Menghadapi Penyakit Masyarakat

Memerangi Penyakit Masyarakat

(PEKAT)

 

Oleh H. Mas’oed Abidin

 

Balimau  Mulai  Tercemari

Balimau di beberapa nagari menjadi acara khusus.

Setiap menyambut bulan suci Ramadhan suasana dikampung, dusun dan nagari di Minangkabau sering di-laksanakan acara balimau. Bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Ramadhan adalah bulan sangat dinanti dan dirindui kehadirannya. Masyarakat biasa menyambut dengan acara khas balimau tersebut yang hampir sudah menjadi teradatkan.

Pada masa dahulu acara balimau berisi nilai pergaulan masyarakat dan merupakan gambaran tatanilai didalam rangkaian adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Eratnya kaitan ibadah agama sesuai perintah Sunnah dan garisan wahyu Allah sudah melekat lama didalam tata pergaulan masyarakat ranah Minangkabau, contohnya acara balimau. Walaupun tidak ada nash pendukung yang dapat jadi rujukan menentukan keterkaitannya dengan ibadah wajib atau sunat menyambut Ramadhan, tetapi acara balimau telah diterima dan terjadi disetiap datang bulan Ramadhan. Kebanyakan masyarakat melaksanakannya  sebagai suatu kegiatan yang berkaitan erat dengan ibadah Ramadhan (shaum).

Keadaan ini bisa bernilai positif apabila tidak dicampur dengan perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.

Pada masa dulu acara balimau diwarnai dengan kebiasaan  “jelang menjelang” antara anak menantu kepada ayah bunda, mertua dan sesama karib kerabat. Suasana ini dirasakan sangat indah dalam menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga dinagari dan telah memberikan sumbangan besar dalam mempererat tali silaturrahmi sesama keluarga dekat maupun jauh.

Hubungan persaudaraan adalah modal besar bagi pembangunan nagari yang berawal dari kuatnya ikatan bermasyarakat. Yang jauh pulang menjelang dan yang dekat datang bertandang. Sedikit banyak buah tangan dibawa sebagai tanda datangnya hari baik bulan baik. Semua orang menjadi gembira. Hati semakin bersih dan wajah pun makin berseri-seri. Insya Allah malam harinya masjid, surau dan langgar penuh oleh semua lapisan keluarga menunaikan ibadah shalat tarawih, tadarus Alquran dan sebagainya.

Keteraturan tatanan bermasyarakat menandai pelaksanaan setiap ibadah Ramadhan, dalam  melaksanakan shalat tarawih dimasjid dan surau, didapat adab saling menghormati sangat kentara. Orang tua-tua usia dan memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih menempati shaf depan kemudian di susul oleh anak-anak dengan tertib di belakang dalam sebuah ikatan keteraturan terpelihara turun temurun, sesuai bimbingan Rasulullah SAW,

Artinya, ”hendaknya orang-orang yang dewasa dan mengerti dari kalian yang dibelakangku (menjadi makmum shalat berjamaah), kemudian orang-orang yang setelah mereka –kalimat ini diucapkan sampai tiga kali–, dan jangan kalian membuat kegaduhan seperti di pasar-pasar”.[1]

Yang berumur tua di hormati, yang kecil disayangi, sesuai ajaran sunnah Rasulullah yang menyebutkan,

Artinya, “bukan termasuk dari umatku, orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui kemampuan orang-orang kami yang alim[2].

Keteraturan ini akan menambah rasa nikmat yang dibawa Ramadhan setiap tahun, karena itu kehadiran bulan Ramadhan selalu menjadi idaman dan penantian. Ditengah perubahan masa dan peredaran zaman, nilai-nilai luhur yang dikandung oleh acara itu mulai bergeser bahkan bertukar bentuk menjadi kegembiraan wisata belaka.

Gambaran hidup bermasyarakat seperti diharapkan itu sepertinya sudah mulai jarang ditemui. Malah sering bersua adalah kecendrungan membaurkan antara yang hak dan bathil, antara suruhan dan tegah, antara ibadah dan makshiyat. Kebiasaan tersebut sangat mencemaskan. Acara balimau, tidak lagi menggambarkan persaudaraan dan ukhuwah. Kebersihan dan keikhlasan mulai dibumbui oleh hura-hura dan foya-foya. Perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terasa deras menerpa. Corak warna penyambutan untuk bulan ibadah yang sakral dan ritual mulai hilang sirna. Seakan Minangkabau tidak hidup didalam keindahan kultur budaya mereka dan mulai larut dalam kebudayaan yang tak berbudaya.

 

Akhlak  Mulai  Dirusak

Peran dakwah Risalah adalah membentuk tata-masyarakat kesatuan dengan mengedepankan prinsip persaudaraan dan menolak perpecahan dengan berusaha selalu menjauhi hasut-fitnah dan memelihara sikap toleran dengan saling menghargai dalam sikap ta’awun.[3] Kerasulan Muhammad SAW membawa misi penting memperbaiki tata laku perangai dan moral manusia dengan mengedepankan akhlak mulia.[4]

Akhlak karimah atau budi mulia yang sesungguhnya mencakup hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah) diikuti dengan tatanan dan sikap kepribadian manusia yang baik (ihsanisasi).

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya” (HR.Thabrani).[5]

Nyatanya dengan terpelihara hubungan makhluk sesama manusia dengan lingkungannya (mu’amalah ma’an-naas), akan dirasakan nilai hidup manusia bermoral. Makin mulia akhlak yang dimiliki akan semakin selesa hidup dibumi turun temurun dan akan terjalin pula hubungan baik selamanya.

Keutamaan risalah dakwah Muhammad SAW adalah menerapkan dakwah untuk terpeliharanya kenyamanan hidup bermasyarakat dan terjaganya lingkungan hidup bersama. Kebodohan akan menguasai hidup manusia ketika mulai dijangkiti virus jahiliyah dalam bentuk hapusnya batas halal dan haram, bercampur aduk perangai kotor dengan yang bersih, akan berakibat rusak hubungan silaturrahim dan perlakuan aniaya (anarkis) bertetangga. Dibidang keyakinan berkembang penyembahan kepada benda (materialistic) sehingga yang kuat akan menelan yang lemah.

Penyakit masyarakat dengan kebiasaan dan kesukaan meminum minuman yang memabukkan (miras) diiringi kegemaran melakukan perjudian dan perzinaan, berakibat hilangnya ketenteraman hidup bermasyarakat.

Apabila tidak ada upaya untuk melawan dan memeranginya, maka kehidupan manusia akan menjadi berantakan. Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam sabda beliau,

Artinya, “Tidak ada satu kaum yang melakukan berbagai kemaksiatan sedang ditengah mereka ada orang yang mampu untuk mencegah mereka –yakni pemerintah bersama petugas-petugas keamanan dan pemuka masyarakat yang memiliki kekuatan untuk itu–, namun ia tidak melakukannya, melainkan Allah akan menimpakan azab siksaan kepada mereka secara merata atau menyeluruh”.(HR.Ash-habus Sunan).[6]

Belakangan ini di acara balimau anak manusia mulai melakukan perbuatan aneh dan merusak terhadap diri sendiri dan bahkan mencemari tempat dijadikan acara balimau itu. Dan ditempat-tempat balimau mulai berlaku pergaulan bebas antara muda mudi yang sama sekali tidak dibenarkan oleh adat maupun agama. Akibatnya adalah hak-hak dan citra perempuan tidak lagi dihormati. 

Kebesaran dan kesucian dalam acara balimau mulai tercemar oleh perilaku bodoh dan tercela. Sebagai contoh, adalah dicarinya  lubuk, teluk, sungai, pantai, ngarai,  bukit, lembah, semak belukar sebagai tempat  acara balimau dimaksud. Jalan-jalan raya padat oleh kendaraan yang dipacu secara tak beraturan. Kecelakaan akibat tabrakan kenderaan bermotor sulit dihindari. Akibatnya adalah bencana dan maut.

Acara balimau tidak lagi indah tapi suram.

Suasana sedemikian itu yang sering kita temui pada beberapa tahun belakangan ini. Suatu keadaan yang jauh panggang dari api.

 

Jangan  Mengundang  Bencana

Musibah, dalam pandangan agama adalah sesuatu padanan dari nikmat. Nikmat dan musibah dua hal yang silih berganti dalam hidup. Di dalam musibah terkandung makna yang dalam. Memberi ingat kembali kepada manusia, bahwa dirinya selalu berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa.

Konsep hidup ini adalah inti dari ajaran tauhid. Musibah, boleh saja tidak bernilai azab akan tetapi adakalanya hanya sebatas ujian belaka.

Di balik ujian, tersedia sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Firman Allah menyebutkan,

Artinya, mungkin saja, yang engkau benci itu di baliknya ada sesuatu yang paling engkau senangi. Dan mungkin pula di sebalik yang engkau senangi itu ada pula yang sangat engkau benci. Dan Allah semata yang Maha Tahu, sementara engkau sendiri tidak berpengetahuan mengenai rahasia di balik semua peristiwa.[7].

Pada hakekatnya, musibah cobaan mendatangi kehidupan seorang atau kelompok masyarakat, karena kelalaian sendiri. Musibah didatangkan oleh Allah berisi hikmah mengajak seseorang untuk melakukan koreksian (introspeksi). Bila pada masa sebelum datangnya musibah banyak kelalaian, maka cobaan harus bisa  membangkit kesadaran dan menumbuhkan sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi itu kearah yang lebih baik. Apabila pada masa sebelum musibah datang yang dibuat hanya kebaikan, maka dibalik musibah tersimpan hikmah asasi bahwa wajib meningkatkan kebaikan lebih sempurna. Dengan demikian, maka setiap musibah dan ujian kepada manusia melahirkan sikap kehati-hatian dengan dorongan untuk selalu meningkatkan taraf kedudukannya ketingkat yang lebih tinggi.

Cobaan tidak seharusnya menjadikan manusia berputus asa. Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan lenyap dikala manusia melupakan Tuhannya, serta membelakang terhadap ajaran agamanya. Satu‑satunya benteng menghadapi setiap musibah hanyalah sabar sebagai intisari dari ajaran tauhid. Sabar adalah kekayaan jiwa yang sangat besar nilainya. Tegar dan tabah diringi ikhtiar dan do’a kepada Allah, disinilah sumber kekuatan.

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa” (HR.Muttafaq ‘alaihi).[8] Segera kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran‑ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan‑Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya. Setiap musibah bila mampu dijalani dengan benar dan sabar akan mencerdaskan seorang didalam mengambil iktibar yang mendalam. Segala bentuk cobaan dari Allah SWT sebenarnya menyerukan kepada  manusia agar segera kembali kepada Allah. Artinya, ber‑istighfar memohon ampun atas segala kesalahan, baik yang di ketahui ataupun yang tidak. Kembali beribadah. Menghidupkan fikiran dan menggerakkan tenaga. Mencari perbuatan yang di redhai oleh Allah. Supaya Allah senantiasa meredhai usaha‑usaha kita. Firman Allah menegaskan,

Artinya, “Tidak boleh berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH. Karena, yang berputus asa terhadap rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir[9].

 

Memerangi Virus Jahiliyah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan tuntunan didalam Alquranul Karim,

Artinya, “Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Gembirakanlah orang‑orang yang sabar, yaitu orang‑orang yang bila ditimpa malapetaka, musibah, diucapkannya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk.[10]

Allah SWT menetapkan dikehidupan manusia selalu ada musibah disamping nikmat. Sunnatullah menetapkan pasti pergantian siang malam, adanya rugi disamping laba, sakit dan senang, dan hidup dan mati. Sunnatullah ini akan dilalui secara bergantian. Rasulullah SAW selalu mengingatkan manusia supaya menjaga kesehatan sebelum sakit datang, dan supaya senantiasa berhati‑hati sewaktu kaya karena miskin bisa mendera, supaya berhati‑hati dikala  hidup sebelum mati datang menjelang, dan berhati‑hati sewaktu muda sebelum tua datang  menghadang. Bimbingan Agama Islam pada hakekatnya, menanamkan satu sikap hidup yang positif. Yaitu “kehati‑hatian”. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya dunia itu lezat dan menggiurkan. Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian sebagai khalifah diatas bumi. Kemudian DIA melihat bagaimana kalian bekerja. Oleh karena itu, takutlah kalian pada dunia, dan berhati-hatilah kalian dalam menjaga hak-hak kaum perempuan”.[11] Hidup didunia ini memerlukan sangat sikap teguh dan berpantang menyerah. Maka kepada setiap insan Muslim di ajarkan untuk selalu hidup dalam sikap optimistis yang tinggi. Inilah ajaran agama yang haq.

 

Kekuatan Tauhid

Salah satu pembersih diri dari bahaya virus jahiliyah adalah memakaikan dalam kehidupan sehari-hari paradigma tauhid dengan memelihara ibadah yang baik ditengah keluarga. Menerapkan ajaran agama Islam yang benar, serta akhlak karimah dan berbudi yang mulia, akan menjamin kehidupan manusia berkeselamatan dan berkebahagian disepanjang masa. Tugas dakwah adalah mengingatkan umat agar selalu memelihara kebersihan dan kesucian diri dan masyarakatnya. Firman Allah menerangkan bahwa,

Artinya, “Allah menyukai orang-orang yang bertaubat (kembali) dan orang yang membersihkan diri[12].

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[13] Manusia pengabdi  atau ‘abid  tumbuh dengan akidah Islamiyah yang kokoh. Akidah Islamiyah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam. Akidah menjadi titik dasar paling awal membentuk seorang menjadi muslim dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan.

Seorang Muslim yang memiliki akidah tauhid mempunyai watak patuh dengan ketaatan dalam membuktikan penyerahan total kepada Allah. Rasulullah SAW  bersabda,

Artinya,  “Iman ialah pernyataan atau ikrar dengan lisan, keyakinan didalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Dan Iman itu dapat bertambah, dan dapat berkurang”.(HR. Ibnu Mardawaih).[14]  

Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal hanya kepunyaan Allah secara absolut. Akidah membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tenteram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[15]

            Manusia yang berjiwa bersih dengan nafsul-muthmainnah akan selalu memenuhi janji kepada Allah Yang Maha Menjadikan. Dan tidak akan pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.

Selalu berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kezaliman supaya tidak terbawa hanyaut menjadi syirik.[16]

            Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada Allah SWT dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[17]  Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki akidah imaniyah secara benar. Hakikinya tanpa akidah tidak ada artinya seorang muslim. Akidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya dan wujudNya.

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi. Melaksanakan ibadah tidak semata didalam pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi akidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah walau mesti meninggalkan kesenangan selera nafsu sejenak yang permisif sifatnya.

Penegakan konsistensi atas suruhan dan larangan terujud dengan sikap ketaatan penuh disiplin diri, istiqamah karena dorongan mencari redha Allah. Umat yang mempunyai sifat istiqamah itu ada pada setiap masa, dan menjadi ukuran terhadap kualitas umat itu. Rasulullah SAW bersabda,

Artinya, “Sekelompok umatku akan terus menjalankan perintah Allah, dengan teguh istiqamah, mereka tidak akan memperdulikan orang yang memusuhi dan berlawanan dengan mereka, hingga datang perkara Allah, sampai kiamat datang menjelang atau maut datang menjemput, dan mereka membuktikan bahwa diri mereka menang atas manusia lainnya, karena istiqamahnya dan konsistennya”(HR. asy-Syaikhan).[18]

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar menjadi sesuatu yang selalu jalan seiring.

Bertawakkal dan berikhtiar dalam hidup makhluk selalu berjalin-berkulindan dalam mekanisme terpadu berada pada kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Aktualisasi paradigma tauhid Laa ilaah illa Allah menempatkan manusia secara hakikat menjadi pejuang pelaksana dan penggerak gagasan kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri, kecuali dengan bimbingan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maka keyakinan tauhid menanamkan kesadaran diri dan pemahaman manusia amat mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia. Keyakinan tauhid yang kokoh ini akan mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup.

Maka dapatlah dipastikan bahwa hilangnya akidah tauhid akan melahirkan fatalistis, menyerah kalah  kepada nasib tanpa berbuat atau bersikap apatis dan pesimistis tatkala berhadapan dengan kekuatan musuh di luar diri.

Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif. Maka bulan Ramadhan sungguh bulan latihan untuk menanamkan tauhid dalam diri manusia muslim dengan kokoh melalui ibadah shaum atau puasa, yang pada dasarnya adalah latihan kesabaran.

Karena itu, haruslah dijaga sungguh-sungguh agar Ramadhan jangan menjadi tempat masih bebas berbuat maksiat judi, meminum miras, zina, kehidupan malam yang penuh dengan kemaksiatan dan pengedaran Narkoba.

Penyalahgunaan Narkoba dan meminum Miras mengundang bahaya terhadap diri pemakainya, merubah kepribadian pemakai secara drastic menjadi penantang, pemarah, melawan, masa bodoh, semangat menurun, dapat menjadi gila, tidak ragu-ragu melakukan kejahatan sexual, hilang norma adat, agama, hukum.

Pemadat dan pencandu Narkoba akan berkembang menjadi pribadi penyiksa yang putus asa, pemalas, tidak punya harapan masa depan. Sungguh mengerikan. Merusak sendi kehidupan masyarakat. Suka mengambil milik orang, mencuri, berbuat mesum, mengganggu ketertiban umum, tidak pernah menyesal berbuat kesalahan.

Kondisi ini membahayakan bangsa dan negara. Menggganggu ketertiban umum. Mengancam ketahanan nasional. Lebih jauh, rusaknya generasi pewaris bangsa, dan hilangnya semangat patriotisme. Musnahnya rasa cinta berbangsa akan menjadi ancaman terhadap stabilitas keamanan daerah dan kawasan nasional.

Bangsa yang besar ini akan lebih mudah dikuasai oleh bangsa asing karena kehabisan generasi muda yang peduli dengan bangsanya. Disebabkan generasi muda harapan bangsa telah bertukar menjadi the loses generation dengan banyaknya generasi muda bangsa mengakhiri hidup masa muda dengan membunuh diri menjadi pecandu Narkoba.

Sejak limabelas abad yang silam, Nabi Muhammad SAW telah menasehatkan agar setiap manusia selalu hati-hati memanfaatkan anugerah Allah, sesuai sabda beliau, Artinya, “Manfaatkan dengan baik, awaslah dengan lima macam kesempatan sebelum datang lima yang lain, masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehat sebelum datang masamu sakit, saat kaya sebelum datang masa miskin, waktu lapang sebelum datang waktu sempit, dan hidupmu sebelum datang mati”(HR.Hakim).[19]

Oleh karena itu, setiap komponen masyarakat termasuk Pemerintah Daerah memikul beban bersama memelihara dan menjaga agar masyarakat dan daerah kita Sumatera Barat tetap menjadi “negeri beradat, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah” semestinya memiliki keteguhan hati dan kesepakatan yang kuat dalam memerangi segala bentuk kemungkaran diantaranya memusnahkan seluruh jaringan pengedaran Narkoba ini.

Allah SWT memerintahkan untuk mencegah perilaku keji dan tercela, fahsya’ dan anarkis.

Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menghindar dari kemungkaran dan perbuatan terlarang serta aniaya dan  anarkis itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar meninggalkan yang haram, diantaranya araktuak[20], sabuangjudi[21], siabaka[22], samunsakai[23], rampokrampeh[24], candumadat[25], narkoba dan kelakuan yang melampaui batas atau bagh-yan, agar manusia selamat. Semua peringatan Allah ini harus selalu di ingat oleh manusia.[26]

 

Bertindak Adil

Adil pakaian setiap pemimpin. Adil, adalah ciri taqwa. Konsep ini bukan semata teologis, melainkan sangat humanis universal. Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin pemegang tampuk kekuasaan yang melalaikan kepentingan rakyatnya adalah pemimpin yang sangat dicela. Rasulullah SAW memperingatkan,

Artinya,“tidak seorangpun yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian dia mengelak dari memperhatikan kepentingan rakyatnya dikala dianya berkuasa hingga mati, kecuali Allah mengharamkan baginya sorga[27]

Dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW berkata;

Artinya, “Allah telah mewahyukan kepadaku agar kamu semua tawadhu’ (merendah diri tidak sombong atau congkak besar kepala). Tidak perlu seorang berlaku kejam dan sombong kepada yang lainnya”, (HR.Abu Daud).

Dengan sikap tawadhu’  terlihat adilnya seorang pemimpin.

Konsekwensinya adalah, “siapapun (pemimpin) yang di serahi tanggung jawab mengatur kepentingan orang banyak (rakyat), kemudian dia bersembunyi (mengelak) dari memperjuangkan kepentingan mereka (orang banyak) itu, niscaya Allah akan menolak kepentingan dan keperluannya pada hari kiamat”.[28] 

Sahabat ‘Aidz bin Amru ketika menemui Sahabat Ubaidillah bin Ziyad mengingatkan pesan Rasulullah SAW, yang berisi “sejahat-jahat pemerintah yaitu yang kejam”. Karena itu, wahai anakku Ubaidillah, janganlah engkau tergolong kepada mereka.[29] 

Sungguh celakalah para pemimpin yang melupakan dan menganggap enteng aspirasi rakyat banyak. Maka, untuk terhindar dari kecelakaan dimaksud, wajiblah selalu diingat firman Allah,

Artinya adalah, “Berlaku adillah, karena Allah kasih terhadap orang-orang yang adil[30].

Adil, tidak boleh hanya semata ucapan.

Adil, adalah suatu perbuatan, yang di dambakan setiap orang. Menjadi kewajiban pribadi menegakkan dan mempertahankannya.

Agama mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungan jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Agama Islam menegaskan bahwa, seorang penguasa adalah pemimpin dari rakyatnya.

Seorang suami menjadi pemimpin atas istri, keluarga dan rumah tangganya. Seorang pekerja (khadam) adalah pemimpin atas harta yang di amanahkan oleh majikannya.

Konsekwensi pemimpin memikul tanggung jawab berlaku adil dan amanah dalam menjaga rakyat yang di pimpinnya, dan setiap pemimpin akan ditanya pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.[31]

Pemimpin yang adil, semestinyalah bersikap merendah, tawadhu’ kepada rakyat yang dipimpin.[32]  Maknanya adalah, kepentingan atau aspirasi rakyat wajib diprioritaskan demi kemashlahatan rakyat banyak. Pemimpin dalam pandangan agama Islam tidak untuk kepentingan kelompok tetapi  demi kemashlahatan orang banyak.

Konsep kepemimpinan dalam agama Islam adalah menjadi amanah Allah dan pemerintahan adalah amanah rakyat belaka. Keduanya mesti dipegang dan dipelihara sebagai amanah setiap waktu. Kepemimpinan adalah amanat Allah SWT yang wajib ditunaikan sebagai ibadah ditengah kehidupan masyarakat dalam hubungan hablum min an-naas.

 

Perjalanan  Hidup

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

Artinya; “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

Kebenaran ini, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imajinasi yakni daya cipta, tentu akan dapat mempergunakannya. Kepandaian betapapun sangat sederhananya, dalam proses mempertinggi kesejahteraan hidup tidak boleh  dilupakan. Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Maka latar belakang  usaha yang wajib dikerjakan adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang. Dalam rangka yang agak luas dinamakan “satu aspek dari Social Reform”, memang begitulah hakekat berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Melihat kondisi pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini,  maka umat Islam wajib berperan aktif kedepan dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan. Melaksanakan secara murni konsep agama  untuk melakukan perubahan, agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni Kitabullah dan Sunnah dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan untuk penduduk bumi. Sangat mungkin suatu ketika akhirnya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi kekuatan Barat, dan konsekwensinya wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai pihak asing. 

Suatu ketika Rasulullah SAW memperingatkan[33],

Artinya, “hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian dari seluruh penjuru seperti orang sedang kelaparan memperebutkan makanan …” Seketika itu para sahabat bertanya, apakah keadaan umat Islam sudah berjumlah sedikit ?.

Rasulullah menjawab,

Artinya, “Bahkan kalian disaat itu berjumlah banyak, tapi kalian seperti buih di atas air, dan Allah SWT mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, sementara Allah  meletakkan kelemahan dalam hati kalian”.

Kelemahan macam apa kiranya yang akan diletakkan kedalam dada umat Islam itu ? Rasulullah SAW menjawab pendek, “hubbud-dun-ya wa kara-hiyatul-mauti” artinya “Cinta dunia dan takut mati.”[34]

Maka kembali kepada watak Islam  tidak dapat ditawar-tawar apabila kehidupan manusia ingin diperbaiki supaya tidak lahir generasi buih itu.

Tuntutannya agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata, dan tatanan bermasyarakat dibangun diatas landasan persatuan[35], dan tumbuh dibawah naungan ukhuwah[36].

Masyarakat mesti didorong hidup dalam ta’awunitas, yaitu kerjasama dalam al-birri, format kebaikan dan ketakwaan[37].

Hubungan bermasyarakat mesti didasarkan atas ikatan mahabbah dan cinta kasih sesuai sabda Rasul:

Artinya “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri.”[38] Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah.[39]

Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah[40], karena rahasia keberhasilan terpenting “tidak terburu-buru” bertindak dan selalu didorong oleh husnu-dzan dan sangka baik sesama umat diikat oleh tawakkal kepada Allah. Dan dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Adil dan aspiratif untuk kemashlahatan umat banyak yang dilakukan secara transparan.

Menanamkan kekuatan hati dan dhamir rakyat dengan memupuk kecintaan tulus sesama lebih utama dari pembentukan kekuatan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlak Islami. Lemah bekal agama dilapis umat bawah dan tipisnya pemahaman Islam ditingkat elite mempengaruhi dinamika hidup berbangsa. Paham ‘Ashabiyah yang terlampau kedaerahan dapat menghilangkan arti maknawi dari ukhuwah. Persatuan lahiriyah tidak mampu menumbuhkan kebahagiaan mahabbah atau cinta sesama apabila tidak dilandasi keyakinan agama yang kuat.

Jika landasan agama ini mulai goyah, maka dari sini dapat diyakini mula sumber kehancuran. Kemiskinan masyarakat akar rumput mesti menjadi perhatian utama untuk menghilangkannya secara sungguh-sungguh dengan waktu yang tidak terlalu lama.

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “barangsiapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesulitan dihari kiamat, maka hendaknya dia mau meringankan beban orang yang susah”[41].

Karena itu pembinaan dhu’afak harus didukung cita-cita menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan :

(a). hidup dan memberi hidup secara ta’awun dan bukan falsafah berebut hidup;

(b). menanamkan tanggung jawab anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin secara timbal balik, takaful dan tadhamun,        

(c). mengajarkan   keragaman dan ketertiban bersumber kepada disiplin jiwa dari dalam,

(d). menumbuhkan ukhuwah ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa ,

(e). mengajarkan hidup berkeseimbangan, tawazun antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, ketajaman akal, ketinggian akhlak, amal ibadah, ikhtiar dan do’a.

            Ini wijhah dan shibgah yang hendak dipancangkan, tentulah tidak seorangpun yang berpikiran sehat dinegeri ini keberatan terhadap penjelmaan masyarakat dalam satu susunan hidup berjama’ah diredhai Allah  dan dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ basandi Kitabullah. Mulailah merintiskan dengan cara dan alat sederhana dan api cita-cita yang berkobar dalam dada. Ini nawaitu mesti tertanam dari semula. Jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah ditengah jalan.

Maka penyambutan Ramadhan yang benar harus dengan kesiapan yang penuh kesadaran dari dalam diri umat untuk selalu memelihara kebersihan dan keikhlasan yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan. Karena itu, apapun bentuk dan perayaan yang dilaksanakan dalam menyambut dan membesarkan Ramadhan  semestinya harus membuahkan iman, sabar, syukur, bertaqwa dan berhati-hati, senantiasa rajin disertai tawakkal dalam berusaha. ***


CATATAN AKHIR

[1]  Dalam sebuah hadist dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Rasululah SAW bersabda “li-yaliniy minkum ulul-arhami wan-nuhaa, tsummal-ladzina yalu-nahum –tsalatsa marratin–, wa  iyya-kum waha-isyaa-ti-aswaqi”, (HR. Muslim dalam ash-Shalat (122,423)”.

[2]  Dalam sebuah hadist dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah SAW bersabda, “laisa min umati man lam yajilla kabirana, wa yarham shaghirana, wa ya’rif li’alimina”, (HR.Ahmad, dengan sanad baik, sebagaimana disebutkan oleh al Munzhiri dalam al Munthaqa (1322) dan Haitsami (8/78)

[3]  Ta’awun artinya kerjasama, lihat selengkapnya makna firman Allah didalam QS.49,al-Hujurat : 6-13.

[4]  Innama bu’its-tu li utammi makarimul akhlak = aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (al Hadist)

[5]  “Akmalul mukminina imanan ahsanuhum khuluqan, al muwath-thiuuna aknafan, alladzina yaklafuna wa yuklafuna”. HR. Thabrani ini ditemui dalam  al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad yang dihasankan oleh Albani dalam Shahih al Jami’ ash-Shaghir.

[6]  Ali Abdul Halim Mahmud, Prof.DR., mengutip hadist tersebut didalam  Fiqhud Da’wah al-Fardiyah, hal.76, sebagai berikut ; “Maa  min qaumin ‘amiluu bil-ma’ashiy, wa fii-him man yaqdiru an yankira ‘alaihim fa lam yaf’al, illa yuu-syiku an yu’amma-humullahubi ‘adzabin  min ‘indihi”, (HR Ass-habus Sunan), Penerbit Darul Wafa, al Manshurah, Mesir Cet.I, 1412 H-1992 M.

[7]   QS.2, Al-Baqarah : 216.

[8]  Muttafaq ‘alihi (sepakat perawi hadist) dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah, lihat Lu’Lu’ wal-Marjan (1334-1335), Nabi SAW bersabda, “laisal-ghinaa ‘an katsratil-‘aradhi, innamal-ghina ghinan-nafsi”.

[9]  QS.12, Yusuf:87.

[10]  QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157.

[11]  “In-nad-dun-ya hulwatun khadhiratun, wa inna Allaha Ta’ala mustakh-lifukum fiha, fayan-dzuru kaifa ta’maluna, fat-taqud-dun-ya, wat-taqun-nisa-a” (HR. Imam Muslim, dalam kitab ar-Riqaq dari Abu Sa’id al Khudri (2742).

[12]   QS.2, Al-Baqarah :222.

[13]   Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[14]  Hadis sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “al Imanu iqrarun bil-lisani wa ‘aqdun bil-qulubi, wa ‘amalun bil-jawarihi wal arkani, wa huwa yazidu wa yanqushu”. Lihat Ali Abdul Halim Mahmud, Prof.DR., dalam Fiqhud Da’wah al Fardiyah, Mesir 1992, hal.91.

[15]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[16]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[17]  Lihat QS.14:24-25.

[18]  “La Tazalu tha-ifatun min ummati qa-imatan bi-amril-llahi, laa yadhurru-hum man khadza-lahum wa la man kha-lafa-hum, hatta ya’tiya amrul-llahi, wa hum dzahiruuna ‘alan-nasi”.(HR.Imam Bukhari dan Imam Muslim,dalam Shahih Jami’ Shaghir, 7290).

[19]  “Ightanim khamsan qabla khamsin, syababaka qabla haramaka, wa shihhatika qabla saqamika, wa ghinaka qabla faqrika, wa faraghaka qabla syughlika, wa hayataka qabla mautika”, (HR.Hakim, yang ditashhihkannya menurut syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim, disepakati oleh Mundziri dalam al-Muntaqa (2089) dan Dzahabi (4/306).

[20]  Arak tuak = minuman keras dan memabukkan.

[21]  Sabuang judi = perjudian dan bertaruh nasib melalui mengadu ayam jago bertarung

[22]  Siabaka = melakukan pembakaran, perampokan dan tindakan anarkis, hanya karena sakit hati.

[23]  Samunsakai = menyamun, merampok, mengganggu keamanan lalu lintas, dan merusak lintas batas.

[24]  Rampokrampeh = mengambil hak orang lain dengan paksa, sesuai istilah harta orang harta kita, tidak ada lagi penghormatan kepada hukum. 

[25]  Candumadat = candu dan madat yang dapat disamakan dengan narkoba dan ganja serta zat aditif lainnya yang sangat berbahaya.

[26]  Lihat QS. An Nahl, ayat 90.

[27]  HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Abi Ya’la (Ma’qil) bin Yasar RA.

[28]  HR.Abu Daud, Tirmidzi dari perkataan Abu Maryan al ‘Azdy kepada Mu’awiyah.

[29]  HR.Bukhari Muslim, dalam Riyadhus Shalihin.

[30]  QS.Al-Hujurat ,9.

[31]  Hadist di riwayatkan Al-Bukhari dari ‘Abdullah ibn ‘Umar RA.

[32]  HR.Bukhari, dalam Riyadhus-Shalihin, Imam Nawawy.

[33]yu-syaku an-tatada-’a  ‘alaikumul-umamu min kulli ufuqin, kama tatada-‘al-akala-tu ilaa-qash-’atiha”, Jawab Nabi SAW, ”bal antum yauma-idzin kastirun, wa lakin-nakum ghutsa-un kaghutsa-is-saili, wa layan-zi’an-nal-llahu min shuduri ‘aduwwi-kumul-mahabata minkum, wal-yaq-dzi-fan-na fii qulubi-kumul-wahna”,

[34]  Hadist ini oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Sahabat Tsauban RA., lihat Shahih Jami’ ash-Shaghir wa Ziadatuhu, (8183). Rasul;ullah SAW bersabda,

[35]  Lihat QS.al-Mukminun:52

[36]  Lihat QS.al-Hujurat:10

[37]  Lihat QS. Al Maidah : 2.

[38]  “laa yukminu aha-du-kum hatta yuhib-ba li-akhihi maa yuhibbu li-nafsihi”, HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Anas, lihat al-Lu’Lu’ wal-Marjan (28)

[39]  Lihat QS. Asy-Sura : 38.

[40]  Lihat QS. Ali Imran : 103-104.

[41]  “man sarrahu an yunaj-jiya-hul-llahu min kurabi yaumil-qiyamati fal-yunaffis ‘an mu’sirin”, HR.Imam Muslim, didalam Mukhtasar Muslim, 964.

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s