08
Nov
09

Gempa 30 September 2009

01
Nov
09

Pandangan Buya terhadap fenomena beruntunnya bencana di negeri ini

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram

Dari padangan ajaran agama Islam, tidak terjadi sesuatu kecuali hanya atas izin Allah semata. Apa yang terjadi ini sudah menjadi ketentuan Allah.

Memang sangat erat kaitannya, sebuah musibah itu dengan perangai atau kelakuan manusia. Banyak keterangan di dalam Alquran, dan juga pemberitaan hadist Rasulullah SAW (… jika kita memang masih mempercayainya, karena sudah banyak orang tidak mau merujuk kepada Alquran atau sunnah, dengan berbagai alas an ilmiah rasional yang dangkal…). Bagi  Muslim Mukmin Muttaqin, Alquran adalah pedoman yang terang. Sunnah adalah penjelas yang jelas. Bila kita merujuk kesana, kita mendapatkan pelajaran berharga. Banyak kisah Alquran menceritakan umat terdahulu itu binasa. Karena perangai mereka. Kepada mereka ditimpakan bencana. Melalui hukum Allah, alam bicara. Ada umat yang ditelan bumi (Qarun, kaya, bakhil). Ada umat yang ditenggelamkan air laut atau tsunami (Fir’aun, penguasa zalim, yang mendurhakai Allah, tidak mempercayai Rasul, bersilantas angan, etnic cleansing terhadap kaum Imran, tidak mempercayai hukum Allah). Ada pula yang dihancurkan dengan gempa besar (umat Nabi Shaleh, aniaya, menyiksa kaum lemah, mengurangi takaran dan timbangan, suka berkorupsi dsb).

Maka dari keterangan Alquran ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa antara kelakuan manusia berkaitan erat dengan musibah yang datang.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa musibah gempa semata (100%) fenomena alam saja. Pasti ada kaitannya dengan perangai umat di dalam alam itu.

Maka dari segi tauhid, ada yang perlu diperbaiki secara terus menerus. Dengan kekuatan penuh. Agar umat ini kembali memiliki sikap peranagai yang baik (akhlaqul karimah). Ibadah yang teratur. Serta berpegang kepada agama. Bagi Negara Indonesia, kita masih mengakui Pancasila sebagai dasar Negara.

Di sana masih terpateri dengan kuatnya, KETUHANAN YANG MAHA ESA. Menurut Buya itu tidak lain adalah berpegang kepada ajaran agama yang benar.

Karena itu secara lebih jauh, kita mesti lakukan introspeksi dalam semua bidang dan semua kegiatan. Termasuk kurikulum pendidikan akhlak karimah (etika religi) yang tidak hanya mengandalkan kepada pemahaman pemahaman rasional saja. Agar bangsa ini tidak menjadi luluh lantak dari sisi mental spiritual. Bila tidak, maka umat ini akan menjadi umat yang “too much science too little faith”… INILAH BENCANA LEBIH BESAR.

IMG_3200

  1. 1. Hubungan Bencana yang beruntun di Indonesia dengan maraknya kemaksiatan dan minimnya orang-orang shalih? (Ka’ab Bin Malik mengatakan, “Tidaklah bumi berguncang, kecuali karena ada kemaksiatan yang dilakukan di atasnya. Bumi bergetar karena takut Rabbnya melihatnya.”

 

Sudah jelas sekali. Ada warning dari Rasulullah, yang tidak dapat tidak mesti diyakini dan dipercayai oleh setiap mukmin muttaqin. Warning (peringatan) Rasulullah ini, mesti disikapi dengan peraturan hidup bernegara yang tegas dan jelas. Perlu disikapi dengan kurikulum pendidikan di segala bidang yang baik.

Kita tidak dapat acuh tak acuh dengan warning agama ini. Walau ada kenyataan kini, bahwa telah mulai tumbuh generasi EGP (emang gue pikiran) terhadap peringatan agama ini. Ada pendapat bahwa agama hanya untuk ritual dan seremonial. Soal hidup bernegara, tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Jika pendapat ini terus dibiarkan berkembang, maka musibah tidak lagi semata fenomena alam. Akibat lebih berat akan dirasakan oleh generasi ini, dari masa ke masa. Binasa dan hilang dari peta budaya.

 

  1. 2. Membaca keterangan Rasulullah, Umar Bin Khathab, Siti Aisyah, dan Ka’ab Bin Malik sepertinya, ada keterkaitan antara ketidakadaan (minimnya) orang-orang shaleh dan syahid di jalan Allah, merajalelalnya kemaksiatan, dan kezaliman penguasa dengan terjadinya bencana. Pandangan Buya tentang ini?

Kesalehan menjadi sangat penting. Kesalehan adalah sesuatu pengamalan dari bimbingan agama. Kesalehan sesuatu bentuk dari keikhlasan karena Allah. Kesalehan ada dalam bingkai redha Allah. Kesalehan tidak boleh dipilah-pilah menjadi saleh pribadi, saleh social dan sebagainya, yang terpisah satu dan lainnya. Kesalehan adalah utuh, baik secara peribadi ataupun secara social. Tidak mungkin orang yang saleh peribadi menjadi tidak acuh dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya tidak bakal terjadi orang yang saleh terhadap lingkungannya tapi bangkrut terhadap peribadinya.

Kesalahan utama kita ialah hilangnya kesalehan.

IMG_3268

Ada banyak orang yang tak acuh bila terjadi kemaksiatan di sekelilingnya. Alasannya sederhana. Biarkan saja selama bukan kita yang melakukannya. Bila ini terjadi, maka prinsip amar makroef nahi munkar hilang. Akibat lebih jauh doa tidak di ijabah lagi. Ini akan mengundang beribu kemelut. Baik dari dalam diri (tekanan emosional) maupun dari dalam masyarakat (cheos). Kadang-kala kita terperangkap kepada pengertian ham yang salah. Maka menurut pandangan orang pintar-pintar di mana saja, ham itu harus diterjemahkan bijak dengan kearifan lokal yang dipunyai satu bangsa. Tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Masyarakat Indonesia di Nusantara, sudah terkenal sebagai masyarakat yang mengutamakan kegotongroyongan. Tetapi ketika musibah datang mendera, gotong royong (taawun) itu hilang. Berganti dengan nafsi-nafsi (individualism). Jadinya beban semakin berat. Bahkan di mana-mana sering terjadi penjarahan. Karena tidak rapinya pendistribusian. Mungkin lantaran surat jalan belum ditekan, sehinga lahir sikap materialism itu.

Tidak dapat tidak, antara satu sikap dengan  lainnya kait berkait dengan ajaran etika religi, atau kesalehan agama.

  1. 3. Rentetan waktu terjadinya gempa dengan peringatan Allah dalam al-Qur’an:

    a. Gempa Jawa Barat (Tasikmalaya) terjadi pukul 15:04 Wib à Jam 15.04 identik dengan al-Qur’an Surat al-Hijr (15) ayat 4: ”Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.”

    b. Gempa Sumbar terjadi pukul 17:16 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 16: ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

    c. Gempa Susulan di Sumbar terjadi pukul 17:58 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 58: ”Tak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

    d. Gempa di Jambi terjadi pukul 08:52 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Anfaal (08) ayat 52: ”(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”

    Pertanyaan: ayat-ayat di atas dan waktu terjadinya gempa apakah hanya kebetulan atau memang merupakan peringatan Allah SWT?

Ayat Alquran di atas memang benar.

Allah tidak bermain-main dengan wahyu Nya.

Akan tetapi perlu di ingat bahwa jangan dikaitkan peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu.

Isi ayat Alquran ini menjadi peringatan keras untuk kita.

Jangan dilanggar. Ikuti dengan benar, kalau mau selamat.

Tapi tidak ada kaitannya peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu.

Bila ini dibiarkan terus, maka eksistensi Alquran akan berubah jadi klenik. Alquran tidak sama dengan prambon, yang banyak dipakai oleh dan cara akal-akalan semata, kadang-kadang tidak diterima oleh akal sehat.

Dan gempa tidak ada satu kaitanpun dengan angka-angka.

Satu contoh, bila umpamanya terjadi gempa pada tanggal 31 Januari, apakah kita akan mengaitkan dengan ayat 31 surat 1 (?), sementara surat 1 itu hanya jumlah ayatnya 7 saja ??? Atau dikaitkan dengan surat 31 ayat 1, di mana artinya sudah berbeda (ALIF LAM MIM) pendahuluan dari Surat Lukman itu  ???.

 

  1. 4. Buya memandang beruntunnya bencana di negeri ini, merupakan peringatan atau azab Allah? Apa konsekuensi dari masing-masing jenis ini?

Alhamdulillah, Umat Muhammad tidak serta merta di azab oleh Allah sebagaimana ketika umat terdahulu mendapatkan azab tersebab perbuatan dosa mereka. Lihat saja betapa Umat Nabi Luth di himpit oleh tanah, sehingga mereka hilang ke dalam perut bumi. Umat Ad dan Tsamud yang dibinasakan dengan bencana gempa serta angin puting beliung. Bangsa Saba dengan angin gurun yang kering, sehingga tanah mereka menjadi kering kerontang. Umat Nabi Musa yang menjadi terpecah belah dan menjadi bangsa yang berperang sepanjang masa. Umat Nabi Nuh tenggelam air bah dan tsunami.

Alhamdulillah, umat Muhammad masih diberi ujian dan cobaan. IMTIHAN dan FITNAH. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dengan bertaubat dan kesalehan.

Allah masih mengampuni kesalahan umat Muhammad. Betapapun besar dosanya, selama mereka mau bertaubat. Taubaatan Nashuha, artinya mengubah perangai, membenci kesalahan, membenci perbuatan dosa. Kemudian mengikuti keburukan lalu dengan  kebaikan, di masa ini dan masa datang.

Artinya ada recovery terhadap jiwa dan keimanan.

Dan ini dapat dilakukan terus menerus. Tidak hanya sekali sekali saja ketika Ramadhan datang. Kemudian menjadi jalang lagi kalau Ramadhan telah pergi. Atau menjadi  shaleh ketika pergi umrah dan menjadi Thaleh (calih, bhs.Minang) artinya khianat sesudahnya.

Hendaknya jangan dijadikan agama sekedar pakaian selebriti. Dakwah seperti tontonan. Menjauh dari tuntunan Allah dan Rasulullah.

Hanya satu dosa yang tidak pernah diampuni oleh Allah. Musyrik.

Musyrik bisa jadi Khafiy (tersembunyi) yakni RIYA, atau beramal semata hanya ingin dilihat dan dipuji oleh orang banyak, artinya hilangnya kesalehan dalam arti sesungguhnya.

Mungkin dari titik ini kita mengundang bencana.

  1. 5. Apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam yang awam dalam ilmu agama? Minang terkenal dengan adat basandi syara, syara basandi kitabullah. Kecil disurau besar merantau, bagaimana realitanya?

Kembalilah kepada ajaran agama yang benar. Kembalilah kepada ajaran Alquran dan Sunnah. Artinya jangan hanya dijadikan agama itu pakaian di surau atau masjid saja. Bawalah  ajaran agama itu di dalam berjual beli di pasar (jujur, amanah, tidak menipu, menjaga kualitas). Jangan terjadi hendaknya karena ada kesempatan kita mengambil keuntungan besar di saat orang lain sempit. Perangan ini bukan poerangan orang yang mengamalkan ajaran agama dengan benar.

IMG_3211

Bawa jugalah agama itu kesekolah-sekolah dan kantor kantor. Tampaknya setiap kantor dan sekolah kini sudah punya sarana ibadah. Ada masjid ada mushalla. Ada pula guru agama. Tetapi ketika datang panggilan shalat, kita abaikan. Masjid dan mushalla yang dibangun hanya menjadi monument, menandakan dinegeri itu ada umat Islam, walaupun tidak pernah diramaikan untuk kegiatan shalat.

Ada kebisaaan baik kini, kalau terdengar adzan, orang diam dan tafakur sejenak. Rapat-rapat dan meeting diam seketika. Kenapa tidak diskos saja untuk beberapa menit. Pemimpin rapat dari semua tingkatan itu, semestinya menyatakan kita shalat dulu. Nanti selesai shalat kita sambung lagi. Mari kita belajar kepada rapat-rapat kabinet dan di saat pertama kita akan atau sudah merdeka. Shalat kita pelihara dengan baik, walau pengeras suara belum ada. Walau masjid mushalla baru amat sederhana. Dari sisi ini kita tidak dapat mengatakan bahwa kita sudah maju, walau 63 tahun telah kita lalui. Kita jadi mundur.

Dalam cara berbakti juga begitu.

Berapa banyak harta yang rela dikorbankan. Emas perak dan perhiasan yang ditanggalkan. Semuanya untuk perjuangan kemerdekaan. Tidak ada harap balas dari pemerintah masa itu. Yang ada hanya harap balas dari Allah semata. Ini namanya kesalehan peribadi yang membekas kepada kesalehan social. Kini sebaliknya yang terjadi. Orang tidak mau berbuat banyak bagi umat dan lingkungannya.

Ketika musibah datang banyak sumbangan datang. Banyak pula penjarah berkembang. Banyak pula merek ditempelkan. Agar mendapat sanjungan dan pujian dari khalayak ramai. Hilang keikhlasan. Hendaknya jangan terjadi, musibah dijadikan ajang kampanye, pilihlah kami. Bila ini terjadi musibah dalam bentuk lain akan dituai pula.

Banyak kita yang sudah meninggalkan kearifan berbangsa dan bernegara dalam bimbingan etika agama (Akhlaqul karimah). Banyak pula yang menggantinya dengan semata mengharapkan pamor dan pujian. Ini juga akan menuai musibaha satu ketika. Na’udzuibilah min dzalik.

  1. 6. Apa yang harus dilakukan oleh penguasa di negeri ini?

Ikhlaslah, jujurlah, dan amanahlah di dalam menunaikan tugas berat ini. Jika semua itu dapat dilakukan, Insyaallah kemashalahatan umat akan terjaga, Negara akan aman sejahtera, baldatun thayyibah wa rabbun ghafuur.

  1. 7. Apa karena umat Islam terus diperangi, (terorisme) sehingga alam pun protes

IMG_3282

Pertanyaan ini melantur dari jalurnya.

Umat Islam itu tidak teroris.

Kata-kata teroris adalah kata import.

Sumbernya tidak jelas produk siapa.

Bila terror diartikan fasad, maka Alquran tegas melarang fasad ini.

Kata-kata jihad pun perlu diterjemahkan secara lurus dan benar.

Arti  jihad itu semata adalah kesungguhan di jalan Allah.

Li I’laa I kalimati l-Llah.

Semata upaya meninggikan kalimat Allah.

Jihad tidaklah menghancurkan orang lain.

Jihad bukan membunuh.

Teror kalimat berasal dari mana??? .

  1. 8. Komentar Buya terhadap bantuan dari luar negeri, dari minang perantau dan dari umat Islam sendiri?

 

Bantuan dari Luar negeri dan dari perantau itu bagus. Dan ini membuktikan bahwa  kesetiakawanan kita tumbuh dengan sempurna dan baik. Bayangkan saja ketika gempa terjadi di Sumbar jam 17.16 WIB. Pada waktu subuh besoknya, dua helicopter dari Swiss sudah masuk ke Padang. Mereka datang dengan peralatan pemantauan korban yang canggih. Kita belum punya itu. Kemudian datang pula bantuan lainnya, dari Korea, Jepang dan sebagainya. Mereka datang dengan transportasi cepat tanggap. Alhamdulillah, tandanya persaudaraan terjalin baik antar bangsa. Adakah kehadiran ini satu yang salah? Rasanya tidak salah. Sementara kita semua masih takut dan trauma.

Cuma sayangnya kita belum siap menerima tamu. Banyak cerita mengenaskan dan mencemaskan terjadi. Sehingga orang yang harus membantu terpaksa harus bayar dengan harga yang tinggi di Bandara. Ini kabar cerita yang berkembang. Sewa kenderaan membubung tinggi. Memang ada juga yang mencari kesempatan di dalam kesempitan yang dialami orang lain. Perbuatan ini sebenarnya perbuatan terlaknat. Di mana salahnya ??? Karena pendekatan kita selama ini pariwisata. Buka kesantunan manusiawi. Bukan kemuliaan berbangsa. Di sini letak salahnya.

BBM memang sulit dicari. Tapi ada juga orang yang menjualnya sampai harga 20.000 rupiah perliter. Artinya lebih dari 4 kali lipat harga bisaa. Ini perbuatan terkutuk. Tidak menggambarkan sikap beragama yang benar. Apalagi akan memakaikan kata adat bersendi syarak. Walau yang melakukan itu belum tentu orang Minang. Sebab pedagang itu tidak semuanya dan  selamanya orang Minang. Ada juga dari suku lainnya. Tetapi karena terjadinya di tanah Minang, yah .. akibatnya ranah ini jadi robek menderita fisik dan pencitraan.

Air PAM sulit, listrik mati, akibat gempa. Tapi ada juga masjid yang pintar. Yang memerintahkan dibuka 24 jam. Menghidupkan genset masjid terus menerus. Memompa air sumur. Menyediakan air minum untuk penduduk lingkungan. Walau secara berkecil-kecil mereka telah berbuat.

Nampaknya sisi buruk dan baik selalu ada dalam kehidupan. Masyarakat yang arif, tidak semata melihat dari kacamata buruk saja. Masyarakat yang cerdas tidak pernah menggeneralisir yang buruk di tengah yang baik itu. Lihat jugalah perbuatan baik yang telah dilakukan.

Di antaranya mengumpulkan bantuan dari mana saja. Membagikannya sampai ke daerah terpencil. Di Sumatera Barat kini, 7 kabupaten/kota amat parah menderita. Seperti Kota Padang ( 11 Kecamatan), Kota Pariaman (Utara Tengah,Selatan), Kab. Padang Pariaman (17 Kecamatan, 71 desa), Pesisir Selatan (12 Kecamatan), Pasaman barat, Pasaman, Agam (Tanjung Mutiara, Tg.Raya,Manggopoh, Palembayan,Malalak). Semuanya terjadi pada saat bersamaan. Hanya beberapa menit dan detik saja. Umat jadi kalut. Anak-anak menangis meraung. Gedung runtuh. Rumah terban. Negeri ditimbun longsor  di Tandikek. Lebih 1.434 Masjid/Mushalla rubuh. Rusak berat dan ringan. Lebih 100 pasar yang hancur. Lebih 206.500 bangunan dan rumah yang hancur. Sebanyak 715 orang meninggal. Lebih dari 2500 orang luka berat dan ringan serta yang hilang atau mengungsi. Berat penderitaan umat. Ini terjadi Seketika. Sekejap mata. Bagaimana mengatasinya ????

Undangan KMII Tokyo 004

Dalam kondisi seperti ini maka bantuan amat diperlukan. Sangat berguna. Pandai pandailah berterima kasih. Ini adalah pelajaran besar. Ini adalah latihan besar. Kesatuan bangsa. Kegotong royongan.  Asa antakrahuu syai-an wa huwa khairun lakum … mungkin yang buruk menimpamu ada hal baik di balik itu.

Husnudz-dzanlah kepada Allah. Nah, jika terjadi kelambatan, anggaplah itu satu hal yang wajar. Mungkin saja, karena yang membantu, juga ada di dalam kesulitan yang sama.

  1. 9. Apa menemukan Kristenisasi di tengah gempa?

Selama ini belum terlihat. Mudah-mudahan tidak ada. Sungguhpun begitu harus hati-hati juga. Karena kada l-faqru an yakuuna kufran. Kefakiran sering membawa kepada kekufuran.

Tapi ada koreksi jauh terhadap umat Islam ini. Ketika umat Islam kurang berkeinginan membantu. Maka jangan disalahkan, kalau orang diluar Islam lebih banyak berbuat, dan mereka akan mendapat pujian. Ketika orang diluar Islam banyak berbuat, maka “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah”.

Sebenarnya kekuatan umat Islam itu ada pada kebersamaan. Saling sedekah, saling meringankan beban orang lain. Man salimal muslimun min lisanihi wa bi yadihi. Kalimat ini sering disebut, tetapi mulai lemah dalam pengamalannya.

Semestinya umat Islam harus berani mengatai dirinya. Memulai dari yang lemah. Menghidupkan saling membantu.

(JPEG Image, 315×445 pixels)Buya Khutbah

Ruhul infaq kita mulai hilang pula. Musibah sering terjadi ketika manusia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya. Takut hartanya habis jika bersedekah. Manusia menjadi kikir. Bersedekah justru membawa keberkahan, menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkab seseorang terhindar dari musibah.

Seseorang yang senang bersedekah  itu akan dicintai. Dibela dan didukung usahanya oleh masyarakat. Seseorang yang kikir, enggan bersedekah untuk kepentingan ummat, menyebabkan ia dibenci. Dijauhi, serta didoakan jelek oleh masyarakat. Kekikiran (kebakhilan) membuka jalan bagi datangnya musibah. Rasulullah SAW bersabda: Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani), dan juga Allah SWT berfirman: Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Sering Bantuan hanya diberikan kepada kelompok kita saja.

Persis seperti disindirkan Allah di dalam Alquran, kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun … Mereka lebih mementingkan kelompoknya saja …

Ini juga perlu diawasi.

Pada hal semua umat Islam harus tahu akan kaedah  man lam yahtamma bi amril muslimin fa laisa minhum. Artinya yang tidak mau tahu dengan urusan sesama muslim, sebenarnya mereka tidak pantas digolongkan ke dalam kelompok muslim itu ….

10. Banyak masjid dan sekolah Islam roboh demikian pula lembaga-lembaga Islam Konsep dakwah ke depan idealnya seperti apa?

IMG_3148

Bangun kembali. Jangan berhenti  tangan mendayung. Mulai dari apa yang ada. Bawa umat kembali kepada ajaran agama. Jangan jadikan dakwah sekedar event pengisi acara di televise, atau program selebriti. Ajarkan kembali akhlaqul karimah. Menjadi pekerjaan utama Diknas dan Depag. Depag jangan hanya focus kepada urusan haji saja. Urusan shalat juga menjadi kerjaan Depag dan para ulama di negeri ini. Urusan membangun keluarga jannah mulai dengan perilaku yang santun, mulia dan saling membantu. Tidak mungkin masyarakat akan dapat dibangun kalau akhlaq dilupakan.

Anggaran Negara bukan hanya teruntuk pendidikan sekuler, IT, dan keterampilan saja. Utamakan akhlaqul karimah. Dari sini akan bangkit masyarakat kuat.

Berkaitan dengan gempa. Gempa tidak pernah membunuh. Cuma yang banyak membawa celaka itu adalah bangunan yang dibangun tidak menurut aturan.

Di Ranah Minang, di Mandailing, bangunan-bangunan tradisional tidak rusak dan runtuh. Rumah gadang tetap utuh. Kenapa ?? Karena ada soko gurunya. Ada tiang tuanya.

Begitu juga dakwah mesti ada soko gurunya.

Soko guru dakwah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Perlu ada ulama yang teguh, istiqamah, qanaah, dan ikhlas mencari redha Allah.

 

11. Hubungan Manusia dengan alam, manusia serakah mengeksploitasi alam ?

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَولاَنَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami  melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51)

Musibah merupakan ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan kedatangannya, baik ujian kehilangan harta benda, kecelakaan, maupun kematian, baik ujian itu besar maupun kecil. Meskipun demikian, ujian itu tetap datang kepada setiap manusia, kapan saja dan di mana saja. Walaupun manusia lari dari musibah itu, iapun tetap datang menghampirinya. Setiap musibah, dalam kaca mata “iman” adalah takdir atau ketentuan Allah. Segala sesuatu yang terjadi, semata atas izin dan ketentuan Allah. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapat terjadi.

IMG_3208

Musibah dapat datang karena manusia mengundangnya dengan melakukan perbuatan dan tingkah laku yang salah.

Musibah akan  ditimpa musibah, karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintah-Nya. Seseorang yang melupakan Allah, cepat maupun lambat, suatu saat musibah akan datang kepadanya. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44)

Musibah datang karena manusia berbuat kerusakan, seperti penebangan liar hutan dan lain-lain. Yang pada akhirnya akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjur, tanah lonsor dll.

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam. Tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak datang menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri, dalam satu siklus hidup yang aman dan menyejahterakan manusia sepanjang masa.

Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh)…. “ dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, — sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105).

Wassalam

 

Arnussa 1427 004
BIODATA

  1. 1. Nama Lengkap                      : H. MAS’OED ABIDIN
  2. 2. Tempat dan tanggal lahir   : KOTOGADANG, BUKITTINGGI, 11 AGUSTUS 1935
  3. 3. Alamat rumah                       : Jalan Pesisir Selatan V No..496, RT.03/RW.IX, Siteba,

Nanggalo, Padang (25146), Sumatera Barat , Indonesia.

  1. 4. Riwayat Pendidikan             : Thawalib Parabek (1947-1949), SMA Bukittingi (1957),

FKIP Medan (1963).

  1. 5. Pengalaman Organisasi       : Komda PII Tapsel (1961), Ketua Cabang HMI

Sidempuan – Medan (1963-1967), Dewan Dakwah islamiyah Indonesia Padang (1967-1990), Koordinator Dakwah Mentawai (1990 – 1997), Ketua Dewan Dakwah Sumbar (1997-2008), Ketua MUI Prov. Sumbar Bidang Dakwah (1999-2008), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (2000-2007), Ketua Umum Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Padang (2001 – sekarang)

  1. 6. Riwayat Pekerjaan              : Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan

Minangkabau (PPIM) (2001-2006), Ketua Umum BAZ – Badan Amil Zakat – Prov. Sumbar (2001-2008), Ketua Umum FKDM – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (2007 – sekarang), Ketua Dewan Penasehat MUI Prov. Sumbar (2008 – sekarang).

  1. 7. Pengalaman Dakwah                       : Sejak 1968 ikut dalam kepanitiaan Pembangunan BK

Ibnu Sina Yarsi Sumbar di Bukittinggi, dan sampai sekarang menjadi salah seorang Dewan Pemdina Yarsi Sumbar .

Sampai tahun 1997 membidangi Dakwah di Mentawai.

Mulai 1970 hingga 1997 membidangi Dakwah di daerah sulit di Pasaman Barat, Sitiung dan Lunang Silaut.

Hingga sekarang tetap mengkordinir dai di Mentawai, Sitiung dan Lunang.

Selain berdakwah ke daerah-daerah di Sumatera Barat, dan nasional, seringkali memberikan materi pada penataran dan symposium Regional dan Nasional, terutama dalam bidang dakwah Islam, dan Budaya Minangkabau, serta kaitannya dengan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat.

Mulai 2000 sering diundang berdakwah ke Tanah Semenanjung, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia dan terakhir pada Juli 2009 diundang oleh KMII Jepang bekerja sama dengan Kedubes RI di Tokyo untuk memberikan dakwah di Tokyo dan sekitarnya.

Undangan KMII Tokyo 046

  1. 8. Karya tulis / buku Islam yang pernah ditulis :
    1. ISLAM dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Abadi, Jakarta – 1997,
    2. Dakwah Awal Abad, ISBN: 979-95980-1-X, Mimbar Minang, Padang – 2000.
    3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, ISBN: 979-95980-5-2, Mimbar Minang, Padang – 2001
    4. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan ABS-SBK di Minangkabau, ISBN 979-95980-9-5, Mimbar Minang, Padang – 2002.
    5. Pernik Pernik Ramadhan, ISBN: 979-95830-6-3, Mimbar Minang, Padang – 2002.
    6. Implementasi ABS – SBK, ISBN: 979-3797-06-1, PPIM, Padang – 2004.
    7. Silabus Surau, ISBN: 979-3797-03-7, PPIM, Padang – 2004.
    8. Surau Kito, ISBN : 979-3797-07-X, PPIM, Padang – 2004.
    9. Adat dan Syarak di Minangkabau, 979-3797-08-8, PPIM, Padang – 2004.

10. Ensiklopedi Minangkabau, ISBN : 979-3797-23-1, (Pen.Jawab/Kontribusi), PPIM, Padang – 2004.

11. Taushiyah Mohamad Natsir, Singalang Press, Padang – 2009.

 

 

 

 

 

 

 

03
Agu
09

Di bawah Kubah Hijau ini di Masjid Nabawi berkubur Muhammad Rasulullah SAW

20
Jun
09

Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)

 Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Untuk Membangun Manusia dan Masyarakat Minangkabau

Yang Unggul Dan Tercerahkan

 

 Puncak gonjong Rumah Gadang

 

ABS SBK Merupakan Batu Pojok Bangunan Masyarakat Minangkabau Yang (Dulu  Pernah) Unggul Dan Tercerahkan

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan   (Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di awal abad ke 19) dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik bersenjata yang melelahkan.

Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa (JPEG Image, 227×269 pixels) Buyaangkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik) yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. 

Mereka merupakan ujung tombak kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke 20, serta dalam upaya memerdekakan bangsa ini di pertengahan abad 20.

Sebagai kelompok etnis kecil yang hanya kurang dari 3%  dari jumlah bangsa ini, peran kunci yang dilakukan oleh sejumlah tokoh besar dan elit pemimpin berbudaya asal Minangkabau telah membuat ”Urang Awak” terwakili-lebih (”over-represented”) di dalam kancah perjuangan dan  kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Rumah gadang Minang

Alhamdulillah, Minangkabau sebagai  kelompok etnis kecil pernah berada di puncak piramida bangsa ini (”the pinnacle of the country’s culture, politics and economics”). Putera-puteri terbaik berasal dari budaya Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”suluah bendang”) bangsa Indonesia ini.

 Group Ulama & National Businees-2

ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan sosial budaya yang melahirkan kelompok signifikan  manusia unggul dan tercerahkan. ABS-SBK dapat diibaratkan ”Surau Kito” tempat pembinaan ”anak nagari” yang ditumbuh-kembangkan menjadi ”nan mambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan  bagak manantang mato ari, jo nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik beko masuak Sarugo  ”.

Masjid Gantiang Padang

Namun, ”kutiko jalan lah di alieh urang lalu” dan ”alah lupo kacang di kuliknyo”, maka robohlah ”Surau Kito”. Dan beginilah sekarang nasib atau bagian peran yang berada di tangan etnis Minangkabau yaitu hanyalah sekadar ”nan sayuik-sayuik sampai” atau nyaris tak terdengar. Para penghulu ninik mamak, para ulama suluh bendang, dan para cerdik cendekia, menjadi sasaran keluhan dan pertanyaan umat banyak.  

 Kota Tua di Muara Padang

Kota Tua di Sehiliran Batang Harau, Muara Padang – setua itu pula adat – yang bersiap akan dimasukkan  ke dalam  Museum, bila adat budaya yang luhur dengan nilai nilai syarak itu tidak  dipakai lagi oleh etnis Minangkabau…. atau adat dan syarak itu akan menjadi seakan ngarai yang runtuh ……,

Lambah di Ngarai Sianok

yang hanya akan dapat dinikmati dalam pandangan tapi tak akan mampu dimasuki karena generasi dari Masyarakat Adat Minangkabau itu sendiri sudah menjauh dari nilai-nilai adat istiadat leluhur mereka.

Panorama Ngarai Bukittinggi

 

 

 

Masyarakat Madani Minangkabau adalah Masyarakat Yang Beradat Dan Beradab

DSC05895 

Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”). Yang paling mendasar adalah ”meta-environmental system” yaitu tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).

Sawah selesai disabik

PDPH ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan  masyarakat.  PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal.

Rumah Adat Bukittinggi

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). 

Silek Kesenian anak Nagari Minangkabau

PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri  maupun bersama-sama. PDPH memberikan ruang (dan sekaligus batasan-batasan) yang merupakan ladang bagi pengembangan kreatif potensi manusiawi dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan.

Sirieh di Carano, mananti tamu tibo 

PDPH masyarakat Minangkabau yang dahulu itu (1800-1950) melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas” adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).  ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau  dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya.

Meta-environment yang dibentuk ABS-SBK sebagai PDPH membentuk lembaga pemerintahan ”tigo tungku sajarangan” yang menata kebijakan “macro-level” (dalam hal ini “adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat)  bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “anak nagari” Minangkabau.

Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan  sosial, budaya dan ekonomi  pada tingkat sektoral (meso-level) maupun tingkat perorangan (micro-level) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.  Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Minangkabau (dahulu itu, 1800-1950)  merupakan salah contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.

 Prosesi Minangkabau 023

 

 

Masyarakat Ber-Adat Yang Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

Danau Diateh dari Danau Dibawah

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaan dan memahami Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”, artinya kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

DSC03901

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas” yang  dikonstruksikan secara kebahasaan (”linguistic construction of realities”)  yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai Kato Pusako. Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat  se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.

 Gunung Merapi berselimut awan di sore hari

Sangat sedikit catatan sejarah dengan bukti asli/otentik tentang bagaimana sesungguhnya bentuk dan keberhasilan masyarakat Minangkabau di dalam menjalankan Adat yang bersendikan Nan Bana itu.  Sejarah yang dekat (dua tiga abad yang silam) menunjukkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Minangkabau banyak ditemukan praktek-praktek yang kontra produktif bagi perkembangan masyarakat seperti judi, sabung ayam dan tuak dan lain-lain. Sejarah sebelum ABS-SBK juga belum mencatatkan peran signifikan tokoh-tokoh berasal budaya Minangkabau yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

 MesjidKuno_2

Sebaliknya, sesudah ABS-SBK, terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. Bagaimana gejala itu bisa diterangkan?.

 CapRaja

Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat Ber-Adat yang bersendikan Nan Bana,  Nan Badiri Sandirinyo. Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas lewat jalur kebahasaan, hasil penerapannya di dalam kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan  satu-satu” (”one-to-one relationship”) atau sama sebangun dengan Realitas yang sebenarnya (Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu). Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai Peta Realitas serta Petunjuk  Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu. Kekurangan utama yang menjadi akar dari segenap kelemahan yang terperagakan itu adalah ada bagian dari Peta Realitas itu yang ternyata tidak sama sebangun dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Tuanku Imam Bonjol

Kekurangan utama (Peta yang tidak sama sebangun dengan Realitas) itu melahirkan beberapa kekurangan. Kekurangan turunan pertama adalah Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas tidak dilengkapi dengan Pedoman dan Petunjuk yang memadai tentang bagaimana ia seharusnya digunakan. Peta yang tidak dilengkapi dengan bagaimana menggunakannya secara memadai adalah tidak bermanfaat, malah dapat menyesatkan. Kekurangan selanjutnya, tidak dilengkapinya Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas itu dengan  Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  yang memadai. Peta tanpa petunjuk jalan yang memadai tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kekurangan selanjutnya, Adat yang menjadi Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  itu  tidak dilengkapi dengan pedoman teknis perekayasaan perilaku (”social and behavioral engineering techniques”) yang memadai sehingga rumus-rumus dan resep-resep pembentukan masyarakat sejahtera berkeadilan berdasar Adat Minangkabau tidak dapat diterapkan.

Pacu Jawi bukan Karapan Sapi

 Akar segala kekurangan serta sebab-musabab segala kelemahan berupa ketidak-lengkapan serta kurang-kememadai-an itu adalah  ketiadaan “hubungan satu-satu”  antara Peta Realitas dengan Realitas itu sendiri atau Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Ummat

Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo”.  Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK). 

Ketika Adat hanya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo,   ada yang kurang dan hilang dalam tali hubungan keduanya, yaitu antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu yang kita urai-jelaskan tadi.

H. Agus SalimDengan diproklamasikannya Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan Nan Bana, Nan Sabana-bana Nan  Bana, Nan Sabana-bana Badiri Sandirinyo.

 

Kitabullah adalah Al-Quran.

Al Qur’an mengurai-jelaskan segala sesuatu  “tafshiila li kulli sya’iin” (Surat 12, Yusuf, ayat 111), atau dengan perkataan lain “Peta Realitas Lewat Kebahasaan” yang pasti memiliki hubungan satu-satu atau sama sebangun dengan Realitas itu (“al-haqqu min amri Rabbika”, Al Qur’an Surat al Baqarah. ). 

Al Quran Masjid Nabawi 1

Al Quran adalah juga  Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184).

 

Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah menurut Teladan Nabi Muhammad  s.a.w. (atau Sunnah Rasulullah) telah mentransformasikan masyarakat Jahiliyah empat belas abad yang lalu menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang tujuh dari abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Quran telah mendominasi Dunia Beradab. Kekalahan dan keterpinggiran yang terjadi sampai hari disebabkan berbagai faktor yang utamanya karena meninggalkan ke dua panduan hidup itu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. (Taraktu fi kuum amraiin, Al Quran wa sunnaturarasuul,……. al hadith, riwayat …………………….).

DSC06120 

Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit  penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme  dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

 DSC06134

 

 

Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad  Mutakkhir

 Ruah Adat Minangkabau

Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Dalam satu sudut pandang, krisis budaya Minangkabau  menggambarkan krisis  yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf  atau Millennium ke Tiga ini. Salah satu isu yang menjadi kehebohan Dunia akhir-akhir ini adalah isu Perubahan Iklim (“Climate Change”). Perubahan Iklim telah dirasakan sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan/keberlanjutan keberadaan Umat Manusia di bumi yang hanya satu ini. Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia yang memengaruhi lingkungan sedemikian rupa sehingga mengurangi daya-dukungya sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia.

Inyiek Canduang Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”. Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi  telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia. Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“irreversible”) terhadap alam itu sendiri.  Dan ternyata, Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.

 

Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed. ZulverdiDari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab. Kemungkinan pertama,   mungkin Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang tidak mampu memperkirakan terlebih dahulu apa yang sekarang telah menjadi Perubahan Iklim yang tidak dapat balik itu. Dengan perkataan lain Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang  ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata. (Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah dimana “ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.

 

Mohd. HattaKemungkinan kedua, para ilmuwan telah “lebih dahulu  memahami apa yang bakal terjadi”, namun tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk merubah perilaku manusia dan masyarakat.  Jadi, Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat. Singkat kata, apa yang ada dalam benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme) yang menjadi kesadaran kolektif yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH)  mereka ternyata tidak sama sebangun dengan Realitas. Dengan begitu, ketika PDHP itu menjadi acuan perilaku serta kegiatan perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.

 

M. NatsirManusia moderen sangat berbangga dengan berbagai isme-isme yang dikembangkannya serta meyakini kebenarannya di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Millennium atau Alaf Ketiga ini. 

 

Jika kita merujuk kepada Kitabullah, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan ;

DSC03900 

“…..Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia” (Al Qur’an Surat… Ayat…….).  Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu

 

Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah penyembahan berhala, berupa ilmu ataupun isme-isme yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat.  Salah satu ayat dalam Al-Qur’an Surat 12, Yusuf , Ayat 40, sebagai berikut

 “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS 12, Yusuf : 40).

 

Ibrahim Tan MalakaKeyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan khayalan manusia saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.

 “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS.45, Al Jatsiah : 23).

 

 “ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, (QS25, al Furqan : 43)

 

 “ …. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” (QS.28 : 50)

Rumah Adat e. Datuak Batuah di Kamang 

Dengan keterbatasan itu bagaimana manusia mungkin meneruka jalan keselamatan di alam semesta, paling tidak dalam  menjalani kehidupan di Dunia ini.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia tidak ditinggalkan di dalam kebingungan.

 

(Rujukan Al Qur’an…………………. Surat………………).

Diturunkanlah para Rasul dengan membawa Kitab Suci, yang paling terakhir Al Qur’an sebagai  Peta Realitas serta Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram dalam menjalani hidup di bumi yang fana ini.

 

Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.  Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka.

 

Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara ABS-SBK sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan  kenyataan kehidupan sehari-hari. Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Mencetak  SDM Unggul Yang Tercerahkan Yaitu  Para Ulul Albaab.

 

Siapakah manusia unggul yang tercerahkan itu. Barangkali konsep yang menyamai serta t digali dari Al-Qur’an  adalah para “Ulul Albaab”. Dalam Surat Ali Imran, Surat ke 3, Ayat 190 s/d 194 , disebutkan sebagai berikut

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(3:190).(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(3:191).Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.(3:192).Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.(3:193)Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”(3:194)

 

Dahlan DjambekBagi para “uluul albaab” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda.  Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat makna yang berada disebalik tanda itu. Proses menjawab pertanyaan itu disebut berpikir yang terarah.  Hasil berpikir adalah pikiran tentang sebagian dari kenyataan. Dengan perkataan berpikir akan menghasilkan semacam “peta bagian kenyataan” yang dipikirkan.

 

Hikmah yang dikandung Al-Qur’an hanya dipahami oleh “ulul albaab” yaitu  mereka yang mau berpikir dan merenungkan secara meluas, mendalam tentang apa yang perlu dan patut dipahami dengan maksud agar  mengerucut kepada beberapa simpulan kunci.

Batagak Pangulu di Kotogadang

Para “ulul albaab” adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam dirinya zikir dan fikir menyatu.  Zikir disini bukan sekadar mengingat Allah s.w.t dengan segala Asmaul-Husna-Nya, tapi harus dipahami lebih luas sebagai hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah s.w.t dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya. Fikir berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk dan Ajaran Allah s.w.t. sebagaimana diurai-jelaskan oleh Al-Qur’an serta ditafsirkan dan diterapkan oleh Rasullullah lewat Sunnahnya sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah).

 

Simpulannya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. 

Rumah gadang di Bukittinggi

Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “ulul albaab” sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako “Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di  Akhiraik Beko Masuak Sarugo“. 

 

 

 

GAMBARAN BUDAYA  MINANGKABAU

SEBELUM DAN SESUDAH ABS-SBK

 

Usulan bagi Satu Pendekatan

 

 

 

Sebelum peristiwa Piagam Sumpah SatieBukik Marapalam, budaya Minangkabau dapat digambarkan lewat diagram di bawah ini.

 

 

 

Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo  termasuk Alam Terkembang yang menjadi Guru.  Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja, termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah Adat Minangkabau. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)  kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.  Di samping itu, pengaruh kepercayaan lama serta Hindu dan Budha telah mewarnai tata-cara dan praktek penyembahan yang kita belum memiliki catatan yang lengkap tentang itu.

 DSC05847

Konsep dasar PDPH (Adat Nan Sabana Adat) itu diungkapkan lewat Bahasa, terutama Bahasa Lisan (Sesungguhnya Minangkabau pernah memiliki tulisan berupa adaptasi dari Huruf Pallawa dari India  (pengaruh  agama Hindu/Budha). Keseluruhan pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang berisikan gagasan-gagasan bijak itu dikenal sebagai Kato Pusako. Kato Pusako itu yang kemudian dilestarikan secara formal lewat pidato-pidato Adat dalam berbagai upacara Adat. Sastera Lisan juga merekam Kato Pusako dala kemasan cerita-cerita rakyat, seperti Cindua Mato, dll.

 

PDPH Masyarakat Minangkabau juga diungkapkan seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan galombang). Benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong) serta artefak lain-lain mengungkapkan wakil fisik dari konsep PDPH Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna.

ARAKAN

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaurhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat.

 

 DSC05879

 

 

 

 

 

Peristiwa yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau.  Tampaknya dahulu itu tekah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.

Manatiang sirih jo carano 

ABS-SBK sekarang menjadi  konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako.  ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. 

 

Barangkali langkah  yang perlu kita lalui adalah:

1)     Kompilasi

2)     Kategorisasi

3)     Kajian:

  1. Tema
  2. Aspek kehidupan perorangan
  3. Aspek-aspek kehidupan masyarakat
  4. Simpulan: Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup Dasar Masyarakat

(Bagaimana Adat Minangkabau menyatu-padukan aplikasinya dengan Kitabullah atau bagaimana Islam diamalkan dalam konteks budaya Minangkabau)

H Mas’oed Abidin, Jalan Pesisir Selatan V/496, Padang , Sumbar – Indonesia

06
Jun
09

KHAUF … atau rasa takut kepada Allah … Modal Utama seorang memimpin dirinya dan bangsanya ….

(JPEG Image, 315×445 pixels)Buya KhutbahOLEH : H. MAS’OED ABIDIN
 
Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan
menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga
dilaksanakan dengan agama.

Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,
sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka
dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki
yang Kami berikan kepada mereka”
(Q.S. As Sajadah: 16)

Kata khauf yang berarti takut,
telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali,
dan sinonimnya yaitu kata “Khasy-syah” ….
yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali.

Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian,
yang harus ditempuh manusia.
Firman Allah tentang hal tersebut:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah Allah — Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya,
dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al Mulk: 2)

Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan
dan kecenderungan alami
yang bersemayan di dalam hati manusia,
dan memiliki peran penting
dalam kehidupan kejiwaan manusia.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“MAN KHAAFA AAMANA”,
barangsiapa yang takut, aman!”

Kalau kita tidak takut hujan,
kita tidak akan sedia payung,
bila kita tidak takut sakit
kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.
Bila kita tidak takut negara rusak,
maka kita tidak perlu memilih pemimpin yang baik …

Islam tidak memandang rasa takut
yang ada dalam diri manusia
sebagai aib yang harus dihilangkan.

Namun demikian,
rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk
apabila seseorang tidak mampu mengatur
dan menyalurkan rasa takutnya,
apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan,
penghambat kebebasan mengamalkan sunnah,
dan terbiarkan kehormatan dirinya rusak.

Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita:
“Kalau anda bertekad melakukan sesuatu,
maka arungilah ……
Karena bayangan bencana ….
terlihat lebih besar dari yang sebenarnya.

” Jadi sesungguhnya menunggu datangnya sesuatu,
tanpa bertsiap dan berbuat
sebenarnya lebih buruk dari sesuatu yang ditunggu itu sendiri.

Karena itu lebih baik kita melakukan persiapan
dan menyusun kekuatan bathin
menghadapi sesuatu yang akan datang.

Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut
yang timbul pada jiwa para rasul
dan juga pada diri hamba-hamba Allah yang shaleh,
meskipun mereka adalah manusia pilihan
yang terkenal suci dan bersih.

Allah SWT berfirman,
menceritakan peristiwa keluarga Musa Alaihis-salam,
ketika menghadapi kekejaman Fir’aun,
yang membunuhi setia[ anak-anak lelaki yang lahir,
karena takut ….
jika generasi yang lahir itu,
akan mengubah kekuasaan
yang selama turun temurun,
telah berada di tangan titisan Fir’aun itu …

Maka ketika Musa lahir,
yang memang dipersiapkan Allah
untuk menggantikan kekuasaan Fir’aun …,
kepada ibu Musa di ilhamkan oleh Allah Ta’ala…
sebagai berikut :

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
“Susukanlah dia,
dan apabila kamu takut (khawatir) ….
maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil).
Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati.
Karena sesungguhnya …
Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”
(Q.S. Al Qashash : 7)

Takut (al khauf) adalah masalah yang berkaitan
dengan kejadian yang akan datang.

Seseorang hanya merasa takut
jika yang dibenci tiba …
dan yang dicinta sirna.

Khauf merupakan salah satu syarat iman
dan kerelaan melaksanakan hukum-hukumnya.

Takut kepada Allah adalah rasa takut
yang semestinya dimiliki setiap hamba.

Karena rasa takut itu
mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan
dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa
adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya.
Dengan adanya rasa takut,
timbul rasa harap (rajaa’) akan maghfirah (ampunan),
lahir harapan tentang ‘inayah (pertolongan),
serta rahmat Allah dan ridha-Nya.

Sehingga hakikat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”
benar-benar terpatri dalam qalbu seorang hamba.

Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah,
maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula
akan ancaman azab yang Allah sediakan
bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Ma’rifah (pengetahuan) akan sifat Allah
akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.

Seorang hamba yang shaleh,
berma’rifatullah,
dan merealisasikan hakikat kehambaannya
dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya
dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya,
pasti akan memilki rasa takut yang mendalam
terhadap azab yang mengancamnya.

Sikap ini akan melahirkan selalu waspada,
sehingga tidak ada amal atau prilaku
yang mengarah kepada hal-hal …
yang menjadikan Allah murka
dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah.

Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut
akan siksaan hari yang besar
jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
(Q.S. Az Zumar: 13)

Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu
merupakan salah satu perangai
yang diciptakan dalam diri manusia
untuk memotivasi mereka
dalam menyebarluaskan …
dan menjaga nilai-nilai Ilahy.

Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya
akan merasakan rahmat Allah,
baik dalam kehidupan duniawi
maupun ukhrawi.

Kita tutup dengan doa ;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْم

 Wassalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh …

Yulfi Indra Yulfi Indra pada 06 Juni 19:01 … “terimakasih update nyo buya.
mudah-mudahan bisa melekat di hati untuk selalu takut kepada Allah dan mempersiapkan diri didalam kehidupan yang hanya sebentar ini.

Abdurahman Salman  Assalamualaikum,  Alhamdulillah senang dan mudah-mudah jadi pegangan. terima kasih buya. wassalam …..  Abdurahman Salman pada 06 Juni 19:49
 
Eko Kritz Suharto  itulah masalahnya Buya….kalau semua pemimpin punya rasa takut kepada Allah …kan KPK nggak perlu diadain Buya ? hm ….  Eko Kritz Suharto pada 06 Juni 20:00
 
Abdurahman Alkatiri  syukron,. ….  Abdurahman Alkatiri pada 06 Juni 20:57
 
Bodhi Dharma  alhamdulillah buya, setelah baca ini kok rasa takut bertambah pada Allah SWT….  Bodhi Dharma pada 06 Juni 21:32
 
Susianti Annisa H  Assalamu’alaikum Buya!!!  Gmn kbr buya???  Mg Buya dalam keadaan shat wal’afiat…  Susi t’msuk salah sorang yang mengagumi sosok Buya….  Susianti Annisa H pada 06 Juni 21:36
 
Fatma Sj moga2 kt semua memp. rs takut yg dpt menambah imtaq kt spt rasul2 utusan Allah SWT.. Amin..!!   Fatma Sj pada 06 Juni 22:46

Copy of Picture 103

01
Jun
09

INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA … SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!

Renungan “Menjelang Dhuha” ……

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“ Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”
(Q.S. At Thahrim :

Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,
yaitu pengampunan dosa
dan penghapusan kesalahan.
Kenyataannya,
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.

Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:

“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”
(HR. Ahmad)

Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia
akan mengotori hatinya,
bagaikan noda hitam di atas kain putih,
tiada yang dapat membersihkannya
kecuali taubat.

Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang meminta ampun dari dosa
seperti orang yang tidak berdosa”.
(HR. Bukhari)

Dan Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri.”
(Q.S. Al Baqarah: 222)

Arnussa 1427 004

Sebenarnya syetan telah menipu
dan menjebak kita
dan memenuhi kehidupan kita,
dengan berbuat maksiat,
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,
menjauhkan kita dari jalan keselamatan
semua perdayaan syaitah itu,
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya
sehingga manusia terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan
hingga penuh berlumur dosa.  Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak ada kata putus asa
tidak ada istilah terlambat ..
dalam bertaubat
untuk menuju kepada Allah
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.

Allah adalah tuhan seluruh makhluk
yang menciptakan semuanya…
selalu menguji dan menyileksi amal
dan perbuatan hamba-hamba Nya….

Barangsiapa yang banyak dosanya
dan ia ingin bertaubat
maka pintu taubat selalu terbuka ….

Namun …
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu …

1. harus menghentikan maksiat …
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.

2. harus berniat sungguh-sungguh…
untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu
adalah berhubungan dengan hak manusia …
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini …

3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak
dengan meminta maaf kepadanya,
atau meminta kehalalan atau ridha…
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.

Di antara keutamaan yang didapat
oleh orang-orang yang bertaubat ialah …
Allah menyibukkan para malaikat-Nya
agar memintakan ampunan bagi mereka
yang bertaubat itu …
dan malaikat berdoa kepada Allah
mengharapkan Allah melindungi mereka
dari siksaan neraka jahannam,
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu
dari kejahatan dan kesalahan.

Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit
juga sibuk memintakan ampunan
bagi orang-orang yang bertaubat ….

Allah berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy
dan malaikat yang berada di sekelilingnya
bertasbih memuji Rabbnya …
dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun
bagi orang-orang yang beriman
(seraya mengucapkan),
Ya Rabb kami …,
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
maka berilah ampunan ….
kepada orang-orang yang bertaubat
dan orang yang mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka …
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.
Ya Rabb kami …,
dan masukkanlah mereka …
ke dalam sorga ‘And
yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan telah Engkau janjikan pula
untuk orang-orang yang shaleh
di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah …
yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana,
dan peliharalah mereka
dari (balasan) kejahatan …
Dan….,
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,
maka sesungguhnya
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar. ”
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)

Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah
yang mengabarkan diterimanya taubat
orang-orang yang bertaubat,
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,
yang tentunya dengan cara-cara tertentu
yang telah diberikan tuntunan
oleh Allah dan Rasulullah jua…

Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,
ampunan dan rahmat Allah,
yang tidak akan menyempit
karena keberadaan seseorang yang durhaka,
seperti apapun kedurhakaannya itu.

Terlebih lagi ….
orang yang bertaubat
dan juga memperbaiki diri …
serta beramal shaleh.

Tidak kurang dari sebelas tempat
di dalam Al Qur’an,
Allah mensifati diri-Nya
dengan sebutan at Tawwab
(Maha Menerima Taubat).

Kita akhiri pembahasan ini
di pagi ini menjelang dhuha ..
dengan firman Allah :
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang melakukan kejahatan
lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera …..
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang melakukan kejahatan
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,
barulah ia mengatakan,
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.
Dan tidak pula diterima taubat
orang-orang yang mati
sedang mereka dalam kekafiran.
Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)

Karena itu janganlah ada
di antara kita yang menunda taubat
hingga hari esok.
Karena maut itu
datang secara tiba-tiba.
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa
di mana dan bila saja,
waktunya ada…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :
“Bila kau berpulang ke alam baqa,
tidak membawa bekal taqwa,
kau lihat orang-orang yang membawanya
pada hari perhimpunan.
Kau akan menyesal,
karena kau tidak seperti mereka.
Mereka mempunyai persiapan
sedangkan kau tidak memilikinya.”

Allahu A’lam Bishshawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Danau Cimpago Padang
Semoga apa yg kita kerjakan, hendaknya diridhai oleh Allah Swt. Semoga buya sehat selalu dan bisa terus menyampaikan dakwahnya di fb ini… . FB tidak bersalah, tapi oknum2 yg berbuat tak senonoh yg merusak fb.. sehingga muncul fatwa haram. Lanjutkan terus buya…Edi Erwin pada 31 Mei 9:30
 
Alhamdulillah, terima kasih Buya… Hendy Damanik pada 31 Mei 9:41
 
ASSALAMUALIKM BUYA…. SALM KENAL….Lisna Ova pada 31 Mei 14:03
 
Terimakasih tausiahnya Buya, semoga Buya senantiasa sehat walafiat dan kami bisa terus mendapatkan tausiah dari Buya… Anita Kencanawati pada 31 Mei 14:15
 
Terima kasih buya atas pencerahannya.. mudaha-mudahan kita termasuk kedalam kelompok ummat yang selalu bertaubat, amiinn.. Nurlaila Zai pada 31 Mei 17:05
 
Terima kasih tausiahnya buya, semoga kita tetap menjadi umatNya yang senantiasa bertaubat memohon magfirahNya. Amiiiin. Subardini Adek pada 31 Mei 19:47
 
Terima kasih Buya atas dakwahnya. Manfaatkan terus Buya fasilas FB ini untuk berdakwah, sarana yang baik sekali tersedia untuk mengingatkan ummat yang selalu lupa bertobat, apalagi saat globalisasi sekarang, banyak orang melakukan hal yang tidak benar karena terdesak keadaan. Tanpa disadari sudah banyak berbuat kesalahan yang perlu diingatkan terus menerus. Semoga dakwah Buya ini dapat menyadarkan ummat yang sudah banyak melenceng. Amiiiin. Razali Nazir pada 31 Mei 21:34
 
Terimakasih Buya, notesnya telah memberikan pencerahan kepada kalbu saya. Semoga kami2 semua menjadi insan yang selalu berusaha untuk membersihkan hati dan diri dan tidak lupa selalu bertobat…amin.
Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa …terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti…wassalam. Intan Munajat pada 31 Mei 21:58
potonya indah sekali, dimana itu Buya? terimakasih.Intan Munajat pada 31 Mei 21:58
 
Terimakasih buya… Dyan sangat butuh penyejuk rohani seperti yang buya Tag kan ini…
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini. Jazzakillah Khair buya. Dyan Eka Putri pada 31 Mei 22:30
31
Mei
09

“TANGGUNG JAWAB DAKWAH SETIAP MUSLIM” …

 Tafakkur menjelang Qiyamul-lail ….

 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al HaramSiapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Fushshilat:33)

Ridwan Abdullah Wu, adalah seorang muslim Cina dari Singapura, beliau adalah Direktur World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dan juga ketua The Muslim Converts Association of Singapore. Beliau pernah mengatakan bahwa dakwah adalah “mengemukakan kepercayaan dan ajaran Islam kepada semua orang, apakah kaum muslim atau non muslim. Kepada non muslim itu pada dasarnya adalah memperkenalkan bahwa ada satu Pencipta, bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan bahwa manusia akan menghadap Tuhan di akhirat, kelak nan pasti…”.

Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz mengatakan bahwa dakwah merupakan keperluan masyarakat terkhusus bagi masyarakat muslim. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain ;

1. Manusia memerlukan orang yang bisa menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan hujjah atas mereka. Allah SWT berfirman: “ Wahai Nabi …, sesungguhnya Kami mengutusmu .. untuk jadi saksi dan pembawa khabar gembira .. dan pemberi peringatan …. dan untuk menjadi penyeru …. kepada agama Allah dengan izin-Nya… dan jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzab: 45-46)

2. Kondisi kehidupan yang diwarnai oleh kerusakan, ketamakan, dan hawa nafsu, sementara para pelakunya tetap menginginkan tersebarnya kerusakan tersebut di masyarakat.

3. Takut terhadap laknat Allah yang akan ditimpakan atas masyarakat yang tidak melakdanakan amar ma’ruf – nahi munkar. Sebagaimana yang telah menimpa bani Israil, pada masa dahulu … dan dapat dijadikan ‘ibrah masa kini …. Allah SWT berfirman: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu … disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas …. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Q.S. Al-Maaidah: 78-79)

Adapun tujuan dan aktifitas dakwah Islamiyah antara lain dapat disimpulkan sebagai berikut ;

1. Mengembalikan fitrah yang ada pada diri manusia.

2. Mengubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)

3. Mengubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)

4. Mengubah aktivitas menjadi keberhasilan (natijah)

5. Mengubah keberhasilan menjadi tujuan (ghayah)

6. Mengubah tujuan menjadi mardhatillah.

 

Tersebarnya Islam di muka bumi ini dan akhirnya sampai kepada kita sehingga kita menjadi seorang muslim merupakan bukti dari dilaksanakannya dakwah Islamiyah dengan baik.

Sebagai bagian dari tanda dan rasa syukur kita, maka tugas tanggung jawab dakwah juga harus kita emban bersama-sama. Karena dakwah secara hukum menjadi tanggung jawab dan kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim, bukan hanya kewajiban dari orang-orang yang selama ini kita sebut ustadz, kiyai, ulama, atau mubaligh semata….

Karenanya dakwah tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah, khutbah dan pengajian-pengajian, tapi apapun yang dilakukan dalam rangka memberi tahu dan mengajak orang lain ke arah hidup yang Islami merupakan pelaksanaan dari tugas dakwah.

Dijadikannya dakwah sebagai kewajiban atas setiap individu muslim dikarenakan dakwah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat muslim tentunya …. Melalui dakwah dapat disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu, mana yang haq dan mana yang bathil.

Bahkan… dakwah tidak hanya membuat masyarakat memahami mana yang haq dan mana yang bathil, malahan juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga mennjadikan umat … agar selalu berusaha menhindari yang bathil itu.

Banyak dalil yang dapat kita jadikan sebagai rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah. Firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran: 110)

Dapat disimpulkan, Dakwah merupakan upaya merekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur kejahiliyahan menjadi masyarakat yang Islami. Ini berarti bahwa dakwah merupakan upaya melakukan penyebaran dan pengamalan akidah dan akhlak Islami dalam seluruh sektor kehidupan manusia. Untuk itu keterlibatan setiap muslim di dalam dakwah menjadi suatu keharusan, sesuai dengan potensi yang dimiliki individu masing-masing. Terbentuknya pribadi yang Islami, keluarga yang Islami dan masyarakat yang Islami merupakan target yang ingin dicapai dalam dakwah. Target ini memerlukan dukungan setiap muslim, apalagi dakwah itu bukanlah hanya berbentuk ceramah dan khutbah.

Tegasnya, apapun potentsi dan kemampuan yang dimiliki, semua itu dapat digunakan untuk kepentingan dakwah, termasuk informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) ….

Tujuannya tidak lain adalah, dakwah ilaa Allah … yakni mengajak kembali .. atau dekat dengan Allah … Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa dakwah merupakan kewajiban yang harus diemban oleh setiap kita, yang mengaku muslim agar terwujud kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, baik yang terkait dengan masalah kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa.

 Semoga dengan melaksanakan dakwah, terciptalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri :

1. Masyarakat yang berakidah Islamiyyah: Laa Ilaha Illallah – Muhammad Rasulullah…

2. Masyarakat yang senantiasa melaksanakan segala kewajiban dengan mengacu kepada tuntutan dan keridhaan Ilahi.

3. Masyarakat yang memiliki persepsi dan pola pikir yang Islami, sehingga mampu menyelamatkan diri, keluarga serta orang lain di sekitarnya.

4. Masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap Islam.

5. Masyarakat yang memiliki akhlakul karimah.

6. Masyarakat yang menjunjung tinggimartabat manusia … dan menghargai hak-hak asasi manusia serta memiliki solidaritas dan kepedulian sosial.

7. Masyarakat yang senantiasa menegakkan kebenaran dan hiduk makmur berkeadilan, dengan mengamalkan “Al-Amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar” Allah Azza Wa Jalla membimbing kita semua di dalam melaksanakan tugas mulia ini, dengan firman NYA ; ” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba terjadilah orang yang di antara engkau dengan dia itu tadinya ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia … (QS.41, Fush-shilat : 34)

Mungkin dia datang dengan rasa benci, engkau sambutlah dia dengan bersahabat, dia menyerang dengan marah dan maki-maki, menampakkan bahwa pikirannya dangkal, tangkislah dengan tenang dan senyum simpul, Dia datang dengan membawa makian, kamu menyambut dengan menghormati, Dia datang mengajak berkelahi, kamu menanti dengan bersahabat, Seakan dia menunjukkan kedangkalan fikiran, engkau menampakkan kedalaman perasaan … Apakah hasil yang akan dipetik, tiada lain adalah, kemenangan budi yang gilang gemilang, mengubah musuh menjadi kawan … akan tetapi usaha ini amatlah berat .. berat sekali sunguhpun benar … kecuali bagi orang yang sabar .. dan yang berjiwa besar….

Berkacalah kepada sejarah, ketika Rasulullah dengan 12.000 pasukan lengkap… memasuki Makkah dalam peristiwa “Futuh Makkah” … yang menjadikan orang Quraisy berdebar pengap .. dan Abu Sofyan menggigil ketakutan, dalam pikiran mereka kini saatnya telah datang besok pagi akan tiba hari pembantaian… Namun apa yang terjadi …???

Sejarah telah mencatatkan bukti tentang kebenaran nyata ayat ini … Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berucap, mengutus pamannya Abbas bin Abdul Muthalib, masuk sendiri ke Makkah, dan mengumumkan ke khalayak ramai penduduk Makkah yang akan di taklukkan, Pesan Rasulullah yang berisi hikmah…; “Kita akan memasuki kota Makkah, Kita harap jangan ada orang yang melawan di kota Makkah, Barang siapa yang ingin keamanan, hendaklah lakukan perintahku ini dengan iman …. Barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, amanlah dia … Barangsiapa yang masuk ke dalam ruimah Abu Sufyan, amanlah dia … Barangsiapa yang tingal di dalam rumahnya sendiri, amanlah dia … “

Masih segar dalam ingatan …, bahwa Abu Sufyan sebelumnya adalah musuh bebuyutan, dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang sengaja ikut dalam pasukan, yang ingin membalas dendam, “membunuh Abu Sufyan” .. Malahan… Rasulullah saat itu menempatkan, rumah Abu Sufyan sebagai “rumah keamanan” … Makkah di masuki dengan aman, tidak setetespun darah ditumpahkan, tidak sebuah nyawapun terbang melayang, tidak ada tangis kepiluan, tidak ada orang yang dihinakan … tidak ada orang yang menjadi lawan … yang ada hanya rasa kegembiraan rasa yang lahir dari sanubari yang dalam, yang tampak pada wajah “senyuman” … hakikat besar dari satu kemenangan …. “Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali oleh orang yang shabar…. Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali orang-orang yang berjiwa besar”… (QS.41, Fusshilat, ayat 35).

Moga bangsa kita selalu menjadi bangsa yang besar, aman dan damai di bawah naungan ridha Allah …

Wallahu a’lamu bis-shawaab …

Billahit taufiq wal hidayah,

Wassalamu ‘alaikum,

Buya H. Mas’oed Abidin

Masjid Nurul Iman Kotogadang dalam pembangunan kembali

Masoed Abidin Za Jabbar at 20:11 on 30 May
Ananda….
dalam masa menuntut ilmu …
shalat malam itu ibarat elexir …
memberi kekuatan kepada bathin …
perlu di laksanakan lillahi ta’ala …Read more
Salam maaf untuk semua…
wassalam
Andri Azis 

Andri Azis at 20:20 on 30 May

insya Allah akn selalu ananda jaga buya.:)..mohon doa selalu…
Adek Putra 

Adek Putra at 21:21 on 30 May

BUYA, KATANYA UMAR BIN KHATAB BIASANYA SOLAT MALAM SETELAH BANGUN MALAM, SEDANGKAN ABU BAKAR SISDIK SOLAT MALAM SEBELUM TIDUR, JADI KITA BOLEH SOLAT TAHAJUT SEBELUM TIDUR DAN ATAU SETELAH BANGUN. BETULKAH HAL TERSEBUT BUYA? ITU KATA TEMAN SAYA DI PONPES AL FATAH DI MADIUN. BAGAIMANA DENGAN NABI MUHAMMAD BUYA?
Adek, Ketika kedua shahabat itu ditanya Rasulullah SAW
tentang kapan witir mereka ..
(witir adalah shalat penutup malam)..
dan penutup malam artinya tahajjud …
memang jawaban Abu Bakar “sebelum tidur” ..’Read more
dan jawaban Umar bin Khattab “sesudah tidur”…
Rasul SAW mempertegas bahwa
Abu Bakar sangat berhati-hati,
maka dia lakukan shalatnya sebelum tidur…
Dan Umar sangat teguh ,
dan dia lakukan sesudah tidur …
Kedua perbuatan shahabat ini
menjadi ibrah (teladan) kepada kita bahwa,
shalat malam jarang sekali yang tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan para sahabatnya,
baik itu sebelum tidur atau sesudah tidur,
(secara kondisional dibolehkan keduanya) ..
walaupun Rasulullah SAW
selalu lakukan pada penghujung malam,
atau sepertiga malam terakhir …
(dan ini yang terbaik) sesuai sunnah Nabi …
sementara kita umatnya…
berselisih tentang sebelum atau sesudah tidur,
dan seringkali meninggalkannya…
hanya sekedar membahas,
maka lakukanlah di mana bisa ..

Adek Putra 

Adek Putra at 21:43 on 30 May

INSYA ALLAH BUYA.
Adek Putra 

Adek Putra at 21:47 on 30 May

YANG MENJADI PERMASALHANAN YANG BERAT BAGI SAYA BIASANYA BERATNYA BANGUN DI TENGAH TIDUR BUYA, WALAUPUN TERBANGUN, MASIH MALAS DENGAN BANGKIT DARI TEMPAT TIDUR BUYA, KALAU MEMANG BOLEH MUNGKIN INSYAALLLAH SAYA MEMULAINYA DENGAN QIYAMUL LAIL SEBELUM TIDUR. TERIMA KASIH BUYA ATAS PENJELASA BUYA.
Ya mulai dengan apa yang ada
dan di mana kita bisa …
jangan hanya mulai dari mempertengkarkan …
nanti lupa mengerjakannya …
Semua kita punya kendala…Read more
selain malas, waktu, dan kondisi fisik lainnya,
maka “lupa” kadangkala juga menjadi hambatan …
jangan kalah karena hambatan …
tapi kalahkanlah lebih dahulu segala penghambat itu …
Insyaallah akan berhasil ..
Wassalam
BuyaHMA
Andri Azis 

Andri Azis at 22:09 on 30 May

hehehe…kalau boleh saran. ibadah apapun memang harus dipaksa dahulu baru nanti bisa dan terbiasa..tapi Allah juga tidak melarang kita untuk berehat..istilahnya allah tidak pernah memberatkan hambaNya dengan semua syarriatNya…
nah..poinnya sebetulnya ada di kita saja, ya kalau kita bisa melakukan maka akan dibalas dengan baik, tapi jika tidak (dalam ibadah sunnah) berarti kita tidak dapat apa-apa…:)
Muchlis Hamid 

Muchlis Hamid at 07:03 on 31 May

Terima kasih Buya. “Sabar dan berjiwa besar” merupakan tauladan dari Nabi. Wassalam.
Nurlaila Zai 

Nurlaila Zai at 17:14 on 31 May

Terima kasih buya.. pada awalnya memang sangat berat untuk melaksanakan semua yang buya katakan, tetapi dengan niat dan kemauan yang sangat keras insya Allah kita mampu melakukannya, amiinn…

15
Mei
09

Muraqabah, Muhasabah dan Muaqabah

 

Muraqabah (merasa selalu diawasi Allah),
Muhasabah (melakukan introspeksi),
dan Muaqabah (bertaubat, memperbaiki kesalahan)
Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,

sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

5. Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

Oleh karena itu agar manusia tidak tersesat
hendaklah manusia bertaubat kepada Allah,
mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan
untuk menuju ridha dan ampunan Allah.

Berkubang dan hanyut dalam kesalahan
adalah perbuatan yang melampaui batas
dan wajib ditinggalkan.

Di dalam ajaran Islam,
orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah,
bersegera mengakui dirinya salah,
kemudian bertaubat,
dalam arti kembali ke jalan Allah
dan berniat dan berupaya kuat
untuk tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

Shadaqallahul’azhim. Allahu A’lamu Bissawab.

Wassaalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Mas’oed Abidin

Catatan kaki ;

[1] Syeikh Abdul Kadir Jailany memberikan nasehat kepada kita sebagaimana

yang terdapat dalam kitabnya Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani.

[2] Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah

15
Mei
09

“PENDIDIKAN dan KEJUJURAN”

Hikmah Jum’at ;
PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN

 

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ
وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ
أَمَّا بَعْدُ

Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga dilaksanakan dengan agama.

Syahshiah (شخصية) bermakna pribadi, sifat individu, gaya hidup, kepercayaan,
harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,
budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.

Watak kepribadian semestinya dilatih sedari kecil.
Peribadi yang baik dan penampilan menarik,
mesti dipertahankan oleh seorang sejak masa kanak-kanak.
Sifat-sifat baik akan memberikan hasil dan kesan mendalam di tengah kehidupan.
Kejujuran adalah akhlak utama para Nabi dan Rasul.

Rasulullah SAW mengajarkan
untuk mendidik diri dengan menanamkan sifat jujur dengan dasar Iman.

(رواه مسلم و أحمد)

“ Iman itu adalah,
engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan qadar “.
(HR.Muslim dan Ahmad).

Agama Islam memperhatikan serius moral terpuji, benar, damai, jujur dan adil.

« Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri,
atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
jika ia — orang yang tergugat atau yang terdakwa — kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi,
Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. »
(Q.S.An Nisaa’: 135)

Kejujuran menghidangkan pesona kehidupan dan ketenangan bagi pelakunya.
Kebohongan membuat jiwa bimbang dan goncang.

Hidup tidak berarti jika tidak dihiasi kejujuran.
Limpahan harta yang banyak akan menjadi siksa, bila tidak ada kejujuran.
Kejujuran adalah pondasi utama membangun bangsa.
Betapapun besarnya sebuah bangsa,
ketika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.

Agama Islam memerintahkan agar menjauhi dusta dan ketidakjujuran.
Bohong menjadikan hukum rusak.
Bohong menjadikan kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela.
Bohong menjadikan putus hubungan persaudaraan dan timbul konflik hubungan manusia.

SIKAP LALAI AKAN MENGHAPUS KEJUJURAN

Penyakit hati yang berbahaya ialah futuur atau lalai,
yang melahirkan malas dan lamban berkarya dan beramal.

Allah SWT membagi waktu dengan teratur,
« dan Kami jadikan malam sebagai pakaian
– Malam itu disebut sebagai pakaian karena malam itu gelap
menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia. –,
dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, »
(QS.78,An-Naba’ :10-11).

Rasul SAW pesankan berbuat tanpa kebosanan.

“Lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu.
Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan,
dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah
amal yang di kerjakan terus menerus sekalipun sedikit.”
(HR.Muttafaqun ‘Alaih)

FAKTOR PENYEBAB HILANG KEJUJURAN ;

1. MELAMPAUI BATAS (ekstrim, ghuluw),
berlebihan dan melampaui batas dalam aturan agama.
Sabda Rasul SAW :
“Jauhilah sikap ghuluw (belebih-lebihan) dalam beragama,
karena sesungguhnya orang sebelum kamu
telah binasa akibat sikap itu.”
(HR. Ahmad).

2. MENGANGGAP ENTENG YANG MUBAH (boleh),
seperti makan minum,
“Barangsiapa yang (terlalu) kenyang,
maka ia akan mudah ditimpa enam penyakit, yakni :
(1). hilangnya rasa nikmat,
(2). tidak mampu memetik hikmah,
(3). lenyap rasa kasih sayang,
(4). kikir, – karena mengira bahwa semua makhluk kenyang seperti dirinya,
(5). malas dalam beribadah, dan
(6). menguat dorongan nafsu syahwat.”
(lihat Ihyaa’ ‘Ulumuddin Abu Sulaiman).

3. SUKA MELAKUKAN YANG HARAM DAN SYUBHAT.
Sabda Rasulullah :
“ Tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram,
maka ia lebih banyak tempatnya di neraka. ”
(H.R At Tirmidzi).

4. TIDAK INGAT KEMATIAN DAN KEHIDUPAN AKHIRAT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur,
namun sekarang berziarahlah,
karena hal itu akan menjadikan sikap zuhud di dunia
dan akan mengingatkan pada akhirat. ”
(H.R. Ahmad).

5. SUKA BERMAKSIAT DAN REMEHKAN DOSA KECIL.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang mukmin melakukan dosa,
berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya.
Jika ia bertaubat, tidak meneruskan dosanya,
dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau.
Akan tetapi jika ia berulang-ulang melakukan hal itu,
maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya,
dan itulah ‘Ar Raan’ sebagaimana yang difirmankan ‘Azza wa Jalla,
‘Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka.”
(H.R. Ahmad dan Ashhaabus Sunan)

6. MEMISAHKAN DIRI DARI JAMAAH DAN ’UZLAH
« dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
Maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;… »
(QS.3,Ali Imran : 103)

Rasulullah SAW bersabda:
“Berjamaah (bersama-samalah) kalian,
karena sesungguhnya syetan menyertai orang yang sendiri,
dan dia akan menjauhi orang yang berdua.
Barangsiapa yang ingin masuk ke taman surga,
hendaklah ia komitmen dengan jamaah.”
(H.R. Tirmidzi).

MENGATASI PENYAKIT HATI ;
a). Jauhi berbuat dosa dan maksiat kecil dan besar.
b). Teguh (istiqamah) lakukan ‘amal-yaumiyah (harian), perbanyak zikir, dirikan shalat nawafil, dan membaca Al Qur’an.
c). Menghadiri majelis ilmu, pengajian.
d). Suka bergaul dengan orang-orang shaleh, ahli ibadah.
e). Pelajari sejarah (sirah nabawi) dan para shahabat atau orang-orang shaleh lainnya.
f). Ingati kematian, kejar surga dan menghindar dari azab neraka.
g). Jalankan ajaran agama dengan ketaatan sepenuh hati.
« dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. » (QS.8, Al Anfal : 46)
h). Koreksi diri dan hitung betapa amal dilakukan.
i). Atur waktu dengan cermat.
j). Hindarkan diri dari sikap berlebihan.
k). Jauhi perbuatan bid’ah
l). Terapkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad,
wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ اْلمُنْكَرِ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ عَلَيْكُمْ بمَِا تَطِيْقُوْنَ فَوَاللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حتىَّ تَمَلُّوا وَ كَانَ أَحَبُ الدِّينَ مَا دَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ الإِيْــماَنُ أَنْ تُؤمِنَ بِاللهِ و مَلاَئِكَتِهِ و كُتُبِهِ و رُسُلِهِ و بِالْيَوْمِ الآخِر و الْقَدرِ .

Masjid Kotogadang yang sed(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haramang dibangun kembali, setelah runtuh disebabkan gempa tahun 2007. Sekarang dalam penyelesaiannya…
Zulfendra Tasar
dulu ktika mhs swaktu tinggal di YAS sering dengar ceramah2 buya…
terkenang kembali kepada buya…
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Alhamdulillah,
Moga ananda sehat selalu dalam lindungan inayah dan redha Allah SWT.
Amin.
Salam buat semua.
Wassalam BuyaHMA
Irmayani Suherman
Betul buya…
tetapi mengapa kalau saya perhatikan semakin orang dewasa
maka semakin senang untuk berlaku, berbicara tidak jujur?
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Iblis Syaithan telah bersumpah di hadapan Allah SWT,
ketika dia diusir Allah lantaran tidak mau mematuhi perintah Allah
“usjuduu li Adama”..
“menghormat ke Adam” ..
di mana semua malaikat bersujud kecuali Iblis laknatullah …

Ketika itu mereka bersumpah akan mengganggu anak cucu Adam ini dengan mencampakkan kejujuran di hati manusia

Sebab itulah,
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa
“bohong atau dusta” adalah induk dari dosa,
karena sesuadah bohong atau ketidak jkujuran hilang,
maka kemudian akan di ikuti oleh dosa-dosa yang lainnya berturut-turut,

hingga manusia terperangkap dalam gelimangan dosa,
hingga mereka bertaubat kembali …

Moga kita semua terhindar dari punca segala dosa ini
yakni hilangnya jujur dan berubah menjadi bohong…
Wassalam
BuyaHMA

 

Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Jangan engkau jauhkan kami darimu ya ALLAH ,
Semoga ALLAH selalu mau mengampuni umatnya,Amin.
terima kasih Buya utk selalu mengingatkan kami,
kepada hal2 yg benar.
Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, semoga kita semua dirahmati dan selalu diingatkan oleh Allah. Buya, bagaimana caranya saya ingin mengingatkan lingkungan teman2 yang ingin menjaga silaturahmi dengan pura2, dusta dan munafik ? Padahal yang didustai terkadang tahu mereka didustai..tapi bagi mereka itu lebih baik daripada diberitahu tentang yg benar?
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Rangkayo Irmayani Suherman …
Pesan Islam di dalam wahyu Allah
(QS.Fush-shilat ayat 30 dan seterusnya),
ada kiat yang diajarkan Allah SWT,
yaitu “IDFA’ BILLATIY HIYA AHSAN …” dst-nya …
Baca Selengkapnya
artinya,
“TOLAKLAH DENGAN CARA BAIK ….”
Moga kita sabar untuk itu…

@ Rangkayo Dewi,
Amin ya Allah,
kita berharap semoga Allah
selalu membimbing kita dengan hidayah NYA
Wassalam
Buya HMA

 

Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, terimakasih banyak Buya..semoga kita semua selalu berada di jalanMu ya Allah!!
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Dewi,
Jujur itu nilai martabat kemanusiaan paling tinggi,
memeliharanya tentu saja dengan kenal kepada Allah,
atau Iman dan taqwa,
ibadah adalah salah satu implementasi iman itu,
Baca Selengkapnya
namun iman yang benar sesungguhnya
tampak dalam perilaku yang benar,
selamat dan sukses selalu Dewi,
Salam buat semua,
Wassalam,
BuyaHMA
Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Alhamdulillah, benar sekali Buya,
semoga nilai2 kejujuran ini dpt terus saya terapkan kepada anak2 saya
dan tentunya terhadap diri saya sendiri .
Amin
Wassalam
02
Mei
09

Agama di sisi Allah adalah Islam

Al-Islam Dienul Haq = Pedoman yang Benar

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلاَمِ

Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah Hanyalah Islam”

(Q.S. Ali Imran: 19)

Manusia sangat memerlukan kepada bimbingan dan petunjuk yang benar. Yang mempunyai nilai mutlak untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di alam sesudah mati (akhirat).buya-menjawab-tanya

Sesuatu yang mutlak sudah barang tentu harus berasal dari pada yang mutlak pula. Maka, sumber kemuthlakan itu tiada lain, hanyalah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Menjadikan, dan seru sekalian alam. Allah Azza wa Jalla yang bersifat Pengasih dan Penyayang, telah memberikan suatu anugerah yang sangat mulia untuk manusia bernama DIEN = Agama.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)

Dalam agama Islam inilah dibentang konsep yang tegas, tentang apa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu, kemana arah tujuannya, siapa sebenarnya makhluk yang bernama manusia itu. Islam telah membimbing manusia dalam tata kehidupannya, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan-nya, maupun yang menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia, dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Di dalam agama ini, ada tiga pilar yang tidak dapat dipisah satu dengan yang lainnya.

Ketiga pilar tersebut adalah Islam, Iman dan Ihsan. Atau dikenal dengan istilah Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.

Sahabat Umar bin Khaththab r.a menceritakan suatu peristiwa tentang sabda Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama, dengan berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat, tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah, lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau dan meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah SAW menjawab, Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.”

Orang itu berkata, “Engkau benar!” kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Orang itu berkata, Terangkan kepadaku tentang iman!”

Rasulullah SAW menjawab, Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”

Rasulullah SAW bersabda, “(Ihsan adalah) hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.”

Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah SAW menjawab, “(Tanda-tandanya di antaranya adalah), jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.”

Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam sejenak, kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.

Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim)

Hadits shahih dari Rasulullah ini adalah hadits komprehensif yang memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Jibril telah datang kepada Rasulullah SAW untuk mengajarkan permasalahan agama kepada mereka yang sedang duduk-duduk saat itu dan kepada umat Muhammad yang datang setelahnya.

Islam di mulai dengan ikrar Syahadatain. Maksudnya adalah – sebagaimana yang dikomentari oleh seorang ulama dan mujahidah Muslimah berkebangsaan Mesir yang bernama Zainab al-Ghazali – mengingatkan sebagai berikut ;

« Hendaklah anda melakukan pencerahan total dengan segenap jiwa, akal, perasaan dan keinginan kuat (aziimah), semuanya untuk Allah semata. Sehingga jadilah Allah sebagai Dzat yang mengurus anda dengan segenap titah dan perkara-Nya. Titah dan perkara yang bisa anda kenali dari Kitab Allah dan Kalam-kalam Rasul-Nya SAW.

Dengan Islam hendaknya dapat meyakini keesaan Allah (wahdaniyatullah). Karena Islamlah yang mengatur strategi perjalanan hidup, agar menjadi manusia sempurna di tengah-tengah kehidupan manusia.

Islamlah yang menentukan titian asas yang seharusnya dilalui, yakni syahadat, “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”. »

Syahadat ini hendaknya dijadikan hakim, pengendali dan tolok ukur dalam kehidupan. Syahadat ini akan menjadi undang-undang dalam kehidupan. Undang-undang dalam perkara halal dan haram. Undang-undang dalam hal, “lakukan, atau, jangan lakukan!”.

Undang-undang dalam hal interaksi sosial (mu’amalat) antara kaum muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabatnya, seseorang dengan tetangganya.

Karena itu tidak satupun selain Allah yang mengatur dan menetapkan hukum dalam perjalanan hidup kita.

Semua bimbingan kehidupan ada di dalam Al-Qur’an, kitab suci sebagai Kalam Ilahi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an adalah Wahyu Ilahi, sumber hidayah, pedoman dan pelajaran bagi yang meyakini, dan mengamalkannya. Al-Qur’an adalah ruh kehidupan hakiki dan syifa’ = obat penawar segala macam penyakit rohani manusia. Al-Qur’an adalah Nuur = memberi cahaya di tengah kegelapan kehidupan, dan Al-Huda = petunjuk jalan menuju Hidayah Allah, dan Ma’rifah jalan yang lurus menuju hakekat Uluhiyah dan Rububiyah. Al-Qur’an adalah rahmat bagi hamba-hamba Allah dalam mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah Kami turunkan sebuah kitab (Al-Qur’an) kepadamu, yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. Al-Anbiya: 10)

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا القُرْآنِ أِقْوَامًاوَ يَضَعُ آخَرِيْنَ

“Allah akan mengangkat (kedudukan) beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini, dan Allah akan meletakkan (merendahkan) kedudukan sebagian yang lain. (H.R. Muslim)

Shadaqallahu al’adhim, Allah A’lam As-Shawwab.




Blog Stats

  • 31,013 hits

 

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tidak ada