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis ataupun technis.

Langkah pertama, adalah bukakan “pintu hati” dan “pintu rumah” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan.
Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan.
Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi
Suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.

Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisi harapan.
Upaya ini niscaya akan menambah himmah (gita dan minat) untuk bekerja terus.

Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan umat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi.

Sekali-kali jangan ditinggalkan umat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah.
Tanpa pegangan yang pasti, umat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali.

Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada di tengah umat yang dipimpinnya.

“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS YANG DIPIMPINNYA”(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar). Begitu peringatan Rasulullah SAW.

Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman.

Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran.
Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.

Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru.

Syukurlah, bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau.
Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya.

Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha.
Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.

Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

Semboyan amal itu seharusnya adalah; “Yang mudah sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” dikerjakan besok”, begitu di antara pesan-pesan dakwah Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).

Mari kita sahuti panggilan Allah SWT,
“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,