{{desc}}
melaluiPenjabaran Filosofi ABS-SBK di Minangkabau Sumatera Barat.
{{desc}}
melaluiPenjabaran Filosofi ABS-SBK di Minangkabau Sumatera Barat.
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”. (Q.S. An Nahl: 41)
Peringatan Tahun Baru Hijriyyah
selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah.
Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam.
Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya .
Menurut Ibnu Qayyim al Janziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.
Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.
Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati.
Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.
Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy.
Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita butuhkan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari.
Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT.
Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya
jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT.
Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.
Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:
Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)
Kedua, bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)
Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)
Keempat, perzinahan yang terlokalisir(Prostitusi) Allah SWT berftrman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adal
ah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)
Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecan-tikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)
Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)
Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)
Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.
Allahu A’lam bi as-Shawwab.
Sifat Ibadu r-Rahman Kesebelas
“ Bertafakkur dan Berzikir “
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ لِأُولِي
اْلأَلْبَاب ِ(190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمــَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عـَذَابَ النَّار ِ(191)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berzikir) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (brtafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau , maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)
Sifat Ibadurrahman yang kesebelas : Menyelami ayat-ayat Allah (Bertafakkur dan Berzikir)
Ibadurrahman adalah sosok hamba Allah yang tiada henti bertafakkur dan berzikir, membaca dan sekaligus menghayati dan menyelami ayat-ayat Allah SWT yang kemudian menghasilkan kemantapan iman dan kematangan aqidah kepada Allah. Setiap apa yang mereka tangkap dari ayat-ayat Allah, mereka sikapi dengan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, karena itu mereka tiada pernah lalai akan printah Allah SWT. Mereka disifati Allah dalam Al Qur’an:
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tiadalah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”(Q.S. Al Furqan: 73)
Menurut pada ulama, ayat-ayat Allah ada dua macam: Pertama disebut ayat-ayat Takwiniyah dan yang kedua disebut ayat-ayat Tanziliyah.
Pertama: ayat-ayat Takwiniyah. Artinya tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat dan dapat kita saksikan di alam ini, yang dihamparkan di setiap tempat guna menuntun manusia menuju kepada Khaliqnya serta memberikan petunjuk kepada mereka tentang keberadaan-Nya. Dan ayat Takwiniyah yang terdekat adalah apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
Barangsiapa yang memandang ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata buta, hati yang tertutup dan telinga yang tuli, maka ia tidak akan mengambil manfaat sedikitpun darinya. Sebab hati, telinga, dan mata mereka tertutup, sehingga mereka bisu dan tuli tidak dapat mentadabburinya.
Kedua: Ayat-ayat Tanziliyah. Artinya, ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasul-Nya, berupa ayat-ayat wahyu, yang disudahi Allah dengan menurunkan Al Qur’anul Karim kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Al Qur’an merupakan ayat-ayat Allah, dan manusia tidak akan mungkin mampu membuat yang serupa dengannya.
Al Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang abadi, ayat-ayat yang abadi, yang dapat menyusup ke dalam hati dan pikiran tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Abdullah bin Urwah bin Az Zubair bertanya kepada neneknya Asma’ binti Abu Bakar, ”Wahai nenek, apa yang dilakukan para sahabat jika mereka mendengarkan al Qur’an atau mendengarkannya?” Asma’ menjawab, “Wahai cucuku, mereka seperti yang digambarkan Allah, mata mereka meneteskan air mata, kulit mereka gemetar dan hati mereka tertunduk.”
Bahkan para jin yang mendengat bacaan Al Qur’an pun terpengaruh. Allah SWT berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkat, ‘Diamlah kalian (untuk mendengarkannya). ‘Ketika bacaan itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnyalagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al Ahqaf: 29-30)
Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, diantara orang-orang salaf ada yang berkata, “Tadinya aku tidak pernah merasakan kelezatan di dalam Al Qur’an hingga Allah memberi anugerah kepadaku, sehingga aku membacanya seakan-akan aku mendengarkannya langsung dari Rasulullah SAW yang sedang membacakannya di hadapan para sahabat. Maka ketika aku membacanya, seakan-akan mendengarkan langsung dari Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian aku naik setingkat lebih tinggi lagi, sehingga seakan-akan mendengarnya langsung dari Allah.”
Ibadurrahman apabila mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an maka iman mereka semakin bertambah. Karena Al Qur’an adalah penawar hati mereka. Sementara orang-orang yang tiada iman dalam hatinya, justru membuatnya gelisah, dan mereka enggan mendengarkannya, karena telinga mereka telah tersumbat. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
“Katakanlah, ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipangil dari tempat yang jauh.” (Q.S. Fusshilat : 44)
Allahu A’lam bi as Shawab
Sifat Ibadu r-Rahman Ketujuh,
« Menjauhi Pembunuhan.. »
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; Janganlah kamu mempersukutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”
(Q.S. Al An’am: 151)
Sifat Ibadurrahman yang ketujuh: Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan
Syari’at Islam tidak diturunkan hanya untuk menjaga agama dan aqidah semata, tetapi juga untuk menjaga darah dan jiwa, menjaga kehormatan dan kesucian, menjaga akal, keturunan dan harta benda. Karena itu Ibadurrahman sangat menjauhi tindak kekerasan apalagi yang mengarah kepada pembunuhan, dan mereka sangat menghormati kehidupan, menaburkan kasih sayang di tengah-tengah manusia dan membenci kejahatan, terlebih lagi yang namanya pembunuhan.
Al-Qur’an menyertai tindak pembunuhan dengan syirik, karena buruknya kejahatan ini. Syirik merupakan pelanggaran terhadap agama, sedangkan pembunuhan merupakan pelanggaran terhadap kehidupan. Islam datang untuk mengharamkan penumpahan darah dan melarang seseorang melanggar jiwa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.
Semenjak dahulu kala manusia selalu dikuasai oleh nafs Ammarah, jiwa yang menyuruh kepada kejahatan, sehingga sebagian membunuh sebagian yang lain, hanya karena memperebutkan keduniawian yang tidak seberapa nilainya, atau karena amarah yang meluap-luap, atau karena kedengkian, kebencian dan perselisihan, atau karena kompetisi dan persaingan dalam kehidupan ini, atau sebab-sebab yang lain. Pada masa awal kehidupan manusia, pembunuhan telah terjadi. Dimana salah seorang putra Adam a.s yang bernama Qabil membunuh saudaranya sendiri Habil. Dan ini merupakan tidakan pembunuhan yang pertama kali di muka bumi. Saat itu seseorang belum tahu bagaiman memperlakukan jasad orang lain, maka Allah mengutus seekor burung gagak yang menggali dipermukaan tanah, untuk mengajarkan kepada manusia bagaimana memperlakukan jasad saudaranya yang sudah mati.
Rasulullah SAW telah memperingatkan ummatnya agar tidak kembali ke era jahiliyah, yang memiliki tradisi saling bermusuhan, dan saling membunuh tanpa ada alasan yang benar. Maka ketika haji Wada’ beliau bersabda di hadapan ribuan orang-orang muslim“Janganlah kalian kembali menjadi kafir sesudahku, sehingga diantara kalian memenggal leher sebagian yang lain (saling membunuh)”.
Jika sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling membunuh, maka beliau menganggap hal itu sebagai keadaan orang-orang kafir. Karena prilaku keji tersebut (membunuh dan saling bunuh) bukan keadaan atau sifat orang-orang muslim. Allah menegaskan dalam Al Qur’an:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan azab yang besar baginya.”
(Q.S. An Nisaa’: 93)
Marilah kita renungkan sabda-sabda Rasulullah SAW berikut ini:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمْ
“Kebinasaan dunia ini lebih remeh bagi Allah daripada Pembunuhan terhadap seorang muslim.” (H.R. At Tirmidzi dan An Nasa’i)
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ القِيَامَةِ فِى الدِّمَاءِ
“Pengadilan yang pertama kali di antara manusia pada hari kiamat adalah mengenai darah (pembunuhan).” (H.R Bukhari dan Muslim)
Bahkan membantu orang lain untuk membunuh orang mukmin, entah dengan cara apapun dan sekecil apapun, juga mendapatkan balasannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.“Barangsiapa yang membantu untuk membunuh seorang mukmin dengan sepenggal kata, maka dia akan bertemu Allah dan diantara matanya tertulis ‘Terputus dari rahmat Allah’.”(H.R. Ibnu Majah)
Sufyan bin Uyainah mengatakan. “Yang dimaksud sepotong atau sepenggal kata-kata disini ialah seperti mengucapkan ,’B….’, tidak melengkapinya dengan kata ‘Bunuh’, kepada orang yang hendak membunuh. Lantas bagaimana dengan orang yang membunuh itu sendiri?”
Setiap jiwa mempunyai kehormatan dan hak hidup, maka setiap manusia harus menghormatinya, bahkan jiwa seekor kucingpun mempunyai hak, sehingga seorang wanita dimasukkan ke adalam neraka karena mengurungnya hingga mati tanpa memberinya makan atau tidak melepaskannya agar si kucing dapat mencari sendiri makanannya. Karena itulah Ibadurrahman sangat menjauhi penumpahan darah, mereka menghormati kehidupan.
Allahu A’lam bi as Shawab
Sifat Ibadu r-Rahman Keenam
« Memiliki Keyakinan Tauhid .. »
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga mengatakan yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunggunya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali Imran: 18-19)
Sifat Ibadurrahman yang keenam: Tauhid
Allah SWT menyatakan sifat Ibadurrahman yang keenam ini dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain beserta Allah.” (Q.S. Al Furqan: 68)
Artinya Ibadurrahman mempunyai suatu keyakinan yang menancap dalam qalbu mereka bahwa tidak ada yang patut dan berhaq untuk disembah melainkan Allah SWT. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menulis dalam bukunya Syarhu Tsalatsati Al Ushul ketika memberikan keterangan dan penjelasan (Syarah) tentang kandungan makna firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Ali Imran Ayat 18.
Kemudian beliau menegaskan bahwa Ibadurrahman yang memiliki kematangan Tauhid meyakini bahwa meskipun ada sesembahan selain Allah, namun itu semua adalah batil, dan tidak berhak disembah, oleh karena tidak memiliki sifat Uluhiyah sama sekali.
Marilah kita simak apa komentar Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar bin Husen Ar Raazi (Penulis Kitab Tafsir Mafaatihil Ghaib/Tafsir Al Kabir tentang ayat di atas yang terdapat dalam bukunya ‘Ajaibul Qur’an, “Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya Allah Ta’ala mendahulukan perintah-Nya untuk berma’rifatut tauhid (pengenalan terhadap tauhidullah) dari pada perintah memohon ampun kepada-Nya. Sebabnya ialah karena ma’rifatut tauhid menunjuk kepada ilmu ushul (pokok dan prinsip), sedangkan kegiatan memohon ampunan-Nya menunjukkan kepada ilmu yang bersifat furu’ (cabang). Oleh sebab itu jelaslah, ilmu ushul harus didahulukan . Jika kita tidak mengetahui eksistensi Sang Pencipta maka hal itu akan menghalangi tegaknya ketaatan dan penghambaan kita kepada-Nya.”
Prof. DR. Mahmud Saltut mengatakan bahwa Islam menetapkan Wahdaniyah Rububiyah. Artinya, tidak ada Tuhan yang menciptakan, mengatur dan melaksanakan segala sesuatu, melainkan Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian menetapkan Wahdaniyatul Uluhiyah, artinya tidak ada zat yang berhak disembah, dihadapkan kepadanya segala permohonan dan dimohonkan pertolongannya, selain Allah SWT. Syaikh Yusuf Al Qardhawy menambahkan bahwa tauhid ada dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Yang disebut Tauhid Rububiyah ialah engkau meyakini bahwa tidak ada Rabb selain Allah, tidak ada Khaliq, tidak ada pemberi rezki melainkan Allah semata, Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya serta menguasainya.
Adapun Tauhid Uluhiyah ialah jika engkau tidak menyembah, tidak memohon pertolongan, todak berdoa, tidak takut, dan tidak berharap kecuali kepada Allah semata. Karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, agar para rasul itu mengajak kaumnya kepada tauhid ini. Karena itu seruan yang pertama dalam setiap risalah para rasul adlah kalimat tauhid.
Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada beberapa raja yang berkuasa pada saat itu. Kepada Kaisar Rumawi, kepada Muqaqis, kepada Najasyi dan kepada para ahli Kitab dengan menyebutkan ayat yang mulia berikut ini:
“Katakanlah: “Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan diantara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 64)
Para ahli tafsir telah sepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5.
Pada wahyu pertama ini Allah SWT telah mengenalkan beberapa Nama dan Sifat-Nya diantara Asmaul Husna, yaitu, Ar Rabb (Maha Pemelihara), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Akram (Maha Pemurah, Maha Mulia) dan Al Alim (Maha Mengetahui). Bersamaan dengan itu, manusia dikenalkan dengan eksistensi (wujud) dirinya sebagai seorang hamba, makhluk yang diciptakan, dari sesuatu yang hina (segumpal darah) dan bodoh (tidak tahu). Manusia yang menyadari keberadaan Ar Rabb Yang Maha Pemelihara, sementara dirinya adalah hamba yang dipelihara akan melahirkan sikap Uluhiyah Ta’abbud (menghamba dan menyembah Allah SWT). Secara Verbal sikap ini terangkum dalam kalimat ‘Laa ma’buuda bi haqqin illallaah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin” (Q.S. Al Fatihah: 5-6).
Di antara keistimewaan Ibadurrahman adalah kematangan tauhidullah ini. Karena itulah Allah SWT memilih mereka sebagai hamba-hamba pilihan yang dinisbatkan langsung dengan-Nya …;
Merekalah Ibadurrahman.
Allahu A’lam bi as Shawab
Sifat Ibadu r-Rahman Kelima,
« Sederhana Dalam Membelanjakan Harta »
وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al Israa’: 29)
Sifat Ibadurrahman yang Kelima: Sederhana dalam membelanjakan harta.
Islam mengajarkan sikap pertengahan (sederhana) dalam segala perkara, termasuk dalam hal membelanjakan harta yang dimiliki. Yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir.
Tidak ada salahnya Ibadurrahman memiliki harta. Toh harta dalam pandangan Islam merupakan karunia Ilahi yang diusahakan manusia dan nikmat yang harus disyukuri dan juga merupakan amanat yang harus dipelihara. Bagi Ibadurrahman, harta adalah karunia Allah yang diserahkan dan dipercayakan kepada manusia untuk mengurus dan mengembangkannya.
Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam hal yang berhubungan dengan harta. Yang berkaitan dengan cara mendapatkannya (yaitu harus dengan cara yang halal sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan), cara mengembangkan nya, cara membelanjakannya, dan cara menyalurkannya. Boleh jadi manusia berusaha mengumpulkan harta dari cara-cara yang halal. Tapi setelah itu dia menjadi kikir untuk memenuhi haknya, bakhil membelanjakannya untuk hal-hal yang disukai dan diridhai Allah atau sebaliknya, dia menghambur-hamburkannya kesana kemari tanpa ada manfaat apapun.
Jika seseorang hidup sederhana, tidak bakhil dan tidak kikir, tidak boros dan berlebih-lebihan, maka itu merupakan dalil (pertanda) kedalaman pengetahuan dan cahaya ilmunya. Dia berjalan di tengah, dan sebaik-baik urusan adalah pertengahannya. Islam menuntut ummatnya untuk menafkahkan sebagian dari harta mereka, dan tidak menuntut mereka menafkahkan semua harta yang di miliki. Ketika Allah mewajibkan manusia untuk mengeluarkan zakat, maka zakat yang dikeluarkan itu hanya beberapa persen dari harta yang dimiliki, dan tidak membebankan mereka dengan jumlah yang terlalu banyak.
Ibadurrahman sangat jauh dari sifat kikir dan bakhil, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dermawan, namun tidak boros dalam membelanjakan hartanya. Orang kikir yang begitu erat menggenggam hartanya, bak kata pepatah, “Laksana air dalam genggaman, tak setetespun yang mengalir.” Adalah orang-orang yang sangat dimurkai Allah. Ia meyakini harta yang ada padanya mutlak miliknya karena diperoleh dari usahanya sendiri, sehingga ia lupa kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepadanya dengan hartanya itu. Ia enggan membelanjakan sebagian hartanya fisabilillah dengan berinfaq, bersedekah, bahkan mereka enggan mengeluarkan zakat. Allah SWT mengancam mereka yang bakhil dan kikir dengan azab api neraka yang dahsyat. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 34-35:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)
“…. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (fi sabilillah), maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam beraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung merela (lalu dikatakan) kepada mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu dimpan itu.”
Rasullah SAW juga memperingatkan ummatnya agar menjauhi sifat kikir karen sifat kikir mengakibatkan manusia saling benci, putus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, timbul kesenjangan, jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, bahkan bisa terjadi saling menumpahkan darah.
Allah SWT telah menggambarkan kepada kita tentang suatu masyarakat yang kehidupannya penuh dengan persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka. Solidaritas mereka begitu tinggi, yang kaya memperhatikan yang miskin, dan yang mampu dan kuat membantu yang lemah. Itulah masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan begitulah gambaran ikatan persaudaraan antara kaun Anshar dan Muhajirin. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sifat kikir dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dari Allah SWT.
Disamping tidak kikir, Ibadurrahman sangat dermawan, katakanlah bahwa mereka sangat “hobby” dalam berinfaq di jalan Allah, dan mereka tidak berlebih-lebihan dalam menafkahkan hartanya kepada orang lain, meskipun sebenarnya tidak ada istilah berlebih-lebihan dalam kebaikan. Artinya mereka tiada membelanjakannya dalam kedurhakaan kepada Allah. Ibadurrahman sangat yakin bahwa setiap harta yang ia nafkahkan di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang lebih banyak, tidak ia rasakan di dunia, namun balasannya pasti ia nikmati di akhirat kelak.
Sebagai penutup, marilah kita hayati dan renungkan firman Allah dalam hadits Qudsi berikut ini yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bersumber dari Abu Hurairah r.a:
“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Tetapi sekiranya engkau menggenggamkan tanganmu (karena kikir), maka keburukanlah bagimu. Engkau tidak akan dicela (oleh Allah) atas kehidupan yang pas-pasan (tidak berkelebihan tapi qana’ah – selalu puas dengan apa yang ada), dan mulailah (menafkahkan harta) dengan orang yang engkau tanggung (dengan memberikan nafkah belanja seadanya). Dan tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di bawah (meminta).”
Allahu A’lam bi as Shawab
Komentar Terakhir