29
Des
09

Menumbuhkan Ketauladanan Pemuda dalam Nagari

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه،  ومن سار على ربهم إلى يوم الدين.  أما بعد.

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.

Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu,  yang  mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan.

Mukaddimah

Para pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa. Maka sepatutnya diberi amanah berbagai peran pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Mereka harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

Pemuda-pemudi yang ingin menjernihkan akal budi dari tantangan kontemporer, mesti dibekali jati diri sesuai fitrah anugerah Allah.

Tantangan kontemporer antara lain penetrasi budaya dan sekularisme yang menjajah mentalitas manusia utamanya generasi muda bangsa di abad ini.

Di samping itu the globalization life style didominasi sikap yahudis serta suburnya budaya lucah (sensate culture) yang memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat (ditonton), didengar, dirasa, disentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani).dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba.

Gaya hidup globalisasi

Masalah besar hari ini, terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media informasi dan makin berkembang budaya pengagungan materi berlebihan (materialistik), dengan memisah dunia dari supremasi agama (sekularistik). Memuja kesenangan indera, mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Satu gejala penyimpangan budaya luhur turun temurun, yang serta merta memunculkan Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

Dunia pendidikan digoncangkan fenomena vandalistik, tampak pada tawuran pelajar, kebiasaan a-susila dikalangan remaja dengan kecabulan pornografis yang sulit dibendung. Sebagian cendekiawan pula mulai meminati kehidupan non-science, asyik maksyuk mencari kekuatan gaib, dan tidak jarang terjadi, belajar sihir, mencari paranormal,kekuatan jin, bertapa ketempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik. Ilmuan pun mulai rajin menguasai magic.


Tidak hanya itu, limbah budaya kebarat-baratan ikut membalut  remaja dengan sensate-culture.[1] Pola hidup hedonistic atau premanisme dengan hiburan selera rendah berorientasi 3-S (sun-sea-sex) dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat (menurutkan hobi dan syahawat), sikap individualistik berkembang karena terlepas dari kawalan agama dan adat luhur. Maka, tampillah gaya permissiveness dan anarkis yaitu berbudaya nan lamak di salero (sensete culture).

Orientasi budaya seringkali tampak hanya terfokus kepada hiburan melulu, akibatnya grand norms dan grand ideas di tengah masyarakat mulai terlepas. Kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s.[2] Ukurannya sensual, erotik, horor, ganas, lahir di klub-klub siang malam atau night club, kasino dan panti pijat.

Di antara Bentuk  Ghazwul Fikry adalah Sekularisasi dan gerakan yahudi

Faham sekularisme telah menanamkan rasa benci kepada Islam (Islamophobia) yang disebut Takhawwuf La Mubarrira-lahu tijaha al-Islam, yakni rasa takut yang tidak beralasan terhadap segala yang bersifat Islam. Rasa takut ini adalah perangai golongan yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.

Anehnya, di zaman ini ketakutan terhadap Islam itu, kadang-kadang tumbuh pula didalam hati muslim yang tidak senang melihat nama dan simbol Islam diperjuangkan dalam konteks politik atau budaya, karena beranggapan bahwa perjuangan berasas Islam adalah suatu kesesatan.

Pemahaman ini menunjukkan adanga perubahan dalam misdaqiah iman orang Islam yang dapat disebut golongan keliru atau ragu, bahkan tidak percaya kepada kemampuan Islam untuk menyumbangkan kebaikan kepada rakyat dan negara. Mereka  adalah kalangan yang putus asa terhadap Allah.

قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

…. mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS.al-Mumtahanah:13)

Semestinya mukmin yang menerima ajaran Islam  wajib menaruh penghormatan kepada keutamaan Islam dan peka terhadap ajaran Islam. Disamping itu, umat Islam mesti menguasai ilmu yang membawa kepada penghargaan agama.

Masyarakat Minangkabau wajib mengikuti ajakan Allah sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah agar umat selamat.

Dalam Fatwa adat disebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga keteraturan hukum dan undang sebagai satu ciri-ciri utama bermasyarakat itu.

“Nan babarih babalabeh, nan baukua nan ba jangko, mamahek manuju barih, tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah karareh. Kok manggayuang iyo bana putuih, Kok maumbak iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai. Ada aturan sesuai garis sunnatullah, agar terlaksana dengan baik.

Mendalami ilmu, melahirkan rasa khasyyah (takut) dan takwatakabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain. Ilmu seperti itu tidak menampilkan keberkahan, kasih-sayang dan rahmat Allah, sebaliknya akan mengundang kebencian makhluk dan Khaliq. kepada Allah. Karena itu, generasi muda berilmu wajib menjauhi rasa


Epistemologi yang menolak tuhan dan relevansi agama (Islam) dalam kehidupan adalah epistemologi sekular yang cinta kejahatan dan kebatilan, membenci kebenaran dan kebaikan.

Ilmu pengetahuan perlu diganding dengan keimanan sejak dini.

JAUHI SIFAT-SIFAT YAHUDI

Umat Islam terutama generasi muda Minangkabau yang Islami, mesti menjauhkan diri dari sifat  Yahudi yang akan mengundang bala musibah ditengahb kehidupan masyarakat, di antaranya,

  1. Menyimpang dari Kebenaran Agama setelah   tahu

وَءَامِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Alquran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS.al-Baqarah : 41)

Allah menegaskan sikap penolakan yahudi terhadap kebenaran agama Allah.

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين

Dan setelah datang kepada mereka Alquran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. al-Baqarah : 89)

Penolakan hudud Allah dengan enggan melaksanakan sunnah Rasulullah.

Menghalalkan arak, judi. Menghalangi pendakwah ajaran Allah. Menolak pemakaian simbol Islam dalam perjuangan sosial politik. Telah mengaburkan jatidiri dan pemikiran  Islam. Satu bentuk penafian keimanan (akidah Islam).

  1. Menghalangi  Mengikuti ajaran Agama

Golongan yahudi merancang agar generasi Islam tidak menjadi pejuang Islam yang baik.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Kebanyakan pengikut kitab (samawi) terdahulu suka memalingkan kamu menjadi kafir kembali setelah beriman karena sifat hasad dengki dan sifat kufur dalam hati mereka,  pada hal telah jelas kepada mereka hakikat kebenaran (agama Allah). (QS. al-Baqarah : 109)

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maksudnya: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mu’min) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (QS.al Baqarah, 76).


  • Menolak Konsep Tauhid

Tidak memahami agama  secara benar.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (QS. al-Baqarah  : 79)

Mereka mencoba menafsirkan agama jauh dari tuntutan disiplin yang sangat diharamkan oleh Islam.

فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ


Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.


Mereka menuduh agamawan Islam membujuk orang dengan sorga.

Padahal, yahudi menolak hari berbangkit, karena tidak masuk akal mereka.

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS.al Baqarah : 80).


  • Tidak Sopan Terhadap Allah  dan RasulNya.

Sifat yahudi tidak beradab kepada Allah dan Rasul.

Mudah mempermainkan tuhan, agama dan Rasulullah.


  • Kufur Terhadap Nikmat Allah.

Tidak menghargai nikmat Allah.

Pongah menagih terima kasih manusia.

Kufur dengan nikmat.

Firman Allah,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?

Allah berfirman lagi,

اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ

Pergilah kalian ke Mesir. Di sana kalian akan menemui apa yang kalian inginkan.   (QS. al-Baqarah ayat : 61)

  • Memungkiri Janji Setia Dengan  Allah.

Sifat Yahudi yang suka mungkir janji,

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Tiap kali mereka bersumpah setia ada saja segolongan mereka merobeknya. Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman. ( QS. Al-Baqarah 100)

Sikap yahudi mudah menjanjikan dan mudah pula mungkir. Apa yang dikatakannya berlawanan dengan yang dilakukan.


  • Suka Berpolemik, Emosional dan Tidak Objektif.

Suka menegakkan benang basah,  emosional, seringkali tidak objektif, memutar balik agama untuk muslihat politik, keras kepala, tidak tunduk kepada kebenaran, mencari-cari alasan tidak melaksanakan perintah Allah, seperti diceritakan dalam peristiwa sapi betina,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينْ

Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih  seekor sapi betina”. Mereka berkata, “Apakah kamu, wahai Musa, akan menjadikan kami, orang-orang pintar dan intelek ini, hendak menjadi buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang yang jahil (bodoh)”. (QS. Al Baqarah : 67).

Dan Jika mereka disuruh berjuang mereka berkata,

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Pergilah  anda (Nabi Musa) dan Tuhanmu saja yang pergi berjuang. Kami biarlah tetap menunggu saja di sini (sambil menunggu kemenangan engkau berjuang bersama-sama tuhanmu). (QS.al Maidah : 24).

  • Suka Menyembunyikan Kebenaran.

Naifnya sifat yahudi sekuler, mau mengambil cikarau dengan tangan tidak berluluk (berlumpur), mau senang dan tidak yakin adanya hari akhirat, takut dengan suara kebenaran dengan menyembunyikan hakikat kebenaran agama.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan hidayah Kami setelah Kami menyatakannya dalam al-Kitab itulah golongan yang dikutuk Allah dan para pengutuk yang lain. (QS.al Baqarah : 159).


Kemudian, Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang  yang suka menyembunyikan ayat-ayat yang Allah turunkan dalam al-Kitab (Alquran)  karena hendak menukarnya dengan kepingan ringgit yang sedikit  sebenarnya mereka menelan dalam perut mereka api neraka. Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat, Allah tidak akan membersihkan mereka. Untuk mereka disiapkan siksa yang amat pedih. (QS.al Baqarah : 174).

  • Anggap Diri Paling Betul, Paling Baik dan Lurus.

Meskipun kejahatan telah menusuk mata orang ramai, namun tidak pernah merasa bersalah.

Kesesatan yang bercelaru (tindih bertindih).

Tetapi, tetap menganggap orang lain yang sesat.

  • Cinta Dunia dan Serakah

Yahudi bersifat tamak, cinta dunia (hubbud dunya) dan serakah kepada harta yang fana,  menindas dhu’afak tanpa belas kasihan.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Engkau akan dapati mereka – wahai Muhammad – sebagai orang yang paling tamak untuk hidup, demikian juga halnya dengan orang yang musyrikin. Ada di antara mereka yang mengharapkan – kalau boleh – untuk hidup seribu tahun, namun kalaupun ia hidup seribu tahun ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari siksa Allah. Allah maha melihat apa yang mereka lakukan. (QS.al Baqarah : 96).

Maka, setiap Muslim mesti menjauhkan diri dari sifat mazmumah Yahudi ini. Umat Islam mesti menguasai ilmu-ilmu yang tidak diserapi oleh faham  sekularisme ini.

BERUPAYA MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER

Umat Islam khususnya kalangan el-fataa (remaja dan pemuda terdidik) wajib mengukuhkan ukhuwwah dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik untuk menjadi senjata ampuh menghadapi  tantangan  kontemporer.

Persaudaraan tidak dapat diraih dengan kekejaman dan penafian hak-hak individu orang banyak.[3]

Tamak dan loba dalam tatanan ekonomi mempertajam permusuhan antara dhu’afak dengan kapitalis konglomerasi. Loba dan bakhil dapat meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan umat.

Setiap Muslim wajib menghargai dan mengagungkan Allah yang menjadi sumber rezeki, sumber kekuatan, sumber kedamaian dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. [4]

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah, hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, sensual, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), yang disebut dalam Alquran menjadi bukti mendarah dagingnya Islam  didalam diri.

Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan di dalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.

Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.[5]

TANAMKAN MAHABBAH

Sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان

من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما

ومن احب عبدا لا يحبه الا الله

ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.[6]

TEGUHKAN TEKAD BERJALAN MENUJU REDHA ALLAH

Berjalan menuju Allah artinya berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor) kepada jiwa yang bersih.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari akal yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i) kepada akal yang tunduk kepada syarak.

Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq, sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.

Berjalan  menuju Allah adalah berpindah dari ruh  yang menyimpang dari pintu Allah dan tidak mengingat tugas pengabdian kepada ruh  yang mengenal Allah.

Perjalanan kepada Allah dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya. Berjalan dari jasad yang tidak terkendali  syara’ kepada jasad yang terkendali syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari zat yang kurang sempurna kepada zat yang lebih sempurna. Dari kelengahan kepada kesalihan mengikut Rasulullah SAW, dalam ucapan, perbuatan atau  amalannya. [7]

Berjalan menuju Allah dengan ilmu dan zikir.

Dengan keduanya menyampaikan kepada tujuan (wusul).

Dimaksud dengan ilmu ialah Alquran dan As-Sunnah yang diperlukan menuju Allah.

Dzikir ialah yang diwariskan dan  dianjurkan dalam perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Jalan paling tepat adalah memperbanyak zikir, dengan kemestian  disertai ilmu.

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan ”al-qalb al-salim” yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

KEBAIKAN HATI MENJADI TITIK TOLAK KEHIDUPAN ISLAMI.

Bersih hati, peluang besar menerima perintah Allah dengan sempurna.

Pemuda pelopor Tarbiyah Islamiyah, perlu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik.

Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik).

Sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

– Allah berfirman :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا –  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan). [8]

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [9]

Jiwa atau النفس inilah yang perlu dijaga pertumbuhannya agar manusia beroleh kebahagian sesungguhnya di dunia maupun di akhirat nanti.

Seseorang yang di dalam hati dan jiwanya telah bertakhta keimanan kepada Allah (tauhid) mesti menjauhi sikap menjadi pengikut buta tuli.

Menjauhi menjadi tukang angguk tanpa menggunakan akal waras.

Karena, dapat menghapus martabat kemanusiaan dan menggugat kejernihan akal-budi.

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.

Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah.

Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.

Nafs al-Natiqah atau ruh  manusia dalam jasad mudah dikotori oleh berbagai kotoran.

Yang paling besar bahayanya ialah syirik atau menyekutukan Allah. Karena itu orang musyrikin itu dikatakan ruhaninya najis.

Allah berfirman,    إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ   Bahwasanya orang-orang musyrikin itu najis. [10]

Selain daripada syirik, maksiat dan dosa, jiwa dirusak oleh ghaflah dan lalai.

Langkah pertama menghidupkan jiwa (hati) yang mati itu dengan tazkiyah nafs dengan zikrullah,  muraqabah dan tafakkur.

Nabi SAW bersabda :

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت 

Umpama orang yang mengingati Tuhannya dan orang yang tidak ingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati. [11]

MURAQABAH

Muraqabah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan tauhid rububiyah, melalui ibadah, melatih nafs an-natiqah = النفس الناطقة  menjadi jiwa yang jinak nafs al muthmainnah = النفس المطمئنة     yang bersih dan terkendali, atau

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ 

Gementar karenanya (karena mendengar bacaan ayat al-Qur’an) kulit (anggota) orang yang takutkan (kebesaran) Tuhannya, Allah; kemudian menjadi tenang kulit (anggota) dan hati mereka ketika mereka mengingati (kesempurnaan) Allah.” [12]

Bila sesorang mendapat kurnia Allah, maka dia akan memiliki kearifan atau dhawq dan kesempurnaan sifat-sifat anugerah Allah.

Insya Allah dia akan tumbuh menjadi insan yang memiliki visi duniawi dan ukhrawi serta memiliki kearifan alun bakilek alah bakalam, di dalam istilah Minangkabau.

Benarlah kata setengah ulama tasawwuf siapa dapat al-warid maka ia dapat dhawq.

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

(Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya).

Hikmah ini mesti di pelihara dengan ilmu dan zikrullah untuk merintis jalan menuju Allah (rihlah dakwah ilaa Allah).

Perjalanan menuju Allah mustahil tanpa ilmu dan zikir.

Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.

Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.

Ilmu adalah yang menerangi jalan.

Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.

Rasulullah SAW bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما

(رواه ابن ماجه وهو صحيح)

“ Dunia dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya, – Artinya orang yang senantiasa ingat dan mengerti bahwa semua yang ada ini adalah ciptaan Allah SWT yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja, dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian –,  atau orang yang berilmu dan yang menpelajari ilmu”  (Hadith sahih, riwayat Ibnu Majah). [13]

Maka inti perjalanan menuju Allah adalah perjalanan dengan hati menuju kebaikan.

Diperkuat oleh upaya selalu mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus, dengan  melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah sampai kematian datang menjelang.[14]

PERTARUNGAN HATI NURANI

Pergulatan  antara hati atau ruh  atau النفس الناطقة   = an nafs an-Natiqah dan   النفس الحيوانية = an nafs al hayawaniyah atau nafsu syahwat itu terus berlaku. Ada kalanya hati menang melawan kehendak nafsu.

Ada kalanya hati kalah dan nafsu menjadi pemenang.

Celaka orang yang hatinya dikalahkan oleh nafsunya.

Berbahagia orang yang nafsunya dikawal oleh hati yang bertauhid.

Senjata yang dipakai oleh hati melawan godaan nafsu syaithaniyah adalah nur hidayah Allah.

Nafsu yang ditunggangi syaithaniyah bersenjatakan syahwati dalam kegelapan = ظلمات   dosa maksiat.

Pengaruh berbagai kehendak syahwat  hanya dapat dikalahkan apabila hati benar-benar telah dikurniakan oleh Allah warid iqbal = وارد الا قبا ل  yang akan mendorong hilangnya keinginan-keinginan kepada apa saja selain yang diredhai Allah.

Maka, jadilah ia hamba Allah yang bertauhid dan bertakwa.

Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah dan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.


TAUHID ULUHIYAH DASAR DARI SYARAK MENGATA (MENGHUKUMKAN) DAN ADAT MEMAKAIKAN (MELAKSANAKAN)

Menurut asal usul kata Allah secara harfiyah berasal dari Ilah – yakni Al Ma’bud, sesuatu yang dianggap berkuasa dan besar, mempunyai nilai yang pantas disembah dan ditaati sepenuh hati. Kata al Ma’bud, sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah seorang hamba minta pertolongan.[15]

1.      Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”.

Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah suatu sikap yang munafik dan syirik (musyrik). Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain.[16]

2.      Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid.

Maka, “paradigma tauhid” – Laa ilaaha illa Allah – sebagai satu misi risalah.[17].

Konsepsi Tauhid adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.[18]

Karenanya apabila syarak telah mengata, maka adat memakai.       

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban. [19]

3.      Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

4.      Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid tersebut.

Dalam tatanan masyarakat Minangkabau dirakitkan dalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

5.      Konsepsi Tauhid Uluhiyah harus istiqamah terhadap hukum wahyu dalam gagasan keyakinan dan gerak pelaksanaan.

Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  syirik (musyrik).[20]

6.      Realisasi tauhid uluhiyah adalah pengabdian (ibadah) hanya kepada Allah, semata-mata dapat terwujud kepada di akuinya lembaga kedaulatan Allah di bumi (Mulkiyah Allah)[21].

Kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, baik itu madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) diringi dengan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran dan berharap supaya dihindarkan dari azab neraka, akan berperan didalam hidup berakhlak karimah, dengan mengutamakan kesopanan pergaulan dan memakaikan rasa malu.


Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek [22]

Apabila malu sudah hilang, tidak ada lagi yang mengikat seseorang untuk berbuat seenak hatinya. 


Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso. [23]

Maka orang‑orang yang akan memperoleh tempat kembali yang baik disisi Allah harus memiliki sifat dan sikap jiwa yang konsisten (istiqomah), yakni sabar (tabah, tahan uji, intens), benar (jujur, amanah, shiddiq), patuh kepada Allah, menafkahkan hartanya dijalan kebaikan (Al Munfiqiina), dan selalu memohon ampun kepada Allah (selalu melakukan koreksi di akhir malam pada setiap tahapan pekerjaan hariannya). [24]

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِيْنَ اِتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارِ خَالِدِيْنَ  فِيْهَا وَ أَزْوَاجٌ  مَطَهَّرَةٌ  وَ رِضْوَانٌ مِنَ اللهِ.  وَ اللهُ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ.

Artinya, Kakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.


الَّذِيْنَ  يَقُوْلُوْنَ   رَبَّنَا إ ِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ قَيْنَا عَذََابَ النَّارِ.  الصَّابِرِيْنَ  وَ الصَّادِقِيْنَ  وَ الْقَانِتِيْنَ وَ الْمُنَافَقِيْنَ وَالْمُسِتَغْفِرِيْنَ  بَالأَسْحَارِ.

(Yaitu) orang-orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam perjalanan menuju kepada redhaNya.

Keseimbangan antara ilmu dan zikir muthlak ada dalam perjalan hidup manusia, karena hakikatnya tidak akan ada perjalanan melainkan dengan keduanya.

Zikrullah dilakukan dengan peningkatan amalan untuk membersihkan jiwa dan hati dari berbagai maksiat dengan berbagai amalan, antara lain :

  • Bertaubat terus-menerus.
  • Sembahyang fardhu berjemaah

Ø  Selalu memelihara wuduk

Ø  Makan minum yang halal..

Ø  Dikurangkan tidur

Ø  Jangan berkata percuma,  kecuali diperlukan.

Ø  Selalu muraqabah kepada Allah

Ø  Selalu menjaga niat untuk menghampirkan diri kepada Allah dan mendapatkan redha-Nya.

Ø  Membanyakkan bersedekah agar tidak mementingkan diri sendiri.

Ø  Melakukan muhasabah diri,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari akhirat.[25]

Ø  Bertaqwa kepada Allah  dengan melaksanakan suruhan dan menjauhi laranganNya.

Ø  Merenungkan amalan yang telah dilakukan agar jiwa menjadi insaf.

Ø  Memikirkan kewajiban yang dilaksanakan atau yang sudah dilalaikan.

Ø  Mujahadah al-nafs terutama melakukan berbagai adab yang mesti dipatuhi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Mujahadah al-Nafs bermaksud menghalang al-nafs dari yang bukan haknya dan memberikan hak orang lain.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرً

Dan mereka (orang abrar) memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. [26]

Ø  Membersihkan diri dari berbagai amalan dan aqidah yang salah atau yang berlawanan dengan kebersihan tauhid.

Merawat hati di dalam rangka tazkiyah nafs dilakukan dengan membersihkan niat, akidah dan ibadah.

PERAN GENERASI MUDA MENGHADASI ARUS KESEJAGATAN

Remaja masa depan di era globalisasi, wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik.

Fatwa adat di Minangkabau menyebutkan,

Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur .

Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan payung wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis muda Islam di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak menyatakan visi dan misi di dalam menegakkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau.

Generasi Minangkabau sewajarnya menjadi generasi dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur.

Umat Islam di Minangkabau yang ingin bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiya di nagari-nagari.

Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Ranah Bundo dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilalaikan.

Apabila anak nagari  di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat Islam ini akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur para leluhur (cultural base).

Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base).

Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base).

Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi Minangkabau,

Basilek di ujuang muluik, Malangkah di pangka karih, Bamain di ujuang padang. Tahan di keih kato putuih, Tahu di kilek dengan bayang, Tahu di gelek kato habih. Tahu di rantiang kamalantiang, Tahu di dahan nan ka mahimpok.”

Artinya, mendidik dan melatih kader pimpinan.

Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan.

Para pejuang muda Islam, terutama generasi muda perlu iltizam harakahsaciok bak ayam sa danciang bak basi. atau gerakan

Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik.

Mengamalkan budaya amal  jama’i yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Zaman menjadi lone ranger dan one man show tidak lagi masanya sekarang, dan sewajarnya sudah berakhir.

Pendekatan haraki (social movement) menangani isu perubahan global, sakali aie gadang, sakali tapian barubah, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab nan elok dipakai, nan buruak dibuang.

Kepimpinan bukan ghanimah mengaut keuntungan diri sendiri.

Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Sesungguhnya adalah satu gerakan masyarakat bersama atau harakah Islamiyah mengangkat umat di nagari mencapai kejayaan hidup sesuai syarak (Islam).

Kreativiti dan inovasi sebagaimana dimaklumi bersama berkait rapat dengan berbagai bidang dakwah. Antaranya pengurusan sumber manusia, komunikasi, percetakan elektronik, e-book, e-newspaper, video conferencing, virtual school, universiti maya dan sebagainya.[27]

Para ilmuan muda, cendikiawan atau suluah bendang di nagari perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah.

Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing.

Memelihara kesinambungan proses  mengajar dan belajar di tengah anak nagari. Generasi muda yang terdidik dengan paksi Islam – Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah –, mampu menilai teknologi maklumat, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Generasi muda masa kini mesti memiliki utilitarian ilmu.  berasaskan epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan,

Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view).

Kalau tak tasuo di jalannyo, namuah ba pua-pua dagiang, namuah bakacau-kacau darah, tando sabana laki-laki.”

Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi Minangkabau selalu awas dan berhati-hati,

Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi tantangan kontemporer, perubahan tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti bertumpu kepada istiqamah (konsistensi).

Fatwa adat menyebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.


Khulasah

Harus Segera Menampilkan Program Keumatan

Menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat khusus  di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat dilakukan dengan berapa agenda kerja, seperti ;

1.  Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

2. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

  • Memperbanyak program meningkatkan hubungan umat dengan Alquran.
  • Melipatgandakan pengaruh sunnah Rasulullah  dalam masyarakat.
  • Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW.
  • Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif dan proaktif membangun masyarakat dengan  bekalan tauhid ibadah.

3.  Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.

4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah.

  • Menggali sejarah kejayaan masa silam.
  • Menanam semangat kepahlawanan menghadapi musuh-musuh Islam.
  • Menyebarluaskan agenda musuh yang  melemahkan umat Islam di seluruh dunia.
  • Menyebarluaskan bahaya sekularis, materialisme, kapitalisme dan westernisasi.
  • Mengkritik rasialis dan assabiah jahiliyyah  dengan hujjah Islam yang benar.
  • Menentang aliran pemurtadan terhadap intelektual, pakar budaya, sasterawan dan wartawan yang merugikan Islam.

5. Meningkatkan program menguatkan peran muslimat dalam membentuk sejarah gemilang di zaman silam.

6. Menampilkan sistem pendidikan Islam melawan aliran pendidikan  sekular.

  • Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru dan remaja Islam agar tidak dapat dimusnahkan oleh sekularisme dan budaya porno kebaratan.
  • Menggandakan usaha melahirkan wartawan dan penulis Islam dalam berbagai lapangan media.
  • Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari.
  • Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari.
  • Penting sekali dilakukan usaha pembentukan da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
  • Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
  • Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.
  • Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan haraki Islami.

7. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

  • Mengukuhkan pergerakan umat dalam memerangi semangat anti agama, anti keadilan, dan demokrasi.
  • Meningkatkan budaya syura dalam masyarakat, untuk mengelak dari cara-cara imperialisme masuk kedalam masyarakat di era kebebasan.
  • Meningkatkan kesadaran dan keinsafan tentang hak asasi manusia, hak-hak sipil (madani) dan politik untuk seluruh rakyat.
  • Meningkatkan keinsafan mempunyai undang-undang yang adil sesuai syarak.
  • Memastikan kehadiran media massa yang bebas, sadar, amanah, beretika dan profesional agar umat tidak mudah dimangsa oleh penjajah baru, baik  dari kalangan bangsa sendiri atau orang luar.
  • Memastikan pemimpin umat dan negara terdiri dari kalangan orang yang bertaqwa, berakhlak dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga  dan kelompoknya.

8.   Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat tentang perlunya penghakiman yang adil. Kehakiman yang adil adalah tuntutan Islam.

9.   Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Generasi muda Islam, mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

H. Mas’oed Abidin

bin H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo


[1] Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.

[2] Budaya sensate ini dipertajam oleh kehidupan remaja kota dengan  budaya populer (urban popular culture) dan hedonistik (mulai berkembang 1960). …. Sensate culture menurut Pitirim, “…based upon the ultimate principle that true reality and value are sensory and that the beyond the reality and values wich we can see, hear, smell, touch and taste there is no other reality and no real values……….Despite its lipservice to the values of the Kingdom of God, it cares mainly about sensory values of wealth, health, bodily confort, sensual pleasures and last for power and fame. It’s dominant ethic is invariably utilitarian and hedonistic….. Its politics and economics are also decisively utilitarian and hedonistic……..” The globalization of lifestyle atau gaya hidup global, world wide sing sejak 1990 di awal globalisasi, banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah dengan  “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dan tipisnya keyakinan agama, tumbuhnya paham nihilisme budaya senang lelang (culture contenment).

[3] Pepatah Arab menyebutkan, اخاك اخاك ان من لا اخا له-  كساع الى الهيجا بغير سلاح

[4] Al-Baqarah, 257

[5] Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.

[6] Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan nasa^i.

[7] Sa’id Hawa, di dalam Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,

ومن جسد غير منضبط بضوابط الشرع الى جسم منضبط انضباطا كاملا بشريعة الله عزوجل, وبالجملة من ذات أقل كمالا الى ذات أكثر كمالا فى صلاحها وفى اقتدائها برسول الله صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا وحالا.

[8] As-Syams, 7-8

[9] Ibid, 9-10, Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس ialah nafsu jauhari النفس الجوهري  yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi.

[10] Al-Tawbah, 28

[11] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat

[12] Al-Zumar, 23

[13] Disebutkan di dalam bimbingan tasawuf sebagai berikut :

فلا سير الى الله بدون علم ولا سير الى الله بدون ذكر , فالعلم هو الذى يوضح الطريق والذكر هوزاد الطريق وأداة الترقى. قال عليه الصلاة والسلم:   “الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما”    (رواه ابن ماجه وهو صحيح).

[14] Said Hawwa, Tarbiyatuna al-Ruhiyah, hal. 64-72.

[15] Lihat QS.1:5

[16] Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5.

[17] Lihat QS.7:59, 7:72, 16:36.

[18] The Highest conception of Godhead.

[19] Pariangan menjadi tampuk tangkai. Pagaruyung pusat Tanah Datar. Tigo Luhak orang menyebutkan. Adat dan Syarak jika bercerai. Tempat bergantung yang telah putus (serkah). Tempat berpijak yang telah runtuh (terban). Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang anak nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Karena itu, kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.

[20] Lihat QS.6:106, 41:6,7

[21] Lihat QS.4:64, 4:80, 9:71, 120, 47:2,19, 47:33.

[22] Rarak (berjatuhan) kalikih (buah pepaya) karena mindalu (parasit). Tumbuh serumpun dengan sikasek. Kalau hilang rasa dan malu. Bagaikan kayu longgar pengikat. (Artinya, seperti seikat kayu  berserakan kesana kemari).

[23] Anak orang Koto Hilalang, Hendak lalu ke Pekan Baso. Malu dan kesopanan kalau sudah hilang. Habislah rasa dan periksa. Artinya seorang yang tidak bermalu akan berbuat sekehendaknya, tanpa memikirkan akibat perbuatannya itu.

[24] QS. Ali Imran, 3 : 15‑17,

[25] Al-Hasyr, 18

[26] Al-Insan, 8

[27] Para aktivis Islam perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan maklumat alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

25
Des
09

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”. (Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah.

Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam.

Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya .

Menurut Ibnu Qayyim al Janziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani.

Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati.

Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy.

Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita butuhkan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari.

Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT.

Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT.

Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir(Prostitusi) Allah SWT berftrman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecan-tikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

20
Des
09

Sifat Ibadu r-Rahman Kesebelas “ Bertafakkur dan Berzikir “

Sifat Ibadu r-Rahman Kesebelas

“ Bertafakkur dan Berzikir “

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ لِأُولِي

اْلأَلْبَاب  ِ(190)  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمــَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عـَذَابَ النَّار  ِ(191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berzikir) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (brtafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau , maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)

Sifat Ibadurrahman yang kesebelas : Menyelami ayat-ayat Allah (Bertafakkur dan Berzikir)

Ibadurrahman adalah sosok hamba Allah yang tiada henti bertafakkur dan berzikir, membaca dan sekaligus menghayati dan menyelami ayat-ayat Allah SWT yang kemudian menghasilkan kemantapan iman dan kematangan aqidah kepada Allah. Setiap apa yang mereka tangkap dari ayat-ayat Allah, mereka sikapi dengan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, karena itu mereka tiada pernah lalai akan printah Allah SWT. Mereka disifati Allah dalam Al Qur’an:

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tiadalah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”(Q.S. Al Furqan: 73)

Menurut pada ulama, ayat-ayat Allah ada dua macam: Pertama disebut ayat-ayat Takwiniyah dan yang kedua disebut ayat-ayat Tanziliyah.

Pertama: ayat-ayat Takwiniyah. Artinya tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat dan dapat kita saksikan di alam ini, yang dihamparkan di setiap tempat guna menuntun manusia menuju kepada Khaliqnya serta memberikan petunjuk kepada mereka tentang keberadaan-Nya. Dan ayat Takwiniyah yang terdekat adalah apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri.

Barangsiapa yang memandang ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata buta, hati yang tertutup dan telinga yang tuli, maka ia tidak akan mengambil manfaat sedikitpun darinya. Sebab hati, telinga, dan mata mereka tertutup, sehingga mereka bisu dan tuli tidak dapat mentadabburinya.

Kedua: Ayat-ayat Tanziliyah. Artinya, ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasul-Nya, berupa ayat-ayat wahyu, yang disudahi Allah dengan menurunkan Al Qur’anul Karim kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Al Qur’an merupakan ayat-ayat Allah, dan manusia tidak akan mungkin mampu membuat yang serupa dengannya.

Al Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang abadi, ayat-ayat yang abadi, yang dapat menyusup ke dalam hati dan pikiran tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Abdullah bin Urwah bin Az Zubair bertanya kepada neneknya Asma’ binti Abu Bakar, ”Wahai nenek, apa yang dilakukan para sahabat jika mereka mendengarkan al Qur’an atau mendengarkannya?” Asma’ menjawab, “Wahai cucuku, mereka seperti yang digambarkan Allah, mata mereka meneteskan air mata, kulit mereka gemetar dan hati mereka tertunduk.”

Bahkan para jin yang mendengat bacaan Al Qur’an pun terpengaruh. Allah SWT berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkat, ‘Diamlah kalian (untuk mendengarkannya). ‘Ketika bacaan itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnyalagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al Ahqaf: 29-30)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, diantara orang-orang salaf ada yang berkata, “Tadinya aku tidak pernah merasakan kelezatan di dalam Al Qur’an hingga Allah memberi anugerah kepadaku, sehingga aku membacanya seakan-akan aku mendengarkannya langsung dari Rasulullah SAW yang sedang membacakannya di hadapan para sahabat. Maka ketika aku membacanya, seakan-akan mendengarkan langsung dari Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian aku naik setingkat lebih tinggi lagi, sehingga seakan-akan mendengarnya langsung dari Allah.”

Ibadurrahman apabila mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an maka iman mereka semakin bertambah. Karena Al Qur’an adalah penawar hati mereka. Sementara orang-orang yang tiada iman dalam hatinya, justru membuatnya gelisah, dan mereka enggan mendengarkannya, karena telinga mereka telah tersumbat. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

“Katakanlah, ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipangil dari tempat yang jauh.” (Q.S. Fusshilat : 44)

Allahu A’lam bi as Shawab

20
Des
09

Sifat Ibadu r-Rahman Ketujuh, « Menjauhi Pembunuhan.. »

Sifat Ibadu r-Rahman Ketujuh,

«  Menjauhi Pembunuhan.. »

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; Janganlah kamu mempersukutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”

(Q.S. Al An’am: 151)

Sifat Ibadurrahman yang ketujuh: Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

Syari’at Islam tidak diturunkan hanya untuk menjaga agama dan aqidah semata, tetapi juga untuk menjaga darah dan jiwa, menjaga kehormatan dan kesucian, menjaga akal, keturunan dan harta benda. Karena itu Ibadurrahman sangat menjauhi tindak kekerasan apalagi yang mengarah  kepada pembunuhan, dan mereka sangat menghormati kehidupan, menaburkan kasih sayang di tengah-tengah manusia dan membenci kejahatan, terlebih lagi yang namanya pembunuhan.

Al-Qur’an menyertai tindak pembunuhan dengan syirik, karena buruknya kejahatan ini. Syirik merupakan pelanggaran terhadap agama, sedangkan pembunuhan merupakan pelanggaran terhadap kehidupan. Islam datang untuk mengharamkan penumpahan darah dan melarang seseorang melanggar jiwa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

Semenjak dahulu kala manusia selalu dikuasai oleh nafs Ammarah, jiwa yang menyuruh kepada kejahatan, sehingga sebagian membunuh sebagian yang lain, hanya karena memperebutkan keduniawian yang tidak seberapa nilainya, atau karena amarah yang meluap-luap, atau karena kedengkian, kebencian dan perselisihan, atau karena kompetisi dan persaingan dalam kehidupan ini, atau sebab-sebab yang lain. Pada masa awal kehidupan manusia, pembunuhan telah terjadi. Dimana salah seorang putra Adam a.s yang bernama Qabil membunuh saudaranya sendiri Habil. Dan ini merupakan tidakan pembunuhan yang pertama kali di muka bumi. Saat itu seseorang belum tahu bagaiman memperlakukan jasad orang lain, maka Allah mengutus seekor burung gagak yang menggali dipermukaan tanah, untuk mengajarkan kepada manusia bagaimana memperlakukan jasad saudaranya yang sudah mati.

Rasulullah SAW telah memperingatkan ummatnya agar tidak kembali ke era jahiliyah, yang memiliki tradisi saling bermusuhan, dan saling membunuh tanpa ada alasan yang benar. Maka ketika haji Wada’ beliau bersabda di hadapan ribuan orang-orang muslim“Janganlah kalian kembali menjadi kafir sesudahku, sehingga diantara kalian memenggal leher sebagian yang lain (saling membunuh)”.

Jika sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling membunuh, maka beliau menganggap hal itu sebagai keadaan orang-orang kafir. Karena prilaku keji tersebut (membunuh dan saling bunuh)  bukan keadaan atau sifat orang-orang muslim. Allah menegaskan dalam Al Qur’an:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan azab yang besar baginya.”

(Q.S. An Nisaa’: 93)

Marilah kita renungkan sabda-sabda Rasulullah SAW berikut ini:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمْ

“Kebinasaan dunia ini lebih remeh bagi Allah daripada Pembunuhan terhadap seorang muslim.” (H.R. At Tirmidzi dan An Nasa’i)

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ القِيَامَةِ فِى الدِّمَاءِ

“Pengadilan yang pertama kali di antara manusia pada hari kiamat adalah mengenai darah (pembunuhan).” (H.R Bukhari dan Muslim)

Bahkan membantu orang lain untuk membunuh orang mukmin, entah dengan cara apapun dan sekecil apapun, juga mendapatkan balasannya, sebagaimana  sabda Rasulullah SAW.“Barangsiapa yang membantu untuk membunuh seorang mukmin  dengan sepenggal kata, maka dia akan bertemu Allah dan diantara matanya tertulis ‘Terputus dari rahmat Allah.”(H.R. Ibnu Majah)

Sufyan bin Uyainah mengatakan. “Yang dimaksud sepotong atau sepenggal kata-kata disini ialah seperti mengucapkan ,’B….’, tidak melengkapinya dengan kata ‘Bunuh’, kepada orang yang hendak membunuh. Lantas bagaimana dengan orang yang membunuh itu sendiri?”

Setiap jiwa mempunyai kehormatan dan hak hidup, maka setiap manusia harus menghormatinya, bahkan  jiwa seekor kucingpun mempunyai hak, sehingga seorang wanita dimasukkan ke adalam neraka karena mengurungnya hingga mati tanpa memberinya makan atau tidak melepaskannya agar si kucing dapat mencari sendiri makanannya. Karena itulah Ibadurrahman sangat menjauhi penumpahan darah, mereka menghormati kehidupan.

Allahu A’lam bi as Shawab

20
Des
09

« Memiliki Keyakinan Tauhid .. »

Sifat Ibadu r-Rahman Keenam

« Memiliki Keyakinan Tauhid .. »

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga mengatakan yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunggunya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali Imran: 18-19)

Sifat Ibadurrahman yang keenam: Tauhid

Allah SWT menyatakan sifat Ibadurrahman yang keenam ini dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain beserta Allah.” (Q.S. Al Furqan: 68)

Artinya Ibadurrahman mempunyai suatu keyakinan yang menancap dalam qalbu mereka bahwa tidak ada yang patut dan berhaq untuk disembah melainkan Allah SWT. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menulis dalam bukunya Syarhu Tsalatsati Al Ushul ketika memberikan keterangan dan penjelasan (Syarah) tentang kandungan makna firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Ali Imran Ayat 18.

Kemudian beliau menegaskan bahwa Ibadurrahman yang memiliki kematangan Tauhid meyakini bahwa meskipun ada sesembahan selain Allah, namun itu semua adalah batil, dan tidak berhak disembah, oleh karena tidak memiliki sifat Uluhiyah sama sekali.

Marilah kita simak apa komentar Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar bin Husen  Ar Raazi (Penulis Kitab  Tafsir Mafaatihil Ghaib/Tafsir Al Kabir tentang ayat di atas yang terdapat dalam bukunya ‘Ajaibul Qur’an, “Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya Allah Ta’ala mendahulukan perintah-Nya untuk berma’rifatut tauhid  (pengenalan terhadap tauhidullah) dari pada perintah memohon ampun kepada-Nya. Sebabnya ialah karena ma’rifatut tauhid menunjuk kepada ilmu ushul (pokok dan prinsip), sedangkan kegiatan memohon ampunan-Nya menunjukkan kepada ilmu yang bersifat furu’ (cabang). Oleh sebab itu jelaslah, ilmu ushul harus didahulukan . Jika kita tidak mengetahui eksistensi Sang Pencipta maka hal itu akan menghalangi tegaknya ketaatan dan penghambaan kita kepada-Nya.”

Prof. DR. Mahmud Saltut mengatakan bahwa Islam menetapkan Wahdaniyah Rububiyah. Artinya, tidak ada Tuhan yang menciptakan, mengatur  dan melaksanakan segala sesuatu, melainkan Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian menetapkan Wahdaniyatul Uluhiyah, artinya tidak ada zat yang berhak disembah, dihadapkan kepadanya segala permohonan dan dimohonkan pertolongannya, selain Allah SWT. Syaikh Yusuf Al Qardhawy menambahkan bahwa tauhid ada dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Yang disebut Tauhid Rububiyah ialah engkau meyakini bahwa tidak ada Rabb selain Allah, tidak ada Khaliq, tidak ada pemberi rezki melainkan Allah semata, Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya serta menguasainya.

Adapun Tauhid Uluhiyah ialah jika engkau tidak menyembah, tidak memohon pertolongan, todak berdoa, tidak takut, dan tidak berharap kecuali kepada Allah semata. Karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, agar para rasul itu mengajak kaumnya kepada tauhid ini. Karena itu seruan yang pertama dalam setiap risalah para rasul adlah kalimat tauhid.

Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada beberapa raja yang berkuasa pada saat itu. Kepada Kaisar Rumawi, kepada Muqaqis, kepada Najasyi dan kepada para ahli Kitab dengan menyebutkan ayat yang mulia berikut ini:

“Katakanlah: “Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan diantara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 64)

Para ahli tafsir telah sepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5.

Pada wahyu pertama ini Allah SWT telah mengenalkan beberapa Nama dan Sifat-Nya diantara Asmaul Husna, yaitu,  Ar Rabb (Maha Pemelihara), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Akram (Maha Pemurah, Maha Mulia) dan Al Alim (Maha Mengetahui). Bersamaan dengan itu, manusia dikenalkan dengan eksistensi (wujud) dirinya sebagai seorang hamba, makhluk yang diciptakan, dari sesuatu yang hina (segumpal darah) dan bodoh (tidak tahu). Manusia yang menyadari keberadaan Ar Rabb Yang Maha Pemelihara, sementara dirinya adalah hamba yang dipelihara akan melahirkan sikap Uluhiyah Ta’abbud (menghamba dan menyembah Allah SWT). Secara Verbal sikap ini terangkum dalam kalimat ‘Laa ma’buuda bi haqqin illallaah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin” (Q.S. Al Fatihah: 5-6).

Di antara keistimewaan Ibadurrahman adalah kematangan tauhidullah ini. Karena itulah Allah SWT memilih mereka sebagai hamba-hamba pilihan yang dinisbatkan langsung dengan-Nya …;

Merekalah Ibadurrahman.

Allahu A’lam bi as Shawab

20
Des
09

« Sederhana Dalam Membelanjakan Harta »

Sifat Ibadu r-Rahman Kelima,

« Sederhana Dalam Membelanjakan Harta »

وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al Israa’: 29)

Sifat Ibadurrahman yang Kelima: Sederhana dalam membelanjakan harta.

Islam mengajarkan sikap pertengahan (sederhana) dalam segala perkara, termasuk dalam hal membelanjakan harta yang dimiliki. Yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

Tidak ada salahnya Ibadurrahman memiliki harta. Toh harta dalam pandangan Islam merupakan karunia Ilahi yang diusahakan manusia dan nikmat yang harus disyukuri dan juga merupakan amanat yang harus dipelihara. Bagi  Ibadurrahman, harta adalah karunia Allah yang diserahkan dan dipercayakan kepada manusia untuk mengurus dan mengembangkannya.

Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam hal yang berhubungan dengan harta. Yang berkaitan dengan cara mendapatkannya (yaitu harus dengan cara yang halal sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan), cara mengembangkan nya, cara membelanjakannya, dan cara menyalurkannya. Boleh jadi manusia berusaha mengumpulkan harta dari cara-cara yang halal. Tapi setelah itu dia menjadi kikir untuk memenuhi haknya, bakhil membelanjakannya untuk hal-hal yang disukai dan diridhai Allah atau sebaliknya, dia menghambur-hamburkannya kesana kemari tanpa ada manfaat apapun.

Jika seseorang hidup sederhana, tidak bakhil dan  tidak kikir, tidak boros dan berlebih-lebihan, maka itu merupakan dalil (pertanda) kedalaman pengetahuan dan cahaya ilmunya. Dia berjalan di tengah, dan sebaik-baik urusan adalah pertengahannya. Islam menuntut ummatnya untuk menafkahkan sebagian dari harta mereka, dan tidak menuntut mereka menafkahkan semua harta yang di miliki. Ketika Allah mewajibkan manusia untuk mengeluarkan zakat, maka zakat yang dikeluarkan itu hanya beberapa persen dari harta yang dimiliki, dan tidak membebankan mereka dengan jumlah yang terlalu banyak.

Ibadurrahman sangat jauh dari sifat kikir dan bakhil, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dermawan, namun tidak boros dalam membelanjakan hartanya. Orang kikir yang begitu erat menggenggam hartanya, bak kata pepatah, “Laksana air dalam genggaman, tak setetespun yang mengalir.” Adalah orang-orang yang sangat dimurkai Allah. Ia meyakini harta yang ada padanya mutlak miliknya karena diperoleh dari usahanya sendiri, sehingga ia lupa kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepadanya dengan hartanya itu. Ia enggan membelanjakan sebagian hartanya fisabilillah dengan berinfaq, bersedekah, bahkan mereka enggan mengeluarkan zakat. Allah SWT mengancam mereka yang bakhil dan kikir dengan azab api neraka yang dahsyat. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 34-35:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)

“…. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (fi sabilillah), maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam beraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung merela (lalu dikatakan) kepada mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu dimpan itu.”

Rasullah SAW juga memperingatkan ummatnya agar menjauhi sifat kikir karen sifat kikir mengakibatkan manusia saling benci, putus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, timbul kesenjangan, jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, bahkan bisa terjadi saling menumpahkan darah.

Allah SWT telah menggambarkan kepada kita tentang suatu masyarakat yang  kehidupannya penuh dengan persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka. Solidaritas mereka begitu tinggi, yang kaya memperhatikan  yang miskin, dan yang mampu dan kuat membantu yang lemah. Itulah masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan begitulah gambaran ikatan persaudaraan antara kaun Anshar dan Muhajirin. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sifat kikir dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dari Allah SWT.

Disamping tidak kikir, Ibadurrahman sangat dermawan, katakanlah bahwa mereka sangat “hobby” dalam berinfaq di jalan Allah, dan mereka tidak berlebih-lebihan  dalam menafkahkan hartanya kepada orang lain, meskipun sebenarnya tidak ada istilah berlebih-lebihan dalam kebaikan. Artinya mereka tiada membelanjakannya dalam kedurhakaan kepada Allah. Ibadurrahman sangat yakin bahwa setiap harta yang ia nafkahkan di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang lebih banyak, tidak ia rasakan di dunia, namun balasannya pasti ia nikmati di akhirat kelak.

Sebagai penutup, marilah kita hayati dan renungkan firman Allah dalam hadits Qudsi berikut ini yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bersumber dari Abu Hurairah r.a:

“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Tetapi sekiranya engkau menggenggamkan tanganmu  (karena kikir), maka keburukanlah bagimu. Engkau tidak akan dicela  (oleh Allah) atas kehidupan yang pas-pasan (tidak berkelebihan tapi qana’ah – selalu puas dengan apa yang ada), dan mulailah (menafkahkan harta) dengan orang yang engkau tanggung (dengan memberikan nafkah belanja seadanya). Dan tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di bawah (meminta).”

Allahu A’lam bi as Shawab

08
Nov
09

Gempa 30 September 2009

01
Nov
09

Pandangan Buya terhadap fenomena beruntunnya bencana di negeri ini

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram

Dari padangan ajaran agama Islam, tidak terjadi sesuatu kecuali hanya atas izin Allah semata. Apa yang terjadi ini sudah menjadi ketentuan Allah.

Memang sangat erat kaitannya, sebuah musibah itu dengan perangai atau kelakuan manusia. Banyak keterangan di dalam Alquran, dan juga pemberitaan hadist Rasulullah SAW (… jika kita memang masih mempercayainya, karena sudah banyak orang tidak mau merujuk kepada Alquran atau sunnah, dengan berbagai alas an ilmiah rasional yang dangkal…). Bagi  Muslim Mukmin Muttaqin, Alquran adalah pedoman yang terang. Sunnah adalah penjelas yang jelas. Bila kita merujuk kesana, kita mendapatkan pelajaran berharga. Banyak kisah Alquran menceritakan umat terdahulu itu binasa. Karena perangai mereka. Kepada mereka ditimpakan bencana. Melalui hukum Allah, alam bicara. Ada umat yang ditelan bumi (Qarun, kaya, bakhil). Ada umat yang ditenggelamkan air laut atau tsunami (Fir’aun, penguasa zalim, yang mendurhakai Allah, tidak mempercayai Rasul, bersilantas angan, etnic cleansing terhadap kaum Imran, tidak mempercayai hukum Allah). Ada pula yang dihancurkan dengan gempa besar (umat Nabi Shaleh, aniaya, menyiksa kaum lemah, mengurangi takaran dan timbangan, suka berkorupsi dsb).

Maka dari keterangan Alquran ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa antara kelakuan manusia berkaitan erat dengan musibah yang datang.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa musibah gempa semata (100%) fenomena alam saja. Pasti ada kaitannya dengan perangai umat di dalam alam itu.

Maka dari segi tauhid, ada yang perlu diperbaiki secara terus menerus. Dengan kekuatan penuh. Agar umat ini kembali memiliki sikap peranagai yang baik (akhlaqul karimah). Ibadah yang teratur. Serta berpegang kepada agama. Bagi Negara Indonesia, kita masih mengakui Pancasila sebagai dasar Negara.

Di sana masih terpateri dengan kuatnya, KETUHANAN YANG MAHA ESA. Menurut Buya itu tidak lain adalah berpegang kepada ajaran agama yang benar.

Karena itu secara lebih jauh, kita mesti lakukan introspeksi dalam semua bidang dan semua kegiatan. Termasuk kurikulum pendidikan akhlak karimah (etika religi) yang tidak hanya mengandalkan kepada pemahaman pemahaman rasional saja. Agar bangsa ini tidak menjadi luluh lantak dari sisi mental spiritual. Bila tidak, maka umat ini akan menjadi umat yang “too much science too little faith”… INILAH BENCANA LEBIH BESAR.

IMG_3200

  1. 1. Hubungan Bencana yang beruntun di Indonesia dengan maraknya kemaksiatan dan minimnya orang-orang shalih? (Ka’ab Bin Malik mengatakan, “Tidaklah bumi berguncang, kecuali karena ada kemaksiatan yang dilakukan di atasnya. Bumi bergetar karena takut Rabbnya melihatnya.”

 

Sudah jelas sekali. Ada warning dari Rasulullah, yang tidak dapat tidak mesti diyakini dan dipercayai oleh setiap mukmin muttaqin. Warning (peringatan) Rasulullah ini, mesti disikapi dengan peraturan hidup bernegara yang tegas dan jelas. Perlu disikapi dengan kurikulum pendidikan di segala bidang yang baik.

Kita tidak dapat acuh tak acuh dengan warning agama ini. Walau ada kenyataan kini, bahwa telah mulai tumbuh generasi EGP (emang gue pikiran) terhadap peringatan agama ini. Ada pendapat bahwa agama hanya untuk ritual dan seremonial. Soal hidup bernegara, tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Jika pendapat ini terus dibiarkan berkembang, maka musibah tidak lagi semata fenomena alam. Akibat lebih berat akan dirasakan oleh generasi ini, dari masa ke masa. Binasa dan hilang dari peta budaya.

 

  1. 2. Membaca keterangan Rasulullah, Umar Bin Khathab, Siti Aisyah, dan Ka’ab Bin Malik sepertinya, ada keterkaitan antara ketidakadaan (minimnya) orang-orang shaleh dan syahid di jalan Allah, merajalelalnya kemaksiatan, dan kezaliman penguasa dengan terjadinya bencana. Pandangan Buya tentang ini?

Kesalehan menjadi sangat penting. Kesalehan adalah sesuatu pengamalan dari bimbingan agama. Kesalehan sesuatu bentuk dari keikhlasan karena Allah. Kesalehan ada dalam bingkai redha Allah. Kesalehan tidak boleh dipilah-pilah menjadi saleh pribadi, saleh social dan sebagainya, yang terpisah satu dan lainnya. Kesalehan adalah utuh, baik secara peribadi ataupun secara social. Tidak mungkin orang yang saleh peribadi menjadi tidak acuh dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya tidak bakal terjadi orang yang saleh terhadap lingkungannya tapi bangkrut terhadap peribadinya.

Kesalahan utama kita ialah hilangnya kesalehan.

IMG_3268

Ada banyak orang yang tak acuh bila terjadi kemaksiatan di sekelilingnya. Alasannya sederhana. Biarkan saja selama bukan kita yang melakukannya. Bila ini terjadi, maka prinsip amar makroef nahi munkar hilang. Akibat lebih jauh doa tidak di ijabah lagi. Ini akan mengundang beribu kemelut. Baik dari dalam diri (tekanan emosional) maupun dari dalam masyarakat (cheos). Kadang-kala kita terperangkap kepada pengertian ham yang salah. Maka menurut pandangan orang pintar-pintar di mana saja, ham itu harus diterjemahkan bijak dengan kearifan lokal yang dipunyai satu bangsa. Tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Masyarakat Indonesia di Nusantara, sudah terkenal sebagai masyarakat yang mengutamakan kegotongroyongan. Tetapi ketika musibah datang mendera, gotong royong (taawun) itu hilang. Berganti dengan nafsi-nafsi (individualism). Jadinya beban semakin berat. Bahkan di mana-mana sering terjadi penjarahan. Karena tidak rapinya pendistribusian. Mungkin lantaran surat jalan belum ditekan, sehinga lahir sikap materialism itu.

Tidak dapat tidak, antara satu sikap dengan  lainnya kait berkait dengan ajaran etika religi, atau kesalehan agama.

  1. 3. Rentetan waktu terjadinya gempa dengan peringatan Allah dalam al-Qur’an:

    a. Gempa Jawa Barat (Tasikmalaya) terjadi pukul 15:04 Wib à Jam 15.04 identik dengan al-Qur’an Surat al-Hijr (15) ayat 4: ”Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.”

    b. Gempa Sumbar terjadi pukul 17:16 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 16: ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

    c. Gempa Susulan di Sumbar terjadi pukul 17:58 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 58: ”Tak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

    d. Gempa di Jambi terjadi pukul 08:52 Wib à Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Anfaal (08) ayat 52: ”(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”

    Pertanyaan: ayat-ayat di atas dan waktu terjadinya gempa apakah hanya kebetulan atau memang merupakan peringatan Allah SWT?

Ayat Alquran di atas memang benar.

Allah tidak bermain-main dengan wahyu Nya.

Akan tetapi perlu di ingat bahwa jangan dikaitkan peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu.

Isi ayat Alquran ini menjadi peringatan keras untuk kita.

Jangan dilanggar. Ikuti dengan benar, kalau mau selamat.

Tapi tidak ada kaitannya peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu.

Bila ini dibiarkan terus, maka eksistensi Alquran akan berubah jadi klenik. Alquran tidak sama dengan prambon, yang banyak dipakai oleh dan cara akal-akalan semata, kadang-kadang tidak diterima oleh akal sehat.

Dan gempa tidak ada satu kaitanpun dengan angka-angka.

Satu contoh, bila umpamanya terjadi gempa pada tanggal 31 Januari, apakah kita akan mengaitkan dengan ayat 31 surat 1 (?), sementara surat 1 itu hanya jumlah ayatnya 7 saja ??? Atau dikaitkan dengan surat 31 ayat 1, di mana artinya sudah berbeda (ALIF LAM MIM) pendahuluan dari Surat Lukman itu  ???.

 

  1. 4. Buya memandang beruntunnya bencana di negeri ini, merupakan peringatan atau azab Allah? Apa konsekuensi dari masing-masing jenis ini?

Alhamdulillah, Umat Muhammad tidak serta merta di azab oleh Allah sebagaimana ketika umat terdahulu mendapatkan azab tersebab perbuatan dosa mereka. Lihat saja betapa Umat Nabi Luth di himpit oleh tanah, sehingga mereka hilang ke dalam perut bumi. Umat Ad dan Tsamud yang dibinasakan dengan bencana gempa serta angin puting beliung. Bangsa Saba dengan angin gurun yang kering, sehingga tanah mereka menjadi kering kerontang. Umat Nabi Musa yang menjadi terpecah belah dan menjadi bangsa yang berperang sepanjang masa. Umat Nabi Nuh tenggelam air bah dan tsunami.

Alhamdulillah, umat Muhammad masih diberi ujian dan cobaan. IMTIHAN dan FITNAH. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dengan bertaubat dan kesalehan.

Allah masih mengampuni kesalahan umat Muhammad. Betapapun besar dosanya, selama mereka mau bertaubat. Taubaatan Nashuha, artinya mengubah perangai, membenci kesalahan, membenci perbuatan dosa. Kemudian mengikuti keburukan lalu dengan  kebaikan, di masa ini dan masa datang.

Artinya ada recovery terhadap jiwa dan keimanan.

Dan ini dapat dilakukan terus menerus. Tidak hanya sekali sekali saja ketika Ramadhan datang. Kemudian menjadi jalang lagi kalau Ramadhan telah pergi. Atau menjadi  shaleh ketika pergi umrah dan menjadi Thaleh (calih, bhs.Minang) artinya khianat sesudahnya.

Hendaknya jangan dijadikan agama sekedar pakaian selebriti. Dakwah seperti tontonan. Menjauh dari tuntunan Allah dan Rasulullah.

Hanya satu dosa yang tidak pernah diampuni oleh Allah. Musyrik.

Musyrik bisa jadi Khafiy (tersembunyi) yakni RIYA, atau beramal semata hanya ingin dilihat dan dipuji oleh orang banyak, artinya hilangnya kesalehan dalam arti sesungguhnya.

Mungkin dari titik ini kita mengundang bencana.

  1. 5. Apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam yang awam dalam ilmu agama? Minang terkenal dengan adat basandi syara, syara basandi kitabullah. Kecil disurau besar merantau, bagaimana realitanya?

Kembalilah kepada ajaran agama yang benar. Kembalilah kepada ajaran Alquran dan Sunnah. Artinya jangan hanya dijadikan agama itu pakaian di surau atau masjid saja. Bawalah  ajaran agama itu di dalam berjual beli di pasar (jujur, amanah, tidak menipu, menjaga kualitas). Jangan terjadi hendaknya karena ada kesempatan kita mengambil keuntungan besar di saat orang lain sempit. Perangan ini bukan poerangan orang yang mengamalkan ajaran agama dengan benar.

IMG_3211

Bawa jugalah agama itu kesekolah-sekolah dan kantor kantor. Tampaknya setiap kantor dan sekolah kini sudah punya sarana ibadah. Ada masjid ada mushalla. Ada pula guru agama. Tetapi ketika datang panggilan shalat, kita abaikan. Masjid dan mushalla yang dibangun hanya menjadi monument, menandakan dinegeri itu ada umat Islam, walaupun tidak pernah diramaikan untuk kegiatan shalat.

Ada kebisaaan baik kini, kalau terdengar adzan, orang diam dan tafakur sejenak. Rapat-rapat dan meeting diam seketika. Kenapa tidak diskos saja untuk beberapa menit. Pemimpin rapat dari semua tingkatan itu, semestinya menyatakan kita shalat dulu. Nanti selesai shalat kita sambung lagi. Mari kita belajar kepada rapat-rapat kabinet dan di saat pertama kita akan atau sudah merdeka. Shalat kita pelihara dengan baik, walau pengeras suara belum ada. Walau masjid mushalla baru amat sederhana. Dari sisi ini kita tidak dapat mengatakan bahwa kita sudah maju, walau 63 tahun telah kita lalui. Kita jadi mundur.

Dalam cara berbakti juga begitu.

Berapa banyak harta yang rela dikorbankan. Emas perak dan perhiasan yang ditanggalkan. Semuanya untuk perjuangan kemerdekaan. Tidak ada harap balas dari pemerintah masa itu. Yang ada hanya harap balas dari Allah semata. Ini namanya kesalehan peribadi yang membekas kepada kesalehan social. Kini sebaliknya yang terjadi. Orang tidak mau berbuat banyak bagi umat dan lingkungannya.

Ketika musibah datang banyak sumbangan datang. Banyak pula penjarah berkembang. Banyak pula merek ditempelkan. Agar mendapat sanjungan dan pujian dari khalayak ramai. Hilang keikhlasan. Hendaknya jangan terjadi, musibah dijadikan ajang kampanye, pilihlah kami. Bila ini terjadi musibah dalam bentuk lain akan dituai pula.

Banyak kita yang sudah meninggalkan kearifan berbangsa dan bernegara dalam bimbingan etika agama (Akhlaqul karimah). Banyak pula yang menggantinya dengan semata mengharapkan pamor dan pujian. Ini juga akan menuai musibaha satu ketika. Na’udzuibilah min dzalik.

  1. 6. Apa yang harus dilakukan oleh penguasa di negeri ini?

Ikhlaslah, jujurlah, dan amanahlah di dalam menunaikan tugas berat ini. Jika semua itu dapat dilakukan, Insyaallah kemashalahatan umat akan terjaga, Negara akan aman sejahtera, baldatun thayyibah wa rabbun ghafuur.

  1. 7. Apa karena umat Islam terus diperangi, (terorisme) sehingga alam pun protes

IMG_3282

Pertanyaan ini melantur dari jalurnya.

Umat Islam itu tidak teroris.

Kata-kata teroris adalah kata import.

Sumbernya tidak jelas produk siapa.

Bila terror diartikan fasad, maka Alquran tegas melarang fasad ini.

Kata-kata jihad pun perlu diterjemahkan secara lurus dan benar.

Arti  jihad itu semata adalah kesungguhan di jalan Allah.

Li I’laa I kalimati l-Llah.

Semata upaya meninggikan kalimat Allah.

Jihad tidaklah menghancurkan orang lain.

Jihad bukan membunuh.

Teror kalimat berasal dari mana??? .

  1. 8. Komentar Buya terhadap bantuan dari luar negeri, dari minang perantau dan dari umat Islam sendiri?

 

Bantuan dari Luar negeri dan dari perantau itu bagus. Dan ini membuktikan bahwa  kesetiakawanan kita tumbuh dengan sempurna dan baik. Bayangkan saja ketika gempa terjadi di Sumbar jam 17.16 WIB. Pada waktu subuh besoknya, dua helicopter dari Swiss sudah masuk ke Padang. Mereka datang dengan peralatan pemantauan korban yang canggih. Kita belum punya itu. Kemudian datang pula bantuan lainnya, dari Korea, Jepang dan sebagainya. Mereka datang dengan transportasi cepat tanggap. Alhamdulillah, tandanya persaudaraan terjalin baik antar bangsa. Adakah kehadiran ini satu yang salah? Rasanya tidak salah. Sementara kita semua masih takut dan trauma.

Cuma sayangnya kita belum siap menerima tamu. Banyak cerita mengenaskan dan mencemaskan terjadi. Sehingga orang yang harus membantu terpaksa harus bayar dengan harga yang tinggi di Bandara. Ini kabar cerita yang berkembang. Sewa kenderaan membubung tinggi. Memang ada juga yang mencari kesempatan di dalam kesempitan yang dialami orang lain. Perbuatan ini sebenarnya perbuatan terlaknat. Di mana salahnya ??? Karena pendekatan kita selama ini pariwisata. Buka kesantunan manusiawi. Bukan kemuliaan berbangsa. Di sini letak salahnya.

BBM memang sulit dicari. Tapi ada juga orang yang menjualnya sampai harga 20.000 rupiah perliter. Artinya lebih dari 4 kali lipat harga bisaa. Ini perbuatan terkutuk. Tidak menggambarkan sikap beragama yang benar. Apalagi akan memakaikan kata adat bersendi syarak. Walau yang melakukan itu belum tentu orang Minang. Sebab pedagang itu tidak semuanya dan  selamanya orang Minang. Ada juga dari suku lainnya. Tetapi karena terjadinya di tanah Minang, yah .. akibatnya ranah ini jadi robek menderita fisik dan pencitraan.

Air PAM sulit, listrik mati, akibat gempa. Tapi ada juga masjid yang pintar. Yang memerintahkan dibuka 24 jam. Menghidupkan genset masjid terus menerus. Memompa air sumur. Menyediakan air minum untuk penduduk lingkungan. Walau secara berkecil-kecil mereka telah berbuat.

Nampaknya sisi buruk dan baik selalu ada dalam kehidupan. Masyarakat yang arif, tidak semata melihat dari kacamata buruk saja. Masyarakat yang cerdas tidak pernah menggeneralisir yang buruk di tengah yang baik itu. Lihat jugalah perbuatan baik yang telah dilakukan.

Di antaranya mengumpulkan bantuan dari mana saja. Membagikannya sampai ke daerah terpencil. Di Sumatera Barat kini, 7 kabupaten/kota amat parah menderita. Seperti Kota Padang ( 11 Kecamatan), Kota Pariaman (Utara Tengah,Selatan), Kab. Padang Pariaman (17 Kecamatan, 71 desa), Pesisir Selatan (12 Kecamatan), Pasaman barat, Pasaman, Agam (Tanjung Mutiara, Tg.Raya,Manggopoh, Palembayan,Malalak). Semuanya terjadi pada saat bersamaan. Hanya beberapa menit dan detik saja. Umat jadi kalut. Anak-anak menangis meraung. Gedung runtuh. Rumah terban. Negeri ditimbun longsor  di Tandikek. Lebih 1.434 Masjid/Mushalla rubuh. Rusak berat dan ringan. Lebih 100 pasar yang hancur. Lebih 206.500 bangunan dan rumah yang hancur. Sebanyak 715 orang meninggal. Lebih dari 2500 orang luka berat dan ringan serta yang hilang atau mengungsi. Berat penderitaan umat. Ini terjadi Seketika. Sekejap mata. Bagaimana mengatasinya ????

Undangan KMII Tokyo 004

Dalam kondisi seperti ini maka bantuan amat diperlukan. Sangat berguna. Pandai pandailah berterima kasih. Ini adalah pelajaran besar. Ini adalah latihan besar. Kesatuan bangsa. Kegotong royongan.  Asa antakrahuu syai-an wa huwa khairun lakum … mungkin yang buruk menimpamu ada hal baik di balik itu.

Husnudz-dzanlah kepada Allah. Nah, jika terjadi kelambatan, anggaplah itu satu hal yang wajar. Mungkin saja, karena yang membantu, juga ada di dalam kesulitan yang sama.

  1. 9. Apa menemukan Kristenisasi di tengah gempa?

Selama ini belum terlihat. Mudah-mudahan tidak ada. Sungguhpun begitu harus hati-hati juga. Karena kada l-faqru an yakuuna kufran. Kefakiran sering membawa kepada kekufuran.

Tapi ada koreksi jauh terhadap umat Islam ini. Ketika umat Islam kurang berkeinginan membantu. Maka jangan disalahkan, kalau orang diluar Islam lebih banyak berbuat, dan mereka akan mendapat pujian. Ketika orang diluar Islam banyak berbuat, maka “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah”.

Sebenarnya kekuatan umat Islam itu ada pada kebersamaan. Saling sedekah, saling meringankan beban orang lain. Man salimal muslimun min lisanihi wa bi yadihi. Kalimat ini sering disebut, tetapi mulai lemah dalam pengamalannya.

Semestinya umat Islam harus berani mengatai dirinya. Memulai dari yang lemah. Menghidupkan saling membantu.

(JPEG Image, 315×445 pixels)Buya Khutbah

Ruhul infaq kita mulai hilang pula. Musibah sering terjadi ketika manusia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya. Takut hartanya habis jika bersedekah. Manusia menjadi kikir. Bersedekah justru membawa keberkahan, menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkab seseorang terhindar dari musibah.

Seseorang yang senang bersedekah  itu akan dicintai. Dibela dan didukung usahanya oleh masyarakat. Seseorang yang kikir, enggan bersedekah untuk kepentingan ummat, menyebabkan ia dibenci. Dijauhi, serta didoakan jelek oleh masyarakat. Kekikiran (kebakhilan) membuka jalan bagi datangnya musibah. Rasulullah SAW bersabda: Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani), dan juga Allah SWT berfirman: Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Sering Bantuan hanya diberikan kepada kelompok kita saja.

Persis seperti disindirkan Allah di dalam Alquran, kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun … Mereka lebih mementingkan kelompoknya saja …

Ini juga perlu diawasi.

Pada hal semua umat Islam harus tahu akan kaedah  man lam yahtamma bi amril muslimin fa laisa minhum. Artinya yang tidak mau tahu dengan urusan sesama muslim, sebenarnya mereka tidak pantas digolongkan ke dalam kelompok muslim itu ….

10. Banyak masjid dan sekolah Islam roboh demikian pula lembaga-lembaga Islam Konsep dakwah ke depan idealnya seperti apa?

IMG_3148

Bangun kembali. Jangan berhenti  tangan mendayung. Mulai dari apa yang ada. Bawa umat kembali kepada ajaran agama. Jangan jadikan dakwah sekedar event pengisi acara di televise, atau program selebriti. Ajarkan kembali akhlaqul karimah. Menjadi pekerjaan utama Diknas dan Depag. Depag jangan hanya focus kepada urusan haji saja. Urusan shalat juga menjadi kerjaan Depag dan para ulama di negeri ini. Urusan membangun keluarga jannah mulai dengan perilaku yang santun, mulia dan saling membantu. Tidak mungkin masyarakat akan dapat dibangun kalau akhlaq dilupakan.

Anggaran Negara bukan hanya teruntuk pendidikan sekuler, IT, dan keterampilan saja. Utamakan akhlaqul karimah. Dari sini akan bangkit masyarakat kuat.

Berkaitan dengan gempa. Gempa tidak pernah membunuh. Cuma yang banyak membawa celaka itu adalah bangunan yang dibangun tidak menurut aturan.

Di Ranah Minang, di Mandailing, bangunan-bangunan tradisional tidak rusak dan runtuh. Rumah gadang tetap utuh. Kenapa ?? Karena ada soko gurunya. Ada tiang tuanya.

Begitu juga dakwah mesti ada soko gurunya.

Soko guru dakwah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Perlu ada ulama yang teguh, istiqamah, qanaah, dan ikhlas mencari redha Allah.

 

11. Hubungan Manusia dengan alam, manusia serakah mengeksploitasi alam ?

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَولاَنَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami  melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51)

Musibah merupakan ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan kedatangannya, baik ujian kehilangan harta benda, kecelakaan, maupun kematian, baik ujian itu besar maupun kecil. Meskipun demikian, ujian itu tetap datang kepada setiap manusia, kapan saja dan di mana saja. Walaupun manusia lari dari musibah itu, iapun tetap datang menghampirinya. Setiap musibah, dalam kaca mata “iman” adalah takdir atau ketentuan Allah. Segala sesuatu yang terjadi, semata atas izin dan ketentuan Allah. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapat terjadi.

IMG_3208

Musibah dapat datang karena manusia mengundangnya dengan melakukan perbuatan dan tingkah laku yang salah.

Musibah akan  ditimpa musibah, karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintah-Nya. Seseorang yang melupakan Allah, cepat maupun lambat, suatu saat musibah akan datang kepadanya. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44)

Musibah datang karena manusia berbuat kerusakan, seperti penebangan liar hutan dan lain-lain. Yang pada akhirnya akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjur, tanah lonsor dll.

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam. Tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak datang menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri, dalam satu siklus hidup yang aman dan menyejahterakan manusia sepanjang masa.

Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh)…. “ dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, — sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105).

Wassalam

 

Arnussa 1427 004
BIODATA

  1. 1. Nama Lengkap                      : H. MAS’OED ABIDIN
  2. 2. Tempat dan tanggal lahir   : KOTOGADANG, BUKITTINGGI, 11 AGUSTUS 1935
  3. 3. Alamat rumah                       : Jalan Pesisir Selatan V No..496, RT.03/RW.IX, Siteba,

Nanggalo, Padang (25146), Sumatera Barat , Indonesia.

  1. 4. Riwayat Pendidikan             : Thawalib Parabek (1947-1949), SMA Bukittingi (1957),

FKIP Medan (1963).

  1. 5. Pengalaman Organisasi       : Komda PII Tapsel (1961), Ketua Cabang HMI

Sidempuan – Medan (1963-1967), Dewan Dakwah islamiyah Indonesia Padang (1967-1990), Koordinator Dakwah Mentawai (1990 – 1997), Ketua Dewan Dakwah Sumbar (1997-2008), Ketua MUI Prov. Sumbar Bidang Dakwah (1999-2008), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (2000-2007), Ketua Umum Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Padang (2001 – sekarang)

  1. 6. Riwayat Pekerjaan              : Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan

Minangkabau (PPIM) (2001-2006), Ketua Umum BAZ – Badan Amil Zakat – Prov. Sumbar (2001-2008), Ketua Umum FKDM – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (2007 – sekarang), Ketua Dewan Penasehat MUI Prov. Sumbar (2008 – sekarang).

  1. 7. Pengalaman Dakwah                       : Sejak 1968 ikut dalam kepanitiaan Pembangunan BK

Ibnu Sina Yarsi Sumbar di Bukittinggi, dan sampai sekarang menjadi salah seorang Dewan Pemdina Yarsi Sumbar .

Sampai tahun 1997 membidangi Dakwah di Mentawai.

Mulai 1970 hingga 1997 membidangi Dakwah di daerah sulit di Pasaman Barat, Sitiung dan Lunang Silaut.

Hingga sekarang tetap mengkordinir dai di Mentawai, Sitiung dan Lunang.

Selain berdakwah ke daerah-daerah di Sumatera Barat, dan nasional, seringkali memberikan materi pada penataran dan symposium Regional dan Nasional, terutama dalam bidang dakwah Islam, dan Budaya Minangkabau, serta kaitannya dengan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat.

Mulai 2000 sering diundang berdakwah ke Tanah Semenanjung, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia dan terakhir pada Juli 2009 diundang oleh KMII Jepang bekerja sama dengan Kedubes RI di Tokyo untuk memberikan dakwah di Tokyo dan sekitarnya.

Undangan KMII Tokyo 046

  1. 8. Karya tulis / buku Islam yang pernah ditulis :
    1. ISLAM dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Abadi, Jakarta – 1997,
    2. Dakwah Awal Abad, ISBN: 979-95980-1-X, Mimbar Minang, Padang – 2000.
    3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, ISBN: 979-95980-5-2, Mimbar Minang, Padang – 2001
    4. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan ABS-SBK di Minangkabau, ISBN 979-95980-9-5, Mimbar Minang, Padang – 2002.
    5. Pernik Pernik Ramadhan, ISBN: 979-95830-6-3, Mimbar Minang, Padang – 2002.
    6. Implementasi ABS – SBK, ISBN: 979-3797-06-1, PPIM, Padang – 2004.
    7. Silabus Surau, ISBN: 979-3797-03-7, PPIM, Padang – 2004.
    8. Surau Kito, ISBN : 979-3797-07-X, PPIM, Padang – 2004.
    9. Adat dan Syarak di Minangkabau, 979-3797-08-8, PPIM, Padang – 2004.

10. Ensiklopedi Minangkabau, ISBN : 979-3797-23-1, (Pen.Jawab/Kontribusi), PPIM, Padang – 2004.

11. Taushiyah Mohamad Natsir, Singalang Press, Padang – 2009.

 

 

 

 

 

 

 

03
Agu
09

Di bawah Kubah Hijau ini di Masjid Nabawi berkubur Muhammad Rasulullah SAW

20
Jun
09

Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)

 Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Untuk Membangun Manusia dan Masyarakat Minangkabau

Yang Unggul Dan Tercerahkan

 

 Puncak gonjong Rumah Gadang

 

ABS SBK Merupakan Batu Pojok Bangunan Masyarakat Minangkabau Yang (Dulu  Pernah) Unggul Dan Tercerahkan

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan   (Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di awal abad ke 19) dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik bersenjata yang melelahkan.

Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa (JPEG Image, 227×269 pixels) Buyaangkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik) yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. 

Mereka merupakan ujung tombak kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke 20, serta dalam upaya memerdekakan bangsa ini di pertengahan abad 20.

Sebagai kelompok etnis kecil yang hanya kurang dari 3%  dari jumlah bangsa ini, peran kunci yang dilakukan oleh sejumlah tokoh besar dan elit pemimpin berbudaya asal Minangkabau telah membuat ”Urang Awak” terwakili-lebih (”over-represented”) di dalam kancah perjuangan dan  kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Rumah gadang Minang

Alhamdulillah, Minangkabau sebagai  kelompok etnis kecil pernah berada di puncak piramida bangsa ini (”the pinnacle of the country’s culture, politics and economics”). Putera-puteri terbaik berasal dari budaya Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”suluah bendang”) bangsa Indonesia ini.

 Group Ulama & National Businees-2

ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan sosial budaya yang melahirkan kelompok signifikan  manusia unggul dan tercerahkan. ABS-SBK dapat diibaratkan ”Surau Kito” tempat pembinaan ”anak nagari” yang ditumbuh-kembangkan menjadi ”nan mambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan  bagak manantang mato ari, jo nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik beko masuak Sarugo  ”.

Masjid Gantiang Padang

Namun, ”kutiko jalan lah di alieh urang lalu” dan ”alah lupo kacang di kuliknyo”, maka robohlah ”Surau Kito”. Dan beginilah sekarang nasib atau bagian peran yang berada di tangan etnis Minangkabau yaitu hanyalah sekadar ”nan sayuik-sayuik sampai” atau nyaris tak terdengar. Para penghulu ninik mamak, para ulama suluh bendang, dan para cerdik cendekia, menjadi sasaran keluhan dan pertanyaan umat banyak.  

 Kota Tua di Muara Padang

Kota Tua di Sehiliran Batang Harau, Muara Padang – setua itu pula adat – yang bersiap akan dimasukkan  ke dalam  Museum, bila adat budaya yang luhur dengan nilai nilai syarak itu tidak  dipakai lagi oleh etnis Minangkabau…. atau adat dan syarak itu akan menjadi seakan ngarai yang runtuh ……,

Lambah di Ngarai Sianok

yang hanya akan dapat dinikmati dalam pandangan tapi tak akan mampu dimasuki karena generasi dari Masyarakat Adat Minangkabau itu sendiri sudah menjauh dari nilai-nilai adat istiadat leluhur mereka.

Panorama Ngarai Bukittinggi

 

 

 

Masyarakat Madani Minangkabau adalah Masyarakat Yang Beradat Dan Beradab

DSC05895 

Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”). Yang paling mendasar adalah ”meta-environmental system” yaitu tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).

Sawah selesai disabik

PDPH ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan  masyarakat.  PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal.

Rumah Adat Bukittinggi

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). 

Silek Kesenian anak Nagari Minangkabau

PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri  maupun bersama-sama. PDPH memberikan ruang (dan sekaligus batasan-batasan) yang merupakan ladang bagi pengembangan kreatif potensi manusiawi dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan.

Sirieh di Carano, mananti tamu tibo 

PDPH masyarakat Minangkabau yang dahulu itu (1800-1950) melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas” adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).  ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau  dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya.

Meta-environment yang dibentuk ABS-SBK sebagai PDPH membentuk lembaga pemerintahan ”tigo tungku sajarangan” yang menata kebijakan “macro-level” (dalam hal ini “adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat)  bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “anak nagari” Minangkabau.

Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan  sosial, budaya dan ekonomi  pada tingkat sektoral (meso-level) maupun tingkat perorangan (micro-level) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.  Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Minangkabau (dahulu itu, 1800-1950)  merupakan salah contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.

 Prosesi Minangkabau 023

 

 

Masyarakat Ber-Adat Yang Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

Danau Diateh dari Danau Dibawah

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaan dan memahami Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”, artinya kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

DSC03901

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas” yang  dikonstruksikan secara kebahasaan (”linguistic construction of realities”)  yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai Kato Pusako. Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat  se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.

 Gunung Merapi berselimut awan di sore hari

Sangat sedikit catatan sejarah dengan bukti asli/otentik tentang bagaimana sesungguhnya bentuk dan keberhasilan masyarakat Minangkabau di dalam menjalankan Adat yang bersendikan Nan Bana itu.  Sejarah yang dekat (dua tiga abad yang silam) menunjukkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Minangkabau banyak ditemukan praktek-praktek yang kontra produktif bagi perkembangan masyarakat seperti judi, sabung ayam dan tuak dan lain-lain. Sejarah sebelum ABS-SBK juga belum mencatatkan peran signifikan tokoh-tokoh berasal budaya Minangkabau yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

 MesjidKuno_2

Sebaliknya, sesudah ABS-SBK, terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. Bagaimana gejala itu bisa diterangkan?.

 CapRaja

Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat Ber-Adat yang bersendikan Nan Bana,  Nan Badiri Sandirinyo. Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas lewat jalur kebahasaan, hasil penerapannya di dalam kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan  satu-satu” (”one-to-one relationship”) atau sama sebangun dengan Realitas yang sebenarnya (Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu). Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai Peta Realitas serta Petunjuk  Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu. Kekurangan utama yang menjadi akar dari segenap kelemahan yang terperagakan itu adalah ada bagian dari Peta Realitas itu yang ternyata tidak sama sebangun dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Tuanku Imam Bonjol

Kekurangan utama (Peta yang tidak sama sebangun dengan Realitas) itu melahirkan beberapa kekurangan. Kekurangan turunan pertama adalah Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas tidak dilengkapi dengan Pedoman dan Petunjuk yang memadai tentang bagaimana ia seharusnya digunakan. Peta yang tidak dilengkapi dengan bagaimana menggunakannya secara memadai adalah tidak bermanfaat, malah dapat menyesatkan. Kekurangan selanjutnya, tidak dilengkapinya Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas itu dengan  Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  yang memadai. Peta tanpa petunjuk jalan yang memadai tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kekurangan selanjutnya, Adat yang menjadi Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  itu  tidak dilengkapi dengan pedoman teknis perekayasaan perilaku (”social and behavioral engineering techniques”) yang memadai sehingga rumus-rumus dan resep-resep pembentukan masyarakat sejahtera berkeadilan berdasar Adat Minangkabau tidak dapat diterapkan.

Pacu Jawi bukan Karapan Sapi

 Akar segala kekurangan serta sebab-musabab segala kelemahan berupa ketidak-lengkapan serta kurang-kememadai-an itu adalah  ketiadaan “hubungan satu-satu”  antara Peta Realitas dengan Realitas itu sendiri atau Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Ummat

Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo”.  Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK). 

Ketika Adat hanya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo,   ada yang kurang dan hilang dalam tali hubungan keduanya, yaitu antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu yang kita urai-jelaskan tadi.

H. Agus SalimDengan diproklamasikannya Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan Nan Bana, Nan Sabana-bana Nan  Bana, Nan Sabana-bana Badiri Sandirinyo.

 

Kitabullah adalah Al-Quran.

Al Qur’an mengurai-jelaskan segala sesuatu  “tafshiila li kulli sya’iin” (Surat 12, Yusuf, ayat 111), atau dengan perkataan lain “Peta Realitas Lewat Kebahasaan” yang pasti memiliki hubungan satu-satu atau sama sebangun dengan Realitas itu (“al-haqqu min amri Rabbika”, Al Qur’an Surat al Baqarah. ). 

Al Quran Masjid Nabawi 1

Al Quran adalah juga  Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184).

 

Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah menurut Teladan Nabi Muhammad  s.a.w. (atau Sunnah Rasulullah) telah mentransformasikan masyarakat Jahiliyah empat belas abad yang lalu menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang tujuh dari abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Quran telah mendominasi Dunia Beradab. Kekalahan dan keterpinggiran yang terjadi sampai hari disebabkan berbagai faktor yang utamanya karena meninggalkan ke dua panduan hidup itu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. (Taraktu fi kuum amraiin, Al Quran wa sunnaturarasuul,……. al hadith, riwayat …………………….).

DSC06120 

Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit  penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme  dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

 DSC06134

 

 

Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad  Mutakkhir

 Ruah Adat Minangkabau

Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Dalam satu sudut pandang, krisis budaya Minangkabau  menggambarkan krisis  yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf  atau Millennium ke Tiga ini. Salah satu isu yang menjadi kehebohan Dunia akhir-akhir ini adalah isu Perubahan Iklim (“Climate Change”). Perubahan Iklim telah dirasakan sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan/keberlanjutan keberadaan Umat Manusia di bumi yang hanya satu ini. Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia yang memengaruhi lingkungan sedemikian rupa sehingga mengurangi daya-dukungya sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia.

Inyiek Canduang Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”. Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi  telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia. Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“irreversible”) terhadap alam itu sendiri.  Dan ternyata, Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.

 

Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed. ZulverdiDari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab. Kemungkinan pertama,   mungkin Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang tidak mampu memperkirakan terlebih dahulu apa yang sekarang telah menjadi Perubahan Iklim yang tidak dapat balik itu. Dengan perkataan lain Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang  ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata. (Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah dimana “ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.

 

Mohd. HattaKemungkinan kedua, para ilmuwan telah “lebih dahulu  memahami apa yang bakal terjadi”, namun tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk merubah perilaku manusia dan masyarakat.  Jadi, Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat. Singkat kata, apa yang ada dalam benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme) yang menjadi kesadaran kolektif yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH)  mereka ternyata tidak sama sebangun dengan Realitas. Dengan begitu, ketika PDHP itu menjadi acuan perilaku serta kegiatan perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.

 

M. NatsirManusia moderen sangat berbangga dengan berbagai isme-isme yang dikembangkannya serta meyakini kebenarannya di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Millennium atau Alaf Ketiga ini. 

 

Jika kita merujuk kepada Kitabullah, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan ;

DSC03900 

“…..Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia” (Al Qur’an Surat… Ayat…….).  Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu

 

Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah penyembahan berhala, berupa ilmu ataupun isme-isme yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat.  Salah satu ayat dalam Al-Qur’an Surat 12, Yusuf , Ayat 40, sebagai berikut

 “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS 12, Yusuf : 40).

 

Ibrahim Tan MalakaKeyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan khayalan manusia saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.

 “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS.45, Al Jatsiah : 23).

 

 “ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, (QS25, al Furqan : 43)

 

 “ …. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” (QS.28 : 50)

Rumah Adat e. Datuak Batuah di Kamang 

Dengan keterbatasan itu bagaimana manusia mungkin meneruka jalan keselamatan di alam semesta, paling tidak dalam  menjalani kehidupan di Dunia ini.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia tidak ditinggalkan di dalam kebingungan.

 

(Rujukan Al Qur’an…………………. Surat………………).

Diturunkanlah para Rasul dengan membawa Kitab Suci, yang paling terakhir Al Qur’an sebagai  Peta Realitas serta Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram dalam menjalani hidup di bumi yang fana ini.

 

Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.  Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka.

 

Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara ABS-SBK sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan  kenyataan kehidupan sehari-hari. Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Mencetak  SDM Unggul Yang Tercerahkan Yaitu  Para Ulul Albaab.

 

Siapakah manusia unggul yang tercerahkan itu. Barangkali konsep yang menyamai serta t digali dari Al-Qur’an  adalah para “Ulul Albaab”. Dalam Surat Ali Imran, Surat ke 3, Ayat 190 s/d 194 , disebutkan sebagai berikut

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(3:190).(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(3:191).Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.(3:192).Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.(3:193)Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”(3:194)

 

Dahlan DjambekBagi para “uluul albaab” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda.  Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat makna yang berada disebalik tanda itu. Proses menjawab pertanyaan itu disebut berpikir yang terarah.  Hasil berpikir adalah pikiran tentang sebagian dari kenyataan. Dengan perkataan berpikir akan menghasilkan semacam “peta bagian kenyataan” yang dipikirkan.

 

Hikmah yang dikandung Al-Qur’an hanya dipahami oleh “ulul albaab” yaitu  mereka yang mau berpikir dan merenungkan secara meluas, mendalam tentang apa yang perlu dan patut dipahami dengan maksud agar  mengerucut kepada beberapa simpulan kunci.

Batagak Pangulu di Kotogadang

Para “ulul albaab” adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam dirinya zikir dan fikir menyatu.  Zikir disini bukan sekadar mengingat Allah s.w.t dengan segala Asmaul-Husna-Nya, tapi harus dipahami lebih luas sebagai hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah s.w.t dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya. Fikir berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk dan Ajaran Allah s.w.t. sebagaimana diurai-jelaskan oleh Al-Qur’an serta ditafsirkan dan diterapkan oleh Rasullullah lewat Sunnahnya sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah).

 

Simpulannya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. 

Rumah gadang di Bukittinggi

Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “ulul albaab” sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako “Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di  Akhiraik Beko Masuak Sarugo“. 

 

 

 

GAMBARAN BUDAYA  MINANGKABAU

SEBELUM DAN SESUDAH ABS-SBK

 

Usulan bagi Satu Pendekatan

 

 

 

Sebelum peristiwa Piagam Sumpah SatieBukik Marapalam, budaya Minangkabau dapat digambarkan lewat diagram di bawah ini.

 

 

 

Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo  termasuk Alam Terkembang yang menjadi Guru.  Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja, termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah Adat Minangkabau. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)  kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.  Di samping itu, pengaruh kepercayaan lama serta Hindu dan Budha telah mewarnai tata-cara dan praktek penyembahan yang kita belum memiliki catatan yang lengkap tentang itu.

 DSC05847

Konsep dasar PDPH (Adat Nan Sabana Adat) itu diungkapkan lewat Bahasa, terutama Bahasa Lisan (Sesungguhnya Minangkabau pernah memiliki tulisan berupa adaptasi dari Huruf Pallawa dari India  (pengaruh  agama Hindu/Budha). Keseluruhan pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang berisikan gagasan-gagasan bijak itu dikenal sebagai Kato Pusako. Kato Pusako itu yang kemudian dilestarikan secara formal lewat pidato-pidato Adat dalam berbagai upacara Adat. Sastera Lisan juga merekam Kato Pusako dala kemasan cerita-cerita rakyat, seperti Cindua Mato, dll.

 

PDPH Masyarakat Minangkabau juga diungkapkan seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan galombang). Benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong) serta artefak lain-lain mengungkapkan wakil fisik dari konsep PDPH Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna.

ARAKAN

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaurhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat.

 

 DSC05879

 

 

 

 

 

Peristiwa yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau.  Tampaknya dahulu itu tekah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.

Manatiang sirih jo carano 

ABS-SBK sekarang menjadi  konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako.  ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. 

 

Barangkali langkah  yang perlu kita lalui adalah:

1)     Kompilasi

2)     Kategorisasi

3)     Kajian:

  1. Tema
  2. Aspek kehidupan perorangan
  3. Aspek-aspek kehidupan masyarakat
  4. Simpulan: Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup Dasar Masyarakat

(Bagaimana Adat Minangkabau menyatu-padukan aplikasinya dengan Kitabullah atau bagaimana Islam diamalkan dalam konteks budaya Minangkabau)

H Mas’oed Abidin, Jalan Pesisir Selatan V/496, Padang , Sumbar – Indonesia




Blog Stats

  • 34,780 hits

 

Januari 2010
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031