Nasehat Rasulullah tentang Akhlaqul Karimah
-
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Jika seorang pemuda beribadah maka Iblis berkata, ‘lihatlah darimana sumber makanannya, kalau ternyata sumber makanannya adalah dari yang haram maka biarkan saja dia beribadah dan tidak usah repot-repot menggodanya karena dia sudah memperingan tugas kalian (teman-teman iblis/syetan).” (HR.Imam Al Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab Al Iman).
Iblis tahu bahwa makanan haram akan membuat ibadah seseorang tertolak, jadi mereka tidak perlu lagi bersusah susah menggodanya. Maka carilah makanan dari yang sumber halal, jangan dari hasil sogok, riba, korupsi, mencuri, menipu, dan lain semacamnya.
2. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ; “ Jika seseorang masuk kedalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Ta’ala (bismillah) saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, “ tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Ta’ala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: “ kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan, maka setan berkata : “ kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR.Bukhari).
3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari)
4. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad)
5. Dan ingatlah bahwa keampunan Allah diberikan kepada mereka yang beriman, beramal sholeh dan akhirnya mendapatkan petunjuk. Allah menyebutkan mengenai orang musyrik, seorang pembunuh dan pezina dalam firman-Nya,
إِلا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan” (QS. Al Furqon: 70).
Dalam ayat ini disebutkan kecuali bertaubat dan beramal sholeh, maknanya adalah mukmin yang benar bertaubat itu adalah mukmin yang haqqan yang sebenar dalam imannya istiqomah dalam melakukan amalan sholeh. Mukmin yang jujur punya semangat untuk terus bertaubat dan bersungguh-sungguh dalam memperbanyak shalat dan sedekah, memperbanyak dzikir, tasbih, tahlil dan berbagai macam kebaikan. Mereka benar-benar sungguh-sungguh dalam melakukan amalan kebajikan tersebut. Dengan demikian, semoga Allah menghapuskan kesalahan mereka dan semoga Allah menerima amalan baik mereka. Allah Ta’ala berfirman
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (QS. Thaha: 82).
6. Allah Ta’ala berfirman ; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21).
Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta’ala. (Lihat keterangan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481)
7. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah” (HR Ahmad)
8. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Allah Ta’ala berfirman ;
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf (kebaikan).” (QS al-A’raf: 199)
9. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berbuat baiklah pada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. Dan jagalah kehormatan kalian niscaya isteri kalian menjaga kehormatannya.” (HR. Ath-Thabrani).
10. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
Siapa menyayangi akan disayangi. (HR.Bukhari).
11. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Amalan yang paling dicintai Allah setelah yang fardu adalah memasukkan kegembiraan di hati Muslim.” (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas).
Buatlah saudara kita yang lain mertasa gembira, jangan membuat mereka sedih atau sakit hati, karena membuat mereka gembira dengan cara yang baik, maka itu adalah satu amal yang sangat di cintai Allah.
12. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Bergaul dengan orang yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang Buruk.”(HR. Al-Hakim).
Termasuk juga berbicara buruk adalah membicarakan keburukan orang lain, dan termasuk juga bicara buruk ADALAH MEMBICARAKAN KEBURUKAN ORANG LAIN seperti orang yg memakan bangkai saudara sendiri.
13. Allah Ta’ala berfirman ;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalam (surga) dengan sejahtera lagi aman.” (QS.Al-Hijr : 45-46).
Orang-orang bertaqwa adalah orang yg menjalankan perintah Allah seperti sholat dan kewajiban lainnya serta sunnah-sunnah Rasul-Nya. Jadi tidak dikatakan bertaqwa orang yang meninggalkan sholat.
14. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit:
1. kebingungan yang tiada putus-putusnya,
2. kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,
3. kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi,
4. khayalan yang tidak berujung.”
(HR. Imam Thabrani)
15. Allah Ta’ala berfirman ;
“ Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat (menjaga sholatnya), menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Attaubah 9 :18).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Barang siapa yang mengeluarkan (atau membersihkan) kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,” (HR Ibnu Majah).
Jaga kebersihan masjid, dan jangan pernah malu mengepel dan membersihkan masjid meski itu sudah ada petugasnya, jangan sungkan untuk membantu. Semoga Allah ridhoi.
16. Allah Ta’ala berfirman ;
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al -‘Ankabuut: 1-3).
17. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(HR.Muslim:4689).
18. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu (masalah), janganlah mengatakan ‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka jalan untuk setan menggoda manusia.” (HR. Muslim no. 2664)
19. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:
Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu ucapan: ‘laa haula wa laa quwata illa billah’ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat bantuan Allah). (Shahih Muslim No.4873).
20. Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.
(Nasehat dari sahabat Umar bin Khattab r.a).
21. Cara sunnah memakai sandal/sepatu, ikuti sunnah maka insyaAllah pakai sandal juga akan dapat pahala. dan jangan lupa awali dengan bismillah. Dari Abu Hurairah r.a,Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Jika kamu memakai sandal (kasut), pakailah yang kanan terlebih dahulu. Tetapi jika membukanya, yang kiri dahulu dibuka. Maka yang kanan adalah yang mula-mula dipakai dan yang terakhir dibuka”.(Riwayat al-Bukhari).
22. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 5/135, 158, 177, At-Tirmidzi no. 1987).
Akhlak baik terhadap manusia yang pertama Memaafkan keburukan mereka dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian engkau bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang baik dalam ucapan maupun perbuatan. Termasuk akhlak baik yang paling khusus adalah sabar menghadapi mereka, tidak jenuh dengan mereka, berwajah cerah, berkata lembut, berucap indah yang menyenangkan teman duduk, memberikan kegembiraan pada teman, menghilangkan rasa tidak enak di hati mereka, dan hal baik lainnya.
23. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ; “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS al-A’raf: 199).
Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada umat Muslim bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di atas muka bumi ini.
Tiga konsep yang Allah berikan kepada kita.
Pertama, jadilah pemaaf. Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.
Kedua, mengimbau kepada kebenaran. Di kala rasa cinta dan kasih menaungi kehidupan mereka, di sana akan terjalin suatu interaksi yang harmonis dan mereka akan mengoreksi sahabatnya yang berbuat kesalahan.
Ketiga, berpaling dari orang-orang bodoh. Ketika suatu masyarakat sudah menjadi masyarakat harmonis dan religius, sungguh mereka akan berpaling dari perilaku orang-orang yang bodoh, perilaku yang kering akan hal-hal yang bermanfaat. Dan, seperti inilah seorang Muslim, “meninggalkan suatu hal yang tak berguna adalah kebaikan bagi seorang Muslim.”
24. Diamlah Ketika Marah. Dari Ibnu Abas r.a, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda : .., “Jika engkau marah, maka diamlah.” Beliau mengucapkannya dua kali. (Hadits shahih Riwayat Imam Ahmad: 1/283)
Atau Mengubah Posisi Tubuh Saat Marah. Dari Abu Dzar r.a ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami: “Jika salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika rasa marahnya hilang (maka itu yg dikehendaki), jika tidak (hilang marahnya) hendaklah ia berbaring.”
Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah dari Khalid dari Dawud dari Bakr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Dzar dengan membawa pesan hadits ini.” Abu Dawud berkata, “Hadits ini adalah yg paling shahih di antara dua hadits yg ada.” (HR. Abu Dawud: 4783).
25. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian & cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya & barangsiapa murka maka baginya murka Allah”. (HR. Tirmidzi)
26. Jaga wudhu sebelum tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: “Barangsiapa Tidur Di Malam Hari Dalam Keadaan Suci ( Berwudhu ) Maka Malaikat Akan Tetap Mengikuti, Lalu Ketika Ia Bangun, Niscaya Malaikat Akan Berdoa: “Ya Allah, Ampunilah Hamba-Mu Si Fulan, Karena Ia Tidur Di Malam Hari Dalam Keadaan Selalu Suci.”( HR. Ibnu Hibban dari Ibnu Umar )
27. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ; “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya (kepada Allah seperti menjaga sholat dan amalan lainnya), laki-laki dan perempuan yang benar (menjauhi maksiat/dosa-dosa), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab:35).
Peran dan Fungsi pemerintahan terdepan dalam implementasi dan pelestarian ABSSBK
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagi mengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang. Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni. Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya. Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur. Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan. Gaya hedonis materialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjing yang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.
Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama. Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai.
| Perpaduan Adat dan Syarak berpedoman Firman Allah ; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Perbedaan suku dan jurai adalah kekuatan besar adat di Minangkabau “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”. Masyarakat Minangkabau dengan filosofi ABSSBK memiliki ciri khas Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK menjadi konsep dasar Adat Nan Sabana Adat yang diungkap lewat Bahasa sebagai Kato Pusako, yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) dan berbagai tataran (structural levels). Paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk perspektif atau Pandangan Dunia dan Panduan Hidup masyarakatnya.
Diantaranya ; |
- memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
- menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.
- menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
- memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.
Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.
- Mengutamakan prinsip hidup “keseimbangan” karena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).
- Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya.” (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusir tenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung.
Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. “Kefakiran membawa kepada kekufuran “ (Hadist).
| Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggang tempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung. Tata-ruang adalah asset sangat berharga dalam Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Tata ruang yang jelas memberikan posisi strategis kepada peran pengatur dan pendukung sistim banagari yang telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, urang mudo, dan bundo kanduang). Nagari tidak hanya sebatas ulayat hukum adat. Paling utama wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat yang menjadi pendukung kegiatan masyarakat di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros. Hasilnya tergantung dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakatnya. |
| Strategi Membangun Nagari dalam pengamalan ABSSBK dititik beratkan kepada menghormati kesepakatan bersama dalam adaik sa lingka nagari. Perubahan deras arus kesejagatan tidak boleh mencerabutkan masyarakat dari akar budayanya. Perilaku yang mengedepankan perebutan prestise materialistis dan individualis adalah karena penyimpangan implementasi dari nilai nilai budaya ABSSBK. Kepentingan bersama masyarakat mesti menjadi tugas utama pelestarian ABSSBK. Idealisme kebudayaan Minangkabau yang menjadi sasaran cercaan “usang” mestinya dihadapi dengan penampakan kehidupan beradat dan beragama yang kuat di Sumatera Barat. Upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif, gotong royong) mesti digiatkan. Disini letak kekuatan Nagari di Minangkabau yang seakan sebuah republik kecil itu. Mini Republik ini punya sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri. Bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri dalam “adaik sa lingka nagari” dikawal Suku, Sako dan Pusako yang menjadi kekuatan menetapkan Peraturan Nagari. |
Membangun nagari muara pertama pada supra struktur pemerintahan nagari. Wali Nagari mestinya berperan sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat adat di nagarinya. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki dengan pemerintahan dikecamatan atau kabupaten. Sebagai pimpinan dalam adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari.
Strategi pemerintahan nagari bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).
Disamping itu muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan). Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya. Mestilah dipahami bahwa masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja. Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen.
Maka langkah strategis yang penting adalah,
1. Menguasai informasi substansial.
2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.
3. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari.
4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.
Strategi pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. Sebab Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus.
Daya kemauan masyarakat dikembangkan untuk percaya kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tanpa mengharapkan balas jasa atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat dan tatanan kehidupan bersama. Optimisme banagari mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.
| P |
embentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan hati (qalbin Salim) menghiasi nurani manusia dengan nilai luhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan dan kecerdasan budaya diperhalus oleh kecerdasan emosional dan dipertajam kemampuan periksa atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Kelemahan mendasar pada dasarnya karena melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama karena tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu.
Kelemahan internal akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran tanpa kawalan atau karena dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula. Peran tidak boleh dilalaikan mempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial ekonomi, tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari diantaranya;
- Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong).
- Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah.
- Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).
- Menggali potensi SDA yang ada di nagari selaras dengan perkembangan dan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat.
- 5) Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak nilai budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam.
Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam dengan “memperindah nagari” dengan indikator utama adalah ;
a) Pencapaian moral adat. Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building.
b) Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. Pemeranan fungsi fungsi elemen masyarakat.
c) Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Maka kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.
| Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi). Tercerabutnya agama dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakat adatnya. Penerapan filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah semestinya tampak jelas pada syarak (agama Islam) mangato (memerintahkan) maka adat mamakai (melaksanakan). Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya di dalam tatanan kehidupan mesti menjadi landasan dasar pengkaderan regenerasi. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Akibatnya akan terlahir bencana. Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalannya terekam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial masyarakatnya serta tutur kata yang baik. |
Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan. Maka peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan adalah menghidupkan lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu yang telah berhasil membawa umat dengan informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik dalam Implementasi dan Pelestarian ABSSBK. Strateginya dengan menanamkan kearifan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Ada kewajiban menularkan warisan luhur budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah. Kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Provinsi Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau yaitu ABSSBK mestinya tumbuh dengan komitmen fungsional bermutu tinggi seiring kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana. Perencanaan kerja secara komprehensif akan mendorong terbinanya center of excelences.
KHULASAH
| Akan sulitlah dibantah jika masyarakatnya sudah mati jiwa pastilah akan sulit diajak berpartisipasi karena telah kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin. Jangan dibiarkan umat digenggam oleh pemimpin otoriter yang meninggalkan prinsip musyawarah. Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikan. Perankan kembali organisasi formal dan fungsikan peran ninik mamak, alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari” dengan sistem komunikasi koordinasi antar organisasi pada pola pembinaan kaderisasi pimpinan formal nagari dan suku. Dalam gerak “membangun nagari” setiap fungsionaris nagari menjadi pengikat umat membentuk masyarakat yang lebih kuat. |
Semua fungsionaris formal suku dan kaum senyatanya adalah kekuatan sosial yang efektif. Terbukti bahwa Nagari lebih banyak dibangun dengan kekuatan anak nagari sendiri. Bahkan sedikit sekali yang bergantung kepada APBNasional atau APBDaerah. Maka Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan dalam mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam terhadap masyarakat anak nagari.
Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.
Spiritnya adalah
(a). Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi).
(b). Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).
(c). Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.
(d). Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.
(e). Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.
(f). Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.
(g). Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.
Begitu semestinya peranan dan fungsi strategis Pemerintahan Terdepan di Nagari bersama sama dengan Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di nagari nagari dalam membangun serta menjaga nagari-nagari yang tertata rapi menapak alaf baru di Sumatera Barat (Minangkabau) dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK. Insya Allah. v
Padang, April 2012 M
BERHAJI DENGAN ISTITHA’AH BUKAN BERHUTANG
Pengertian Haji.
Haji (Bahasa Arab: حج, Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa.
Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah) setiap tahunnya.
Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang dapat dilaksanakan sewaktu-waktu.
Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi.
Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja.
Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan tempat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.
Kemudian Sayyid Sabiq menegaskan bahwa makna haji adalah :
هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته. وهو أحد أركان الخمسة، وفرض من الفرائض التي علمت من الدين بالضرورة. فلو أنكر وجوبه منكر كفر وارتد عن الاسلام.
“Bermaksud mengunjungi kotaMekkah, karena ibadah thawaf, sa’I, wuquf di arafah, seluruh manasik adalah dalam rangka menjawab perintah Allah, dan mencari ridha-Nya. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang kelima, kewajiban di antara kewajiban agama yang sudah diketahui secara pasti. Jika ada yang mengingkari kewajibannya, maka dia kafir dan telah murtad dari Islam.”
Ibadah haji merupakan salah satu wujud totalitas pengabdian seorang makhluq kepada sang Khaliq. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran (3): 96-97)
Haji merupakan amal yang paling utama, seperti riwayat dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ
“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan RasulNya.” Ditanya lagi: “lalu apa?” Beliau menjawab: “Jihad fisabilillah.” Ditanya lagi: “lalu apa?” Beliau menjawab: “Haji Mabrur.”
Bekal Haji Pergi haji adalah perjuangan yang cukup panjang. Maka, dibutuhkan perbekalan yang mecukupi, khususnya perbekalan yang bisa memudahkan baginya mencapai derajat haji yang mabrur.
Telah menjadi kesepakatan ulama bahwa syarat diwajibkannya haji apabila adanya kemampuan, seperti firman Allah :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya : “Dan diantara kewajiban manusia adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu” (Surat Ali-Imran : 97)
Di antara makna istitha’ah (kemampuan) bagi orang yang hendak pergi haji adalah kemampuan dalam hal harta; baik harta sebagai biaya keberangkatan dan keperluan pada saat haji, juga untuk keluarga yang ditinggal. Tidak dibenarkan seseorang pergi haji, tetapi meninggalkan keluarganya dalam keadaan kelaparan dan melarat. Hingga dikemudian hari menjadi beban hidup baginya dan keluarganya. Bagi yang belum ada kemampuan maka gugurlah kewajibannya. Sebab Allah Ta’ala tidak membebani kepada hamba-Nya tidak memiliki kemampuan. Oleh karena itu tidak boleh seseorang memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang Allah Ta’ala tidak memaksakan hamba-Nya untuk melakukannya.
Paraulama berselisih pendapat mengenai batas kemampuan seseorang. Dalam hal ini ada beberapa pendapat :
- Para fuqoha Hanafiyah mengatakan kemampuan mencakup bekal dan kendaraan dengan syarat melebihi dua hajat asasinya sepeerti hutang, tempat tinggal, dan pakaian, begitu juga harus melebihi nafkah untuk orang yang ditinggalkannya, begitu juga haji tidak wajib bagi orang yang menderita penyakit sepeerti lumpuh dll.
- Parafuqoha malikiyah mengatakan kemampuan adalah kemungkinan untuk sampai ke Makkah dan tempat-tempat ibadah haji dengan berjalan kaki atau menaiki kendaraan, dengan syarat tidak mengalami kesulitan.
- Parafuqoha hanabilah kemampuan adalah bekal dan kendaraan yang layak, dengan syarat melebihi yang diperlukannya seperti buku-buku, tempat tinggal, pembantu, nafkahnya, dan nafkah keluarganya.
- Parafuqoha Syafiiyyah mengatakan kemampuan adalah bekal dan kendaraan dengan syarat melebihi hutang meskipun hutangnya belum habis waktu. Begitu juga nafkah orang yang ditinggalkan sampai dia kembali, juga tempat tinggal yang layak, dan alat-alat profesinya dan jalan yang aman.
BERDEMOKRASI DENGAN AKHLAK MULIA
Berdemokrasi dengan akhlak mulia
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi di negeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama, dan atau menghargai ajaran Agama yang berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan berakhlaq mulia. Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu anarkis dan pemaksaan kehendak, dan ujung-ujungnya melahirkan tindakan-tindakan anarkis, dan bencana akan dituai sesudahnya. Idaman masyarakat banyak untuk merasakan ketenteraman dan kesejahteraan hanyalah menjadi mimpi belaka. Ketika umat terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa, karena dua kelompok pengayom yang menduduki posisi penguasa dan pengusaha berubah menjadi penindas dan penghisap, dan para cerdik cendekia yang alim telah menjadi penghasut.
Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain : “Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat umat seluruhnya jadi binasa. Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”. Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula “Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”.
Ketika substansi musyawarah telah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat di pundaknya, dan rakyat kecil di bawah akan dijadikan tunggangan untuk meraih kedudukan semata. Kondisi buruk ini akan dialami dalam dasawarsa panjang, di bawah pengekangan-pengekangan dan kepentingan-kepentingan. Maka ujungnya keluhan akan banyak. Lebih berbahaya kalau semua sudah diam dan berpangku tangan dan partisipasi sebagai modal kebersamaan lenyap. Berbahaya.
Konsep demokrasi sebenarnya adalah musyawarah menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak, dan terciptanya kesejahteraan orang banyak. Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian banyak orang, karena senyatanya masyarakat yang larat melarat akan sangat mudah untuk di tunggangi. Maka, amatlah ditekankan, terutama oleh Sunnah Rasulullah dan ajaran agama, agar selalu berhati-hati dan mawas diri, agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.
Umat Islam diingatkan misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional, bahwa “Tuhan telah menampilkan umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia sesame manusia kepada menyembah Allah semata, dan mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia jahilinyah kepada keluasaan ilmu pengetahuan, dan berpindah dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam”. Untuk itu, upaya mengujudkannya dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama, dan memelihara keteguhan dalam kehidupan beradat yang luhur.
Kehati-hatian dalam memilih pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik, karena,“… apabila Umara’ kamu terambil dari mereka yang jahat, hartawan kamu menjadi manusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan tidak lagi dimusyawarahkan, dan kehidupan terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Begitulah Sabda Rasulullah SAW mengingatkan umat semua, agar selalu menjaga musyawarah dan menghindari perebutan karena hawa nafsu.
Padang, Maret 2012
Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam
Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam
Oleh: H.Mas’oed Abidin
Sikap skeptis dan dingin
Tatkala orang orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin. Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”. Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis.
Dalam era perubahan di sepanjang kurun ini dengan tetap memelihara nafas pembaruan (ishlah) warga kampus mestinya selalu siap menjadi generasi pelopor yang selalu merujuk kepada Misi Rasulullah SAW, dengan memantapkan perannya sebagai generasi Rabbani.
Generasi Penyumbang
Masa depan sangat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Pembentukan generasi penyumbang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan. Generasi inovator sangat di perlukan pada era reformasi supaya tidak terlahir generasi pengguna (konsumptif) yang akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara. Lihat QS.28:83. Generasi mendatang mesti siap memerankan pemeliharaan destiny sendiri, menanamkan kebebasan terarah dengan tanggung jawab bersama, meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.
Satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap harmonis dengan menghindari tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting. Research dan pengembangan serta kualita diri generasi akan membentuk kondisi.
Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Disini kita dapat merasakan spirit reformasi. Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan kurangnya penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), lemahnya minat menuntut ilmu, akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.[1]
Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Konsekwensinya, generasi kini memikul beban berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna.
Generasi yang lahir dari satu rumpun bangsa mestilah tumbuh menjadi kekuatan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.
X Generation.
Kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya (X Generation). Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.
Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional dan non-science.
Problematika ini hanya akan teratasi dengan memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan agama yang campur aduk, agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya intensif ini berkemampuan untuk menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.
Tantangan Millenium baru Kearifan Menangkap Perubahan Zaman
Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu, kenyataannya terjadilonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[2] Di era globalisasi terjadi perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[3]
Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[4] Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan. Setiap Muslim mesti ‘arif dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini.
Kekuatan Tauhid
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[5] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.
Aqidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, adalah titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. Aqidah dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan, membentuk manusia berwatak patuh dengan ketaatan, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah. Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[6]
Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[7] Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[8]
Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (aqidah) secara benar. Hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).
Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi, tidak semata pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksana- kan perintah-perintah Allah tanpa reserve.
Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, biarpun melawan kesenangan selera nafsu permisif. Penegakan konsistensi terhadap suruhan dan larangan terwujud dengan sikap ketaatan penuh dengan disiplin diri (istiqamah) karena dorongan mencari redha Allah.
Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring. Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Secara aktual paradigma Laa ilaah illa Allah menetapkan manusia pada hakikat sebagai pejuang pelaksana menjadi penggerak gagasan dalam kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.
Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Dipastikan hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis yang menyerahkan diri kepada nasib, atau bersikap apatis dan pesimis. Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.
Pusat pembinaan umat
“Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [9] Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[10] Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.
Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya.
Masjid warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.
Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[11] Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.
Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.
Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.
Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[12] Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.
Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah.. Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :
“ orang-orang yang beriman kepada Allah,
“ dan kepada hari kemudian,
“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,
“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,
“ maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).
Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.
Padang, Maret 2012.
[1] Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).
[2] Ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, dan “perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena persaingan yang tinggi dan tajam
[3] Dari kehidupan sosial berasaskan kebersamaan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas‑asas nilai sosial menjadi konsumeris materialis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehidupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepemimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional). Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing negara. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism”, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997). Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,“ artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berkemampuan menelan yang lemah di antara kami.” Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Weltanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past) Allah berfirman: “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)
[4] The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.
[5] Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.
[6] Lihat QS.89:27, dan QS.13:20-24
[7] Sesuai bimbingan dalam QS.6:82.
[8] Lihat QS.14:24-25.
[9] Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.
[10] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).
[11] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat-hebat menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.
[12] “Coba hitung beberapa puluh ribu jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.
Bimbingan Rasulullah untuk kehidupan
BIMBINGAN ALLAH DAN NASEHAT RASULULLAH UNTUK KEHIDUPAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya ember akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”. (QS. An-Nahl (16) : 30)
“ …. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa “. (QS. An-Nahl (16) : 31)
Orang yang bertaqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Menjalankan perintah Allah seperti kewajiban Sholat dan lainnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Janganlah kamu menjadi orang plinplan, bila manusia baik, maka kamu ikut baik, dan bila mereka berbuat buruk, kamu pun ikut berbuat buruk. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti perbuatan kejahatan mereka.’’
(HR at-Turmudzi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak disertai mahram, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaithan”. (HR. Ahmad)
Allah berfirman ;
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ [17]: 32)
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ;
“Hendaklah kamu berkata jujur, karena sifat jujur akan membawa kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu akan membimbing masuk surga, seseorang yang selalu berkata benar, dan bersungguh-sungguh untuk selalu benar, sampai ia dituliskan di sisi Allah sebagai shiddiq (hamba yang sangat benar).” (HR. Muslim).
“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya (yaitu cari perhatian agar terkenal atau agar dikenal), maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam.”
(HR. Ibnu majah : 256)
اَللَّهُمَّ لأَمَتِكَ الصَّالِحَةِ السَّيِّدَةِ رَحْمَةٍ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيرَانِ، وَاجْمَعْنَا وَإِيَّاهَا وَالْمُسْلِمِينَ تَحْتَ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّكَ، وَأَدْخِلْنَا الْجَّنَّةَ مَعَ الأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُاغْفِرْ
Ya Allah, ampuni dosa Ibu Rahmah, berilah beliau curahan ramat-Mu, berilah keafiatan dan kemaafan. Muliakan tempatnya, luaskan jalannya, jadikan kuburnya satu taman syurga. Jangan jadikan kuburnya jurang neraka. Himpunkan kami kelak bersama beliau dan bersama kaum Muslimin di bawah naungan-Mu, pada hari tiada tempat berteduh selain hanya naungan-Mu. Masukkan kami semua ke dalam syurga-Mu bersama golongan solihin, wahai Tuhan Maha Gagah lagi Maha Pengampun.
Cinta yang agung
Allah Azza wa Jalla berfirman ;
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. (QS. al-Hujurat (49) : 13)
Imam Hasan Basri berkata:
مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّ غَيْرَ اللهِ تَعَالَى، لاَ مِنْ حَيْثُ نِسْبَتُهُ إِلَى اللهِ ، فَذَلِكَ لِجَهْلِهِ وَقُصُورِهِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ
‘Sesiapa mengenal Allah ia akan mencintai-Nya. Sesiapa yang mencintai selain Allah, bukan karena ada hubungkaitnya dengan cinta Ilahi hal ini adalah karena kejahilan dan kedangkalan makrifahnya terhadap Allah’. (Mukhtasar Minhajul Qasidin, ms 322). Orang Melayu mengatakan ‘Tak kenal maka tak sayang’.
Firman Allah SWT,
‘Hanya yang akan meimarahkan masjid-masjid (rumah Allah) adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat, dan mereka hanya takut kepada Allah sahaja.’
Dengan kata lain, bahwa yang rajin dan tekun mendatangi rumah-rumah Allah bagi tujuan solat berjamaah, majlis ilmu, tilawah Quran, dan seumpanya adalah individu muslim yang beriman kepada Allah, kepada hari pembalasan dan seterusnya, si mukmin tidak akan merasakan keselesaan jika kehidupannya renggang dari rumah Allah. Inilah kurnia, hidayah, dan penghargaan yang mahal tersemat dalam hati si mukmin yang telah dinikmati oleh pencinta rumah Allah, mukmin dan mukminah.
Sabda Rasulullah SAW,
لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ
)رواه الشيخان(
Ertinya ; ‘Kamu jangan melarang wanita mukminah pergi ke masjid-masjid (rumah Allah).
Berikut ini bahagian Hadis berkenaan, yang terdiri dari dialog antara Allah yang pernah menanya Rasul-Nya:
يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ الأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: فِي الدَّرَجَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ، أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجماعَاتِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلاَمِ، وَالصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه
‘Wahai Muhammad, tahukah kamu perkara yang menggemparkan para malaikat di langit? Jawab Rasulullah, ‘Ya, mengenai kaffarat (beberapa amalan yang menghapuskan dosa dengan canggih dan effektif); dan darrojat (berapa amalan yang mengangkatkan darjat hamba mukmin). ‘Kaffarat’ ialah duduk (iktikaf) di masjid setelah solat (menunggu solat berikutnya), pergi (berjalan) menunaikan solat berjamaah, berwuduk dengan sempurna di saat terasa agak malas berwuduk’. Allah berfirman ‘Betul jawabanmu wahai Muhammad’. ‘Sesiapa melakukan perkara tersebut, ia hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan, dan ia bersih dari dosanya seperti ia baru dilahirkan ibunya.’ (HR Tizmizi).
Oleh yang demikian dalam lanjutan Hadis riwayat Imam Tirmizi di atas, baginda Rasulullah SAW mengajar umat berdoa dengan doa cinta,
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّك
Aku memohon kepada-Mu agar daku mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal ibadat dan perbuatan yang menghampirkanku kepada kecintaan terhadap-Mu”.(HR Imam Tirmizi).
وَالْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
)رواه مسلم والأئمة(
Artinya ; ‘Para malaikat mendoakan seseorang di kalangan kamu selagi ia masih berada di tempat solatnya (di masjid), mereka mendoakan ‘Ya Allah, ampunilah ia, berilah ia curahan rahmat, dan terimalah taubatnya. Yakni selagi ia tidak menyakiti seseorang, dan wuduknya belum batal’ (HR Muslim, dll).
Nasehat Rasulullah untuk kehidupan
BIMBINGAN ALLAH DAN NASEHAT RASULULLAH UNTUK KEHIDUPAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya ember akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”. (QS. An-Nahl (16) : 30)
“ …. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa “. (QS. An-Nahl (16) : 31)
Orang yang bertaqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Menjalankan perintah Allah seperti kewajiban Sholat dan lainnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Janganlah kamu menjadi orang plinplan, bila manusia baik, maka kamu ikut baik, dan bila mereka berbuat buruk, kamu pun ikut berbuat buruk. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti perbuatan kejahatan mereka.’’
(HR at-Turmudzi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak disertai mahram, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaithan”. (HR. Ahmad)
Allah berfirman ;
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ [17]: 32)
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ;
“Hendaklah kamu berkata jujur, karena sifat jujur akan membawa kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu akan membimbing masuk surga, seseorang yang selalu berkata benar, dan bersungguh-sungguh untuk selalu benar, sampai ia dituliskan di sisi Allah sebagai shiddiq (hamba yang sangat benar).” (HR. Muslim).
“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya (yaitu cari perhatian agar terkenal atau agar dikenal), maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam.”
(HR. Ibnu majah : 256)
اَللَّهُمَّ لأَمَتِكَ الصَّالِحَةِ السَّيِّدَةِ رَحْمَةٍ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيرَانِ، وَاجْمَعْنَا وَإِيَّاهَا وَالْمُسْلِمِينَ تَحْتَ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّكَ، وَأَدْخِلْنَا الْجَّنَّةَ مَعَ الأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُاغْفِرْ
Ya Allah, ampuni dosa Ibu Rahmah, berilah beliau curahan ramat-Mu, berilah keafiatan dan kemaafan. Muliakan tempatnya, luaskan jalannya, jadikan kuburnya satu taman syurga. Jangan jadikan kuburnya jurang neraka. Himpunkan kami kelak bersama beliau dan bersama kaum Muslimin di bawah naungan-Mu, pada hari tiada tempat berteduh selain hanya naungan-Mu. Masukkan kami semua ke dalam syurga-Mu bersama golongan solihin, wahai Tuhan Maha Gagah lagi Maha Pengampun.
Cinta yang agung
Allah Azza wa Jalla berfirman ;
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. (QS. al-Hujurat (49) : 13)
Imam Hasan Basri berkata:
مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّ غَيْرَ اللهِ تَعَالَى، لاَ مِنْ حَيْثُ نِسْبَتُهُ إِلَى اللهِ ، فَذَلِكَ لِجَهْلِهِ وَقُصُورِهِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ
‘Sesiapa mengenal Allah ia akan mencintai-Nya. Sesiapa yang mencintai selain Allah, bukan karena ada hubungkaitnya dengan cinta Ilahi hal ini adalah karena kejahilan dan kedangkalan makrifahnya terhadap Allah’. (Mukhtasar Minhajul Qasidin, ms 322). Orang Melayu mengatakan ‘Tak kenal maka tak sayang’.
Firman Allah SWT,
‘Hanya yang akan meimarahkan masjid-masjid (rumah Allah) adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat, dan mereka hanya takut kepada Allah sahaja.’
Dengan kata lain, bahwa yang rajin dan tekun mendatangi rumah-rumah Allah bagi tujuan solat berjamaah, majlis ilmu, tilawah Quran, dan seumpanya adalah individu muslim yang beriman kepada Allah, kepada hari pembalasan dan seterusnya, si mukmin tidak akan merasakan keselesaan jika kehidupannya renggang dari rumah Allah. Inilah kurnia, hidayah, dan penghargaan yang mahal tersemat dalam hati si mukmin yang telah dinikmati oleh pencinta rumah Allah, mukmin dan mukminah.
Sabda Rasulullah SAW,
لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ رواه الشيخان
Ertinya ; ‘Kamu jangan melarang wanita mukminah pergi ke masjid-masjid (rumah Allah).
Berikut ini bahagian Hadis berkenaan, yang terdiri dari dialog antara Allah yang pernah menanya Rasul-Nya:
يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ الأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: فِي الدَّرَجَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ، أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجماعَاتِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلاَمِ، وَالصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه
‘Wahai Muhammad, tahukah kamu perkara yang menggemparkan para malaikat di langit? Jawab Rasulullah, ‘Ya, mengenai kaffarat (beberapa amalan yang menghapuskan dosa dengan canggih dan effektif); dan darrojat (berapa amalan yang mengangkatkan darjat hamba mukmin). ‘Kaffarat’ ialah duduk (iktikaf) di masjid setelah solat (menunggu solat berikutnya), pergi (berjalan) menunaikan solat berjamaah, berwuduk dengan sempurna di saat terasa agak malas berwuduk’. Allah berfirman ‘Betul jawabanmu wahai Muhammad’. ‘Sesiapa melakukan perkara tersebut, ia hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan, dan ia bersih dari dosanya seperti ia baru dilahirkan ibunya.’ (HR Tizmizi).
Oleh yang demikian dalam lanjutan Hadis riwayat Imam Tirmizi di atas, baginda Rasulullah SAW mengajar umat berdoa dengan doa cinta,
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّك
Aku memohon kepada-Mu agar daku mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal ibadat dan perbuatan yang menghampirkanku kepada kecintaan terhadap-Mu”.(HR Imam Tirmizi).
وَالْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
(رواه مسلم والأئمة)
Artinya ; ‘Para malaikat mendoakan seseorang di kalangan kamu selagi ia masih berada di tempat solatnya (di masjid), mereka mendoakan ‘Ya Allah, ampunilah ia, berilah ia curahan rahmat, dan terimalah taubatnya. Yakni selagi ia tidak menyakiti seseorang, dan wuduknya belum batal’ (HR Muslim, dll).











