Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia.
Orang yang bahagia lebih kreatif dan tidak mengancam bagi lingkungannya.
Mereka lebih senang memberi, bukannya meminta dan menerima.
Masyarakat pasti akan senang jika para pemimpinnya kaya harta dan kaya hati.
Lebih ikhlas mencintai dan melayani masyarakat lingkungannya.
Bukannya lebih banyak meminta, tetapi lebih suka memberi.
Bukannya menindas, tetapi menolong dan menyelamatkan.
Insyaallah kebahagiaan akan dirasakan setiap orang.

Semua Orang Pasti Menginginkan Hidup Bahagia

Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia.

Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia. Orang yang bahagia lebih kreatif dan tidak mengancam bagi lingkungannya. Mereka lebih senang memberi, bukannya meminta dan menerima. Masyarakat pasti akan senang jika para pemimpinnya kaya harta dan kaya hati. Lebih ikhlas mencintai dan melayani masyarakat lingkungannya. Bukannya lebih banyak meminta, tetapi lebih suka memberi. Bukannya menindas, tetapi menolong dan menyelamatkan. Insyaallah kebahagiaan akan dirasakan setiap orang.

Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia.
Orang yang bahagia lebih kreatif dan tidak mengancam bagi lingkungannya.
Mereka lebih senang memberi, bukannya meminta dan menerima.
Masyarakat pasti akan senang jika para pemimpinnya kaya harta dan kaya hati.
Lebih ikhlas mencintai dan melayani masyarakat lingkungannya.
Bukannya lebih banyak meminta, tetapi lebih suka memberi.
Bukannya menindas, tetapi menolong dan menyelamatkan.
Insyaallah kebahagiaan akan dirasakan setiap orang.

Orang yang bahagia lebih kreatif dan tidak mengancam bagi lingkungannya.
Mereka lebih senang memberi, bukannya meminta dan menerima.
Masyarakat pasti akan senang jika para pemimpinnya kaya harta dan kaya hati.
Lebih ikhlas mencintai dan melayani masyarakat lingkungannya.
Bukannya lebih banyak meminta, tetapi lebih suka memberi.
Bukannya menindas, tetapi menolong dan menyelamatkan.
Insyaallah kebahagiaan akan dirasakan setiap orang.

10690257_776784229026689_4435237792019025304_n

Beruntung Orang Yang Shabar

Tegar hadapi ujian, beruntung orang sabar, upaya meraih keberuntungan.
1.      Bersabar dalam menghadapi musibah.
2.      Bersyukur ketika mendapatkan kelapangan.
3.      Ridha dengan takdir yang diterima walau terasa pahit.
4.      Selalu berdzikir mengingati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Al Auza’i mengatakan bahwa ganjaran sabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga. [1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya ujian yang berat akan mendapatkan pahala (balasan) yang besar pula. Sesungguhnya Allah jika ia mencintai suatu kaum, pasti Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, maka Allah pun ridho padanya. Barangsiapa yang murka, maka Allah pun murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih)

Sabar tidak ada batasnya. Imbalan kesabaran mencari ridha Allah adalah surga.

Firman Allah : Artinya “Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (yaitu surga)” (QS. ar-Ra’du: 24)

Indahnya menjadi seorang mukmin yang bersabar.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”. (HR. Bukhari no. 5641).

[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H

Copy of DSC_0140

Husnuz-dzan Di Jalan Allah Khuthbah Idul Fitri 1435 H

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

 

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada  tuhan selain Allah yang Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya  sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang. 

Tiada  tuhan  selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi  kemenangan kepada  hamba-Nya,  yang memuliakan prajurit-Nya sendirian.  

Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecuali hanya  kepada  Allah,  mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci.  

Tiada  tuhan  selain  Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Bulan UJIAN DAN Kemenangan

Pagi  ini ratusan juta umat manusia bertakbir, tahlil, tasbih, tahmid, berzikir, mensyukuri nikmat Allah Azza wa Jalla ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, zikir dengan sebanyak-banyakya.” (Q.S. Al Ahzab: 41)

Di seluruh dunia, dan dikeliling Ka’batullah semua lidah menggumamkan kebesaran Allah Maha Agung. Memuji kesucian Allah. Berjuta pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah.

Hati diharu-biru kecamuk rasa bangga dan syahdu, merayakan  kemenangan besar mengalahkan nafsu dan keinginan syaithaniyah. Berganti dengan kesyukuran yang tiada hingga, karena telah ridha melaksanakan perintah Allah, menyahuti seruan Allah untuk rela berqurban, tanda mendekatkan diri kepada Azza wajalla. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Berzikir, adalah satu wasilah (cara) berkomunikasi dengan Allah. Terutama di hari kemenangan dari satu perjuangan berat yang melelahkan. Melawan musuh yang ada di dalam diri sendiri. Musuh Kata Ibnu Sirin,  “Aku tidak  pernah punya urusan yang lebih pelik ketimbang urusan  jiwa ini.” Satu peperangan amat rumit. Sebuah pertempuran melawan musuh. Bernama nafsu syahwat dan syetan, yang selalu menjerumuskan manusia ke lembah nista.

Kemenangan  melawan  hawa  nafsu adalah puncak kemenangan terbesar. Hasan Bashari menyebutkan, “Binatang  binal tidak lebih memerlukan tali kekang ketimbang jiwa dan nafsu ini.”. Kemenangan utama ini akan melahirkan kemenangan lain dalam kancah kehidupan dunia.“Berapa banyak  terjadi  golongan yang kecil (sedikit)  dapat mengalahkan golongan besar (banyak) dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249). Kemenangan yang lahir dari ketangguhan jiwa dan kekuatan iman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Berlatih Menggunakan Waktu

Sebulan lamanya kita berada di bulan suci penuh keberkahan. Sarat dengan nilai iman takwa. Mengantarkan kita kepada suasana batin amat indah. Padat nilai-nilai pendidikan bagi kaum Muslimin.

Bulan Ramadhan melatih kita memberi perhatian kepada waktu. Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai  dan  memanfaatkan waktunya. Ramadhan  melatih kita selalu  rindu  kepada waktu shalat. Barangkali  diluar Ramadhan  sering waktu-waktu shalat itu terabaikan. Ketika adzan terdengar berkumandang di kanan kiri telinga. Namun kita masih terpaku dengan segala  kesibukan. Tidak tergerak bibir menjawab. Apa lagi memenuhi panggilannya. Kita biarkan suara Muadzin memantul di tembok rumah dan kantor. Kemudian berlalu pergi. Seakan angin lalu tanpa kesan.

Akan tetapi, selama bulan Ramadhan, kita selalu menunggu suara adzan. Rindu dengan adzan Maghrib dan Shubuh. Kita  tempelkan Jadwal Imsakiyyah. Bahkan, dan kita hafal menit dan detiknya.

Mudah-mudahan  selepas Ramadhan ini, rasa  rindu kepada waktu shalat selalu terpelihara pada diri kita.

Waktu adalah kehidupan. Siapa saja yang menyia-nyiakan waktu berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya. Ada  survei  ditahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama paling produktif  dan  efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel. Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia. Padahal semsetinya, seorang muslim, wajib menjadi yang paling disiplin dengan waktu. Alquran mengisyaratkan  pentingnya waktu  bagi kehidupan. Allah bersumpah dengan waktu.

Maka, jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia dan bermartabat  di sisi Allah, hendaklah waktu diisi hal yang produktif, untuk kepentingan dunia atau akhirat. Waktu adalah ibarat mata pedang. Manakala kita tidak memanfaatkan dengan baik, maka waktu itu pula yang akan meretas kehidupan kita. Na’udzubillah.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Tumbuhkan Ketaatan Ramaikan Rumah Ibadah

Ramadhan  melatih  kita memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah di bulan ini. Kita kerahkan anak istri meramaikan tempat ibadah ini.

Kita ramaikan dengan berbagai kegiatan. Majelis ta’lim, pesantren dan safari Ramadhan. Menembus hingga pelosok dusun terjauh. Ketika menyaksikan suasana indah ini. Mungkin saja, seseorang dari kita sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang 12 kali setahun.” Begitu indah  pemandangan  ini.

Suara pujian dan doa sahut bersahut dari pengeras suara di antara masjid kemasjid. Alam  serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar. Di bawah naungan Asma’ al Husna. Suasana  ini  perlu  dipertahankan selepas Ramadhan. Selalu mengajak keluarga memakmurkan masjid. Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, “Ada  tujuh  golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari di mana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.

Ramadhan melatih lebih mementingkan ketaatan kepada Allah. Di saat saat kita masih lelah bekerja sepanjang siang. Bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika mestinya beristirahat dari kepenatan. Di kala itu pula, kita rukuk dan sujud di dalam shalat tarawih atau qiyamu l-Lail Ramadhan. Hanya satu harapan kita. Mendapatkan ridha Allah. Satu-satunya yang paling berharga dalam hidup Muslim.

Semangat  ini  mesti dipelihara tetap ada. Walau Ramadhan pergi meninggalkan kita. Ada kewajiban mempersembahkan apa yang kita miliki untuk meraih keridhaan Allah. Kita mesti selalu ingat kepada Nya. Berzikir adalah perintah Allah. Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir. Kurang iman, kurang zikir. Tidak beriman tidak akan berzikir. Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring …” (Q.S. An Nisa’ : 103)

Semestinya keridhaan  Allah menjadi tujuan kita. Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun,  kaki  melangkah, kecuali serasi dengan ikrar, ” Sesungguhnya  shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan  melatih  kita  untuk mempunyai rasa solidaritas sesama. Dengan  rasa  lapar  dan dahaga kita  di ingatkan kepada nasib sebagian  dari saudara-saudara yang  kurang beruntung di dalam hidup  ini. Mereka  setiap harinya selalu dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa  kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini. Saat budaya hedonisme mulai mencabik peradaban. Di saat mana manusia modern, seringkali hanya disibukkan oleh urusan peribadi. Nafsi-nafsi. Akibat dari orientasi hidup yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan. Tidak jarang, untuk memenuhi  ambisi kebendaan, seseorang rela menghalalkan segala cara.

Allahu Akbar wa lillahi l-hamd

Menanamkan Bahagia dalam Memberi

Bagaimana mungkin, kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat pada hari ini. Bila di samping kita ada orang menangis tersedu merasakan kehampaan hidup. Karena tidak punya. Kecuali hanya nyawa berbungkus kulit. Akan sirna semua kebahagiaan berhari raya. Jika di keliling kita berserak orang yang masih menengadahkan tangan. Mengharap sesuap nasi.

Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran ini. Di pagi hari ketika Rasulullah SAW masih hidup. Beliau keluar menuju tempat shalat ‘Idul Fithri. Beliau melihat, ada seorang bocah termenung menyendiri. Tatapan pandangnya menerawang. Di tengah banyak teman sebaya bergembira ria. Berpakaian baru pembelian ayah. Di tangan mereka ada penganan enak. Buatan ibu. Dari kejauhan si bocah hanya bisa melihat. Menikmati hari raya sambil bermenung.

Di dalam hati terasakan. Alangkah gembira teman sebaya. Gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri. Jauh berbeda. Terasa nian badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta. Kemana ibu tempat mengadu.

Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan telapak tangan Beliau di kepala si bocah. Sambil bertanya, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa. Dikau merana sedih menangis. Gerangan apakah yang menyulitkan ? Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan. Si bocah lugu menjawab, “Wahai Rasul, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria. Pulang ke rumah ada sanak saudara. Lelah bermain ada ibu menghibur. Duka di hati ada ayah yang menyahuti.

Diriku wahai Nabi. Tiada ibu tempat mengadu. Ayahpun sudah tiada. Badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini. Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih. Mengharap belas kasih dengan tulus. Seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak …, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu …, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Jawaban spontan ini membuat wajah si bocah berseri. Walau terdengar baru ajakan. Harapan hidup sudah terbuka. Diri tidak sendiri lagi. Sirnalah air mata yang terurai karena sedih dan hampa. Berganti air mata gembira, lantaran bahagia.

Satu bukti substansil dari sabda Nabi SAW. Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

Andaikan ada di masa kini, pintu rumah terbuka bagi si lemah. Lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak. Tentulah merata bahagia, di tengah bangsa ini.

Allahu Akbar Wa Lillahi l-Hamd.

Menyuburkan Kepedulian dan Kepekaan Sosial.

Solidaritas semacam ini perlu dipelihara dan aplikasikan. Dalam hubungan  dengan sesama manusia. Melakukan shiyam sunnah, menjadi perlu, dimana Islam telah mensyariatkan. Manusia maju (modern) perlu melakukan puasa. Guna  melatih kepekaan social nya. Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah, untuk merasakan derita sebagian besar bangsa ini.

Sehingga, muncul kebijakan berpihak kepada rakyat miskin. Minimal  dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi, di tengah bangsa yang sedang menangis ini. Andaikan ada pemimpin di zaman kini, yang menolehkan pandang kepada si lemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini.

Di sinilah letak kemuliaan dan tanggung jawab umarak. Melindungi orang lemah. Memperbaiki silaturahim. Menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita  menyambut itikad  baik  dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana. Alangkah  indah  ajakan hidup sederhana diterapkan oleh  semua pihak.

Bangsa ini masih terpuruk. Rakyat kita masih menderita. Kemiskinan menjadi pemandangan utama. Di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan  kemewahan  di hadapan rakyat melarat. Apalagi dengan menggunakan fasilitas negara.

Kita dianjurkan untuk hidup dalam keadaan zuhud. Zuhud adalah sikap yang diajarkan Islam dalam hidup.

Az-Zuhri berkata, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat  dunia.” Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata. Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.” Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu

Ketakwaan Bekal Hidup

Amat banyak  pelatihan dalam Diklat Ramadhan. Besar hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh. Agar  sebelas  bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai shaum Ramadhan itu.

Suasana  spiritual  yang  dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa benar benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup. Modal menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla. “Sungguh sebaik-baik kalian  di  sisi  Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu

Mengubah Diri ke arah Lebih Baik

Ramadhan  telah  memberikan  banyak  perubahan dalam diri kita.  Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya  ini  semua menjadi bekal  untuk melakukan perubahan di masa  depan. Mampu mengantarkan  hidup kita  ke  arah  yang  lebih baik.

Kehidupan yang kita lalui kini masih sulit. Beban yang kita pikul semakin berat. Sebagai bangsa, belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi. Cukup pelik. Pekerjaan  kian sulit dicari. Harga membumbung naik. Angka pengangguran masih tinggi. Bencana alam silih berganti. Kejahatan masih merajalela. Nilai-nilai luhur yang mestinya dijunjung tinggi, tidak  diindahkan lagi. Nyawa yang begitu mahal dan berharga, oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari  layar  TV dan media kita saksikan peristiwa pembunuhan. Menjadikan bulu kuduk berdiri. Anak membantai ayah bundanya. Suami mencincang istri. Tetangga membunuh tetangga. Saudara menggorok leher saudaranya. Motifnya lemah aqidah dan ekonomi. Kita semua mesti bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada  bekal  terbaik  untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata. Di dalam lubuk hati umat Islam mesti berkumandang pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ ) رواه الحكم (

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari fitri. Di tengah merayakan kemenangan besar. Selesai melakukan  pelatihan sebulan penuh. Dalam nuansa kesucian masih terasa. Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah  kita menatap hari esok yang lebih baik. Penuh  optimisme.

Seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa. Optimisme adalah harga mati. Manakala kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Membangun Optimisme dalam gerak Kehidupan

Beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.

Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri. Kita  sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang dihadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka  baik. Mukmin menatap ujian dengan senyum. Mereka yakin  akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu. Pertama, diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya. Kedua, di tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ) سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Sesungguhnya Allah, jika menyintai suatu kaum, maka IA timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).(HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021] dari Anas bin Malik R.’Anhu)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Jangan  sampai  kita celaka  di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah. Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Allahu Akbar Walillahi l-hamd

Kedua, Tidak putus dari berdoa.

Doa dan zikrullah adalah pangkal ketentraman. Mencapai kedamaian dan ketenangan dengan jalan taqarrub kepada Allah. Zikir adalah ma’rifatullah. Meninggalkan zikrullah berarti membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (Q.S. Mujadilah: 19)

Sebagai  bangsa yang  bernama Indonesia ini sedang digilas bermacam kemelut. Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa ini. Krisis kepercayaan. Rusak moral. Bom meledak di mana-mana. Pemerintahan yang lemah. Berbagai tekanan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang. Permusuhan antar suku, etnis. Pertikaian antar agama menjadi-jadi. Pertumbuhan ekonomi ikut memburuk. Hutang negara membumbung tinggi. Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar.

Tetapi, kenyataannya tidak. Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat. Apapun keadaannya, kita sebagai bangsa masih berdiri tegak. Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan ?. Kita yakin seyakin-yakinnya. Semua itu telah terjadi berkat  doa yang  dipanjatkan  setiap muslim di negeri ini. Berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran. Doa adalah senjata  orang  beriman.

Doa adalah ibadah. Enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah SWT.

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka. Amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka mendapat gelar Ulil Azmi. Berhasil mengahadapi ujian berat. Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan. Akhlak mulia dan sifat malu akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ. }رواه الديلمى عن عمر{

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan. Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Allahu Akbar, walillah l-hamdu

Keempat, beramal dan bertawakkal. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan pada kita. Rahasianya adalah tidak pernah berputus asa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertakwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak. Tanah air paling strategis. Terletak di perlintasan dunia. Seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”. Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan. Di awali memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. ) رواه أحمد(

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita. Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus ikhlas. Sebagai bagian dari mensyukuri nikmat Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya,  dengan  jiwa  yang  suci  bersih, marilah kita tundukkan hati  kita  kepada  kebesaran Allah. Menengadah mengharap karunia dan rahmat-Nya, untuk keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

 Pekanbaru, 1 Syawal 1435 H / 28 Juli  2014 M.

HATI HATILAH DENGAN LIMA MUSUH YANG SELALU MENGINTAI

RasuLuLLah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada Lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan syaithan yang seLaLu menyesatkannya.” (HR ad-DaiLami, Abu Bakr bin LaaL meriwayatkan hadis dari Anas bin MaLik RA, ditemui daLam Kitab MakaarimuL AkhLaaq).

ALquranuL Karim mengingatkan bahwa, ” setiap orang yang beriman (mukmin), senantiasa akan mendapat ujian dari ALLah SWT.” LihatLah seLanjutnya ;

“  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami teLah beriman”, sedang mereka tidak diuji Lagi? –  dan Sesungguhnya Kami teLah menguji orang-orang yang sebeLum mereka, Maka Sesungguhnya ALLah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (daLam QS aL-Ankabut [29]: 2-3).

Diantara ujian itu dapat saja datang dari ;

1. Dari orang mukmin yang mendengkinya. Lazim didengar dan diLihat, ketika seorang beroLeh kenikmatan, seLaLu saja ada orang Lain yang tidak menyukainya. KadangkaLa yang membenci itu juga mengaku mukmin. Ini terjadi karena ada penyakit dengki. Dengki meLahirkan sikap hasud atau hasad. IniLah penyakit hati yang paLing berbahaya menghapus iman. PadahaL “penyakit hasud” tumbuh karena “permusuhan”, bahkan juga karena “kebencian” dan “kesombongan”. Sikap sombong seLaLu khawatir orang Lebih hebat dari dirinya. Karena itu, jauhiLah hasad yang suka mengadu domba.

2. Dari kaum munafik yang seLaLu membencinya. Sifat munafik Lebih berbahaya dari kufur. Munafik itu sering menampakkan wajah seakan-akan baik, padahaL daLam hatinya menyimpan permusuhan. IngatLah tentang peristiwa muncuLnya aL ifki terhadap ‘Aisyah, yakni berita bohong yang menjadi makar kaum munafik, peristiwa ini terjadi di Madinah terhadap keLuarga Nabi SAW.

“ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar “ (Lihat peringatan ALLah daLam QS an-Nur [24]: 11).[1].Bersama-sama Pengurus Gebu Minang Jatim, Firdaus HB dan Rky.Mirna, Bendahara Gebu Minang Jatim, di tengah Masjid Raya Ganting, yang ambruk dan rusak berat karena Gempa 30 September 2009 yang lalu

MeLindungi diri dari kaum munafik adaLah dengan ;

a.      bersandar kepada ALLah,

b.      berusaha menyingkap tipu daya dan rencana busuk mereka.

IngatLah bahwa orang munafik pandai bersiLat Lidah. Mereka suka boLak-baLikkan kata-kata dan bohong. Maksudnya untuk mempertahankan tujuan-nya.

“ 1. apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 2. mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[1476], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. 3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.”[2] (Lihat selengkapnya firman ALLah daLam QS aL-Munafiqun [63]: 1-11).

3. Dari Kaum kafir adaLah pendukung kebatiLan, menjadi Teman Syaithan dan seLaLu berusaha menceLakakan orang IsLam. (Lihat juga QS aL-AnfaL [8]: 36). Orang kafir saLing toLong untuk memerangi umat IsLam. (Lihat QS adz-Dzariyat [51]: 53).

Menghadapi kejahatan kaum kafir ini harusLah dengan ;

a. Meyakini “sunnatuL ibtiLa” atas mukmin suatu keniscayaan.

b. Wajib membekaLi diri dengan tsiqah biLLah,

c. Bersangka baik kepada ALLah (husnudzdzan biLLah).

d. BertawakaL kepada-Nya dan sering berdoa kepadaNya.

e. SeLaLuLah ikuti manhaj (cara) dari para uLama yang saLeh.

 

4. Dari syaithan yang seLaLu berusaha menyesatkan. (Lihat QS Fathir [35]: 6).

Setiap mukmin wajib menutup semua pintu masuk syaithan.

a. jauihi sikap pemarah,

b. hindari keinginan syahwat syaithaniyah,

c. jangan tergesa-gesa bertindak,

b. hindari sifat kikir dan jauhi takabur.

 

5. Dari nafsu yang seLaLu menentang kebaikan (QS Yusuf [12]: 53). Musuh paLing bahaya adaLah nafsu daLam diri sendiri.

Menjauhi perdayaan nafsu ini dengan ;

  1. Bersihkan hati dari semua akhLak terceLa.
  2. IsiLah qaLbu dengan kekuatan iman dan kasih sayang.
  3. Senantiasa berpegang teguh pada ajaran ILahi.

InsyaaLLah, semoga kita semua terhindar dari Lima musuh yang seLaLu mengintai ini. Amin.

WaLLahu a’Lam bis – shawaab …..


[1] Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

[2] Mereka bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga harta mereka supaya jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya.

MAKNA TERSIRAT DALAM MAULIDUR RASUL

Gambar

OLeh: H.Mas’oed Abidin

 

       Memperingati “mauLidur-rasuL” sering di bicarakan banyak orang saat ini. BacaLah Wahyu ALLah tentang kerasuLan Muhammad SAW sebagaimana  disebutkan daLam AL QuranuL Karim ;

$tBur JptèC žwÎ) ×Aqߙu‘ ô‰s% ôMn=yz `ÏB Ï&Î#ö7s% ã@ߙ”9$# 4 û’ïÎ*sùr& |N$¨B ÷rr& Ÿ@ÏFè% ÷Läêö6n=s)R$# #’n?tã öNä3Î6»s)ôãr& 4 `tBur ó=Î=s)Ztƒ 4’n?tã Ïmø‹t6É)tã `n=sù §ŽÛØtƒ ©!$# $\«ø‹x© 3 “Ì“ôfu‹y™ur ª!$# tûï̍Å6»¤±9$#  

“ Muhammad itu tidak Lain hanyaLah seorang rasuL, sungguh teLah berLaLu sebeLumnya beberapa orang rasuL. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbaLik ke beLakang (murtad)? Barangsiapa yang berbaLik ke beLakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada ALLah sedikitpun, dan ALLah akan memberi BaLasan kepada orang-orang yang bersyukur.”  (QS.3 aLi Imran :144). 

Maknanya adaLah bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. iaLah seorang manusia yang diangkat ALLah menjadi rasuL. RasuL-rasuL sebeLumnya teLah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada puLa yang karena sakit biasa. Maka Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti haLnya RasuL-rasuL yang terdahuLu itu.

Semasa berkecamuknya perang Uhud tersiarLah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum musLimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perLindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kaLau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentuLah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka ALLah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum musLimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di kala terjadi puLa kegeLisahan di kaLangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar IbnuL Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

“ Muhammad itu sekaLi-kaLi bukanLah bapak dari seorang Laki-Laki di antara kamu, tetapi Dia adaLah RasuLuLLah dan penutup nabi-nabi. dan adaLah ALLah Maha mengetahui segaLa sesuatu.” (QS.AL-Ahzab 33:40).

Ayat ini menerangkan bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. bukanLah ayah dari saLah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oLeh RasuLuLLah s.a.w.

š“ dan orang-orang mukmin dan beramaL soLeh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan ItuLah yang haq dari Tuhan mereka, ALLah menghapuskan kesaLahan-kesaLahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka.” ( QS.47, Muhammad :2)

 

“ Muhammad itu adaLah utusan ALLah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adaLah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia ALLah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. DemikianLah sifat-sifat mereka daLam Taurat dan sifat-sifat mereka daLam InjiL, Yaitu seperti tanaman yang mengeLuarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat LaLu menjadi besarLah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena ALLah hendak menjengkeLkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). ALLah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amaL yang saLeh di antara mereka ampunan dan pahaLa yang besar.“ (QS.48, Muhammad :29).

Maknanya adaLah bahwa pengikut Muhammad yang menjaga iman dan ibadahnya  pada air muka mereka keLihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

       Muhammad diutus menjadi Rahmat bagi seLuruh aLam.

 “ dan TiadaLah Kami mengutus kamu, meLainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta aLam.” (QS.21,AL-Anbiya’,ayat 107),

yang menjadi uswah hasanah yakni suri ketauLadanan yang teramat sempurna.

“ Sesungguhnya teLah ada pada (diri) RasuLuLLah itu suri teLadan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut ALLah.” (QS.33, AL-ahzab:21),

Muhammad di utus sebagai nabi yang terakhir untuk meLakukan perubahan menyeLuruh bagi kehidupan manusia yang waktu itu tengah berada daLam kondisi dhuLumat (kegeLapan) kepada kehidupan berperadaban (civiLisasi) secara transparan (an-nur, cahaya terang) dengan akhLaquL katimah menurut bimbingan Kitab AL Quran.

 

“ dengan kitab wahyu AL-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ituLah ALLah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jaLan keseLamatan, dan (dengan kitab itu puLa) ALLah mengeLuarkan orang-orang itu dari geLap guLita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jaLan yang Lurus.” (QS. aL-Maidah (5):16).

 

“ DiaLah ALLah yang memberi rahmat kepadamu dan maLaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeLuarkan kamu dari kegeLapan kepada cahaya (yang terang), dan adaLah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. aL-Ahzab (33):43),

        Allah ceritakan dalam ALQuran tentang isteri Firaun  memohonkan kepada Allah terhindar dari kedzaliman Firaun itu untuk dapat memasuki sorga Jannah dan keselamatan.

 

“ dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu – maknanya, sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah — dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. at-ThaLaq (65):11).

       Perubahan yang dibawa oLeh RasuLuLLah SAW, semata dengan bimbingan Wahyu ALLah SWT. Tidak menurut kinginannya semata, sebagai mana perubahan yang  diLakukan reformer meLaLui pemaksaan kehendak yang seringkaLi bergerak menjadi suatu tindakan anarkis dan menyisakan pertentangan daLam kehidupan manusia.

Perubahan berdasar Sunnah RasuLuLLah SAW, bermuara kepada diterapkannya syari’at IsLam dan berintikan proses  perubahan yang mengarah kepada perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian)[1], IshLah (penyempurnaan)[2] dan taghyir (perubahan sikap)[3].

Perubahan itu menciptakan suatu perbaikan tanpa merusak. Ajaran IsLam yang dibawa RasuLuLLah SAW, seLaLu mengingatkan umatnya untuk tidak merusak (fasad=anarkis) baik daLam bentuk tatanan atau pemaksaan-pemaksaan kehendak.

Agama IsLam menghormati prinsip tidak ada paksaan daLam agama,

“ tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (IsLam); Sesungguhnya teLah jeLas jaLan yang benar daripada jaLan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada ALLah, Maka Sesungguhnya ia teLah berpegang kepada buhuL taLi yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan ALLah Maha mendengar Lagi Maha mengetahui.” (QS.2:256).

Thaghut iaLah syaitan dan apa saja yang disembah seLain dari ALLah s.w.t.

Disamping itu adanya kewajiban meLembagakan musyawarah daLam setiap urusan dengan cara baik dan kasih sayang.

“ Maka disebabkan rahmat dari ALLah-Lah kamu berLaku Lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras Lagi berhati kasar, tentuLah mereka menjauhkan diri dari sekeLiLingmu. karena itu ma’afkanLah mereka, mohonkanLah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratLah dengan mereka daLam urusan itu – yakni urusan peperangan dan haL-haL duniawiyah Lainnya, seperti urusan poLitik, ekonomi, kemasyarakatan dan Lain-Lainnya.– kemudian apabiLa kamu teLah membuLatkan tekad, maka bertawakkaLLah kepada ALLah. Sesungguhnya ALLah menyukai orang-orang yang bertawakkaL kepada-Nya.” (QS.3, aLi Imran :159.,

Umat Muhammad mesti punya identitas (shibghah) daLam wujud amar ma’ruf (proaktif) dan nahi munkar (re-aktif). Maka gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan meLawan segaLa corak kemaksiyatan baik yang menyangkut tatanan hubungan pribadi, keLuarga, masyarakat, Lingkungan, bangsa dan negara.

Tujuannya semata menciptakan umat berkuaLitas  khaira ummah atas dasar iman kepada ALLah.

 “ kamu adaLah umat yang terbaik yang diLahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLah. Sekiranya ahLi kitab beriman, tentuLah itu Lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adaLah orang-orang yang fasik.” (QS.3, Ali Imran :110).

Secara intensif puLa menggairahkan perLombaan berniLai kebaikan fastabiquL-khairat.

“ dan bagi tiap-tiap umat ada kibLatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berLomba-LombaLah (daLam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti ALLah akan mengumpuLkan kamu sekaLian (pada hari kiamat). Sesungguhnya ALLah Maha Kuasa atas segaLa sesuatu.” (QS aL-Baqarah (2):148)

 

“ dan Kami teLah turunkan kepadamu AL Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebeLumnya – yaitu Kitab-Kitab yang diturunkan sebeLumnya – dan batu ujian – maknanya adaLah bahwa AL Quran adaLah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan daLam Kitab-Kitab sebeLumnya.– terhadap Kitab-Kitab yang Lain itu. Maka putuskanLah perkara mereka menurut apa yang ALLah turunkan dan janganLah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggaLkan kebenaran yang teLah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu – yakni umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebeLumnya. – Kami berikan aturan dan jaLan yang terang. Sekiranya ALLah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi ALLah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berLomba-LombaLah berbuat kebajikan. hanya kepada ALLah-Lah kembaLi kamu semuanya, LaLu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang teLah kamu perseLisihkan itu,” (aL-Maidah (5):48).

Ajaran IsLam seperti ini teLah terbukti daLam sejarah peradaban manusia sepanjang masa yang diLaLuinya berhasiL menciptakan suatu komunitas umat pengikut yang kian hari kian bertambah, Insya ALLah sampai akhir zaman[4].

       CupLikan perjaLanan RisaLah RasuLuLLah SAW, mencatat betapa kegeLapan yang menyungkup periLaku kehidupan jahiLiyah masa LaLu, seperti kesaksian Shahabat Dja’far bin Abi ThaLib (RA) dihadapan Maharaja Habsyi, antara Lain mengatakan; “Kami adaLah orang jahiLiyah, dengan sikap perangai menyembah berhaLa (kepatuhan kepada seLain ALLah dengan pemberhaLaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), memakan bangkai (tidak mengenaL haLaL-haram), memutus siLaturrahim (dengan penidasan dan tindakan intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan mengerjakan perbuatan keji (judi, rampok, korupsi, zina), sehingga yang kuat meneLan yang Lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan goLongan dan keLompok). Sampai ALLah mengutus kepada kami seorang RasuL dari kaLangan kami sendiri (yakni Muhammad SAW) yang sangat kami kenaL nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risaLahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).[5]  

Muhammad RasuLuLLah saw. diLahirkan di tengah-tengah keLuarga Bani Hasyim di Makkah eL Mukarramah di buLan Rabi’uL AwwaL (musim bunga), pada hari Senin, tanggaL 12 Rabi’uL AwwaL permuLaan tahun daLam peristiwa gajah (aL fiiL); bertepatan dengan tanggaL 20 atau 22 ApriL tahun 571 M, dibidani dan dirawat oLeh Siti Syifa’, ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu. BeLiau Lahir nama beLiau Muhammad (yang terpuji), ayahnya AbduLLah (hamba ALLah), ibunya Aminah (perempuan yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggiL AbduL MuthaLLib yang namanya adaLah Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya meLahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adaLah HaLimah As-Sa’diyah (yang Lapang dada dan mujur).

Semua nama-nama itu teLah dipiLihkan oLeh ALLah Azza wa JaLLa yang memberikan peLajaran besar betapa eratnya dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW. KeLuarga Muhammad Lazim disebut Bani Hasyim, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin Abdi Manaf.. Nasabnya amat jeLas. Muhammad bin AbduLLah bin AbduL MuthaLib (Syaibah) bin Hasyim (aL Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin KiLab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin GhaLib bin Fihr (yang berLaqab Quraisy) bin MaLik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.[6] Dari Adnan dicatatkan tarikh sampai Iram bin Qidar bin Isma’iL bin Ibrahim AS.[7]

Hadist ini sebenarnya berisikan; Pertama, RisaLah RasuLuLLah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad AL-Amin). Kedua, keutamaan Wahyu ALLah (yang mampu merombak tata priLaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeLuruh). Ketiga, keteguhan para pengikut (umat) dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi daLam kerangka jihad fii sabiLiLLah. Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata kehidupan duniawi (materiL fisik). KeLima, adanya kecerdasan umat meLihat secara gambLang bahwa  agama IsLam adaLah anutan yang Lebih baik dari ajaran manapun. Ini yang menjadi pembangkit utama harakah IsLam sebagai kekuatan aLternatif masa datang.

¨

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi ALLah hanyaLah IsLam. tiada berseLisih orang-orang yang teLah diberi AL Kitab – yakni Kitab Kitab yang diturunkan sebeLum AL Quran –  kecuaLi sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat ALLah Maka Sesungguhnya ALLah sangat cepat hisab-Nya.” (QS.3,ALi-’Imran:19).

 

“ Barangsiapa mencari agama seLain agama IsLam, Maka sekaLi-kaLi tidakLah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.3,ALi Imran : 85).

Maka, umat IsLam hari ini mesti berperan aktif, menjadi pengisi  konseptuaL dan penggerak kontekstuaL di tengah kehidupan duniawi.

Agama IsLam tidak hanya ibadah daLam arti sempit (puasa,shaLat,zikir dan do’a), tetapi menata usaha amaLan nyata yang shaLih daLam membentuk kuaLitas hidup “hasanah” dunia dan akhirat. Umat mesti sadar bahwa Dakwah ILaa ALLah seLaLu berhadapan dengan kekuatan Yahudi dan SaLibi (QS.2,AL Baqarah :120), yang menghadang dengan konsep fikrah (ghazwuL fikriy), penguasaan ekonomi, sistimatisasi pemeLaratan daLam menciptakan umat yang kaya dengan kemiskinan atau miskin dengan kekayaan, dalam percaturan poLitik demokratisasi dan humanisasi, yang pada dasarnya adaLah kemasan apik dari phobia terhadap IsLam dan intimidasi terhadap umatnya. DaLam rangka ini kita peringati MauLid Nabi.

 

 

Padang, Maulid, 12 RabiulAwal 1435H/14 Januari 2014 M


[1] “Jaddiduu imanakum” (Al Hadist), yang mengarahkan setiap mukmin kepada pemurnian sikap, tindakan, kedisiplinan, atas dasar “iman” kepada Allah, dengan “Laa ilaaha illa Allah”.

[2] QS.7,Al-A’raf,ayat 55-56.

[3] QS.13,Ar-Ra’d, ayat 11.

[4] (umat Islam berjumlah 1,5 milyar ditengah 6 milyar penduduk dunia), dan perkembangan di Eropah ataupun di Amerika hari ini tidak dapat dibantah bahwa pertumbahan umat itu sangat mencengangkan.

[5] Dialog Dja’far bin Abi Thalib dengan King Negus (Raja Najasyi), pada permulaan Risalah semasa hijrah spontan keum Mukminin ke Habsyi atas izin Rasulullah,  tersebab tekanan yang sangat  berlebihan dari Musyrikin Quraisy berupa intimidasi, fitnah, penculikan, pengkucilan, embargo ekonomi,  pembunuhan,  lihat Kitab Al Islam Ruhul Madaniyah tulisan Syeikh Mustafa Al Ghulayain, Beirut

[6]    Ibnu Hisyam, I :1,2Talqihu Fuhami Ahlil Atsar, 5 dan 6 : Rahmatan lil ‘Alamien, II, 11,13,14,52.

[7]    Al ‘Allamah Muhammad Sulaiman al Manshurfury, di dalam Rahmatan lil ‘Alamien, II, 14 – 17.

HINDARILAH PERBUATAN MAKSIAT

HINDARI PERBUATAN MAKSIAT berakibat amat buruk terhadap kehidupan. “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat,

ž“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi).

Mengerjakan dosa menganiaya diri sendiri.

Akibat dari perbuatan dosa atau Maksiat amatlah buruk terhadap pelakunya. Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu.    Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad).

Mestilah diyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan dan memudahkan rezeki. “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan jiwa karena perbuatan dosa sendiri.” Maka segeralah memohon ampun bila didapati diri terseret kepada perbuatan dosa.

«  dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. » (QS.An Nisak ayat 110)

Maksiat membuat jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak maksiat dilakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Jiwa akan kesepian dan sunyi.

Maksiat membuat sulit semua urusan.

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka maksiat akan mempersulit segala urusan pelakunya. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati. Menumbuhkan kekuatan badan dan melahirkan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di hati, kelemahan badan, susut rezeki dan mengundang kebencian makhluk.”  Seseorang yang suka bermaksiat, semua urusannya akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta membenci pelaku maksiat. Air yang diminum tidak ridha untuk diminum. Makanan yang disuap tidak suka untuk di makan. Sahabat dekat akan lari karena enggan berurusan dan membenci perilaku maksiat. Berkah hidup pun hilang.

Maksiat memendekkan umur dan menghapus keberkahan. Umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Kehidupan yang bermanfaat jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari rezki yang diridhai-Nya.

Bila kebanyakan waktu dalam kehidupan ini di isi dengan maksiat maka kehidupan sebenarnya telah ditempuh dengan kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah yang dimaksudkan dengan pendeknya umur pelaku maksiat.

Hindari Maksiat dengan bertawakkal kepada Allah.

«  dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. » (QS.25, Al Furqan, ayat 58).

 

Berhatihatilah selalu, Jangan berbuat maksiat.

Ketagihan berbuat maksiat sulit menghentikan. Kehinaan dan kemudharatan datang akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya.

« Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. » (QS.22,Al-Hajj:18).

 

Kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan.

Kemuliaan hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. dan zikir kepada Allah yang menyebabkan diri terhindar dari maksiat. Perkataan yang baik dan amal yang akan dinaikkan oleh Allah untuk diterima dan diberikan pahalanya oleh Allah Azza wa Jalla.

Ulama Salaf berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”. Maka tinggalkanlah perbuatan maksiat itu.

Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat,

Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.

« (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, »

Para malaikat yang suci senantiasa bertasbih dan bertahmid serta beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Sementara manusia sering lupa kepada tuhannya. Ketika seorang bermaksiat, senyatanya dia telah menganggap remeh Allah swt, bahkan tidak meyakini bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatannya. Sungguh ini adalah kedurhakaan luar biasa. Para malaikat selalu mendoakan orang yang bertaubat dan kembali ingat kepada Allah dan menghindar dari maksiat dengan bertaubat atas kesalahannya. Hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya dengan harga tinggi.

Tiada yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bayaran kehidupan surga yang abadi.

 «  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, ».

Bila seorang melakukan perbuatan maksiat dengan berbohong, mungkir janji, berzina, mencuri, korupsi yang hanya memberikan kesenangan sejenak, maka sesungguhnya ia telah tertipu dengan menjual diri dan kehidupannya dengan harga yang sangat rendah … !!!

Karena itu kepada orang yang bertaubat maka para Malaikat senantiasa mendoakan mereka dengan ;

 « dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar. » (QS.40, Al-Mukmin: 7-9)

Gambar

Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.

Allah berfirman ; «  dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). » (Asy-Syura: 30)

Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.”

Karena itu sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang pernah dilakukan.

Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat.

Amin.

Selalulah Hemat dan Hatihati

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah. Mubazir itu perbuatan syaithan.

Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki.

Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur). Hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran.

Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap tanpa bekas dalam jiwa.

Berupayalah menjadi hamba Allah yang pemurah dan hemat belanja. Amalkanlah tuntunan Allah dalam Al Quranulkarim, Surat al Furqan ayat 67, dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”.

Jadikanlah Ramadhan bulan menahan diri dari semua keinginan yang tidak perlu. Berbuatlah untuk selalu mawas diri dan berhati hati dalam bertindak laku.

Gambar

Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, karena menuntut ilmu adalah ibadat. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah.

Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh malam terakhir Ramadhan karena di dalamnya terdapat malam utama, yakni Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.

Berharaplah  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Rebutlah peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja.

Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan. Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri. Menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Ingatlah, apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Bersegeralah bertaubat.

Simpulannya, lakukanlah muhasabah terhadap segala hal dan urusan. Pelihara  solat berjamaah. Tunaikan zakat. Hubungkan silatur rahim. Berbakti kepada kedua ibu-bapa. Beri perhatian terhadap jiran tetangga. Maafkan orang-orang yang ada perselisihan dengan kita. Hindarkan diri dari perbuatan mubadzir. Didik orang yang di bawah tanggungan jawab kita. Ambil perhatian yang sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim. Jangan diselewengkan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri. Tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat ke arah kebaikan. Jauhi sifat ria. Cintai saudara atau teman sejawat seperti mana sikap mencintai terhadap diri  sendiri. Selalu berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing). Perbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah. La’allakum Tattaquun. La’allakum tasykuruun. Insyaallah akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu. 

Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya. 

Wassalam ***

 

Memanfaatkan Ramadhan Dengan Optimal

Surau Singgalang

 

Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”  

Ada beberapa kaedah yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat Muttaqin dengan kehatihatian menjaga ibadah puasa Ramadhan ini. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberi peluang emas dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat selama ini.

Melalui ibadah (ta’mir) Ramadhan dapat menyimak dan meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam mengingatkan kita bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah hidup di dunia ini makin pendek.

Manfaatkan masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Selain dari pada itu, hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa ..Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.

Biasakanlah lidah untuk berzikir terus menerus, dan jangan tergolong ke dalam kategori orang-orang yang hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 

Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya.

Bergiatlah agar tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, keuntungannya amat besar di sisi Allah Azza wa Jalla.

Bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i.

Barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.

Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat.   

Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang.

Gambar

Manfaatkan waktu Ramadhan semasa masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah. Hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya.

Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan. Tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat. Giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik. ****

REBUT PELUANG AMAL DALAM RAMADHAN

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Adalah hal paling disenangi jika kita berkenan menyediakan makan-minum untuk orang yang berbuka puasa dalam Ramadhan ini. Pahalanya sebesar pahala puasa orang yang diberi perbukaan itu. Selain itu sukalah iktikaf di rumah Allah atau masjid sebanyak mungkin dengan melakukan shalat, tilawah al Quran, menghadiri majlis ilmu, dan basahi lidah untuk banyak zikir, tasbih, tilawah, istighfar, dan melakukan ibadat ‘mubah’ (adat) dengan niat ‘ibadat’ dengan niat mencari redha Allah semata.

Lakukanlah muhasabah terhadap segala urusan, seperti : memelihara solat berjamaah, membayar zakat, hubungan silaturrahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang yang ada perselisihan dengan kita,  menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang berada di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap mencintai terhadap diri sendiri, menjauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Jangan lupa lengkapi puasa dengan berdoa disaat berbuka puasa setiap harinya sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW dengan membaca doa “Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah = ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 dan Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

Dalam Ramadhan yang berkah ini, kita perlu mengajak umat berdoa dalam qunut-qunut witir untuk saudara-saudara kita di berbagai Negara yg sedang dizhalimi. Namun, tidak mungkin mengajak berdoa dan qunut kalau umat belum tahu kenapa qunut itu. Mestinya ada upaya mencerdaskan umat dengan kondisi umat Islam di Palestina, Suriah, dan juga Mesir. 

 

Ramadhan itu bulan ibadah dan amal shaleh. Bukan amal shaleh yg terpaku dgn amaliah fardiyah belaka. Bukan sekedar fiqh shiyam, shadaqah, qiyamullail, dan sejenisnya.

Hindari terlalu banyak berbicara melainkan jika memang perlu dan yakin bahwa berbicara tersebut akan menaikkan martabat dan manfaat kepada orang lain serta berupaya menjauhi semua yang menghalangi hati dekat dengan Allah swt. Ingatlah akan sabda Rasul SAW bahwa ucapan bohong menghapuskan pahala puasa sebagaimana disebutkan dalam hadits, Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, serta mengganggu orang lain (jahil), maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057).

Gambar

Cobalah semai kebaikan pada bulan mulia ini dengan menyebarkan pandangan yang bernas. Marilah kita saling mendoakan. Sesungguhnya ‘kejayaan’ dan ‘keberhasilan’ dalam hidup kita berada di tangan kita sendiri.

Moga kita dapati kasih sayang Allah dengan mengoptimalkan ibadah shaum Ramadhan dan banyak bergaul dengan golongan yang mencintai Allah agar kita mendapatkan pula kecintaan dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana disabdakan Sabda Rasulullah SAW, “Apabila Allah mencintai si hamba, Allah berfirman menyeru Jibril, ‘Wahai Jibril Aku telah mencintai si polan, maka kamu hendaklah mencintainya’. Lantas Jibril berseru di langit ‘Sesungguhnya Allah mencintai si polan, oleh itu kamu hendaklah mencintainya.’ Jika si hamba telah dicintai penghuni langit, penduduk bumi pun akan turut mencintainya.” (HR Imam Ahmad).

Wassalamu’alaiykum.