November 8, 2009
Juni 6, 2009
KHAUF … atau rasa takut kepada Allah … Modal Utama seorang memimpin dirinya dan bangsanya ….
Posted by Buya Masoed Abidin under Buya Masoed Abidin, Cinta, Khotbah Buya, Komentar, Politics, Surau, Tulisan Buya, tauhidLeave a Comment
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.
Membentuk perangai umat harus dimulai dengan
menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga
dilaksanakan dengan agama.
Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,
sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka
dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki
yang Kami berikan kepada mereka”
(Q.S. As Sajadah: 16)
Kata khauf yang berarti takut,
telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali,
dan sinonimnya yaitu kata “Khasy-syah” ….
yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali.
Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian,
yang harus ditempuh manusia.
Firman Allah tentang hal tersebut:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Dialah Allah — Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya,
dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al Mulk: 2)
Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan
dan kecenderungan alami
yang bersemayan di dalam hati manusia,
dan memiliki peran penting
dalam kehidupan kejiwaan manusia.
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“MAN KHAAFA AAMANA”,
barangsiapa yang takut, aman!”
Kalau kita tidak takut hujan,
kita tidak akan sedia payung,
bila kita tidak takut sakit
kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.
Bila kita tidak takut negara rusak,
maka kita tidak perlu memilih pemimpin yang baik …
Islam tidak memandang rasa takut
yang ada dalam diri manusia
sebagai aib yang harus dihilangkan.
Namun demikian,
rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk
apabila seseorang tidak mampu mengatur
dan menyalurkan rasa takutnya,
apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan,
penghambat kebebasan mengamalkan sunnah,
dan terbiarkan kehormatan dirinya rusak.
Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita:
“Kalau anda bertekad melakukan sesuatu,
maka arungilah ……
Karena bayangan bencana ….
terlihat lebih besar dari yang sebenarnya.
” Jadi sesungguhnya menunggu datangnya sesuatu,
tanpa bertsiap dan berbuat
sebenarnya lebih buruk dari sesuatu yang ditunggu itu sendiri.
Karena itu lebih baik kita melakukan persiapan
dan menyusun kekuatan bathin
menghadapi sesuatu yang akan datang.
Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut
yang timbul pada jiwa para rasul
dan juga pada diri hamba-hamba Allah yang shaleh,
meskipun mereka adalah manusia pilihan
yang terkenal suci dan bersih.
Allah SWT berfirman,
menceritakan peristiwa keluarga Musa Alaihis-salam,
ketika menghadapi kekejaman Fir’aun,
yang membunuhi setia[ anak-anak lelaki yang lahir,
karena takut ….
jika generasi yang lahir itu,
akan mengubah kekuasaan
yang selama turun temurun,
telah berada di tangan titisan Fir’aun itu …
Maka ketika Musa lahir,
yang memang dipersiapkan Allah
untuk menggantikan kekuasaan Fir’aun …,
kepada ibu Musa di ilhamkan oleh Allah Ta’ala…
sebagai berikut :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
“Susukanlah dia,
dan apabila kamu takut (khawatir) ….
maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil).
Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati.
Karena sesungguhnya …
Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”
(Q.S. Al Qashash : 7)
Takut (al khauf) adalah masalah yang berkaitan
dengan kejadian yang akan datang.
Seseorang hanya merasa takut
jika yang dibenci tiba …
dan yang dicinta sirna.
Khauf merupakan salah satu syarat iman
dan kerelaan melaksanakan hukum-hukumnya.
Takut kepada Allah adalah rasa takut
yang semestinya dimiliki setiap hamba.
Karena rasa takut itu
mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan
dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya.
Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa
adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya.
Dengan adanya rasa takut,
timbul rasa harap (rajaa’) akan maghfirah (ampunan),
lahir harapan tentang ‘inayah (pertolongan),
serta rahmat Allah dan ridha-Nya.
Sehingga hakikat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”
benar-benar terpatri dalam qalbu seorang hamba.
Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah,
maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula
akan ancaman azab yang Allah sediakan
bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya.
Ma’rifah (pengetahuan) akan sifat Allah
akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.
Seorang hamba yang shaleh,
berma’rifatullah,
dan merealisasikan hakikat kehambaannya
dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya
dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya,
pasti akan memilki rasa takut yang mendalam
terhadap azab yang mengancamnya.
Sikap ini akan melahirkan selalu waspada,
sehingga tidak ada amal atau prilaku
yang mengarah kepada hal-hal …
yang menjadikan Allah murka
dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah.
Allah SWT berfirman :
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut
akan siksaan hari yang besar
jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
(Q.S. Az Zumar: 13)
Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu
merupakan salah satu perangai
yang diciptakan dalam diri manusia
untuk memotivasi mereka
dalam menyebarluaskan …
dan menjaga nilai-nilai Ilahy.
Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya
akan merasakan rahmat Allah,
baik dalam kehidupan duniawi
maupun ukhrawi.
Kita tutup dengan doa ;
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْم
Yulfi Indra pada 06 Juni 19:01 … “terimakasih update nyo buya.
mudah-mudahan bisa melekat di hati untuk selalu takut kepada Allah dan mempersiapkan diri didalam kehidupan yang hanya sebentar ini.
Assalamualaikum, Alhamdulillah senang dan mudah-mudah jadi pegangan. terima kasih buya. wassalam ….. Abdurahman Salman pada 06 Juni 19:49
itulah masalahnya Buya….kalau semua pemimpin punya rasa takut kepada Allah …kan KPK nggak perlu diadain Buya ? hm …. Eko Kritz Suharto pada 06 Juni 20:00
alhamdulillah buya, setelah baca ini kok rasa takut bertambah pada Allah SWT…. Bodhi Dharma pada 06 Juni 21:32
Assalamu’alaikum Buya!!! Gmn kbr buya??? Mg Buya dalam keadaan shat wal’afiat… Susi t’msuk salah sorang yang mengagumi sosok Buya…. Susianti Annisa H pada 06 Juni 21:36
moga2 kt semua memp. rs takut yg dpt menambah imtaq kt spt rasul2 utusan Allah SWT.. Amin..!! Fatma Sj pada 06 Juni 22:46
Juni 1, 2009
INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA … SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!
Posted by Buya Masoed Abidin under Buya Masoed Abidin, Cinta, Khotbah Buya, Komentar, Komentar Buya, Pesan Rang Gaek, Surau, Tulisan Buya, tauhid1 Comment
Renungan “Menjelang Dhuha” ……
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“ Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”
(Q.S. At Thahrim :
Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,
yaitu pengampunan dosa
dan penghapusan kesalahan.
Kenyataannya,
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.
Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:
“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”
(HR. Ahmad)
Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia
akan mengotori hatinya,
bagaikan noda hitam di atas kain putih,
tiada yang dapat membersihkannya
kecuali taubat.
Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang meminta ampun dari dosa
seperti orang yang tidak berdosa”.
(HR. Bukhari)
Dan Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri.”
(Q.S. Al Baqarah: 222)

Sebenarnya syetan telah menipu
dan menjebak kita
dan memenuhi kehidupan kita,
dengan berbuat maksiat,
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,
menjauhkan kita dari jalan keselamatan
semua perdayaan syaitah itu,
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya
sehingga manusia terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan
hingga penuh berlumur dosa. Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.
Tidak ada kata putus asa
tidak ada istilah terlambat ..
dalam bertaubat
untuk menuju kepada Allah
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.
Allah adalah tuhan seluruh makhluk
yang menciptakan semuanya…
selalu menguji dan menyileksi amal
dan perbuatan hamba-hamba Nya….
Barangsiapa yang banyak dosanya
dan ia ingin bertaubat
maka pintu taubat selalu terbuka ….
Namun …
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu …
1. harus menghentikan maksiat …
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.
2. harus berniat sungguh-sungguh…
untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu
adalah berhubungan dengan hak manusia …
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini …
3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak
dengan meminta maaf kepadanya,
atau meminta kehalalan atau ridha…
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.
Di antara keutamaan yang didapat
oleh orang-orang yang bertaubat ialah …
Allah menyibukkan para malaikat-Nya
agar memintakan ampunan bagi mereka
yang bertaubat itu …
dan malaikat berdoa kepada Allah
mengharapkan Allah melindungi mereka
dari siksaan neraka jahannam,
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu
dari kejahatan dan kesalahan.
Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit
juga sibuk memintakan ampunan
bagi orang-orang yang bertaubat ….
Allah berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy
dan malaikat yang berada di sekelilingnya
bertasbih memuji Rabbnya …
dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun
bagi orang-orang yang beriman
(seraya mengucapkan),
Ya Rabb kami …,
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
maka berilah ampunan ….
kepada orang-orang yang bertaubat
dan orang yang mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka …
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.
Ya Rabb kami …,
dan masukkanlah mereka …
ke dalam sorga ‘And
yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan telah Engkau janjikan pula
untuk orang-orang yang shaleh
di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah …
yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana,
dan peliharalah mereka
dari (balasan) kejahatan …
Dan….,
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,
maka sesungguhnya
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar. ”
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)
Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah
yang mengabarkan diterimanya taubat
orang-orang yang bertaubat,
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,
yang tentunya dengan cara-cara tertentu
yang telah diberikan tuntunan
oleh Allah dan Rasulullah jua…
Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,
ampunan dan rahmat Allah,
yang tidak akan menyempit
karena keberadaan seseorang yang durhaka,
seperti apapun kedurhakaannya itu.
Terlebih lagi ….
orang yang bertaubat
dan juga memperbaiki diri …
serta beramal shaleh.
Tidak kurang dari sebelas tempat
di dalam Al Qur’an,
Allah mensifati diri-Nya
dengan sebutan at Tawwab
(Maha Menerima Taubat).
Kita akhiri pembahasan ini
di pagi ini menjelang dhuha ..
dengan firman Allah :
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang melakukan kejahatan
lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera …..
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang melakukan kejahatan
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,
barulah ia mengatakan,
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.
Dan tidak pula diterima taubat
orang-orang yang mati
sedang mereka dalam kekafiran.
Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)
Karena itu janganlah ada
di antara kita yang menunda taubat
hingga hari esok.
Karena maut itu
datang secara tiba-tiba.
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa
di mana dan bila saja,
waktunya ada…
Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :
“Bila kau berpulang ke alam baqa,
tidak membawa bekal taqwa,
kau lihat orang-orang yang membawanya
pada hari perhimpunan.
Kau akan menyesal,
karena kau tidak seperti mereka.
Mereka mempunyai persiapan
sedangkan kau tidak memilikinya.”
Allahu A’lam Bishshawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa …terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti…wassalam. Intan Munajat pada 31 Mei 21:58
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini. Jazzakillah Khair buya. Dyan Eka Putri pada 31 Mei 22:30
Mei 31, 2009
“TANGGUNG JAWAB DAKWAH SETIAP MUSLIM” …
Posted by Buya Masoed Abidin under Buya Masoed Abidin, Dakwah, Komentar, Komentar Buya, Panduan Ibadah, Surau, tauhidLeave a Comment
Tafakkur menjelang Qiyamul-lail ….
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Fushshilat:33)
Ridwan Abdullah Wu, adalah seorang muslim Cina dari Singapura, beliau adalah Direktur World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dan juga ketua The Muslim Converts Association of Singapore. Beliau pernah mengatakan bahwa dakwah adalah “mengemukakan kepercayaan dan ajaran Islam kepada semua orang, apakah kaum muslim atau non muslim. Kepada non muslim itu pada dasarnya adalah memperkenalkan bahwa ada satu Pencipta, bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan bahwa manusia akan menghadap Tuhan di akhirat, kelak nan pasti…”.
Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz mengatakan bahwa dakwah merupakan keperluan masyarakat terkhusus bagi masyarakat muslim. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain ;
1. Manusia memerlukan orang yang bisa menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan hujjah atas mereka. Allah SWT berfirman: “ Wahai Nabi …, sesungguhnya Kami mengutusmu .. untuk jadi saksi dan pembawa khabar gembira .. dan pemberi peringatan …. dan untuk menjadi penyeru …. kepada agama Allah dengan izin-Nya… dan jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzab: 45-46)
2. Kondisi kehidupan yang diwarnai oleh kerusakan, ketamakan, dan hawa nafsu, sementara para pelakunya tetap menginginkan tersebarnya kerusakan tersebut di masyarakat.
3. Takut terhadap laknat Allah yang akan ditimpakan atas masyarakat yang tidak melakdanakan amar ma’ruf – nahi munkar. Sebagaimana yang telah menimpa bani Israil, pada masa dahulu … dan dapat dijadikan ‘ibrah masa kini …. Allah SWT berfirman: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu … disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas …. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Q.S. Al-Maaidah: 78-79)
Adapun tujuan dan aktifitas dakwah Islamiyah antara lain dapat disimpulkan sebagai berikut ;
1. Mengembalikan fitrah yang ada pada diri manusia.
2. Mengubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)
3. Mengubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)
4. Mengubah aktivitas menjadi keberhasilan (natijah)
5. Mengubah keberhasilan menjadi tujuan (ghayah)
6. Mengubah tujuan menjadi mardhatillah.
Tersebarnya Islam di muka bumi ini dan akhirnya sampai kepada kita sehingga kita menjadi seorang muslim merupakan bukti dari dilaksanakannya dakwah Islamiyah dengan baik.
Sebagai bagian dari tanda dan rasa syukur kita, maka tugas tanggung jawab dakwah juga harus kita emban bersama-sama. Karena dakwah secara hukum menjadi tanggung jawab dan kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim, bukan hanya kewajiban dari orang-orang yang selama ini kita sebut ustadz, kiyai, ulama, atau mubaligh semata….
Karenanya dakwah tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah, khutbah dan pengajian-pengajian, tapi apapun yang dilakukan dalam rangka memberi tahu dan mengajak orang lain ke arah hidup yang Islami merupakan pelaksanaan dari tugas dakwah.
Dijadikannya dakwah sebagai kewajiban atas setiap individu muslim dikarenakan dakwah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat muslim tentunya …. Melalui dakwah dapat disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu, mana yang haq dan mana yang bathil.
Bahkan… dakwah tidak hanya membuat masyarakat memahami mana yang haq dan mana yang bathil, malahan juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga mennjadikan umat … agar selalu berusaha menhindari yang bathil itu.
Banyak dalil yang dapat kita jadikan sebagai rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah. Firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran: 110)
Dapat disimpulkan, Dakwah merupakan upaya merekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur kejahiliyahan menjadi masyarakat yang Islami. Ini berarti bahwa dakwah merupakan upaya melakukan penyebaran dan pengamalan akidah dan akhlak Islami dalam seluruh sektor kehidupan manusia. Untuk itu keterlibatan setiap muslim di dalam dakwah menjadi suatu keharusan, sesuai dengan potensi yang dimiliki individu masing-masing. Terbentuknya pribadi yang Islami, keluarga yang Islami dan masyarakat yang Islami merupakan target yang ingin dicapai dalam dakwah. Target ini memerlukan dukungan setiap muslim, apalagi dakwah itu bukanlah hanya berbentuk ceramah dan khutbah.
Tegasnya, apapun potentsi dan kemampuan yang dimiliki, semua itu dapat digunakan untuk kepentingan dakwah, termasuk informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) ….
Tujuannya tidak lain adalah, dakwah ilaa Allah … yakni mengajak kembali .. atau dekat dengan Allah … Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa dakwah merupakan kewajiban yang harus diemban oleh setiap kita, yang mengaku muslim agar terwujud kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, baik yang terkait dengan masalah kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa.
Semoga dengan melaksanakan dakwah, terciptalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri :
1. Masyarakat yang berakidah Islamiyyah: Laa Ilaha Illallah – Muhammad Rasulullah…
2. Masyarakat yang senantiasa melaksanakan segala kewajiban dengan mengacu kepada tuntutan dan keridhaan Ilahi.
3. Masyarakat yang memiliki persepsi dan pola pikir yang Islami, sehingga mampu menyelamatkan diri, keluarga serta orang lain di sekitarnya.
4. Masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap Islam.
5. Masyarakat yang memiliki akhlakul karimah.
6. Masyarakat yang menjunjung tinggimartabat manusia … dan menghargai hak-hak asasi manusia serta memiliki solidaritas dan kepedulian sosial.
7. Masyarakat yang senantiasa menegakkan kebenaran dan hiduk makmur berkeadilan, dengan mengamalkan “Al-Amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar” Allah Azza Wa Jalla membimbing kita semua di dalam melaksanakan tugas mulia ini, dengan firman NYA ; ” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba terjadilah orang yang di antara engkau dengan dia itu tadinya ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia … (QS.41, Fush-shilat : 34)
Mungkin dia datang dengan rasa benci, engkau sambutlah dia dengan bersahabat, dia menyerang dengan marah dan maki-maki, menampakkan bahwa pikirannya dangkal, tangkislah dengan tenang dan senyum simpul, Dia datang dengan membawa makian, kamu menyambut dengan menghormati, Dia datang mengajak berkelahi, kamu menanti dengan bersahabat, Seakan dia menunjukkan kedangkalan fikiran, engkau menampakkan kedalaman perasaan … Apakah hasil yang akan dipetik, tiada lain adalah, kemenangan budi yang gilang gemilang, mengubah musuh menjadi kawan … akan tetapi usaha ini amatlah berat .. berat sekali sunguhpun benar … kecuali bagi orang yang sabar .. dan yang berjiwa besar….
Berkacalah kepada sejarah, ketika Rasulullah dengan 12.000 pasukan lengkap… memasuki Makkah dalam peristiwa “Futuh Makkah” … yang menjadikan orang Quraisy berdebar pengap .. dan Abu Sofyan menggigil ketakutan, dalam pikiran mereka kini saatnya telah datang besok pagi akan tiba hari pembantaian… Namun apa yang terjadi …???
Sejarah telah mencatatkan bukti tentang kebenaran nyata ayat ini … Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berucap, mengutus pamannya Abbas bin Abdul Muthalib, masuk sendiri ke Makkah, dan mengumumkan ke khalayak ramai penduduk Makkah yang akan di taklukkan, Pesan Rasulullah yang berisi hikmah…; “Kita akan memasuki kota Makkah, Kita harap jangan ada orang yang melawan di kota Makkah, Barang siapa yang ingin keamanan, hendaklah lakukan perintahku ini dengan iman …. Barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, amanlah dia … Barangsiapa yang masuk ke dalam ruimah Abu Sufyan, amanlah dia … Barangsiapa yang tingal di dalam rumahnya sendiri, amanlah dia … “
Masih segar dalam ingatan …, bahwa Abu Sufyan sebelumnya adalah musuh bebuyutan, dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang sengaja ikut dalam pasukan, yang ingin membalas dendam, “membunuh Abu Sufyan” .. Malahan… Rasulullah saat itu menempatkan, rumah Abu Sufyan sebagai “rumah keamanan” … Makkah di masuki dengan aman, tidak setetespun darah ditumpahkan, tidak sebuah nyawapun terbang melayang, tidak ada tangis kepiluan, tidak ada orang yang dihinakan … tidak ada orang yang menjadi lawan … yang ada hanya rasa kegembiraan rasa yang lahir dari sanubari yang dalam, yang tampak pada wajah “senyuman” … hakikat besar dari satu kemenangan …. “Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali oleh orang yang shabar…. Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali orang-orang yang berjiwa besar”… (QS.41, Fusshilat, ayat 35).
Moga bangsa kita selalu menjadi bangsa yang besar, aman dan damai di bawah naungan ridha Allah …
Wallahu a’lamu bis-shawaab …
Billahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu ‘alaikum,
Buya H. Mas’oed Abidin

dalam masa menuntut ilmu …
shalat malam itu ibarat elexir …
memberi kekuatan kepada bathin …
perlu di laksanakan lillahi ta’ala …… Read more
Salam maaf untuk semua…
wassalam
tentang kapan witir mereka ..
(witir adalah shalat penutup malam)..
dan penutup malam artinya tahajjud …
memang jawaban Abu Bakar “sebelum tidur” ..’… Read more
dan jawaban Umar bin Khattab “sesudah tidur”…
Rasul SAW mempertegas bahwa
Abu Bakar sangat berhati-hati,
maka dia lakukan shalatnya sebelum tidur…
Dan Umar sangat teguh ,
dan dia lakukan sesudah tidur …
Kedua perbuatan shahabat ini
menjadi ibrah (teladan) kepada kita bahwa,
shalat malam jarang sekali yang tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan para sahabatnya,
baik itu sebelum tidur atau sesudah tidur,
(secara kondisional dibolehkan keduanya) ..
walaupun Rasulullah SAW
selalu lakukan pada penghujung malam,
atau sepertiga malam terakhir …
(dan ini yang terbaik) sesuai sunnah Nabi …
sementara kita umatnya…
berselisih tentang sebelum atau sesudah tidur,
dan seringkali meninggalkannya…
hanya sekedar membahas,
maka lakukanlah di mana bisa ..
dan di mana kita bisa …
jangan hanya mulai dari mempertengkarkan …
nanti lupa mengerjakannya …
Semua kita punya kendala…… Read more
selain malas, waktu, dan kondisi fisik lainnya,
maka “lupa” kadangkala juga menjadi hambatan …
jangan kalah karena hambatan …
tapi kalahkanlah lebih dahulu segala penghambat itu …
Insyaallah akan berhasil ..
Wassalam
BuyaHMA
nah..poinnya sebetulnya ada di kita saja, ya kalau kita bisa melakukan maka akan dibalas dengan baik, tapi jika tidak (dalam ibadah sunnah) berarti kita tidak dapat apa-apa…:)
Mei 2, 2009
Agama di sisi Allah adalah Islam
Posted by Buya Masoed Abidin under Buya Masoed Abidin, Khotbah Buya, Komentar Buya, Surau, Tulisan Buya, tauhidLeave a Comment
Al-Islam Dienul Haq = Pedoman yang Benar
Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلاَمِ
Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah Hanyalah Islam”
(Q.S. Ali Imran: 19)
Manusia sangat memerlukan kepada bimbingan dan petunjuk yang benar. Yang mempunyai nilai mutlak untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di alam sesudah mati (akhirat).
Sesuatu yang mutlak sudah barang tentu harus berasal dari pada yang mutlak pula. Maka, sumber kemuthlakan itu tiada lain, hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Menjadikan, dan seru sekalian alam. Allah Azza wa Jalla yang bersifat Pengasih dan Penyayang, telah memberikan suatu anugerah yang sangat mulia untuk manusia bernama DIEN = Agama.
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)
Dalam agama Islam inilah dibentang konsep yang tegas, tentang apa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu, kemana arah tujuannya, siapa sebenarnya makhluk yang bernama manusia itu. Islam telah membimbing manusia dalam tata kehidupannya, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan-nya, maupun yang menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia, dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Di dalam agama ini, ada tiga pilar yang tidak dapat dipisah satu dengan yang lainnya.
Ketiga pilar tersebut adalah Islam, Iman dan Ihsan. Atau dikenal dengan istilah Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.
Sahabat Umar bin Khaththab r.a menceritakan suatu peristiwa tentang sabda Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama, dengan berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat, tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah, lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau dan meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”
Rasulullah SAW menjawab, “Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.”
Orang itu berkata, “Engkau benar!” kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Orang itu berkata, “Terangkan kepadaku tentang iman!”
Rasulullah SAW menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”
Rasulullah SAW bersabda, “(Ihsan adalah) hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.”
Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah SAW menjawab, “(Tanda-tandanya di antaranya adalah), jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.”
Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam sejenak, kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.
Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim)
Hadits shahih dari Rasulullah ini adalah hadits komprehensif yang memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Jibril telah datang kepada Rasulullah SAW untuk mengajarkan permasalahan agama kepada mereka yang sedang duduk-duduk saat itu dan kepada umat Muhammad yang datang setelahnya.
Islam di mulai dengan ikrar Syahadatain. Maksudnya adalah – sebagaimana yang dikomentari oleh seorang ulama dan mujahidah Muslimah berkebangsaan Mesir yang bernama Zainab al-Ghazali – mengingatkan sebagai berikut ;
« Hendaklah anda melakukan pencerahan total dengan segenap jiwa, akal, perasaan dan keinginan kuat (aziimah), semuanya untuk Allah semata. Sehingga jadilah Allah sebagai Dzat yang mengurus anda dengan segenap titah dan perkara-Nya. Titah dan perkara yang bisa anda kenali dari Kitab Allah dan Kalam-kalam Rasul-Nya SAW.
Dengan Islam hendaknya dapat meyakini keesaan Allah (wahdaniyatullah). Karena Islamlah yang mengatur strategi perjalanan hidup, agar menjadi manusia sempurna di tengah-tengah kehidupan manusia.
Islamlah yang menentukan titian asas yang seharusnya dilalui, yakni syahadat, “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”. »
Syahadat ini hendaknya dijadikan hakim, pengendali dan tolok ukur dalam kehidupan. Syahadat ini akan menjadi undang-undang dalam kehidupan. Undang-undang dalam perkara halal dan haram. Undang-undang dalam hal, “lakukan, atau, jangan lakukan!”.
Undang-undang dalam hal interaksi sosial (mu’amalat) antara kaum muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabatnya, seseorang dengan tetangganya.
Karena itu tidak satupun selain Allah yang mengatur dan menetapkan hukum dalam perjalanan hidup kita.
Semua bimbingan kehidupan ada di dalam Al-Qur’an, kitab suci sebagai Kalam Ilahi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an adalah Wahyu Ilahi, sumber hidayah, pedoman dan pelajaran bagi yang meyakini, dan mengamalkannya. Al-Qur’an adalah ruh kehidupan hakiki dan syifa’ = obat penawar segala macam penyakit rohani manusia. Al-Qur’an adalah Nuur = memberi cahaya di tengah kegelapan kehidupan, dan Al-Huda = petunjuk jalan menuju Hidayah Allah, dan Ma’rifah jalan yang lurus menuju hakekat Uluhiyah dan Rububiyah. Al-Qur’an adalah rahmat bagi hamba-hamba Allah dalam mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya telah Kami turunkan sebuah kitab (Al-Qur’an) kepadamu, yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. Al-Anbiya: 10)
Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا القُرْآنِ أِقْوَامًاوَ يَضَعُ آخَرِيْنَ
“Allah akan mengangkat (kedudukan) beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini, dan Allah akan meletakkan (merendahkan) kedudukan sebagian yang lain. (H.R. Muslim)
Shadaqallahu al’adhim, Allah A’lam As-Shawwab.





























Dengan diproklamasikannya Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan Nan Bana, Nan Sabana-bana Nan Bana, Nan Sabana-bana Badiri Sandirinyo. 


Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”. Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia. Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“irreversible”) terhadap alam itu sendiri. Dan ternyata, Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.
Dari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab. Kemungkinan pertama, mungkin Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang tidak mampu memperkirakan terlebih dahulu apa yang sekarang telah menjadi Perubahan Iklim yang tidak dapat balik itu. Dengan perkataan lain Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata. (Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah dimana “ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.
Kemungkinan kedua, para ilmuwan telah “lebih dahulu memahami apa yang bakal terjadi”, namun tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk merubah perilaku manusia dan masyarakat. Jadi, Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat. Singkat kata, apa yang ada dalam benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme) yang menjadi kesadaran kolektif yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH) mereka ternyata tidak sama sebangun dengan Realitas. Dengan begitu, ketika PDHP itu menjadi acuan perilaku serta kegiatan perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.
Manusia moderen sangat berbangga dengan berbagai isme-isme yang dikembangkannya serta meyakini kebenarannya di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Millennium atau Alaf Ketiga ini.
Keyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan khayalan manusia saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.
Bagi para “uluul albaab” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda. Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat 






















Insyaallah akan dimudahkan semua jalan..
Amin
apa ada hubungan antara ” Istainu bi sobri wa sholah…” dan ” qu amfusikum wa ahlikum…” dengan yang buya tuliskan ini, seperti apa itu Buya?
Ista’inuu bis-shabri ….
was-shalah …
Dua cara yang di ajarkan bagaimana caranya
berharap (raja’a) kepada Allah SWT,… Baca Selengkapnya
dengan shabr, bermakna luas di antaranya, teguh,
istiqamah, kuntinyu, berketerusan tidak terputus …
sebagai bagian dari istislaam dan tawakkal kepada Allah…
Kemudian, dengan shalat (do’a),
Dalam melaksanakan ibadah, atau apa saja kegiatan…
sama sekali seorang mukmin dilarang berputus harap
terhadap Rahmat Allah …
Yang berputus harap terhadap Allah hanya orang kafir,
di sini letak substansi iman kepada qadar dan qadha itu…
Selanjutnya “menjaga diri dan keluarga” …
adalah kewajiban yang tidak boleh dilalaikan…
sebab “antum a’lam bi umuri dunyakum”…
atau kamu lebih paham soal dunia kamu …
namun “wa maa kana amri dinikum fa ilayya” ..
yakni soal agama urusannya hanya sunnah Rasul SAW,
di sini letak urgensi dari menjaga diri dan keluarga itu…
Moga kita sanggup menjaganaya ..
Amin,
Wassalam