PENINGKATAN PENGAMALAN AGAMA DAN ADAT DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DI KABUPATEN AGAM……. Pengamalan Agama Islam dan Adat Minangkabau oleh Generasi Agam ke depan

PENINGKATAN PENGAMALAN AGAMA DAN ADAT

DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

DI KABUPATEN AGAM

Oleh,

H. Mas’oed Abidin [1]

Mukaddimah

Agama Islam mendorong kehidupan masyarakat untuk menjadi “orang berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan tidak boleh menjadi kelompok keempat (rabi’an), yang tidak ada aplikasi ilmu dalam kehidupan bermasyarakat, serta lalai di dalam menyerap informasi, atau enggan mendengar.

Buya H Mas'oed Abidin
Buya H Mas'oed Abidin

Pendidikan dan menuntut ilmu adalah satu kewajiban asasi anak manusia. Dengan ilmu, seseorang akan menjadi ikhlas, cerdas, pintar, berakhlak, beradat dan beramal shaleh, yang menciptakan hasanah pada diri, kerluarga, serta di tengah nagari dan masyarakatnya.

Salah satu bentuk peningkatan pengamalan agama di Kabupaten Agam, memacu bidang pendidikan, atau upaya intensif membentuk sumber daya manusia pintar, cekatan, berilmu, mampu, kreatif dan produktif, yang kait berkait dengan peningkatan kemampuan masyarakat dari sisi ekonomi, pemanfaatan lahan dan sumber daya tersedia, serta mendorong partisipasi anak nagari, menjelmakan kebaikan untuk diri, kerluarga, kemaslahatan anak nagari, dan kemajuan generasi bangsa pada umumnya.

Tujuan ini mungkin diraih dengan program pendidikan melalui proses pembelajaran terpadu, terintegrasi antara konsep dan aplikasi, disertai peningkatan kesadaran seluruh masyarakat.

Pekerjaan ini perlu semangat (spirit) dan kearifan (political will) dalam pengalokasian sumber-sumber pendukung guna menguatkan jaringan pengertian (networking) dalam tatanan bermasyarakat di Kabupaten Agam, baik antara individu kelompok keluarga, ataupun antara ranah dan rantau.

Pengalaman dengan berbagai catatan, tentang potensi yang ada, serta tantangan menerjemahkan situasi kondisi di tengah kompetisi global tanpa sekat (borderless), sangat berguna untuk menetapkan kebijakan tepat Pemda Kabupaten Agam.

Bimbingan agama (syarak) menyatakan, “menuntut ilmu wajib, bagi setiap lelaki dan perempuan muslim” (Al-Hadist). Pesan Rasul SAW mengingatkan, “ingin berhasil di dunia, dengan ilmu, meraih akhirat dengan ilmu, dan ingin kedua-duanya dengan ilmu” (Al-Hadist).

Menghadapi Fenomena Global

Di tengah kehidupan kini, terasa satu fenomena kecintaan budaya luar (asing) berat menghimpit. Pengaruhnya ke perubahan perilaku masyarakat, berupa pengagungan materi (materialistic) secara berlebihan, amat kentara. Kecenderungan memisah kehidupan dari supremasi agama (sekularistik) makin kuat. Pemujaan kesenangan indera dan kenikmatan badani (hedonistik), susah dihindari. Hakikinya, perilaku umat mulai menjauh dari nilai-nilai budaya luhur.

Dalam masyarakat nagari di Kabupaten Agam, kaedah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, dapat saja terabaikan. Keadaan ini menjadi lebih parah, ketika masyarakat malas menambah ilmu, dan enggan berprestasi. Sehingga ikut mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas. Pergeseran budaya yang mengabaikan nilai-nilai agama telah menimbulkan penyakit sosial kronis, gemar berkorupsi, lemah aqidah tauhid, perilaku tidak Islami, dan lalai ibadah.

Paradigma giat merantau dan badagang sambil menuntut ilmu[2], bergeser ke menumpuk materi, mengabaikan ilmu dan keterampilan. Lahirlah ketidakberdayaan generasi. Ketertinggalan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, lemah minat menyerap informasi dan komunikasi, menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang. Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa.[3]

Tantangan berat mesti diatasi kejelian menangkap peluang. Peningkatan kualitas diri, dan mendorong proses pembelajaran terpadu (integrated). Meraih pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Pengamalan contoh baik (uswah) dari akhlak agama (syari’at, etika religi), serta nilai luhur adat istiadat Minangkabau.

Menghadapi Arus Kesejagatan

Derasnya arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian tindakan dan pemahaman Bahwa arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budayanya. Arus kesejagatan (globalisasi) mesti dirancang untuk dapat ditolak mana yang tidak sesuai, dan dipakai mana yang baik.[4] Tidak boleh ada kelalaian dan berpangku tangan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern. Persaingan tajam kompetitif, tidak dapat dielakkan dari laju informasi dan komunikasi efektif tanpa batas.

Sudahkah siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan?.

1. Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, lulusan perguruan tinggi, yang berani menerapkan ilmu.

2. Dengan kekuatan budaya, teguh (istiqamah) beragama, maka terjangan globalisasi itu, amat sulit dihadapi.

3. Dengan kemampuan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, karena globalisasi mengait ke semua aspek kehidupan, dan salah satu menguasai iptek, ICT dan akhlak yang teguh.

Integrasi akhlak yang kuat dari pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin) dan pengamalan nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas) dalam masalah sosial (umatisasi) kemasyarakatan, mengedepankan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis menatap perkembangan zaman, menggeluti kehidupan duniawi bertaraf perbedaan, kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin di seluruh nagari.

Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhaniyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya tauhid, yaitu pengamalan ajaran syarak (agama Islam). Implementasinya akhlak, yaitu menata kehidupan berperilaku adat istiadat dalam lingkaran nagari.[5]

Kabupaten Agam, bahkan Sumbar secara menyeluruh, akan menjadi baik, jika mampu mengembalikan nilai-nilai etika adat religi (ABS-SBK) dalam bermasyarakat, dengan “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist). Inilah cara yang tepat, sesuai bimbingan Allah SWT, bahwa apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Perlu penguatan dalam penyebaran informasi dan komunikasi.

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan di tengah masyarakat nagari. Hapusnya panutan, lemahnya peran tokoh pemangku adat mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa keilmuan mengamalkan syariat agama Islam, telah memperlemah daya saing anak nagari.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, juga berdampak kepada tindak kejahatan secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang, ikut melumpuhkan kekuatan budaya luhur di nagari. Dalam struktur kekerabatan, dirasa pagar adat budaya mulai melemah. Fungsi lembaga pendidikan mulai bergeser ke bisnis. Generasi mulai malas menambah ilmu.

Hilang keseimbangan, enggan berusaha telah melebarkan frustrasi sosial dalam menghadapi berbagai kemelut. Krisis nilai yang menggeser akhlak, telah menjadikan tanggung jawab moral sosial mengarah ke tidak acuh (permisiveness). Perilaku maksiat, aniaya dan durjana, payah membendung. Pergaulan masyarakat mengalami gesekan-gesekan.

Dalam menerapkan nilai-nilai, terjadi pergeseran tajam, yang membahayakan. Krisis kridebilitas dan erosi kepercayaan sulit dihindari. Peran orang tua, di mimbar kehidupan mengalami kegoncangan. Membiarkan terbawa arus perubahan tanpa memperhitungkan jati diri, mengundang malapetaka.[6] Bahaya mengancam ketika lemahnya jati diri. Keadaan ini terjadi karena kurang komitmen kepada nilai luhur, nilai agama (syarak), yang sejak lama sesungguhnya telah menjadi anutan bangsa.[7]

Lemahnya jati diri, dan ketidakmampuan menguasai “bahasa dunia” dalam politik, ekonomi, paham agama, tatanan social dan budaya, akan menjadikan generasi Agam dijajah budaya asing di negerinya sendiri. Tertutup peluang peran-serta dalam kesejagatan.[8] Hilangnya percaya diri, lebih banyak disebabkan ;

a. Lemah penguasaan teknologi dasar penopang perekonomian bangsa,

b. Lemah minat menuntut ilmu.

Kesenjangan sosial dan kemiskinan mempersempit peluang dan kesempatan secara merata. Idealisme generasi muda tentang masa depan akan kabur, karena terseok-seoknya perjalanan budaya (adat) yang mengabaikan nilai agama (syarak).

Mengoptimalkan Peran Rumah Tangga

Jati diri bangsa dibentuk oleh kuatnya peranan ibu bapa di rumah tangga, yang menjadi inti kekuatan bermasyarakat.[9]

Semangat dan dorongan cita-cita besar, kekayaan kearifan, mulai dari persemaian rumah tangga di keluarga batih ataupun rumah gadang dan lingkungan. Kedalaman pengertian dan pengamalan perilaku beradat dan beragama, mendorong minat lebih untuk meraih pendidikan tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan ;

a. penguatan lembaga keluarga (extended family),

b. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif, “singkek ba uleh, kurang ba tukuak

c. peneguhan komitmen menjaga perilaku hidup beradat berbudaya.

Setiap generasi yang lahir di satu rumpun bangsa (daerah) wajib dijadikan ;

1. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa.

2. Kekuatan mewujudkan kesejahteraan yang adil merata dalam program-program pembangunan.

3. Sadar akan manfaat menjadi penggerak pembangunan dengan jelas berkesinambungan, menggerakkan partisipasi yang tumbuh dari bawah dan di payung dari atas. Setiap individu di dorong untuk maju, rasa aman yang menjamin kesejahteraan.[10]

4. Generasi penerus yang sadar dan taat hukum.

Upaya ini dapat dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, melalui pemeranan orang tua, ibu bapak, ninik mamak, unsur masyarakat dalam kekerabatan adat Minangkabau, yang lebih efektif.

Membentuk Generasi Penyumbang (inovator)

Membentuk generasi penyumbang (innovator) dalam bidang pemikiran (aqliyah) harus menjadi sasaran utama.[11]

Keberhasilan didapat dengan keunggulan institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan, dengan kemampuan identifikasi masalah yang dihadapi, mengarah kepada kaderisasi, dengan penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[12]

Generasi baru mesti dibentuk melalui perguruan tinggi (ma’had al ‘aliy), dengan kemampuan mampu mencipta, sebagai syarat utama keunggulan.

Kekuatan budaya dalam masyarakat akan menyatukan semua potensi yang ada. Generasi muda berilmu harus menjadi aktor utama di pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di masa ini. Mesti memiliki budaya luhur (tamaddun), bertauhid, kreatif dan dinamik.

Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Masyarakat maju yang tamaddun, adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi).

Pengkaderan melalui strategi pendidikan mesti berasas akidah agama (Islam) yang jelas tujuannya. Membuat generasi dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik, sifatnya bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.

Generasi bangsa dapat berkembang dengan pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Akhlak karimah adalah tujuan sebenar dari proses pendidikan. Akhlak adalah wadah diri menerima ilmu-ilmu yang benar, membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh. Sesungguhnya akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, akan lahirlah saintis tak bermoral agama, dengan ilmunya banyak, tetapi imannya tipis, dengan kepedulian di tengah bermasyarakat sangat sedikit. Ilmu tanpa agama lebih menjauhkan kesadaran tanggung jawab akan hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, sebagai nilai puncak budaya Islami yang sahih.

Sikap penyayang dan adil, mengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim, menjadi lebih indah dan sempurna. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur. [13]

Membentuk Sumber Daya Manusia berkualitas

Kita wajib membentuk sumber daya umat yang memiliki nilai asas “gotong royong“, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan, antara lain, pemurnian wawasan fikir (mandiri), penajaman visi madani, melalui gerakan peningkatan pengetahuan masyarakat di nagari.

Bila pendidikan telah menjadi modus operandus membentuk SDM, maka kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu disejalankan dengan metodologis madani (tamaddun) yang berprestasi di Kabupaten Agam.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Maka, perlu domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh.

Menguatkan Lembaga Pendidikan

Tujuan pendidikan secara sederhana adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Pada saat ini lembaga pendidikan kita belum dapat menghasilkan apa yang diharapkan karena proses pendidikan belum berjalan dengan benar. Di antaranya ;

· Pendidikan terlalu akademis, kurang menghubungkannya dengan kenyataan dalam kehidupan.

· Pendidikan masih saja menekankan pada jumlah informasi yang dapat dihafal, bukan bagaimana menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

· Pendidikan kurang menekankan pada berfikir kritis dan kreatif.

· Pendidikan kurang memberi tekanan pada pembentukan nilai dan sikap yang mencerminkan agama dan budaya serta etos kerja yang baik.

· Orientasi pendidikan pada lulus ujian dan ijazah, bukan pada kemampuan nyata yang dimiliki.

Perlu ada kepastian pemerintah daerah, dengan satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama Islam (syarak) melalui jalur pendidikan formal dan non-formal. Political will ini sangat menentukan dalam membentuk generasi masa datang yang kuat.

Beberapa langkah nyata dapat ditempuh ;

· Memperbaiki proses belajar mengajar sehingga tekanan tidak lagi hanya pada penguasaan jumlah informasi, tetapi bagaimana mencari dan mengolah informasi secara kritis dan kreatif, pembentukan kepribadian dan sikap yang baik.

· Sekolah perlu memiliki perpustakaan yang menyediakan sumber belajar yang lengkap untuk memperluas wawasan siswa dan tidak mencukupkan hanya pada buku teks.

· Keberhasilan sekolah di ukur dari kemampuan siswanya memenuhi standar

· Dorong sekolah untuk bersaing secara sehat dengan mengutamakan mutu.

· Perlu pembudayaan nilai-nilai budaya Minangkabau yang berakar ke Islam dalam keseharian di sekolah oleh seluruh warga tanpa kecuali.

Pemerintah daerah perlu mengontrol pertumbuhan sekolah swasta melalui penetapan standar yang ketat.

Sosialisasi pengetatan standar mutu sekolah-sekolah secara terus menerus, mesti dilakukan secara konsisten.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Membangun Sahsiah Generasi

Generasi bangsa mesti hidup mempunyai sahsiah[14] (شخصية) yang baik. Sahsiah atau keperibadian terpuji melukiskan sifat yang mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak, akan mampu menghadirkan kesan positif dalam masyarakat bangsa dan Negara.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan perilaku yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[15] Ciri kepribadian yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup keimanan kepada Allah yang Maha Sempurna, serta keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan mempercayai seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku jujur, menepati janji dan amanah, tabah dan cekatan, ramah dan toleransi, serta pemurah dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

a. Sikap Mental, yang Cerdas Diri dan Sosial, sehat fikir, berwatak cinta masyarakat Nagari.

b. Sifat Kejiwaan, dengan emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah, percaya diri, berkemauan kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

c. Sifat Fisik, sehat tubuh, bersih, rapi, berwatak menyejukkan.

Semua sikap utama itu dapat dibentuk melalui pendidikan, dan mengamalkan agama dengan benar, dan tidak menyimpang dari ruh syari’at.

Maknanya, dengan pendidikan tinggi, generasi bangsa mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya membuat generasi yang bertanggung jawab.

Menetapkan Langkah ke Depan

Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan.

Langkah drastik berikutnya menetapkan aplikasi madani dan mandiri dengan mewujudkan delapan tanggung jawab hidup;

1) Tanggungjawab terhadap Allah, dengan iman kukuh, dan ibadah istiqamah.

2) Tanggungjawab terhadap Diri, dari aspek fisik, emosional, mental, moral, untuk mampu mengabdi kepada masyarakat dan negara.

3) Tanggungjawab terhadap Ilmu, menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam ilmu pengetahuan untuk tujuan kesejahteraan manusia.

4) Tanggungjawab terhadap Profesi, selalu menjaga kepercayaan dan memelihara maruah diri dengan amanah.

5) Tanggungjawab terhadap Nagari, menjaga keselamatan Nagari dengan ikhlas.

6) Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan mencemarkan.

7) Tanggungjawab terhadap Bangsa dan Negara, menjaga kerukunan bersama.

8) Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, mewujudkan hubungan kerjasama antara institusi pemerintah sampai kejaringan rumah-tangga.

Generasi Agam ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat maju, berteras keadilan sosial yang terang.

Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Kesimpulannya ;

Ajaran tauhid mengajarkan, agar kita senantiasa menguatkan hati dengan iman dan taqwa (madani dan mandiri), serta berperilaku dengan akhlak mulia (guna meraih prestasi), dengan keyakinan bahwa Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, generasi terpelajar mesti bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan

b. Menggerakkan integrasi aktif,

c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[16]

Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi ini sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ

مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ

بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bisa menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077]. [17]

Ketika bangsa ini sedang meniti cobaan demi cobaan, di tengah arus kesejagatan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu semua, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita, sesudahnya ……. , (inna ma’al ‘ushry yusraa).

Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa.

Maka sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian ini, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.[18]

Mari kita tingkatkan kekuatan iman dan taqwa.

Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.

Jaga ibadah dengan teratur, dan menguatkan diri sambil berdoa ;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya.

A m i n.



[1] Makalah Wk. Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar/Ketua FKDM Prov.Sumbar, disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kabupaten Agam tahun 2008, pada hari Kamis, tanggal 27 Maret 2008, bertempat di Aula DPRD Kabupaten Agam, di Lubuk Basung.

Catatan Akhir

[2] Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantaulah buyuang dahulu, dek di rumah paguno balun.” Dan pelajaran yang berisi, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”, telah mulai hilang, sehingga generasi sekarang tumbuh menjadi generasi instant yang malas. Satu kekayaan merantau, di bawah tahun 1970-an, umumnya generasi Minang merantau untuk menuntut ilmu dengan kerja sambilan berdagang, agar terbentuk peribadi mandiri yang tidak memberati orang lain. Sekarang, kondisi seperti itu, menurun tajam.

[3] Pepatah Arab meyebutkan لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم artinya, Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[4] Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[5] Sebagai satu contoh kini, Kabupaten Rejang Lebong, Prov. Bengkulu, telah berhasil membuat Perda tentang adat bersendi syarak untuk daerahnya, dan sudah mulai di terapkan pada tahun 2008 ini.

[6] Lihat QS.30:41

[7] Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[8] Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[9] Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.

[10] Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[11] QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[12] Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).

[13] Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[14] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus. Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[15] Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[16] wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

[17] Berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

[18] Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

About these ads

2 pemikiran pada “PENINGKATAN PENGAMALAN AGAMA DAN ADAT DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DI KABUPATEN AGAM……. Pengamalan Agama Islam dan Adat Minangkabau oleh Generasi Agam ke depan

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s