Kitab Kesimpulan Adat Minangkabau

Kitab Kesimpulan Adat

Di dalam luhak nan tigo lareh nan duo (luhak yang tiga adalah Agam, Tanah Datar dan Limapuluh Koto dan lareh yang dua atau dua kelarasan itu ialah Kelarasan  Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago).

Adapun adat yang terpakai oleh orang tua-tua turun temurun di dalam luhak nan tigo lareh nan duo itu, adalah empat perkara:

  1. Adat yang sebenar adat
  2. Adat yang diadatkan
  3. Adat yang teradat
  4. Adat istiadat
  1. Adat yang sebenar adat

Adapun yang dikatakan adat yang sebenar adat ialah : yang diterima dari nabi Muhammad SAW.

Yakni sepanjang yang tersebut di dalam kitab Allah (Al-Qur’an), atau dalam  arti lebih mendalam adalah  yang sepanjang ada tuntunannya di dalam Syara’, atau “syarak mangato (menetapkan) dan adai memakaikan”.

Di situlah diambil Sah dan Batal,   Halal dan Haram,   Sunat dan Fardhu,   Dakwa dan Jawab,   Saksi dan Bainah, dan dari situ pula diambil Fiil (perbuatan)  bunuh yang tiga:

1        ‘Amal (disangajo = disengaja melakukannya)

2        Serupo disengajo = sama seperti disengaja juga.

3        Khathak (tersalah) lepas dari hukum

Penisbatan bunuh itu ialah:

1)      Ikrar

2)      Saksi

3)      Harus

Dan disini pulalah di ambil hukum yang empat

1)      Hukum Ilmu

2)      Hukum Bainah

3)      Hukum Kurenah

4)      Hukum Ijitihad

  1. Adat yang diadatkan

Yang Diadatkan ialah yang diterima dari Datuk Ketumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Dari sini diterima ;

1. Cupak Nan Duo;

2. Kato nan ampek;

3. Undang-undang Nan Ampek;

4. Nagari nan Ampek

Cupak Nan Duo

Adapun yang disebut dengan Cupak Nan Duo:

  1. Cupak Nan Usali (asli)
  2. Cupak Buatan.
  1. 1. Adapun yang disebut dengan Cupak Nan Usali (Asli) ialah gantang (takaran ukuran-ukuran 2/3 liter) 

Nan Papek (yang pepat, tepat ukurannya),

Bungka Nan Piawai (ukuran, bungkal anak timbangan yang benar).

Taraju Nan Batuai (teraju yang lurus dan seimbang),

nan Batiru Batuladan (yang ditiru di teladani).

Bajanjang Naiak  Batanggo Turun (Berjenjang baik, bertangga turun, sesuai aturan),

Balukis Balimbago (berlukis berlembaga, jelas peruntukannya),

Nan Batakuak Nan Batabang (tentang tanda dilakukan, telah terpiluih dan teruji),

Nan Basuriah Nan Bapahek (yang digaris makan pahat),

Alah Surinyo nan dahulu (sudah jadi ketetapan sejak dahulu, ada yurisprudensinya).

Jauah Buliah ditunjuakkan  hampiah buliah dikakokkan (jauh boleh ditunjuk letaknya dan alamatnya, dekat dapat dipegang dan dilihat di rasakan).


 

  1. Adapun nan dikato cupak buatan, ialah Pancarian Sagalo Penghulu Nan Ahli akal dalam Nagari (hasil keputusan dan kesepakatan segala penghulu dan para ahli ilmuan di dalam negeri) atau pancarian Tiok-tiok luhak (ketetapan pada setiap luhak yang lain padang lain pula belalangnya dan lain lubuk lain pula ikannya, sesuai kaedah yang berlaku di setiap negeri sesuai kearifan lokal yang telah berlaku dan disepakati) atau Pancarian Tiok-tiok Lareh (yakni ketetapan setiap kelarasan yang dua dari Koto Piliang dan Bodi Caniago) ataupun Pancarian (ketetapan dan kesepakatan yang telah diterima berlaku demi kemaslahatan umat banyak) itu.

Mupakaiak Syarak (sesuai dengan ketetapan syariat Islam) atau manyalahi syarak (tidak sesuai dengan syariat agama Islam).

Penggunaan kata syarak di Minangkabau hanya kepada agama islam, tidak ada agama lain dalam adat Minangkabau selain agama islam.

Sarato disudahi oleh tiok-tiok urang dengan memotong kerbau. Kesepakatan itu diumumkan kepada orang banyak dengan memotong kerbau. Artinya di undangkan bersama, sehingga disepakati untuk dijalankan bersama serta dipatuhi bersama pula.

Kacau darahnyo. Ditanam tanduaknya, dimakan dagiangnyo. Sebuah perlambangan bahwa kesepakatan itu diterima dengan perasaan gembira, bukan paksaan seperti sebuah kenduri atau perhelatan, setelah penyembelihan kerbau, darahnya di kacau merata, tanduknya di tanamkan agar tidak melukai siapapun (adat tanduk adalah tajam), atau sebagai perlambangan bahwa kesepakatan itu menjadi kawi serta kemudia daging kerbau dimasak dan dimakan bersma. Artinya adalah sebuah undang dan ketetapan telah diundangkan, dan rakyat menerima dengan sepenuh hati, menghilangkan sengketa di dalam negeri.

Dilacak pinang ditapung Batu. Dibelah pinang, ditepung dengan lesung batu, pertanda bahwa kesepakatan telah diterima dengan senang hati.

Di ikek dengan Patiah (al- fatihah). Akhirnya, diikat dengan membacakan Al Fatihah, artinya dari unkapan ini luas sekali, bila di awal penetapan hukum di dalam adat Minangkabau adalah melihat dahulu Mupakat  Syarak (sesuai dengan ketetapan syariat Islam) atau menimbang apakah keputusan yang akan diambil itu  manyalahi syarak (tidak sesuai dengan ketetapan syariat Islam), dan setelah dapat kata putus atau kata sepakat maka dipateri dengan Al Fatihah. Disini hakekat penetapan adat itu di Minangkabau.

Kato Nan Ampek

Adapun nan dikatokan Kato Nan Ampek:

  1. Kato Pusako
  2. Kato Mupakaik
  3. Kato Dahulu Batapati
  4. Kato Kemudian Kato Bacari
  1. Adapun yang dimaksud dengan Kato Pusako ialah:

Meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Misalnya rumah nan Basandi batu. Adat basandi alua.

Itulah Nan Banamo Kato Pusako,

2.      Adapun yang dimaskud dengan Kato Mupakaik ialah:

Kato nan Bacari Sekarang, ataupun hasil pencarian orang yang ahli akal dalam majelis  medan bicara,  maka dizahirkan (dinyatakan) kepada orang banyak saat itu, dan disimpulkan pada ketika itu juga menjadi keputusan.

3.      Adapun yang dimaksud dengan Kato Dahulu Kato Ditapati ialah:  yang sudah ditetapkan oleh dan/atau dalam Syarak yang maha mulia atau pancarian dalam adat yang piawai tetapi mungkin belum sempuran diterapkan atau dipakaikan di waktu itu juga. Adapun untuk menyempurnakan pelaksanaannya maka diperbuat janji, sampai janji itu ditepati, sampai dimana pun janji itu mesti ditepati.

  1. Adapun yang dimaksud dengan Kato Kemudian Kato Bacari ialah: Kato hampir-hampir sudah dapat disepakati, tetapi datang pula sesuatu hajat yang menyebabkan di diperbuatkan pula janji.  Sampai janji itu diperbuat, dan janji itu pula yang akan ditepati  (artinya ada revisi dari perkataan atau keputusan semula, dan tidak berlawanan dengan syariat agama). Karena itu di dalam “kato” adat, ada janji yang dapat diungkai atau dibatalkan dengan mufakat pula.



Undang-undang Nan Empat

Adapun Undang-undang Nan Empat:

  1. Undang-undang Luhak
  2. Undang-undang Nagari
  3. Undang-undang Urang Dalam Nagari
  4. Undang-undang Urang Dalam (Undang-undang 20)
  1. Adapun yang dikatokan dengan Undang-undang Luhak, ialah:

a. Luhak nagari Nan Bapanghulu,

b. Kampuang nan Batuo,

c. Tagak Nan Tak Tasunduak,

d. Malenggang Nan Indak Tapampeh ialah dua perkara:

1).  Maso Nagari Badamai

2).    Maso Nagari Baparang

Adapun Maso Nagari Badamai ialah :

1) Ilmu,

2) Suluah Bendang di Nagari,

3) Rajo,

4) Penghulu,

5) Kamanakan,

6) Anaknyo,

7) Perempuan urang,

8) Imam Khatib,

9) Jamu Bajapuik,

10) Cerdik pandai alim cendekia,

11) Juaro Bajapuik,

12) Pasumando,

13 Jawi-Kabau,

14) Anak Pado Suatu Nagari,

15) Si Bapak,

16) Si Mandeh,

17) Orang dipanggil,

18) Pandai Obat,

19) Tukang Gandang,

20) Guru dan Murid

Adapun pado Nagari Baparang, ialah sapuluh perkara:

1) Ilmu,

2) Barani,

3) Rajo,

4) Penghulu,

5) Imam nagari,

6) Urang dipanggia,

7) Anak dengan Bapak,

8) Guru dengan Murid,

9) Pandai Ubek,

10) Dubalang,

  1. Adapun Nan Kaduo ialah Undang-Undang Nagari Nan Dikato Undang-undang Rumah Tanggo:

1). Balai,

2). Musajik,

3). Korong Kampuang,

4). Labuah,

5). Tapian,

6). Parik Rantang Nandi Bakal

  1. Adapun Nan Dikato Undang-undang dalam Nagari:

1) Salah Cancang mambari bangun,

2) Salah Bunuh mambari pampeh,

3) Salah Ambiak Mengembalikan,

4) Salah Makan Mamuntahkan,

5) Utang Babaia,

6) Piutang Batarimo

7) Ciwarang Baragiah,

8) Barabuak bakatangahkan,

9) Basalahan bapatuik,

10) Gaib bakalamullah Jail Bamindahkan,

11) Salah bakaadaan, Takuruang mati,

12) Tatando bayang-bayangan kalamullah.

Undang-undang Nan Salapan

Undang-undang Nan Salapan itu adalah:

  1. Dago Dadi
  2. Sumbang Salah
  3. Samun Saka
  4. Maliang Curi
  5. Tikam Bunuah
  6. Tipu Tepok
  7. Upeh Racun
  8. Sia Baka

1. a.  Adapun yang dikatokan dago ialah:

Melawan pada barang yang tidak patut dilawan.

b. Adapun yang dimaksud dengan dagi ialah:

Orang yang telah melakukan perlawanan kepado yang tidak patut dilawan.

Jadi Dago-dagi ialah orang yang sudah melanggar dua kesalahan yaitu perlawanan kepada yang tiada patut dilawan.

2.      Adapun yang dimaksud dengan kato sumbang, ialah ;

barang sesuatu pekerjaan yang tiada patut dilakukan, atau dikerjakan dan yang dimaksud dengan pekerjaan salah yaitu orang yang melampaui larangan.

Jadi sumbang salah ialah orang yang telah melakukan dua kesalahan. Satu dia telah mengerjakan yang tidak berpatutan, dam kedua dia telah melampaui larangan.


Sumbang yang Boleh Dihukum:

Yaitu menyalahi akan segala laku perangai dan piil  (perbuatan) yang menyakiti hati orang lain, yakni perbuatan yang memberi malu orang.


Adapun sumbang yang tidak dihukum:

Yaitu segala sumbang yang tidak merusak atau merugikan orang lain. Yang dapat kita lakukan hanya sesat surut;  berobah dibaiki.

Misalnya salah meletakkan kancing baju; yang besar dipasangkan ke yang kecil atau yang diatas terpasang di bawah dsb.

3.      Adapun yang dimaksud dengan  samun, yaitu orang yang sengaja menghambat orang lain pada suatu tempat dengan menggagahi orang itu dengan sebab yang tidak patut, mungkin hanya untuk memperlihatkan gagahnya saja atau beraninya saja.

Yang dimaksud dengan Saka, ialah orang yang menghambat orang disuatu tempat serta menganiayanya yang hujudnya, mengambil kekayaannya.

Rebut rampas; hela hunjam masuk juga kepada bilangan samun saka.

4.      Adapun yang dimaksud dengan kato maliang; ialah orang yang mengambil harta benda orang lain yang terletak dalam tempat simpanan atau di lingkungan kediaman orang itu, diambilnya barang itu dengan sembunyi, diluar sepengetahuan orang yang punya, siang atau malam hari.


Curi: ialah orang yang mengambil harta benda orang lain dengan sembunyi, di luar sepengetahuan yang empunyanya. Yang mana barang itu terletak di luar tempat simpanan yang empunyanya dan maling itu, tiadalah takluk kepada orang lain yang memaling barang-barang  atau harta benda orang saja.

5.      Adapun yang dimaksud dengan Tikam: yaitu orang yang mengamukkan senjata kepada orang lain atau binatang yang masih hidup sampai luka denga tikaman itu ataupun tidak .

Adapun yang dimaksud dengan kata bunuh: ialah membikin orang mati atau mematikan orang ataupun binatang yang bernyawa dengan sengaja meskipun dengan apa jua pun dilakukannya.

Mematikan orang atau binatang itu: dengan senjata tajam atau tidak dengan barang yang keras atau pun dengan kaki tangan, dengan tali, air, api atau yang lainnya yang menyebabkan orang mati (binatang mati).

6.      Adapun yang dimaksudkan dengan perkataan kicuh: ialah orang yang melakukan akal jahat dengan jalan mengumbuk mengumbai, menipu, menepok orang supaya mendapat suatu barang, kepunyaan orang itu, baik pun pekerjaan itu dilakukannya untuk orang lain yang dimaksudkannya, maka itu masuk kepada bilangan kicuh atau mendusta. Demikian juga orang yang hendak berlepas diri dengan akal jahat dal suatu hal.

Adapun yang dimaksud dengan perkataan Kincang: ialah orang yang melakukan akal jahat dengan tipu daya muslihat yang tiada baik yaitu dengan akal jahat yang dimaksudnya hendak menganiaya orang yang dikincang itu atau barang orang itu sama ada barang yang diperkincang hanya itu, untuknya atau untuk orang lain, yaitu dengan jalan memperbelok-belokkan, melindung-lindungkan barang orang itu, supaya barang itu hilang atau jauh dari yang empunya atau tersembunyi yang dimaksudnya barang orang itu jatuh kepadanya atau kepada orang lain yang dimaksudknya, maka dalam hal kincang kicuah ini adalah perbuatan kesalahan yang sanat besar.

7.      Adapun yang dimaksud dengan perkataan upeh: ialah suatu barang yang berbisa, yang menyakitkan orang lain (orang yang memakannya) yang sakitnya berlama-lama.

Adapun yang dimaksud dengan perkataan racun: ialah suatu makanan yang berbisa, kalau ter makan. Siapapun dapat memberikan sakit dengan seketika yang memakan itu dan boleh mematikan orang yang termakan racun itu dengan selekas-lekasnya.

Jadi upeh racun: ialah dua macam makanan yang berbisa yang kalau termakan boleh membunuh dengan seketika pada orang yang memakannya.

8.      Adapun yang dimaksud dengan kata sia (siar): ialah menyamu dengan api yang sedang menyala, disamukan pada barang (benda yang disia itu). Dan bakar: ialah menyamu atau memanggang suatu barang sampai hangus, sama ada dilakukan pembakaran itu dengan api yang sedang menyala ataupun belum menyala yang timbul menyala itu kemudian pada barang yang dibakarnya itu. Meskipun tidak bernyala, tetapi sudah jadi.



Undang-undang Dua Puluh

Adapun yang ka empat adalah undang-undang dua puluh.

Undang-undang yang dua puluh itu dikeluarkan delapan (terdiri dari 12 dan 8)

Yang delapan (8) menentukan nama kejahatan.

Yang dua belas (12)  menentukan yang punya fiil memperbuat kejahatan.

Yang dua belas (12) itu terbagi pula dua ;

Yaitu enam (6) disebut undang yang dahulu ialah pencari jalan induk.

Enam (6) berikutnya bernama undang kemudian ialah pancari jalan cemo

 


Undang-undang Nan Salapan

1.      Tikam bunuh

  1. Samun saka
  2. Upeh racun
  3. Sumbang salah
  4. Lincang kicuah
  5. Maling curi
  6. Rebut rampas
  7. Dago-dagi
  1. Adapun yang dikatakan tikam, ialah: Piil yang menyakiti, dan yang dikato bunuh ialah piil yang menghilangkan nyao

2.      Adapun yang dikatakan samun, ialah: Piil yang menyakiti hendak mengambil barang orang (harta yang dikato saka ialah: Piil yang menghilangkan nyao untuk mengambil harta orang.

3.      Adapun yang dikatakan upeh, ialah: Memberi makanan yang menyakiti badan yang dikato racun ialah: Memberi makanan yang menghilangkan nyao orang.

4.      Adapun yang dikatakan Sumbang, ialah: Piil atau kelakukan yang tidak senonok (seumpamanya). Adapun yang dikato salah, ialah: laki-laki menyeratai perempuan orang lain yang bukan istrinya.

5.      Adapun yang dikatakan lancang, ialah: Memuliakan barang yang hino. Adapun yang dikatakan kicuah, ialah: Mengubahi dari nan sabanyo.

6.      Adapun yang dikatakan maling, ialah: Mengambil harato orang  orang di dalam simpanannya, tidak diketahui orang yang punya. Adapun yang dikatakan curi, ialah: mengambil harta orang lain di luar simpanannya dengan tidak setahu yang punyanya.

7.      Adapun yang dikatakan rabuik, ialah: Mengambil harato orang dengan kekerasan. Adapun yang dikatakan rampeh, ialah: Mengambil harato orang beserta melarikan.

8.      Adapun yang dikatakan dago, ialah: Membantahi adat nan biaso dan yang dikatakan dagi, ialah: mambuek hiru biru dalam nagari (membakar, menyerang, menyuhung paramajo).

Dan yang dikatakan sumbang, ialah: menyarato istri orang lain: cabur-cabir, mahuk-mahang, mahung-marempeh, marampok karumah tangga urang. Segala piil itu ialah kelakukan yang tidak saumpamonyo yang tidak balaku dengan adat atau barang sabagainyo yang menjadi larangan dalam nagari.



Undang-undang Nan Enam (6) nan Dahulu

Undang-undang nan enam (6) yang dahulu ialah yang menunjukkan jalan, terbaiti dan tertuduh.

  1. Talalah takaja
  2. Tatando tabaiti
  3. Tacancang tarageh
  4. Taikek takungkuang
  5. Tatambang ciak
  6. Tatangkok dengan salahnya

Waktu dianya melakukan kejahatan itu tertangkap dirinya beserta barang yang dicurinya itulah yang dikato:


Ayam putiah tabang siang

Tidak buliah batidak lai

Apabila undang nan salapan itu tersangkut oleh undang-undang nan enam dahulu.

Dakwanya tuduh: hukumnya jatuh kepada izab (iqab, hukuman badan).


Undang-undang nan enam (6) yang Kemudian

1.      Basuriah-suriah bak sipasin

  1. Bajajak bak bakiak
  2. Tabayang tatabua
  3. Bajajak barunuik
  4. Kocondongan mato rang banyak
  5. Katiko anggang inggok atal (aka) jatuah.

1.      Adapun yang dikato: Basuriah bak sipasin.

Bertemu seorang oleh orang lain nan bak raso ado seorang menyandang (mengepit, menjinjing, malam atau siang waktu orang kemalingan.

2.      Adapun yang dikato: Bajajak bak bakiak

Bertemu urang lain pada tampaik larinyo sipencuri itu.

3.      Adapun yang dikato: Tabayang tatabua

Tarang kaba (jelas kabar) itu tandonyo.

4.      Adapun yang dikato: Bajajak Barumuik

Hilang jajak putuih rumuik pada suatu rumah atau suatu kampung/tempat.

5.      Adapun yang dikato: Kacondongan Mato rang Banyak

Berlain rupa dan ronanya dari pada yang lain dan dari pada yang biasanya.

Umpamanyo: sebelum urang kemalingan dianya hidup miskin. Tahu-tahu diketahui oleh masyarakat banyak, dia mendadak kaya.

6.      Adapun yang dikato: Katiko anggang hinggok atal (aka) jatuah

Yaitu saat-saat dia berada di tempat itu orang kehilangan atau saat-saat dia berada di situ orang kebakaran, dll

Apabila undang-undang nan salapan itu tasangkuik oleh undang-undang nan anam kemudian. Jadilah dakwanyo cemo (lebih ringan dari pada tuduhan). Hukumnya jatuh kapado basumpah. Adapun undang-undang nan duo baleh itu.

Kemudian dijalankan kenyataan dari padanya nan teraniayo yaitu: kenyataan tatikam bunuh.

Badarah taserak bangkai, tajelo samun saka, padang badarah, upeh racun, sia baka, sumbang salah dalam ( berdarah terserak, bangkai terlihat, terjela samun saka, padang berdarah, upeh dan racun ditemukan, sia bakar telah terjadi, sumbang salah kelihatan nyata)… maka lancung kicuah (mengubah dari yang semulanya), rabuik rampeh, lapia tapakiak, maliang curi jikalau mengatakan kamalingan, dinding tidak umpang-umpang, tidak takanak, lantai tidak baliang, sugi tidak tatagak dengan mangatokan kahilangan mata terbayarlah orang itu dalam rumah nan seperahu.

Artinya tidak boleh menuduh tanpa bukti yang jelas, ini sesuai dengan syariat Islam.

Nan satungkuih bao nasi jikalau ada urang kalua dengan tersembunyi atau lari harus  atau sepantasnya tuduh kapado urang itu.

Maka ditanyokan pulo nagari nan ampek:


Nagari Nan Ampek / Koto Nan Ampek


A. Pertama          :

Koto (tempat yang mula-mula dihuni atau ditunggui)


B. Kaduo :

Taratak (sudah dibuat parit atau batas)


C. Katigo :

Dusun (sudah ada dubalang dan mesjid)


D. Kaampek       :

Nagari (sudah ada mesjid dan balai adat)

  1. Adat yang teradat

Yang dikatakan  adat Ter Adat ialah yang terpakai dai dalam dan Seluak ataupun di dalam Salareh atau di dalam nan Sanagari ialah yang dinamakan.

Cupak nan Sapanjang Batuang.

Di situlah terpakai Pepatah orang tuo-tuo.

Dimana batang Taguliang di situlah Langik dijunjuang.

Dimano Nagari di Tunggui Disitulah Adat dipakai.

  1. Adat istiadat

Yang dikatakan Istiadat ialah adat jahiliah yang terlarang di dalam nan sabana adat, seperti : manyabuang, berjudi, Badaua dan Bagalanggang. Basorak-sorak. Basorai-sorai, Basaluang dan Barabab dan lain-lainnya.

One thought on “Kitab Kesimpulan Adat Minangkabau

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s