HATI HATILAH DENGAN LIMA MUSUH YANG SELALU MENGINTAI

RasuLuLLah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada Lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan syaithan yang seLaLu menyesatkannya.” (HR ad-DaiLami, Abu Bakr bin LaaL meriwayatkan hadis dari Anas bin MaLik RA, ditemui daLam Kitab MakaarimuL AkhLaaq).

ALquranuL Karim mengingatkan bahwa, ” setiap orang yang beriman (mukmin), senantiasa akan mendapat ujian dari ALLah SWT.” LihatLah seLanjutnya ;

“  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami teLah beriman”, sedang mereka tidak diuji Lagi? –  dan Sesungguhnya Kami teLah menguji orang-orang yang sebeLum mereka, Maka Sesungguhnya ALLah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (daLam QS aL-Ankabut [29]: 2-3).

Diantara ujian itu dapat saja datang dari ;

1. Dari orang mukmin yang mendengkinya. Lazim didengar dan diLihat, ketika seorang beroLeh kenikmatan, seLaLu saja ada orang Lain yang tidak menyukainya. KadangkaLa yang membenci itu juga mengaku mukmin. Ini terjadi karena ada penyakit dengki. Dengki meLahirkan sikap hasud atau hasad. IniLah penyakit hati yang paLing berbahaya menghapus iman. PadahaL “penyakit hasud” tumbuh karena “permusuhan”, bahkan juga karena “kebencian” dan “kesombongan”. Sikap sombong seLaLu khawatir orang Lebih hebat dari dirinya. Karena itu, jauhiLah hasad yang suka mengadu domba.

2. Dari kaum munafik yang seLaLu membencinya. Sifat munafik Lebih berbahaya dari kufur. Munafik itu sering menampakkan wajah seakan-akan baik, padahaL daLam hatinya menyimpan permusuhan. IngatLah tentang peristiwa muncuLnya aL ifki terhadap ‘Aisyah, yakni berita bohong yang menjadi makar kaum munafik, peristiwa ini terjadi di Madinah terhadap keLuarga Nabi SAW.

“ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar “ (Lihat peringatan ALLah daLam QS an-Nur [24]: 11).[1].Bersama-sama Pengurus Gebu Minang Jatim, Firdaus HB dan Rky.Mirna, Bendahara Gebu Minang Jatim, di tengah Masjid Raya Ganting, yang ambruk dan rusak berat karena Gempa 30 September 2009 yang lalu

MeLindungi diri dari kaum munafik adaLah dengan ;

a.      bersandar kepada ALLah,

b.      berusaha menyingkap tipu daya dan rencana busuk mereka.

IngatLah bahwa orang munafik pandai bersiLat Lidah. Mereka suka boLak-baLikkan kata-kata dan bohong. Maksudnya untuk mempertahankan tujuan-nya.

“ 1. apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 2. mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[1476], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. 3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.”[2] (Lihat selengkapnya firman ALLah daLam QS aL-Munafiqun [63]: 1-11).

3. Dari Kaum kafir adaLah pendukung kebatiLan, menjadi Teman Syaithan dan seLaLu berusaha menceLakakan orang IsLam. (Lihat juga QS aL-AnfaL [8]: 36). Orang kafir saLing toLong untuk memerangi umat IsLam. (Lihat QS adz-Dzariyat [51]: 53).

Menghadapi kejahatan kaum kafir ini harusLah dengan ;

a. Meyakini “sunnatuL ibtiLa” atas mukmin suatu keniscayaan.

b. Wajib membekaLi diri dengan tsiqah biLLah,

c. Bersangka baik kepada ALLah (husnudzdzan biLLah).

d. BertawakaL kepada-Nya dan sering berdoa kepadaNya.

e. SeLaLuLah ikuti manhaj (cara) dari para uLama yang saLeh.

 

4. Dari syaithan yang seLaLu berusaha menyesatkan. (Lihat QS Fathir [35]: 6).

Setiap mukmin wajib menutup semua pintu masuk syaithan.

a. jauihi sikap pemarah,

b. hindari keinginan syahwat syaithaniyah,

c. jangan tergesa-gesa bertindak,

b. hindari sifat kikir dan jauhi takabur.

 

5. Dari nafsu yang seLaLu menentang kebaikan (QS Yusuf [12]: 53). Musuh paLing bahaya adaLah nafsu daLam diri sendiri.

Menjauhi perdayaan nafsu ini dengan ;

  1. Bersihkan hati dari semua akhLak terceLa.
  2. IsiLah qaLbu dengan kekuatan iman dan kasih sayang.
  3. Senantiasa berpegang teguh pada ajaran ILahi.

InsyaaLLah, semoga kita semua terhindar dari Lima musuh yang seLaLu mengintai ini. Amin.

WaLLahu a’Lam bis – shawaab …..


[1] Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

[2] Mereka bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga harta mereka supaya jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya.

MAKNA TERSIRAT DALAM MAULIDUR RASUL

Gambar

OLeh: H.Mas’oed Abidin

 

       Memperingati “mauLidur-rasuL” sering di bicarakan banyak orang saat ini. BacaLah Wahyu ALLah tentang kerasuLan Muhammad SAW sebagaimana  disebutkan daLam AL QuranuL Karim ;

$tBur JptèC žwÎ) ×Aqߙu‘ ô‰s% ôMn=yz `ÏB Ï&Î#ö7s% ã@ߙ”9$# 4 û’ïÎ*sùr& |N$¨B ÷rr& Ÿ@ÏFè% ÷Läêö6n=s)R$# #’n?tã öNä3Î6»s)ôãr& 4 `tBur ó=Î=s)Ztƒ 4’n?tã Ïmø‹t6É)tã `n=sù §ŽÛØtƒ ©!$# $\«ø‹x© 3 “Ì“ôfu‹y™ur ª!$# tûï̍Å6»¤±9$#  

“ Muhammad itu tidak Lain hanyaLah seorang rasuL, sungguh teLah berLaLu sebeLumnya beberapa orang rasuL. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbaLik ke beLakang (murtad)? Barangsiapa yang berbaLik ke beLakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada ALLah sedikitpun, dan ALLah akan memberi BaLasan kepada orang-orang yang bersyukur.”  (QS.3 aLi Imran :144). 

Maknanya adaLah bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. iaLah seorang manusia yang diangkat ALLah menjadi rasuL. RasuL-rasuL sebeLumnya teLah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada puLa yang karena sakit biasa. Maka Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti haLnya RasuL-rasuL yang terdahuLu itu.

Semasa berkecamuknya perang Uhud tersiarLah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum musLimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perLindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kaLau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentuLah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka ALLah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum musLimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di kala terjadi puLa kegeLisahan di kaLangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar IbnuL Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

“ Muhammad itu sekaLi-kaLi bukanLah bapak dari seorang Laki-Laki di antara kamu, tetapi Dia adaLah RasuLuLLah dan penutup nabi-nabi. dan adaLah ALLah Maha mengetahui segaLa sesuatu.” (QS.AL-Ahzab 33:40).

Ayat ini menerangkan bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. bukanLah ayah dari saLah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oLeh RasuLuLLah s.a.w.

š“ dan orang-orang mukmin dan beramaL soLeh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan ItuLah yang haq dari Tuhan mereka, ALLah menghapuskan kesaLahan-kesaLahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka.” ( QS.47, Muhammad :2)

 

“ Muhammad itu adaLah utusan ALLah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adaLah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia ALLah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. DemikianLah sifat-sifat mereka daLam Taurat dan sifat-sifat mereka daLam InjiL, Yaitu seperti tanaman yang mengeLuarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat LaLu menjadi besarLah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena ALLah hendak menjengkeLkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). ALLah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amaL yang saLeh di antara mereka ampunan dan pahaLa yang besar.“ (QS.48, Muhammad :29).

Maknanya adaLah bahwa pengikut Muhammad yang menjaga iman dan ibadahnya  pada air muka mereka keLihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

       Muhammad diutus menjadi Rahmat bagi seLuruh aLam.

 “ dan TiadaLah Kami mengutus kamu, meLainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta aLam.” (QS.21,AL-Anbiya’,ayat 107),

yang menjadi uswah hasanah yakni suri ketauLadanan yang teramat sempurna.

“ Sesungguhnya teLah ada pada (diri) RasuLuLLah itu suri teLadan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut ALLah.” (QS.33, AL-ahzab:21),

Muhammad di utus sebagai nabi yang terakhir untuk meLakukan perubahan menyeLuruh bagi kehidupan manusia yang waktu itu tengah berada daLam kondisi dhuLumat (kegeLapan) kepada kehidupan berperadaban (civiLisasi) secara transparan (an-nur, cahaya terang) dengan akhLaquL katimah menurut bimbingan Kitab AL Quran.

 

“ dengan kitab wahyu AL-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ituLah ALLah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jaLan keseLamatan, dan (dengan kitab itu puLa) ALLah mengeLuarkan orang-orang itu dari geLap guLita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jaLan yang Lurus.” (QS. aL-Maidah (5):16).

 

“ DiaLah ALLah yang memberi rahmat kepadamu dan maLaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeLuarkan kamu dari kegeLapan kepada cahaya (yang terang), dan adaLah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. aL-Ahzab (33):43),

        Allah ceritakan dalam ALQuran tentang isteri Firaun  memohonkan kepada Allah terhindar dari kedzaliman Firaun itu untuk dapat memasuki sorga Jannah dan keselamatan.

 

“ dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu – maknanya, sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah — dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. at-ThaLaq (65):11).

       Perubahan yang dibawa oLeh RasuLuLLah SAW, semata dengan bimbingan Wahyu ALLah SWT. Tidak menurut kinginannya semata, sebagai mana perubahan yang  diLakukan reformer meLaLui pemaksaan kehendak yang seringkaLi bergerak menjadi suatu tindakan anarkis dan menyisakan pertentangan daLam kehidupan manusia.

Perubahan berdasar Sunnah RasuLuLLah SAW, bermuara kepada diterapkannya syari’at IsLam dan berintikan proses  perubahan yang mengarah kepada perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian)[1], IshLah (penyempurnaan)[2] dan taghyir (perubahan sikap)[3].

Perubahan itu menciptakan suatu perbaikan tanpa merusak. Ajaran IsLam yang dibawa RasuLuLLah SAW, seLaLu mengingatkan umatnya untuk tidak merusak (fasad=anarkis) baik daLam bentuk tatanan atau pemaksaan-pemaksaan kehendak.

Agama IsLam menghormati prinsip tidak ada paksaan daLam agama,

“ tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (IsLam); Sesungguhnya teLah jeLas jaLan yang benar daripada jaLan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada ALLah, Maka Sesungguhnya ia teLah berpegang kepada buhuL taLi yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan ALLah Maha mendengar Lagi Maha mengetahui.” (QS.2:256).

Thaghut iaLah syaitan dan apa saja yang disembah seLain dari ALLah s.w.t.

Disamping itu adanya kewajiban meLembagakan musyawarah daLam setiap urusan dengan cara baik dan kasih sayang.

“ Maka disebabkan rahmat dari ALLah-Lah kamu berLaku Lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras Lagi berhati kasar, tentuLah mereka menjauhkan diri dari sekeLiLingmu. karena itu ma’afkanLah mereka, mohonkanLah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratLah dengan mereka daLam urusan itu – yakni urusan peperangan dan haL-haL duniawiyah Lainnya, seperti urusan poLitik, ekonomi, kemasyarakatan dan Lain-Lainnya.– kemudian apabiLa kamu teLah membuLatkan tekad, maka bertawakkaLLah kepada ALLah. Sesungguhnya ALLah menyukai orang-orang yang bertawakkaL kepada-Nya.” (QS.3, aLi Imran :159.,

Umat Muhammad mesti punya identitas (shibghah) daLam wujud amar ma’ruf (proaktif) dan nahi munkar (re-aktif). Maka gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan meLawan segaLa corak kemaksiyatan baik yang menyangkut tatanan hubungan pribadi, keLuarga, masyarakat, Lingkungan, bangsa dan negara.

Tujuannya semata menciptakan umat berkuaLitas  khaira ummah atas dasar iman kepada ALLah.

 “ kamu adaLah umat yang terbaik yang diLahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLah. Sekiranya ahLi kitab beriman, tentuLah itu Lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adaLah orang-orang yang fasik.” (QS.3, Ali Imran :110).

Secara intensif puLa menggairahkan perLombaan berniLai kebaikan fastabiquL-khairat.

“ dan bagi tiap-tiap umat ada kibLatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berLomba-LombaLah (daLam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti ALLah akan mengumpuLkan kamu sekaLian (pada hari kiamat). Sesungguhnya ALLah Maha Kuasa atas segaLa sesuatu.” (QS aL-Baqarah (2):148)

 

“ dan Kami teLah turunkan kepadamu AL Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebeLumnya – yaitu Kitab-Kitab yang diturunkan sebeLumnya – dan batu ujian – maknanya adaLah bahwa AL Quran adaLah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan daLam Kitab-Kitab sebeLumnya.– terhadap Kitab-Kitab yang Lain itu. Maka putuskanLah perkara mereka menurut apa yang ALLah turunkan dan janganLah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggaLkan kebenaran yang teLah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu – yakni umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebeLumnya. – Kami berikan aturan dan jaLan yang terang. Sekiranya ALLah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi ALLah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berLomba-LombaLah berbuat kebajikan. hanya kepada ALLah-Lah kembaLi kamu semuanya, LaLu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang teLah kamu perseLisihkan itu,” (aL-Maidah (5):48).

Ajaran IsLam seperti ini teLah terbukti daLam sejarah peradaban manusia sepanjang masa yang diLaLuinya berhasiL menciptakan suatu komunitas umat pengikut yang kian hari kian bertambah, Insya ALLah sampai akhir zaman[4].

       CupLikan perjaLanan RisaLah RasuLuLLah SAW, mencatat betapa kegeLapan yang menyungkup periLaku kehidupan jahiLiyah masa LaLu, seperti kesaksian Shahabat Dja’far bin Abi ThaLib (RA) dihadapan Maharaja Habsyi, antara Lain mengatakan; “Kami adaLah orang jahiLiyah, dengan sikap perangai menyembah berhaLa (kepatuhan kepada seLain ALLah dengan pemberhaLaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), memakan bangkai (tidak mengenaL haLaL-haram), memutus siLaturrahim (dengan penidasan dan tindakan intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan mengerjakan perbuatan keji (judi, rampok, korupsi, zina), sehingga yang kuat meneLan yang Lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan goLongan dan keLompok). Sampai ALLah mengutus kepada kami seorang RasuL dari kaLangan kami sendiri (yakni Muhammad SAW) yang sangat kami kenaL nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risaLahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).[5]  

Muhammad RasuLuLLah saw. diLahirkan di tengah-tengah keLuarga Bani Hasyim di Makkah eL Mukarramah di buLan Rabi’uL AwwaL (musim bunga), pada hari Senin, tanggaL 12 Rabi’uL AwwaL permuLaan tahun daLam peristiwa gajah (aL fiiL); bertepatan dengan tanggaL 20 atau 22 ApriL tahun 571 M, dibidani dan dirawat oLeh Siti Syifa’, ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu. BeLiau Lahir nama beLiau Muhammad (yang terpuji), ayahnya AbduLLah (hamba ALLah), ibunya Aminah (perempuan yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggiL AbduL MuthaLLib yang namanya adaLah Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya meLahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adaLah HaLimah As-Sa’diyah (yang Lapang dada dan mujur).

Semua nama-nama itu teLah dipiLihkan oLeh ALLah Azza wa JaLLa yang memberikan peLajaran besar betapa eratnya dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW. KeLuarga Muhammad Lazim disebut Bani Hasyim, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin Abdi Manaf.. Nasabnya amat jeLas. Muhammad bin AbduLLah bin AbduL MuthaLib (Syaibah) bin Hasyim (aL Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin KiLab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin GhaLib bin Fihr (yang berLaqab Quraisy) bin MaLik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.[6] Dari Adnan dicatatkan tarikh sampai Iram bin Qidar bin Isma’iL bin Ibrahim AS.[7]

Hadist ini sebenarnya berisikan; Pertama, RisaLah RasuLuLLah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad AL-Amin). Kedua, keutamaan Wahyu ALLah (yang mampu merombak tata priLaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeLuruh). Ketiga, keteguhan para pengikut (umat) dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi daLam kerangka jihad fii sabiLiLLah. Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata kehidupan duniawi (materiL fisik). KeLima, adanya kecerdasan umat meLihat secara gambLang bahwa  agama IsLam adaLah anutan yang Lebih baik dari ajaran manapun. Ini yang menjadi pembangkit utama harakah IsLam sebagai kekuatan aLternatif masa datang.

¨

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi ALLah hanyaLah IsLam. tiada berseLisih orang-orang yang teLah diberi AL Kitab – yakni Kitab Kitab yang diturunkan sebeLum AL Quran –  kecuaLi sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat ALLah Maka Sesungguhnya ALLah sangat cepat hisab-Nya.” (QS.3,ALi-’Imran:19).

 

“ Barangsiapa mencari agama seLain agama IsLam, Maka sekaLi-kaLi tidakLah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.3,ALi Imran : 85).

Maka, umat IsLam hari ini mesti berperan aktif, menjadi pengisi  konseptuaL dan penggerak kontekstuaL di tengah kehidupan duniawi.

Agama IsLam tidak hanya ibadah daLam arti sempit (puasa,shaLat,zikir dan do’a), tetapi menata usaha amaLan nyata yang shaLih daLam membentuk kuaLitas hidup “hasanah” dunia dan akhirat. Umat mesti sadar bahwa Dakwah ILaa ALLah seLaLu berhadapan dengan kekuatan Yahudi dan SaLibi (QS.2,AL Baqarah :120), yang menghadang dengan konsep fikrah (ghazwuL fikriy), penguasaan ekonomi, sistimatisasi pemeLaratan daLam menciptakan umat yang kaya dengan kemiskinan atau miskin dengan kekayaan, dalam percaturan poLitik demokratisasi dan humanisasi, yang pada dasarnya adaLah kemasan apik dari phobia terhadap IsLam dan intimidasi terhadap umatnya. DaLam rangka ini kita peringati MauLid Nabi.

 

 

Padang, Maulid, 12 RabiulAwal 1435H/14 Januari 2014 M


[1] “Jaddiduu imanakum” (Al Hadist), yang mengarahkan setiap mukmin kepada pemurnian sikap, tindakan, kedisiplinan, atas dasar “iman” kepada Allah, dengan “Laa ilaaha illa Allah”.

[2] QS.7,Al-A’raf,ayat 55-56.

[3] QS.13,Ar-Ra’d, ayat 11.

[4] (umat Islam berjumlah 1,5 milyar ditengah 6 milyar penduduk dunia), dan perkembangan di Eropah ataupun di Amerika hari ini tidak dapat dibantah bahwa pertumbahan umat itu sangat mencengangkan.

[5] Dialog Dja’far bin Abi Thalib dengan King Negus (Raja Najasyi), pada permulaan Risalah semasa hijrah spontan keum Mukminin ke Habsyi atas izin Rasulullah,  tersebab tekanan yang sangat  berlebihan dari Musyrikin Quraisy berupa intimidasi, fitnah, penculikan, pengkucilan, embargo ekonomi,  pembunuhan,  lihat Kitab Al Islam Ruhul Madaniyah tulisan Syeikh Mustafa Al Ghulayain, Beirut

[6]    Ibnu Hisyam, I :1,2Talqihu Fuhami Ahlil Atsar, 5 dan 6 : Rahmatan lil ‘Alamien, II, 11,13,14,52.

[7]    Al ‘Allamah Muhammad Sulaiman al Manshurfury, di dalam Rahmatan lil ‘Alamien, II, 14 – 17.

HINDARILAH PERBUATAN MAKSIAT

HINDARI PERBUATAN MAKSIAT berakibat amat buruk terhadap kehidupan. “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat,

ž“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi).

Mengerjakan dosa menganiaya diri sendiri.

Akibat dari perbuatan dosa atau Maksiat amatlah buruk terhadap pelakunya. Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu.    Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad).

Mestilah diyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan dan memudahkan rezeki. “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan jiwa karena perbuatan dosa sendiri.” Maka segeralah memohon ampun bila didapati diri terseret kepada perbuatan dosa.

«  dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. » (QS.An Nisak ayat 110)

Maksiat membuat jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak maksiat dilakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Jiwa akan kesepian dan sunyi.

Maksiat membuat sulit semua urusan.

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka maksiat akan mempersulit segala urusan pelakunya. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati. Menumbuhkan kekuatan badan dan melahirkan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di hati, kelemahan badan, susut rezeki dan mengundang kebencian makhluk.”  Seseorang yang suka bermaksiat, semua urusannya akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta membenci pelaku maksiat. Air yang diminum tidak ridha untuk diminum. Makanan yang disuap tidak suka untuk di makan. Sahabat dekat akan lari karena enggan berurusan dan membenci perilaku maksiat. Berkah hidup pun hilang.

Maksiat memendekkan umur dan menghapus keberkahan. Umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Kehidupan yang bermanfaat jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari rezki yang diridhai-Nya.

Bila kebanyakan waktu dalam kehidupan ini di isi dengan maksiat maka kehidupan sebenarnya telah ditempuh dengan kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah yang dimaksudkan dengan pendeknya umur pelaku maksiat.

Hindari Maksiat dengan bertawakkal kepada Allah.

«  dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. » (QS.25, Al Furqan, ayat 58).

 

Berhatihatilah selalu, Jangan berbuat maksiat.

Ketagihan berbuat maksiat sulit menghentikan. Kehinaan dan kemudharatan datang akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya.

« Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. » (QS.22,Al-Hajj:18).

 

Kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan.

Kemuliaan hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. dan zikir kepada Allah yang menyebabkan diri terhindar dari maksiat. Perkataan yang baik dan amal yang akan dinaikkan oleh Allah untuk diterima dan diberikan pahalanya oleh Allah Azza wa Jalla.

Ulama Salaf berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”. Maka tinggalkanlah perbuatan maksiat itu.

Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat,

Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.

« (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, »

Para malaikat yang suci senantiasa bertasbih dan bertahmid serta beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Sementara manusia sering lupa kepada tuhannya. Ketika seorang bermaksiat, senyatanya dia telah menganggap remeh Allah swt, bahkan tidak meyakini bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatannya. Sungguh ini adalah kedurhakaan luar biasa. Para malaikat selalu mendoakan orang yang bertaubat dan kembali ingat kepada Allah dan menghindar dari maksiat dengan bertaubat atas kesalahannya. Hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya dengan harga tinggi.

Tiada yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bayaran kehidupan surga yang abadi.

 «  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, ».

Bila seorang melakukan perbuatan maksiat dengan berbohong, mungkir janji, berzina, mencuri, korupsi yang hanya memberikan kesenangan sejenak, maka sesungguhnya ia telah tertipu dengan menjual diri dan kehidupannya dengan harga yang sangat rendah … !!!

Karena itu kepada orang yang bertaubat maka para Malaikat senantiasa mendoakan mereka dengan ;

 « dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar. » (QS.40, Al-Mukmin: 7-9)

Gambar

Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.

Allah berfirman ; «  dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). » (Asy-Syura: 30)

Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.”

Karena itu sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang pernah dilakukan.

Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat.

Amin.

Selalulah Hemat dan Hatihati

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah. Mubazir itu perbuatan syaithan.

Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki.

Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur). Hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran.

Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap tanpa bekas dalam jiwa.

Berupayalah menjadi hamba Allah yang pemurah dan hemat belanja. Amalkanlah tuntunan Allah dalam Al Quranulkarim, Surat al Furqan ayat 67, dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”.

Jadikanlah Ramadhan bulan menahan diri dari semua keinginan yang tidak perlu. Berbuatlah untuk selalu mawas diri dan berhati hati dalam bertindak laku.

Gambar

Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, karena menuntut ilmu adalah ibadat. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah.

Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh malam terakhir Ramadhan karena di dalamnya terdapat malam utama, yakni Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.

Berharaplah  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Rebutlah peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja.

Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan. Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri. Menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Ingatlah, apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Bersegeralah bertaubat.

Simpulannya, lakukanlah muhasabah terhadap segala hal dan urusan. Pelihara  solat berjamaah. Tunaikan zakat. Hubungkan silatur rahim. Berbakti kepada kedua ibu-bapa. Beri perhatian terhadap jiran tetangga. Maafkan orang-orang yang ada perselisihan dengan kita. Hindarkan diri dari perbuatan mubadzir. Didik orang yang di bawah tanggungan jawab kita. Ambil perhatian yang sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim. Jangan diselewengkan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri. Tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat ke arah kebaikan. Jauhi sifat ria. Cintai saudara atau teman sejawat seperti mana sikap mencintai terhadap diri  sendiri. Selalu berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing). Perbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah. La’allakum Tattaquun. La’allakum tasykuruun. Insyaallah akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu. 

Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya. 

Wassalam ***

 

Memanfaatkan Ramadhan Dengan Optimal

Surau Singgalang

 

Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”  

Ada beberapa kaedah yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat Muttaqin dengan kehatihatian menjaga ibadah puasa Ramadhan ini. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberi peluang emas dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat selama ini.

Melalui ibadah (ta’mir) Ramadhan dapat menyimak dan meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam mengingatkan kita bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah hidup di dunia ini makin pendek.

Manfaatkan masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Selain dari pada itu, hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa ..Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.

Biasakanlah lidah untuk berzikir terus menerus, dan jangan tergolong ke dalam kategori orang-orang yang hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 

Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya.

Bergiatlah agar tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, keuntungannya amat besar di sisi Allah Azza wa Jalla.

Bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i.

Barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.

Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat.   

Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang.

Gambar

Manfaatkan waktu Ramadhan semasa masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah. Hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya.

Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan. Tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat. Giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik. ****

REBUT PELUANG AMAL DALAM RAMADHAN

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Adalah hal paling disenangi jika kita berkenan menyediakan makan-minum untuk orang yang berbuka puasa dalam Ramadhan ini. Pahalanya sebesar pahala puasa orang yang diberi perbukaan itu. Selain itu sukalah iktikaf di rumah Allah atau masjid sebanyak mungkin dengan melakukan shalat, tilawah al Quran, menghadiri majlis ilmu, dan basahi lidah untuk banyak zikir, tasbih, tilawah, istighfar, dan melakukan ibadat ‘mubah’ (adat) dengan niat ‘ibadat’ dengan niat mencari redha Allah semata.

Lakukanlah muhasabah terhadap segala urusan, seperti : memelihara solat berjamaah, membayar zakat, hubungan silaturrahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang yang ada perselisihan dengan kita,  menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang berada di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap mencintai terhadap diri sendiri, menjauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Jangan lupa lengkapi puasa dengan berdoa disaat berbuka puasa setiap harinya sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW dengan membaca doa “Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah = ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 dan Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

Dalam Ramadhan yang berkah ini, kita perlu mengajak umat berdoa dalam qunut-qunut witir untuk saudara-saudara kita di berbagai Negara yg sedang dizhalimi. Namun, tidak mungkin mengajak berdoa dan qunut kalau umat belum tahu kenapa qunut itu. Mestinya ada upaya mencerdaskan umat dengan kondisi umat Islam di Palestina, Suriah, dan juga Mesir. 

 

Ramadhan itu bulan ibadah dan amal shaleh. Bukan amal shaleh yg terpaku dgn amaliah fardiyah belaka. Bukan sekedar fiqh shiyam, shadaqah, qiyamullail, dan sejenisnya.

Hindari terlalu banyak berbicara melainkan jika memang perlu dan yakin bahwa berbicara tersebut akan menaikkan martabat dan manfaat kepada orang lain serta berupaya menjauhi semua yang menghalangi hati dekat dengan Allah swt. Ingatlah akan sabda Rasul SAW bahwa ucapan bohong menghapuskan pahala puasa sebagaimana disebutkan dalam hadits, Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, serta mengganggu orang lain (jahil), maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057).

Gambar

Cobalah semai kebaikan pada bulan mulia ini dengan menyebarkan pandangan yang bernas. Marilah kita saling mendoakan. Sesungguhnya ‘kejayaan’ dan ‘keberhasilan’ dalam hidup kita berada di tangan kita sendiri.

Moga kita dapati kasih sayang Allah dengan mengoptimalkan ibadah shaum Ramadhan dan banyak bergaul dengan golongan yang mencintai Allah agar kita mendapatkan pula kecintaan dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana disabdakan Sabda Rasulullah SAW, “Apabila Allah mencintai si hamba, Allah berfirman menyeru Jibril, ‘Wahai Jibril Aku telah mencintai si polan, maka kamu hendaklah mencintainya’. Lantas Jibril berseru di langit ‘Sesungguhnya Allah mencintai si polan, oleh itu kamu hendaklah mencintainya.’ Jika si hamba telah dicintai penghuni langit, penduduk bumi pun akan turut mencintainya.” (HR Imam Ahmad).

Wassalamu’alaiykum.

DALAM SAHUR ADA BAROKAH

Surau Singgalang

oleh: H. Mas’oed Abidin

           

Sabda Rasulullah SAW “Bersahurlah kamu, karena dalm sahur itu ada keberkatan” (Al Hadist riwayat enam perawi hadist kecuali Abu Daud).

Sahur adalah pertanda awal pelaksanaan ibadah puasa di setiap hari. Bersahur adalah  suatu suruhan (sunnah) Rasulullah SAW, yang juga merupakan rahmat dari Allah.  Sahur memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sahur hendaklah pelaksanaannya di tak-khir kan atau dilambatkan waktu nya menjelang mendekati  waktu subuh. Maksudnya supaya dapat dipersiapakan kekuatan jasmani di siang hari di kala menahan (imsak), juga supaya shalat shubuh sebagai salah satu sendi asas Agama Islam itu tidak tercecerkan.  Sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan kalangan non Islam (Yahudi, Nasrani) dan sebagainya.

       

Bagi masyarakat muslim di Minangkabau makan sahur disebut makan parak siang atau makan sebelum fajar pertanda siang akan datang. Selanjutnya bimbingan Allah dalam firmanNya menyebutkan bahwa pada malam hari bulan Ramadhan itu seseorang Muslim dapat melakukan hubungan dengan keluarganya, dapat juga makan dan minum hingga terbitnya fajar, sebagaimana isi Wahyu Al Quran artinya makanlah dan minumlah hingga kamu dapat membedakan antara benang putih dan hitam di waktu fajar, dan kemudian sempurnakan puasamu hingga datang malam (QS.2:187).

Agama Islam tidak membenarkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hari dan malam, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah mengubah hukum-hukum Allah. Bagi setiap muslim berpuasa diawali dengan sahur dan diakhiri dengan ifthar(berbuka) setiap harinya. Demikianlah hudud (ketentuan hukum) dari Allah. Pelaksanaan sahur sebelum imsak atau fajar datang ini menjadi kesiapan diri melaksanakan hukum-hukum Allah secara benar tanpa reserve.

Lebih jauh mengajarkan seseorang Muslim untuk teguh dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum yang ditetapkan sepanjang hidupnya. Sesungguhnya seseorang Muslim dengan ibadah yang dikerjakan dididik teguh mengamalkan hukum untuk kemashlahatan bersama.  Dia akan berani mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu adalah salah. Hukum adalah kebenaran dari Allah, bukan kekuasaan karena mengikut hawa nafsu belaka.

Ibadah puasa (shaum) akan melahirkan sifat sabar (tabah dengan kejujuran) dan istiqamah (konsisten, teguh berpendirian) serta qanaah (sikap merasa cukup sesuai dengan hak yang dimiliki). Ketiga sifat utama ini dilatih dengan intensif pada setiap rukun puasa dengan penuh kedisiplinan diri. Disiplin yang tidak dipaksakan dari luar tapi disiplin yang ditumbuhkan dari dalam mengakar pada sikap dan berbuah dalam tindakan. Sungguh benar Rasulullah SAW dengan tugasnya sebagai “rahmatan lil-alamin”.

Didalam melaksanakan Ibadah shaum yang optimal meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW, “Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760).

Pesan Rasulullah SAW ini menjadi dalil bahwa di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah dan ke ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka.

Gambar

Cobalah semai kebaikan pada bulan mulia ini dengan menyebarkan amal khairat dan pandangan bernas. Marilah kita saling mendoakan. Sesungguhnya ‘kejayaan’ dan ‘keberhasilan’ dalam hidup kita berada di tangan kita sendiri.

Moga kita dapati kasih sayang Allah dengan mengoptimalkan ibadah shaum Ramadhan dan banyak bergaul dengan golongan yang mencintai Allah agar kita mendapatkan pula kecintaan dari Allah Azza wa Jalla

Padang, Ramadhan 1434 H/Juli 2013 M

TIGA PILAR DIEN al HAQ

Surau Singgalang

Oleh Masoed Abidin

 

« Sesungguhnya agama disisi Allah Hanyalah Islam » (Q.S. Ali Imran: 19). Inilah sebuah pernyataan dari Allah Azza wa Jalla tentang agama yang amat diperlukan oleh manusia dalam kehidupan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132).

Didalam ayat lainnya disebutkan, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85).

Dengan agama Islam dibentang konsep tentang kehidupan dan kemana arah tujuannya serta bimbingan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sekitarnya melalui tiga pilar saling berkaitan yakni Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.

Umar bin Khaththab r.a berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW. Tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat. Tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah. Lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau. Meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah SAW menjawab, “Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Orang itu berkata, “Engkau benar!”. Kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya.

 Orang itu berkata, “Terangkan kepadaku tentang iman!”. Rasulullah SAW menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”. Rasulullah SAW bersabda, “hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam. Kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim).

Hadits shahih Rasulullah ini memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Islam dimulai dengan ikrar Syahadatain yakni penyerahan total jiwa, akal, perasaan dan keinginan atau aziimah dengan meyakini “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Gambar

Syahadat ini menjadi pengendali kehidupan dalam perkara halal haram dan berinteraksi sosial antara muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabat dan tetangganya. Sesungguhnya tidak satupun selain Allah yang mengatur perjalanan hidup kita.

Allah A’lam As-Shawwab.***

HAKIKAT MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Surau Singgalang

Oleh Masoed Abidin

 

Firman Allah menyebutkan. “ Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; Barangsiapa yang tiada bersyukur (kufur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji . ” (Q.S. Luqman: 12).

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan nikmat yang tiada terhitung dalam penciptaan manusia dan semua keperluan hidup. Diawali dengan rasa kasih sayang dalam hati kedua orang tua. Melengkapi manusia dengan panca indra, pikiran yang membedakan manusia dari makhluk lain. Dicukupkan nikmat itu dengan petunjuk ke arah kebenaran dengan agama yang benar.

Nikmat berlimpah yang tidak terhitung walaupun seluruh pohon yang ada dibumi dijadikan pena dan air laut dijadikan tinta tidak akan mampu mencatatnya. Namun manusia masih kurang mensyukuri bahkan mengingkari penciptanya tersebab kecongkakan semata. Gambar

Sesungguhnya nikmat dan karunia Allah SWT tidak akan terasa berlimpah ruah kecuali adanya rasa syukur.

Mensyukuri nikmat akan menambah nikmat yang lebih banyak dengan memelihara nikmat yang telah ada. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).

Kemampuan mensyukuri nikmat Allah terlihat nyata didalam amal ibadah, amal sosial dan budi pekerti. Peribadi yang mampu berlaku sabar dan tabah disaat krisis mestinya diiringi dengan mensyukuri nikmat pada saat menemui kebahagiaan. Allah SWT telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain dengan rahasia dan nikmat tersembunyi, yang tidak mungkin diketahui seseorangpun sebelumnya kecuali hanya Dzat-Nya semata.

Amat banyak manfaat dan maslahat bagi hamba-hamba itu yang tidak disingkapkan rahasianya kepada mereka. Semestinya setiap hamba bersikap ridha terhadap ketentuan Allah SWT atasnya dengan qana’ah dan selalu mensyukuri segala nikmat karunia kepadanya.

Diantara tanda syukur adalah memandang besar sesuatu nikmat serta memandang agung Allah SWT yang memberi nikmat yang tak terhitung banyaknya. Setiap hamba tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah diterimanya setiap hari. Syukur adalah mensucikan Allah SWT. Meng-Esa-kan-Nya dalam beribadah dan memujinya. Allah SWT mengaitkan antara syukur dengan zikir sesuai firman-Nya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al Baqarah: 152).

Mensyukuri nikmat Allah SWT dilakukan dengan hati menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT yang wujud melalui ibadah kepada-Nya serta mengimani sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT. Bersyukur dengan ucapan lisan dengan memuji keagungan-Nya. Bebicara yang baik serta mencegah ucapan tidak bermanfaat. Bersyukur dengan anggota badan adalah menggunakan anggota badan untuk melakukan perbuatan baik sesuai perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.

Walaupun manusia mengingkari nikmat Allah SWT niscaya tidak akan mengurangi kemahakayaan kemahamuliaan Allah Azza Wa Jalla. Selanjutnya manakala manusia mau bersyukur dan beribadah dengan keikhlasan kepada Allah SWT maka keuntungan akan dirasakan oleh manusia itu sendiri. Bila manusia menolak atau kufur kepada Allah maka peruatan itu akan kembali kepada diri manusia itu sendiri.

Pesan Rasulullah SAW, “Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa faqirmu. Pergunakanlah kesempatan masa hidupmu sebelum datang saat kematiamu.” (HR. Baihaqi). ***